Showing posts with label Contemporary Romance. Show all posts
Showing posts with label Contemporary Romance. Show all posts

Chasing the Dream #0.5 More than Exes
Sometimes, the past is not always the past.

by Elizabeth Briggs

3 out of  5  stars

Title: More than Exes
Series: Chasing the Dream
Author: Elizabeth Briggs
Pages Count: 88 pages
Languages: English
Genre: Contemporary Romance
Year of publish: 2014
ISBN: 9780991569618
I got this book from the author in exchange for an honest review.

A stand-alone prequel novella to More Than Music.
Keyboardist Kyle Cross may look like a bad boy with his tattoos and piercings, but he’s really the good guy who’s always stuck fixing his band’s problems and never gets the girl. His band is competing in a college Battle of the Bands, but when their bassist doesn't show, Kyle must track her down with the help of the person he least expects: his ex-girlfriend Alexis Monroe. 
Kyle hasn’t seen Alexis since she dumped him in high school, and she’s dropped her preppy image for fiery red hair and a bold new attitude to match. With only hours before his band goes on stage, Kyle has to be a little bad if he wants to win both the Battle and the girl he's never gotten over. But when their old problems resurface, the good guy might just get his heart broken all over again.


***

"How can I move on, when I am still in love with you?"

Maybe, the lyrics from The Man Who can't be moved could describe what Kyle felt for Alexis. Kyle was the guitarist of UCL's band, Villain Complex. This band was created by him and his older brother, Jade. Unlike Jade, Kyle is a good guy who just can fall for one girl. Otherwise, Jade is a playboy. He could play with every girl's heart without thinking any further. 

Since the first time, Kyle still stuck with his ex, Alexis. That-red-hair-girl still in Kyle's heart and no one could be like Alexis. Then, it came the day when Villain Complex compete in a band competition. Surprisingly, Kyle could meet Alexis there. Of course Kyle didn't expect this kind of thing would happen. In the beginning, Kyle try to avoid Alexis. He knew that his heart is not ready enough to meet Alexis. But then, Becky, the bassist of the band, is disappear. She hasn't come yet and everyone was worried because of that. With the help from Alexis, Kyle try to pick Becky up and really want to make the performance would be the best.

Well, actually I don't really have any intentions to read this novella. Someday, I enter some YA giveaway that held by... oh, dear. I forget who held that GA. Then, I agree to receive any newsletter from the YA authors. after that, there are some newsletter from Elizza Briggs and, yeah, I got this novella. I red this novella because I want some light reading. Well, reading a YA book of course make me happy because I don't need to give much attention. I just read it for fun.

Reading from the boy's point of view is a quite new for me. I think that the lead character would be a girl, and surprisingly is not. I have to admit that Briggs is good at this point. Yeah, Kyle felt like man when I red the story. Even though I have admit to that in someway there are some girly side in Kyle. No offense. About Alexis, well, I like her eagerness to make Kyle believe that he has to grab some chance to change.

The story itself is quite simple. I think, for light reading, it was quite good. I know that this book is quiet cheesy romance story, but why not to read it? Come on. This is just novella. Just try it in your spare time, guys!

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Crazy Rich Asians
Terkadang, hidup yang terlalu berlimpah belum tentu berujung bahagia.


