Showing posts with label Book Review. Show all posts
Showing posts with label Book Review. Show all posts
Image: Canva, edited by me

Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah
Penulis: Grace Tioso
Tebal buku: 396 halaman
Tahun terbit: 1 Juni 2023
Penerbit: Nour Publishing
ISBN: 9786232423985
Baca fisik

Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!

*** 


Perkumpulan Anak Luar Nikah menjadi salah satu wishlist-ku tahun ini. Melihat hype-nya di media sosial, membuatku penasaran, fiksi sejarah seperti apa yang dicoba diangkat oleh Grace. Awalnya, aku berniat membacanya via Rakata. Akan tetapi, karena aku mengalami kendala di aplikasi itu, aku memutuskan untuk membeli versi fisiknya saja. To be honest, aku tidak menyesal membeli versi fisiknya karena ceritanya memang sangat-sangat menarik dan berkesan.


The Story


Kisah bermula dari artikel berjudul "Shocking Confession from an Indonesian's Ex-ASEAN Scholarship Recipient" yang mengguncang media sosial dalam semalam. Mulai dari situ, hidup Martha yang awalnya tenang-tenang saja, langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Melalui permainan "25 Question About Me" yang ia unggah di blognya belasan tahun lalu, dunia tahu kalau Martha pernah memalsukan dokumen legal dan menggunakannya untuk mendaftar beasiswa. Iya, beasiswa yang mengantarkan dirinya berkuliah di salah satu kampus terbaik di Singapura.


Memalsukan dokumen legal di negara yang penuh kedisplinan itu tentu saja akan membuat hidup Martha sepenuhnya tidak baik-baik saja. Ia harus berhadapan dengan aparat hukum dan kemungkinannya dia akan dipenjara. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anaknya, keluarganya, dan juga teman-temannya?


The Opinion


Sedari awal aku membaca blurb novel ini dan sejumlah ulasan singkat di Twitter, tersebut-sebut kalau PALN akan mengangkat sisi lain dari China-Indonesian. Berhubung aku tahu memang ada sejumlah dokumen dari teman-teman Tionghoa yang sengaja diberi tanda berbeda, aku sudah mengira arah dari pemalsuan dokumen itu ke sini. Akan tetapi, aku baru betul-betul tahu soal istilah anak luar nikah melalui novel ini. Jadi, ketika aku mengetahui mengapa sampai ada istilah anak luar nikah dan bagaimana awal mulanya, aku speechless. Iya, aku tahu kalau memang ada diskriminasi terhadap teman-teman Tionghoa di negeri ini, tapi ternyata banyak juga yang belum aku pahami.


Novel ini memang memiliki genre fiksi sejarah, tapi bukan berarti kisah Martha ini terjadi di masa lampau. Kisah ini terjadi di masa sekarang. Sayangnya, dampak diskriminasi dan represi yang dialami oleh keluarga Martha maupun suaminya, Ronny, masih terasa sampai sekarang. Oh, ya. Meskipun novel ini memang fokus pada kasus legal Martha, banyak kilas-balik yang diceritakan tak hanya berfokus pada masa lalu Martha. Ada kehidupan Ronny, kedua sahabat Martha, Fanny dan Linda, sepupu Martha, Yuni, hingga wartawan dari The Hongkong Post yang ingin mengangkat kisah Martha, Krisna.


Melalui novel ini, Grace Tioso mencoba untuk mengungkap bahwa diskriminasi dan represi yang dialami oleh teman-teman Tionghoa bahkan bisa dilihat kelindannya sejak tahun 65. Hal ini tidak mengherankan karena setelah aku membaca Metode Jakarta, aku memahami ada semacam pergeseran kebencian kolektif yang dicoba dilanggengkan. Sayangnya, kebencian tersebut malah mengarah ke teman-teman Tionghoa. Selain peristiwa 65, tentu saja kerusuhan tahun 1998 menjadi salah satu titik balik dari sejumlah tokoh dari novel ini, seperti Ronny yang enggan untuk kembali ke Indonesia.


