Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

Fortunately, The Milk

oleh Neil Gaiman
3 dari 5 bintang


Image: Goodreads
Judul: Fortunately, The Milk
Judul terjemahan: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaimana
Ilustrator: Skottie Young
Alih bahasa: Djokolelono
Tebal buku: 128 halaman
Tahun terbit 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1225-5
Beli di TB. Gramedia Depok

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.” 

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.” 

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

***

Sosok Neil Gaiman merupakan salah seorang penulis fantasi yang banyak digandrungi oleh para pembaca fantasi. Mitologi Nordik, American Gods, maupun Neverwhere merupakan beberapa karyanya yang terkenal. Penulis asal Inggris ini memang mendedikasikan karyana di genre fantasi, horor, maupun fiksi ilmiah. Lalu, apakah ada kisah fantasi yang pas untuk anak-anak?

Menemukan nama Neil Gaiman di tumpukan buku obral di Gramedia merupakan hal yang tidak biasa--setidaknya untuk saya. Jujur saya memang belum pernah membaca karya Gaiman sebelumnya. Meskipun banyak yang bilang kalau Mitologi Nordik dan American Gods itu seru. Yaa, bagaimanapun, I still a romance reader. 

Seperti yang saya bilang tadi, saya tak sengaja menemukan novel ini di tumpukan obralan Gramed. Berbekal uang IDR20,000 saja, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang novel dengan sampul penuh ilustrasi ini. 

Saya tidak terlalu ingat berapa lama saya mendiamkan novel ini di tas saya--saya bahkan baru ingat ketika membongkar tas yang sudah jarang saya pakai itu. Akhirnya, karena saya harus menempuh perjalanan yang cukup lumayan menuju kantor, saya putuskan menghabiskan waktu dengan membaca. 

Well, premis yang ditawarkan oleh Gaiman ini pada dasaarnya sederhana. Ini hanya tentang perjalanan Ayah yang membelikan susu bagi anak-anaknya. Akan tetapi, ternyata sang Ayah harus melewati berbagai petualangan tak terduga untuk membawa pulang susu yang telah ia beli. Iya, petualangan itu melibatkan pertemuan dengan para bajak laut, hingga Profesor Stegosaurus yang nyentrik dan mengendarai Bola-Apung-Pengangkut-Orang.

Nah, yang membuat menarik, Ayah bersama dengan Profesor Steg harus menjelahi waktu pula untuk betul-betul bisa kembali ke tempat Ayah berasal. Wah, hal yang tak disangka-sangka, bukan?

Image: pinterst, edited by me
Yaa, sebagai sebuah novel fantasi anak, Fortunately, The Milk tidak menyajikan cerita yang rumit. Saya sih senang-senang saja saat membacanya. Bagaimanapun, kali ini saya sedang malas berpikir ketika membaca. Saya cuma butuh bacaan ringan yang menghibur. Secara cerita, saya tidak terlalu terkesan juga dengan ceirta ini. Biasa saja. Tapi mungkin, ilustrasi yang dibuat oleh Skottie Young cukup menarik untuk dilihat. 

Dapat dibilang, novel ini merupakan novel untuk sekali duduk. Ukuran huruf yang sangat child-friendly ini akan membuatmu lebih mudah membacanya sampai habis dalam satu waktu.

Lalu, apakah saya akan mencoba untuk membaca karya Gaiman lainnya? Mungkin iya. Akan tetapi, saya butuh waktu untuk mengembalikan mood saya, baik dalam membaca maupun menulis blog.

Sekian resensi untuk novel anak ini. Tiga bintang untuk Profesor Steg yang ternyata seorang ibu-ibu!

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Incognito

"Memang menyukai seseorang bisa secepat dan semudah itu? Manusia itu kadang terlalu sering mencari di luar jangkauannya, padahal biasanya apa yang dia cari justru selama ini selalu ada di dekatnya." - Carl.

oleh Windhy Puspitadewi

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul: Incognito
Penulis: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasy, Sciene Fiction, Adventure
Tebal buku: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 29 Mei 2014 (sampul baru)
ISBN: 9786020305233
Baca via Gramedia Digital


Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!
Semua bermula ketika mereka harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang pemuda bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.
Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri.


***

Penjelajahan waktu tentunya bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Kalian setuju, bukan?

Yap, setelah kemarin saya menonton Avengers: Endgame - yang isinya kurang lebih bagaimana cara kita bisa "mencuri" waktu, maka saya pun teringat dengan novel teenlit yang satu ini. Entah mengapa, saya ingin membaca kembali kisah dari Erik, Sisca, dan juga Carl.

