Showing posts with label Read in 2023. Show all posts
Showing posts with label Read in 2023. Show all posts

Title: The Seven Husbands of Evelyn Hugo
Author: Taylor Jenkins Reid
Publisher: Washington Square Press
Date of publication: June 13, 2017
Number of pages: 398 pages
Read on Libby

From the New York Times bestselling author of Daisy Jones & the Six—an entrancing and “wildly addictive journey of a reclusive Hollywood starlet” (PopSugar) as she reflects on her relentless rise to the top and the risks she took, the loves she lost, and the long-held secrets the public could never imagine.

Aging and reclusive Hollywood movie icon Evelyn Hugo is finally ready to tell the truth about her glamorous and scandalous life. But when she chooses unknown magazine reporter Monique Grant for the job, no one is more astounded than Monique herself. Why her? Why now?

Monique is not exactly on top of the world. Her husband has left her, and her professional life is going nowhere. Regardless of why Evelyn has selected her to write her biography, Monique is determined to use this opportunity to jumpstart her career.

Summoned to Evelyn’s luxurious apartment, Monique listens in fascination as the actress tells her story. From making her way to Los Angeles in the 1950s to her decision to leave show business in the ‘80s, and, of course, the seven husbands along the way, Evelyn unspools a tale of ruthless ambition, unexpected friendship, and a great forbidden love. Monique begins to feel a very real connection to the legendary star, but as Evelyn’s story near its conclusion, it becomes clear that her life intersects with Monique’s own in tragic and irreversible ways.

“Heartbreaking, yet beautiful” (Jamie Blynn, Us Weekly), The Seven Husbands of Evelyn Hugo is “Tinseltown drama at its finest” (Redbook): a mesmerizing journey through the splendor of old Hollywood into the harsh realities of the present day as two women struggle with what it means—and what it costs—to face the truth.


***

Well, aku mengetahui novel ini dari Ayas. Waktu itu, Ayas menyarankan aku untuk membaca novel ini untuk 12 Reading Challenge. Honestly, menurutku novel ini menarik banget. Cara Taylor Jenkins menggambarkan Evelyn Hugo itu kerasa nyata banget. Selama membaca novel ini, aku sampai bertanya-tanya, is she really not real? 


The Story


Cerita dibuka dengan keinginan Evelyn Hugo untuk diwawancarai oleh Monique Grant. Awalnya, Monique yang merupakan seorang jurnalis di Vivan, bertanya-tanya mengapa Evelyn meminta dirinya secara khusus untuk mewawancarainya. Ketika ia sampai di rumah Evelyn, Monique baru menyadari bahwa permintaan Evelyn bukan sekadar tentang wawancara satu artikel lalu selesai. Akan tetapi, Evelyn mengharapkan Monique menulis biografi tentang dirinya.


Awalnya, Monique begitu terkejut dengan permintaan Evelyn. Apakah ada alasan khusus bagi Evelyn memilih dirinya? Evelyn, dengan gayanya yang santai dan tenang hanya berkilah bahwa pertanyaan Monique akan terjawab nantinya, saat kisah hidupnya selesai ia tuturkan.


Meskipun sempat ragu, Monique akhirnya menerima tawaran Evelyn. Sejak saat itulah, Monique mulai mempelajari seluruh gelap-terang kehidupan Evelyn. Begitu pula dengan kelindan kisah Evelyn bersama dengan 7 suaminya.


The Opinion


Seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, Taylor Jenkins Reid telah berhasil menggambarkan kehidupan Evelyn Hugo dengan begitu apik. Kita seolah-olah diajak untuk berkenalan dengan sosok yang betul-betul hidup bernama Evelyn Hugo. Seorang aktris ternama di era 60-an di Hollywood. Ia memiliki kharisma yang begitu kuat serta kecantikan yang tak lekang oleh waktu. Evelyn juga dikenal sebagai salah satu icon Hollywood yang selalu membawa impact ke berbagai hal yang ia lalui.


Saat aku membaca novel ini, aku merasa begitu mudah terhanyut dengan kisahnya. Alhasil, aku ingin sekali segera menyelesaikan membacanya. Aku begitu penasaran dengan seluruh kisah suami-suami Evelyn. Apa yang membuat Evelyn akhirnya memutuskan menikah dengan mereka dan apa yang membuat mereka akhirnya berpisah.


Tentunya, salah satu sosok suami Evelyn yang paling berkesan buatku adalah Harry Cameron. Dengan Harry-lah Evelyn akhirnya melahirkan Connor, putrinya yang akhirnya meninggal karena kanker payudara pada umur 41 tahun. Selain itu, pernikahan Evelyn dengan Harry juga membuka jalan bagi Evelyn untuk bisa bersatu dengan cinta sejatinya, Celia St. James.


Conclusion


Pastinya, aku akan merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi siapapun yang menyukai novel berbentuk memoar fiksi. TJR berhasil menghidupkan sosok Evelyn di sini dan kalian tidak akan menyangka bahwa Evelyn hanyalah tokoh fiksi belaka.


4.5 bintang untuk memoar yang apik ini.


Sincerely,
Ra

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Tebal buku: 272 halaman
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca di Gramedia Digital

ka·tar·sis: n (Psi) cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf dng membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. 

Seluruh keluarganya tewas dalam pembunuhan sadis, sementara Tara ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kotak perkakas kayu. Dengan bantuan Alfons, psikiaternya, polisi berusaha menemukan sang pembunuh lewat Tara yang mengalami trauma berat. Teka-teki pembunuhan ini makin membingungkan setelah muncul Ello, pria teman masa kecil Tara. Kematian demi kematian meninggalkan makin banyak tanda tanya. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

***

Pertama kali tahu soal Katarsis waktu tanya Kakpin soal rekomendasi novel Indonesia dengan unreliable narrator. Waktu itu, aku dikasih pilihan antara Boneka Sandya dan Katarsis--dan aku memilih Boneka Sandya. Baru sekarang aku berkesempatan untuk membaca Katarsis.

The Story

Tara Johandi ditemukan terikat di dalam sebuah peti. Sedangkan, ayah dan tantenya ditemukan tak bernyawa di rumah itu. Dalam keadaan seperti itu, tentu kesaksian dari Tara sangatlah penting. Sayangnya, Tara sama sekali enggan untuk membuka mulut. Hanya Alfons lah satu-satunya sosok yang bisa mendekati Tara dan membuat gadis itu terbuka padanya.

Akan tetapi, nyatanya kita tidak diajak untuk menyelami masa kini dari Tara saja dalam kisah ini. Kita akan diajak memahami kehidupan Tara semasa kecil, dan bagaimana banyak hal gelap yang menyelimuti hidup Tara. 

Ketika keadaan di masa kini menjadi lebih baik untuk Tara, tiba-tiba saja muncul sosok bermama Ello yang mencoba untuk mendekati Tara. Pertemuan itu membuat Tara takjub, karena ia tak pernah bertemu sosok seperti Ello sebelumnya. Sosok yang mampu mengimbangi segala hal yang disembunyikan Tara dari orang lain.

The Opinion

Awalnya, kisah ini menarik. Banyak hal yang langsung memancing rasa penasaran. Seperti, apa yang sesungguhnya membuat Tara sedemikian benci dengan kedua orang tuanya—selain fakta bahwa ia tak menyukai nama yang diberikan orang tuanya. Adakah trauma masa kecil yang disimpan oleh Tara sampai ia merasa bahwa lebih baik orang yang tak ia sukai enyah begitu saja dari dunia. 

Menurutku, motif satu ini tidak begitu tergali dalam kisah Tara. Meskipun penulis mencoba untuk memperlihatkan bagaimana hidup terasa begitu tidak adik bagi Tara, tapi aku sama sekali tak bisa memahami sikap Tara yang demikian. Apakah alasan bahwa dia psikopat iti cukup? Aku rasa harus ada motif mendalam untuk hal ini.

Lalu, aku merasa aneh kala terjadi pergantian sudut pandang antara Tara dan Ello. Yang membuat hal ini menyebalkan adalah, tidak jelasnya POV siapa yang digunakan. Alhasil, kerap kali aku harus menebak-nebak siapa yang sedang berbicara. Apalagi, gaya penceritaan dari sisi Tara dan Ello tidak dibedakan. Hmmm, jadinya malah cuma bikin bingung dan agak membosankan.

Satu lagi yang cukup kupertanyakan, alasan Ello dan ayahnya melakukan pembunuhan berantai itu. Sekali lagi, apakah simply karena keduanya psikopat? Aku masih belum juga memahami motif keduanya.

Terakhir, meskipun aku banyak mengeluh saat membaca novel ini, kisah yang Anastasia ini cukup menarik. Seingatku, pada tahun 2013, masih jarang penulis Indonesia yang mengambil genre thriller. Otomatis, pasti kisah Tara ini menjadi sesuatu hal yang baru kala itu.

Conclusion

Katarsis baru saja diangkat menjadi web series. Aku tak tahu apakah aku akan mencoba untuk menontonnya atau tidak. Mengingat kisahnya cukup gore. 

Untuk sekarang, 3 dari 5 bintang untuk Katarsis.

Sincerely,
Ra


Title: Beyond The Wand: The Magic and Mayhem of Growing Up a Wizard
Author: Tom Felton
Date of publication: 18th October 2022
Number of pages: 305 pages
Publisher: Grand Central Publishing
Read on Libby


From the magical moments on set as Draco Malfoy to the challenges of growing up in the spotlight, get a backstage pass into Tom Felton’s life on and off the big screen.   Tom Felton’s adolescence was anything but ordinary. His early rise to fame in beloved films like The Borrowers catapulted him into the limelight, but nothing could prepare him for what was to come after he landed the iconic role of the Draco Malfoy, the bleached blonde villain of the Harry Potter movies. For the next ten years, he was at the center of a huge pop culture phenomenon and yet, in between filming, he would go back to being a normal teenager trying to fit into a normal school. 
 