Pun ketika Ronny dan juga Linda dan Fanny mempertanyakan keputusan Martha untuk mengelola salah satu akun anonim Twitter yang membahas politik, aku juga bisa memahami kenapa selalu ada ketakutan di sana. Seorang Chindo bersinggungan dengan politik? Itu akan jadi keputusan yang sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Akan ada banyak pertimbangan di sana.


Conclusion


Rasanya, aku sudah lama sekali aku terakhir merasa tersentuh dengan bacaan yang aku baca. Nah, entah kenapa, di bagian-bagian akhir, aku bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan Martha. Jadi, teman-teman, kalau sempat, bacalah novel ini dan kalian akan sedikit memahami bagaimana struggle teman-teman Tionghoa, yang mungkin belum pernah kita sadari sebelumnya. 


Berhubung kerja-kerjaku juga dekat dengan isu-isu ini to some extent, aku merasa beruntung bisa mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tapi aku yakin, masih banyak yang belum aku ketahui. Jadi, aku akan berupaya untuk mencari tahu lebih banyak lagi.


5 dari 5 bintang untuk fiksi sejarah yang unik ini.


Judul: Dona Dona
Seri: Before the Coffee Gets Cold #3
Penulis: 
Toshikazu Kawaguchi
Tebal buku: 264 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita.

Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya.

Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…


***

Suatu hari, Yukari Tokita, manajer kafe Dona Dona yang berada di Hakodate, Hokaido, memutuskan pergi ke Amerika tanpa tahu kapan akan kembali. Kabarnya, Yukari berupaya membuat seorang anak laki-laki yang ingin menemukan ayahnya. Keputusan mendadak Yukari tersebut pada akhirnya membuat Nagare, putra Yukari, rela mengambil alih kafe Dona Dona untuk sementara.

Dengan demikian, Nagare pun terpaksa meninggalkan Funiculi Funicula dan juga terpisah dengan putri semata wayangnya, Miki, yang berada di Tokyo. Kazu dan putrinya, Sachi, juga ikut bersama Nagare ke Hokaido. Di kafe Dona Dona, kita akan banyak bertemu dengan Reiji (pekerja paruh waktu di kafe tersebut), Nanako (teman masa kecil Reiji), dan juga Saki (seorang psikiater yang juga pelanggan reguler di Dona Dona).

Berhubung usia Sachi sudah menginjak tujuh tahun, maka tugas untuk menuangkan kopi yang bisa membawa orang ke masa lalu tetap bisa dilakukan. Nah, ternyata banyak sekali kisah-kisah yang menarik di buku ketiga dari serial ini. Aku rasa, kisah-kisah yang ada semakin solid dan pesan yang disampaikan jauh lebih gamblang daripada dua buku sebelumnya.

Kisah yang paling aku ingat mungkin kisah pertama dan juga terakhir. Kisah pertama menceritakan seorang perempuan muda yang ingin kembali ke masa lalu untuk protes kepada kedua orang tuanya yang meninggal saat ia masih kecil. Ia merasa dirinya telah ditinggalkan sendirian dan dibiarkan menderita sedemikian rupa. Sedangkan, kisah terakhir aku lebih terkesan karena twist yang disajikan di akhir.

Salah satu pesan yang paling aku ingat dari buku ini adalah, bagaimana kehidupan seseorang tidak akan berhenti meski orang yang mereka cintai telah tiada di dunia ini. Bahkan, orang yang masih hidup, harus terus berjuang dan berupaya tetap hidup demi orang yang ia cintai tersebut. Maka dari itu, tulisan Yukari di bagian akhir akan sangat relatable.

"Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan."


Tentu ketika seseorang kehilangan, maka ia berhak berduka dan setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk berdamai dengan kedukaannya. Akan tetapi, bukan berarti hidupnya akan langsung berhenti begitu saja. Setiap orang berhak untuk tetap bahagia setelah merasakan kehilangan.

Selain pesan yang lebih tersurat, aku rasa dalam buku ini, Kawaguchi sensei menuliskan kisah Dona Dona lebih seperti antologi. Maka dari itu, ada sejumlah pengulangan informasi di setiap bab. Lalu, menurutku, gaya bahasa di buku ini juga jauh lebih mengalir dibandingkan dua buku sebelumnya. Sepertinya, sosok Yukari di buku ini menjadi tokoh yang cukup sentral. Sejumlah peristiwa yang terjadi, selalu saja berkelindan dengan hasil campur tangan Yukari.

