Showing posts with label Grasindo. Show all posts
Showing posts with label Grasindo. Show all posts

Judul: Almond
Genre: Young Adult, Korean Literature
Penulis: Sohn Won-pyung
Penerjemah: Suci Aggunisa Pertiwi
Tebal buku: 232 halaman
Penerbit: Grasindo

Novel remaja Korea, lebih kuat dari film dan menegangkan seperti drama!

"Almond" adalah novel yang memberi harapan kepada orang seperti saya yang percaya bahwa hati dapat mengendalikan kepala. Di akhir musim dingin yang panjang, tibalah musim semi. Di musim semi, saat tanaman tumbuh, emosi pun tumbuh. Jika emosi tumbuh, maka dunia pun ikut tumbuh. Selama membaca tulisan ini, hatiku selalu berdebar-debar. Di musim semi yang akan datang, tulisan ini akan menjadi sebuah petasan indah yang akan meledakkan seluruh emosi.

- Novelis Gong Seonok

***

Perasaan. Menjadi suatu hal lumrah yang pasti ada pada diri seseorang. Akan tetapi, hal tersebut tidak ada dalam diri Yoonjae. Sejak lahir, Yoonjae mengidap Alexitimia. Singkatnya, pengidap penyakit ini memiliki amigdala berukuran kecil yang membuat mereka kesulitan mengolah emosi. Maka dari itu, Yoonjae pun hidup dengan tidak pernah "merasa". Tentunya, keadaannya yang unik ini membuat semua orang memandang aneh dirinya. Dia berbeda dari orang kebanyakan dan menjadi tidak normal di mata mereka.

Yoonjae: Kisah Tiga Babak 

Secara garis besar, Almond terdiri dari tiga babak. Pertama, adalah kisah Yoonjae sedari kecil. Bagaimana ibunya yang seorang single mother mengasuh dan merawat Yoonjae. Menyadari bahwa Yoonjae bukanlah anak biasa, ibu Yoonjae pun menerapkan cara mendidik khusus Yoonjae. Bukan berarti itu hal yang mudah. Tak jarang ibu Yoonjae tak bisa menjawab pertanyaan Yoonjae yang cukup mendasar. Ataupun saat Yoonjae terlibat masalah, ibu Yoonjae tahu bahwa anaknya tak akan bisa merespons layaknya anak-anak di sekitarnya.

Selain itu, di babak pertama, Yoonjae juga mengisahkan tentang neneknya yang juga ikut merawatnya. Nenek dan ibunya memang memiliki sifat dan pemikiran yang jauh berbeda. Akan tetapi, pada akhirnya mereka tetap mau menerima Yoonjae dan terus mengajari Yoonjae untuk bisa adapt dengan kehidupan.

Bagian kedua dari Almond mengisahkan bagaimana hubungan antara Yoonjae dan Gon. Keduanya tentu bukanlah sahabat bagai kepompong. Bahkan, mulanya mereka adalah musuh--kalau itu bisa disebut sebagai istilah yang tepat. Melalui Gon, Yoonjae mulai memahami bahwa manusia seperti dirinya juga bisa menjalin hubungan pertemanan.

Bagian terakhir, mengenalkan Yoonjae dengan Dora. Aku pikir, kisah Yoonjae tak akan ada sisi hubungan romantisnya. Ternyata aku salah. Ternyata penulis memberikan flavor ini pada kehidupan Yoonjae. Satu hal yang cukup unexpected buatku. Well, setidaknya, dari bagian ini kita memahami bagaimana Yoonjae bisa merasakan cinta layaknya yang lainnya.

Perasaan dan Norma di Masyarakat

Tentunya, membaca buku ini cukup sulit. Dalam artian, kisah Yoonjae bisa memunculkan rasa iba. Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa merasakan emosi? Bagaimana mereka bisa tidak pernah merasa takut, sedih, bahagia? Apakah tidak terlalu hampa? Akan tetapi, akan lebih tepat kalau disebut mereka tidak tahu rasanya.

