Showing posts with label Young Adult. Show all posts
Showing posts with label Young Adult. Show all posts
Judul: Pengantin Remaja
Penulis: Ken Terate
Tebal buku: 384 halaman
Tahun terbit: 2022
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki-laki yang ia sayangi. 

“Cinta adalah soal hati, bukan usia.” Bukankah ada lagu yang bilang begitu? 

Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu? Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan. 

Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?

***

Dari dulu, Ken Terate selalu menjadi salah satu penulis favoritku. Ia selalu bisa menyampaikan isu-isu sosial penting tanpa harus begitu menggurui. Bagiku, novel ini mirip sekali dengan novel karya Andina Dwifatma yang berjudul Lebih Senyap dari Bisikan. Mungkin penceritaannya tidak seberat di LSdB, tapi, kisah Pipit-Pongky menjadi suatu ironi yang begitu mengenaskan.

Tentunya, aku menyadari bahwa tidak semua orang punya privilese untuk memahami bahwa pernikahan itu tidak akan mampu menjawab seluruh keruwetan hidup. Menikah dapat menyelesaikan masalah? Mana ada. Yang ada, masalahmu bisa tambah runyam. Apalagi kalau kamu tidak tahu apa tujuanmu menikah dan hanya memiliki pikiran pendek, hidup dengan cinta saja cukup.

Keputusan Pipit untuk menikah muda, bahkan ketika ia belum lulus dari sekolah menengah, tentu saja menghebohkan. Ibuk Pipit tentu saja melarangnya. Sayangnya, Pipit sudah kebanjur keras kepala. Ia hanya mau hidup bersama Pongky. Titik. Nah, enggak tahu aja Pipit kalau menikah tuh bukan cuma urusan dua orang. Ketika menikah, seseorang itu juga akan berurusan dengan keluarga pasangannya. Betapa sialnya Pipit ketika menyadari bahwa keluarga mertuanya sungguh menyebalkan dan membuat dirinya tersiksa.

Belum usai penderitaan Pipit yang harus menerima sikap Pongky yang seenaknya, ancaman kelaparan setiap malam, rasa tak aman karena tak pernah punya uang cukup, dan banyak kesulitan lainnya, Pipit kemudian hamil dan memiliki anak. Duh, cobaan apa lagi, ini?, mungkin demikian batin Pipit.

***

Dari awal, Ken Terate sudah membuat kita benci setengah mati kepada sosok Pongky. Dia ini tuh, sebenar-benarnya cowok <i>red flag</i> nan manipulatif. Kita juga bakalan sebel sama Pipit yang bikin kita gemes banget sama pemikirannya di awal. Tapi <i>again</i>, aku memahami kalau Pipit enggak punya privilese untuk memahami sebesar apa konsekuensi menikah, apalagi di usia masih sangat muda. Sungguh aku berharap waktu itu Ibuk Pipit atau Atin berhasil menyadarkan Pipit. 

Bagiku, karakter yang masih sangat waras di sini adalah Ibuk Pipit dan Atin. Meskipun keduanya juga memang punya kekurangan, tapi kurasa keduanya masih sangat realistis. Mereka mampu mengupayakan hidup mereka sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tentunya, sikap yang berkebalikan dengan Pipit.

Nah, untungnya, sepanjang cerita, sedikit demi sedikit, sikap Pipit berubah. Ia tahu pada akhirnya ia lah yang menanggung konsekuensinya untuk menikah di usia belia. Ia pun mulai bisa mengembangkan diri, meski masih sempat juga tertipu oleh suaminya yang enggak ada bagus-bagusnya itu. Aku sangat menghargai perubahan karakter Pipit di sini. Tentunya, sosok Atin dan Alicia menjadi salah dua kunci bagi Pipit untuk bisa menjadi lebih dewasa.

Menurutku, novel ini memiliki banyak sekali pesan yang ingin disampaikan. Aku berharap, akan lebih banyak lagi orang yang membaca novel ini. Bagaimanapun, pemahaman soal pernikahan memang sepenting itu. Keputusan untuk menikah harus dibarengu dengah pemahaman terkait konsekuensi yang juga akan didapatkan nantinya.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk kisah yang cukup dark ini.

Best,
P.P. Rahayu
Judul: Jingga untuk Matahari
Penulis: Esti Kinasih
Durasi: 15 jam 47 menit
Tanggal rilis: 9 Juni 2022
Penerbit: Storyside
Dengar di Storytel

Diterbitkan secara fisik tahun 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama

Ari dan Tari menjalani hari-hari penuh pelangi. Tari bahagia karena ternyata Ari cowok lembut dan penuh perhatian. Sedangkan Ari gembira luar biasa ketika mendengar Ata dan Mama akhirnya kembali ke Jakarta.

Namun, tanpa Ari ketahui, selama ini Ata menyimpan kepedihan yang membuatnya bertekad melampiaskannya kepada Ari dan Papa. Saat itulah Ari menyadari ada “kisah” yang dia tidak tahu di antara papa dan mamanya.

Sementara itu, Tari mulai bingung menata hati. Karena pada saat rasa sayangnya untuk Ari semakin tumbuh, Angga muncul lagi dan “nembak” langsung. Sebenarnya, apa yang menjadi alasan Angga begitu dendam pada Ari dan bertekad merebut seseorang yang paling berharga darinya?

“Kalo lo ngincer cewek yang udah punya cowok, rebut dia di depan cowoknya. Jangan di belakang,” kalimat Ata itu terus terngiang di benak Angga.

***

Dulu, rasanya nungguin banget Jingga untuk Matahari (JUM) terbit. Apalagi waktu tahu drama sempat-gagal-terbitnya dulu. Rasanya, penantian dari SMP terbayar kalau JUM akhirnya terbit.

Sayangnya, euforia itu hanyalah sesaat. Waktu JUM benar-benar terbit, aku enggak ada rasa excited sama sekali. Bahkan, aku baru tahu kalau dia terbit setelah beberapa bulan lamanya.

Akhirnya, karena kemarin aku telanjur langganan Storytel dan penasaran juga dengan kisah lanjutannya, jadilah kuputuskan untuk membacanya. Yang pasti, banyak banget hal-hal yang bikin aku menghela napas saking enggak ngertinya sama ceritanya.

The Story


Pencarian Ari dari buku pertama dan kedua akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan ibu dan saudara kembarnya, Ata. Pertemuan mereka kembali membuat Ari begitu bahagia. Ia pun mulai berharap kalau imajinya tentang keluarga yang utuh dan bahagia akan betul-betul terwujud. 

Bagi Ari, Ata adalah saudara kembar yang harus ia lindungi. Ia bersedia membantu Ata supaya mudah beradaptasi di SMA Airlangga. Tentu saja dibantu oleh dua sahabatnya, Oji dan Ridho.

