Showing posts with label Read in 2018. Show all posts
Showing posts with label Read in 2018. Show all posts

Represi

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." - Nabila.

oleh Fakhrisina Amalia

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads
Judul : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Genre : Young Adult
Editor : Tri Saputri Sakti
Proofreader : Tisya Rahmanti
Ilustrasi sampul : Orkha Creative
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 264 halaman
ISBN : 9786020611945
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.
Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.
Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Represi. Awalnya, saya tidak berekspektasi apa-apa terhadap novel yang satu ini. Pertama kali menemukan novel ini di Gramedi Digital, saya berharap bisa menemukan bacaan ringan. Toh, saya memang sedang mengalami reading slumps kala itu. Ternyata, apa yang saya temukan, tidak seperti dugaan saya di awal. Novel ini cukup kompleks dan tidak seringan yang saya kira.

Apakah kamu pernah merasakan keinginan untuk mati? Keinginan untuk mengakhiri hidupmu karena kamu merasa sudah tidak berguna lagi?
Anna baru saja pulih dari percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Meskipun begitu, Anna tahu bahwa dirinya masih tidak baik-baik saja. Dia belum terbiasa untuk menjalani hidupnya kembali. Bagaimanapun, Anna merasa dirinya adalah sosok yang telah tidak berguna. 

Image credit: pixabay, edited by me
Pada mulanya, Anna adalah gadis yang biasa-biasa saja. Dalam artian, dia memang bukan gadis populer, tapi Anna punya empat sahabat yang selalu mendengarkan dirinya. Saka, Ouji, Nika, dan Hani. Keempat sahabat Anna tersebut selalu mendukung seluruh keputusan Anna. Bahkan, Saka adalah salah satu sahabat Anna yang sangat peduli pada Anna. Saka pernah memberi Anna seekor kucing yang dinamai Serafina. Hewan berkaki empat itu menjadi hewan kesayangan Anna. Saka selalu membantu Anna dalam merawat Serafina.

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." Anna.
Sampai kemudian, munculah Sky. Teman basket pacar Nika yang menyedot seluruh perhatian Anna. Cowok itu berhasil membuat Anna benar-benar terfokus padanya. Seolah-olah, hidup dan mati Anna berpusat pada sosok Sky. Sejak saat itulah, dunia Anna berubah. Bahkan, seratus delapan puluh derajat. Anna semakin sering absen ketika ada kumpul-kumpul bersama sahabatnya. Bahkan, Anna juga berbohong kepada ibunya--hal yang sebelumnya tidak pernah Anna lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, mengapa sekarang Anna begitu trauma akan nama Sky di telinganya?

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." Nabila.

***

Novel ini menceritakan kehidupan Anna pasca percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Menggunakan alur flashback, penulis mencoba untuk mengungkap kehidupan Anna jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan bongkahan es yang disembunyikan Anna dari teman-teman terdekatnya. Saya memang bisa menduga ada hal buruk yang terjadi di antara Sky dan Anna, tapi saya tidak menyangka akan ada hal lain yang terungkap selain kejadian tersebut.

Kenapa dia tidak boleh menangis? Kenapa dia harus kuat untuk bisa menjadi anak Ibu dan Ayah? Kenapa tidak pernah sekali saja orangtuanya menerima tangisannya tanpa mengatakan apa pun jika mereka tidak bisa memberikan kalimat penghiburan yang lebih baik? -Anna.
Saya tahu, saya memang tidak pernah merasakan dorongan kuat untuk bunuh diri seperti yang Anna rasakan, akan tetapi, saya tahu orang lain pasti pernah merasakannya. Perasaan bahwa kita tidak bisa apa-apa. Bahwa kita tidak lagi berguna karena kejadian-kejadian traumatis di masa lalu. Pastinya, hal tersebut tidaklah mudah. Oh, ayolah. Sebuah keinginan untuk melupakan seseorang di masa lalu saja sulit untuk dilakukan, bagaimana dengan melupakan kejadian traumatis yang terus terbayang?

"Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri." - Saka.
"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti." - Nabila. 
Jujur, saya agak sedikit bosan ketika membaca Represi. Meskipun, saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Anna. Mungkin, karena saya belum punya mood membaca yang begitu baik. Alhasil, demikianlah jadinya. Akan tetapi, saya menyukai ide yang Fakhrisina bawa. Saya rasa, membahas mental health dalam novel young adult bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimanapun, Fakhrisina harus mencoba untuk mengupas isu ini dalam bahasa yang sesuai dengan para pembaca.

Kalau ditanya siapa tokoh yang sukai, saya akan menjawab itu adalah Nabila. Psikolog yang membantu kesembuhan Anna. Sosok yang begitu tenang dan bisa memahami pasiennya. Yes, I know that's her duty, but, she's just a wise person after all. Untuk tokoh Anna sendiri, saya punya love-hate feeling terhadapnya. Saya kadang kesal ketika membaca kisah masa lalu Anna dan Sky. Anna ini terlalu penurut dan Sky, well, he is a bastard. Enough said. Cukup menyebalkan tentunya ketika membaca tentang hubungan yang toxic seperti itu.

