Showing posts with label Bhuana Sastra. Show all posts
Showing posts with label Bhuana Sastra. Show all posts

Judul: Rumah Lebah
Penulis: Ruwi Meita
Tebal buku: 284 halaman
Penerbit: Bhuana Sastra
Tanggal terbit: 30 September 2019
ISBN: 9786232164840
Baca di Ruang Buku Keminfo

Mala, gadis kecil berusia enam tahun yang terobsesi dengan ensiklopedia. Dia hanya membaca buku ensiklopedia dan selalu mengurutkan buku satu sampai buku terakhir dari sisi kiri ke sisi kanan. Dia juga tertarik dengan beruang.


Di rumah, Mala hanya tinggal bersama orangtuanya, tetapi dia selalu membicarakan enam orang asing yang hidup bersama di dalam rumahnya. Dia selalu takut pada Satira, bersahabat dekat dengan Wilis, berbicara dengan Tante Ana yang suka berdandan, belajar bahasa Spanyol dengan Abuela, dan si Kembar yang hanya bisa mendengar, melihat dan mencatat.


***


Siapakah sebenarnya enam orang asing yang selalu dibicarakan Mala? Rahasia apakah yang dimiliki oleh enam orang asing tersebut?


Rumah Lebah menjadi buku pertama yang kuselesaikan di tahun 2025. Sepertinya, aku sudah mengetahui soal keunikan buku ini dari lama. Hanya saja, baru kemarin aku mendapat kesempatan untuk membacanya di Ruang Buku Kominfo (RBK).


Mala adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri, Winaya dan Nawai. Dulunya, Winaya adalah seorang wartawan investigasi di salah satu majalah yang terkenal seantero negeri. Sedangkan Nawai adalah ibu rumah tangga yang memiliki latar belakang di bidang pendidikan. Suatu kejadian membuat Winaya dan Nawai menyadari bahwa Mala bukanlah anak yang biasa-biasa saja. Banyak orang yang menyebutnya sebagai anak istimewa karena ia memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh anak seusianya.


Khawatir akan keistimewaan Mala, Winaya dan Nawai memutuskan untuk pindah ke desa yang berada di kaki gunung Wilis. Nawai memilih untuk mengajari Mala sendiri sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang ia dapatkan semasa kuliah. Winaya pun telah berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawan dan beralih profesi menjadi penulis novel misteri. Meski telah jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, Mala masih tetap bisa berinteraksi dengan sejumlah orang yang dianggap hanya khayalan oleh Winaya dan Nawai. Mereka adalah Wilis, Abuela, Tante Ana, Satira, dan juga si kembar. Lalu, bagaimanakah kehidupan Mala dan orang tuanya selanjutnya? Siapakah Wilis, Abuela, dan lainnya itu?


"Aku suka gelap karena kehidupan ini dimulai dari kegelapan. Aku suka air karena air bisa menenggelamkan ke tempat yang terdalam di mana kegelapan akan cepat menjadi kawan baikmu."

— Satira.


***


Dari awal, aku sudah mengharapkan adanya plot twist dalam cerita di buku ini. Akupun sudah menyiapkan diri untuk mendapati unsur horor dalam kisah Mala. Awalnya aku menduga kalau Wilis, Abuela, Tante Ana, ataupun Satira adalah teman bayangan Mala--atau malah memang hantu. Tapi ternyata dugaanku salah total. Aku tidak menyangka kalau seluruh kondisi Nawai menjadi breadcrumbs untuk klimaks dalam cerita ini.


Harus kuakui kalau Ruwi Meita telah berhasil membungkus cerita ini dengan apik. Kita dibuat penasaran dengan identitas orang-orang yang bisa dilihat Mala itu. Lalu, kita juga dibuat bertanya-tanya, apakah orang-orang itu bersifat baik atau malah bisa mencelakakan Mala pada akhirnya.


Untuk Nawai sendiri, aku sebetulnya sudah menyadari bahwa kisah dalam buku ini tidak hanya tentang Mala. Nawai juga memiliki porsi penting karena berkali-kali penulis menggunakan perspektif Nawai dalam ceritanya. Jadi, ketika kondisi Nawai terbongkar di akhir, aku tidak terlalu suprised.


Meski demikian, aku merasa kalau masih banyak bagian yang rumpang dalam cerita ini. Aku masih penasaran bagaimana awal mula Rayhan bisa bertemu dengan Tante Ana--dan apakah pertemuan sekali saja itu betul-betul bisa membuat Reyhan terlena? Lalu, aku juga jadi kasihan dengan Winaya. Apakah dia betul-betul tak menyadari perubahan dalam diri Nawai--sekecil apapun perubahannya? (view spoiler)


Sebetulnya, aku suka sekali dengan cerita yang diangkat. Misterinya cukup kuat dan membuat kita penasaran dengan kelindan keluarga Mala dengan pasangan Reyhan-Alegra. Tapi, aku tetap merasa banyak sekali pertanyaan yang muncul setelah aku selesai membacanya. Rumah Lebah ini tidak ada lanjutannya, kan? Rasanya ada banyak hal yang masih belum tuntas dalam cerita ini.