Speaking with great candor and his signature humor, Tom shares his experience growing up as part of the wizarding world while also trying to navigate the muggle world. He tells stories from his early days in the business like his first acting gig where he was mistaken for fellow blonde child actor Macaulay Culkin and his Harry Potter audition where, in a very Draco-like move, he fudged how well he knew the books the series was based on (not at all). He reflects on his experiences working with cinematic greats such as Alan Rickman, Sir Michael Gambon, Dame Maggie Smith, and Ralph Fiennes (including that awkward Voldemort hug). And, perhaps most poignantly, he discusses the lasting relationships he made over that decade of filming, including with Emma Watson, who started out as a pesky nine-year-old whom he mocked for not knowing what a boom mic was but who soon grew into one of his dearest friends. Then, of course, there are the highs and lows of fame and navigating life after such a momentous and life-changing experience.
 
Tom Felton’s Beyond the Wand is an entertaining, funny, and poignant must-read for any Harry Potter fan. Prepare to meet a real-life wizard.


***


Harry Potter has always been my favorite series all time. I love how every character from the book has alive. Which character that I love the most? Of course, it would be Draco Malfoy who is portrayed by Tom Felton. So, when by chance I found this book on Libby, I immediately borrow and read it. This memoir of Tom Felton is incredibly interesting. We can learn about the life of Tom Felton as a human, not just about his celeb life--or his wizarding life. 


The Story and Opinion


In this book, Tom invited us to get to know about his life, even before he was cast as the iconic Slytherin student, Draco Malfoy in the Harry Potter franchise. Just like the title, he told us not only about the magic of growing up as a child actor from the very start but also about the mayhem that he had to face. Of course, it's not easy walking in the park to deal with the fame and all, but Tom, with the support from his family and close friend.


Tom Felton, in the beginning, didn't realize that the audition that he took part, in could change his life entirely. Even though Tom still can feel life as a normal boy at his age, he also sometimes felt a dilemma about which one of his real world. Going to school and trying to get a good mark or acting in front of the cameras with the other actor and actresses. Harry Potter did make a huge influence on his life for Tom.


Through Tom's story, we will get to know about how the movie is set, and the interactions between the actor and actresses--either on set or not. Of course, one of the very interesting things is the truth about the relationship between him and Emma Watson and how is his interaction with the Malfoy family. 


Aside from the life of Draco Malfoy, Tom also conveyed the story when he was done filming the entire series. Even though you got all of it, as for the fame and money, Tom realizes that the movie industry and environment won't be easily accepted him on the next project. He learned that he has to go audition all over again to get a part of some projects. It's of course exhausting and sometimes those experiences made him so frustrated. Thankfully, his hard work is really paid off. He could land on some big project with his own capability. In my opinion, Tom Felton is one of Harry Potter's actors that could get a steady project since Harry Potter has ended. 


What I didn't expect the most is the part when Tom admit that he also struggle with his mental health. Some frustration made him have to go to rehab. I believe it won't be easy for him to open up about this. But, he is brave enough to share this story with us.


Conclusion


There are so many things that I like about this book. Tom's playful story and the real struggle of his life as a child who grew up in a wizard world. I love how Tom is capable to convey his story in a simple yet touching way. He is really a great storyteller in my opinion. I think this is the first time I didn't feel that much bored when reading a memoir. 


So, of course, 5 out of 5 stars for this book.


Sincerely,
Ra

Title: Five Feet Apart
Author: Rachael Lippincott
Number of pages: 288 pages
Date of published: November 2018
Publisher: Simon & Schuster Book
Listened on Libby

In fact, I've known about this book for years. If I'm not mistaken, I've added it to my Goodreads to-read list. Years passed, and I never got around to reading it. Until a few days ago, when I discovered this book on Libby. To be honest, I got it as an audiobook. So, while doing my chores, I listened to this book.

The Story

When the blurb stated that this book is similar to "The Fault in Our Stars," I became aware of it. The two main characters are both sick and battling for their lives. Worse, Will and Stella both had cystic fibrosis (CF), an inherited life-threatening disorder which impacts the lungs and digestive system.

Stella and Will were hospitalized the majority of the time due to their condition. They couldn't live their lives normally as a young teenager. They had to put up with a boring white wall and the medicine smell all the time. 

Stella happened to run into Will in the hospital one day. They initially despised each other. They both dislike the other person's attitude. They finally get along after Will started getting to know Stella through her journey video and Stella realized another side of Will. They then become closer as lovers. The problem is that they should keep their five feet apart if they don't want to endanger each other's lives. 

Yeah. That is the unfortunate situation for a CF patient; they cannot touch each other because it can instantly damage their lung. But well, Stella and Will have given their all to life, as CF-ers and as lovers, despite their limitations.

The Opinion

What I like best about this book is how easy it is to understand the plot. Furthermore, because I listened to it as an audiobook, I had no trouble understanding the story. So, yay for me! I hope my listening skills have improved.

Rachael Lippincott, like John Green, then chose to make this story as real as possible. There were no miracles that occurred there. Despite the fact that the ending of this story was not as sad as the ending of the Hazel-Augustus' story.

I thought I would despise Stella at first. I mean, she was just too stubborn at times. But the more I listened to the story, the more I liked this girl. She is a lively person and can encourage Will to keep fighting as a CF-ers.

Then I was also impressed by Will's ability to make Stella being better. He genuinely cared about her, despite his inability to approach her. Another aspect of him that moved me was when he decided to persuade Stella to have the surgery. He also chose the best option he could find to makes Stella's life longer.

Conclusion

After all, I like the story. Since the author made this book as real as possible, I understand why most of the time the setting is only on the hospital. Going out from hospital for CF-ers was most likely difficult. The small reckelesness of it could make the patient die.

Another things that I noticed in this book is about how to deal with the grief. For Stella, losing Anna and Poe broke her so much. But, with Will, Stella realized that she should keep going to try to live. 

So, 4 out of 5 stars for this amazing story. 

Sincerely,
Ra


Judul: Second Chance Summer (Kesempatan Kedua)
Penuli: Morgan matson
Penerjemah: Cindy Kristanto
Tebal buku: 456 halaman
Tahun terbit: 8 May 2012 (pertama terbit)
Baca di Gramedi Digital


Karena memiliki kakak-adik yang hebat, Taylor Edwards tidak pernah merasa dirinya luar biasa. Orang mengenalnya cuma karena ia selalu kabur saat menghadapi masalah berat. Lalu ayahnya mendapat kabar sangat buruk, sehingga keluarga mereka memutuskan untuk berlibur bersama di rumah musim panas.

Taylor terakhir ke tempat itu ketika berusia dua belas tahun, dan sama sekali tidak berniat kembali ke sana. Di rumah dekat danau tersebut, ia harus menghadapi orang-orang yang dikiranya sudah ia lupakan, misalnya Lucy, mantan teman baiknya, dan Henry Crosby, pacar pertama, yang sekarang ternyata jadi jauh lebih imut. Maka tiba-tiba Taylor dikepung berbagai kenangan yang ingin dilupakannya—namun kali ini ia tak bisa kabur.

Seiring hari-hari di pantai dan malam-malam memandangi bintang, Taylor lalu sadar bahwa ia mendapat kesempatan kedua—bersama para sahabat, keluarga, bahkan mungkin cinta.

Namun ia tahu bahwa begitu musim panas berlalu, tak mungkin ia bisa mendapatkan kembali apa yang hilang.

 

***


Well, sebenarnya Second Chance Summer ini merupakan rekomendasi dari Mbak Lila untuk 12 Reading Challenge tahun ini. Jujur, aku belum pernah membaca karya Morgan Matson sebelumnya. Jadi, aku tidak memiliki ekspektasi apa-apa saat membacanya. Sayangnya, aku butuh waktu cukup lama untuk membaca buku ini. Mungkin satu bulan lebih? Entahlah. Ada beberapa hal yang membuatku bosan saat awal-awal membacanya.


The Story


Bagi Taylor, liburan musim panas kali ini akan berbeda dari liburan musim panas sebelum-sebelumnya. Tepat waktu ia berulang tahun, sebuah fakta tak terduga disampaikan oleh kedua orang tuanya. Dad mengidap kanker dan divonis hanya punya waktu empat bulan sebelum semuanya berakhir. Baik Taylor, Warren (sang kakak), dan Gelsey (sang adik), fakta itu bukanlah sesuatu hal yang mudah mereka terima. Bagaimana mungkin Dad yang terlihat baik-baik saja, tiba-tiba saja mengidap penyakit yang begitu mematikan?


Dulu, liburan musim panas jadi salah satu liburan yang Taylor nantikan. Setidaknya, ia bisa bertemu dengan Lucy, kawan baiknya yang selalu menemaninya saat tinggal di rumah danau itu. Lalu, ada juga Henry Crosby, cowok yang menjadi pacar pertamanya saat berusia dua belas tahun. Sayangnya, suatu kejadian membuat hubungan Taylor dengan Lucy maupun Henry menjadi tak baik-baik saja. Bahkan, bisa dibilang sangat buruk. Well, Taylor adalah karakter yang begitu mudah lari dari suatu hal sulit yang seharusnya ia hadapi. Tak peduli bahwa keputusannya tersebut malah menyakiti orang-orang yang sebetulnya menyayangi dirinya. 


Kali ini, mau tak mau Taylor harus berdamai dengan apa yang terjadi saat liburan musim panas lima tahun lalu. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa umur Dad tak lama lagi, dan tentu saja soal hubungannya dengan Lucy dan juga Henry.


The Thought


Jadi, sebagai novel young adult, enggak ada yang salah, kok, dengan novel ini. In a way, mungkin kita bisa sedikit relate dengan Taylor yang selalu memilih jalan mudah saat menghadapi masalah, yakni kabur. Ia selalu tak siap menghadapi masalah yang ia rasa tak sanggup ia hadapi. Meskipun sebetulnya, ia sama sekali belum mencoba untuk mengambil risiko yang ada. 


