Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Marriage Story
I never really came alive for myself; I was only feeding his aliveness.

Marriage Story. Sumber: IMDb.com
Judul: Marriage Story
Genre: Comedy, Drama, Romace
Sutradara: Noah Baumbach
Penulis naskah: Noah Baumbach
Pemain: Adam Driver, Scarlett Johansson, Laura Dern
Durasi: 137 menit

A stage director and his actor wife struggle through a gruelling, coast-to-coast divorce that pushes them to their personal and creative extremes.
***

Memutuskan untuk menonton Marriage Story merupakan suatu hal yang.. yaa.. bukan depresif, sih. Lebih ke.. menarik untuk ditarik pembelajarannya. Bisa dibilang, Marriage Story berhasil menyajikan kisah drama rumah tangga yang sangat realistis. Tidak seperti film drama lainnya, Marriage Story betul-betul menggambarkan kehidupan rumah tangga yang jauh dari sempurna.

Tentang Marriage Story


Nicole (Scarlett Johannson) merupakan seorang aktris teater. Ia menikah dengan Charlie (Adam Driver) dan dikaruniai seorang anak bernama Henry (Azhy Robertson). Charlie sendiri adalah sutradara teater yang dimainkan oleh Nicole. Setelah menjalani kurang lebih lima tahun pernikahan, akhirnya pada satu titik, Nicole dan Charlie memutuskan untuk berpisah.

Keseluruhan proses perpisahan itulah yang dicoba ditampilkan dalam Marriage Story. Mulai dari ketika Nicole mulai menggunakan jasa Nora Fanshaw (Laura Dern) sebagai pengacaranya, Charlie yang harus bolak-balik New York dan Los Angeles untuk mengurus teaternya dan membagi waktu bersama anaknya, perjuangan masing-masing menghadapi proses perceraian, hingga bentuk kefrustrasian masing-masing.

Yang saya sukai dan tidak sukai dari Marriage Story


Sumber: pinterest.com, edited by me

Sebagai sebuah film drama romans, menurut saya Marriage Story berhasil mengambil sisi lain dari genre itu sendiri. Dikatakan bahwa pada dasarnya, Noah Baumbach mengambil cerita ini dari kisahnya sendiri. Itulah yang menyebabkan film ini terasa sangat personal. Dalam penceritaannya, memang tidak ada suatu konflik yang begitu dahsyat di antara Nicole dan Charlie. Akan tetapi, saya bisa melihat bahwa, pada akhirnya seseorang dapat merasa lelah dan capek dengan keadaan yang mereka miliki.

Akan tetapi, dengan durasi yang menyentuh dua setengah jam, jujur saja alur film ini cukup lambat. Saya memang penasaran dengan akhir cerita, akan tetapi lambatnya alur membuat saya sedikit terganggu. Lalu, apabila disebutkan bahwa film ini memiliki genre komedi, jujur komedi yang ditampilkan hanyalah beberapa kilas saja. Bukanlah unsur yang dominan dalam film ini.

Yang saya pelajari


Film ini seolah menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga itu bukanlah suatu hal yang sempurna. Akan ada banyak celah di dalamnya. Ketika dua orang yang betul-betul sempurna memilih untuk tidak bersatu, ya mungkin hal itulah yang akan terjadi. Tak ada satupun hal yang bisa membuat kedua orang tersebut tetap bersama meskipun masih ada perasaan yang tertinggal apabila memang sudah ada yang terluka.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Charlie bernyanyi. Entah mengapa, saya bisa betul-betul melihat kefrustrasian Charlie. Bagaimana ia telah menghabiskan waktu, tenaga, dan juga materi untuk menjalani proses perceraiannya dengan Nichole. Sedangkan untuk Nichole, saya masih menyukai karakternya, tapi saya menyayangkan porsi dirinya bersama dengan Henry tidak terlalu terekspos.