Meski demikian, aku tetap akan merekomendasikan novel ini kalau kamu ingin menemukan novel misteri lokal yang punya plot twist enggak biasa. Sepanjang cerita, kamu akan dibuat bertanya-tanya karena saking banyaknya hal yang terjadi di sekitar Mala.


3.5 dari 5 bintang untuk kecerdasan Mala yang sungguh tidak terduga. 

The School for Good and Evil #2
Dunia Tanpa Pangeran
"Semua kisah dongeng bisa diputarbalikkan demi mencapai suatu tujuan."--hlm. 200.

By Soman Chainani
3.5 of 5 stars

Judul asli          : The School for Good and Evil 2: A World Without Prince
Ilustrasi             : Iacopo Bruno
Genre               : Fantasy, Young Adult, Middle Grade.
Pengalih bahasa : Kartika Sofyan
Penyunting         : Agatha Tristanti
Desain               : Yanyan Wijaya
Tebal buku        : 512 halaman
Tahun terbit       : Juni 2015, Cetakan kedua.
Penerbit             : Bhuana Sastra (Imprint dari PT. BIP)
ISBN                 : 978-602-249-949-7
Buntelan dari penerbit.

Sophie dan Agatha telah berhasil pulang ke Gavaldon, menjalani "bahagia selamanya" versi mereka. Namun, hidup tak seperti dongeng yang mereka harapkan. 



Agatha diam-diam berharap seandainya ia memilih akhir bahagia yang lain bersama pangerannya. Permohonan rahasia itu membuka kembali pintu menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak disangka, dunia yang dulu pernah ia ketahui bersama Sophie ternyata telah berubah. 

Penyihir dan putri, tukang tenung dan pangeran, bukan lagi musuh. Ikatan baru telah terbentuk, menghancurkan hubungan lama. Namun dibalik hubungan yang rumit antara Kebaikan dan Kejahatan ini, perang sedang dipersiapkan. Musuh yang sangat berbahaya tersembunyi dibalik topeng wajah yang mereka kenal. Saat Agatha dan Spohie berjuang untuk memulihkan kedamaian, sebuah ancaman tak terduga bisa menghancurkan segalanya dan semua orang yang mereka cintai. kali ini, ancaman itu datang dari dalam diri mereka sendiri. 


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:


Well, first thing first. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Dian yang menawariku untuk meresensi buku kedua dari seri The School for Good and Evil. Sejak pertama kali aku membaca tulisan Soman Chainani ini, aku penasaran dengan akhirnya. Bisa dibilang, akhir dari seri satu memang cukup menggantung. Bahkan, masih banyak misteri yang tersimpang. Alhasil, saat aku ditawari untuk meresensi buku ini, aku langsung bersemangat untuk menerimanya. Bahkan, aku mencoba untuk menyelesaikan membaca buku ini di tengah-tengah kesibukanku mengerjakan tugas di semester lima.

The School for Good and Evil
(Sekolah Kebaikan dan Kejahatan)
Di hutan purbakala
Berdirilah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan
Dua menara bagai kepala kembar
Satu untuk yang tulus, satu untuk yang keji
Sia-sia mencoba kabur
Satu-satunya jalan keluar adalah melalui dongeng

The School for Good and Evil #1

By Soman Chainani
3 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Alih Bahasa        : Kartika Sofyan
Penyunting          : Agatha Kristanti
Penata Letak        : Veranita
Desain                 : Yanyan Wijaya
Penerbit               : Bhuana Sastra
Tahun Terbit        : 2014
Jumlah Halaman : 580 halaman
ISBN                   : 9786022497561
Baca via iJakarta


Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.


Namun ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?



Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.


***

Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku kepo banget sama novel ini. Waktu aku ke toko buku, rasanya pengin nyomot buku ini karena memang blurbnya bagus. Ahh, rupanya aku kurang beruntung dalam segi finansial. Iya. Tahun ini hampir nggak dapet THR :( Ish. Padahal kan pengin bisa beli novel banyak. Berhubung kesel nggak bisa dapet THR banyak-banyak, akhirnya aku lagi-lagi memanfaatkan iJak. Haha. Dan, tiba-tiba saja novel ini nongol dan tanpa pikir panjang langsung aku pinjam, By the way, sampai tulisan ini ditulis, yang pinjem masih sedikit loh. Masih banyak copy yang tersedia untuk novel ini di iJak. Jadi, kalau mau baca, sila kunjungi iJakarta ya. Hehe. 

Biasanya yang berbeda menjadi jahat.

Ketertarikanku terhadap novel ini tentunya dari judulnya. The School for Good and Evil. Otomatis, aku bertanya-tanya dong. Ini cerita tentang apa? Apalagi, waktu baca blurbnya, aku langsung tertarik. Ditambah lagi, ilustrasi yang digunakan untuk sampul novel ini unik dan bikin aku pengin baca. Aku memang pembaca lintas genre. Fantasi merupakan salah satu genre yang aku suka. Sehingga, adanya novel ini membuatku girang sendiri.