Meskipun kita bisa sedikit relate dengan karakteristik Taylor itu, harus kuakui, aku cukup sebal karena ternyata, kepengucatan Taylor ini terkadang sangat tidak masuk akal. Ia memilih untuk menghindar daripada jujur pada diri sendiri. Ia juga malah menyusahkan orang lain karena sikapnya itu. Rasanya ingin aku lempar kepalanya karena itu.


Yang membuat novel ini menarik, kita memang diajak untuk menyelami kisah Taylor lebih dalam. Kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada liburan musim panas masa lalu. Apa yang membuat Lucy bersikap begitu dingin pada Taylor? Mengapa interaksi antara Henry dan Talor begitu awkward? dan seterusnya. 


Pada akhirnya, meskipun di awal sudah jelas tujuan dari liburan musim panas Keluarga Edwards ini, kita seolah dibuat lupa oleh tujuan awal itu. Yaa, di sini kita lebih diajak memahami bagaimana Taylor akhirnya belajar menghadapi masalah dan mencoba untuk menyelesaikan hal-hal yang belum selesai lima tahun lalu. Bukannya aku merasa itu jelek, ya. Tapi saat membacanya, aku seperti baru tersadar, "Oh, iya! Bagaimana dengan kabar Dad di tengah Taylor sedang menjalin kembali hubungannya dengan Lucy dan Henry?"


Lalu, apakah aku kaget dengan akhir cerita ini? Jujur, tidak. Aku sudah punya feeling kalau tidak akan ada sudden miracle yang terjadi untuk Dad. Untungnya, penceritaan saat momen itu terjadi, digambarkan cukup realistis oleh Morgan Matson. Meskipun aku tidak sampai menangis saat membacanya, tapi aku cukup bisa merasakan kehilangan dari diri Taylor.


Yang aku suka dari buku ini adalah, bagaiman Taylor mengingatkan kita, bahkan dalam lingkup sekecil keluarga, terkadang kita tidaklah mengenal satu sama lain. Momen-momen saat Taylor dan ayahnya pergi sarapan lalu dilanjutkan dengan melempar pertanyaan ke masing-masing, menjadi menarik untuk disimak. Dari situ, meskipun dalam waktu yang begitu sempit, Taylor mencoba untuk mempelajari hal tentang Dad sebanyak-banyaknya.


Meskipun pada akhirnya ada perkembangan dari karakter Taylor, aku tetap saja sebal dengannya. Kenapa, sih, Henry mau saja balikan sama Taylor? Dengan segala hal yang menyebalkan di diri Taylor, menurutku Henry deserves someone better. 


Conclusion


Awalnya aku skeptis sih, memang, dengan ceritanya. Tapi ternyata, setelah kubaca pelan-pelan, banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah Taylor dan keluarganya. Aku malah jadi penasaran dengan karya lainnya dari Morgan Matson. So, next time?


3.5 bintang untuk sampul yang menarik.


Sincerely, 
Ra

Judul: Map of the Soul: 7 Persona, Shadow & Ego dalam Dunia BTS
Penulis: Murray B. Stein, Steven Buser, Leonard Cruz
Tebak buku: 208 halaman
Penerbit: Penerbit Spring
Beli di official store Penerbit Haru

Kita semua pasti membutuhkan peta saat mengunjungi sebuah tempat baru. Carl Jung, seorang psikolog besar abad ke-20, membuat konsep peta jiwa yang telah membantu banyak orang bahkan hingga saat ini. Kita, yang hidup pada abad ke-21 ini, berada dalam kehidupan modern yang kompleks. Karena itu, kita perlu membekali diri dengan peta ini agar bisa menemukan arah perjalanan hidup kita. Dalam buku ini, Murray Stein, seorang analis psikologi, bersama Steven Buser, dan Leonard Cruz, menjelaskan konsep peta jiwa BTS melalui psikoanalisis Jungian berdasarkan album bestseller mereka, Map of the Soul: 7, dan keterkaitannya dengan masalah kehidupan.

***

Hmm,
jadi aku bisa mulai dari mana, ya? Tentu saja, sebagai ARMY, aku mengetahui kalau serial album Map of the Soul yang dirilis oleh BTS didasarkan dari Map of the Soul Theory. Teori psikologis ini dikembangkan oleh seorang psikiatris dan psikoanalis asal Swiss, Carl Jung. 

Dalam perkembangannya, pemikiran Jung dikenalkan kembali oleh Murray B. Stein, seorang profesor psikiatri yang berbasis di Swiss juga. Bukunya yang berjudul Jung's Map of the Soul: An Introduction dirujuk oleh BTS dan labelnya kala itu. Hal inilah yang menjadi cikal bakal munculnya buku yang kubaca ini.

The Thought

Well, pada dasarnya, aku bukanlah penggemar buku non-fiksi. Sedikit sekali bacaan non fiksi yang pernah kubaca selain untuk tugas kuliah. Kebetulan, aku menemukan buku MOTS 7 ini di akun Penerbit Haru. Jadilah secara impulsif aku membelinya.

Nah, dalam buku satu ini, Murray B. Stein mencoba menginterpretasikan bagaimana lagu-lagu yang ada di album Map of the Soul: 7 dapat dianalisis melalui teori peta jalan. Ini menjadi salah satu bagian utama buku ini. 

Di sini, pembaca seakan diajak untuk memahami arti dari masing-masing lagu dari sisi makna yang ditonjolkan. Apakah mengenai persona dari sang idola, bayangan yang terus membayangi, atau malah ego yang hadir sedemikian rupa. Yang pasti diingat, setiap lagu dalam album MOTS 7 telah disusun sedemikian rupa untuk bisa menyampaikan secara utuh.

Selain pembahasan dari masing-masing lagu, Stein dan dua penulis lainnya, Steven Buser dan Leonard Cruz, juga memberikan pemaparan lebih dalam dari masing-masing elemen dalam teori peta jalan. Apalagi kalau bukan persona, bayangan, dan juga ego.

My Opinion

Secara keseluruhan, tentunya buku ini memberikan pemahaman lebih jauh bagiku soal makna dari Map of the Soul. Tentu saja, pesan yang disampaikan dalam album MOTS terasa lebih mendalam karena menyangkut apa yang ada dalam diri kita. Pesan yang disampaikan mungkin tidak akan segamblang Love Yoursel--setidaknya ini menurutku.

Selama membaca buku ini, ada tiga hal yang masih melekat dalam pikiranku.

Pertama, bagaimana seseorang pada dasarnya memiliki tiga nama, yakni nama aslinya secara formal, nama yang digunakan oleh orang-orang terdekat (baik teman maupun keluarga), serta nama yang bahkan kita tidak tahu kalau ia ada. Nama tersembunyi ini adalah nama yang sudah ada bahkan sebelum orang tua atau masyarakat memberi kita nama. 

Pertanyaanya, apakah memungkinkan seseorang menemukan nama ketiganya itu? Yang kupahami, nama itu bisa kita temukan saat kita sudah melewati proses individuasi. Apakah mudah? Yaa, tentu tidak. Mungkin sampai nanti, kita tidak akan pernah tahu nama ketiga kita yang sebenarnya.

Kedua, pemahaman mendalam soal bayangan yang ada di diri kita. Tentu aku menyadari bahwa setiap orang pasti punya sisi gelap dari persona yang kita tunjukkan ke orang lain. Nah, yang harus digarisbawahi, tak seharusnya kita menafikan keberadaan bayangan kita. Semakin kita abaikan, maka bayangan itu akan berakhir memakan diri kita secara perlahan.

Selain itu, hal yang menarik buatku adalah tentang cara kita bisa mengenali bayangan kita. Stein menjelaskan salah satu caranya adalah melalui mimpi. Terkadang, wujud kita dalam mimpi, atau keadaan yang terjadi di mimpi kita, bisa jadi merupakan representasi dari bayangan yang kita miliki. Menarik, bukan?

Terakhir, bagaimana suatu identitas kolektif dapat terbentuk dalam diri masing-masing anggota BTS. Ini begitu menarik karena semakin mengukuhkan ikatan yang tercipta di antara 7 member. Bagaimana mereka saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.

Kemudian, intensnya interaksi yang tercipta dj antara masing-masing member, memungkinkan terbentuknya identitas kolektif mereka sebagai BTS. 

Conclusion

Seperti yang sempat aku singgung, buku ini menarik sekali untuk dipahami lebih lanjut. Apalagi, kalau kamu adalah ARMY yang ingin mendalami lebih jauh soal peta jalan.

Sayangnya, bagi orang-orang sepertiku yang belum pernah membaca teori peta jalan secara langsung, aku agak merasa lost di awal. Meskipun Stein telah memberikan penjelasan, bagiku konsep antara persona, bayangan dan ego dalam teori peta jiwa cukup sulit untuk dicerna.

Meskipun demikian, aku cukup enjoy saat membaca buku ini.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk sampul bukunya yang membuatku langsung jatuh hati.

Sincerely,
Ra
Judul: Kumpulan Dongeng untuk Penulis
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penulis: Lawrence Schimel
Tebal buku: 38 halaman
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Marjin Kiri

Serigala jahat menawarkan kontrak penerbitan yang tampak menggiurkan kepada Kerudung Merah yang lugu; Sinderela kabur meninggalkan si editor dalam acara pembacaan sebelum memperkenalkan diri; itik buruk rupa merasa berbeda dari saudara-saudaranya karena dia suka membaca…

Lewat pelesetan dongeng-dongeng klasik, Lawrence Schimel mengajak pembaca berkelana mengarungi serba-serbi dunia penulisan dan penerbitan, lalu bertanya: adakah akhir yang bahagia di dunia perbukuan?