Terakhir, adalah adegan klimaks yang berhasil memporak-porandakan emosi saya ketika menonton film ini. Di situlah terungkap betapa kedua orang yang dulunya saling mengerti, bisa saling tidak mempercayai pada akhirnya.

Kesimpulan


Saya mengakui bahwa film ini sangatlah realistis. Akan tetapi, entahlah, mungkin karena saya tidak memiliki experience yang sama dengan tokohnya, saya tidak merasakan emosinya yang begitu dalam. Meski demikian, saya menyarankan kalian untuk menonton film ini. Bagaimanapun, kalian harus menyadari bahwa kehidupan rumah tangga bukan hanya soal bagaimana saya dapat berbahagia dengan pasangan saya, tapi bagaimana saya bisa tetap mengaktualisasikan diri ketika saya telah menikah.

7 dari 10 bintang untuk lagu yang dinyanyikan Charlie.

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Imperfect
Ketika karier dan cinta berhadapan dengan jarum timbangan

Sumber: imdb.com
Judul: Imperfect
Sutradara: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Penulis Naskah: Meira Anastasia dan Ernes Prakasa
Pemain: Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandhi, Dion Wiyoko, Shareefa Daanish, Ernest Prakasa
Genre: Comedy, Drama
Durasi: 113 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp40.000,-
Being born fat and has dark skins, it feels like a curse for Rara, especially when she worked at the office that has surrounded by pretty girls. Her boss wants her to lose her weight, but there is a man who loves the way she were.
***

Menikmati film garapan Ernest Prakasa di akhir tahun memang bisa menjadi pilihan. Masih sejalan dengan film-film Ernest sebelumnya seperti Cek Toko Sebelah (2016) dan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018), Imperfect hadir sebagai film drama yang juga berbalut komedi. Secara konten yang ingin diangkat, saya cukup salut dengan usaha Ernest dan Meira. Membahas insecurity yang ternyata dialami oleh semua orang dalam film ini.

Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan

Ibu Siska, Rara, dan Dika. Sumber: hipwee.com
Rara (Jessica Mila) telah terlahir sebagai sosok yang gemuk dan berkulit hitam. Sebagaimana orang Indonesia yang suka nyinyir dan hanya sekadar melihat penampilan, tentu Rara diremehkan. Di rumah, sang mama (Karina Suwandhi), selalu mengingatkan Rara untuk menjaga berat badannya. Lama-kelamaan, Rara menjadi muak dengan seluruh perintah mamanya. 

Sedangkan sang adik, Lulu (Yasmin Napper), memiliki tubuh ideal dan kecantikan sang mama. Otomatis, ia menjadi anak 'kesayangan'. Rara merasa tidak pernah disayang oleh mamanya karena penampilan fisik yang ia miliki. Bagi Rara, ayahnya lah yang selalu mendukung dirinya apa adanya. Sayangnya, sejak ayahnya meninggal, Rara kesulitan menghadapi berbagai cibiran serta tatapan tak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

Untungnya, Rara memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya, Dika (Reza Rahadian). Bekerja sebagai fotografer, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan hati Rara. Ia tak peduli dengan penampilan Rara seperti apa, yang terpenting adalah kebaikan hati Rara. 

Sayangnya, kebahagiaan Rara terusik kala ia menemui masalah di Kantor. Setelah mundurnya Sheila (Cathy Sharon), salah seorang manajer di Malathi, Rara dihadapkan oleh kenyataan yang cukup pahit. Bagi Kelvin (Dion Wiyoko), bos Malathi, Rara lah yang seharusnya menggantikan posisi Sheila. Sayangnya, bagi Kelvin, otak saja tak cukup untuk menjalankan peran sebagai manajer di sebuah lini kosmetik seperti Malathi. Rara juga harus meyakinkan klien maupun investor melalui penampilannya. Dengan demikian, dimulailah upaya Rara untuk menjadi versi '"sempurna" di mata masyarakat. Menjadi cantik dan kurus. Iya, standar kecantikan yang terpatri begitu dalam di masyarakat umum.