Akan tetapi, yang tak Ari ketahui, Ata punya rencana tersendiri ketika bisa bertemu dengan Ari kembali. Rencana balaz dendam yang akan ia rancang serapi mungkin supaya bisa menciptakan efek yang begitu dahsyat bagi Ari. Efek kehancuran dan sakit hati yang tiada tara yang ia maksudkan. Maka dari itu, Ata pun mulai menjalin aliansi dengan Angga, musuh bebuyutan Ari dari SMA Brawijaya.

Belum cukup dari situ, Ata juga punya cara tersendiri untuk bisa memanfaatkan Tari, cewek yang paling disayang oleh Ari dan juga memiliki nama yang mirip dengannya.

My Thoughts 


Jadi, sebagai disclaimer, aku akan berkomentar sebagai pembaca yang sudah lama sekali waktu baca buku pertama dan kedua. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun lalu aku membaca kisah Ari-Tari. Otomatis, aku sudah lupa bagaimana jalan cerita di kedua novel ini meskipun garis besarnya masih ingat sedikit-sedikit.

Lalu, kebetulan aku membaca novel ini dalam versi audiobook. Dengan demikian, aku banyak mendengarkan novel ini sambil bersih-bersih atau sedang jalan pergi. Konsekuensinya, mungkin ada beberapa bagian yang tidak bisa kudengarkan dengan baik.

Nah, selama mendengarkan, aku cukup terkejut dengan fakta bahwa Ari dan Tari sudah berpacaran. Ini jadiannya di JDE, kah? Aku enggak inget, tbh. Selain itu, kalau memang bener pacaran, Tari menerima dengan ikhlas atau dipaksa sama Ari? 

Berbeda dengan kedua buku sebelumnya yang fokus ke hubungan Ari-Tari dan mengungkap sedikit masa lalu Ari, di JUM memang fokus pada Ata. Kisah masa lalu Ata juga sempat dibahas dan alasan-alasan mengapa Ata ingin sekali balas dendam ke Ari juga dijelaskan.

Sayangnya, aku ngerasa JUM kehilangan charm-nya. Apakah karena dulu aku membacanya waktu SMP jadi merasa kisah ini bagus banget? Aku merasa, drama anak SMA ini biasa banget. Enggak ada istimewa-istimewanya, deh. Aku masih mempertanyakan kenapa dulu bisa membuatku tertarik. Haha. 

Terus, yang bikin aku sebel, aku sampai bosen dengerin "Saudara kembar identik Ari." Astaga. Mungkin itu disebut beribu-ribu kali di buku ini. Meskipun itu untuk menunjukkan keheranan Angga, tapi kalau disebut berkali-kali gitu, kan, jadi pengen ngebanting hape ã… ã… 

Aku tahu, sih, kalau dari JUM ini nanti masih akan ada kelanjutannya, yakni Jingga untuk Sendyakala (JUS). Tapi, ya itu, buku ini beneran cuma jadi filler. Alhasil, ceritanya kerasa lama banget. Bahkan, berasa banyak side story yang ada, kayak kisah Gita yang kayaknya bakal dipasangin sama Ridho. 

Hmm, jadi keinget kalau di sini interaksi antara Vio dan Oji lenyap begitu aja. Kayaknya dulu masih banyak adegan soal mereka berdua dan jadinya banyak yang bikin fanfic buat mereka.

Hal lain yang menurutku kurang believable adalah gimana Ari beneran enggak tahu sama sekali kalau ayahnya sudah menikah lagi. Iya, aku ngerti kalau Ari dan ibu tirinya tinggal di rumah yang berbeda. Tapi, kan, tetap saja, seharusnya sebagai seorang ibu tiri, dia berusaha mendekatkan diri ke Ari. Hmm. Sungguh aku enggak paham logika yang ada di sini.

Kesimpulan


Intinya, aku ngerasa kalau series ini sudah enggak lagi spark the joy buatku. Kalaupun nanti JUS udah terbit, aku mungkin akan tetap membacanya. Tapi, yaaa, enggak sat-set langsung kubaca gitu. 

Sorry to say but 2 out of 5 stars buat JUM.

Sincerely,
Ra
23.01.03

Title: The Sun Is Also a Star
Author: Nicola Yoon
Number of pages: 384 pages
Date of published: November 1, 2016
Publisher: Delacorte Press

Natasha: I’m a girl who believes in science and facts. Not fate. Not destiny. Or dreams that will never come true. I’m definitely not the kind of girl who meets a cute boy on a crowded New York City street and falls in love with him. Not when my family is twelve hours away from being deported to Jamaica. Falling in love with him won’t be my story.

Daniel: I’ve always been the good son, the good student, living up to my parents’ high expectations. Never the poet. Or the dreamer. But when I see her, I forget about all that. Something about Natasha makes me think that fate has something much more extraordinary in store—for both of us.

The Universe: Every moment in our lives has brought us to this single moment. A million futures lie before us. Which one will come true?

***

The Sun Is Also a Star is on my TBR list. I remember being drawn to the book because of its beautiful and unique cover. This year, I challenged myself to participate in Taylor Swift's 1989 Reading Challenge, with the first prompt being Welcome to New York: A book set in New York.

After conducting a Google search, I discovered that The Sun Is Also a Star was on one of the recommended lists. So, why not give it a shot, right?

The Story


Natasha's world fell apart when she learned that she and her family would be deported tonight at 10 p.m. She couldn't believe her twisted fate until now. Natasha chose not to accept her fate, despite the fact that her family did. She attempted to find a way out. She went to the US Citizenship and Immigration Services in the early morning (USCIS). Unfortunately, she missed her appointment and there is nothing she can do to avoid deportation.

Not knowing what to do, one of the officers there told her about an immigrant lawyer who might be able to help her. Natasha will take any opportunity to avoid the deportation at all costs. As a result, she decided to schedule an appointment with the lawyer as soon as possible, hoping for the best possible outcome.

She met Daniel on her way to the lawyer's office, precisely when she took the subway. A Korean American guy who will soon become the closest guy she has ever known.

After her brother, Charlie, was discharged from Harvard, Daniel Jae Ho Bae felt pressured to be the best child in his family. Being a medical student was never his dream. Poetry is the only subject in which he is particularly interested. But, as a member of an Asian family, Daniel understands the importance of living up to his parents' expectations. As a result, he will go to an alum interview as part of his preparation to attend Yale University and become a doctor, as his family has told him.

When Daniel met Natasha, he realized that his own dream was more important than his parents' expectations. Finally, meeting each other will offer Natasha and Daniel with a new perspective on their lives.

Surprisingly, Not Bored



When I first started reading this book, I expected to be bored. Interestingly, I wasn't. Each of the points of view was fascinating to me. What I liked best about this book was how Yoon showed us sides other than Natasha and Daniel's. She also included perspectives from unexpected characters, such as Irene (the security officer), Samuel (Natasha's father), and Jeremy (the immigrant lawyer). When we read the story, those POVs still provide a unique perspective.