***

Sepertinya, ini buku tertipis yang pernah aku baca. Selain fakta dia hanya terdiri dari 38 halaman, sepertinya ukuran tulisan di buku ini memakak font 14 atau bahkan 16. Jadi, buku ini memang kerasa singkat banget.

The Story and Opinion

Sesuai dengan judulnya, Kumpulan Dongeng untuk Penulis ini merupakan kumpulan kisah dongen yang diceritakan kembalu dengan unsur kepenulisan. Iya, kalian enggak salah membaca. Lawrence Schimel mencoba untuk memberikan serba-serbi dunia kepenulisan dan penerbitan dalam setiap dongeng.

Jadi, jangan heran kalau bertemu dengan Sinderella yang membuat sang pangeran penasaran karena tulisannya atau Si Gadis Berkerudung Merah yang ditipu oleh serigala untuk bisa menerbitkan kumpulan cerita yang ia buat.

Sejujurnya, aku suka dengan idenya. Mempertemukan kisah dongeng dan problematika dunia kepenulisan itu unik. Mungkin, buku ini bakalan kerasa relate buat kawan-kawan penulis. 

Di buku ini, Schimel mengajak kita memahami permasalahan yang ditemui oleh seorang penulis dari awal. Mulai dari mencari ide, mengembangkan cerita, hingga upaya untuk menerbitkan karya yang enggak mudah.

Aku jadi penasaran. Kira-kira apakah ada yang tertarik membuat versi Indonesia-nya, ya?

Conclusion

Berhubung seluruh kisah ini masih memiliki napas yang sama, aku cukup enjoy membacanya. Meskipun aku berharap kalah ceritanya akan jauh lebih panjang, ya. Ini terlalu singkat!

Yaa, setidaknya retelling dongeng satu ini cukup unik dan fresh.

3 dari 5 bintang untuk sampul buku yang cakep.

Sincerely, 
Ra
Judul: Angsa Liar
Judul lain: The Wild Geese, Gan
Penulis: Mori Ogai
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Moooi Pustaka
Tebal buku: 156 halaman
Pinjam dari Supri

“Walaupun aku bersikap malu-malu di depan tuanku, sebenarnya aku berani mengatakan apa saja asal kau mau. Tapi kenapa aku tidak bisa menyapa Pak Okada?”

Otama memperoleh harapan hidup yang baik saat berencana menikah dengan seorang polisi, yang ternyata sudah beristri dan kemudian membuangnya. Ibarat keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau., Otama lepas dari si polisi untuk menjadi gundik seorang rentenir.

Satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki hanyalah fantasi tentang seorang mahasiswa tampan bernama Okada, yang sering lewat di depan rumahnya, dan tampaknya juga megagumi Otama dari jauh.

***

Wah, sepertinya ini salah satu novel klasik tertua yang pernah aku baca. Angsa Liar, atau judul aslinya The Wild Geese merupakan salah satu karya terkenal dari Mori Ogai. Bisa dibilang, ini adalah karya klasik Jepang yang ditulis untuk memahami perubahan sosial dan modernisasi pada tahun 1880-an di Tokyo.

The Story

Angsa Liar diceritakan oleh si tokoh aku yang merupakan tetangga dari Okada, seorang mahasiswa kedokteran yang terpelajar. Dari sudut pandang tokoh aku yang serba tahu, kita diajak untuk memahami kelindan kehidupan Okada dengan sosok Otome. Siapakah Otome?

Membicarakan Otome tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sosok Suezo. Suezo dikenal sebagai rentenir yang suka meminjamkan uang kepada para mahasiswa pada zamannya. Dulu dia meminjamkan uang seadanya kepada para mahasiswa tersebut. Hingga pada akhirnya dia berhasil merintis bisnisnya sendiri dan menjadi sukses.

Sayangnya, kehidupannya yang terlihat lengkap itu, tidak membuat Suezo puas. Ia merasa ada yang kurang. Maka dari itu, Suezo berupaya memenuhi obsesinya untuk bisa memiliki sesosok gadis yang terkenal kecantikannya kala itu, Otome.

Otome sendiri merupakan anak satu-satunya dari Pak Tua. Dalam kehidupannya, Otome dan Pak Tua selalu ada untuk sama lain. Sejumlah keputusan hidup yang diambil Otome selalu mempertimbangkan keadaan Pak Tua. Maka, ketika Suezo bermaksud menjadikan diringa seroang gundik, maka Otama mensyaratkan supaya Suezo juga memberikan kenyamanan bagi Pak Tua. Mau tidak mau, Suezo pun harus menuruti kemauan Otama.

Kehidupan Otama sebagai gundik pun berjalan. Awalnya, ia tidak merasa ada hal luar biasa dalam hidupnya. Hingga akhirnya Otama mengetahui kebenaran akan identitas Suezo. Sejak saat itu, Otama merasa perlu mencari sosok yang bisa melepaskan diringa dari keadaan yang sekarang. Pada akhirnya, ia menemukan harapan itu dari sosok Okada yang terkadang berjalan di depan rumahnya.

My Opinion

Terkadang, menurutku kisah klasik itu bisa saja sederhana. Sama seperti kisah di Angsa Liar ini. Menurutku, meskipun sosok Otama menjadi sentral dan Okada merupakan tokoh yang dikenalkan pertama kali, aku malah merasa Suezo lah yang menjadi tokoh utama di sini. Ia yang malah mendapatkan spotlight di keseluruhan cerita.

Lalu, sebagai bukan pembaca karya Jepang, aku jadi sedikit belajar soal keadaan sosial di tahun 1880-an dari novel ini. Waktu aku mencari info soal novel ini, aku baru tahu kalau salah satu unsur dari novel ini menceritakan tentang perubahan di antara masa Edo dan Meiji. Jujur, aku sama sekali tidak familiar dengan periodesasi di Jepang. Mungkin aku harus banyak membaca novel-novel Jepang untuk memahaminya.

Bagiku, membaca novel dengan sudut pandang tokoh aku yang serba tahu ini menjadi unik. Aku enggak terlalu ingat, sih, apakah aku pernah membaca novel dengan sudut pandang serupa sebelumnya.

Terakhir, aku sangat memahami bagaimana kisah di Angsa Liar ini tidak menampilkan akhir bahagia untuk Otama dan Okada. Bagaimanapun, inti dari novel ini bukanlah romansa yang tercipta dari kedua tokoh tersebut. Tapi, lebih ke kenyataan yang terjadi untuk seorang perempuan muda--yang tak punya kuasa--pada zaman itu yang mungkin saja dijadikan gundik. Sedangkan, sosok pemuda di zaman itu sudah bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan, bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan karirnya luar negeri. Betapa ironis ya, kenyataan yang terjadi.

Conclusion

Membaca Angsa Liar menjadi salah satu pengalaman unik buatku. Bahkan, aku jaxi penasaran dengan periodesasi Jepang lebih lanjut. Yaa, meskipun membaca novel klasik bukanlah hal favoritku, sepertinya aku bisa mempertimbangkan hal ini lebih jauh.

Nah, demikianlah pendapatku soal novel pendek satu ini. 

3 dari 5 bintang dariku untuk si angsa liar yang dimunculkan di akhir.

Sincerely,
Ra
Title: Because We are Together
Author: Jitti Rain
Number of pages: 466 pages
Date of published: 26 May 2020

Tine is a very handsome student and cheerleader in college, while Sarawat is one of the campus’ most popular guys and is also in the soccer and music club. When Tine is chased by Green, who he does not reciprocate feelings for — he ends up begging Sarawat to fake date with him in order to chase Green away. Somehow, just like the tale as old as time goes — pretend somehow starts to turn into reality. However, before a "happily ever after" there is the process of falling in love, and the slow realisation that somehow they aren't pretending anymore. Somehow, they do not want to.

***

So, i don't know why I suddenly want to read the novel version for this story. I've ever watched the series before, and after reading the novel, I should give more credit for the series.

The Story

Tine is a chick guy in university. He never expected that his charm could attract Green, a guy who suddenly confess to him--and tried his best to chase him. Knowing an usual rejection won't affect Green, Tine who believes in his friends' suggestion, tried to ask Sarawat to be his fake boyfriend. 

Sarawat on the other friend is a university heartrob guy. He is extremely good looking, play guitars well, and also the football player in his faculty. A lot of girls admired him. With such an incredible popularity, Tine knows Green will give up on him if he realized that Tine and Sarawat is a thing.

Of course, it's not a flower road for Tine to make Sarawat agree. He should forced himself to join the music club even though he has zero experience on playing instrument. After all, bit by bit, Tine can soften Sarawat's attitude to him. One thing that Tine didn't realized, for Sarawat, their relationship is not just a play for Green. It's absolutely a real thing for him.

My Opinion

Where do I start? So, actually this is my first time to read the English translation from Thai book. To be very honest, I didn't know whether I got a very bad format or not, but the layout of the books is so frustrating.

Sometimes, I really confused whose talking in every dialogue. I mean, JittiRain likes to make a whole dialogue without any info who is talking. It made me rolled my eyes instantly. 

Then, if I have to compare the story with the series, I absolutely prefer the series more. I know that 2gether the series is a very dramatic, but it's more enjoyable. In the book, Sarawat's character felt so plain and annoying. I couldn't sense his admiration and love towards Tine. Meanwhile, on the series, Bright Vachirawit as Sarawat succeed to portray Sarawat in more lively way.

My opinion for Tine is also the same. The director and the scriptwriter for the series has done a great job to make the adaptation. 

In the book, the story mainly only tell about Sarawat-Tine relationship. There's no story for other couple like Type-Man and Phukong-Mil. I understand why in the series they decided ti develop the other couple's story. I believe, if it's only focused on Sarawat-Tine, the story will become stagnan and flat. Yeah, now I know why they decided to make the stories become bigger and more lively.

Tbh, when I tried to rewatch the series, Type-Man couple has their own charm and it looks wholesome a lot.