Karya Kevin Kwan

3.5 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Penulis: Kevin Kwan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alih bahasa: Cindy Kristanto
Editor: Meggy Soedjatmiko
Sampul: Martin Dina
Tebal buku: 480 halaman
Tahun terbit: 2016
ISBN: 978-602-03-1443-3
Buntelan dari Bintang.
Ketika Rachel Chu, dosen ekonomi keturunan Cina, setuju untuk pergi ke Singapura bersama kekasihnya, Nick, ia membayangkan rumah sederhana, jalan-jalan keliling pulau, dan menghabiskan waktu bersama pria yang mungkin akan menikah dengannya itu. Ia tidak tahu bahwa rumah keluarga Nick bagai istana, bahwa ia akan lebih sering naik pesawat pribadi daripada mobil, dan dengan pria incaran se-Asia dalam pelukannya, Rachel seperti dimusuhi semua wanita.
Di dunia yang kemewahannya tak pernah terbayangkan oleh Rachel itu, ia bertemu Astrid, si It Girl Singapura; Eddie, yang keluarganya jadi penghuni tetap majalah-majalah sosialita Hong Kong; dan Eleanor, ibu Nick, yang punya pendapat sangat kuat tentang siapa yang boleh—dan tidak boleh—dinikahi putranya.
Dengan latar berbagai tempat paling eksklusif di Timur Jauh—dari penthouse-penthouse mewah Shanghai hingga pulau-pulau pribadi di Laut Cina Selatan—Crazy Rich Asians bercerita tentang kalangan jet set Asia, dengan sempurna menggambarkan friksi antara golongan Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru, serta antara Cina Perantauan dan Cina Daratan.
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pergi menggunakan jet pribadi secara instan? Baju-baju rancangan desainer ternama? Atau rumah besar bak istana yang dijaga oleh berbagai macam penjaga? Dalam pikiran terliarnya, Rachel Chu tak pernah menyangka kalau pacarnya, Nicholas Young, memiliki keluarga kaya raya dengan 1001 tradisi. Setiap anggota keluar Nick, terlihat sangat ingin berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Mulai dari membicarakan gaun apa yang dipakai oleh siapa, perhiasan apa yng dibuat oleh siapa, hingga siapa yang memiliki garis keturunan yang bagaimana. Percakapan-percakapan ini terus menghinggapi telinga Rachel saat ia berkunjung ke rumah Nick di Singapura. Lama tinggal di Amerika, membuat Rachel tidak menyangka ada suatu rahasia besar yang disimpan oleh Nick. Nick sendiri hampir tidak menyadari kalau rencananya untuk mengajak Rachel berlibur, malah membuat malapetaka bagi hubungan keduanya.
"Tidak melakukan apa-apa kadang bisa menjadi bentuk tindakan paling efektif. Kalau kau tidak melakukan apa-apa, kau akan mengirim pesan yang jelas: bahwa kau lebih kuat dari yang mereka pikir. Belum lagi jauh lebih berkelas. Coba pikirkan." Sophie, hlm. 252.
Bagaimana caraku mendefinisikan novel gila-gilaan ini? Ahh, aku tak tahu. First thing first, yang harus kupercayai adalah, orang-orang kaya sialan ini pasti ada di kehidupan nyata. Cara mereka menghabiskan uang dengan berbelanja di suatu butik ternama, makan-makan di restoran mewah tanpa cela, hingga liburan di pulau pribadi dengan harga selangit. Setidaknya, novel ini ingin mengambil latar belakang orang-orang jetset di Asia.

Well, sejujurnya, novel ini menarik. Meskipun terlihat sangat berlebihan, nyatanya kalau dipikir-pikir pun, kekayaan orang-orang Cina di Singapura mungkin saja benar-benar ada. Toh, hal itu bukanlah suatu hal yang salah. Memang ada orang-orang yang punya kesempatan demikian. Keluarga Young, Leong, Cheng, dan lainnya, menjadi keluarga-keluarga paling berpengaruh dalam roda perekonomian Singapura. Hampir semua orang memandang hormat pada mereka. Rasanya seperti sureal saat membayangkan keluarga-keluarga seperti ini benar-benar ada.
"Tidak ada yang abadi, dan ketika ledakan ini berakhir, anak-anak muda ini tidak akan tahu apa yang menjatuhkan mereka." Wye Mun, hlm. 275.
Yang membuatku tertarik untuk membaca novel ini adalah, karena secara tidak langsung, Kevin Kwan mengambil topik mengenai bagaimana etnis Cina menjalani kehidupannya. Dimulai dari sentimen bahwa orang Cina Daratan dianggap tidak sebaik Cina Perantauan, hingga ada perbedaan kasta antara Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru. Berbagai macam tradisi pun dicoba oleh Kwan untuk dibenturkan. Menurutku, setidaknya novel ini memberikan gambaran lain akan orang-orang Cina.

Secara cerita, harus kuakui kalau Kwan tidaklah berfokus pada kehidupan Rachel dan Nick. Ia memasukkan juga cerita mengenai Eleanor--ibu Nick--yang segan setengah mati menerima Rachel sebagai calon menantu, pernikahan Colin Khoo dan Araminta Lee yang dinobatkan menjadi pernikahan paling mewah se-Asia, kehidupan rumah tangga Astrid dan Michael yang hampir di ujung tanduk, hingga kehidupan Su Yi, nenek Nick yang begitu berkelas. Jadi, mungkin agak membingungkan saat membaca novel ini karena begitu banyak tokoh yang muncul. Jalinan ceritanya pun terkesan acak dan membuat bingung.