Upaya membahas Insecurity dari berbagai sisi

Sumber: Canva & iconfinder.com, edited by me
Kalau boleh jujur, saya belum membaca novel karya Meira Anastasia yang menjadi dasar pembuatan film ini. Akan tetapi, saya merasa tersentil dengan beberapa bagian yang ditampilkan di dalam film. Pernyataan dari Kelvin dalam film ini semakin menegaskan bahwa di dunia yang patriarkis ini, stadar kecantikan seorang perempuan masih menjadi sandungan. Apabila ingin berhasil dalam berkarier, maka kamu harus memenuhi standar penampilan layak versi masyarakat.

Hal ini setidaknya pernah saya rasakan. Saya yang memang pada dasarnya malas dandan dan berpenampilan urakan, dipandang tidak sebaik kawan saya yang berpenampilan rapi dan berdandan. Yaa, akan tetapi kemudian saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa insecure karena hal yang demikian. Bukankah lebih baik mencari lingkup yang bisa menerima saya apa adanya dengan penampilan saya yang urakan? 

Akan tetapi, saya cukup salut dengan transformasi Rara, baik secara penampilan dan sifat. Di klimaks cerita pun, akhirnya terungkap bahwa masing-masing tokoh memiliki rasa insecure dalam diri mereka. Mereka merasa banyak sekali hal yang kurang dari diri mereka. Padahal, rasa kurang tersebut tidak akan ada apabila mereka melihat kekurangan yang mereka miliki menjadi suatu kelebihan. Kira-kira, menurut saya, hal inilah yang dicoba untuk digambarkan dalam film Imperfect. Mulai dari Rara yang tidak pede pada penampilannya, Lulu yang selalu memperhatikan komentar para netizen yang julidnya minta ampun, geng anak kosan dengan masalah mereka masing-masing, atau bahkan insecurity dari mama Rara. Semuanya ternyata menyimpan beban masing-masing tanpa pernah membagikannya pada orang lain.

Secara pribadi, sosok Dika di sini kurang-lebih cukup lovable--biasanya saya sudah lelah dengan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Reza. Akan tetapi, di sini saya merasa puas dengan karakter Dika. Tidak terlalu berlebihan dan bisa cukup memorable. Sosok Fey, sahabat Rara, yang diperankan oleh Shareefa Danish juga cukup mencuri perhatian. Saya suka dengan sikap bodo amat yang diperankan oleh Fey. Tak lupa, geng anak kosan juga menambah nilai komedi dalam film ini.

Secara keseluruhan, saya puas dengan menonton film ini. Saya rasa, film-film Indonesia telah mulai bangkit dan tentunya patut ditonton. Akan tetapi, apabila saya diminta membandingkan, tampaknya Milly & Mamet masih menjadi film garapan Ernerst favorit saya. Cek Toko Sebelah dan Imperfect menurut saya memang hadir sebagai suatu film pengingat. Dalam artian, pesan yang ingin disampaikan cukuplah dalam. Bukan sekadar drama dan komedi. Sedangkan, Milly & Mamet lebih merujuk pada sebuah film hiburan ringan yang membuat tertawa.

Kesimpulan

Tentu, saya akan merekomendasikan film ini sebagai pilihan ketika ingin menonton di bioskop. Film ini akan membuatmu tersenyum karena manisnya hubungan Rara dan Dika, tertawa karena tingkah laku geng anak kosan, atau menangis karena emosi yang dirasakan oleh Rara. Jadi, jangan lupa ya untuk tetap mendukung perfilman Indonesia yang tak pernah lelah berbenah diri.

Satu hal yang akan saya selalu ingat dari film ini adalah, menjadi sempurna belum tentu akan membuat dirimu bahagia. Maka dari itu, akan jauh lebih baik apabila kamu menjadi versi terbaik dari dirimu. Tanpa perlu menghakimi orang lain, jadilah seseorang yang menyenangkan dan berkesan.