This book is fast paced for me. The POV will smoothly switch from one to the other. Because each section isn't that long, switching POVs didn't bother me.

Another element that surprised me was the fact that the story took place in just one day. I never thought I'd find such a book—because one of my prompts RC is about it and I have no idea what it's about. So, at the very least, it will inspire me to seek out another book with a similar plot.

Perhaps what I couldn't understand is that their process of falling in love is very short and quick. I understand Natasha and Daniel have their own intimacy, but I couldn't understand how their interaction could lead to them falling in love.

Conclusion


After all, I'm pretty pleased with myself for finishing this book. I wasn't bored while reading it, and to be honest, I really enjoyed it. Also, I learned more about the lives of immigrants in America, particularly undocumented immigrants.

In my opinion, the ending is very realistic. As a result, there will be no miracles here. That was acceptable for me.

So... yeah. I give this book four out of five stars.

Sincerely,
Ra
230103

Judul: Almond
Genre: Young Adult, Korean Literature
Penulis: Sohn Won-pyung
Penerjemah: Suci Aggunisa Pertiwi
Tebal buku: 232 halaman
Penerbit: Grasindo

Novel remaja Korea, lebih kuat dari film dan menegangkan seperti drama!

"Almond" adalah novel yang memberi harapan kepada orang seperti saya yang percaya bahwa hati dapat mengendalikan kepala. Di akhir musim dingin yang panjang, tibalah musim semi. Di musim semi, saat tanaman tumbuh, emosi pun tumbuh. Jika emosi tumbuh, maka dunia pun ikut tumbuh. Selama membaca tulisan ini, hatiku selalu berdebar-debar. Di musim semi yang akan datang, tulisan ini akan menjadi sebuah petasan indah yang akan meledakkan seluruh emosi.

- Novelis Gong Seonok

***

Perasaan. Menjadi suatu hal lumrah yang pasti ada pada diri seseorang. Akan tetapi, hal tersebut tidak ada dalam diri Yoonjae. Sejak lahir, Yoonjae mengidap Alexitimia. Singkatnya, pengidap penyakit ini memiliki amigdala berukuran kecil yang membuat mereka kesulitan mengolah emosi. Maka dari itu, Yoonjae pun hidup dengan tidak pernah "merasa". Tentunya, keadaannya yang unik ini membuat semua orang memandang aneh dirinya. Dia berbeda dari orang kebanyakan dan menjadi tidak normal di mata mereka.

Yoonjae: Kisah Tiga Babak 

Secara garis besar, Almond terdiri dari tiga babak. Pertama, adalah kisah Yoonjae sedari kecil. Bagaimana ibunya yang seorang single mother mengasuh dan merawat Yoonjae. Menyadari bahwa Yoonjae bukanlah anak biasa, ibu Yoonjae pun menerapkan cara mendidik khusus Yoonjae. Bukan berarti itu hal yang mudah. Tak jarang ibu Yoonjae tak bisa menjawab pertanyaan Yoonjae yang cukup mendasar. Ataupun saat Yoonjae terlibat masalah, ibu Yoonjae tahu bahwa anaknya tak akan bisa merespons layaknya anak-anak di sekitarnya.

Selain itu, di babak pertama, Yoonjae juga mengisahkan tentang neneknya yang juga ikut merawatnya. Nenek dan ibunya memang memiliki sifat dan pemikiran yang jauh berbeda. Akan tetapi, pada akhirnya mereka tetap mau menerima Yoonjae dan terus mengajari Yoonjae untuk bisa adapt dengan kehidupan.

Bagian kedua dari Almond mengisahkan bagaimana hubungan antara Yoonjae dan Gon. Keduanya tentu bukanlah sahabat bagai kepompong. Bahkan, mulanya mereka adalah musuh--kalau itu bisa disebut sebagai istilah yang tepat. Melalui Gon, Yoonjae mulai memahami bahwa manusia seperti dirinya juga bisa menjalin hubungan pertemanan.

Bagian terakhir, mengenalkan Yoonjae dengan Dora. Aku pikir, kisah Yoonjae tak akan ada sisi hubungan romantisnya. Ternyata aku salah. Ternyata penulis memberikan flavor ini pada kehidupan Yoonjae. Satu hal yang cukup unexpected buatku. Well, setidaknya, dari bagian ini kita memahami bagaimana Yoonjae bisa merasakan cinta layaknya yang lainnya.

Perasaan dan Norma di Masyarakat

Tentunya, membaca buku ini cukup sulit. Dalam artian, kisah Yoonjae bisa memunculkan rasa iba. Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa merasakan emosi? Bagaimana mereka bisa tidak pernah merasa takut, sedih, bahagia? Apakah tidak terlalu hampa? Akan tetapi, akan lebih tepat kalau disebut mereka tidak tahu rasanya.

Menurutku, penulis berhasil mengangkat tema yang tidak biasa. Setidaknya, aku belum pernah membaca cerita dengan tema serupa. Apalagi mengambil sisi penyakit satu ini. Yang aku cukup surprised, aku pikir judul Almond di sini tidak akan merujuk pada satu hal yang nyata--ibu Yoonjae percaya bahwa memakan almond setiap hari bisa membantu pertumbuhan amigdala Yoonjae. 

Aku cukup menikmati kisah Yoonjae di sini. Kebingungan Yoonjae cukup tergambarkan saat harus menghadapi situasi yang belum pernah ia tahu kemungkinan kejadiannya. Penggunaan sudut pandang orang pertama juga membuat kita bisa lebih bersimpati pada Yoonjae. Setidaknya, itu kesan yang kutangkap di sini.

Lalu, mau tidak mau, novel ini juga akan mengajak kita untuk mempertanyakan apa sih yang sebetulnya disebut dengan normal? Normal dan biasa menjadi kata yang sulit untuk didefinisikan dalam kamus Yoonjae. Akan tetapi, hal tersebut menjadi kontemplasi tersendiri buatku. Yang disebut normal dan biasa adalah apa yang disetujui oleh masyarakat dari dahulu kala. Apa yang menyebabkan itu normal dan biasa? Ya, karena hal tersebut diakui "normal" dan "biasa" oleh masyarakat.

Dengan demikian, standar nilai akan dipegang oleh konsensus yang berada di masyarakat. Ketika ada yang tidak sesuai, ya berarti mereka yang "menyimpang: Melalui novel ini, penulis mengajak kita untuk melihat dari perspektif yang terpinggirkan dari apa yang ada di masyarakat. Kisah Yoonjae pastinya tidak selalu kita temui di masyarakat. Akan tetapi, kemungkinan bahwa orang-orang seperti Yoonjae hadir di masyarakat, sangatlah mungkin.