Suatu ketika, Erik dan Sisca yang sebenarnya tidak akur, tergabung dalam satu kelompok untuk tugas sejarah, yakni tugas observasi peninggalan bersejarah. Meskipun sering berdebat satu sama lain, Erik dan Sisca tetap sebisa mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

Jadilah kemudian Erik mengajak Sisca ke kawasan Kota Lama Semarang untuk mengambil foto. Nah, ternyata, apa yang mereka temui bukan sekadar tentang observasi peninggalan bersejarah, akan tetapi sosok pemuda yang jelas-jelas bukan orang dari masa yang sama dengan Erik dan Sisca, Yap, Carl, nama pemuda itu, datang dari masa lalu. Atau tepatnya dari tahun 1893 karena Carl menggunakan mesin waktu!

Erik dan Sisca awalnya sempat kebingungan dengan kehadiran Carl, akan tetapi, kemudian mereka malah ikut terjerumus dalam penjelajahan waktu yang dilakukan oleh Carl. Bertemu orang-orang besar pun menjadi salah satu pengalaman yang mereka dapatkan, mulai dengan bertemu Archimedes, Miyamoto Musashi, Tom Sawyer, hingga Charles Darwin.

Penjelajahan waktu tersebut pada akhirnya membawa baik Erik, Sisca, dan Carl menemukan berbagai hal. Mulai dari penjelasan mendasar mengenai berbagai macam ilmu dan tentunya fakta sejarah, hingga peristiwa-peristiwa yang hampir mengancam nyawa mereka. Melalui penjelajahan waktu itu pulalah mereka menemukan arti yang sebenarnya dari persahabatan dan konsep menghargai waktu.

Yang pasti, satu hal yang harus selalu diingat bahwa waktu itu memiliki dimensinya tersendiri. Kemudian, waktu pun juga memiliki efek domino. Sehingga, apa yang berubah dalam satu waktu di masa lalu, maka dapat mempengaruhi masa sekarang, dan juga masa depan.

Incognito. (image: wallpaperaccess / edited by me)
To be honest, dulu ketika awal saya membaca novel ini, saya senang-senang saja membacanya. Bahkan, saya kategorikan sebagai salah satu novel favorit saya karena Incognito berhasil mendobrak tema-tema umum dari novel teenlit. Iya, kebanyakan novel teenlit yang ada ketika itu hanya sekadar membahas romantisme remaja belaka. Sedangkan, novel ini berhasil membuat saya tertarik karena adanya topik penjelajahan waktu yang diangkat.

Bagi saya, mengangkat tema ini bukanlah suatu hal yang mudah. Sang penulis harus mampu menghubungkan serta mencari celah dari berbagai peristiwa supaya adegan-adegan di dalam novel ini menjadi masuk akal. Tentu, hal tersebut membutuhkan riset yang lama dan juga kejelian dalam melihat suatu kronik sejarah. Saya salut dengan usaha Kak Windhy untuk menghadirkan jenis cerita ini dalam Incognito.

Jujur saja, saya merasa bahwa Kak Windhy berhasil mengisi celah yang tepat dari bagian-bagian sejarah yang ia pilih. Sehingga, tidak terkesan dipaksakan. Akan tetapi, mungkin saya sedikit setuju dengan beberapa peresensi yang menyatakan bahwa identitas asli Hans C. Zentgraaf dan juga Fran terlalu obvious. That surprise element couldn't spark that much when I read this book for the second time.

But after all, I still like this novel. Seenggaknya, saya tahu bahwa usaha dari sang penulis untuk menciptakan buku ini tidaklah mudah. Lagipula, bisa dibilang bahwa buku ini termasuk novel fiksi pengetahuan - karena secara tidak langsung saya mempelajari sejarah dari buku ini.

Jadi, empat bintang untuk tokoh Erik yang sengak dan menyebalkan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu


Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald

"I can't move against Grindelwald. It has to be you." - Albus Sumbledore.


Image credit: imdb.com
Title: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald
Genre: Adventure, family, fantasy
Series: Fantastic Beasts
Director: David Yates
Screenplay: J.K. Rowling
Producers: J.K. Rowling, David Heyman, Steve Kloves, Lionel Wigram
Stars: Eddie Redmayne, Katherine Waterstone, Dan Fogler, Jude Law, Johny Depp, and other.
Ticket: IDR 40,000 at CGV Depok Town Square.

Based on Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald - The Original Screenplay by J.K. Rowling (2018).