Menurutku, penulis berhasil mengangkat tema yang tidak biasa. Setidaknya, aku belum pernah membaca cerita dengan tema serupa. Apalagi mengambil sisi penyakit satu ini. Yang aku cukup surprised, aku pikir judul Almond di sini tidak akan merujuk pada satu hal yang nyata--ibu Yoonjae percaya bahwa memakan almond setiap hari bisa membantu pertumbuhan amigdala Yoonjae. 

Aku cukup menikmati kisah Yoonjae di sini. Kebingungan Yoonjae cukup tergambarkan saat harus menghadapi situasi yang belum pernah ia tahu kemungkinan kejadiannya. Penggunaan sudut pandang orang pertama juga membuat kita bisa lebih bersimpati pada Yoonjae. Setidaknya, itu kesan yang kutangkap di sini.

Lalu, mau tidak mau, novel ini juga akan mengajak kita untuk mempertanyakan apa sih yang sebetulnya disebut dengan normal? Normal dan biasa menjadi kata yang sulit untuk didefinisikan dalam kamus Yoonjae. Akan tetapi, hal tersebut menjadi kontemplasi tersendiri buatku. Yang disebut normal dan biasa adalah apa yang disetujui oleh masyarakat dari dahulu kala. Apa yang menyebabkan itu normal dan biasa? Ya, karena hal tersebut diakui "normal" dan "biasa" oleh masyarakat.

Dengan demikian, standar nilai akan dipegang oleh konsensus yang berada di masyarakat. Ketika ada yang tidak sesuai, ya berarti mereka yang "menyimpang: Melalui novel ini, penulis mengajak kita untuk melihat dari perspektif yang terpinggirkan dari apa yang ada di masyarakat. Kisah Yoonjae pastinya tidak selalu kita temui di masyarakat. Akan tetapi, kemungkinan bahwa orang-orang seperti Yoonjae hadir di masyarakat, sangatlah mungkin.

Kesimpulan

Tak ku sangka aku bisa membuat review yang cukup panjang untuk bacaan kali ini. Apakah ini semangat tahun baru? Mungkin saja demikian. Almond sangatlah tepat bagi kalian yang ingin memahami kisah pencarian identitas diri. Terlihat cukup grande, ya, tema dari novel ini. Tapi memang itulah tujuan yang ingin dicapai dari penulisnya.

4 out of 5 stars.

Best,
Ra


Garden Magic
"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."

oleh Mita Miranti

3 dari 5 bintang

image credit: goodreads.com
Judul: Garden Magic
Penulis: Mita Miranti
Penyunting: Fanti Gemala
Desainer Kover dan Ilustrasi: Rio Siswono
Penata Isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit:  Desember 2015
Tebal buku: 202 halaman
Diperoleh dari acara Grasindo Blogtionship 2017


"Cinta itu seperti tanaman, dia hidup karena dipelihara."
Menjadi yatim piatu sungguh tak pernah terbayangkan oleh Iris. Dia juga tak mengira akan bertemu dengan pria menyebalkan, yang membuat hidupnya semakin sulit. Siapa sebenarnya pria itu? Oh, dan berapa banyak sketsa taman yang harus dia buat untuk melupakan masa lalunya? Seandainya cinta dapat menemukan jalannya sendiri, dia ingin meloloskan diri dari pedihnya rasa dikhianati. Dia ingin merasakan kembali indahnya bahagia, seindah bunga kana yang begitu dicintai ibunya. 


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sepertinya, sudah agak lama dari terakhir kali saya membuat satu ulasan mengenai novel yang saya baca. Selain karena saya memang diserang reading slump, saya memang merasa tidak bersemangat untuk menuliskan satu resensi tertentu. Seperti bukan saya, ya? Yaa, mau bagaimana lagi. Saya sekarang lebih fokus untuk bermain game. Iya, tolong salahkan Kampung Maifam yang menyita banyak waktu saya.

