Natasha: I’m a girl who believes in science and facts. Not fate. Not destiny. Or dreams that will never come true. I’m definitely not the kind of girl who meets a cute boy on a crowded New York City street and falls in love with him. Not when my family is twelve hours away from being deported to Jamaica. Falling in love with him won’t be my story.
Daniel: I’ve always been the good son, the good student, living up to my parents’ high expectations. Never the poet. Or the dreamer. But when I see her, I forget about all that. Something about Natasha makes me think that fate has something much more extraordinary in store—for both of us.
The Universe: Every moment in our lives has brought us to this single moment. A million futures lie before us. Which one will come true?
***
The Sun Is Also a Star is on my TBR list. I remember being drawn to the book because of its beautiful and unique cover. This year, I challenged myself to participate in Taylor Swift's 1989 Reading Challenge, with the first prompt being Welcome to New York: A book set in New York.
Novel remaja Korea, lebih kuat dari film dan menegangkan seperti drama!
"Almond" adalah novel yang memberi harapan kepada orang seperti saya yang percaya bahwa hati dapat mengendalikan kepala. Di akhir musim dingin yang panjang, tibalah musim semi. Di musim semi, saat tanaman tumbuh, emosi pun tumbuh. Jika emosi tumbuh, maka dunia pun ikut tumbuh. Selama membaca tulisan ini, hatiku selalu berdebar-debar. Di musim semi yang akan datang, tulisan ini akan menjadi sebuah petasan indah yang akan meledakkan seluruh emosi.
- Novelis Gong Seonok
***
Perasaan. Menjadi suatu hal lumrah yang pasti ada pada diri seseorang. Akan tetapi, hal tersebut tidak ada dalam diri Yoonjae. Sejak lahir, Yoonjae mengidap Alexitimia. Singkatnya, pengidap penyakit ini memiliki amigdala berukuran kecil yang membuat mereka kesulitan mengolah emosi. Maka dari itu, Yoonjae pun hidup dengan tidak pernah "merasa". Tentunya, keadaannya yang unik ini membuat semua orang memandang aneh dirinya. Dia berbeda dari orang kebanyakan dan menjadi tidak normal di mata mereka.
Secara garis besar, Almond terdiri dari tiga babak. Pertama, adalah kisah Yoonjae sedari kecil. Bagaimana ibunya yang seorang single mother mengasuh dan merawat Yoonjae. Menyadari bahwa Yoonjae bukanlah anak biasa, ibu Yoonjae pun menerapkan cara mendidik khusus Yoonjae. Bukan berarti itu hal yang mudah. Tak jarang ibu Yoonjae tak bisa menjawab pertanyaan Yoonjae yang cukup mendasar. Ataupun saat Yoonjae terlibat masalah, ibu Yoonjae tahu bahwa anaknya tak akan bisa merespons layaknya anak-anak di sekitarnya.
Selain itu, di babak pertama, Yoonjae juga mengisahkan tentang neneknya yang juga ikut merawatnya. Nenek dan ibunya memang memiliki sifat dan pemikiran yang jauh berbeda. Akan tetapi, pada akhirnya mereka tetap mau menerima Yoonjae dan terus mengajari Yoonjae untuk bisa adapt dengan kehidupan.
Bagian kedua dari Almond mengisahkan bagaimana hubungan antara Yoonjae dan Gon. Keduanya tentu bukanlah sahabat bagai kepompong. Bahkan, mulanya mereka adalah musuh--kalau itu bisa disebut sebagai istilah yang tepat. Melalui Gon, Yoonjae mulai memahami bahwa manusia seperti dirinya juga bisa menjalin hubungan pertemanan.
Bagian terakhir, mengenalkan Yoonjae dengan Dora. Aku pikir, kisah Yoonjae tak akan ada sisi hubungan romantisnya. Ternyata aku salah. Ternyata penulis memberikan flavor ini pada kehidupan Yoonjae. Satu hal yang cukup unexpected buatku. Well, setidaknya, dari bagian ini kita memahami bagaimana Yoonjae bisa merasakan cinta layaknya yang lainnya.
Tentunya, membaca buku ini cukup sulit. Dalam artian, kisah Yoonjae bisa memunculkan rasa iba. Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa merasakan emosi? Bagaimana mereka bisa tidak pernah merasa takut, sedih, bahagia? Apakah tidak terlalu hampa? Akan tetapi, akan lebih tepat kalau disebut mereka tidak tahu rasanya.
Menurutku, penulis berhasil mengangkat tema yang tidak biasa. Setidaknya, aku belum pernah membaca cerita dengan tema serupa. Apalagi mengambil sisi penyakit satu ini. Yang aku cukup surprised, aku pikir judul Almond di sini tidak akan merujuk pada satu hal yang nyata--ibu Yoonjae percaya bahwa memakan almond setiap hari bisa membantu pertumbuhan amigdala Yoonjae.
Aku cukup menikmati kisah Yoonjae di sini. Kebingungan Yoonjae cukup tergambarkan saat harus menghadapi situasi yang belum pernah ia tahu kemungkinan kejadiannya. Penggunaan sudut pandang orang pertama juga membuat kita bisa lebih bersimpati pada Yoonjae. Setidaknya, itu kesan yang kutangkap di sini.