4 bintang untuk kisah yang sungguh relatable dengan kehidupan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Knives Out
Nothing brings a family together like murder

resensi-film-knives-out
Knives Out (2019). Sumber: IMDb
Judul: Knives Out
Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemain: Daniel Craig, Crish Evan, Ana de Armas
Genre: Comedy, Crime, Drama
Durasi: 130 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp35.000,-

When renowned crime novelist Harlan Thrombey dies just after his 85th birthday, the inquisitive and debonair Detective Benoit Blanc arrives at his estate to investigate. From Harlan's dysfunctional family to his devoted staff, Blanc sifts through a web of red herrings and self-serving lies to uncover the truth behind Thrombey's untimely demise.
***

Bagi saya, menonton film detektif akan menjadi salah satu hal yang menarik. Sebagai pecinta kisah Sherlock Holmes, tentu saya sangat senang ketika mengetahui ada satu film mengenai detektif yang bukan Holmes maupun Poirot. Bukankah mengenal sosok detektif baru di industri ini akan sangat menarik?

Sinopsis

Keluarga Thrombey. Sumber: nme.com

Suatu hari, Harlan Thrombey (Christoper Plummer) ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Maka dari itu, sebuah investigasi dilakukan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada penulis novel misteri yang dikagumi di seantero kota

Film dimulai dengan adegan-adegan interogasi yang dilakukan oleh Letnan Elliott (LaKeith Stanfield). Interogasi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga Thrombey yang tersisa, mulai dari Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), putri pertama Harlan; Richard Drysdale (Don Johnson), suami Linda; Walt Thrombey (Michael Shannon), putra ketiga Harlan; Joni Thrombey (Toni Collette, istri putra kedua Harlan; Meg Thrombey (Katherine Langford), putri Joni, hingga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat utama Harlan.

Interogasi ulang tersebut nyatanya sedikit demi sedikit telah mengungkap jalan cerita asli kematian Harlan. Hal inilah yang berupaya diungkap oleh Benoit Blanc (Daniel Craig), detektif swasta yang disewa oleh seseorang yang tak dikenal. Bukan soal uang yang membuat Blanc tertarik mengungkap kasus ini, akan tetapi adanya keanehan-keanehan yang ia temui dari investigasi yang ia lakukan.

Menunggu Twist yang Tak Kunjung Muncul

Sumber: google.com, edited by me.

Tentu, saya sebagai seorang penonton film merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Knives Out adalah sesuatu yang baru. Dalam artian, mencoba untuk mengangkat sosok detektif selain Holmes dan Poirot merupakan hal yang sangat berani. Akan ada banyak orang yang membanding-bandingkan kemampuan Blanc dengan kedua detektif tadi. Meskipun demikian, menurut saya, Benoit Blanc di sini berhasil menciptakan karakternya sendiri. Sebagai seorang detektif, ia cukup menganalisis dari beberapa fakta yang ia temukan. Ia tak perlu show off sepeerti Holmes di tiap aksinya.

Kemudian, para pemainnya sendiri saya akui telah memiliki porsi yang baik. Mereka semua memiliki peran yang signifikan dalam keseluruhan jalan cerita. Bahkan, sosok K. Callan yang memerankan Grannana Wannetta cukup mencuri perhatian. Bahkan, menjadi kunci dari keseluruhan kasus.

Akan tetapi, entah mengapa saya tidak bisa menikmati Knives Out seperti orang-orang lain yang lebih dulu menonton. Saya merasakan adanya kejanggalan yang cukup membuat saya terusik. Sebagai contoh, saya mengharapkan adanya twist di bagian akhir film. Twist yang setidaknya membuat saya jaw dropping. Sayangnya, sama seperti pendapat kenalan saya, I keep waiting for the twist, but there is no any. 