Jadi, sepertinya di buku keempat nanti, akan lebih banyak dibahas bagaimana awal mula perempuan Keluarga Tokita bisa membawa orang ke masa lalu, dan masa depan. Lalu, mungkin juga akhirnya akan terjawab, apa yang sebetulnya sedang dilakukan Yukari di Amerika sana.


4.5 dari 5 bintang untuk kelakuan Sachi yang menggemaskan.


Salam,
P.P. Rahayu

Judul: I Want to Eat Your Pancreas
Penulis: Yoru Sumino
Penerbit: Seven Seas
Tahun terbit: 2016
Pertama kali diterbitkan pada tahun 2014

A high school boy finds the diary of his classmate--only to discover that she’s dying. Yamauchi Sakura has been silently suffering from a pancreatic disease, and now exactly one person outside her family knows. He swears to her that he won’t tell anyone what he learned, and the shared secret brings them closer together in this deeply moving, first-person story that traces their developing relationship in Sakura’s final months of life.

***

Sesungguhnya, I Want to Eat Your Pancreas ini merupakan buku rekomendasi dari Kak Chei untuk 12 Challenge. Berhubung setelah aku cek kalau buku ini juga merupakan debut novel dari Yoru Sumino--dan kebetulan berarti masuk ke prompt pertama di BTS Book Club Reading Challenge, akhirnya aku putuskan untuk membacanya. 

Awalnya, aku pikir I Want to Eat Your Pancreas ini novel Korea. Soalnya, dulu seingatku buku ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Haru dan kebanyakan k-book yang diterbitkan. 

Aku paham, kok, kenapa banyak yang suka dengan buku ini. Sebagai light novel, buku ini berhasil menceritakan kisah romansa antar dua orang remaja ini dengan sederhana. Akan tetapi, entah mengapa, aku merasa bosan saat membaca perjalanan mereka.

The Story

Sakura Yamauchi mengidap kanker pankreas. Tak ada seorang pun yang mengetahui penyakitnya itu kecuali keluarganya. Bahkan, ia enggan memberi tahu sahabat baiknya, Kyoko.

Suatu hari, saat berada di rumah sakit, Sakura bertemu dengan tokoh "aku". Tokoh "aku" mengenal Sakura sebagai cewek kawan sekelasnya yang memiliki kepribadian jauh berbeda darinya. Tokoh "aku" sama sekali tak mengerti mengapa Sakura memberitahu dirinya soal penyakitnya. Ia juga masih tak punya jawaban kenapa Sakura ingin menghabiskan masa hidupnya bersama dengan dirinya.

Mengambil sudut pandang dari tokoh "aku", kita akan diajak mengenal Sakura. Sosok yang begitu cheerful tapi sebenarnya punya rahasia tersendiri. Meskipun ia sakit, Sakura selalu berupaya untuk tetap hidup normal. Ia pun berusaha melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan sebelum ia harus pergi meninggalkan dunia ini.

My Thoughts

Bagiku, premis yang dibawakan menarik, kok. Enggak terlalu muluk juga apa yang dibawain. Hanya saja, entah mengapa dalam proses membaca buku ini, aku bosan setengah mati. Aku merasa tidak bisa engage saat membacanya.

Mungkin, yang bisa menjadi penyelamat dari novel ini adalah bagian akhir cerita. Untuk twist di bagian akhir, aku tidak begitu surprised. Bahkan, aku sempat terpikir, how if in the end she get hit by the car or else. Jadi, aku bisa bilang, prediksiku agak benar. Sakura didn't passes away because of her illnes.

Lalu, awalnya aku merasa annoyed dengan keputusan penulis untuk tidak mengungkap nama dari si tokoh "aku". Aku enggak bisa membayangkan bagaimana mereka menerjemahkan julukan-julukan itu dalam bahasa indonesia. Untuk versi Inggris-nya saja, sudah membuatku agak sakit kepala. Yaa, mudah-mudahan terdapat padanan kata yang tepat.