"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kecemasan adalah sesuatu yang membuat dirimu bekerja keras dan menderita dua kali lipat." - Nabila.
Dengan segala kekompleksannya, saya rasa, novel ini patut dibaca. Apalagi kalau kamu mencoba mencari bacaan yang berhubungan dengan mental health. Novel ini tentunya dapat menjadi pilihan yang pas.

3 bintang untuk Serafina, kucing Anna yang sangat lucu dan menggemaskan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

Sing Me Home

Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tidak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.

oleh Emma Grace

2.5 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul buku : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace
Genre : Romance
Kategori : Young adult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 272 halaman
ISBN : 978-602-03-3571-1
Baca via Gramedia Digital


Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sing Me Home merupakan salah satu novel yang saya baca karena saya tertarik dengan sampul bukunya. Baiklah. Tidak seharusnya saya menilai sebuah novel dari sampulnya saja. Saya masih ingat kok, kalau pada dasarnya kita tidak bisa judge a book from its cover. But, I couldn't help. Sing Me Home's cover is really attractive. I like the concept and the illustration. 

Okay, then. Let's move to my review. Sing Me Home merupakan novel young adult yang ditulis oleh Emma Grace. Jujur, saya belum pernah membaca karangan Emma sebelumnya. Pun, saya juga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap novel ini.

Gwen adalah seorang penari. Ia mencintai tari dengan sepenuh hidupnya. Permasalahannya, orang tua Gwen, terutama mamanya, tidak menyetujui keinginan Gwen untuk menjadikan tari sebagai tujuan hidupnya. Hal ini membuat Gwen yang tidak terima dengan keputusan mamanya, melakukan berbagai cara untuk bisa menari dan mengikuti audisi untuk performing arts school, termasuk diam-diam mengikuti audisi yang sudah diusahakan oleh pelatihnya, Savannah.

Kau tahu perasaan paling indah di dunia, Sav?"
"Ya?"
"Ketika kau menari dengan kakimu, dengan lantunan musik indah mengiringimu. Saat kau membiarkan semuanya, di dalam dan di luar dirimu menguap. Semua hal, kecuali tarianmu sendiri."
-- Gwen dan Savannah

Selain permasalahan dengan orang tuanya, kehidupan Gwen juga dibayangi oleh sosok laki-laki yang sulit untuk Gwen lupakan, Hugo. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup Gwen dan membuat Gwen merasa sangat berarti. Sayangnya, kedatangan Corrine membuat semua hal itu berubah.

Di tengah kebimbangan dan rasa sesak yang Gwen rasakan, munculah Jared, seorang fotografer yang suka memotret Gwen ketika menari. Lalu, bagaimana akhir kisah Gwen? Apakah dia akan tetap menari? Ataukah ia menyerah atas keinginan orang tuanya? Lalu, pada hati siapakah hati Gwen akan berlabuh?

"Aku tak pernah tahu kamu memperhatikan setiap hal dengan detail.""Memang tidak. Tidak setiap hal. Aku memperhatikanmu"
-- Gwen dan Jared
Sing-Me-Home-Emma-Grace
image credit: wallpaper-house.com, edited by me.

Well, I have to admit that this kind of story is kinda cliche. Even, I can sense the main story of it from the beginning. Akan tetapi, bukan berarti seluruh bagian dari novel ini dapat begitu saja ditebak. Ada bagian, terutama alasan kerasa Mama melarang Gwen menari, yang membuat saya cukup terkejut dan menggumamkan 'oh' pelan.

Kalau menurut saya, pada dasarnya novel ini mengajarkan pembaca untuk tetap berusaha menggapai mimpinya. Satu hal yang positif memang. Saya pun menyetujui premis yang dibawakan oleh Emma Grace, despite I never read her work before. 

Akan tetapi, lagi-lagi bukan berarti saya bisa menyukai karakter-karakter yang ada. Bagi saya, Gwen merupakan sosok yang cukup menyebalkan. Oke, saya memang menghargai kegigihannya, tapi, sisi egois Gwen membuat saya memutar bola mata. 

Kemudian, sosok Jared di sini seolah dibuat menjadi karakter yang 'seharusnya' tidak disukai. Padahal, menurut saya sosok Gwen lah yang membuat Jared seperti tersangka. Heuf. Saya tak tahu harus berkomentar apa.