Iya. Bagi saya, twist yang disajikan oleh Rian Johnson tidak cukup membuat saya tercengang-cengang. Bahkan, menurut saya hal tersebut sangat mudah tertebak. Merupakan suatu hal aneh apabila Ransom Drysdale yang diperankan oleh aktor sekelas Chris Evan, tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita ini. Sayangnya, menurut saya, twist ini tidaklah se-grande yang saya harapkan.

Kemudian, satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah teknik kilas balik yang digunakan oleh Rian Johnson. Saya masih setuju, kok, dengan bagaimana diceritakan kemungkinan-kemungkinan motif yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga Thrombey. Akan tetapi, saya merasa bahwa informasi yang digali dari Marta terlalu banyak. Hal inilah yang membuat saya mengharapkan suatu bentuk plot twist maha dahsyat di akhir. Unfortunately, hal tersebut tidak terjadi.

Kesimpulan

Detektif Benoit Blanc. Sumber: cinemablend.com

Banyak yang memberikan penilaian bagus untuk film ini. Bahkan, reviewer favorit saya di YouTube, Cine Crib, memberikan skor hampir sempurna. Akan tetapi, kala ini saya tidak sependapat. Menurut saya, meskipun cerita yang disajikan telah utuh dan bahkan menggunakan teori donat yang unik, plot twist besar di akhir cerita kurang begitu berkesan bagi saya.

Meski demikian, bukan berarti film ini menjadi tidak layak ditonton. Saya masih menyukai sense detektifnya dan juga para pemainnya. Film ini masih mampu membangkitkan kenangan-kenangan saya terhadap kisah-kisah detektif yang selalu menjadi favorit saya. Kemudian, saya juga sangat suka dengan setting rumah Keluarga Thrombey. Rumah itu betul-betul terlihat antik dan menarik.

3 bintang untuk sosok Benoit Blanc dan aksennya yang unik.

Best regards,
Puji P. Rahayu
Harry Potter and The Cursed Child

I didn't choose, you know that? I didn't choose to be his son. Albus, pg. 31.

By  J.K. Rowling, John Tiffany, and Jack Thorne
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Digital edition published by Pottermore Limited in 2016
Publisher              : Arthur A. Levine Books
Year of published : 2016
Genre                    : Fantasy, Drama, Young-Adult
Number of pages  : 327 pages
ISBN                    : 978-1-78110-704-1

The Eighth Story. Nineteen Years Later.

Based on an original new story by J.K. Rowling, Jack Thorne and John Tiffany, a new play by Jack Thorne, Harry Potter and the Cursed Child is the eighth story in the Harry Potter series and the first official Harry Potter story to be presented on stage. The play will receive its world premiere in London’s West End on July 30, 2016.


It was always difficult being Harry Potter and it isn’t much easier now that he is an overworked employee of the Ministry of Magic, a husband and father of three school-age children.


While Harry grapples with a past that refuses to stay where it belongs, his youngest son Albus must struggle with the weight of a family legacy he never wanted. As past and present fuse ominously, both father and son learn the uncomfortable truth: sometimes, darkness comes from unexpected places.

More info:

[Spoiler alert! You've been warned!]

First, I have to admit that I am one of Harry Potter's biggest fan. Since I collected every HP movie, I started to falling in love with Rowling's Wizarding World. I often check Pottermore.com to get new update about Harry Potter. When I heard that Rowling released her eight book, which is some sequel from Harry Potter series, I really excited. I started to made many speculations in my head about Albus-Scorpius Journey.

The Chronicles of Audy O2
"Kalau dipikir-pikir, kalian ini... mirip oksigen, ya. Selalu ada, tapi baru kerasa penting waktu nggak ada." Romeo, hlm. 283.

By Orizuka
4 of 5 stars

Image source: here
Penyunting                            : Yuli Yono
Cover desainer dan ilustrator : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                          : KP. Januwarsi
Genre                                   : Roman, drama
Penerbit                                : Penerbit Haru
Tahun terbit                           : Juli 2016, cetakan kedua.
Tebal buku                            : 364 halaman
ISBN                                    : 978-602-7742-86-4
Harga                                : Rp63.900,- di TM Bookstore, Depok Town Square.