In an effort to thwart Grindelwald's plans of raising pure-blood wizards to rule over all non-magical beings, Albus Dumbledore enlists his former student Newt Scamander, who agrees to help, unaware of the dangers that lie ahead. Lines are drawn as love and loyalty are tested, even among the truest friends and family, in an increasingly divided wizarding world.

***

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald is the second movie from Fantastic Beast Series. It's released two years after the first movie. Me as a Potterhead, have waited this movie. Despite all of the negative comments that appeared, I still want to know more about Newt's adventure in Paris--a city that I want to go to. After I watched this movie, I got a mixed feeling. I do love the journey, but I can sense a lot of plot hole here. So sad.

Psst. There will be spoiler, here--maybe. You've been warned.

This movie opened with a prison's condition where Gellert Grindelwald (Johny Depp) was arrested since the end of the first movie. He is described as a cunning and powerful wizard after all. With his magnificent magic ability, Grindelwald is succeed to runaway from MACUSA's (Magical Congress of the United States) custody when he supposed to be moved to another prison. After that, Grindelwald goes to Paris to start his plan that will affect wizarding and non-wizarding world.

Grindelwald and his followers.
image credit: indieWire.com

On the other side, there is Newt Scamander (Eddie Redmayne) who is struggle to get his international travel permit back. He must assure  the ministry of magic's member that he is worth that permit after what he did in the United States. Well, Newt is being Newt, tho. He is failed to assure them and make Theseus Scamander (Callum Turner)--Newt's brother--only can warn what Ministry of Magic will do to Newt. Well, the reason why Newt is failed to get his international travel permit is, he rejects Ministry of Magic's request to go to Paris and find Credence Barebone (Ezra Miller).

When he came back to his home, Newt got unpredictable guest. They are Jacob Kowalski (Dan Fogler) and Quennie Goldstein (Alison Sudol). The purpose of their arrival is to tell Newt about their wedding plan. But, some misunderstanding happened between Jacob and Quennie and made Quinnie leave Jacob to find her sister, Porpentina Goldstein (Katherine Waterstone) in Paris. Hearing that Tina is in Paris, Newt has decided to go to Paris to meet Tina. After all, Newt still has a feeling for her. 

Then, what will Newt meet at Paris? Is there any relations with Grindelwald's plan? Psst. Actually, Newt got a personal request too from our beloved professor in Hogwarts, Albus Dumbledore (Jude Law). So, watch the movies and find the story.

Albus Dumbledore (left) is assured Newt Scamander (right) to go to Paris and find Credence.
Image credit: youtube.com
"Do you know why I admire you, Newt? You do not seek power. You simply ask, 'Is a thing... right?'" -- Albus Dumbledore.

***

Okay, let's start the review. Fyuuh. Take a deep breath. Inhale. Exhale.

To be honest, just like I said before, I got a mixed feeling after watch this movie. As a Potterhead, I want to like this movie. Moreover, this is one my wishlist movie to watch, but, I feel a little bit disappointed with the plot hole. Well, I know that this series intended to be 9 movie, if I remember correctly. So, I'm a little bit understand if there's some untold story in this movie. But, I think, there are a lot if scene that.. hmm.. jumping. I mean, I got some uncomfortable feeling when I saw a fast-changing-scene. Until, I questioned why the story suddenly to be like "this". I feel sad about that jumping scene.

Credence Barebone and Nagini
Image credit: inverse.com
Then, it's about effect that used in the entire movie. I have to admit that David Yates has been succeed to make a fascinating effect. The fantastic creatures looks so real.. but, I don't like the light effect in the beginning of the movie--when Grindelwald running away from MACUSA. Too fast and make me dizzy to some extend. Well, it's my opinion, tho. But, overall, I satisfied with what David Yates did to Fantastic Beasts.

Despite all of the controversy about Nagini (Claudia Kim), I think that snake-woman is fit with her. Even thought, I am more questioning why Nagini suddenly appear here? I think there's no urgent matter to make Nagini's appearance in this movie. I didn't see a critical role from her. Well, so did with Nicholas Flamel's appearance. I am surprised when I realized that Dumbledore's acquaintance is Flamel. Hmm, i feel like Rowling try to add so many character here but there's no major role from them. So, I am confused with the main story. Sigh.

Tina Goldstein and Newt Scamander in the Paris Ministry of Magic.
Image credit: denofgeek.com
Like everyone said, there's always be the bright side from the story. I mean, i feel entertained when Newt is trying to praise Tina with his "salamander" word. Lol. I laugh a lot. Can't help it, tho. Cause, it's really funny. Then, I like when the young Grindelwald is played by Jamie Campbell Bower. I never thought that he will appeared again in this movie. Well, Jamie is a minor role in the Harry Potter 7 part 2. 