Foto ala-ala oleh Puji.
Dari segi sampul, aku suka banget. Sederhana tapi koleksi-able. Yap yap. Crazy Rich Asians merupakan buku pertama dari seri Crazy Rich. Jadi, aku bersemangat juga untuk mengumpulkan seri ini. Semoga saja, bisa. Hehe. Kalau untuk tokoh favorit, pilihanku jatuh pada Astrid dan juga Oliver. Mereka ini menurutku patut mendapat tempat tersendiri. Bahkan, sepertinya, Kwan bisa membuatkan mereka suatu garis nasib sendiri. Terlepas dari huru-hara Rachel dan Nick.

Kalau menurutku, novel-novel seperti Crazy Rich Asians ini keren dengan caranya sendiri. Meskipun mungkin banyak yang akan memrotes betapa tidak masuk akalnya novel ini. Tapi, bagiku, novel ini sudah cukup menarik untuk dibaca. Bahkan, buku keduanya membuatku penasaran setengah mati.

Meskipun demikian, harus kuakui aku sedikit kecewa dengan tipografi yang terdapat di novel ini. Padahal, terjemahannya sudah bagu menurutku. Sayang sekali masih tercetak beberapa tipografi yang aku temukan. Semoga kalau novel ini cetak ulang, dapat diperbaiki kembali.

Baiklah, sekian cuap-cuapku. Ku harap, aku bisa segera membaca buku yang kedua. Hoho.

3.5 bintang untuk ketabahan Astrid dan gilanya orang-orang ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Catatan tipografi:
"...dan aku menjadi sekretaris," protesAstrid (hlm. 15) --> "...dan aku menjadi sekretaris," protes Astrid 
"Dia tampan sekali sekarang!" seruMrs. Lim. (hlm. 25) --> "Dia tampan sekali sekarang!" seru Mrs. Lim.
"Kau lihat kalung yg dikenakannya?" (hlm. 48) --> "Kau lihat kalung yang dikenakannya?"
Dia juga bisa menirukan secara bilian lagu 'My Way' dari Sinatra. (hlm. 54.) --> Dia juga bisa menirukan secara brilian lagu 'My Way' dari Sinatra.
yang mengucapkan selamat tinggal pada Astrud sambal menangis di Bandara Changi, (hlm. 76) --> yang mengucapkan selamat tinggal pada Astrud sambil menangis di Bandara Changi,
dan sebelum dia menyadarainya, mereka mengobrol selayaknya teman lama. (hlm. 93) --> dan sebelum dia menyadarinya, mereka mengobrol selayaknya teman lama.
Sejak malam dia menemukan pesam itu, (hlm. 99) --> Sejak malam dia menemukan pesan itu,
"Coba lihat! Kau cantik sekali!" seruRachel. (hlm. 126) --> "Coba lihat! Kau cantik sekali!" seru Rachel. 
"Hei, tidak terlalu lama," geramWye Mun Riang. (hlm. 133) --> "Hei, tidak terlalu lama," geram Wye Mun Riang
Dia piker dia siapa? (hlm. 195) --> Dia pikir dia siapa?
"Mom, jangan menganalisa terlalu berlebihan." (hlm. 283) --> "Mom, jangan menganalisis terlalu berlebihan."
Dan dia menduga kelompok ini akan menganalisa jawaban apa pun yang diberikannya. (hlm. 294) --> Dan dia menduga kelompok ini akan menganalisis jawaban apa pun yang diberikannya.
melambaikan tangannya ke sekeliling hamar mewah tempat mereka berdiri. (hlm. 384) --> melambaikan tangannya ke sekeliling kamar mewah tempat mereka berdiri.
" Kau kedengaran ada di pihaknya," (hlm. 446) --> "Kau kedengaran ada di pihaknya,"

L
Mungkin, sebuah karma lah yang menimpa kehidupan Ava Torino. Who knows?

Karya Kristy Nelwan
4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: L
Penulis: Kristy Nelwan
Editor: A. Ariobimo Nusantara
Asisten editor: Veronica B. Vonny
Penata isi: Gun
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: April 2012, cetakan keempat
Tebal buku: VIII+344 halaman
ISBN: 978-979-025-417-6
Pinjam di iPekanbaru dan iJakarta
Ava Torino, twentysomethinggirl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things. Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekad meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti-ganti pacar, sampai ke 26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama-nama sang pacar.
Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. Namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal huruf L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi the Last Love nya. Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika pikirannya.... hingga terjadilah peristiwa itu.... 