Baiklah, kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai Garden Magic. Saya mendapatkan novel ini ketika mengikuti acara Grasindo Blogtionship 2017 yang diadakan di.. hmmm, kenapa saya lupa namanya, ya? Pokoknya di salah satu kafe yang terletak tak jauh dari Stasiun Sudirman--well, agak memalukan karena saya naik ojek online padahal seharusnya bisa jalan. Dalam perjalan pulang ke Malang, saya memilih untuk membaca novel ini sebagai bacaan ringan. Tentunya, saya tidak ingin berekspektasi apa-apa. Toh, saya hanya ingin sekadar mengembalikan mood saya saja untuk membaca.

Cerita dimulai dari perjalanan Iris yang merintis usahanya dalam bidang dekorasi taman. Ia adalah seorang yatim piatu yang berusaha untuk membuka bisnis sendiri. Kecintaannya terhadap taman dan berbagai tanaman, membuat Iris mendirikan Arum Dalu. Banyak pihak yang memuji kelihaian Iris dalam menyulap taman-taman yang awalnya gersang menjadi indah. Salah satunya adalah Ibu Astari. Dari Ibu Astari inilah ternyata Iris bertemu dengan Wira, sesosok pemuda yang baru pulang dari Amerika dan merupakan anak sulung dari Ibu Astari. 

Entah mengapa, Wira selalu bersikap sinis kepada Iris. Bahkan, cenderung memusuhi. Ternyata, semua sikap Wira tersebut berhubungan dengan kecelakaan beberapa tahun lalu yang menimpa Anggi, adik Wira, dan Aldi, yang kala itu menjadi pacar Iris. Lalu, apa hubungan di antara kejadian tersebut? Mengapa Wira begitu membenci Iris? Bagaimana dengan konflik yang terjadi? Silakan baca sendiri.

Sumber gambar: KSHines, disunting oleh Ra.
Tentunya, novel ini menurut saya adalah novel manis yang bisa dibaca dalam sekali duduk. Konflik yang disajikan tidak terlalu berat dan malah membuat saya tersenyum manis. Membaca novel roman dengan sedikit percik bumbu merupakan salah satu cara saya untuk membangkitkan mood membaca. Selain juga dengan membaca buku anak atau graphic novel. Kalau ditanya apakah konflik dalam novel ini hana sekadar tentang cinta? Tidak juga. Novel ini juga membahas tentang perdagangan dan penculikan hewan peliharaan yang tentunya, tidak banyak diangkat dalam novel lainnya. Yaa, mungkin itu adalah salah satu ciri khas dari novel ini. 

Kalau ditanya kekurangannya, menurut saya, perkembangan chemistry di antara Wira dan Iris menurut saya tidak terlalu dijelaskan. Sehingga, membuat saya bertanya-tanya, "hal apa yang membuat mereka tertarik satu sama lain?" Cukup disayangkan sebenarnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Oh, ya. Satu hal yang saya suka dari novel ini adalah kover bukunya yang cukup cantik dan segar dipandang mata. Desainnya yang sederhana tidak terlalu ramai dan enak dilihat.

Jadi, untuk kamu yang ingin membaca bacaan ringan. Garden Magic bisa menjadi salah satu pilihan.

3 bintang untuk Morries, si anjing lucu yang selalu disayangi pemiliknya.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

L
Mungkin, sebuah karma lah yang menimpa kehidupan Ava Torino. Who knows?

Karya Kristy Nelwan
4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: L
Penulis: Kristy Nelwan
Editor: A. Ariobimo Nusantara
Asisten editor: Veronica B. Vonny
Penata isi: Gun
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: April 2012, cetakan keempat
Tebal buku: VIII+344 halaman
ISBN: 978-979-025-417-6
Pinjam di iPekanbaru dan iJakarta
Ava Torino, twentysomethinggirl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things. Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekad meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti-ganti pacar, sampai ke 26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama-nama sang pacar.
Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. Namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal huruf L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi the Last Love nya. Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika pikirannya.... hingga terjadilah peristiwa itu.... 

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pada dasarnya, saat aku mencomot novel ini di aplikasi iPekanbaru, aku tidak berkekspektasi apa-apa. Aku hanya sekadar ingin membaca bacaan ringan. Mulai dari blurb yang cukup catchy, akhirnya aku memutuskan untuk membaca L. Karena aku belum pernah membaca karya Kristy Nelwan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk searching dulu di Goodreads, dan betapa kagetnya aku saat menyadari bahwa novel ini dipandang out of the box. Mengetahui fakta tersebut, aku pun bersemangat untuk membaca novel ini.