Oh, anyway, pilihan menyembunyikan nama dari tokoh utama itu juga membuat kita bertanya-tanya, siapa nama aslinya? Jadi, ketika nama aslinya di-reveal, ada semacam rasa puas karena misteri dari si "tokoh aku" bisa terbongkar.

Kesimpulan

Well, aku sangat memahami kalau pada dasarnya cerita di buku ini bagus dan unik. Hanya saja, ketika kemarin aku membacanya cukup struggle, aku tidak bisa memberikan penilaian yang setinggi untuk buku ini. Hmm, hal ini jadi membuatku terpikir, apakah ini efek terjemagan yang aku baca? Entahlah. 

Dengan demikian, aku hanya bisa memberikan 2.5 dari 5 bintang untuk Living for Dying.

Sincerely,
Ra
23.01.05
Judul: Jingga untuk Matahari
Penulis: Esti Kinasih
Durasi: 15 jam 47 menit
Tanggal rilis: 9 Juni 2022
Penerbit: Storyside
Dengar di Storytel

Diterbitkan secara fisik tahun 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama

Ari dan Tari menjalani hari-hari penuh pelangi. Tari bahagia karena ternyata Ari cowok lembut dan penuh perhatian. Sedangkan Ari gembira luar biasa ketika mendengar Ata dan Mama akhirnya kembali ke Jakarta.

Namun, tanpa Ari ketahui, selama ini Ata menyimpan kepedihan yang membuatnya bertekad melampiaskannya kepada Ari dan Papa. Saat itulah Ari menyadari ada “kisah” yang dia tidak tahu di antara papa dan mamanya.

Sementara itu, Tari mulai bingung menata hati. Karena pada saat rasa sayangnya untuk Ari semakin tumbuh, Angga muncul lagi dan “nembak” langsung. Sebenarnya, apa yang menjadi alasan Angga begitu dendam pada Ari dan bertekad merebut seseorang yang paling berharga darinya?

“Kalo lo ngincer cewek yang udah punya cowok, rebut dia di depan cowoknya. Jangan di belakang,” kalimat Ata itu terus terngiang di benak Angga.

***

Dulu, rasanya nungguin banget Jingga untuk Matahari (JUM) terbit. Apalagi waktu tahu drama sempat-gagal-terbitnya dulu. Rasanya, penantian dari SMP terbayar kalau JUM akhirnya terbit.

Sayangnya, euforia itu hanyalah sesaat. Waktu JUM benar-benar terbit, aku enggak ada rasa excited sama sekali. Bahkan, aku baru tahu kalau dia terbit setelah beberapa bulan lamanya.

Akhirnya, karena kemarin aku telanjur langganan Storytel dan penasaran juga dengan kisah lanjutannya, jadilah kuputuskan untuk membacanya. Yang pasti, banyak banget hal-hal yang bikin aku menghela napas saking enggak ngertinya sama ceritanya.

The Story


Pencarian Ari dari buku pertama dan kedua akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan ibu dan saudara kembarnya, Ata. Pertemuan mereka kembali membuat Ari begitu bahagia. Ia pun mulai berharap kalau imajinya tentang keluarga yang utuh dan bahagia akan betul-betul terwujud. 

Bagi Ari, Ata adalah saudara kembar yang harus ia lindungi. Ia bersedia membantu Ata supaya mudah beradaptasi di SMA Airlangga. Tentu saja dibantu oleh dua sahabatnya, Oji dan Ridho.

Akan tetapi, yang tak Ari ketahui, Ata punya rencana tersendiri ketika bisa bertemu dengan Ari kembali. Rencana balaz dendam yang akan ia rancang serapi mungkin supaya bisa menciptakan efek yang begitu dahsyat bagi Ari. Efek kehancuran dan sakit hati yang tiada tara yang ia maksudkan. Maka dari itu, Ata pun mulai menjalin aliansi dengan Angga, musuh bebuyutan Ari dari SMA Brawijaya.

Belum cukup dari situ, Ata juga punya cara tersendiri untuk bisa memanfaatkan Tari, cewek yang paling disayang oleh Ari dan juga memiliki nama yang mirip dengannya.