Wait, I forget to mention Leta Lestrange (Zoë Kravitz) here. She is the first love of Newt. She is described as an independent and smart woman. Well, I know that she is part of Black family--remember Bellatrix Lestrange, right? But, she is the definition of a brave woman and.. in my assumption still love to Newt even though she is being Theseus' wife. I never thought that her life would be really suffering like that. Well, she is one of my favorite here.

"You're to good, Newt. You never met a monster you couldn't love." -- Leta Lestrange.
In conclusion, I like some part of this movie. I still do love the magical world. It's literally satisfy what Potterhead wants for Harry Potter franchise. But, sadly, there are so many plot holes that's bugging me in the entire me. Well, will I watch the next movie? I will say, yes I will. Cause, deep down there, I still Potterhead after all.

7 out of 10 stars for Niffler--eugh, he is so cute.

Sincereley,
Puji P. Rahayu

The Rose and the Dagger
Beberapa rahasia lebih aman berada di belakang kunci.

oleh Renee Ahdieh


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Rose and the Dagger
Seri: The Wrath and the Dawn #2
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult, Romance
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gaby Kusuma
Penata letak dan perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP (Imprint dari KPG)
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: viii+486 halaman
ISBN: 978-602-242-418-03

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.
Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Menjadi seorang pemimpin dalam tatanan struktur monarki bukanlah hal yang mudah. Meskipun takhta dalam sebuah kerajaan berdasarkan keturunan, nyatanya tidak menjamin setiap orang dapat mempercayai kemampuan dan kapabilitas dari pemimpin tersebut. Bayang-bayang pemimpin sebelumnya akan terus membayangi. Menjadi pemimpin Khorasan memang tidak mudah bagi Khalid. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia mendapat kutukan yang tidak bisa ia bagikan pada orang lain, membuat Khalid semakin tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

"Percayalah apa yang kau pilih untuk percayai. Tapi tetap saja, buktinya berdiri di hadapanmu." Shahrzad, hlm. 52
Sepenggal Cerita
Semenjak serangan yang dilancarkan di Rey, Shahrzad tinggal di padang gurun bersama dengan Tariq dan suku Badawi. Di sana pula, Ayah Shahrzad--Jahandar, dirawat. Adik Shahrzad, Irsa, juga tinggal di tempat itu. Di sana pulalah, Shahrzad mulai mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Di lain sisi, Khalid menyadari bahwa peperangan di Khorasan tidak dapat terhindarkan. Perselisihan dengan pamannya--Sultan Parthia, semakin memperumit keadaan. Belum lagi, kutukan yang masih menjadi beban Khalid masih belum dapat disembuhkan.

"Tapi jika kau bertanya kepadaku, cara terbaik untuk terbang adalah dengan memotong tali yang mengikatmu ke tanah..." Shiva, hlm. 68.
"Ketika aku berada di padang gurun, aku bangun setiap hari dan melanjutkan hidupku, tapi itu bukan hidup; aku hanya ada. Aku ingin hidup. Kaulah tempatku hidup." Shahrzad, hlm. 202
Dalam buku kedua ini, cerita mulai fokus pada kutukan Khalid dan juga kemungkinan perang antara Khorasan dan juga Parthia. Kisah romansa dari para tokoh pun mulai terlihat. Antara Khalid-Shahrzad-Tariq, Irsa dan Rahim, hingga Despina dan Jalal. Hemm. Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini pada akhirnya memang novel roman yang terbalut fantasi.

Resensi The Rose and the Dagger oleh Puji P. Rahayu
Sekelumit Pendapat
Entahlah. Setelah aku menyelesaikan membaca novel ini--yang membutuhkan waktu hampir dua minggu lebih, aku merasa kosong. Dalam artian, tidak banyak yang dapat kuingat saat membaca buku bersampul biru ini. Entah karena aku sedang tidak mood membaca atau bagaimana. Yang pasti, aku merasa tidak terlalu sreg saat membacanya.

Oh, bukan berarti aku tak menyukai ceritanya, ya. I means, aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Sejak buku satu pun, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya. Yaa, itu sebenarnya karena banyak banget celah yang ada di buku satu. Jadinya, aku berharap kalau di buku dua akan ada penjelasannya. Nyatanya... aku kurang puas dengan penjelasan di buku dua :( Menurutku banyak missing link dalam ceritanya. Bahkan, aku merasa kalau penyelesaian konfliknya... yaaa... gitu-gitu aja. Kurang seru. *digampar. 