Bergonta-ganti pasangan? Itulah yang dilakukan oleh seorang Ava Torino. Trauma akan pacar-pacarnya dahulu kala, Ava pun bertekad gonta-ganti pacar hingga nama pacarnya sampai 26 alfabet. Absurd? Sangat. Bahkan, menurutku hal ini sama sekali nggak masuk akal. Ada gitu orang se'kurang-kerjaan' kayak Ava?

Tanpa pretensi apa-apa, aku mulai menggeser layar ponselku. Diawali dari adegan pemutusan pacar Ava yang ke sekian, novel ini disajikan dengan bahasa yang ringan. Tidak terlalu sulit untuk dipahami maksudnya. Bahkan, menurtku, sangat enak dibaca. Ada selipan-selipan humor yang disisipkan oleh Kristy.

Merujuk pada obsesi Ava, maka kita akan berpikir bahwa Ava akan kesulitan menemukan pacar dengan nama berawalan Q atau X. Nyatanya, Ava malah kesulitan mendapatkan pacar dengan naa berawalan L. Pada saat berlibur ke Yogyakarta, Ava bertemu dengan seorang cowok. Secara tipe, cowok itu tipe dia banget. Sayangnya, cowok itu bernama Rei. Tentunya, nama cowok ini membuat semangat Ava padam. Akan tetapi, di malam yang sama, Ava bertemu dengan kenalan teman Ava. Seseorang yang ternyatan bernama depan L. Ludi.
"'L' kan huruf sakral, bisa berarti Last atau Love." - Ava. hlm. 32.
Dengan ditemukannya si L ini, Ava berniat untuk bertobat. Ia ingin menyerahkan cinta dan hidupnya pada Ludi. Ternyata, hal ini mendapat sambutan positif dari Ludi. Hubungan antara Ava dan Ludi terus berlanjut. Bahkan, bisa mencapai satu tahun lebih. Maka dari itu, Ava berani untuk mengambil keputusan lebih jauh dan menerima lamaran dari Ludi.

Sumber gambar: Google, disunting oleh Puji.
Di tengah semarak kebahagiaan persiapan pernikahan, Ava malah mendapatkan masalah. Stasiun televisi tempatnya berkerja tidak memberikan insentif yang sebanding dengan kerja kerasnya. Apalagi, kontrak karyawan pun tidak segera diturunkan oleh pihak pimpinan perusahaan. Setelah satu insiden menimpa sahabat Ava, Ava akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Hal ini didukung oleh Ludi yang sedari dulu khawatir dengan pekerjaan Ava. Kemudian, Ava mencoba melamar pekerjaan di Jakarta dan betapa kagetnya ia saat bertemu lagi dengan Rei. Karena tidak  mengenal siapapun di kantor barunya, akhirnya, Ava dan Rei menjadi akrab. Bahkan, Rei banyak mengubah kehidupan Ava dengan tindakan-tindakannya. Sampai satu titik, Ava menyadari ada perasaan yang berbeda dalam diri Ava terhadap Rei. Akan tetapi, rahasia kelam Rei, serta perjanjian Ava pada dirinya sendiri, membuat kisah mereka menjadi rumit dan menyedihkan.

Rasanya, sudah lama sekali aku tidak menangis karena membaca novel. Dan, aku cukup amazed saat L karya Kristy Nelwan ini berhasil membuatku tersedu-sedu. Padahal, aku sudah menyadari kalau skenario terburuk akan terjadi sejak awal membaca cerita ini, tapi aku masih saja tetap menangis. Rupanya, Kristy Nelwan berhasil mengaduk emosiku dengan gayanya bercerita,