Hai. Namaku Audy. Umurku masih 22 tahun. Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai cowok yang kusukai memutuskan untuk meneruskan sekolah ke luar negeri. Ketika aku sedang berpikir tentang nasib hubungan kami, dia memintaku menunggu. Namun ternyata, tidak cuma itu. Dia juga memberikan pernyataan yang membuatku ketakutan setengah mati! Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi, masalah baru (lagi-lagi) muncul. Seseorang yang tak pernah kulirik sebelumnya,sekarang meminta perhatianku! Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang sepertinya selalu ribet. Kronik dari seorang Audy.

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Yeay. Akhirnya aku berhasil membeli salah satu novel yang pengin aku baca setelah membaca novel terakhirnya. Yap. The Chronicles of Audy: O2 berada pada list pertama di Wishful Wednesday yang aku buat. Jujur saja, aku senang bisa menyelesaikan kisah 4R1A dengan sukses. Aku sukses dibuat baper dan pengin terus baca kisah Audy sampai akhir oleh Orizuka.
Penari Kecil
"Kita nggak perlu kaya raya untuk bahagia." --Tamara, hlm. 347.

By Sari Safitri Mohan
3.5 of 5 stars

Image source: Goodreads.com
Editor              : Donna Widjajanto
Desain sampul : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : Februari 2013
Tebal buku      : 384 halaman
ISBN               : 978-979-22-9158-2
Genre              : Drama, roman
Harga buku  : Rp25.000,- di TM Bookstore, Depok Town Square

Ira anak bungsu Ibrahim, pengusaha tailor yang galak dan keras. Berbeda dengan si sulung yang selalu patuh, sejak kecil Ira tetap berusaha mematuhi peraturan atau larangan sang ayah tapi dengan sedikit “penyesuaian” di sana-sini demi tetap mendapatkan yang ia mau.

Larangan sang ayah ditujukan pada kecintaan Ira menari, perkawanannya dengan teman lelaki, hingga larangan yang berbenturan dengan apa yang begitu diingini Ira. Bagaimana Ira menjalani hidup dengan semua kungkungan dan larangan ayahnya? Dapatkah akhirnya Ira menari sesuai dengan musik pengiring yang diingininya sendiri?

Penari Kecil memasukkan benturan nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern, cinta anak pada orangtua, dan unsur-unsur kemanusiaan universal.
 

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Novel yang cukup mengejutkan. Aku sama sekali tidak menyangka kalau novel ini memiliki daya tarik tersendiri. Awalnya, aku berpikir bahwa novel ini sekadar novel roman biasa. Nyatanya, berbagai nilai moral dipertentangkan dalam novel ini. Tak heran bila banyak yang menyatakan bahwa novel ini kaya akan nilai moral dan pembelajaran.

1/6
"Kau seorang dokter, Sam. Setiap aku terluka, kau bisa sembuhkan aku."--Kai.

By Flazia
2 of 5 stars

image source: goodreads.com
Penyunting       : Anin Patrajuangga
Desainer           : Jang Shan dan Lisa Fajar R.
Penata Isi          : Abdurrahman
Penerbit            : Grasindo
Tahun Terbit     : 2014
Tebal Buku       : 232 halaman
ISBN                 : 9786022517191
Baca via iJakarta


“Tidak Butuh Satu Detik untuk Mencintaimu…”


Samantha Arin:
Dia adalah Kai Takahashi, seorang aktor, vokalis sekaligus gitaris band terkenal Mr. Sky. Pagi tadi kakeknya meninggal. Dia pasti bersedih karena hal itu. 
“Aku turut berduka cita, aku tahu ini membuatmu sedih. Aku mengerti apa yang kau rasakan…”
“Kau mengerti?” ujar Kai sinis padaku. “Skenario apa sih yang kalian hafalkan? Kenapa semua dokter selalu bilang tahu apa yang kurasa, tapi wajah kalian tetap tampak begitu tenang? Kalau kalian tahu bagaimana rasanya, kalian tidak akan setenang itu! Sadar tidak sih kalau kalian itu sok tahu?!”