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pada dasarnya, saat aku mencomot novel ini di aplikasi iPekanbaru, aku tidak berkekspektasi apa-apa. Aku hanya sekadar ingin membaca bacaan ringan. Mulai dari blurb yang cukup catchy, akhirnya aku memutuskan untuk membaca L. Karena aku belum pernah membaca karya Kristy Nelwan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk searching dulu di Goodreads, dan betapa kagetnya aku saat menyadari bahwa novel ini dipandang out of the box. Mengetahui fakta tersebut, aku pun bersemangat untuk membaca novel ini.

Bergonta-ganti pasangan? Itulah yang dilakukan oleh seorang Ava Torino. Trauma akan pacar-pacarnya dahulu kala, Ava pun bertekad gonta-ganti pacar hingga nama pacarnya sampai 26 alfabet. Absurd? Sangat. Bahkan, menurutku hal ini sama sekali nggak masuk akal. Ada gitu orang se'kurang-kerjaan' kayak Ava?

Tanpa pretensi apa-apa, aku mulai menggeser layar ponselku. Diawali dari adegan pemutusan pacar Ava yang ke sekian, novel ini disajikan dengan bahasa yang ringan. Tidak terlalu sulit untuk dipahami maksudnya. Bahkan, menurtku, sangat enak dibaca. Ada selipan-selipan humor yang disisipkan oleh Kristy.

Merujuk pada obsesi Ava, maka kita akan berpikir bahwa Ava akan kesulitan menemukan pacar dengan nama berawalan Q atau X. Nyatanya, Ava malah kesulitan mendapatkan pacar dengan naa berawalan L. Pada saat berlibur ke Yogyakarta, Ava bertemu dengan seorang cowok. Secara tipe, cowok itu tipe dia banget. Sayangnya, cowok itu bernama Rei. Tentunya, nama cowok ini membuat semangat Ava padam. Akan tetapi, di malam yang sama, Ava bertemu dengan kenalan teman Ava. Seseorang yang ternyatan bernama depan L. Ludi.
"'L' kan huruf sakral, bisa berarti Last atau Love." - Ava. hlm. 32.
Dengan ditemukannya si L ini, Ava berniat untuk bertobat. Ia ingin menyerahkan cinta dan hidupnya pada Ludi. Ternyata, hal ini mendapat sambutan positif dari Ludi. Hubungan antara Ava dan Ludi terus berlanjut. Bahkan, bisa mencapai satu tahun lebih. Maka dari itu, Ava berani untuk mengambil keputusan lebih jauh dan menerima lamaran dari Ludi.

Sumber gambar: Google, disunting oleh Puji.
Di tengah semarak kebahagiaan persiapan pernikahan, Ava malah mendapatkan masalah. Stasiun televisi tempatnya berkerja tidak memberikan insentif yang sebanding dengan kerja kerasnya. Apalagi, kontrak karyawan pun tidak segera diturunkan oleh pihak pimpinan perusahaan. Setelah satu insiden menimpa sahabat Ava, Ava akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Hal ini didukung oleh Ludi yang sedari dulu khawatir dengan pekerjaan Ava. Kemudian, Ava mencoba melamar pekerjaan di Jakarta dan betapa kagetnya ia saat bertemu lagi dengan Rei. Karena tidak  mengenal siapapun di kantor barunya, akhirnya, Ava dan Rei menjadi akrab. Bahkan, Rei banyak mengubah kehidupan Ava dengan tindakan-tindakannya. Sampai satu titik, Ava menyadari ada perasaan yang berbeda dalam diri Ava terhadap Rei. Akan tetapi, rahasia kelam Rei, serta perjanjian Ava pada dirinya sendiri, membuat kisah mereka menjadi rumit dan menyedihkan.

Rasanya, sudah lama sekali aku tidak menangis karena membaca novel. Dan, aku cukup amazed saat L karya Kristy Nelwan ini berhasil membuatku tersedu-sedu. Padahal, aku sudah menyadari kalau skenario terburuk akan terjadi sejak awal membaca cerita ini, tapi aku masih saja tetap menangis. Rupanya, Kristy Nelwan berhasil mengaduk emosiku dengan gayanya bercerita,