Meskipun memang sulit untuk menghakimi apa yang dilakukan oleh Ava, tapi setidaknya aku mengerti perasaannya. Perasaan kepada orang yang ia tahu tidak akan bisa selamanya dengannya. Aku pun juga menyadari ada yang tidak beres dalam sikap Ludi. Meskipun aku masih bertanya-tanya apa yang berbeda.
"Hidup itu emang nggak gampang, tapi juga nggak perlu diperumit. Kita harus jaga konstanitasnya, menjaga kesadaran kita tetap ada dalam kadar yang tepat." hlm. 290.
Dua hal yang kudapat dari novel ini sebenarnya. Yang pertama adalah mengenai rokok. Sebenarnya, aku pun juga hidup di sekitar orang-orang yang suka merokok. Asap-asap bernikotin itu sudah sering menyerang paru-paruku. Mungkin, dengan aku membaca novel ini, aku harus mulai berhati-hati terhadap asap rokok; dan yang kedua adalah mengenai toleransi beragama. Di novel ini, Rei mengajak kita untuk melihat lebih jauh mengenai perbedaan agama. Aku suka dengan cara pandang Rei yang menyatakan bahwa "Aku ibadah bukan karena takut, tapi karena aku ingin berkomunikasi dengan Tuhan." Betapa hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Menurutku, novel ini patut untuk dibaca. Sebagai bacaan ringan dan juga pengingat untuk kehidupan kita masing-masing. Bagiku, novel ini sangat berkesan karena berhasil membuatku menangis sedemikian rupa,

Sincerely,
Puji P. Rahayu
1/6
"Kau seorang dokter, Sam. Setiap aku terluka, kau bisa sembuhkan aku."--Kai.

By Flazia
2 of 5 stars

image source: goodreads.com
Penyunting       : Anin Patrajuangga
Desainer           : Jang Shan dan Lisa Fajar R.
Penata Isi          : Abdurrahman
Penerbit            : Grasindo
Tahun Terbit     : 2014
Tebal Buku       : 232 halaman
ISBN                 : 9786022517191
Baca via iJakarta


“Tidak Butuh Satu Detik untuk Mencintaimu…”


Samantha Arin:
Dia adalah Kai Takahashi, seorang aktor, vokalis sekaligus gitaris band terkenal Mr. Sky. Pagi tadi kakeknya meninggal. Dia pasti bersedih karena hal itu. 
“Aku turut berduka cita, aku tahu ini membuatmu sedih. Aku mengerti apa yang kau rasakan…”
“Kau mengerti?” ujar Kai sinis padaku. “Skenario apa sih yang kalian hafalkan? Kenapa semua dokter selalu bilang tahu apa yang kurasa, tapi wajah kalian tetap tampak begitu tenang? Kalau kalian tahu bagaimana rasanya, kalian tidak akan setenang itu! Sadar tidak sih kalau kalian itu sok tahu?!”



Kai Takahashi:
“Sok tahu?! Dengar ya, kami tidak sok tahu! Kami hanya berusaha membantu!”
“Aku tidak butuh bantuan!” ujarku. “Aku... aku hanya… butuh Kakekku…”
“Kau butuh Kakekmu? Kalau begitu kau butuh mati!” ucap gadis berjas putih itu marah.
A-Apa? Mati dia bilang?
“Kau terkejut mendengar skenario yang tidak pernah kau dengar sebelumnya? Kau perlu tahu kalau kami tidak bersandiwara! Kami mengabdi mempertaruhkan hidup untuk semua pasien yang membutuhkan kami! Dan itu bukan sandiwara seperti yang biasa kau lakukan di drama!”


***

Membaca 1/6 merupakan hal yang cukup tidak biasa bagiku. Mengapa? Karena 1/6 merupakan jenis novel yang aku hindari. Novel bertema Jepang atau Korea yang ditulis oleh penulis Indonesia merupakan bentuk novel yang aku hindari. Entahlah. Aku biasanya hanya merasa tidak cocok saja saat harus membacanya. Akan tetapi, entah mengapa pula akhirnya aku tertarik untuk membaca 1/6. Mungkin aku termakan blurb, mungkin juga karena aku memang sedang ingin membaca novel yang ringan.
French Pink

By Prisca Primasari
3 of 5 stars

Image Source: goodreads,com
Penyunting    : Anin Patrajuangga
Penerbit         : Grasindo
Tahun Terbit  : Oktober 2014
Tebal Buku    : 80 halaman
ISBN             : 9786022516873
Baca via iJakarta


Di Distrik Jiyugaoka yang mungil, cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.