Kesimpulan

Tak ku sangka aku bisa membuat review yang cukup panjang untuk bacaan kali ini. Apakah ini semangat tahun baru? Mungkin saja demikian. Almond sangatlah tepat bagi kalian yang ingin memahami kisah pencarian identitas diri. Terlihat cukup grande, ya, tema dari novel ini. Tapi memang itulah tujuan yang ingin dicapai dari penulisnya.

4 out of 5 stars.

Best,
Ra


Love & Gelato
Maybe that's the beauty of death, nothing is messy anymore. Everything is sealed up and final. -- Hadley

Love & Gelato. Sumber: Goodreads.com
Title: Love & Gelato
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
Series: Love & Gelato #1
Author: Jenna Evans Welch
Number of pages: 389 pages
Date of published: May 3rd, 2016
Publisher: Simon Pulse

“I made the wrong choice.” 

Lina is spending the summer in Tuscany, but she isn’t in the mood for Italy’s famous sunshine and fairy-tale landscape. She’s only there because it was her mother’s dying wish that she get to know her father. But what kind of father isn’t around for sixteen years? All Lina wants to do is get back home. 

But then she is given a journal that her mom had kept when she lived in Italy. Suddenly Lina’s uncovering a magical world of secret romances, art, and hidden bakeries. A world that inspires Lina, along with the ever-so-charming Ren, to follow in her mother’s footsteps and unearth a secret that has been kept for far too long. It’s a secret that will change everything she knew about her mother, her father—and even herself. 

People come to Italy for love and gelato, someone tells her, but sometimes they discover much more.
*** 

To complete Balabala Reading Challenge 2020, I decided to search a book with ice cream on the cover. After searching on google, my choice landed to Welch's work. I choose this book because this is young adult book and one of my acquaintance in Goodreads made a good review about it. So, why not to give it a try, right?

The Life of Lina


After her mother, Hadley, passed away, Lina went to Italy to live with his father, Howard. But, to be honest, Lina didn't have any idea about his father after all. Her mother never told Lina who her father was until she was dying. Hadley tried to convince Lina that she should goes to Italy and try to stay there for a while with Howard. At the first, Lina refused to do it. But, Hadley being Hadley. She has made Lina promise her to live with Howard for summer.

My mother had kept us apart for sixteen years. Why were we together now?

Living in Italy wasn't something that ever crossed Lina's mind ever. Moreover, live in the middle of cemetery. Well, the fact maybe was hard for Lina. Because, now she is literally live in the middle of cemetery and didn't have any idea what she should do to get socialize. Fortunately, Lina met Lorenzo Ferrara or Ren who actually tried to help Lina adapted in Italy.

Ren was also someone who help Lina to uncover the truth about her mother's life in Italy. This so-called journey was started when Lina got her mother's journal from Sonia--Howard's friend and neighbor. Since Lina was very curious about the fact that her mother has separated her with her own father for more than fifteen years, Lina want to know the exact reason behind of it. Therefore, Lina's journey to find the truth about it is begin.

Image: videoblocks.com, edited by me

Typical Cute Young Adult Book


Considering this is a young adult book, no wonder id the author made this book in the very cute way. After all, this book has aim to entertain the teenager. To be honest, this book is cute and good for light reading. The story is neat and there are a plot twist there even thought I have figured out the twist from the very start.

“I don’t owe you anything. Maybe next time you should have a little more faith in me.” -- Lina.

The love part of this book is typical young adult couple. It's cute, full of lovey dovey, and of course, quite hard to happen in the real life. Nevertheless, I still like Ren as the character. He is gentle and always caring. Even though he is a little bit annoying when he is near Mimi--her ex-girlfriend.

I like the story of Lina and Howard. Their relationship is cute and warm. I wonder if Howard could be a good father after all. Well, at least I am happy with Lina's decision in the end of the story.

Anyway, I just know that this book is a series. So, another book still be related to this book. Hmm, it makes me curious all the way.

Conclusion


For a light reading and cute story, you should try to read Love & Gelato. At least, you will get the explanation about some favorite tourism places in Italy.

3 stars for the Lina and Ren journey to find Gelato.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Represi

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." - Nabila.

oleh Fakhrisina Amalia

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads
Judul : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Genre : Young Adult
Editor : Tri Saputri Sakti
Proofreader : Tisya Rahmanti
Ilustrasi sampul : Orkha Creative
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 264 halaman
ISBN : 9786020611945
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.
Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.
Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Represi. Awalnya, saya tidak berekspektasi apa-apa terhadap novel yang satu ini. Pertama kali menemukan novel ini di Gramedi Digital, saya berharap bisa menemukan bacaan ringan. Toh, saya memang sedang mengalami reading slumps kala itu. Ternyata, apa yang saya temukan, tidak seperti dugaan saya di awal. Novel ini cukup kompleks dan tidak seringan yang saya kira.

Apakah kamu pernah merasakan keinginan untuk mati? Keinginan untuk mengakhiri hidupmu karena kamu merasa sudah tidak berguna lagi?
Anna baru saja pulih dari percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Meskipun begitu, Anna tahu bahwa dirinya masih tidak baik-baik saja. Dia belum terbiasa untuk menjalani hidupnya kembali. Bagaimanapun, Anna merasa dirinya adalah sosok yang telah tidak berguna. 

Image credit: pixabay, edited by me
Pada mulanya, Anna adalah gadis yang biasa-biasa saja. Dalam artian, dia memang bukan gadis populer, tapi Anna punya empat sahabat yang selalu mendengarkan dirinya. Saka, Ouji, Nika, dan Hani. Keempat sahabat Anna tersebut selalu mendukung seluruh keputusan Anna. Bahkan, Saka adalah salah satu sahabat Anna yang sangat peduli pada Anna. Saka pernah memberi Anna seekor kucing yang dinamai Serafina. Hewan berkaki empat itu menjadi hewan kesayangan Anna. Saka selalu membantu Anna dalam merawat Serafina.

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." Anna.
Sampai kemudian, munculah Sky. Teman basket pacar Nika yang menyedot seluruh perhatian Anna. Cowok itu berhasil membuat Anna benar-benar terfokus padanya. Seolah-olah, hidup dan mati Anna berpusat pada sosok Sky. Sejak saat itulah, dunia Anna berubah. Bahkan, seratus delapan puluh derajat. Anna semakin sering absen ketika ada kumpul-kumpul bersama sahabatnya. Bahkan, Anna juga berbohong kepada ibunya--hal yang sebelumnya tidak pernah Anna lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, mengapa sekarang Anna begitu trauma akan nama Sky di telinganya?

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." Nabila.