My Thoughts 


Jadi, sebagai disclaimer, aku akan berkomentar sebagai pembaca yang sudah lama sekali waktu baca buku pertama dan kedua. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun lalu aku membaca kisah Ari-Tari. Otomatis, aku sudah lupa bagaimana jalan cerita di kedua novel ini meskipun garis besarnya masih ingat sedikit-sedikit.

Lalu, kebetulan aku membaca novel ini dalam versi audiobook. Dengan demikian, aku banyak mendengarkan novel ini sambil bersih-bersih atau sedang jalan pergi. Konsekuensinya, mungkin ada beberapa bagian yang tidak bisa kudengarkan dengan baik.

Nah, selama mendengarkan, aku cukup terkejut dengan fakta bahwa Ari dan Tari sudah berpacaran. Ini jadiannya di JDE, kah? Aku enggak inget, tbh. Selain itu, kalau memang bener pacaran, Tari menerima dengan ikhlas atau dipaksa sama Ari? 

Berbeda dengan kedua buku sebelumnya yang fokus ke hubungan Ari-Tari dan mengungkap sedikit masa lalu Ari, di JUM memang fokus pada Ata. Kisah masa lalu Ata juga sempat dibahas dan alasan-alasan mengapa Ata ingin sekali balas dendam ke Ari juga dijelaskan.

Sayangnya, aku ngerasa JUM kehilangan charm-nya. Apakah karena dulu aku membacanya waktu SMP jadi merasa kisah ini bagus banget? Aku merasa, drama anak SMA ini biasa banget. Enggak ada istimewa-istimewanya, deh. Aku masih mempertanyakan kenapa dulu bisa membuatku tertarik. Haha. 

Terus, yang bikin aku sebel, aku sampai bosen dengerin "Saudara kembar identik Ari." Astaga. Mungkin itu disebut beribu-ribu kali di buku ini. Meskipun itu untuk menunjukkan keheranan Angga, tapi kalau disebut berkali-kali gitu, kan, jadi pengen ngebanting hape ã… ã… 

Aku tahu, sih, kalau dari JUM ini nanti masih akan ada kelanjutannya, yakni Jingga untuk Sendyakala (JUS). Tapi, ya itu, buku ini beneran cuma jadi filler. Alhasil, ceritanya kerasa lama banget. Bahkan, berasa banyak side story yang ada, kayak kisah Gita yang kayaknya bakal dipasangin sama Ridho. 

Hmm, jadi keinget kalau di sini interaksi antara Vio dan Oji lenyap begitu aja. Kayaknya dulu masih banyak adegan soal mereka berdua dan jadinya banyak yang bikin fanfic buat mereka.

Hal lain yang menurutku kurang believable adalah gimana Ari beneran enggak tahu sama sekali kalau ayahnya sudah menikah lagi. Iya, aku ngerti kalau Ari dan ibu tirinya tinggal di rumah yang berbeda. Tapi, kan, tetap saja, seharusnya sebagai seorang ibu tiri, dia berusaha mendekatkan diri ke Ari. Hmm. Sungguh aku enggak paham logika yang ada di sini.

Kesimpulan


Intinya, aku ngerasa kalau series ini sudah enggak lagi spark the joy buatku. Kalaupun nanti JUS udah terbit, aku mungkin akan tetap membacanya. Tapi, yaaa, enggak sat-set langsung kubaca gitu. 

Sorry to say but 2 out of 5 stars buat JUM.

Sincerely,
Ra
23.01.03

Title: The Sun Is Also a Star
Author: Nicola Yoon
Number of pages: 384 pages
Date of published: November 1, 2016
Publisher: Delacorte Press

Natasha: I’m a girl who believes in science and facts. Not fate. Not destiny. Or dreams that will never come true. I’m definitely not the kind of girl who meets a cute boy on a crowded New York City street and falls in love with him. Not when my family is twelve hours away from being deported to Jamaica. Falling in love with him won’t be my story.

Daniel: I’ve always been the good son, the good student, living up to my parents’ high expectations. Never the poet. Or the dreamer. But when I see her, I forget about all that. Something about Natasha makes me think that fate has something much more extraordinary in store—for both of us.

The Universe: Every moment in our lives has brought us to this single moment. A million futures lie before us. Which one will come true?

