“Akan kumainkan peran Romeo meski seisi dunia membenciku. Meskipun itu kamu,” — Wilo.

Lakon menjadi salah satu novel rekomendasi untuk 12 Book Read Challenge-ku tahun ini. Awalnya, aku sudah mulai membaca novel ini dari awal tahun, hanya saja ketertarikanku membaca AU membuatku terdistraksi. Alhasil, baru kali ini aku berhasil menyelesaikannya.


Setiap tahun, Departemen Seni Peran Universitas Amazhona selalu mengadakan pertunjukan teater di Hyde & Jeckyl Hall. Tahun ini, kisah yang diambil adalah kisah Romeo & Juliet. Sayangnya, di tengah-tengah persiapan, pemeran Romeo, Obil, ditemukan tewas di gedung teater. Parahnya, jenazah Obil dibalsam ekstrem hingga menyerupai boneka manekin. 


Tak ada yang bisa menebak siapa dalang dari kematian Obil. Ketegangan juga muncul di antara anggota teater karena orang yang menggantikan Obil bukanlah Remi yang berkedudukan sebagai pemeran pengganti, melainkan Wilo yang bahkan tidak mendaftar  casting. Belum pulih kekagetan para anggota teater atas tewasnya Obil, tiba-tiba satu per satu para pemain lain turut menjadi korban—mereka sama-sama tewas di gedung Hyde & Jeckyl Hall dan sama-sama dibalsam esktrem.


Inikah upaya Hyde & Jeckyl Hall menggusur para pemeran yang tak pantas tampil di panggung legendaris itu? Who Knows?


***


Aku suka ketika novel teenlit tidak sepenuhnya tentang kisah romance. Apalagi, genre utama Lakon memanglah misteri. Pembaca terus diajak menebak-nebak siapakah pelaku kejahatan di sini. Apakah memang Wilo yang berakhir menjadi pengganti Obil?—omong-omong, imbalan sebagai pemeran utama di pementasan ini sungguh luar biasa, Wajar bila posisi ini direbutkan—atau malah Nirah, sutradara film dokumenter yang pernah mendokumentasikan metode pembalsaman esktrem? 


Menurutku, sampai tengah bagian, penulis belum banyak memberikan petunjuk tentang siapa pelakunya. Ia lebih berfokus pada bagaimana kematian dari para korban lainnya masih terlihat cukup masuk akal dan tidak mengganggu jalan cerita. Jujur, aku juga kesulitan menebak siapa pelakunya. Tapi, waktu akhirnya direveal, aku langsung bisa memahami breadcrumbs yang coba ditunjukkan.


Hanya saja, kok ya bisa aku tidak menyadari kemungkinan dari si pelaku dari awal? I mean, harusnya aku langsung bisa menebak dari kedudukan orang yang akan mendapat keuntungan paling banyak apabila Obil meninggal, bukan? 


Hal lain yang kusukai dari novel ini adalah bagaimana hubungan Wilo dan Sanju bisa cukup berkembang dengan baik. Lama-lama, aku suka juga dengan bantering mereka. Oh, ya, satu hal yang kusyukuri, meskipun memang ada bibit-bibit romance antara Wilo dan Nirah, penulis enggak mencoba untuk sengaja menunjukkannya. Jadinya memang lebih natural.


Yang cukup disayangkan memang sisi misteri slash mistis dari Hyde & Jeckyl Hall yang memang enggak digali lebih jauh. Padahal, menurutku bisa saja lho, twist yang digunakan mencampurkan unsur mistis dari gedung ini. Jadi ada semacam keraguan, apakah pelaku adalah murni manusia atau ada dari kekuatan tak kasat mata—I think this concept is used a lot by Akiyoshi Rikako.


So far, aku cukup enjoy bacanya. Tidak menyesal mencoba untuk menyelesaikannya hanya dalam waktu dua hari. 

Jadi, buku ini merupakan salah satu rekomendasi untuk 12 Book Reading Challenge. Mudah-mudahan saja tahun ini aku betul-betul bisa menyelesaikan seluruh list bacaan yang sudah aku targetkan.


Isandra, atau Isa, mengalami perundungan saat SMP. Gara-garanya karena ia dianggap tak selevel oleh pentolah geng populer di sekolahnya, Lexy. Yaa, Isa berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa di SMP Bhakti Bangsa, satu sekolah elite yang kebanyakan diisi oleh anak pejabat, artis, ataupun para keluarga old money. 


Awalnya sih, Isa biasa-biasa saja dengan kenjomplangan kehidupannya dengan anak lainnya. Akan tetapi, kala ia menjadi target dari Lexy, Isa serasa langsung berada di neraka. Dengan berbagai cara, Isa akan diejek dan dirisak sesukanya oleh Lexy dan kawan-kawannya. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan selama ia bersekolah di Bhakti Bangsa. Maka dari itu, saat ia akhirnya lulus SMP dan melanjutkan sekolah di SMA negeri, Isa bertekad untuk tidak menjadi pecundang dan bisa meraih posisi sebagai anak populer di sekolahnya. Isa bisa, kan?


Rencana Isa cukup mulus. Ia mengubah penampilannya habis-habisan. Ia manfaatkan uang dari hasil ia membuka komisi untuk menggambar. Lalu, ia juga bertekad untuk masuk salah satu ekskul favorit di sekolahnya, ekskul dance. Semua terlihat lancar sampai kemudian, ternyata Lexy bersekolah di sekolah yang sama dengan Isa. Sialnya lagi, ternyata si Queen Bee itu juga masuk ke ekskul dance. Bagaimana nasib Isa? Apakah dengan kehadiran Lexy, Isa berhasil menjadi anak populer di SMA?


***


Well, honestly, novel ini mengingatkanku dengan zaman SMA. Bukan soal menjadi anak populernya, ya, tapi soal beberapa hal klasik terkait orientasi ekskul. Sumpah jadinya nostalgia banget. Aku masih ingat dulu aku juga harus mendapatkan tanda tangan dari para senior ketika akan masuk ke dalam salah satu ekskul, persis sama dengan apa yang dilakukan oleh Isa dan kawan-kawan. Aku juga masih ingat salah satu seniorku menyuruhku dan temanku untuk menyanyi di depan kelas si senior—yang anyway, setelah ku ingat lagi, it didn’t make any sense. What’s the use of it?


Selama membaca kisah Isa, di awal aku cukup gemas dengan kenaifannya. Ia jelas-jelas dipinggirkan oleh Lexy dan kawan-kawan. Tapi ia terus denial. Sebenernya enggak ada masalah ya kalau memang ingin jadi anak populer, cuma kalau anak-anak populer ini enggak menghargai kamu dan sebetulnya malah melakukan perisakan dalam bentuk lain, ya buat apa? Cukup lama buat Isa tersadar soal hal ini. Untungnya, ada kawan-kawannya di kelas yang akhirnya bisa menyadarkan Isa. Mereka adalah Olen, Tari, dan Nanda. Awalnya sih, Isa mengabaikan nasehat mereka. Tapi akhirnya, setelah suatu kejadian—yang membuat Isa learn the truth in a very hard way, Isa akhirnya sadar dan memutuskan untuk fight back.


Mungkin ada yang enggak setuju dengan penyelesaian konflik buat geng populer. Tapi mengingat di negeri yang udah kayak negeir komedi ini people in power tuh bisa di mana aja, bahkan di lingkup sekolah, kemunculan Mamanya Lexy harusnya bukan hal yang mengagetkan. Apalagi ternyata si guru pembina ekskul dance juga masih sepupu Mamanya Lexy. Enggak mengherankan at all menurutku. Yang menarik adalah, Reytia juga tetap berupaya memberikan sanksi secara sosial buat geng populer. Kayaknya ini cukup make sense with the power of social media now.