"Ketika kita dihadapkan kepada ketakutan tergelap, tidak bertindak adalah pilihan bagi mereka yang lemah atau putus asa. Selalu ada sesuatu yang dapat dikatakan atau dilakukan. Meskipun kata-kata--"
"Hanyalah goresan di atas kertas." Musa dan Khalid

Kesimpulan
Terlepas dari ketidak-sreg-anku terhadap buku ini, aku masih merasa kalau duologi The Wrath and the Dawn masih worth to read. Disclaimer aja, sih. Jangan terlalu berharap fantasinya akan meluber-luber, ya. Aku masih merasa duologi ini memang banyak romans-nya. Hoho.

"Jadilah awal dan akhir, Shahrzad al-Khayzuran. Jadilah lebih kuat dari segala sesuatu di sekitarmu." Rajput, hlm. 393
3 bintang untuk kisah 1001 malam yang menawan ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu
Harry Potter and the Philosopher's Stone

Maybe, being a wizard isn't bad at all. They just have to know what they have and haven't do.

Harry Potter #1
by J.K. Rowling
 5 of 5 Stars

Image source: Bloomsburry

Date of read: January, 24th-26th, 2017
Author: J.K. Rowling
Year of Published: first published in 1997, this edition published in September 2014
Publisher: Bloomsbury Children
Type: Paperback
Language: English
Number of pages: 332 pages
ISBN: 978-14088-5565-221


When a letter arrives for unhappy but ordinary Harry Potter, a decade-old secret is revealed to him that apparently he’s the last to know. His parents were wizards, killed by a Dark Lord’s curse when Harry was just a baby, and which he somehow survived. Leaving his unsympathetic aunt and uncle for Hogwarts, a wizarding school brimming with ghosts and enchantments, Harry stumbles upon a sinister mystery when he finds a three-headed dog guarding a room on the third floor. Then he hears of a missing stone with astonishing powers which could be valuable, dangerous – or both. An incredible adventure is about to begin!


These new editions of the classic and internationally bestselling, multi-award-winning series feature instantly pick-up-able new jackets by Jonny Duddle, with huge child appeal, to bring Harry Potter to the next generation of readers. It’s time to PASS THE MAGIC ON …


***

Reading Harry Potter is one thing that I would like to do since I knew about Harry Potter. I know, actually, it's kinda late for me to start collecting Harry Potter Series, but, I don't care. I still like the way Rowling create her imagination. Harry Potter still being my favorite series. Maybe, many people around me wonder why I really like Harry Potter so much. Honestly, I am wondering the same thing. Why do I like this series so much? Perhaps, the reason behind this is about my childhood. Since I was in elementary school, Harry Potter movie has been caught by my eyes. I always wait every Harry Potter movies in telly. I love the magical world and I think, Rowling is the most genius person in fantasy. I know, I should try to read another fantasy author like Neil Geilman. I know it. But, until now, Rowling still make me love her story.

'All-all three of us?'
'Oh, come off it, you don't think we'd let you go alone?'
'Of course not. How do you think you'd get the stone without us?'
--conversation between Harry, Ron, and Hermione, pg. 291.

A Dash of Magic

The Bliss Bakery Trilogy #2
By  Kathryn Littlewood
4 of 5 stars

Sumber gambar: Goodreads.com
Diterjemahkan dari A Dash of Magic karya Kathryn Littlewood
Genre: Fantasi, middle-grade
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penyunting : @putronugroho
Penyelaras aksara: Aini Zahra, @kaguralian
Penata aksara: Garislingkar
Tebal buku :298 halaman
Tahun terbit: Juli 2015, cetakan ke-8
Penerbit: Noura Books, Mizan Fantasi
ISBN : 978-979-433-811-7
Harga : Rp34.650,- di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016

Rosemary Bliss rela melakukan apa pun untuk mendapatkan kembali Buku Resep ajaib milik keluarganya. Maka, dia menerima tantangan Bibi Lily untuk mengikuti kompetisi masak internasional di Paris. Jika Rose menang, Bibi Lily akan mengembalikan bukunya. Jika tidak, maka buku itu akan hilang selamanya. Didampingi keluarganya, kakek buyutnya, seekor kucing sarkastik, dan tikus Prancis, Rose berjuang demi menciptakan masakan spesial yang bisa membuatnya jadi pemenang. Bersama Ty dan Sage, Rose pun berkeliling Paris demi mendapatkan bahan-bahan ajaib: Rahasia Senyum Monalisa, Dentang Lonceng Notre Dame, Bisikan Kekasih, sampai Hujan Murni dari Puncak Eiffel.