Kai Takahashi:
“Sok tahu?! Dengar ya, kami tidak sok tahu! Kami hanya berusaha membantu!”
“Aku tidak butuh bantuan!” ujarku. “Aku... aku hanya… butuh Kakekku…”
“Kau butuh Kakekmu? Kalau begitu kau butuh mati!” ucap gadis berjas putih itu marah.
A-Apa? Mati dia bilang?
“Kau terkejut mendengar skenario yang tidak pernah kau dengar sebelumnya? Kau perlu tahu kalau kami tidak bersandiwara! Kami mengabdi mempertaruhkan hidup untuk semua pasien yang membutuhkan kami! Dan itu bukan sandiwara seperti yang biasa kau lakukan di drama!”


***

Membaca 1/6 merupakan hal yang cukup tidak biasa bagiku. Mengapa? Karena 1/6 merupakan jenis novel yang aku hindari. Novel bertema Jepang atau Korea yang ditulis oleh penulis Indonesia merupakan bentuk novel yang aku hindari. Entahlah. Aku biasanya hanya merasa tidak cocok saja saat harus membacanya. Akan tetapi, entah mengapa pula akhirnya aku tertarik untuk membaca 1/6. Mungkin aku termakan blurb, mungkin juga karena aku memang sedang ingin membaca novel yang ringan.
Evergreen
Hidup itu sangat berharga

By Prisca Primasari
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Penyunting                            : Anin Patrajuangga
Penata Isi                              : Lisa Fajar Riana
Desain Sampul dan Ilustrasi : Lisa Fajar Riana
Penerbit                                 : Grasindo
Tahun Terbit                          : 2013
Tebal Buku                            : 203 halaman
ISBN                                     : 9786022510864
Baca via iJakarta

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!


Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?



Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?



***

Halo! Ah, aku senang sekali akhirnya bisa membaca Evergreen. Seingatku, Evergreen merupakan salah satu novel yang masuk rak to-read di akun Goodreadsku. Sebenarnya, aku sudah pernah membaca karya Prisca Primasari sebelumnya. Novel Kak Prisca yang pernah aku baca itu Eclair dan Paris. Jujur saja, aku jadi penasaran sebenarnya, apakah Kak Prisca memang penulis yang memiliki spesialisasi menulis berdasar latar tempat. Ketiga novel yang aku baca ini semuanya mengambil latar tempat di luar negeri. Mulai dari Eclair yang bertempat di Rusia, lalu Paris yang bertempat di Perancis, dan Evergreen yang mengambil tempat di Jepang.

The Chronicles of Audy: 4/4
"Aku cuma nggak peduli tempat kita tinggal. Yang penting aku tahu ke mana harus pulang."

By Orizuka

4 for 5 star

Image source: goodreads.com
Penyunting                                 : Yuli Yono
Desainer dan Ilustrator Sampul  : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                                : KP. Januwarsi
Penerbit                                       : Penerbit Haru
Tahun Terbit                               : April 2016, cetakan ketiga
Jumlah Halaman                         : 314 halaman
ISBN                                           : 9786027742536
Hadiah dari Kak Ren Puspita (Ren's Little Corner)

Hai. Namaku Audy.

Umurku masih 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja,

sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.


Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan. 
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy. 


***

Hore. Pada akhirnya aku bisa melanjutkan membaca seri The Chronicles of Audy. Seri ini merupakan salah satu seri yang aku tunggu-tunggu. Bukan ditunggu terbitnya, sih. Tapi ditunggu datangnya uang untuk membelinya. Ehh, ternyata aku malah beruntung mendapatkan paket buku dari Kak Ren. Makasih ya, Kak :*