So, aku sangat mengapresiasi buku ini. Ceritanya bisa dibilang cukup ringan karena konfliknya enggak yang seberat itu. Tentu pembahasan soal perisakan ini penting karena pasti hal ini masih banyak terjadi in real life Really appreciate how Reytia bring this issue tanpa perlu menghadirkan cerita yang menyeramkan.



Finally, I’m back to reading J-lit in the healing fiction genre—though I’m not sure if that’s the right term. When I first picked up this book, I immediately noticed that it had a similar premise to We’ll Prescribe You a Cat. The difference is that The Blanket Cats refers to something like a cat rental shop, while We’ll Prescribe You a Cat is literally about a place where a doctor prescribes you a cat after examining you.


In short, this book contains seven short stories, each featuring a different cat rented out from The Blanket Cats. Throughout the stories, you’ll meet a calico, a Maine Coon, a Manx, an American Shorthair, a Mongrel, and even a Russian Blue. I was honestly delighted to learn new things while reading—like the fact that most calicos are female, and male calicos are extremely rare due to genetics. That little detail made me appreciate the uniqueness of calico cats even more.


The rules for renting a cat from The Blanket Cats are actually quite simple. Customers can only keep the cat for three days, and they’re only allowed to feed it food bought from the store. The blanket is also very important—if it gets lost, the cat might throw a tantrum and won’t be as friendly toward the customer. Most of the cats at The Blanket Cats are very clever and manage to meet the expectations of those who rent them. That’s really the charm of each cat in this collection


In my opinion, the cats in this book aren’t the typical magical creatures that suddenly bring miracles. Maybe only the Maine Coon has a hint of magical ability—though I started to doubt that, since the character could simply have been hallucinating. Who knows? As for the other cats, they don’t play that kind of role. In fact, some of them felt like they were just present without having a very significant impact on the story. That said, each customer still has a strong and unique reason for renting a cat, which makes their stories engaging in their own way. 


Out of all the stories, there are two that felt quite twisted to me: The Cat with No Tail and The Cat No One Liked. I really couldn’t guess the truth behind the characters in these ones. For The Cat with No Tail, the story is told from the perspective of what feels like an anti-hero, so my first impression of the plot completely collapsed once the truth was revealed. Meanwhile, The Cat No One Liked had a similar kind of twist, and in fact, I think it was the most surprising story for me. Sometimes people develop certain attitudes because of traumatic experiences in their past—just like the landlord and the mongrel cat he kept renting.


Another memorable story was The Cat Who Went on a Journey. In this book, the author plays with different points of view—sometimes first person, sometimes third person. The most interesting part of this chapter, though, is that it’s told from the cat’s perspective. Even though the storyline is a bit cliché, I actually think this one could be expanded further. If there were ever a continuation or spin-off in the future, I definitely wouldn’t complain—I’d happily read it.


Also, one of the reasons I picked up this book in the first place is because it’s translated by Jesse Kirkwood—one of my favorite J-lit translators. Whenever I read her translations, I feel an instant click and almost always enjoy the experience.


Overall, this book is your typical healing fiction. So yes, it might follow a formula similar to other books in the genre. But since this one revolves around cats, I completely loved it and enjoyed reading every page. I’m even starting to suspect that in Japan, many families really do keep cats—because books about them seem to be everywhere!

When a murder investigation blends with witchcraft rituals and magic, you know things are about to get unsettling.


Mazzy and Nora, two friends who regularly dabble in witchcraft, decide one night to perform a ritual. You know the kind—candles, chants, a few mystical objects, all under a full moon by the waves. For them, it was supposed to be just another experiment. Nothing seemed to happen afterward, so they packed up and went home. But everything changed when they stumbled across a dead body near the shoreline. What made it even more horrifying was that the body of the girl was missing both her teeth and her arms. In shock, they called the police.


The trauma from that night follows Mazzy and Nora long after. Strange, eerie things keep happening: Nora talking and singing in her sleep with a voice that doesn’t sound like hers, Mazzy humming mysterious melodies she doesn’t remember learning, Henry (Mazzy’s brother) drawing chilling images of the dead girl, and then—another body turning up, discovered once again by them. It becomes clear to Mazzy that this isn’t just about a failed spell or harmless ritual. Something much darker is tied to the corpse they found.


I have to admit, I actually enjoyed reading this book more than I expected. At first, I hesitated and wasn’t sure I would like it. The pacing was a bit sluggish at times, but I still enjoyed the mix of mystery, creepy moments, the banter between Mazzy and Nora, and even a little spark of romance between Mazzy and Elliot.


What didn’t work for me was the way the witchcraft and magical elements were presented. Sometimes it felt caught between being believable and completely unbelievable. The skepticism from the other characters made it hard to trust in the magical parts of the story, so I wasn’t fully convinced about what Mazzy and Nora were capable of.


The plot itself also left me a bit confused. For example, when I tried to look up the “Hand of Neptyse,” all I found was something from a Yu-Gi-Oh! card (lol). I wasn’t sure if the cult mentioned in the book was meant to be based on something real or purely fictional.


Still, I’m proud of myself for finishing this 348-page book without feeling bored. It was actually a smooth and entertaining read overall, even if the plot had some bumps. If you’re looking for something spooky to read in October—creepy enough for Halloween vibes but not overly heavy or terrifying—I think this book is worth a try.


Thanks to NetGalley and G.P. Putnam’s Sons for the ARC in exchange for an honest review.


3.5 out of 5 stars,

Book review of Oxford Soju Club by Jinwoo Park

I picked up this ARC on a whim, after spending too much time on AUs and suddenly craving a proper book again. At first, I thought the ARC had already expired, but since it hadn’t, I decided to dive in. The hook was intriguing, a North Korean spy in Oxford? Definitely not something I see every day.


I initially expected the story to follow a single straightforward narrative. Instead, each chapter is divided into three perspectives: The Northerner (Yohan, a North Korean spy), The Southerner (Jihoon, who runs a Korean restaurant in Oxford), and The Westerner (Yunah, a Korean-American agent).


From the author’s foreword, it’s clear that Jinwoo Park wanted to explore different facets of the Korean experience abroad. Each character embodies that in their own way. Yohan, the spy, is perhaps the most fascinating, but also the most confusing. He is sent abroad by the regime, but the book never really explains his mission. I expected espionage, intelligence-gathering, or at least a clear directive—but instead, Yohan drifts around with his mentor and Doha, without any real sense of purpose. It left me wondering: why was he sent at all?


Still, through Yohan, we glimpse the life of someone who has no real ties or identity. As an orphan, he survives only by following orders, passive and detached. Jihoon, though very different, shares that sense of disconnection. After losing his mother, the only family he had, he has little reason to return to South Korea. Yunah, meanwhile, embodies the “in-between”: culturally American but raised by very traditionally Korean parents, which creates its own kind of tension.


I appreciated the attempt at weaving these three perspectives together, but I wished the connections were stronger. While there are overlaps between the characters, the storylines often feel too separate, with Yohan’s arc lacking the strength to anchor the others. By the middle of the book, when the focus began to shift, I found myself confused rather than more invested.


This isn’t an easy read, and the plot can feel uneven. Still, if you’re interested in stories about North Korean spies or want a window into the complexities of Korean lives abroad, this book offers some fascinating glimpses—even if it doesn’t fully deliver on its promise.



Title: Vera Wong’s Unsolicited Advice for Murderers

Author: Jesse Q. Sutanto

Publication date: 14 March 2023

Publisher: Berkley

Genre: Mystery, Contemporary


Vera Wong is a lonely little old lady-ah, lady of a certain age-who lives above her forgotten tea shop in the middle of San Francisco's Chinatown. Despite living alone, Vera is not needy, oh no. She likes nothing more than sipping on a good cup of Wulong and doing some healthy detective work on the Internet about what her college-aged son is up to. 