***

Novel ini menceritakan kehidupan Anna pasca percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Menggunakan alur flashback, penulis mencoba untuk mengungkap kehidupan Anna jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan bongkahan es yang disembunyikan Anna dari teman-teman terdekatnya. Saya memang bisa menduga ada hal buruk yang terjadi di antara Sky dan Anna, tapi saya tidak menyangka akan ada hal lain yang terungkap selain kejadian tersebut.

Kenapa dia tidak boleh menangis? Kenapa dia harus kuat untuk bisa menjadi anak Ibu dan Ayah? Kenapa tidak pernah sekali saja orangtuanya menerima tangisannya tanpa mengatakan apa pun jika mereka tidak bisa memberikan kalimat penghiburan yang lebih baik? -Anna.
Saya tahu, saya memang tidak pernah merasakan dorongan kuat untuk bunuh diri seperti yang Anna rasakan, akan tetapi, saya tahu orang lain pasti pernah merasakannya. Perasaan bahwa kita tidak bisa apa-apa. Bahwa kita tidak lagi berguna karena kejadian-kejadian traumatis di masa lalu. Pastinya, hal tersebut tidaklah mudah. Oh, ayolah. Sebuah keinginan untuk melupakan seseorang di masa lalu saja sulit untuk dilakukan, bagaimana dengan melupakan kejadian traumatis yang terus terbayang?

"Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri." - Saka.
"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti." - Nabila. 
Jujur, saya agak sedikit bosan ketika membaca Represi. Meskipun, saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Anna. Mungkin, karena saya belum punya mood membaca yang begitu baik. Alhasil, demikianlah jadinya. Akan tetapi, saya menyukai ide yang Fakhrisina bawa. Saya rasa, membahas mental health dalam novel young adult bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimanapun, Fakhrisina harus mencoba untuk mengupas isu ini dalam bahasa yang sesuai dengan para pembaca.

Kalau ditanya siapa tokoh yang sukai, saya akan menjawab itu adalah Nabila. Psikolog yang membantu kesembuhan Anna. Sosok yang begitu tenang dan bisa memahami pasiennya. Yes, I know that's her duty, but, she's just a wise person after all. Untuk tokoh Anna sendiri, saya punya love-hate feeling terhadapnya. Saya kadang kesal ketika membaca kisah masa lalu Anna dan Sky. Anna ini terlalu penurut dan Sky, well, he is a bastard. Enough said. Cukup menyebalkan tentunya ketika membaca tentang hubungan yang toxic seperti itu.

"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kecemasan adalah sesuatu yang membuat dirimu bekerja keras dan menderita dua kali lipat." - Nabila.
Dengan segala kekompleksannya, saya rasa, novel ini patut dibaca. Apalagi kalau kamu mencoba mencari bacaan yang berhubungan dengan mental health. Novel ini tentunya dapat menjadi pilihan yang pas.

3 bintang untuk Serafina, kucing Anna yang sangat lucu dan menggemaskan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

Sing Me Home

Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tidak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.

oleh Emma Grace

2.5 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul buku : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace
Genre : Romance
Kategori : Young adult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 272 halaman
ISBN : 978-602-03-3571-1
Baca via Gramedia Digital


Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sing Me Home merupakan salah satu novel yang saya baca karena saya tertarik dengan sampul bukunya. Baiklah. Tidak seharusnya saya menilai sebuah novel dari sampulnya saja. Saya masih ingat kok, kalau pada dasarnya kita tidak bisa judge a book from its cover. But, I couldn't help. Sing Me Home's cover is really attractive. I like the concept and the illustration. 

Okay, then. Let's move to my review. Sing Me Home merupakan novel young adult yang ditulis oleh Emma Grace. Jujur, saya belum pernah membaca karangan Emma sebelumnya. Pun, saya juga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap novel ini.

Gwen adalah seorang penari. Ia mencintai tari dengan sepenuh hidupnya. Permasalahannya, orang tua Gwen, terutama mamanya, tidak menyetujui keinginan Gwen untuk menjadikan tari sebagai tujuan hidupnya. Hal ini membuat Gwen yang tidak terima dengan keputusan mamanya, melakukan berbagai cara untuk bisa menari dan mengikuti audisi untuk performing arts school, termasuk diam-diam mengikuti audisi yang sudah diusahakan oleh pelatihnya, Savannah.

Kau tahu perasaan paling indah di dunia, Sav?"
"Ya?"
"Ketika kau menari dengan kakimu, dengan lantunan musik indah mengiringimu. Saat kau membiarkan semuanya, di dalam dan di luar dirimu menguap. Semua hal, kecuali tarianmu sendiri."
-- Gwen dan Savannah

Selain permasalahan dengan orang tuanya, kehidupan Gwen juga dibayangi oleh sosok laki-laki yang sulit untuk Gwen lupakan, Hugo. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup Gwen dan membuat Gwen merasa sangat berarti. Sayangnya, kedatangan Corrine membuat semua hal itu berubah.

Di tengah kebimbangan dan rasa sesak yang Gwen rasakan, munculah Jared, seorang fotografer yang suka memotret Gwen ketika menari. Lalu, bagaimana akhir kisah Gwen? Apakah dia akan tetap menari? Ataukah ia menyerah atas keinginan orang tuanya? Lalu, pada hati siapakah hati Gwen akan berlabuh?

"Aku tak pernah tahu kamu memperhatikan setiap hal dengan detail.""Memang tidak. Tidak setiap hal. Aku memperhatikanmu"
-- Gwen dan Jared
Sing-Me-Home-Emma-Grace
image credit: wallpaper-house.com, edited by me.

Well, I have to admit that this kind of story is kinda cliche. Even, I can sense the main story of it from the beginning. Akan tetapi, bukan berarti seluruh bagian dari novel ini dapat begitu saja ditebak. Ada bagian, terutama alasan kerasa Mama melarang Gwen menari, yang membuat saya cukup terkejut dan menggumamkan 'oh' pelan.

Kalau menurut saya, pada dasarnya novel ini mengajarkan pembaca untuk tetap berusaha menggapai mimpinya. Satu hal yang positif memang. Saya pun menyetujui premis yang dibawakan oleh Emma Grace, despite I never read her work before. 

Akan tetapi, lagi-lagi bukan berarti saya bisa menyukai karakter-karakter yang ada. Bagi saya, Gwen merupakan sosok yang cukup menyebalkan. Oke, saya memang menghargai kegigihannya, tapi, sisi egois Gwen membuat saya memutar bola mata. 

Kemudian, sosok Jared di sini seolah dibuat menjadi karakter yang 'seharusnya' tidak disukai. Padahal, menurut saya sosok Gwen lah yang membuat Jared seperti tersangka. Heuf. Saya tak tahu harus berkomentar apa.