Rose benar-benar tidak boleh kehilangan Bliss Cookery Booke untuk kedua kalinya!


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:
Amazon | Barnes and Nobles | Goodreads | Harper Collins

Novel ini merupakan kelanjutan dari Bliss dan semakin membuatku menyukai seri ini. Entah mengapa akhir-akhir ini aku memang tertarik untuk membaca buku-buku middle-grade. Mungkin karena aku memang butuh hiburan, mungkin juga karena aku sedang tidak ingin berpikir terlalu dalam mengenai novel yang kubaca.
Harry Potter and The Cursed Child

I didn't choose, you know that? I didn't choose to be his son. Albus, pg. 31.

By  J.K. Rowling, John Tiffany, and Jack Thorne
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Digital edition published by Pottermore Limited in 2016
Publisher              : Arthur A. Levine Books
Year of published : 2016
Genre                    : Fantasy, Drama, Young-Adult
Number of pages  : 327 pages
ISBN                    : 978-1-78110-704-1

The Eighth Story. Nineteen Years Later.

Based on an original new story by J.K. Rowling, Jack Thorne and John Tiffany, a new play by Jack Thorne, Harry Potter and the Cursed Child is the eighth story in the Harry Potter series and the first official Harry Potter story to be presented on stage. The play will receive its world premiere in London’s West End on July 30, 2016.


It was always difficult being Harry Potter and it isn’t much easier now that he is an overworked employee of the Ministry of Magic, a husband and father of three school-age children.


While Harry grapples with a past that refuses to stay where it belongs, his youngest son Albus must struggle with the weight of a family legacy he never wanted. As past and present fuse ominously, both father and son learn the uncomfortable truth: sometimes, darkness comes from unexpected places.

More info:

[Spoiler alert! You've been warned!]

First, I have to admit that I am one of Harry Potter's biggest fan. Since I collected every HP movie, I started to falling in love with Rowling's Wizarding World. I often check Pottermore.com to get new update about Harry Potter. When I heard that Rowling released her eight book, which is some sequel from Harry Potter series, I really excited. I started to made many speculations in my head about Albus-Scorpius Journey.

The Life and Adventures of Santa Claus
Kisah Hidup dan Petualangan-petualangan Santa Claus
"emang benar, banyak pejuang besar, raja-raja hebat, dan cendekiawan-cendekiawan yang sering pula dibicarakan orang; tetapi tidak ada satu pun yang begitu disayang seperti Santa Claus, sebab tidak ada yang seperti dirinya, mengabdikan hidupanya untuk membuat orang-orang lain bahagia. hlm. 111

By L. Frank Baum
3 of 5 stars

Image source: goodreads
Judul asli                             : The Life and Adventures of Santa Claus
Genre                                   : Fantasi, children book
Alih bahasa                          : Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi sampul : Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit                                : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                          : 2014
Tebal buku                           : 152 halaman
ISBN                                    : 978-602-03-1128-9
Harga                                   : Rp31.500,- di TM Bookstore, Depok Town Square


Suatu hari di Hutan Burzee. Ak yang Agung, Penguasa Hutan-Hutan di dunia, menemukan bayi manusia. Tanpa pertolongannya, bayi itu tentu sudah dimangsa singa. Necile, si peri-hutan, merawat bayi itu dan menamainya Claus. Dan dia hidup damai bersama para penghuni hutan.

Ketika Claus semakin dewasa, dia merasa harus kembali ke dunia manusia. Hatinya tersentuh ingin membahagiakan anak-anak yang dilihatnya. Dia pun mulai membuat mainan, dan membagikannya. Namanya semakin dikenal dan anak-anak menyayanginya, sebab dia sahabat mereka. Tetapi jalannya tidak selalu mulus. Ada makhluk-makhluk hutan yang tak senang dan berusaha menghalangi, bahkan mencelakai Claus.


Informasi lebi lanjut dapat dibaca di:

Membaca buku anak menjadi salah satu hal yang aku sukai. Kenapa? Selain serasa bernostalgia, membaca buku anak tidak terlalu membutuhkan kondisi otak yang prima. Haha. Intinya sih, membaca buku anak serasa membaca bacaan santai yang bisa membuat otak lebih relaks. Tentunya, The Life and Adventures of Santa Claus bisa menjadi pilihan yang tepat untuk bersantai.
Fantastic Beasts & Where to Find Them
Hewan-hewan Fantastis & Di Mana Mereka Bisa Ditemukan
"Pemahaman yang sepotong-potong sering kali lebih berbahaya daripada ketidaktahuan."