Then one morning, Vera trudges downstairs to find a curious thing-a dead man in the middle of her tea shop. In his outstretched hand, a flash drive. Vera doesn't know what comes over her, but after calling the cops like any good citizen would, she sort of . . . swipes the flash drive from the body and tucks it safely into the pocket of her apron. Why? Because Vera is sure she would do a better job than the police possibly could, because nobody sniffs out a wrongdoing quite like a suspicious Chinese mother with time on her hands. 

Vera knows the killer will be back for the flash drive; all she has to do is watch the increasing number of customers at her shop and figure out which one among them is the killer.

What Vera does not expect is to form friendships with her customers and start to care for each and every one of them. As a protective mother hen, will she end up having to give one of her newfound chicks to the police?

Knives Out meets Kim's Convenience in this captivating mystery by Jesse Q. Sutanto, bestselling author of Dial A for Aunties.


***


Vera Wong’s Unsolicited Advice for Murderers has been on my wishlist forever! I’ve always been curious about Jesse Q. Sutanto’s books—not just because she’s technically an Indonesian author, but also because I’ve heard so many fun things about her Aunties series. While waiting for my turn on Libby to read Dial A for Aunties, I decided to dive into Vera Wong’s first, and let me tell you—I was not disappointed!

The Story

Vera Wong is an energetic and opinionated Asian grandma who proudly runs “Vera Wang’s World-Famous Tea House.” (Yes, she’s aware it sounds like the designer’s name, but that doesn’t stop her from claiming her teahouse is world-famous!) After her husband passed away and her son, Tilbert—or Tilly, as Vera calls him—moved out, Vera settled into a predictable routine: morning walks, breakfast, and waiting for customers in her nearly empty teahouse.

Unfortunately, Vera’s tea house isn’t quite living up to its “famous” reputation anymore. Her only regular is Alex, a kindhearted man who stops by for tea and a chat while caring for his bedridden wife. Despite Tilly’s attempts to convince her to let the business go, Vera stubbornly holds on. The teahouse is more than just a shop to her—it’s a cherished link to her late husband, Jin Long.

One ordinary morning, Vera’s life takes a dramatic turn when she discovers a dead man in her teahouse. Is this really happening? Drawing from her extensive “training” (a.k.a. watching countless episodes of NCIS), Vera calls the police and does her best to preserve the crime scene—though her enthusiasm ends up being more of a headache for the authorities.

The victim, Marshall, is a mystery to Vera and her neighbors. Even stranger, the police dismiss the death as non-suspicious. But Vera’s gut tells her otherwise. Fueled by her unshakable confidence and knack for meddling, she decides to investigate on her own.

Soon, she narrows her list down to four suspects: Riki, an ambitious Indonesian IT tech bro; Sana, a struggling artist; Marshall’s twin brother, Oliver; and Julia, Marshall’s wife. As Vera interviews them (and even stays at Julia’s house!), she uncovers secrets, motives, and surprising connections. But with everyone seeming guilty, can Vera untangle the truth and solve the case?


Maybe you do something slightly bad, so what? Now you learn from it. You have a better judgment now. Better morals, because you learn from your personal mistake. This what life is about, Riki. No one is perfect, making right decisions all the time. Only those who are so privileged can make right decision all the time. The rest of us, we have to struggle, keep afloat. Sometimes we do things we are not proud of. But now you know where your lines are. You are good boy, Riki. You have good heart. That is all that matters.


The Opinion

I couldn’t quite pinpoint another book with the same vibe as Vera Wong’s Unsolicited Advice for Murderers, but Vera’s enthusiasm and charm make her unforgettable. She’s the epitome of an Asian grandma—lovable but nosy enough to give you a headache! In some ways, she reminded me of Ah Ma from How to Make a Million Before Grandma Dies, though Vera is definitely nosier.

While the story focuses on Vera solving Marshall’s mysterious death, it’s also about personal growth. Each suspect she interrogates ends up rediscovering their passion, self-worth, and connections with others. Vera’s meddling, as frustrating as it is, helps them rebuild their lives—and in the process, they become like family to her.

One of my favorite moments was when everyone rushed to the hospital when Vera fell ill. It was heartwarming to see how much they’d grown to care for her, showing that family isn’t always about blood ties. Vera’s interference, while chaotic, left a positive impact on everyone’s lives.

I also loved the little tidbits about tea! Learning about the different blends Vera prepared added a unique touch to the story.

As for the mystery, while it wasn’t the main focus, the plot twist caught me off guard. 
 Jesse Q. Sutanto definitely kept me guessing!

Conclusion

Overall, I really enjoyed this book! Vera is such a vibrant, high-spirited grandma—always nagging, cooking up a storm, and meddling in everyone’s business in the most lovable way. I also appreciated how every character’s story wrapped up in a satisfying way.

Now I can’t help but wonder about the next installment. What kind of case will Vera dive into next? And will any of the characters from this book make a return? Fingers crossed, because I absolutely can’t wait to find out!



Judul: Rumah Lebah
Penulis: Ruwi Meita
Tebal buku: 284 halaman
Penerbit: Bhuana Sastra
Tanggal terbit: 30 September 2019
ISBN: 9786232164840
Baca di Ruang Buku Keminfo

Mala, gadis kecil berusia enam tahun yang terobsesi dengan ensiklopedia. Dia hanya membaca buku ensiklopedia dan selalu mengurutkan buku satu sampai buku terakhir dari sisi kiri ke sisi kanan. Dia juga tertarik dengan beruang.


Di rumah, Mala hanya tinggal bersama orangtuanya, tetapi dia selalu membicarakan enam orang asing yang hidup bersama di dalam rumahnya. Dia selalu takut pada Satira, bersahabat dekat dengan Wilis, berbicara dengan Tante Ana yang suka berdandan, belajar bahasa Spanyol dengan Abuela, dan si Kembar yang hanya bisa mendengar, melihat dan mencatat.


***


Siapakah sebenarnya enam orang asing yang selalu dibicarakan Mala? Rahasia apakah yang dimiliki oleh enam orang asing tersebut?


Rumah Lebah menjadi buku pertama yang kuselesaikan di tahun 2025. Sepertinya, aku sudah mengetahui soal keunikan buku ini dari lama. Hanya saja, baru kemarin aku mendapat kesempatan untuk membacanya di Ruang Buku Kominfo (RBK).


Mala adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri, Winaya dan Nawai. Dulunya, Winaya adalah seorang wartawan investigasi di salah satu majalah yang terkenal seantero negeri. Sedangkan Nawai adalah ibu rumah tangga yang memiliki latar belakang di bidang pendidikan. Suatu kejadian membuat Winaya dan Nawai menyadari bahwa Mala bukanlah anak yang biasa-biasa saja. Banyak orang yang menyebutnya sebagai anak istimewa karena ia memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh anak seusianya.


Khawatir akan keistimewaan Mala, Winaya dan Nawai memutuskan untuk pindah ke desa yang berada di kaki gunung Wilis. Nawai memilih untuk mengajari Mala sendiri sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang ia dapatkan semasa kuliah. Winaya pun telah berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawan dan beralih profesi menjadi penulis novel misteri. Meski telah jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, Mala masih tetap bisa berinteraksi dengan sejumlah orang yang dianggap hanya khayalan oleh Winaya dan Nawai. Mereka adalah Wilis, Abuela, Tante Ana, Satira, dan juga si kembar. Lalu, bagaimanakah kehidupan Mala dan orang tuanya selanjutnya? Siapakah Wilis, Abuela, dan lainnya itu?


"Aku suka gelap karena kehidupan ini dimulai dari kegelapan. Aku suka air karena air bisa menenggelamkan ke tempat yang terdalam di mana kegelapan akan cepat menjadi kawan baikmu."

— Satira.