Siapa sebenarnya pria itu? Dan... lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untuk apa juga?

Ck. Sungguh. Pria itu benar-benar merepotkan Hitomi


***
Yeay. Aku kembali membaca karya Prisca Primasari lagi. Hoho. Jadi, sebenarnya novel ini--atau novela sebenarnya julukannya?--lagi-lagi aku temukan di iJak. Sumpah ya, aku kayaknya beneran disumpahin sama orang yang waktu itu presentasi di Pesta Pendidikan, aku jadi keranjingan baca iJak. Haha.

Hitomi, seorang pemilik toko pita di Distrik Jiyugaoka, mengalami depresi dan seakan tidak memiliki semangat hidup. Bahkan, ia memutuskan untuk bunuh diri saja. Suatu hari, di tengah-tengah depresinya itu, Hitome bertemu dengan seorang pria yang cukup aneh. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam. Bahkan, rambutnya pun berwarna hitam kelam. Namanya Hane, yang bisa diartikan sebagai feather atau bulu.

Evergreen
Hidup itu sangat berharga

By Prisca Primasari
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Penyunting                            : Anin Patrajuangga
Penata Isi                              : Lisa Fajar Riana
Desain Sampul dan Ilustrasi : Lisa Fajar Riana
Penerbit                                 : Grasindo
Tahun Terbit                          : 2013
Tebal Buku                            : 203 halaman
ISBN                                     : 9786022510864
Baca via iJakarta

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!


Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?



Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?



***

Halo! Ah, aku senang sekali akhirnya bisa membaca Evergreen. Seingatku, Evergreen merupakan salah satu novel yang masuk rak to-read di akun Goodreadsku. Sebenarnya, aku sudah pernah membaca karya Prisca Primasari sebelumnya. Novel Kak Prisca yang pernah aku baca itu Eclair dan Paris. Jujur saja, aku jadi penasaran sebenarnya, apakah Kak Prisca memang penulis yang memiliki spesialisasi menulis berdasar latar tempat. Ketiga novel yang aku baca ini semuanya mengambil latar tempat di luar negeri. Mulai dari Eclair yang bertempat di Rusia, lalu Paris yang bertempat di Perancis, dan Evergreen yang mengambil tempat di Jepang.

2
Jangan meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah!”—hlm. 124.

By Donny Dhirgantoro
2 of 5 stars

Penerbit                      : Grasindo
Tebal halaman           : 176 halaman
Tahun terbit               : Januari 2013, Cetakan kelima.
ISBN                           : 9789790815629


Harus berani bermimpi


Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia, di mana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang “kelebihannya” adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan yang tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalu bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani…

REVIEW:
Membicarakan perwujudan mimpi tidak akan pernah ada habisnya. Sebuah kenyataan yang begitu pahit terkadang memberikan ketidakyakinan bagi seseorang untuk memperjuangkan mimpinya. Tapi tidak bagi Gusni Anisa Puspita. Seorang perempuan Indonesia yang punya sejuta mimpi di bulutangkis. Meskipun ia tahu, impiannya itu akan berat untuk diwujudkan karena keterbatasannya.

“Tantangannya besar sekali, Leh… tapi, kita harus yakin kita bisa, … nggak boleh salahkan keadaan.”—hlm. 32.

THE FIRST LINE
Jakarta, 27 Oktober 1986.

The Appearance:
Dari kavernya, aku sangat tertarik dan suka dengan kavernya. Desainnya sederhana dan pas di mataku. Judulnya pun sangat mengundang rasa penasaran bagi siapa pun yang melihatnya. Hanya tersemat angka 2 sebagai judul. Donny Dhirgantoro berhasil menarik perhatian pembaca dengan kaver yang sederhana itu.