Lalu, mau tidak mau, novel ini juga akan mengajak kita untuk mempertanyakan apa sih yang sebetulnya disebut dengan normal? Normal dan biasa menjadi kata yang sulit untuk didefinisikan dalam kamus Yoonjae. Akan tetapi, hal tersebut menjadi kontemplasi tersendiri buatku. Yang disebut normal dan biasa adalah apa yang disetujui oleh masyarakat dari dahulu kala. Apa yang menyebabkan itu normal dan biasa? Ya, karena hal tersebut diakui "normal" dan "biasa" oleh masyarakat.
Dengan demikian, standar nilai akan dipegang oleh konsensus yang berada di masyarakat. Ketika ada yang tidak sesuai, ya berarti mereka yang "menyimpang: Melalui novel ini, penulis mengajak kita untuk melihat dari perspektif yang terpinggirkan dari apa yang ada di masyarakat. Kisah Yoonjae pastinya tidak selalu kita temui di masyarakat. Akan tetapi, kemungkinan bahwa orang-orang seperti Yoonjae hadir di masyarakat, sangatlah mungkin.
Tak ku sangka aku bisa membuat review yang cukup panjang untuk bacaan kali ini. Apakah ini semangat tahun baru? Mungkin saja demikian. Almond sangatlah tepat bagi kalian yang ingin memahami kisah pencarian identitas diri. Terlihat cukup grande, ya, tema dari novel ini. Tapi memang itulah tujuan yang ingin dicapai dari penulisnya.
4 out of 5 stars.
![]() |
| Love & Gelato. Sumber: Goodreads.com |
“I made the wrong choice.”
Lina is spending the summer in Tuscany, but she isn’t in the mood for Italy’s famous sunshine and fairy-tale landscape. She’s only there because it was her mother’s dying wish that she get to know her father. But what kind of father isn’t around for sixteen years? All Lina wants to do is get back home.
But then she is given a journal that her mom had kept when she lived in Italy. Suddenly Lina’s uncovering a magical world of secret romances, art, and hidden bakeries. A world that inspires Lina, along with the ever-so-charming Ren, to follow in her mother’s footsteps and unearth a secret that has been kept for far too long. It’s a secret that will change everything she knew about her mother, her father—and even herself.
People come to Italy for love and gelato, someone tells her, but sometimes they discover much more.
My mother had kept us apart for sixteen years. Why were we together now?
![]() |
| Image: videoblocks.com, edited by me |
“I don’t owe you anything. Maybe next time you should have a little more faith in me.” -- Lina.
![]() |
| Image credit: goodreads |
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.
Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.
Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.
Apakah kamu pernah merasakan keinginan untuk mati? Keinginan untuk mengakhiri hidupmu karena kamu merasa sudah tidak berguna lagi?
![]() |
| Image credit: pixabay, edited by me |
"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." Anna.
"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." Nabila.
Kenapa dia tidak boleh menangis? Kenapa dia harus kuat untuk bisa menjadi anak Ibu dan Ayah? Kenapa tidak pernah sekali saja orangtuanya menerima tangisannya tanpa mengatakan apa pun jika mereka tidak bisa memberikan kalimat penghiburan yang lebih baik? -Anna.
"Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri." - Saka.
"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti." - Nabila.
"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kecemasan adalah sesuatu yang membuat dirimu bekerja keras dan menderita dua kali lipat." - Nabila.
![]() |
| Image credit: goodreads.com |
Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?
Kau tahu perasaan paling indah di dunia, Sav?"
"Ya?"
"Ketika kau menari dengan kakimu, dengan lantunan musik indah mengiringimu. Saat kau membiarkan semuanya, di dalam dan di luar dirimu menguap. Semua hal, kecuali tarianmu sendiri."
-- Gwen dan Savannah
"Aku tak pernah tahu kamu memperhatikan setiap hal dengan detail.""Memang tidak. Tidak setiap hal. Aku memperhatikanmu"
-- Gwen dan Jared
![]() |
| image credit: wallpaper-house.com, edited by me. |
"Tenang saja, Gwen. Kamu tak harus menjawab atau melakukan apa pun. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan padamu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku memberikan buku itu."
-- Jared
Jangan menghancurkan hati orang lain, Gwen. Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia."
-- Hanna
"Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
-- Ms. Lockhart
![]() |
| Image credit: goodreads.com |
Ren dan Kya adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan sejak pertama kali masuk SMA 321 hingga sekarang di kelas XI. Ren berpenampilan kalem, pakai kacamata, dan rambut disisir asal saja. Cowok itu irit bicara. Berbeda 180 derajat dengan Kya yang tomboy, suka bicara seenaknya, berani, dan jago karate. Namun, dua kepribadian yang bertolak belakang itu saling melengkapi.
Ren tinggal bersama pamannya, Paman Bagas, yang merawatnya sejak bayi, tepatnya setelah kedua orangtua Ren tewas karena kecelakaan. Setidaknya itulah yang selalu didengar dan diketahui Ren mengenai orangtuanya selama tujuh belas tahu, sebelum sebuah peristiwa dan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal Ren membuaka jari diri Ren yang sebenarnya…