Conclusion

Well, I am awared that I read this book because I want to know the story of Wat-Tine more. Even though I prefer the series more, I know there are some parts in the novel that give us perspective about each kf the characters, especially from Sarawat's side. 

In a way, It made me want to read the special stories that is available in English version too.

But for this book, I think 3 out of 5 is enough.

Sincerely,
Ra

Judul: Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Tahun terbit: 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 192 halaman
Baca di Gramedia Digital

Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu lebat, juga tak benar-benar hijau. Hijau yang kering dan lesu, namun justru terlihat ramah dan tak menakutkan untukku.

Perjalanan ke salah satu wilayah terluar Indonesia mengantarkan Matara, gadis berusia dua belas tahun, pada petualangan menakjubkan yang belum pernah ia bayangkan. Dunia yang serbaganjil pun menjadi sebuah kenyataan baru untuknya.

***

Novel karya Okky Madasari selalu menjadi novel yang kusuka. Berbagai bentuk kritik sosial dilontarkan oleh Okky. Kali ini, aku menyelami kisah Matara, kisah petualangan yang ditujukan oleh Okky untuk anak-anak.

Tentang cerita

Matara dan mamanya pergi meninggalkan Jakarta. Hal ini terjadi karena Papa sudah tak lagi bekerja dan pertengkaran selalu menghampiri mama dan papa. 

Mama adalah seorang pencerita. Ia membuat cerita untuk kemudian dituliskan. Bisa dibilang, Mama adalah perempuan yang cukup ensentrik dan tidak konservatif.

Perjalanan ke daerah timur Indonesia mengantarkan Mata ke sebuah petualangan yang sama sekali berbeda dari bayangannya. Ketika terpisah dari mamanya, Mata berkunjung ke tanah Orang Melus, bertemu dengan Ratu Kupu-kupu, dan juga Dewa Buaya. Ditemani Atok, Mata bertualang dan menyadari bahwa banyak hal yang mungkin tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia biasa.

Tentang pendapatku

Dari awal, Okky memang menekankan bahwa kisah Mata adalah sebuah kisah petualangan anak-anak. Apakah ada siratan kritik sosial di dalam kisah Mata ? Tentu saja ada. Meskipun tipis saja. Tidak menjadi bagian utama dari kisah petualangan ini.

Membaca Mata di Tanah Melus memang serasa membaca kisah petualangan anak-anak yang menemukan tempat baru. Mereka menghadapi pengalaman baru sembari bertemu dengan orang-orang dewasa yang terkadang tidak memahami mereka.

Bagiku, membaca novel ini memang menjadi novel penghibur. Masalah yang dibawa tidak terlalu berat. Ini tentang Mata yang mencari mamanya. Mereka tak sengaja terpisah dan berakhir membuat Mata mengalami pengalaman yang tak biasa.

Kesimpulan

Ini kisah sederhana yang bisa dinikmati dalam sekali hidup. Menurutku, cocok lah untuk dijadikan buku bacaan bagi anak-anak. Meskipun, bagi yang tidak lagi anak-anak, kisah Mata juga lumayan menarik untuk diikuti.

Bahkan, aku malah penasaran dengan kisah 
Mata selanjutnya. Apakah berhubungan dengan buku pertama ini? Apakah Mata akan kembali terpisah dari mamanya?

3.5 dari 5 bintang untuk kisah Matara.

Sincerely, 
Ra
Judul: Reuni: Tiga Hati, Tiga Rasa, Satu Cinta
Penulis: Joe Andrianus, Brigida Alexandra, Hally Ahmad
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 264 halaman
Baca di IPusnas

Reuni akbar membawa pergulatan batin tersendiri bagi tiga orang sahabat semasa SMA: Gita, Arsha, dan Vanka. Ketiganya punya alasan masing-masing untuk datang ke reuni. Kejadian di masa silam membuat persahabatan mereka berantakan tanpa kejelasan. 

Gita tidak ingin bertemu dengan keduanya, dia menganggap bertemu dengan keduanya hanya akan mengulang kesalahan yang sama. Arsha berharap bisa bertemu kedua sahabatnya itu, dan berharap Gita dan Vanka bisa hadir di hari pernikahannya. Sementara Vanka menyimpan kerinduan yang besar terhadap dua orang sahabatnya, tapi dia tidak siap - dia takut sahabat-sahabatnya tidak bisa menerima keadaan dirinya saat ini, terutama Gita. 

Akankah mereka mengalahkan ego masing-masing untuk menyelesaikan apa yang ada di masa lalu? Mampukah mereka berusaha memperbaiki tali persahabatan mereka yang telah lama putus bertahun-tahun?

***

Alasan membaca Reuni sebetulnya cukup sederhana. Aku sedang berusaha menyelesaikan salah satu prompt tantangan membaca yang sedang aku jalani, apalagi kalau bukan A book written by someone you know personally. Setelah berkontemplasi dan bertanya-tanya ke Kak Chei, akhirnya aku tahu kalau Kak Bree pernah menuliskan satu buku bersama dengan kawan-kawannya. Buku itu adalah Reuni.

Tentang cerita

Dari judul, sejujurnya Reuni sudah berbicara cukup banyak. Ajan rendezvous itu kembali mempertemukan tiga orang sahabat yang sempat hilang kontak, Gita, Arsha, dan juga Vanka. Dulu, ketika SMA, Gita, Arsha dan Vanka adalah tiga sahabat baik yang selalu kemana-mana bersama. Semua orang di sekolah tahu soal kedekatan mereka. Akan tetapi, suatu kejadian membuat persahabatan ketiganya merenggang--atau malah dapat dikatakan terputus begitu saja. 

Kesalahpahaman soal perasaan satu sana lain membuat ketiganya tidak bisa lagi bersikap seperti biasa. Bahkan, Gita memilih untuk menghindar dan enggan lagi berhubungan dengan Arsha maupun Vanka.

Mungkin, tahun 2015-2016 adalah tahun-tahun kejayaan Elex Media dalam merambah penerbitan novel. Maka dari itu, Reuni menjadi salah satu karya yang tercipta. Selayaknya kisah-kisah dari Elex Media, Reuni terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni kisah dari sisi Gita, Arsha, dan juga Vanka.

Gita dikisahkan sebagai desainer muda yang tengah naik daun. Ia baru saja membuka butiknya di Jakarta setelah berhasil mengukuhkan diri dengan mendirikan butik kenamaan di Ubud. Bagi Gita, bekerja dan berkarya menjadi suatu pelarian tersendiri dari masa lalu yang terus menghantuinya. Akan tetapi, satu undangan reuni membuat Gita tercenung. Akhirnya saat itu tiba juga, saat ia harus menghadapi kembali dua mantan sahabatnya semasa putih abu-abu.

Hidup Arsha mungkin tidak sebegitu sempurnanya. Akan tetapi, ia sudah mulai menata hidup sebagai seorang jurnalis di satu majalah pria dewasa. Ia pun juga dalam tahap merajut kasih dengan pacarnya selama lima tahun, Louise. Meskipun pekerjaan Louise tidak bisa dibilang pekerjaan biasa, tapi Arsha begitu tulus menghargai Louise sebagai perempuan. Maka dari itu, ketika sepucuk undangan reuni menghampiri, ketenangan Arsha terusik. Apalagi, ada sejumlah rahasia dalam hidupnya yang mulai terkuak saat reuni akan tiba. Sekarang, Arsha pun menghadapi pilihan yang cukup sulit. Memilih untuk melangkah maju dengan risiko masa lalu yang menghantui, atau sekali lagi berdamai dengan masa lalu?

Di sisi lain, ada Ivanka yang meniti karier di bidang politik. Ia adalah sosok yang begitu dikagumi di balik kesuksesan salah seorang bupati di daerah Jawa Barat. Pribadinya yang cerdas dan cekatan membuat karier politik Vanka moncer. Akan tetapi, lagi-lagi kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu membuat hidup Vanka yang tergolong sudah mulai tertata, terguncang kembali. Apakah ia akan mengambil risiko untuk bisa kembalu bereuni dengan kedua sahabatnya itu?

The opinion

Yang aku ingat, aku amat tidak menyukai sudut pandang Gita. Sungguh. Aku merasa Gita ini terlalu egois dan childish sekali. Menurutku, penggambaran tokoh Gita menjadi penggambaran yang paling tidak believable dalam kisah ini. 

Lalu, menurutku, konflik dari Kisah Gita juga tidaklah sekompleks dengan kisah Arsha dan Vanka. Aku merasa kisah Gita menjadi titik lemah karena jalan cerita yang kurang solid. 

Kalau untuk kebingungan yang timbul saat penulis menggambarkan sosok Arsha dan Vanka, khususnya terkait gender mereka, aku rasa itu tidak masalah. Bahkan, mungkin memang itu tujuan dari penulis untuk membuat kisah yang sesumir mungkin soal identitas dari masing-masing tokoh.

Dari ketiga kisah, bukannya aku paling suka kisah Arsha, tapi menurutku kisah Arsha lah yang paling solid di antara kisah dua lainnya. Meskipun, ada juga keabsurdan ketika Arsha ternyata masih menyimpan rasa ke Gita selama dua belas tahun lamanya. In a way, aku bersyukur ketika penulis tidak memaksakan kalau Gita dan Arsha pada akhirnya harus bersama meskipun ada sinyal ke sana.

Lalu, untuk kisah Vanka, aku percaya kisahnya bisa digali lebih dalam. Apalagi, kehidupan seorang transgender tidaklah mudah untuk diselami dalam sekali duduk. Jadi, aku melihat potensi besar untuk pengembangan kisah Vanka. 

Bagiku, kisah di Reuni bukanlah kisah yang luar biasa. Pengulangan kisah dari sejumlah sudut pandang terkadang malah membuat cerita yang disampaikan terkesan redundant. Mungkin hanya preferensiku saja, tapi mengisahkan tiga cerita dari tiga sudut pandang memang enggak mudah. Seenggaknya itu juga yang aku pelajari ketika dulu terlibat dalam proyek Yesterday in Bandung.