"Tenang saja, Gwen. Kamu tak harus menjawab atau melakukan apa pun. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan padamu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku memberikan buku itu."
-- Jared
Jangan menghancurkan hati orang lain, Gwen. Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia."
-- Hanna
Kemudian, ada satu bagian lagi yang membuat saya mengernyitkan kening. Intinya, Corrine akan dibawa ke Kalimantan untuk mendapatkan penyembuhan. Hmm.. have I read it wrong? Bukannya saya merendahkan, hanya saja.. saya tahu Kalimantan merupakan daerah di Indonesia yang membutuhkan pembangunan. Dan saya tahu hal tersebut tidak mudah. Kalimantan punya pekerjaan rumah yang sangat besar. Jadi, I'm a little bit rolling my eyes when the author write that. I think it's more make sense if she intend to make Corrine goes to Singapore for better medication. But, if I'm wrong about this, just correct me.

Jadi, pada intinya, Sing Me Home merupakan jenis novel yang mudah dicerna. Apalagi karena memang termasuk young adult novel. Hanya saja, saya tidak bisa membuat diri saya jatuh cinta pada karakter yang ada.
"Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
-- Ms. Lockhart
2.5 bintang untuk Hanna, sahabat Gwen yang menurut saya masih waras.

Best regards,
Puji P. Rahayu.

Dua Dunia

oleh Luna Torashyngu

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Dua Dunia
Penulis: Luna Torayngu
Genre: Young Adult
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 9786020380384
Baca via Gramedia Digital

Ren dan Kya adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan sejak pertama kali masuk SMA 321 hingga sekarang di kelas XI. Ren berpenampilan kalem, pakai kacamata, dan rambut disisir asal saja. Cowok itu irit bicara. Berbeda 180 derajat dengan Kya yang tomboy, suka bicara seenaknya, berani, dan jago karate. Namun, dua kepribadian yang bertolak belakang itu saling melengkapi.

Ren tinggal bersama pamannya, Paman Bagas, yang merawatnya sejak bayi, tepatnya setelah kedua orangtua Ren tewas karena kecelakaan. Setidaknya itulah yang selalu didengar dan diketahui Ren mengenai orangtuanya selama tujuh belas tahu, sebelum sebuah peristiwa dan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal Ren membuaka jari diri Ren yang sebenarnya… 

Info lengkap dapat dibaca di:

Tiga bulan berlalu sejak saya terakhir kali mem-posting di blog ini. Bukan, kok. Bukannya saya akan berhenti menjadi seorang bloger buku. Sama sekali bukan. Hanya saya, tiga bulan terakhir ini merupakan masa-masa saat saya mengalami reading slumps yang tidak tertahankan. Ketika saya mencoba membaca buku ringan, saya sama sekali tidak tertarik dan akhirnya menyerah. Kalau membaca saja saya tidak mampu, bagaimana mungkin saya bisa menuliskan resensi dari buku yang "rencananya" akan saya baca?

Akan tetapi, harus saya akui, buku ini sudah saya baca sejak dua bulan lalu. Saya sudah membuat draft resensi dari buku ini di cloud telegram saya. Hanya saja, saya baru berkesempatan untuk mem-posting-nya sekarang. Terlambat memang, tapi saya hanya berharap, dengan demikian, semangat saya untuk menulis kembali di blog akan muncul kembali.

Kapan hari, teman saya tiba-tiba saja bertanya kepada saya, "bagaimana kabar blogmu? sering posting?" Well, saya hanya bisa tersenyum getir. Bahkan, membuka laman blogger.com saja tidak saya lakukan. Baiklah, saya membukanya. Tapi, tidak satupun tulisan yang saya hasilkan. Maka dari itu, kali ini, saya terpikir untuk menulis lagi. 

Sudah-sudah. Rasanya prolog saya sudah terlalu panjang. Berikut merupakan resensi untuk salah satu karangan dari Luna Torashyngu. Harus saya akui, Kak Luna adalah salah satu penulis favorit saya. Pertama kali saya membaca novel Kak Luna ketika saya duduk di kelas tujuh SMP. Sudah lama sekali memang. Tapi, saya tetap menyukai gaya bercerita dari Kak Luna. Dua Dunia merupakan satu dari sekian novel Kak Luna yang menurut saya patut untuk dibaca.

***

Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu kenyataan bahwa kamu bukan manusia bumi biasa? Melainkan, salah satu keturunan manusia dari dimensi lain yang punya kemampuan untuk mengeluarkan energi tenaga dalam?

Ren adalah seorang remaja biasa yang terkenal biasa-biasa saja. Tidak punya kemampuan fisik yang luar biasa dan tinggal bersama pamannya, Bagas, karena kedua orang tuanya telah meninggal ketika dia masih kecil. Nyatanya, Ren tidak menduga bahwa dirinya adalah seorang pewaris tunggal Worthwood Inc., sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di Inggris. Tidak cukup hanya itu, ternyata, Ren adalah seorang gnome, campuran dari manusia bumi dengan manusia Terra. Menurut ramalan, Ren ditakdirkan untuk mengalahkan Axion, penyihir Terra yang dendam terhadap Efra, ayah Ren.

Di kehidupan remajanya itu, Ren juga memiliki sahabat. Dia adalah Kya, seorang cewek tomboi yang sangat berbakat dalam bela diri. Kya adalah sesosok sahabat yang selalu bisa Ren andalkan kapanpun dan di manapun.

Kehadiran Dilla, teman semasa kecil Kya, membuat persahabatan Kya dan Ren merenggang. Ren menjalin hubungan dengan Dilla dan keduanya saling mencintai. Pada dasarnya, Kya sangat menghargai hubungan Dilla dan Ren. Sayangnya, dia merasa aneh dengan sikap Ren yang perlahan mulai berubah.

Kemudian, kejadian putusnya Dilla dan Ren yang secara tiba-tiba, serta kehadiran para anak buah Axion di muka bumi, membuat persahabatan Ren dan Kya kembali erat. Bahkan, keduanya pun bertekad supaya bisa menyelamatkan Dilla dari cengkeraman Axion. Apakah Ren Dan Kya berhasil mengalahkan penyihir jahat tersebut dan membawa kedamaian di bumi? Simak lebih lanjut cerita di novel terbaru Luna Torashyngu ini.

***

Sejak saya masih duduk di bangku SMP, Luna Torashyngu telah menjadi salah satu penulis favorit saya. Cara Kak Luna bercerita serta kisah yang disajikan membuat saya mudah jatuh hati. Bermula dari kisah pembunuh bayaran, Rachel, hacker berbakat, Muri, dan juga genoid, Fika, membuat saya benar-benar menikmati seluruh karya Kak Luna. Oh, saya juga tidak akan melupakan Angel's Heart, kisah tentang Angel dan Rivi yang membuat saya menangis pertama kali saat membaca novel.