Meskipun memang sulit untuk menghakimi apa yang dilakukan oleh Ava, tapi setidaknya aku mengerti perasaannya. Perasaan kepada orang yang ia tahu tidak akan bisa selamanya dengannya. Aku pun juga menyadari ada yang tidak beres dalam sikap Ludi. Meskipun aku masih bertanya-tanya apa yang berbeda.
"Hidup itu emang nggak gampang, tapi juga nggak perlu diperumit. Kita harus jaga konstanitasnya, menjaga kesadaran kita tetap ada dalam kadar yang tepat." hlm. 290.
Dua hal yang kudapat dari novel ini sebenarnya. Yang pertama adalah mengenai rokok. Sebenarnya, aku pun juga hidup di sekitar orang-orang yang suka merokok. Asap-asap bernikotin itu sudah sering menyerang paru-paruku. Mungkin, dengan aku membaca novel ini, aku harus mulai berhati-hati terhadap asap rokok; dan yang kedua adalah mengenai toleransi beragama. Di novel ini, Rei mengajak kita untuk melihat lebih jauh mengenai perbedaan agama. Aku suka dengan cara pandang Rei yang menyatakan bahwa "Aku ibadah bukan karena takut, tapi karena aku ingin berkomunikasi dengan Tuhan." Betapa hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Menurutku, novel ini patut untuk dibaca. Sebagai bacaan ringan dan juga pengingat untuk kehidupan kita masing-masing. Bagiku, novel ini sangat berkesan karena berhasil membuatku menangis sedemikian rupa,

Sincerely,
Puji P. Rahayu
The Proposal of Love

Sebuah kisah klise yang direplikasi ulang dengan bumbu-bumbu politik

karya  Mayya Adnan

 2 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Waktu baca: 15-18 Februari 2017
Penulis: Mayya Adnan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal buku: 344 halaman
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-02-4525-6

Aira Maharani seorang gadis manis dan cerdas yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Konsultan Politik yang bertugas untuk mendampingi Vivian Mahesa selama jelang Pemilukada dihadapkan dengan tugas baru yang menjengkelkan. 

Dan itu berhubungan dengan Raditya Mahesa putra bungsu dari Reynaldi dan Vivian Mahesa, Raditya yang tampan, CEO Mahesa grup, playboy dan gemar bersenang-senang sering membuat keluarganya pusing bukan main. Selain itu apa tugas baru Aira?

Editor's Note
Ceritanya sangat aktual dan pas dengan konteks kekinian... pemilu, pemilukada... ditambah dengan roman yang mengduk-aduk emosi.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pertemuan karena sebuah tabrakan? Well, terdengar teenlit sekali, ya? Tapi itulah adegan awal dari The Proposal of Love. The Proposal of Love merupakan novel debut dari Mayya Adnan. Sesungguhnya, aku sudah pernah membaca tulisan Mayya di wattpad. Dan jujur, aku suka dengan cara Mayya bercerita di wattpad. Jadi, aku berharap mendapatkan hal yang sama di novel ini.
Confess
How can a fifteen-year-old-girl defend her love when that love is dismissed by everyone?--Auburn.

By Colleen Hoover
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Publisher             : Atria Books
Number of Pages : 306
Year Published     : March, 2015
ISBN                    : 978476791456
EPub, I got this novel from my friend.


Auburn Reed has her entire life mapped out. Her goals are in sight and there’s no room for mistakes. But when she walks into a Dallas art studio in search of a job, she doesn’t expect to find a deep attraction to the enigmatic artist who works there, Owen Gentry.


For once, Auburn takes a risk and puts her heart in control, only to discover Owen is keeping major secrets from coming out. The magnitude of his past threatens to destroy everything important to Auburn, and the only way to get her life back on track is to cut Owen out of it.

The last thing Owen wants is to lose Auburn, but he can’t seem to convince her that truth is sometimes as subjective as art. All he would have to do to save their relationship is confess. But in this case, the confession could be much more destructive than the actual sin…


***

First thing first, I would like to say that this is the first time I read Colleen Hoover's story. I remembered one of my friend ever mentioned about Hoover story. She said that, Hoover has ability to make the who read her book could smile, laugh, crying, sobbing, etc. I really curious and I just found this novel on my EPub reader. So, without thinking twice, I started to read this novel.

The story begin with a-hurtful-prologue. No! I didn't say that the prologue is bad, but it really hurts when I had to know the fact that one of the character should die. Actually, I am not the type of easy-touched-reader. I am just feel pity to the character.

"I don't want him to be sad, but I need him to be sad with me right now."--Auburn.


Antologi Rasa
"You know what, Risjad, kalau lagi nggak berusaha tebar pesona setengah mati, elo itu adorable juga, ya."—Keara

By Ika Natassa
3 of 5 stars

Source: goodreads.com
Penyunting        : Rosi L. Simamora
Desain Sampul  : Ika Natassa
Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : Agustus 2011
ISBN                 : 9789792274394
Pinjam di iJak

K e a r a



Were both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe.
How can we be so different and feel so much alike, Rul?
Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu.
Three years of my wasted life loving you.