***

The Sun Is Also a Star is on my TBR list. I remember being drawn to the book because of its beautiful and unique cover. This year, I challenged myself to participate in Taylor Swift's 1989 Reading Challenge, with the first prompt being Welcome to New York: A book set in New York.

After conducting a Google search, I discovered that The Sun Is Also a Star was on one of the recommended lists. So, why not give it a shot, right?

The Story


Natasha's world fell apart when she learned that she and her family would be deported tonight at 10 p.m. She couldn't believe her twisted fate until now. Natasha chose not to accept her fate, despite the fact that her family did. She attempted to find a way out. She went to the US Citizenship and Immigration Services in the early morning (USCIS). Unfortunately, she missed her appointment and there is nothing she can do to avoid deportation.

Not knowing what to do, one of the officers there told her about an immigrant lawyer who might be able to help her. Natasha will take any opportunity to avoid the deportation at all costs. As a result, she decided to schedule an appointment with the lawyer as soon as possible, hoping for the best possible outcome.

She met Daniel on her way to the lawyer's office, precisely when she took the subway. A Korean American guy who will soon become the closest guy she has ever known.

After her brother, Charlie, was discharged from Harvard, Daniel Jae Ho Bae felt pressured to be the best child in his family. Being a medical student was never his dream. Poetry is the only subject in which he is particularly interested. But, as a member of an Asian family, Daniel understands the importance of living up to his parents' expectations. As a result, he will go to an alum interview as part of his preparation to attend Yale University and become a doctor, as his family has told him.

When Daniel met Natasha, he realized that his own dream was more important than his parents' expectations. Finally, meeting each other will offer Natasha and Daniel with a new perspective on their lives.

Surprisingly, Not Bored



When I first started reading this book, I expected to be bored. Interestingly, I wasn't. Each of the points of view was fascinating to me. What I liked best about this book was how Yoon showed us sides other than Natasha and Daniel's. She also included perspectives from unexpected characters, such as Irene (the security officer), Samuel (Natasha's father), and Jeremy (the immigrant lawyer). When we read the story, those POVs still provide a unique perspective.

This book is fast paced for me. The POV will smoothly switch from one to the other. Because each section isn't that long, switching POVs didn't bother me.

Another element that surprised me was the fact that the story took place in just one day. I never thought I'd find such a book—because one of my prompts RC is about it and I have no idea what it's about. So, at the very least, it will inspire me to seek out another book with a similar plot.

Perhaps what I couldn't understand is that their process of falling in love is very short and quick. I understand Natasha and Daniel have their own intimacy, but I couldn't understand how their interaction could lead to them falling in love.

Conclusion


After all, I'm pretty pleased with myself for finishing this book. I wasn't bored while reading it, and to be honest, I really enjoyed it. Also, I learned more about the lives of immigrants in America, particularly undocumented immigrants.

In my opinion, the ending is very realistic. As a result, there will be no miracles here. That was acceptable for me.

So... yeah. I give this book four out of five stars.

Sincerely,
Ra
230103
Image: Bibli, edited by me

Judul: Ephemera
Penulis: Akaigita
Tebal buku: 296 halaman
Tahun terbit: 2020
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca di Gramedia Digital

Rumah di tepi rawa itu menyimpan bahaya. Dari kucing-kucing yang menghilang tanpa jejak, kerisik aneh di langit-langit pada malam hari, hingga takhayul keberadaan makhluk setinggi pohon kelapa yang menjaga tanah itu.

Suatu hari, Venus—anak perempuan penghuni rumah—terjatuh ke sumur dan koma. Saat dia siuman, dia mengaku terpeleset karena kaget melihat ular besar di sana. Tapi benarkah pengakuannya itu?

Lantas mengapa Adam, sahabat karib Venus, dikucilkan dan dituduh mendorong gadis itu ke sumur? Mengapa pula Luna, adik Venus yang serbatahu malah diam seribu bahasa?

Rumah di tepi rawa itu tak hanya menyimpan bahaya, tetapi juga rahasia gelap yang tak boleh menyebar.