Awalnya, saya sedikit tidak tertarik untuk menbaca novel ini. Apalagi, dari sampulnya yang menurut saya kurang mengundang. Kalau saja saya tidak mengenal karakteristik novel Kak Luna, mungkin saya akan mengurungkan niat untuk mengunduh novel ini di Gramedia Digital. Ternyata, keputusan saya untuk mengunduh novel ini tidak salah. Lagi-lagi saya terhibur dengan kisah yang disajikan oleh Kak Luna.

Well, semakin ke sini, semakin banyak keterkaitan dari semua tokoh karya Kak Luna. Saya cukup kagum dengan Cara Kak Luna menyambungkan seluruh kisah mereka. 

Cukup berbeda dengan karya-karyanya yang lain, Dua Dunia mengambil setting bumi dan juga dunia paralelnya, yakni Terra. Kalau di karya lainnya akan terasa sangat masuk akal dan modernis, maka di Dua Dunia, kita akan diajak kembali untuk merasakan dunia sihir dan kekuatan tenaga dalam. Agak tidak biasa menurut saya. Apalagi, dalam kisah-kisah sebelumnya, Kak Luna selalu menggambarkan tokohnya yang menggunakan berbagai macam teknologi modern dan terkini. Jadi, ketika membaca novel ini di awal, saya cukup mengernyitkan dahi karena tenaga dalam dan kekuatan sihir disebut-sebut.

Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya dalam novel ini, mungkin saya akan memilih Kya. Iya. Saya suka gaya Kya yang tetap perhatian pada temannya. Meskipun kalau ditanya saya malah lebih penasaran dengan Kyu, saudara kembar Kya. Mungkinkah di sekuel selanjutnya, Kyu akan muncul kembali dan memiliki peran yang lebih besar? Mungkin saja.

Nah, jadi buat kalian yang menginginkam bacaan yang cukup menantang tapi tetap khas teenlit, maka Dua Dunia bisa menjadi pilihan untuk kalian.

3 bintang untuk persahabatan Ren dan Kya.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

The Rose and the Dagger
Beberapa rahasia lebih aman berada di belakang kunci.

oleh Renee Ahdieh


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Rose and the Dagger
Seri: The Wrath and the Dawn #2
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult, Romance
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gaby Kusuma
Penata letak dan perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP (Imprint dari KPG)
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: viii+486 halaman
ISBN: 978-602-242-418-03

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.
Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Menjadi seorang pemimpin dalam tatanan struktur monarki bukanlah hal yang mudah. Meskipun takhta dalam sebuah kerajaan berdasarkan keturunan, nyatanya tidak menjamin setiap orang dapat mempercayai kemampuan dan kapabilitas dari pemimpin tersebut. Bayang-bayang pemimpin sebelumnya akan terus membayangi. Menjadi pemimpin Khorasan memang tidak mudah bagi Khalid. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia mendapat kutukan yang tidak bisa ia bagikan pada orang lain, membuat Khalid semakin tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

"Percayalah apa yang kau pilih untuk percayai. Tapi tetap saja, buktinya berdiri di hadapanmu." Shahrzad, hlm. 52
Sepenggal Cerita
Semenjak serangan yang dilancarkan di Rey, Shahrzad tinggal di padang gurun bersama dengan Tariq dan suku Badawi. Di sana pula, Ayah Shahrzad--Jahandar, dirawat. Adik Shahrzad, Irsa, juga tinggal di tempat itu. Di sana pulalah, Shahrzad mulai mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Di lain sisi, Khalid menyadari bahwa peperangan di Khorasan tidak dapat terhindarkan. Perselisihan dengan pamannya--Sultan Parthia, semakin memperumit keadaan. Belum lagi, kutukan yang masih menjadi beban Khalid masih belum dapat disembuhkan.

"Tapi jika kau bertanya kepadaku, cara terbaik untuk terbang adalah dengan memotong tali yang mengikatmu ke tanah..." Shiva, hlm. 68.
"Ketika aku berada di padang gurun, aku bangun setiap hari dan melanjutkan hidupku, tapi itu bukan hidup; aku hanya ada. Aku ingin hidup. Kaulah tempatku hidup." Shahrzad, hlm. 202
Dalam buku kedua ini, cerita mulai fokus pada kutukan Khalid dan juga kemungkinan perang antara Khorasan dan juga Parthia. Kisah romansa dari para tokoh pun mulai terlihat. Antara Khalid-Shahrzad-Tariq, Irsa dan Rahim, hingga Despina dan Jalal. Hemm. Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini pada akhirnya memang novel roman yang terbalut fantasi.

Resensi The Rose and the Dagger oleh Puji P. Rahayu
Sekelumit Pendapat
Entahlah. Setelah aku menyelesaikan membaca novel ini--yang membutuhkan waktu hampir dua minggu lebih, aku merasa kosong. Dalam artian, tidak banyak yang dapat kuingat saat membaca buku bersampul biru ini. Entah karena aku sedang tidak mood membaca atau bagaimana. Yang pasti, aku merasa tidak terlalu sreg saat membacanya.

Oh, bukan berarti aku tak menyukai ceritanya, ya. I means, aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Sejak buku satu pun, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya. Yaa, itu sebenarnya karena banyak banget celah yang ada di buku satu. Jadinya, aku berharap kalau di buku dua akan ada penjelasannya. Nyatanya... aku kurang puas dengan penjelasan di buku dua :( Menurutku banyak missing link dalam ceritanya. Bahkan, aku merasa kalau penyelesaian konfliknya... yaaa... gitu-gitu aja. Kurang seru. *digampar. 

"Ketika kita dihadapkan kepada ketakutan tergelap, tidak bertindak adalah pilihan bagi mereka yang lemah atau putus asa. Selalu ada sesuatu yang dapat dikatakan atau dilakukan. Meskipun kata-kata--"
"Hanyalah goresan di atas kertas." Musa dan Khalid

Kesimpulan
Terlepas dari ketidak-sreg-anku terhadap buku ini, aku masih merasa kalau duologi The Wrath and the Dawn masih worth to read. Disclaimer aja, sih. Jangan terlalu berharap fantasinya akan meluber-luber, ya. Aku masih merasa duologi ini memang banyak romans-nya. Hoho.