***


Dari awal, aku sudah mengharapkan adanya plot twist dalam cerita di buku ini. Akupun sudah menyiapkan diri untuk mendapati unsur horor dalam kisah Mala. Awalnya aku menduga kalau Wilis, Abuela, Tante Ana, ataupun Satira adalah teman bayangan Mala--atau malah memang hantu. Tapi ternyata dugaanku salah total. Aku tidak menyangka kalau seluruh kondisi Nawai menjadi breadcrumbs untuk klimaks dalam cerita ini.


Harus kuakui kalau Ruwi Meita telah berhasil membungkus cerita ini dengan apik. Kita dibuat penasaran dengan identitas orang-orang yang bisa dilihat Mala itu. Lalu, kita juga dibuat bertanya-tanya, apakah orang-orang itu bersifat baik atau malah bisa mencelakakan Mala pada akhirnya.


Untuk Nawai sendiri, aku sebetulnya sudah menyadari bahwa kisah dalam buku ini tidak hanya tentang Mala. Nawai juga memiliki porsi penting karena berkali-kali penulis menggunakan perspektif Nawai dalam ceritanya. Jadi, ketika kondisi Nawai terbongkar di akhir, aku tidak terlalu suprised.


Meski demikian, aku merasa kalau masih banyak bagian yang rumpang dalam cerita ini. Aku masih penasaran bagaimana awal mula Rayhan bisa bertemu dengan Tante Ana--dan apakah pertemuan sekali saja itu betul-betul bisa membuat Reyhan terlena? Lalu, aku juga jadi kasihan dengan Winaya. Apakah dia betul-betul tak menyadari perubahan dalam diri Nawai--sekecil apapun perubahannya? (view spoiler)


Sebetulnya, aku suka sekali dengan cerita yang diangkat. Misterinya cukup kuat dan membuat kita penasaran dengan kelindan keluarga Mala dengan pasangan Reyhan-Alegra. Tapi, aku tetap merasa banyak sekali pertanyaan yang muncul setelah aku selesai membacanya. Rumah Lebah ini tidak ada lanjutannya, kan? Rasanya ada banyak hal yang masih belum tuntas dalam cerita ini.


Meski demikian, aku tetap akan merekomendasikan novel ini kalau kamu ingin menemukan novel misteri lokal yang punya plot twist enggak biasa. Sepanjang cerita, kamu akan dibuat bertanya-tanya karena saking banyaknya hal yang terjadi di sekitar Mala.


3.5 dari 5 bintang untuk kecerdasan Mala yang sungguh tidak terduga. 

Image: Canva, edited by me

Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah
Penulis: Grace Tioso
Tebal buku: 396 halaman
Tahun terbit: 1 Juni 2023
Penerbit: Nour Publishing
ISBN: 9786232423985
Baca fisik

Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!

*** 


Perkumpulan Anak Luar Nikah menjadi salah satu wishlist-ku tahun ini. Melihat hype-nya di media sosial, membuatku penasaran, fiksi sejarah seperti apa yang dicoba diangkat oleh Grace. Awalnya, aku berniat membacanya via Rakata. Akan tetapi, karena aku mengalami kendala di aplikasi itu, aku memutuskan untuk membeli versi fisiknya saja. To be honest, aku tidak menyesal membeli versi fisiknya karena ceritanya memang sangat-sangat menarik dan berkesan.


The Story


Kisah bermula dari artikel berjudul "Shocking Confession from an Indonesian's Ex-ASEAN Scholarship Recipient" yang mengguncang media sosial dalam semalam. Mulai dari situ, hidup Martha yang awalnya tenang-tenang saja, langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Melalui permainan "25 Question About Me" yang ia unggah di blognya belasan tahun lalu, dunia tahu kalau Martha pernah memalsukan dokumen legal dan menggunakannya untuk mendaftar beasiswa. Iya, beasiswa yang mengantarkan dirinya berkuliah di salah satu kampus terbaik di Singapura.


Memalsukan dokumen legal di negara yang penuh kedisplinan itu tentu saja akan membuat hidup Martha sepenuhnya tidak baik-baik saja. Ia harus berhadapan dengan aparat hukum dan kemungkinannya dia akan dipenjara. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anaknya, keluarganya, dan juga teman-temannya?


The Opinion


Sedari awal aku membaca blurb novel ini dan sejumlah ulasan singkat di Twitter, tersebut-sebut kalau PALN akan mengangkat sisi lain dari China-Indonesian. Berhubung aku tahu memang ada sejumlah dokumen dari teman-teman Tionghoa yang sengaja diberi tanda berbeda, aku sudah mengira arah dari pemalsuan dokumen itu ke sini. Akan tetapi, aku baru betul-betul tahu soal istilah anak luar nikah melalui novel ini. Jadi, ketika aku mengetahui mengapa sampai ada istilah anak luar nikah dan bagaimana awal mulanya, aku speechless. Iya, aku tahu kalau memang ada diskriminasi terhadap teman-teman Tionghoa di negeri ini, tapi ternyata banyak juga yang belum aku pahami.


Novel ini memang memiliki genre fiksi sejarah, tapi bukan berarti kisah Martha ini terjadi di masa lampau. Kisah ini terjadi di masa sekarang. Sayangnya, dampak diskriminasi dan represi yang dialami oleh keluarga Martha maupun suaminya, Ronny, masih terasa sampai sekarang. Oh, ya. Meskipun novel ini memang fokus pada kasus legal Martha, banyak kilas-balik yang diceritakan tak hanya berfokus pada masa lalu Martha. Ada kehidupan Ronny, kedua sahabat Martha, Fanny dan Linda, sepupu Martha, Yuni, hingga wartawan dari The Hongkong Post yang ingin mengangkat kisah Martha, Krisna.


Melalui novel ini, Grace Tioso mencoba untuk mengungkap bahwa diskriminasi dan represi yang dialami oleh teman-teman Tionghoa bahkan bisa dilihat kelindannya sejak tahun 65. Hal ini tidak mengherankan karena setelah aku membaca Metode Jakarta, aku memahami ada semacam pergeseran kebencian kolektif yang dicoba dilanggengkan. Sayangnya, kebencian tersebut malah mengarah ke teman-teman Tionghoa. Selain peristiwa 65, tentu saja kerusuhan tahun 1998 menjadi salah satu titik balik dari sejumlah tokoh dari novel ini, seperti Ronny yang enggan untuk kembali ke Indonesia.


Pun ketika Ronny dan juga Linda dan Fanny mempertanyakan keputusan Martha untuk mengelola salah satu akun anonim Twitter yang membahas politik, aku juga bisa memahami kenapa selalu ada ketakutan di sana. Seorang Chindo bersinggungan dengan politik? Itu akan jadi keputusan yang sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Akan ada banyak pertimbangan di sana.


Conclusion


Rasanya, aku sudah lama sekali aku terakhir merasa tersentuh dengan bacaan yang aku baca. Nah, entah kenapa, di bagian-bagian akhir, aku bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan Martha. Jadi, teman-teman, kalau sempat, bacalah novel ini dan kalian akan sedikit memahami bagaimana struggle teman-teman Tionghoa, yang mungkin belum pernah kita sadari sebelumnya. 


Berhubung kerja-kerjaku juga dekat dengan isu-isu ini to some extent, aku merasa beruntung bisa mendapatkan pemahaman lebih jauh. Tapi aku yakin, masih banyak yang belum aku ketahui. Jadi, aku akan berupaya untuk mencari tahu lebih banyak lagi.


5 dari 5 bintang untuk fiksi sejarah yang unik ini.

Judul: Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama
Penulis: Keigo Higashino
Penerjemah: Milka Ivana
Tahun terbit: 30 November 2020
Tebal buku: 516 halaman
Penerbut: Gramedia Pustaka Utama

Pembunuhan bisa terjadi di mana saja, termasuk di sebuah kota kecil, terpencil, dan nyaris terlupakan di tengah pandemi Covid-19.