The Summary:
Gusni Annisa Puspita merupakan adik kandung dari pemain bulutangkis ternama di Indonesia, Gita Annisa Srikandi. Semenjak lahir, Gusni diberikan anugerah tubuh yang sangat besar. Bisa dibilang bahwa besar tubuh Gusni di atas rata-rata bayi seusianya. Ternyata, tubuh Gusni yang besar ini menyimpan rahasia. Ada penyakit yang menghantui kesehatan Gusni dan tentunya penyakit ini belum ditemukan obatnya. Sejak tahu akan penyakitnya, Gusni mencoba untuk berjuang melawan penyakitnya dengan segala cara. Salah satunya adalah melalui bulutangkis. Dengan kondisi fisik yang tidak bisa dikatakan baik, Gusni melaju menjadi pemain bulutangkis handal bersama Tim Nasional Indonesia.

“Orang hidup itu harus punya cita-cita… kalau kamu gak punya cita-cita berarti kamu nggak hidup, kamu orang mati namanya…”—hlm. 71.

Selain membahas tentang mimpi Gusni, novel ini juga menceritakan persahabatan Gusni dengan kedua teman besarnya, Ani dan Nuni. Ketiga orang itu berhasil menggambarkan bagaimana seharusnya sahabat sejati itu ada. Lalu, novel ini juga menceritakan tentang kisah cinta antara Gusni dan Harry. Satu-satunya pria yang diizinkan Gusni untuk berada di sampingnya.

“…karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna…”—hlm. 229.

The Opinion
Sebenarnya, aku mendapatkan novel ini dari beli second-hand dari salah satu admin @NovelAddict_ alias Kak Jiha. Jadi, novel ini merupakan bentuk rekomendasi Kak Jiha agar aku pas belinya. Hehe.

Terbawa euforia 5 cm, tentunya aku penasaran dong dengan novel yang satu ini. Hem, tapi aku merasa agak sangsi juga sih. Waktu dulu aku membaca 5 cm, aku banyak protesnya. Haha. Aku berharap sih nggak akan terjadi kembali. Ternyata aku salah. *duh, maafkan aku ya, Mas Donny. Sepertinya aku memang nggak cocok dengan novelnya Mas Donny.

Image source: google.com, edited by me
Ada beberapa hal yang menurutku cukup ganggu dalam novel ini:
1. Typo dimana-mana. Iya. Banyak banget. Bahkan ada tuh yang EYD-nya tak pas. Huhu. Entah bagaimana ceritanya novel best seller ini banyak banget typo-nya. Mulai dari hal sederhana macam penggunaan ‘di’ sampai ada beberapa percakapan yang tanda petiknya kelupaan. In my opinion, ganggu banget :/
2. Dari awal aku membaca aku langsung ilfeel. Aku nggak tahu sih zaman dulu USG itu udah ada atau enggak. Masalahnya adalah, masak iya salah prediksi bayi kembar? Dan itu hanya gara-gara suara detak jantung? Bukannya mbah-mbah dukun beranak bisa tahu ya di dalem perut seorang ibu hanya ada satu bayi atau dua? Menurutku hal ini agak tidak rasional.
3. Aku kesel banget waktu baca Gita marah-marah ke Gusni. Kesannya aneh banget dia tetiba marah-marah nggak jelas gitu. Terkesan dipaksakan banget scenenya.
4. Proses jatuh cinta Harry dan Gusni kurang dieksplor. Kesannya ujug-ujug suka :/

Terlepas dari beberapa hal tersebut, aku masih bisa melihat usaha Donny untuk menekankan pentingnya bermimpi bagi semua orang. Terlepas dari kekurangan dan keterbatasan yang kita punya, semua orang berhak untuk memiliki mimpi. Aku salut sih dengan usaha Gusni yang mau berusaha untuk hidup.

“Certamen ergo sum. Aku berjuang maka aku ada.”—hlm. 415.

THE LAST LINE
Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa.

The Conclusion
Untuk kamu yang percaya akan kekuatan mimpi, boleh banget baca ini. Terlepas dari banyaknya missing link, bolehlah dibaca. But unfortunately this novel is not my cup of tea.