"Jadilah awal dan akhir, Shahrzad al-Khayzuran. Jadilah lebih kuat dari segala sesuatu di sekitarmu." Rajput, hlm. 393
3 bintang untuk kisah 1001 malam yang menawan ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Dear, Me
Perjuangkan mimpimu selagi bisa

oleh  Ariestanabirah


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads
Judul: Dear, Me
Penulis: Ariestanabirah
Genre: Young Adult
Penerbit: PING (Laksana Gorup)
Penyunting: Diara Oso
Penyelaras Akhir: RN
Tata Sampul: Amalina
Tata Isi: Violetta
Pracetak: Endang
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-407-154-7
Buntelan dari penulis

Hidup menjomblo di usia yang semestinya sudah punya gandengan (minimal banget), dipecat dari perusahaan setelah 9 tahun mengabdi, ditambah krisis keuangan dan percaya diri. 
Zia berada di titik kritis dalam hidupnya. 
Di saat terpuruk, Zia teringat pada impiannya semasa SMA juga... cinta pertamanya. Apa kabarnya dia?
Ia menulis surat, lalu mengirimkan surat itu untuk dirinya di lima belas tahun lalu. Sebuah perbuatan iseng nan konyol. 
Tapi, siapa tahu kejaiban apa yang menantinya?

***

Dalam hidup, seseorang tidak akan pernah lepas dari penyesalan. Kita pasti, di saat tertentu, berharap bahwa kita tidak melakukan satu kesalahan di masa lalu, agar kemudian kita tidak menyesal di masa sekarang. Aku pun demikian. Aku pernah berpikir, "Why I did that? Why? I shouldn't did that thing." Aku pernah mengalami masa-masa seperti itu. Masa saat aku menyesali masa lalu. Masa saat aku menginginkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya apa yang telah kulakukan. Sayangnya, hal tersebut menjadi tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin kan kita kembali ke masa lalu?

The Story

Bagi Zia Abila, kehidupannya sekarang benar-benar berantakan. Belum memiliki pasangan di usia yang matang, pekerjaan yang ia jalani tidak sesuai dengan passio-nya sebagai komikus--dan pada akhirnya dipecat, hingga tidak memiliki sahabat yang bisa menerima keluh-kesahnya. Zia menyesal banyak hal yang tidak ia lakukan dengan benar di masa lalu. Maka dari itu, Zia mencoba untuk mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Ia mencoba memperingatkan dirinya di masa lalu akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Mungkin bagi kalian terdengar tidak mungkin hal tersebut terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau surat Zia di masa sekarang, benar-benar bisa dikirim untuk Zia di masa lalu? Akankah kehidupan Zia menjadi lebih baik?

Mengambil latar waktu tahun 2000-an, Kak Bilah mencoba untuk mengajak kita menyelami kehidupan masa SMA Zia. Masa-masa saat kita harus memilih kita mau menjadi apa. Masa-masa penentuan kalau buatku. Kita mau memilih jurusn kuliah apa, apakah kita mau mengikuti apa kata orang tua, atau kita ingin memperjuangkan passion kita sendiri? Menurutku, masa SMA adalah masa-masa kritis bagi remaja untuk menentukan jati diri mereka--eugh, lebih parah waktu kuliah, sih. But I know the feeling. 

Sepintas, kita akan benar-benar diajak untuk mendalami lagi mimpi serta passion kita. Intinya sih, membuka mata kita, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang bersentuhan dengan seni, belum tentu tidak ada harganya. Kalian pasti pernah mendengar kan, sentimen bahwa menjadi pekerja seni tidak ada harganya? Aku sendiri pun sering mendengarnya. Maka dari itu, dalam Dear, Me, Kak Bilah mencoba memberikan pandangan baru mengenai pekerjaan yang berhubungan seni, yakni komikus. Yap, si tokoh utama, Zia, bermimpi menjadi komikus. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak menyetujui rencana Zia. Dengan adanya surat dari masa depan, Zia pun akhirnya mencoba memperjuangkan mimpinya. Meskipun ia tidak tahu apakah orang tuanya benar-benar dapat mengabulkan permintaannya atau tidak.

Selain tentang mimpi, tentunya cerita tentang Zia tidak akan lengkap, tanpa adanya cerita mengenai persahabatan dan juga cinta. Surat dari masa depan menyebutkan bahwa sahabat terbaik Zia, Nana, akan meninggal karena Zia tidak memperhatikan sahabatnya tersebut. Apakah Zia berhasil menyelematkan Nana dari entah apa yang menimpanya? Selain itu, diam-diam, Zia juga berusaha mendapatkan hati dari pangeran pujaannya, Addis. Cowok yang terkenal penyendiri, bahkan dianggap aneh ini, nyatanya bisa menarik hati Zia. Akan tetapi, apakah mungkin Zia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Addis supaya ia tidak menyesal di masa depan?

The Opinion
Membaca Dear, Me ini bisa dilakukan saat kamu ingin bernostalgia dengan zaman SMA. Kisah kehidupan SMA begitu melekat dalam novel ini. Mulai dari printilan upacara, kerja kelompok, hingga lomba bulan bahasa. Intinya sih, memang mengisahkan masa-masa SMA banget. Sejak pertama kali membaca tulisan Kak Bilah--sejak baca draft awal Yesterday in Bandung, aku suka dengan cara Kak Bilah bercerita. 

Eits, aku belum cerita ya. Jadi begini. Puji dan Kak Bilah pernah bekerja sama dalam satu novel keroyokan berjudul Yesterday in Bandung--eaa, shameless promotion. Di sinilah, aku pertama kali kenal Kak Bilah dan tahu gaya menulisnya. Aku suka karena gaya bercerita Kak Bilah itu menurut aku ringan. Mudah dimengerti. Mungkin terkesan formal, but I don't mind. Aku tetep suka.

Membaca Dear, Me membuatku refleksi kembali. Apakah benar jalanku yang kutempuh sekarang? Apakah nanti masa depanku akan baik-baik saja? Menggunakan sudut pandang orang pertama, membuatku bisa menyelami karakter Zia. Bagaimana Zia menyikapi hidup pada akhirnya. Kemudian, aku suka banget sama sampulnya. Cantik. Menarik pula untuk dipandang. 

Cerita yang disajikan menurut aku cukup menarik. Event though, in some part, I couldn't relate with some points--regarding my own sentiment, I still could enjoy the story. Intinya sih, kamu nggak akan menyesal kok untuk membaca novel ini. Menyenangkan dan ringan. Memberikan gambaran mengenai usaha meraih mimpi dan juga passion.

Disunting oleh Puji
The Conclusion
Untuk kalian yang menyukai cerita sarat akan refleksi diri, kalian bisa membaca Dear, Me. Bagiku, membaca novel-novel seperti Dear, Me ini dapat menyentil kesadaran kita. Tentang segala hal yang terjadi di sekitar kita.

3 bintang untuk mimpi Zia menjadi komikus.

UPDATE

Halo, teman-teman! 
Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveway novel Dear, Me. Setelah menimbang dan juga menganalisis, akhirnya, pemenang giveway ini pun terpilih. Siapa dia? Selamat kepada...

Monica Indah
@MonicaIndah5

Yeay! Nanti akan kuhubungi lewat DM, ya. Selamat sekali lagi. Untuk yang lain, semoga beruntung di lain kesempatan. 

Sincerely,
Puji P. Rahayu