Seorang mantan guru SMP ditemukan tewas tercekik di halaman rumahnya sendiri. Polisi tidak tahu apakah ini pembunuhan terencana, pembunuhan tak disengaja, atau aksi pencurian yang berakhir dengan pembunuhan. Korban adalah guru yang disegani. Setelah pensiun pun, mantan murid-muridnya sering menghubunginya untuk meminta bantuan atau nasihat. Jadi, tentu saja para mantan muridnya, yang pulang ke kota itu demi menghadiri reuni, termasuk dalam daftar orang-orang yang dicurigai.

Polisi kebingungan, dan si pembunuh lega karena identitasnya tidak akan pernah ketahuan.

Namun, ia tidak menyangka bahwa putri korban akan muncul bersama pamannya—seorang mantan pesulap eksentrik—dan ikut menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dan mencari tahu siapa yang membunuh Kamio Eiichi.

***

Sejujurnya, dari tahun lalu aku penasaran dengan buku-buku karangan Keigo Higashino sensei. Berhubung aku tahu kalau salah satu genre beliau adalah mistery, akhirnya aku memutuskan memilih dari sinopsisnya yang menarik hatiku. Akhirnya, pilihanku jatuh ke Black Showman ini. Alasannya sederhana, sih. Aku suka sampulnya! Haha. Terkadang, aku memang sesederhana itu dalam menentukan pilihan buku yang aku baca. 

 Mayo Kamio mendapatkan kabarnya apabila sang ayah, Eichii Kamio, meninggal dunia. Yang membuat dirinya semakin gusar adalah, kenyataan bahwa Eichii meninggal karena diduga dibunuh. Dengan perasaan berantakan, Mayo pun menempuh perjalanan menuju kota asalnya--yang omong-omong tak bernama--dari Tokyo. 

 Eichii merupakan sosok guru SMP yang begitu dihormati. Ia punya kharisma tersendiri sehingga membuat murid-muridnya terkadang masih menghubungi dirinya untuk mendapatkan nasehat, atau bahkan menjadikan Eichii sebagai mediator. Kebetulan, tak lama dari tanggal kejadian, angkatan Mayo sewaktu SMP akan mengadakan reuni. Tak heran apabila sejumlah kawan-kawan Mayo kembali ke kota itu dan membuat mereka tak terlepas dalam daftar terduga tersangka. 

Ketika Mayo hendak menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian, datanglah Takeshi Kamio, Paman Mayo yang sempat tinggal lama di Amerika Serikat dan menekuni karier sebagai pesulap ternama. Sosok pamannya yang eksentrik itulah yang membuat Mayo terdorong untuk ikut mengungkap kebeneran dari kematian Eichii tanpa bantuan dari kepolisian. 

 *** 

Kalau aku boleh jujur, aku memang sudah lama tidak membaca kisah detektif, apalagi yang ditulis oleh penulis Asia. jadi, dari awal aku bertanya-tanya, sosok seperti apakah si "detektif" yang akan memainkan peran dalam cerita ini? Bagaimana cara Takeshi dan Mayo mencari petunjuk untuk mengungkap si penjahat yang sesungguhnya? 

Nah, kalau aku amati, dengan bacaanku yang terbatas, aku rasa Keigo Higashino sensei mencoba menggunakan metode Hercule Poirot di sini. Dalam artian, cara kerja Takeshi dan Poirot memang mirip. Penggunaan sel-sel kelabu sembari menggali informasi dari para saksi menjadi salah satu metode utama yang digunakan oleh Takeshi. Memang, sih, kisah dalam buku ini terasa lambat pace-nya. Akan tetapi, untungnya aku masih bisa menikmatinya. 

Menurutku, Higashino sensei berhasil memunculkan sejumlah twist yang tidak terduga. Baik mengenai alur utamanya, maupun kisah-kisah lainnya yang muncul, seperti kisah Momoka dan suaminya. Ahh, satu hal yang sama sekali terlupa dari memoriku adalah surel yang sempat diterima Mayo dalam perjalanan menuju kota tempat tinggalnya. Ternyata itu menjadi salah satu hal penting dalam hubungannya dengan Kenta. Astaga. Aku betul-betul terlupa soal itu. 

Oh, iya. Sepertinya. buku ini adalah buku berlatar pandemi COVID-19 pertama yang pernah kubaca. Tentu saja, keadaan di Jepang saat pandemi jauh berbeda dari di Indonesia. Jadi, menarik juga bisa tahu bagaimana negara lain menghadapi musibah pandemi yang tak terduga. 

Baiklah. Meskipun aku tahu banyak yang bilang kalau karya-karya Higashino sensei tidak semuanya mencengangkan, aku masih penasaran dengan buku-buku beliau yang lainnya. Jadi, mari kita berburu kapan-kapan.

3.5 dari 5 bintang untuk sosok Takeshi yang selalu misterius.

Sincerely,
P.P. Rahayu


Judul: Monster
Sutradara: Kore-eda Hirokazu
Penulis: Yuji Sakamoto
Genre: Drama, Thriller
Nonton di CGV Depok Mall


A suburban town with a large lake. A single mother who loves her son, a school teacher who cares about her students, and innocent children lead a peaceful life. One day, a fight breaks out at school. It looked like a common fight between children, but their claims differed, and it gradually developed into a big deal involving society and the media. Then one stormy morning, the children suddenly disappear.


***


Akhirnya, kesampaian juga buat nonton Monster. Sebenernya, udah tahu soal film ini dari tahun lalu. Tapi, karena satu dan lain hal, termasuk karena aku sempat sakit cacar, akhirnya baru bisa nonton sekarang. Itupun, kemarin juga impulsif banget nontonnya. Bermula dari perjalanan dari Cibubur ke Depok menggunakan Transjakarta D11--yang omong-omong udah kayak unicorn, saking enggak jelasnya jadwalnya, aku tetiba terpikir waktu sampai Depok, "Kayaknya seru nih, turun di Depok Mall dan nonton." Dengan gerak cepat, akhirnya aku buka TIX.ID, dan untungnya si Monster ini masih ada.


Waktu bilang sama Mbak Indri aku mau nonton, Mbak Indri udah wanti-wanti kalau pace film ini bakal lambat banget. Honestly, aku enggak terlalu cari tahu ini film tentang apa. Yaa biar jadi surprise gitu ceritanya. Jadi, waktu di awal-awal, memang agak bingung alurnya akan ke mana.


The Story


Bermula dari Minato Mugino (Sora Kurokawa) yang sepertinya mengalami masalah di sekolah. Saori Mugino (Sakura Ando), sang ibu, jadi sangat khawatir dengan keadaan Minato. Apalagi, Saori memang membesarkan Minato sendirian pasca mendiang suaminya meninggal dunia. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk memastikan sendiri apa yang sebetulnya terjadi di sekolah. Akan tetapi, ketika ia menghadap  dan ditemui kepala sekolah dan sejumlah guru, Saori menjadi semakin bingung dan kesal karena ia tahu ada yang sedang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah. 


Setelah itu, sudut pandang cerita berganti ke sisi Michitoshi Hori (Eita Nagayama), wali kelas Minato. Nah, dari sinilah baru terungkap sisi lain dari kisah yang terungkap dari sudut pandang Saori sebelumnya. Sudut pandang Hori sensei inilah yang akhirnya membuatku terjaga setelah hampir mengantuk dengan sangat karena awal cerita yang cukup lambat.


Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya multi POV yang disajikan, yakni dari sudut padang Saori, Hiro ssensei, dan Minato sendiri. Ketiga POV ini pada akhirnya saling melengkapi dan memunculkan sejumlah twist yang tidak terduga. Ketika awalnya aku mengira ini adalah soal bully antar siswa saja, ternyata kisah yang diangkat lebih dari itu. Bahkan beyond dari itu. Jadi, aku sangat salut kepada penulis naskah dan sutradara film Monster ini, bisa mengemas cerita yang sedemikian engaging-nya.