R u l y

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

H a r r i s

Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love."
Thats probably as close as I can get to hearing that she loves me.


Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

***

Selama aku bergabung menjadi bagian dari Blogger Buku Indonesia, sempat berkali-kali aku mendengarkan diskusi mengenai iJak. Puncaknya, pada saat aku bantu-bantu jadi reporter abal-abal di Pesta Pendidikan 2016, aku baru sepenuhnya mengenal iJak. Awalnya, kupikir iJak hanya tersedia untuk pemakai smartphone android dan iOs, nyatanya, aplikasi yang didominasi warna oranye ini bisa diinstall di PC. Woooh, aku senang banget, dooong. Jadilah, novel yang tidak sengaja muncul di kolom rekomandasi ini yang kubaca duluan. Hehe. Selain fakta karena aku suka dengan Critical Eleven, aku penasaran aja dengan karya Ika Natassa sebelumnya. Aku pengin tahu bagaimana gaya menulis Ika Natassa yang lumayan diagung-agungkan ini. 

If Travel teaches us how to see, how come every time all I see is you?--hlm. 63.

First Impression
Berhubung aku sering banget mendengar tentang komentar dari tulisannya Ika, aku sudah punya firasat mengenai banyaknya bahasa campur-aduk yang digunakan serta berbagai macam merk branded yang disebutkan. Dulu sih, banyak yang menyamakan--atau setidaknya selalu membandingkan--tulisan Ika dengan Nina Ardianti. Katanya, mirip gitu. Tentang bankir dan kehidupan sosialitanya. Jadi, impresi awalku dari novel ini adalah, aku akan menemukan cerita yang super duper hopeless romantic. Tentunya, dengan karakter yang adorable dan nantinya memiliki ending yang bahagia.
Sunset Holiday
"Kalau memang aku hanyalah sepotong puzzle dalam hidup Ibi dan sebaliknya, it's better that we make the best out of our limited tine together." --Audy.

By Nina Ardianti dan Mahir Pradana

5 for 5 stars

Source: here
Penyunting              : Alit Tisna Palupi
Penyelaras Aksara   : Widyawati Oktavia dan Idha Umamah
Penata Letak            : Gita Romadhona
Desainer Sampul   : Dwi Anisa Anindhika dan Agung Nugroho
Ilustrator Isi             : Gama Marhaendra
Penerbit                   : Gagasmedia
Tahun Terbit            : Cetakan pertama, tahun 2015.
Tebal Halaman        : 470 halaman
ISBN                       : 9787808181


“We are all strangers until we meet.”



Jatuh cinta dan bertemu denganmu tidak ada dalam rencana perjalananku. Namun, di perjalanan sejauh ini, kamulah hal terbaik yang terjadi kepadaku. Aku menebak-nebak di mana akhir senyum manismu yang menghangatkan.

Hal paling menyakitkan dari jatuh cinta adalah kehilangan setelah memilikinya. Karena itulah, aku tidak berani berharap banyak. Kita hanyalah dua orang asing di tempat asing. Akan lebih banyak risikonya jika aku memutuskan untuk jatuh cinta.

Jika aku tidak akan menjadi bagian dalam sisa perjalanan hidupmu, bisakah kamu mengingatku sebagai bagian terbaiknya? Aku tidak berani menanyakannya karena diam-diam kutahu tujuan terakhir kita ternyata tak sama.

Kita kemudian bukan lagi dua orang asing di negeri asing. Namun, mengapa sakit ketika mengingat ternyata rasa ini terasa lebih asing daripada sebelumnya?

***

Audy dan Ibi bertemu di Paris, kota yang menyimpan banyak pesona cinta. Karena impulsif, Ibi mengikuti Audy melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah di Praha, Roma, atau Venezia, mungkin di sanalah cinta menyapa. Namun, apakah kebersamaan singkat itu berarti banyak jika sejak awal tujuan akhir mereka ternyata tak sama?