Well, pada akhirnya, menjalin tiga kisah dalam satu buku bukanlah perkara mudah. Jadi, sedikit-banyak aku memahami struggle yang dirasakan oleh penulis.

Yaa, 2.5 dari 5 bintang buatku untuk si Reuni.

Sincerely,
Ra
Image: unsplash, edited by me

Judul: Rumah Kertas
Judul asli: La casa de papel
Penulis: Carlos Maria Dominguez
Terbit pertama kali: 2002
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: Desember 2020, cetakan kelima
Tebal buku: vi+76 halaman
Baca paperback

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

***

Kalau boleh jujur, Rumah Kertas merupakan salah satu paperback yang dari dulu aku penasaran baca. Aku masih ingat pada zaman bloger buku masih mendunia, banyak kawan-kawan bloger yang mengulas buku satu ini. Salah satu poin yang menarik dari buku ini adalah, bagaimana sang tokoh begitu dekat dengan seorang pencinta buku--atau bisa dibilang seorang pengkoleksi buku.


***


Tak ada yang tahu bagaimana sebuah buku bisa mengungkap kehidupan seseorang sedemikian rupa. Profesor Bluma Lennon meninggal tertabrak mobil karena keasyikan membaca kumpulan puisisi karya Emily Dickinson. Meskipun aku bukanlah pembaca tulisan klasik, aku tahu Emily Dickinson dari salah satu serial televisi di Apple TV. Dari situ, jelas kisah yang mungkin tebalnya tak lebih dari 100 halaman ini akan banyak bercerita tentang sastra, buku, dan semacamnya.


Tokoh 'aku' merupakan kawan karib Profesor Bluma di Universitas Cambridge. Di sela-sela kesibukan mengajarnya, tiba-tiba saja terdapat satu paket yang dialamatkan ke Profesor Bluma yang telah meninggal dunia. Paket itu berisikan novel The Shadow Line karya Joseph Conrad. Paket buku tersebut mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi selimut semen beserta dengan tujuan paket bagi Profesor Bluma yang telah tiada membangkitkan rasa ingin tahu bagi tokoh 'aku'. Apa maksud pengiriman paket buku bersemen itu?


***


Bagi seorang pecinta buku, maka seseorang pasti memiliki caranya tersendiri untuk mewujudkan rasa cintanya. Mungkin ada orang yang mencoba untuk mengoleksi buku-buku favorit mereka secara lengkap, ada yang mengoleksi versi fisik, ataupun memilih untuk mengoleksi buku secara digital. Untuk diriku sendiri, aku bukanlah orang yang memiliki keinginan muluk. Aku membaca karena aku suka dan mungkin aku belum bisa mengoleksi buku secara fisik seperti kawan-kawan yang lain. Pertimbangan hidupku yang nomaden menjadi salah satu alasannya.


Akan tetapi, apakah kecintaanku pada buku menjadi berkurang dibandingkan dengan orang lain yang mengoleksi buku fisik hingga ribuan seperti kawan-kawan kenalanku? Tentu saja, tidak. Kembali lagi, bagiku setiap orang pasti memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kecintaannya terhadap buku.


Dalam buku ini, Carlos Brauer mewujudkan kecintannya akan buku mulai dari mengoleksinya, hingga pada satu titik membangun sebuah rumah kertas secara harfiah. Ia membangun rumah di pinggir pantai menggunakan buku-buku yang ia koleksi. Tak heran apabila paket buku yang ia kirimkan ke Bluma berlumuran semen--karena memang dari sanalah mula paket itu berasal.


Perjalanan tokoh 'aku' untuk mengetahui asal mulai buku bersemen itu menurutku dikemas dengan apik oleh Carlos Dominguez. Rasa penasaran dibuat sedemikian rupa hingga kita tergelitik untuk mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi dengan seorang Carlos Brauer.


Kalau boleh jujur, aku tidak terlalu punya komentar ketika membuat resensi buku ini. Efek jiwa berasa masih melayang-layang pasca sakit sepertinya masih cukup dominan saat aku mengetikkan resensi buku ini.


Yang pasti, buku ini menarik untuk dibaca sekali selesai. 


4.5 dari 5 bintang.


Sincerely,
Ra

Title: The Daughter of the Moon Goddess
Author: Sue Lynn Tan
Series: The Celestial Kingdom #1
Date of published: 11 January 2022
Number of pages: 512 pages

A captivating debut fantasy inspired by the legend of Chang'e, the Chinese moon goddess, in which a young woman’s quest to free her mother pits her against the most powerful immortal in the realm.

Growing up on the moon, Xingyin is accustomed to solitude, unaware that she is being hidden from the feared Celestial Emperor who exiled her mother for stealing his elixir of immortality. But when Xingyin’s magic flares and her existence is discovered, she is forced to flee her home, leaving her mother behind.

Alone, powerless, and afraid, she makes her way to the Celestial Kingdom, a land of wonder and secrets. Disguising her identity, she seizes an opportunity to learn alongside the emperor's son, mastering archery and magic, even as passion flames between her and the prince.

To save her mother, Xingyin embarks on a perilous quest, confronting legendary creatures and vicious enemies across the earth and skies. But when treachery looms and forbidden magic threatens the kingdom, she must challenge the ruthless Celestial Emperor for her dream—striking a dangerous bargain in which she is torn between losing all she loves or plunging the realm into chaos.

Daughter of the Moon Goddess begins an enchanting, romantic duology which weaves ancient Chinese mythology into a sweeping adventure of immortals and magic—where love vies with honor, dreams are fraught with betrayal, and hope emerges triumphant.

***

So, The Daughter of the Moon Goddes is one of recommendations for my 12 book challenge. I was intrigued to read it because of its beautiful cover. I swear, Kuri Huang as the illustrator has done a really good job for that. So far, I could say thay I enjoy this book, even though in the end, I wonder why it needs a second book for it.

The Story

Xingyin is the daughter of the Moon Goddess. Her existence is unknown since his mother, Chang'e has to hide her since she was born. In this universe, Chang'e has been punished because she drank the elixir which enable her to be immortal. This fact has enraged the Celestial Kingdom. It became worse as her husband also slayed the sun bird, which still part of the family from the Celestial Empress. Therefore, when Chang'e realized she no longer can protect his daughter on the moon, Chang'e send Xingyin away to mortal world.

Not knowing anything, Xingyin tried her best to survive. One day, when she worked as a maid for a young lady, she meet a guy who turned out to be the Celestial Crown Prince. His name is Liwei. Then, the story began from there.

Start from Xingyin become the companion for Liwei, her experience as part of the Celestial army, until her fight for love and life.

The Opinion

Well, tbh I love how Sue Lynn Tan divided the story into three parts. Each part in a way told us the significance of Xingyin's life development. At first, I felt that Xingyin and Liwei still underage. Therefore, most of the times their attitude was so childish. I almost throw my phone when read it.

Then, when I just continue to read it, their characters just felt right. They matured so much at the end of the story.

Well, about Xingyin-Liwei-Wenzhi relationship, I did wonder how Xingyin can finally being together with Liwei. Moreover, they don't really have a romantic moments when being together. After Xingyin decided to leave Liwei's side, their intimacy was dropped to zero. When with Wenzhi, their relationship is build cause they are always together. They fought the monsters together and sacrifice for each other.

But to be honest, I didn't really surprised when it was revealed that Wenzhi is actually from the Demon Realm. I know there should be a betrayer at the Celestial Kingdom. There's no way no enemy found. However, there's should be a hidden enemy in the middle of the calmness.

For me, what I love the most from this book is the story. How Sue Lynn Tan knit each of the events and Xingyin's main goal is just make sense and engaging. 

Ahh, i just remember about something. So, I also really like the fact that some of teachers and also general at the Celestial Kingdom are woman. The last time I read Chinese-setting-book, there's no way a woman could have that higher status. I'm glad Sue Lynn Tan choose that woman representation on her book.

Maybe, for the second book, it will be more about the conflict between Celestial and Demon Kingdom. 

I just realized that Wenzhi still alive and will hold a huge grudge to Celestial Kingdom. Then, even though Xingyin and Liwei's relationship getting better, they still don't have any future yet. So, probably it will be solved in the second book too.

Conclusion

Don't judge a book by its cover? Oh, please. Not gonna lie, the cover of the book is also one of determining factor for me to read a book. Daughter of the Moon Goddess is the proof of it.

4 out 5 stars.

Sincerely, 
Ra


Judul: Sapiens Grafis: Kelahiran Umat Manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Adaptasi dan penulis: David Vandermeulen
Adaptasi dan ilustrasi: Daniel Casanave
Penerbit: KPG
Tahun terbit: 2021
Tebal buku: 248 halaman
Baca di Gramedia Digital

Adaptasi grafis salah satu buku sejarah populer paling berpengaruh di dunia, Sapiens. Bagaimana cara Homo sapiens berkembang menjadi penguasa planet Bumi, mampu melakukan berbagai hal luar biasa seperti membelah atom, terbang ke Bulan, dan merekayasa genetika kehidupan? Untuk mengetahuinya, kita harus melihat gambaran besar: keseluruhan sejarah spesies manusia. Ahli sejarah Yuval Noah Harari bercerita mengenai kelahiran dan evolusi umat manusia, menjelajahi bagaimana biologi dan sejarah membentuk kita dan mempertinggi pemahaman kita mengenai apa artinya menjadi “manusia”. Adaptasi grafis ini menyajikan kembali dan memperluas isi edisi asli Sapiens, dalam format komik yang menarik, kocak, dan enak disimak.