Pada dasarnya, melalui multi POV ini, sang sutradara dan penulis naskah ingin menekankan bahwa sosok monster dalam kehidupan kita itu akan berbeda-beda. Bisa jadi bagi Saori, para monster yang mengganggu ketentaraman hidupnya adalah pihak sekolah adalah Hori sensei yang "mencelakai" anaknya. Lalu, bagi Hori sensei, para monster adalah kepala sekolah dan para dewan guru--dan juga Minato. Sedangkan, bagi Minato, siapa sosok monster dalam pandangannya juga pasti berbeda dari ibunya dan Hori sensei.


Maka dari itu, ketika kisah ini mencapai titik akhir, kesimpulannya juga dikembalikan kepada penonton. Apakah Minato dan Hoshikawa berhasil terlahir kembali?


Aku menyadari kalau film ini cukup emosional, tapi aku tak sampai menitikkan air mata karenanya. Aku malah merasa jauh lebih sedih ketika mendengarkan lantunan pinao dari Sakamoto sensei. Iya, film ini merupakan proyek terakhir beliau sebelum meninggal dunia. Aku bisa merasakan kesedihan dan juga emosi yang hendak ia sampaikan lewat gubahan lagunya.


Kesimpulan


Yang pasti, aku puas menonton film ini. Meskipun harus menahan kebosanan karena pace yang sungguh lambat, aku rasa kisah Minato ini sangatlah menarik dan sayang untuk dilewatkan.


Jadi, 4 dari 5 bintang untuk proses acceptance Minato terhadap Hoshikawa.


Best,
P.P. Rahayu

Judul: Pengantin Remaja
Penulis: Ken Terate
Tebal buku: 384 halaman
Tahun terbit: 2022
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki-laki yang ia sayangi. 

“Cinta adalah soal hati, bukan usia.” Bukankah ada lagu yang bilang begitu? 

Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu? Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan. 

Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?

***

Dari dulu, Ken Terate selalu menjadi salah satu penulis favoritku. Ia selalu bisa menyampaikan isu-isu sosial penting tanpa harus begitu menggurui. Bagiku, novel ini mirip sekali dengan novel karya Andina Dwifatma yang berjudul Lebih Senyap dari Bisikan. Mungkin penceritaannya tidak seberat di LSdB, tapi, kisah Pipit-Pongky menjadi suatu ironi yang begitu mengenaskan.

Tentunya, aku menyadari bahwa tidak semua orang punya privilese untuk memahami bahwa pernikahan itu tidak akan mampu menjawab seluruh keruwetan hidup. Menikah dapat menyelesaikan masalah? Mana ada. Yang ada, masalahmu bisa tambah runyam. Apalagi kalau kamu tidak tahu apa tujuanmu menikah dan hanya memiliki pikiran pendek, hidup dengan cinta saja cukup.

Keputusan Pipit untuk menikah muda, bahkan ketika ia belum lulus dari sekolah menengah, tentu saja menghebohkan. Ibuk Pipit tentu saja melarangnya. Sayangnya, Pipit sudah kebanjur keras kepala. Ia hanya mau hidup bersama Pongky. Titik. Nah, enggak tahu aja Pipit kalau menikah tuh bukan cuma urusan dua orang. Ketika menikah, seseorang itu juga akan berurusan dengan keluarga pasangannya. Betapa sialnya Pipit ketika menyadari bahwa keluarga mertuanya sungguh menyebalkan dan membuat dirinya tersiksa.

Belum usai penderitaan Pipit yang harus menerima sikap Pongky yang seenaknya, ancaman kelaparan setiap malam, rasa tak aman karena tak pernah punya uang cukup, dan banyak kesulitan lainnya, Pipit kemudian hamil dan memiliki anak. Duh, cobaan apa lagi, ini?, mungkin demikian batin Pipit.

***

Dari awal, Ken Terate sudah membuat kita benci setengah mati kepada sosok Pongky. Dia ini tuh, sebenar-benarnya cowok <i>red flag</i> nan manipulatif. Kita juga bakalan sebel sama Pipit yang bikin kita gemes banget sama pemikirannya di awal. Tapi <i>again</i>, aku memahami kalau Pipit enggak punya privilese untuk memahami sebesar apa konsekuensi menikah, apalagi di usia masih sangat muda. Sungguh aku berharap waktu itu Ibuk Pipit atau Atin berhasil menyadarkan Pipit. 

Bagiku, karakter yang masih sangat waras di sini adalah Ibuk Pipit dan Atin. Meskipun keduanya juga memang punya kekurangan, tapi kurasa keduanya masih sangat realistis. Mereka mampu mengupayakan hidup mereka sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tentunya, sikap yang berkebalikan dengan Pipit.

Nah, untungnya, sepanjang cerita, sedikit demi sedikit, sikap Pipit berubah. Ia tahu pada akhirnya ia lah yang menanggung konsekuensinya untuk menikah di usia belia. Ia pun mulai bisa mengembangkan diri, meski masih sempat juga tertipu oleh suaminya yang enggak ada bagus-bagusnya itu. Aku sangat menghargai perubahan karakter Pipit di sini. Tentunya, sosok Atin dan Alicia menjadi salah dua kunci bagi Pipit untuk bisa menjadi lebih dewasa.

Menurutku, novel ini memiliki banyak sekali pesan yang ingin disampaikan. Aku berharap, akan lebih banyak lagi orang yang membaca novel ini. Bagaimanapun, pemahaman soal pernikahan memang sepenting itu. Keputusan untuk menikah harus dibarengu dengah pemahaman terkait konsekuensi yang juga akan didapatkan nantinya.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk kisah yang cukup dark ini.

Best,
P.P. Rahayu


Judul: Dona Dona
Seri: Before the Coffee Gets Cold #3
Penulis: 
Toshikazu Kawaguchi
Tebal buku: 264 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita.

Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya.

Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…


***

Suatu hari, Yukari Tokita, manajer kafe Dona Dona yang berada di Hakodate, Hokaido, memutuskan pergi ke Amerika tanpa tahu kapan akan kembali. Kabarnya, Yukari berupaya membuat seorang anak laki-laki yang ingin menemukan ayahnya. Keputusan mendadak Yukari tersebut pada akhirnya membuat Nagare, putra Yukari, rela mengambil alih kafe Dona Dona untuk sementara.

Dengan demikian, Nagare pun terpaksa meninggalkan Funiculi Funicula dan juga terpisah dengan putri semata wayangnya, Miki, yang berada di Tokyo. Kazu dan putrinya, Sachi, juga ikut bersama Nagare ke Hokaido. Di kafe Dona Dona, kita akan banyak bertemu dengan Reiji (pekerja paruh waktu di kafe tersebut), Nanako (teman masa kecil Reiji), dan juga Saki (seorang psikiater yang juga pelanggan reguler di Dona Dona).

Berhubung usia Sachi sudah menginjak tujuh tahun, maka tugas untuk menuangkan kopi yang bisa membawa orang ke masa lalu tetap bisa dilakukan. Nah, ternyata banyak sekali kisah-kisah yang menarik di buku ketiga dari serial ini. Aku rasa, kisah-kisah yang ada semakin solid dan pesan yang disampaikan jauh lebih gamblang daripada dua buku sebelumnya.

Kisah yang paling aku ingat mungkin kisah pertama dan juga terakhir. Kisah pertama menceritakan seorang perempuan muda yang ingin kembali ke masa lalu untuk protes kepada kedua orang tuanya yang meninggal saat ia masih kecil. Ia merasa dirinya telah ditinggalkan sendirian dan dibiarkan menderita sedemikian rupa. Sedangkan, kisah terakhir aku lebih terkesan karena twist yang disajikan di akhir.