Dixieland Sushi
"Aku dan Bubba tidak bisa lebih bangga lagi padamu. Apa pun yang kau lakukan pastilah hal yang tepat untukmu."--Vivien Nakamura

By Cara Lockwood
2 of 5 stars

Source: here
Penerjemah       : Shandy Tan
Penerbit             : Elex Media Komputindo
Jumlah halaman : 312 halaman
Tahun terbit       : Februari 2013
ISBN                  : 9786020204765

Ketika pindah ke utara untuk menjadi produser sebuah acara televisi populer di Chicago, Jen Nakamura Taylor mengira dia telah meninggalkan masa lalunya yang canggung karena tumbuh sebagai keturunan blasteran Jepang dan kulit putih di sebuah kota kecil daerah Selatan. 

Sampai dia menerima kabar dari kampung halaman bahwa sepupunya yang cantik akan menikah dengan Kevin Peterson, pria yang selama bertahun-tahun sangat dicintai Jen. 

Jen sadar dia tidak bisa selamanya melarikan diri dari masa lalu. Kabar itu bukan hanya membangkitkan kenangan menyesakkan,tapi sekarang Jen yang lajang dan sangat sibuk, terpaksa harus mencari pasangan untuk menghadiri pernikahan sepupunya. 

Sementara itu, Riley-pria Inggris ganteng yang menjadi teman kantor Jen-kelihatannya bisa menjadi `pasangan` yang cocok. Bahkan pacar Riley pun menganggapnya sebagai ide bagus. Selama perjalanan menuju Dixieland, tanpa disangka, suatu percikan mulai terasa di antara keduanya. 

Belum lagi, ternyata Kevin Peterson yang telah dewasa tetap saja menawan! Di tengah-tengah situasi rumit, Jen toh pada akhirnya harus belajar mencintai silsilah, kehidupan cinta, bahkan dirinya sendiri.

***

Huah, akhirnya aku baca contemporary romance lagi. Sayangnya, kenapa sih aku selalu baca novel bergenre ini yang akhirnya tidak bisa jadi seleraku? Huhu. 

Bermula dari kisah Jen Nakamura Taylor yang sedang meniti karir sebagai produser televisi di daerah utara, Dilahirkan sebagai blasteran Jepang, membuat Jen mengalami masa-masa sulit waktu kecil. Ia pun sulit mendapatkan pujaan hatinya karena keadaan itu. Di saat ia mengira hidupnya sudah sempurna, tiba-tiba saja Jen disuruh pulang kembali ke selatan karena sepupunya, Lucy, akan menikah. Yang membuat Jen sama sekali enggan untuk datang adalah kenyataan bahwa calon suami Lucy merupakan pujaan Jen waktu sekolah dulu, Kevin Paterson. Di tengah-tengah keenganan itu, Ibu Jen, Vivien, terus memaksa Jen untuk datang. Karena tidak ingin merasa malu di hadapan Kevin, Jen memutuskan untuk mencari orang yang dapat menjadi pasangannya dan menemaninya selama prosesi pernikahan Lucy dan Kevin. Akhirnya, pilihan Jen jatuh pada Riley, teman sekantornya yang sudah punya pacar.

Jepang. Sushi. Diskriminasi. Kurang percaya diri. Not Asia-sentris.

Sebenarnya, aku merasa lelah membaca novel ini. Bukannya, apa-apa. Kok, kesannya Jen nggak bangga ya dengan kondisinya sebagai setengah Asia. Adaaa aja, keluhannya. Tentunya, aku sebagai orang Asia merasa kayak... errr... kesel aja gituuu.

Menurutku, ide ceritanya bagus sih. Dikatakan kalau Jen itu orangnya sangat-sangat pekerja keras. Ia rela menghabiskan waktunya demi pekerjaannya. Tapii, menurutku...kalau ini dibilang sebagai contemporary romance, I couldn't find the romance one... Kisah Jen dan Riley kurang tereksplor di sini. Iya sih, cerita perjalanan mereka udah panjang, tapi sayangnya, aku tidak bisa merasakan chemistry di antara keduanya. 

Ahh, berhubung penulisnya cinta banget sama Mr. Miyagi, aku tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Padahal, quote-nya jadi agak aneh gitu. Hahah. Ohh, iya. mungkin ini efek terjemahan kali ya, jadinya waktu aku baca novel ini sangat-sangat membosankan. Huhu. Aku nggak bisa enak gitu bacanya. *deuh, Maafkan.

Sorry to say, aku nggak terlalu suka sama novel ini. Banyak banget keanehan di dalamnya, dan sebenarnya, aku udah ilfeel dari awal sejak adegan sepatu roda.

--

Minggu, 10 April 2016
04.32 PM
Puji P. Rahayu
Critical Eleven
Aku rindu kami yang dulu. Aku rindu merasa bahagia. Aku rindu aku yang dulu.—Anya.