By Newt Scamander
3.5 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Judul asli     : Fantastic Beasts & Where to Find Them
Penulis        : Newt Scamander a.k.a J.K. Rowling
Genre         : Fantasi
Alih bahasa : Komalawati Suhendra
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Oktober, 2015. Cetakan kesepuluh.
Tebal buku  : 136 halaman
ISBN          : 979-602-03-1827-1
Harga          : Rp45.000,- di TM Bookstore, Depok Town Square.

Hampir setiap rumah para penyihir di seluruh negeri pasti memiliki satu eksemplar buku Fantastic Beasts and Where to Find Them—Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan. Kini hanya untuk waktu terbatas, Muggle juga mendapat kesempatan untuk mengetahui di mana Quintaped hidup, apa yang dimakan Puffskein, dan mengapa jangan sampai menyisakan susu untuk Knarl. Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan pada Comic Relief, yang berarti rupiah dan Galleon yang kautukar dengan  buku ini akan melakukan sihir melampaui kekuatan penyihir mana pun. Jika kau merasa ini bukan alasan yang cukup kuat bagimu untuk berpisah dengan uangmu, aku hanya bisa berharap para penyihir yang lewat merasa berbuat lebih baik jika mereka melihatmu diserang Manticore.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Fantastic Beasts merupakan bentuk ensiklopedia yang disusun oleh Newt Scamander, seorang lulusan Hogwarts yang berkeliling dunia untuk memahami lebih lanjut mengenai hewan-hewan fantastis. Dalam buku setebal 136 halaman ini, Scamander memaparkan berbagai hewan yang ia temui secara alfabetis. Beberapa hewan sudah kita kenal di serial Harry Potter. Mulai dari Acromantula, Basilisk, dan Pixie. Sedangkan, yang lainnya merupakan hewan-hewan yang belum kita kenal.
The School for Good and Evil #2
Dunia Tanpa Pangeran
"Semua kisah dongeng bisa diputarbalikkan demi mencapai suatu tujuan."--hlm. 200.

By Soman Chainani
3.5 of 5 stars

Judul asli          : The School for Good and Evil 2: A World Without Prince
Ilustrasi             : Iacopo Bruno
Genre               : Fantasy, Young Adult, Middle Grade.
Pengalih bahasa : Kartika Sofyan
Penyunting         : Agatha Tristanti
Desain               : Yanyan Wijaya
Tebal buku        : 512 halaman
Tahun terbit       : Juni 2015, Cetakan kedua.
Penerbit             : Bhuana Sastra (Imprint dari PT. BIP)
ISBN                 : 978-602-249-949-7
Buntelan dari penerbit.

Sophie dan Agatha telah berhasil pulang ke Gavaldon, menjalani "bahagia selamanya" versi mereka. Namun, hidup tak seperti dongeng yang mereka harapkan. 



Agatha diam-diam berharap seandainya ia memilih akhir bahagia yang lain bersama pangerannya. Permohonan rahasia itu membuka kembali pintu menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak disangka, dunia yang dulu pernah ia ketahui bersama Sophie ternyata telah berubah. 

Penyihir dan putri, tukang tenung dan pangeran, bukan lagi musuh. Ikatan baru telah terbentuk, menghancurkan hubungan lama. Namun dibalik hubungan yang rumit antara Kebaikan dan Kejahatan ini, perang sedang dipersiapkan. Musuh yang sangat berbahaya tersembunyi dibalik topeng wajah yang mereka kenal. Saat Agatha dan Spohie berjuang untuk memulihkan kedamaian, sebuah ancaman tak terduga bisa menghancurkan segalanya dan semua orang yang mereka cintai. kali ini, ancaman itu datang dari dalam diri mereka sendiri. 


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:


Well, first thing first. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Dian yang menawariku untuk meresensi buku kedua dari seri The School for Good and Evil. Sejak pertama kali aku membaca tulisan Soman Chainani ini, aku penasaran dengan akhirnya. Bisa dibilang, akhir dari seri satu memang cukup menggantung. Bahkan, masih banyak misteri yang tersimpang. Alhasil, saat aku ditawari untuk meresensi buku ini, aku langsung bersemangat untuk menerimanya. Bahkan, aku mencoba untuk menyelesaikan membaca buku ini di tengah-tengah kesibukanku mengerjakan tugas di semester lima.