Salah satu pesan yang paling aku ingat dari buku ini adalah, bagaimana kehidupan seseorang tidak akan berhenti meski orang yang mereka cintai telah tiada di dunia ini. Bahkan, orang yang masih hidup, harus terus berjuang dan berupaya tetap hidup demi orang yang ia cintai tersebut. Maka dari itu, tulisan Yukari di bagian akhir akan sangat relatable.

"Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan."


Tentu ketika seseorang kehilangan, maka ia berhak berduka dan setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk berdamai dengan kedukaannya. Akan tetapi, bukan berarti hidupnya akan langsung berhenti begitu saja. Setiap orang berhak untuk tetap bahagia setelah merasakan kehilangan.

Selain pesan yang lebih tersurat, aku rasa dalam buku ini, Kawaguchi sensei menuliskan kisah Dona Dona lebih seperti antologi. Maka dari itu, ada sejumlah pengulangan informasi di setiap bab. Lalu, menurutku, gaya bahasa di buku ini juga jauh lebih mengalir dibandingkan dua buku sebelumnya. Sepertinya, sosok Yukari di buku ini menjadi tokoh yang cukup sentral. Sejumlah peristiwa yang terjadi, selalu saja berkelindan dengan hasil campur tangan Yukari.

Jadi, sepertinya di buku keempat nanti, akan lebih banyak dibahas bagaimana awal mula perempuan Keluarga Tokita bisa membawa orang ke masa lalu, dan masa depan. Lalu, mungkin juga akhirnya akan terjawab, apa yang sebetulnya sedang dilakukan Yukari di Amerika sana.


4.5 dari 5 bintang untuk kelakuan Sachi yang menggemaskan.


Salam,
P.P. Rahayu

Title: The Seven Husbands of Evelyn Hugo
Author: Taylor Jenkins Reid
Publisher: Washington Square Press
Date of publication: June 13, 2017
Number of pages: 398 pages
Read on Libby

From the New York Times bestselling author of Daisy Jones & the Six—an entrancing and “wildly addictive journey of a reclusive Hollywood starlet” (PopSugar) as she reflects on her relentless rise to the top and the risks she took, the loves she lost, and the long-held secrets the public could never imagine.

Aging and reclusive Hollywood movie icon Evelyn Hugo is finally ready to tell the truth about her glamorous and scandalous life. But when she chooses unknown magazine reporter Monique Grant for the job, no one is more astounded than Monique herself. Why her? Why now?

Monique is not exactly on top of the world. Her husband has left her, and her professional life is going nowhere. Regardless of why Evelyn has selected her to write her biography, Monique is determined to use this opportunity to jumpstart her career.

Summoned to Evelyn’s luxurious apartment, Monique listens in fascination as the actress tells her story. From making her way to Los Angeles in the 1950s to her decision to leave show business in the ‘80s, and, of course, the seven husbands along the way, Evelyn unspools a tale of ruthless ambition, unexpected friendship, and a great forbidden love. Monique begins to feel a very real connection to the legendary star, but as Evelyn’s story near its conclusion, it becomes clear that her life intersects with Monique’s own in tragic and irreversible ways.

“Heartbreaking, yet beautiful” (Jamie Blynn, Us Weekly), The Seven Husbands of Evelyn Hugo is “Tinseltown drama at its finest” (Redbook): a mesmerizing journey through the splendor of old Hollywood into the harsh realities of the present day as two women struggle with what it means—and what it costs—to face the truth.


***

Well, aku mengetahui novel ini dari Ayas. Waktu itu, Ayas menyarankan aku untuk membaca novel ini untuk 12 Reading Challenge. Honestly, menurutku novel ini menarik banget. Cara Taylor Jenkins menggambarkan Evelyn Hugo itu kerasa nyata banget. Selama membaca novel ini, aku sampai bertanya-tanya, is she really not real? 


The Story


Cerita dibuka dengan keinginan Evelyn Hugo untuk diwawancarai oleh Monique Grant. Awalnya, Monique yang merupakan seorang jurnalis di Vivan, bertanya-tanya mengapa Evelyn meminta dirinya secara khusus untuk mewawancarainya. Ketika ia sampai di rumah Evelyn, Monique baru menyadari bahwa permintaan Evelyn bukan sekadar tentang wawancara satu artikel lalu selesai. Akan tetapi, Evelyn mengharapkan Monique menulis biografi tentang dirinya.


Awalnya, Monique begitu terkejut dengan permintaan Evelyn. Apakah ada alasan khusus bagi Evelyn memilih dirinya? Evelyn, dengan gayanya yang santai dan tenang hanya berkilah bahwa pertanyaan Monique akan terjawab nantinya, saat kisah hidupnya selesai ia tuturkan.


Meskipun sempat ragu, Monique akhirnya menerima tawaran Evelyn. Sejak saat itulah, Monique mulai mempelajari seluruh gelap-terang kehidupan Evelyn. Begitu pula dengan kelindan kisah Evelyn bersama dengan 7 suaminya.


The Opinion


Seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, Taylor Jenkins Reid telah berhasil menggambarkan kehidupan Evelyn Hugo dengan begitu apik. Kita seolah-olah diajak untuk berkenalan dengan sosok yang betul-betul hidup bernama Evelyn Hugo. Seorang aktris ternama di era 60-an di Hollywood. Ia memiliki kharisma yang begitu kuat serta kecantikan yang tak lekang oleh waktu. Evelyn juga dikenal sebagai salah satu icon Hollywood yang selalu membawa impact ke berbagai hal yang ia lalui.


Saat aku membaca novel ini, aku merasa begitu mudah terhanyut dengan kisahnya. Alhasil, aku ingin sekali segera menyelesaikan membacanya. Aku begitu penasaran dengan seluruh kisah suami-suami Evelyn. Apa yang membuat Evelyn akhirnya memutuskan menikah dengan mereka dan apa yang membuat mereka akhirnya berpisah.


Tentunya, salah satu sosok suami Evelyn yang paling berkesan buatku adalah Harry Cameron. Dengan Harry-lah Evelyn akhirnya melahirkan Connor, putrinya yang akhirnya meninggal karena kanker payudara pada umur 41 tahun. Selain itu, pernikahan Evelyn dengan Harry juga membuka jalan bagi Evelyn untuk bisa bersatu dengan cinta sejatinya, Celia St. James.


Conclusion


Pastinya, aku akan merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi siapapun yang menyukai novel berbentuk memoar fiksi. TJR berhasil menghidupkan sosok Evelyn di sini dan kalian tidak akan menyangka bahwa Evelyn hanyalah tokoh fiksi belaka.


4.5 bintang untuk memoar yang apik ini.


Sincerely,
Ra

Image: Prime

Title: Tale of the Nine-Tailed 1938
Director: Kang Shin-Hyo
Writer: Han Woo-ri
Number of episodes: 12 episodes
Release date: May 6-June 11 2023


Four months after Lee Rang's death, Lee Yeon receives the power of the nine-tailed fox again, on the condition that Lee Rang be reincarnated. An uninvited guest slips in during the lunar eclipse and steals the guardian stone created by the King of the Dead to protect the boundary between the Worlds of the Living and Dead, then disappears "into the cabinet"


***


Yeay, after Alchemy of Souls, I think Tale of the Nine-Tailed is the next series that I really adore. Well, I should admit that the first season is full of a romantic side between Lee Yeon (Lee Dong-Wook) and Nam Ji-a (Jo Bo-Ah). But, this second season, is more about the brothership between Yeon and Rang (Kim Beom) and the friendship between Yeon, Hong-joo (Kim So-Yeon) and Mu-young (Ryoo Kyung-Soo).