♠️♠️♠️♠️♠️

Sapiens karya Harari menjadi salah satu buku yang sering kudengar, tapi aku masih belum pernah membacanya. Mungkin aku saja yang malas untuk membaca buku non fiksi. Hehe.
Kemarin, waktu aku scrolling Gramedia Digital, aku tak sengaja menemukan Sapiens Grafis ini. Wah, seru juga nih bisa baca Sapiens dengan berbagai ilustrasi yang menarik! Jadilah aku putuskan untuk membaca buku ini. Lumayan juga sekalian memenuhi tantangan Satu Bulan Satu Buku Nonfiksi dari Kak Wardah.

The Book


Berhubung aku tidak membaca versi panjangnya, aku cukup senang saat membaca versi grafis ini. Penjelasan Harari mengenai sejarah umat manusia bisa dipahami dengan sangat mudah. Selain karena gaya bahasanya sudah disesuaikan, ilustrasinya bagus banget. Jadi, kita enggak akan kesusahan untuk mem-visualisasikan gagasan-gagasan Harari.

Salah satu gagasan yang kutahu dari buku ini adalah bagaimana manusia bisa bertahan hidup dengan menggosip. Jadi, to some extent, saat aku membaca buku ini, aku penasaran pembahasan mengenai hal tersebut akan seperti apa. 

Sebagai buku sejarah, wajar apabila buku ini sangatlah runtut. Harari mengajak kita memahami mengapa kata Sapiens dipilih untuk menyebut manusia zaman sekarang seperti kita ini. Well, yang disampaikan Harari benar juga, sih. Jenis manusia itu enggak cuma Homo Sapiens di dunia ini. Dulu, masih ada Homo Erectus dan juga Homo Neanderthal. Akan tetapi, sekarang jenis manusia tinggalah satu jenis, yakni Homo Sapiens.

Salah satu hal yang aku ingat dan membuatku merasa ada lampu di kepalaku adalah ketika Harari menjelaskan bahwa ilmu-ilmu yang ada di dunia ini pada dasarnya memiliki keterkaitan. Bagaimana Fisika, Biologi, hingga sejarah bisa saling terhubung itu, menurutku sangat enggak aku sangka.

So far, aku merasa kalau buku ini worth banget buat dibaca. Yang pasti, kalian enggak akan bosan karena dibawakan secara membumu dan komikal.

Conclusion


Berhubung aku lihat ada buku grafis lanjutannya, sepertinya aku akan melanjutkan membacanya. Anyway, aku juga jadi penasaran dengan Sapiens versi lengkapnya. Mudah-mudahan aku bisa membacanya segera. 

Oh, anyway, berhubung aku baca versi ebook di Gramedia Digital, sejumlah gambar ada yang tidak muncul. Entah karena faktor jaringan atau bagaimana. Enggak begitu mengganggu, sih. Cuma sayang aja gitu waktu baca. Hehe.

4 dari 5 bintang untuk Sapiens yang punya banyak masa lalu kelam.

Sincerely,
Ra
23.01.08
Title: Eight Princesses and a Magic Mirror
Author: Natasha Farrant
Duration: 3 hours 4 minutes
Publisher: W.F. Howes, Ltd.
Listen in Storytel

“Mirror, mirror on the wall . . . what makes a princess excellent?” When an enchantress flings her magic mirror into our universe, its reflection reveals princesses who refuse to be just pretty, polite, and obedient. These are girls determined to do the rescuing themselves. Princess Leila of the desert protects her people from the king with the black-and-gold banner; Princess Tica takes a crocodile for a pet; Princess Ellen explores the high seas; Princess Abayome puts empathy and kindness above being royal; and in a tower block, Princess saves her community’s beloved garden from the hands of urban developers.

Connecting these stories is the magic mirror, which reveals itself when each girl needs it most, illuminating how a princess’s power comes not from her title or beauty, but from her own inner strength. These beautifully imagined stories, complemented by vibrant and inviting artwork, offer the pleasure and familiarity of traditional tales with refreshingly modern themes.

***

Eight Princesses and a Magic Mirror is a fairytale anthology retelling about the journey of the magic mirror in search of the excellent princess. I discovered this book through my Storytel recommendations, and I was also looking for an audiobook to listen to.

The Story

"Mirror, mirror on the wall... What makes a princess excellent?"

The enchantress was assigned to be a fairt godmother for the soon to be newborn princess. About one month before the born, the enchantress began to wonder, what's make a princess excellent? Should it be a pretty face? Polite and obedient attitude? Or is there anything else?

When the enchantress tried to ask the magic mirror, the mirror couldn't provide an answer. Therefore, the enchantress sent the magic mirror across time and universe to learn about the eight Princesses. 

My thoughts

I should give a disclaimer because I listen this book as an audiobook. So, there must be a lot of parts that i couldn't catch😉

At the beginning, I'm interested because of the cover. Well, even though everyone told us not to judge a book by its cover, I just couldn't help it. The cover of this book is very pretty. Then, the blurb is also interesting. Therefore, I decided to read it.

As the title said, this book is about the journey of the magic mirror meets the eight princesses. I love how every story have their different vibes. Even though I couldn't catch all of the story, I love how Farrant decided to choose a diverse princess story to be told.

Some people said that the beginning of the story could be omitted, but I think, that prolog gave us the context and tie all of the eight stories. 

The conclusion itself is interesting. The magic mirror said that an excellent princess should be brave and fierce. They also realized that the real strength of all is in their inner self. Empowerment and self love at all cost.

Conclusion

As an anthology of fairytales, this books is interesting to read. Too bad I couldn't enjoy the illustration. 

3.5 stars for the idea and the cover~

Sincerely,
Ra
23.01.08
Judul: Boneka Sandya
Penulis: Eve Shi
Tebal buku: 218 halaman
Tahun terbit: Oktober 2019
Penerbit: Elex Media Komputindo
Baca di Gramedia Digital

Maukah kamu mendengar kisah tentang boneka-boneka hidup? Aku tinggal bersama mereka sejak kecil. Ada yang senang berbuat iseng, dan ada yang menolongku. Ada pula yang pernah membunuh manusia. Aku menjalani hidupku dengan wajar, bersekolah dan bekerja. Sampai akhirnya aku harus mengurus boneka-boneka itu seorang diri. Lalu, jika mereka tak suka padaku dan menyerangku, sanggupkah aku melawan?

***

Boneka Sandya.
Dari sampul maupun blurb-nya, sudah jelas kalau buku ini bergenre horror mystery. Aku tertarik membaca buku ini karena mencari buku yang sesuai dengan prompt dari Taylor Swift 1989 Reading Challenge, yakni Blank Space: A book with an unreliable narrator. Karena aku sedang tidak berminat membaca buku luar, aku tanya ke Kakpin, apakah ada buku lokal yang masuk kategori ini. Kakpin merekomendasikan beberapa buku dan pilihanku jatuh ke Boneka Sandya.

The Story

Setelah ayahnya meninggal, Sandya hidup sebatang kara. Ibunya pergi ke luar negeri untuk mengadu nasib sebegai pekerja migran, tapi tak pernah ada kabar darinya. Tamila, perempuan yang baru saja pindah ke kampung Sandya, mengangkat Sandya sebagai anak. Berhubung Sandya tahu ia tak punya tempat berlabuh dan Tamila telah membantunya, Sandya tak menolak. Sejak saat itu, Tamila adalah ibu angkatnya dan Sandya memanggilnya mama.

Di mata Sandya, mama adalah sosok yang selalu menjadi misteri. Ia bekerja sebagai pembuat dan penjuak boneka. Sandya tahu, boneka-boneka mama bukanlah boneka biasa. Boneka itu dipesan oleh pelanggan mama untuk tujuan tertentu. Mama berpesan ke Sandya, kalau saatnya tiba, maka Sandya lah yang bertugas menjaga boneka-boneka mama. 

My Thoughts

Awalnya, kupikir Sandya adalah anak perempuan. Haha. Sepertinya aku tidak boleh men-judge gender orang dari namanya, ya.

Karena aku sudah tahu dari awal kalau aku tidak bisa mempercayai Sandya, aku jadi bertanya-tanya, hal apa yang akan membuatku kehilangan kepercayaan padanya. Menurutku, Eve Shi berhasil mengolah cerita ini menjadi cerita yang unik dan enggak biasa.

Perkembangan karakter Sandya sampai akhir pun terlihat sangat rapih. Aku suka detail-detail ceritanya. Menurutku, kisah masa kecil Sandya bersama mamam betul-betul terceritakan dengan baik.

Akan tetapi, memang terasa kalau akhir dari kisah ini cukup buru-buru. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di sini. Mulai dari mana mama mendapatkan kekuatannya, kisah boneka-boneka lain seperti Kiyan, dan kekuatan macam apa yang sebetulnya dimiliki oleh Sandya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah buku ini memiliki lanjutan kisah?

Selama membaca, aku merasa enjoy. Cerita Sandya lumayan engaging dan enggak membuatku bosan. Aku hanya berharap kalau memang ada kisah khusus tentang mama.

Kesimpulan

Boneka Sandya adalah jenis buku yang berani kubaca tapi tak akan pernah kutonton kalau ada adaptasinya. Haha. Horror dan mystery-nya kerasa banget. Memang jenis buku-buku kegemeran Kakpin, sih. 

So far, aku puas bacanya. Malah jadi penasaran sama buku-buku lain dari Eve Shi.

4 dari 5 bintang untuk Kiyan. Duh, boneka satu ini kalau diingat-ingat baik sekali ke Sandya.

Sincerely,
Ra
23.01.06
Judul: Jingga untuk Matahari
Penulis: Esti Kinasih
Durasi: 15 jam 47 menit
Tanggal rilis: 9 Juni 2022
Penerbit: Storyside
Dengar di Storytel

Diterbitkan secara fisik tahun 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama

Ari dan Tari menjalani hari-hari penuh pelangi. Tari bahagia karena ternyata Ari cowok lembut dan penuh perhatian. Sedangkan Ari gembira luar biasa ketika mendengar Ata dan Mama akhirnya kembali ke Jakarta.