"Tenang saja, Gwen. Kamu tak harus menjawab atau melakukan apa pun. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan padamu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku memberikan buku itu."
-- Jared
Jangan menghancurkan hati orang lain, Gwen. Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia."
-- Hanna
Kemudian, ada satu bagian lagi yang membuat saya mengernyitkan kening. Intinya, Corrine akan dibawa ke Kalimantan untuk mendapatkan penyembuhan. Hmm.. have I read it wrong? Bukannya saya merendahkan, hanya saja.. saya tahu Kalimantan merupakan daerah di Indonesia yang membutuhkan pembangunan. Dan saya tahu hal tersebut tidak mudah. Kalimantan punya pekerjaan rumah yang sangat besar. Jadi, I'm a little bit rolling my eyes when the author write that. I think it's more make sense if she intend to make Corrine goes to Singapore for better medication. But, if I'm wrong about this, just correct me.

Jadi, pada intinya, Sing Me Home merupakan jenis novel yang mudah dicerna. Apalagi karena memang termasuk young adult novel. Hanya saja, saya tidak bisa membuat diri saya jatuh cinta pada karakter yang ada.
"Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
-- Ms. Lockhart
2.5 bintang untuk Hanna, sahabat Gwen yang menurut saya masih waras.

Best regards,
Puji P. Rahayu.

Charlie and the Chocolate Factory
"Oh, how he loved that smell! And oh, how he wished he could go inside the factory and see what it was like!"

by Roald Dahl

4 of 5 stars


image credit: goodreads.com
Title: Charlie and the Chocolate Factory
Author: Roald Dahl
Genre: Fantasy, children book
Series: Charlie Bucket #1
Illustrator: Quentin Blake
Publisher: Puffin Books, Penguin Group
ISBN: 978-0-141-96061-6
Year of publish: 2010
Number of pages: 271

Willy Wonka's famous chocolate factory is opening at last!

But only five lucky children will be allowed inside. And the winners are: Augustus Gloop, an enormously fat boy whose hobby is eating; Veruca Salt, a spoiled-rotten brat whose parents are wrapped around her little finger; Violet Beauregarde, a dim-witted gum-chewer with the fastest jaws around; Mike Teavee, a toy pistol-toting gangster-in-training who is obsessed with television; and Charlie Bucket, Our Hero, a boy who is honest and kind, brave and true, and good and ready for the wildest time of his life!

More info:

Like I said before, children book was a kind of book that I like the most. The reason was, because children book was a type of light reading, and no need more effort to finish it. Well, actually, Roald Dahl's book have been on my reading list since.. I didn't know.. maybe one year ago? Sadly, I didn't have much chance to read it but now. I found this epub at one of telegram channel that I subscribed. Then, I felt lucky cause finally I can read it.

"You never know, darling. It's your birthday next week. You have as much chance as anybody else."
-- Grandma Georgina
So, if you read about Charlie and the Chocolate Factory, I won't blame you if you did comparison with the movie. Yeah, you will picture Johny Depp as Willy Wonka. To be honest, I did that too when I read this book.

Just like at the movie, the story began when Willy Wonka decided to open his factory for five lucky children who got golden ticket on their chocolate bar. Charlie is a boy from a very poor family. Buying chocolate was something that really precious for Charlie, because he could only get it once per year, and it's on his birthday. Everyone, start from Charlie then his parent and grand parents, hope that Charlie could get the chance to enter Wonka's Chocolate Factory. So, even though they can't expect too much from one chocolate bar, all of them wish Charlie could get that golden ticket. Long story short, after so many drama here and there, finally Charlie can get that golden ticket. Yeay!

"He spoils her. And no good can ever come from spoiling a child like that, Charlie, you mark my words."
-- Grandpa Joe.
How about the other four? Okay.. Let's see.. when I read this book, I don't know why but I was starting remember the seven deadly sins. There's Augustus Gloop who's really like to eat. Like there's no tomorrow if he can't eat now. So, yeah, I think Augustus stands for gluttony. Next, Veruca Salt. Veruca is a type of girl who want anything. Because her parent spoiled her so much, Veruca thought that he can get anything she want. That's why, her attitude makes me remember about the greed sin. Then, there's Violet Beauregarde. I thought, Violet stands for pride because she was really enjoying showing off her talent--event the disgusting one. The last, a boy who's named Mike Teeves. He really like watching television and I thought he was part of sloth sin. Okay, I know that it shouldn't be like that. But, I just remember about that sin when I read it.
"Are the Oompa-Loompas really joking, Grandpa?"
"Of course they're joking. They
must be joking. At least, I hope they're joking. Don't you?"
-- Charlie and Grandpa Joe
In my opinion, children book is a simple story that can give you many moral values. Road Dahl was succeed bring many moral values with the story of Charlie. Then, if you asked about the movie adaptation, hmm, it wasn't much different actually. But, maybe there was some differences here and there. But so far, I enjoyed reading this book. Moreover, the illustration from Quentin Blake was match with the story. I like it.
"How can they see where they're going?"
"There's no knowing where they're going!"
-- Violet Beauregarde and Mr. Willy Wonka
So, if you wanna have some nostalgic memory about your childhood, Charlie and the Chocolate Factory could be your choice. 

4 stars for Charlie :)

Sincerely,
Puji P. Rahayu