The Story


Because of an unexpected case, Lee Yeon should travel back in time to the year 1938. There, Yeon meets Ryu Hong-Joo, Yeon's long best friend. Well, just like Yeon, Hong-joo was once a guardian spirit of a mountain in the West. Now, in 1938, Hong-Joo is the owner of Myeoyangak--the best high-end restaurant in the capital city of Gyeongseong. 


Another unexpected thing is, Lee Yeon also meets his younger brother, Lee Rang. What's happened in the present makes Lee Yeon try his best to cherish every moment with Rang. He wants to be the best hyung for him. Yeah, it's like paying the price for everything that he couldn't do at the present time.


Meanwhile, there is Cheon Mu-Young, another friend of Lee Yeon and Hong-Joo. He used to be a guardian spirit of a mountain in the east. Sadly, a hurtful event made Mu-Young despise Lee Yeon so much. This incident also made Mu-Young try to seek revenge on Lee Yeon.


Aside from the conflict between Yeon and his two best friends, we also meet another conflict about the independence movement from the Japanese colonization. There were Sunwoo Eun-Ho (Kim Yong-Jin), Snail Bride (Kim Soo-Jin), and grandfather from Afterlife Immigration Office, Hyun Ui-Ong (Ahn Kil-Kang). Therefore, these 12 episodes are really compact and interesting. I really love this season a lot.


The Opinion


So, this season has made me smile a lot. Since we lost Lee Rang in the first season, the second season showed the brotherhood between Lee Yeon and Lee Rang. Of course, with everything that happened, Lee Yeon wants to take advantage of the remaining time that he has with Lee Rang. He knows that Rang won't be coming back at the present time, but in those short moments, Lee Yeon wants to make up for everything. I really love when Lee Yeon without any hesitation always said, "Don't mess with my dongsaeng!", "If something happened to my dongsaeng, you will pay the price." and else.


I couldn't help but smile when Lee Yeon always takes care of Rang, even though Rang sometimes feels annoyed by it. Ahh, I love their bond has become deeper from several events that happened in 1938.


Then, in my opinion, this opinion is war more comedic than the first season. The first episode made me laugh so hard, moreover when Lee Yeon meet Hong-Joo again for the first time. Their battle scene is really hilarious. As the drama progress, a lot of comedic scenes have been executed well in this drama. Good job, PD-nim!


In some interviews, Dong-wook and Beom said that this series will unleash more of the urban legend, including the legend from outside Korea. Well, compared to the first season, this season has brought more urban legends and ghosts from all over Korea. Sadly, as someone who couldn't watch a horror movie, I definitely muted the sound from episode 6 when watched it. I couldn't stand the horror vibe, let alone from the Korean movie--I have a big trauma about watching a Korean horror movie.

 

Anyway, I almost forget that indeed there is a romantic story here. In this season, we gotta meet with the cute story between Lee Rang and the mermaid lady, Jang Yeo-Hee (Woo Hyun-Jin). Their story is not too much but still cute. I laughed so hard when Yeon said something like, "How dare you bring seafood to our family line." That's so funny. Thankfully, Yeon is very supportive of Rang's relationship. At first, Rang maybe looks so cold, but he becomes warmer once Yeo-hee is always on his side when he needs the most. Aww, melting. 


Conclusion


Very well, I know that there will be a next instalment for this series. I mean, how about that origin mountain spirit that has been awakened? Also, the hint at the end of the episodes when Yeon come back to the Joseon dynasty. So, I am more than excited to wait for the next season to come. Ahh, seriously. I love this series so much. I love how Dong-wook and Beom can make the brotherhood between Yeon and Rang felt so real. 


8.5 out of 10 stars from me.


Sincerely, 
Ra

Title: Queenmaker
Director: Oh Jin-seok
Writer: Moon Ji-young
Number of episodes: 11 episodes
Stars: Kim Hee-ae, Moon So-ri, Ryu Soo-young, Seo Yi-seok, Yoon Ji-hye
Watched on Netflix

Hwang Do-Hee works as a general manager for a strategic planning team at Eunsung Group. She is good at dealing with public opinion. She takes care of disturbing cases for the company and she is highly trusted by her employers.

One day, she joins Oh Kyung-Sook's  campaign to become the mayor of Seoul. Oh Kyung-Sook is a human rights lawyer, who often went up against Eunsung Group. She decided to run for mayor with the goal of fighting for the weak.

During the election, Oh Kyung-Sook and Hwang Do-Hee often butt heads with differing opinions, but they strive for the same end goal. That is to make Oh Kyung-Sook the mayor of Seoul.

***

When the two powerful ladies join hand in hand to take down the corrupt wealth a family, it won't be easy. There will be so many challenges and also tears when doing it. But, both of Hwang Do-hee (Kim Hee-ae) and Oh Kyung-sook (Moon So-ri) proof that their powerful collaboration does miraculously amazing.

The Story
Do-hee is the general manager of strategic planning team at Eun-sung Group. She infamously being called as The Cleaner. She can managed to take care all of disturbing cases for the company. You know, to make a strategy to retain the public opinion about Eun-sung family. 

Meanwhile, Kyung-sook is a human rights activist lawyer who demand the people in power to be accountable for their action, including their mistreatment toward the worker at Eun-sung Group. She did what she can do protest and campaign what she believes is right. 

Some event made Do-hee realize that Eun-sung family is really evil and corrupt. Therefore, she decided to ask Kyung-sook to be the Seoul Mayor—compete with the Eun-sung Group's in-law son, Baek Jae-min (Ryu Soo-young). At first, Kyung-sook rejected Do-hee proposal. She thinks that Do-hee is just crazy. But then, Kyung-sook realizes that Do-hee is very serious with her plan. 

The Opinion
To be honest, I have a bit of expectations from this drama. Moreover, several weeks ago, I happened to just watch Pandora: Beneath the Paradise. Both of these dramas are political drama. Therefore, I thought that will be a huge twist as the story progress. Sadly, there wasn't any in my opinion.

First thing first, I really admire Do-hee and Kyung-sook's friendship. Both of them is really charming and powerful. They did what the best they can do during the campaign period. I love how at the end, Kyung-sook can one hundred percent trust Do-hee's judgement and plan. 

Second, in a way, Kyung-sook's persona has reminded me with someone that I know in real life—hello, Mbak Asfin🙃 I mean, a powerful human rights activist lawyer just like her. The thing is, in Indonesia, it won't be possible for us to pursue a mayor position without the support of political party. I don't think it would be possible to be an independent candidate? Correct me if I'm wrong, even though it's possible, but the requirements are ridiculously so hard to be achieved.

Third, maybe the most relatable situation with what happened in Indonesia is about the oligarch who want to extend their power in politics. This powerful people, decided to involved in politics so they can get advantage from their position. Sometimes, their way is reallt brutal and unjust. They did everything they can do, in dishonest way to reach their goal.

I really despise Baek Jae-min in this drama. He is really an evil person. He thought he could has everything with his wit and power. Then, of course Son Young-sim (Seo Yi-seok) is also an evil human being. Oh, goodness. Meeting her standard is just pushed you being the monster who shouldn't have a heart.

As I said before, there's no a huge twist at this drama. You have known whos is the bad and the good from the very start. There won't be any awed moment that could make you shocked. About Do-hee's plan to confess everything about the campaign fund, in a way, I have predicted it. There should be a reason why Do-hee asked help from Eun Seo-jin (Yoon Ji-hye). 

Then, even though there is betrayer in the Kyung-sook's campaign team, there is no significant effect from it to Kyung-sook's strategy. So, yeah. 

Conclusion

I love seeing Do-hee and Kyung-sook's collaboration. I also intrigued with the political competition in the South Korea. I also want to know more about it. I think, I should find another political drama again to watch.

But, if you expect there will be a lit of twist and drama, well, I could say that there's no many moments of that in this drama.

Well, 7 out of 10 stars for Queenmaker.

Sincerely, 
Ra