Ephemera merupakan buku rekomendasi dari Kak Wardah untuk 12 Reading Challenge 2022. Awalnya, aku berusaha menyelesaikan buku ini sebelum tahun 2022 berakhir, tapi nyatanya aku ngantuk banget di malam tahun baru kemarin. Alhasil, buku ini menjadi buku pertama yang aku selesaikan di tahun 2023.

***

Venus baru sadar dari komanya. Sekitar satu setengah bulan lalu, Venus jatuh ke dalam sumur. Akibatnya, ia mengalami koma. Setelah sadar, Venus ternyata juga kehilangan ingatannya. Apalagi yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan itu.

Menjani hari-harinya kembali ternyata tak mudah bagi Venus. Banyak hal yang telah berubah di sekitarnya. Mulai dari sahabatnya, Adam, yang menjauhi dirinya. Dia juga kaget ketika orang tuanya melarangnya untuk berhubungan kembali dengan Adam. Lalu, adiknya, Luna, juga terlihat seperti menyembunyikan banyak hal darinya. 

Yang pasti, Venus merasa kalau orang-orang di sekitarnya menyembunyikan banyak hal darinya. 

Ringkasan Cerita


Awalnya, aku pikir buku ini hanya akan berfokus pada Venus dan upayanya mengungkap apa yang terjadi ketika ia terjatuh ke dalam sumur. Ternyata, aku salah. Di buku ini, kamu akan menemukan POV dari masing-masing tokoh. Jadi, tidak hanya dari sisi Venus saja kisah dunia Ephimera ini diceritakan.

Ada sudut pandang dari Adam yang ternyata disalahkan habis-habisan saat Venus terjatuh, sudut pandang Luna yang ternyata mengungkap kalau dia jadi anak yang paling menderita di Keluarga Utomo, dan bahkan ada sudut pandang dari Herman, kawan Adam yang ingin sekali membalas dendam (?) ke keluarga Venus.

Untungnya, meskipun terdapat banyak POV, enggak membuat ceritanya terpecah. Fokus ceritanya masih inline. Jadinya, enggak bikin bingung. Mungkin yang agak mengganggu, gaya bahasa Herman yang lumayan lebih nyantai. Bukan ngeganggu, sih. Lebih tepatnya, kayak njeglek dibandingkan gaya bahasa POV lain yang cukup formal.

Yang Aku Rasakan Saat Membaca


Aku rasa, sebagai novel young-adult, Ephemera berhasil memunculkan berbagai elemen yang menarik. Mulai dari. interaksi antar teman, hingga keluarga. Awalnya, aku merasa simpati dengan Venus. Tapi, setelah membaca POV dari Luna, ingin rasanya kujedukkan kepala Venus. Bersikap bak princess dan childish banget.

Meskipun begitu, bukan berarti aku menyukai karakter Luna. Aku masih merasa ada yang mencurigakan dari sosok adik Venus ini. 

Untuk twist-nya sendiri, aku cukup surprised karena aku enggak bisa menebak sama sekali apa hubungan antara jatuhnua Venus, meninggalnya Nougat, dan juga Datuk. Atau aku saja yang tidak peka sampai tak bisa menangkap hint-hint yang diberikan oleh penulis?

Yang aku sayangkan, aku kok merasa akhir dari kisah ini agak terburu-buru, ya. Iya, aku tahu Datuk akhirnya enggak ada, Yuniar--Ibu Venus dan Luna--mendapat ganjaran, dan lainnya. Tapi, banyak hal yang terasa menggantung.

Aku masih penasaran dengan akhir sikap ayah Luna pasca Yuniar dipenjara, mengapa Giga membantu Adam--meskipun dijelaskan kalau Giga bilang sudah saatnya demikian, aku merasa ada yang masih menggantung. Ini enggak membuka kemungkinan adanya season 2, kan?

Kesimpulan


Secara cerita, twist-nya lumayan enggak ketebak buatku. Meskipun, di awal pasti agak bingung waktu ngikutin ceritanya. Kayak, ini penulisnya mau bikin jadi fantasi, misteri, atau gimana?

Yang pasti, baca Ephemera ini seru, kok. Aku enggak merasa bosan waktu baca. Iya, jenis buku yang membuatku engage dan pengin cepat-cepat menyelesaikannya.

4 dari 5 bintang.

Sincerely,
Ra
23.01.01