Namun, tanpa Ari ketahui, selama ini Ata menyimpan kepedihan yang membuatnya bertekad melampiaskannya kepada Ari dan Papa. Saat itulah Ari menyadari ada “kisah” yang dia tidak tahu di antara papa dan mamanya.

Sementara itu, Tari mulai bingung menata hati. Karena pada saat rasa sayangnya untuk Ari semakin tumbuh, Angga muncul lagi dan “nembak” langsung. Sebenarnya, apa yang menjadi alasan Angga begitu dendam pada Ari dan bertekad merebut seseorang yang paling berharga darinya?

“Kalo lo ngincer cewek yang udah punya cowok, rebut dia di depan cowoknya. Jangan di belakang,” kalimat Ata itu terus terngiang di benak Angga.

***

Dulu, rasanya nungguin banget Jingga untuk Matahari (JUM) terbit. Apalagi waktu tahu drama sempat-gagal-terbitnya dulu. Rasanya, penantian dari SMP terbayar kalau JUM akhirnya terbit.

Sayangnya, euforia itu hanyalah sesaat. Waktu JUM benar-benar terbit, aku enggak ada rasa excited sama sekali. Bahkan, aku baru tahu kalau dia terbit setelah beberapa bulan lamanya.

Akhirnya, karena kemarin aku telanjur langganan Storytel dan penasaran juga dengan kisah lanjutannya, jadilah kuputuskan untuk membacanya. Yang pasti, banyak banget hal-hal yang bikin aku menghela napas saking enggak ngertinya sama ceritanya.

The Story


Pencarian Ari dari buku pertama dan kedua akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan ibu dan saudara kembarnya, Ata. Pertemuan mereka kembali membuat Ari begitu bahagia. Ia pun mulai berharap kalau imajinya tentang keluarga yang utuh dan bahagia akan betul-betul terwujud. 

Bagi Ari, Ata adalah saudara kembar yang harus ia lindungi. Ia bersedia membantu Ata supaya mudah beradaptasi di SMA Airlangga. Tentu saja dibantu oleh dua sahabatnya, Oji dan Ridho.

Akan tetapi, yang tak Ari ketahui, Ata punya rencana tersendiri ketika bisa bertemu dengan Ari kembali. Rencana balaz dendam yang akan ia rancang serapi mungkin supaya bisa menciptakan efek yang begitu dahsyat bagi Ari. Efek kehancuran dan sakit hati yang tiada tara yang ia maksudkan. Maka dari itu, Ata pun mulai menjalin aliansi dengan Angga, musuh bebuyutan Ari dari SMA Brawijaya.

Belum cukup dari situ, Ata juga punya cara tersendiri untuk bisa memanfaatkan Tari, cewek yang paling disayang oleh Ari dan juga memiliki nama yang mirip dengannya.

My Thoughts 


Jadi, sebagai disclaimer, aku akan berkomentar sebagai pembaca yang sudah lama sekali waktu baca buku pertama dan kedua. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun lalu aku membaca kisah Ari-Tari. Otomatis, aku sudah lupa bagaimana jalan cerita di kedua novel ini meskipun garis besarnya masih ingat sedikit-sedikit.

Lalu, kebetulan aku membaca novel ini dalam versi audiobook. Dengan demikian, aku banyak mendengarkan novel ini sambil bersih-bersih atau sedang jalan pergi. Konsekuensinya, mungkin ada beberapa bagian yang tidak bisa kudengarkan dengan baik.

Nah, selama mendengarkan, aku cukup terkejut dengan fakta bahwa Ari dan Tari sudah berpacaran. Ini jadiannya di JDE, kah? Aku enggak inget, tbh. Selain itu, kalau memang bener pacaran, Tari menerima dengan ikhlas atau dipaksa sama Ari? 

Berbeda dengan kedua buku sebelumnya yang fokus ke hubungan Ari-Tari dan mengungkap sedikit masa lalu Ari, di JUM memang fokus pada Ata. Kisah masa lalu Ata juga sempat dibahas dan alasan-alasan mengapa Ata ingin sekali balas dendam ke Ari juga dijelaskan.

Sayangnya, aku ngerasa JUM kehilangan charm-nya. Apakah karena dulu aku membacanya waktu SMP jadi merasa kisah ini bagus banget? Aku merasa, drama anak SMA ini biasa banget. Enggak ada istimewa-istimewanya, deh. Aku masih mempertanyakan kenapa dulu bisa membuatku tertarik. Haha. 

Terus, yang bikin aku sebel, aku sampai bosen dengerin "Saudara kembar identik Ari." Astaga. Mungkin itu disebut beribu-ribu kali di buku ini. Meskipun itu untuk menunjukkan keheranan Angga, tapi kalau disebut berkali-kali gitu, kan, jadi pengen ngebanting hape ã… ã… 

Aku tahu, sih, kalau dari JUM ini nanti masih akan ada kelanjutannya, yakni Jingga untuk Sendyakala (JUS). Tapi, ya itu, buku ini beneran cuma jadi filler. Alhasil, ceritanya kerasa lama banget. Bahkan, berasa banyak side story yang ada, kayak kisah Gita yang kayaknya bakal dipasangin sama Ridho. 

Hmm, jadi keinget kalau di sini interaksi antara Vio dan Oji lenyap begitu aja. Kayaknya dulu masih banyak adegan soal mereka berdua dan jadinya banyak yang bikin fanfic buat mereka.

Hal lain yang menurutku kurang believable adalah gimana Ari beneran enggak tahu sama sekali kalau ayahnya sudah menikah lagi. Iya, aku ngerti kalau Ari dan ibu tirinya tinggal di rumah yang berbeda. Tapi, kan, tetap saja, seharusnya sebagai seorang ibu tiri, dia berusaha mendekatkan diri ke Ari. Hmm. Sungguh aku enggak paham logika yang ada di sini.

Kesimpulan


Intinya, aku ngerasa kalau series ini sudah enggak lagi spark the joy buatku. Kalaupun nanti JUS udah terbit, aku mungkin akan tetap membacanya. Tapi, yaaa, enggak sat-set langsung kubaca gitu. 

Sorry to say but 2 out of 5 stars buat JUM.

Sincerely,
Ra
23.01.03

Title: The Sun Is Also a Star
Author: Nicola Yoon
Number of pages: 384 pages
Date of published: November 1, 2016
Publisher: Delacorte Press

Natasha: I’m a girl who believes in science and facts. Not fate. Not destiny. Or dreams that will never come true. I’m definitely not the kind of girl who meets a cute boy on a crowded New York City street and falls in love with him. Not when my family is twelve hours away from being deported to Jamaica. Falling in love with him won’t be my story.

Daniel: I’ve always been the good son, the good student, living up to my parents’ high expectations. Never the poet. Or the dreamer. But when I see her, I forget about all that. Something about Natasha makes me think that fate has something much more extraordinary in store—for both of us.

The Universe: Every moment in our lives has brought us to this single moment. A million futures lie before us. Which one will come true?

***

The Sun Is Also a Star is on my TBR list. I remember being drawn to the book because of its beautiful and unique cover. This year, I challenged myself to participate in Taylor Swift's 1989 Reading Challenge, with the first prompt being Welcome to New York: A book set in New York.

After conducting a Google search, I discovered that The Sun Is Also a Star was on one of the recommended lists. So, why not give it a shot, right?

The Story


Natasha's world fell apart when she learned that she and her family would be deported tonight at 10 p.m. She couldn't believe her twisted fate until now. Natasha chose not to accept her fate, despite the fact that her family did. She attempted to find a way out. She went to the US Citizenship and Immigration Services in the early morning (USCIS). Unfortunately, she missed her appointment and there is nothing she can do to avoid deportation.

Not knowing what to do, one of the officers there told her about an immigrant lawyer who might be able to help her. Natasha will take any opportunity to avoid the deportation at all costs. As a result, she decided to schedule an appointment with the lawyer as soon as possible, hoping for the best possible outcome.

She met Daniel on her way to the lawyer's office, precisely when she took the subway. A Korean American guy who will soon become the closest guy she has ever known.

After her brother, Charlie, was discharged from Harvard, Daniel Jae Ho Bae felt pressured to be the best child in his family. Being a medical student was never his dream. Poetry is the only subject in which he is particularly interested. But, as a member of an Asian family, Daniel understands the importance of living up to his parents' expectations. As a result, he will go to an alum interview as part of his preparation to attend Yale University and become a doctor, as his family has told him.

When Daniel met Natasha, he realized that his own dream was more important than his parents' expectations. Finally, meeting each other will offer Natasha and Daniel with a new perspective on their lives.

Surprisingly, Not Bored



When I first started reading this book, I expected to be bored. Interestingly, I wasn't. Each of the points of view was fascinating to me. What I liked best about this book was how Yoon showed us sides other than Natasha and Daniel's. She also included perspectives from unexpected characters, such as Irene (the security officer), Samuel (Natasha's father), and Jeremy (the immigrant lawyer). When we read the story, those POVs still provide a unique perspective.

This book is fast paced for me. The POV will smoothly switch from one to the other. Because each section isn't that long, switching POVs didn't bother me.

Another element that surprised me was the fact that the story took place in just one day. I never thought I'd find such a book—because one of my prompts RC is about it and I have no idea what it's about. So, at the very least, it will inspire me to seek out another book with a similar plot.

Perhaps what I couldn't understand is that their process of falling in love is very short and quick. I understand Natasha and Daniel have their own intimacy, but I couldn't understand how their interaction could lead to them falling in love.

Conclusion


After all, I'm pretty pleased with myself for finishing this book. I wasn't bored while reading it, and to be honest, I really enjoyed it. Also, I learned more about the lives of immigrants in America, particularly undocumented immigrants.

In my opinion, the ending is very realistic. As a result, there will be no miracles here. That was acceptable for me.

So... yeah. I give this book four out of five stars.

Sincerely,
Ra
230103