By Ika Natassa
4.5 of 5 stars

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman           : 344 halaman
Tahun terbit               : 2015
ISBN                           : 9786020318929


Takdirlah yang menentukan bagaimana yang akan terjadi pada kehidupan kita.


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.



Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.



Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

REVIEW:
Membaca Critical Eleven ini membuat jantungku kebat-kebit. Dalam artian aku tidak menyangka kalau ceritanya akan sekompleks ini. Perjalanan cinta Ale dan Anya yang sungguh tak biasa berhasil membuatku tertegun dan jujur saja, this is the definition of sweet & hurt novel.

Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain.—hlm. 7.

First impression:
Awal aku mengenal Critical Eleven tentunya dari berbagai review yang banyak sliweran di goodreads. Selain itu, aku juga mengikutin akun Ika Natassa. Jadilah aku tahu kenapa novel ini begitu booming. Tentunya, aku mempunyai ekspektasi yang sangat besar akan novel ini.

Setiap aku pergi ke toko buku, novel ini seakan-akan terus memanggilku. Sayangnya, baru sekarang aku bisa menyambar dan membacanya.

Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi  semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang.—hlm.17.

The Appearance:
Dari segi penampilan, novel ini cukup menarik. Judul yang membuat semua orang penasaran dan desain yang cukup simple. Warna biru kavernya bagus. Aku suka banget. Tebal novelnya masih dalam batas wajar. Tentunya, dengan ekspektasi yang cukup besar, aku tidak keberatan dengan tebal novel ini. Menurutku sudah pas.

When memory plays its role as a master, it limits our choices. It closes doors for us.—hlm. 23.

The Summary:
Cerita dalam novel ini bermula dari pertemuan Ale dan Anya dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Baik Ale dan Anya tertarik satu sama lain. Singkat kata, perkenalan di dalam pesawat itu telah mengubah jalur hati masing-masing. Mempersatukan mereka dalam suatu ikatan pernikahan utuh.

Sayangnya, apa yang dikatakan di berbagai macam novel atau pun film menjadi kenyataan. Tidak selamanya kebahagiaan itu bisa bertahan. Begitu pula dengan kehidupan rumah tangga Ale dan Anya. Kehidupan mereka yang awalnya begitu bahagia, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi senyum maupun tawa di antara keduanya. Kehilangan anak mereka bahkan sebelum anak tersebut lahir telah membuat kehidupan rumah tangga Ale dan Anya terguncang hebat.

Selain kehadiran Ale dan Anya, ada juga beberapa tokoh yang cukup sering muncul. Orang tua Ale, adik-adik Ale, sahabat Anya dan beberapa tokoh sampingan lainnya.

“Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya aja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.”—hlm. 31.

The Point of view, plot, and setting.
Novel ini menurutku cukup unik. Sudut pandang yang digunakan merupakan sudut pandang orang pertama. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya. Sayangnya, pada bagian awal tidak tertulis sudut pandang siapa yang digunakan—pada bab 1. Jadi, agak sedikit sulit untuk menafsirkan siapa yang bicara. Apalagi, bagi yang baru pertama kali membaca.

Plot yang digunakan adalah plot campuran. Berkali-kali alur yang digunakan dalam novel ini terlihat sangat mash up. Dalam satu sudut pandang bisa terdiri dari dua alur, yang sejujurnya, kalau pembaca tidak berhati-hati akan terasa beberapa keganjilan. Loncatan alurnya cukup terasa. Mungkin ini yang menjadi salah satu kekurangan dari novel ini.

Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film.—hlm. 40.

Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sediri.—hlm. 57. 

Latar yang digunakan adalah Jakarta di zaman modern. Haha. Sumpah ya aku nggak kreatif banget mendeskripsikan latarnya -_-“

The Opinion
Menurut pendapatku, cerita yang disajikan cukup tidak biasa. Bahkan, cukup menarik. Aku suka dengan gaya bercerita Ika Natassa. Ringan dan renyah. Tidak membuatku mengerutkan dahi terlalu dalam.

Penggunaan premis critical eleven merupakan ide yang patut diapresiasi. Kok bisa ya kepikiran? Pokoknya, novel ini menarik.

Last Impression
Love does not consist of gazing at each other, but in looking outward together in the same direction.—hlm. 330.
The Conclusion
Kesimpulannya, novel ini recommended buat yang lagi pengen cari novel roman yang membahas pernikahan :”