Night Star
"Keinginan-keinginan tidak selalu terjadi dengan cara yang kita kira, tapi jika kita percaya, dan membuka pikiran kita, ada peluang bagus mereka akan terwujud dalam bentuk tertentu."

The Immortals #5
By Alyson Noel
2 of 5 stars

Source: goodreads
Penerjemah           : Nuraini Mastura
Penyunting            : Rina Wulandari
Penyelaras Aksara : Tisa Anggriani
Penata Aksara        : elcreative
Desain Sampul      : Windu Tampan
Penerbit                 : Mizan Fantasi
Tahun Terbit          : Desember 2011, cetakan pertama
Tebal Buku            : 377 halaman
ISBN                     : 9789794336519

Dan tiba-tiba saja, aku menyadari ... Dialah satu-satunya. 
Selalu begitu di masa lalu. Selalu akan begitu di masa depan.
Sebuah fakta yang bahkan diperjelas selagi aku menjalani kembali adegan-adegan dari masa hidupku yang terakhir.

Kisah cinta segitiga Ever, Damen, dan Jude masih berlanjut. Setelah Jude membunuh Roman, Ever yang kecewa karena tidak berhasil mendapatkan ramuan penawar untuk Damen, benar-benar marah pada Jude. Berbagai cara dilakukan Jude agar Ever memaafkannya. Namun, Ever tidak peduli.

Ever hanya peduli tentang bagaimana menyelamatkan Damen. Dan kini, Ever mengetahui cara untuk mendapatkan ramuan itu kembal. Satu-satunya cara yang tidak mudah, karena Ever harus berhadapan dengan Haven, sahabatnya sendiri.

Di tengah usahanya mendapatkan ramuan, Ever melakukan perjalanan ke Shadowland--dunia bagi jiwa-jiwa yang tersesat. Sebuah perjalanan yang menguak siapa sebenarnya orang yang selama berabad-abad telah dicintai Ever.

***

Apa yang kamu lakukan kalau kenyataan yang terhampar di hadapanmu ternyata menyimpan rahasia-rahasia yang tidak pernah kamu duga?

Setelah Roman mati di buku sebelumnya, harapan Ever untuk mendapatkan ramuan penawar untuk Damen pupus sudah. Jude yang bertanggung jawab atas kematian Roman merasa bersalah dan berulang kali meminta maaf pada Ever. Akan tetapi, Ever tetaplah menjadi Ever. Ia tak menggubris permintaan maaf tulus dari Jude.

The School for Good and Evil
(Sekolah Kebaikan dan Kejahatan)
Di hutan purbakala
Berdirilah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan
Dua menara bagai kepala kembar
Satu untuk yang tulus, satu untuk yang keji
Sia-sia mencoba kabur
Satu-satunya jalan keluar adalah melalui dongeng

The School for Good and Evil #1

By Soman Chainani
3 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Alih Bahasa        : Kartika Sofyan
Penyunting          : Agatha Kristanti
Penata Letak        : Veranita
Desain                 : Yanyan Wijaya
Penerbit               : Bhuana Sastra
Tahun Terbit        : 2014
Jumlah Halaman : 580 halaman
ISBN                   : 9786022497561
Baca via iJakarta


Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.


Namun ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?



Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.


***

Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku kepo banget sama novel ini. Waktu aku ke toko buku, rasanya pengin nyomot buku ini karena memang blurbnya bagus. Ahh, rupanya aku kurang beruntung dalam segi finansial. Iya. Tahun ini hampir nggak dapet THR :( Ish. Padahal kan pengin bisa beli novel banyak. Berhubung kesel nggak bisa dapet THR banyak-banyak, akhirnya aku lagi-lagi memanfaatkan iJak. Haha. Dan, tiba-tiba saja novel ini nongol dan tanpa pikir panjang langsung aku pinjam, By the way, sampai tulisan ini ditulis, yang pinjem masih sedikit loh. Masih banyak copy yang tersedia untuk novel ini di iJak. Jadi, kalau mau baca, sila kunjungi iJakarta ya. Hehe. 

Biasanya yang berbeda menjadi jahat.

Ketertarikanku terhadap novel ini tentunya dari judulnya. The School for Good and Evil. Otomatis, aku bertanya-tanya dong. Ini cerita tentang apa? Apalagi, waktu baca blurbnya, aku langsung tertarik. Ditambah lagi, ilustrasi yang digunakan untuk sampul novel ini unik dan bikin aku pengin baca. Aku memang pembaca lintas genre. Fantasi merupakan salah satu genre yang aku suka. Sehingga, adanya novel ini membuatku girang sendiri.