Aloha!

Jadi, dalam rangka menyemarakkan event #BBIHUT6, salah satu tema yang diangkat adalah berkenalan dengan anggota baru. Wow! Tapi, berhubung aku juga angkatan baru, aku pun membuat sebuah feature yang bertajuk Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Maksudnya apa sih, jadi aku akan membuat artikel mengenai anggota BBI dari masa ke masa. Mulai dari anggota baru, yakni angkatan 2017, hingga anggota tua, yakni angkatan 2013. Hihi. Supaya apa, sih? Yaa, supaya hits aja. Enggak lah. Supaya, aku bisa lebih mengenal anggota BBI secara mendalam. Meskipun aku sudah sering melakukan komunikasi secara daring, rasanya kurang pas kalau aku tidak berkenalan lebih lanjut dengan mereka. 

#BBIHUT6
Nah, berikut merupakan korban aku yang pertama yang aku wawancara. Orang yang akan kubedah kali ini berasal dari angkatan muda. Umurnya juga masih muda. Haha. Dia baru masuk di BBI tahun 2017. Siapa sih? Iyaps, dia adalah....

LALA DARI READING VIBES


Setelah beberapa hari yang lalu aku melakukan korespondensi bersama Lala, inilah hasil wawancara singkatku dengan dara kelahiran Jakarta ini.*tapi katanya punya darah Padang, sih. Yuk, disimak!

Disclaimer: Nanti kalau ada tulisan miring di dalam kurung dan tebal, berarti itu komentar dari sayah. Yaa, saya sukanya gitu. Ngomentarin orang. Hihi.

Aloha, Lala!

Makasih ya udah mau jadi korban aku. hahaha. Nah, di kesempatan yang cukup membahagiakan kali ini, aku mau sedikit ngobrol-ngobrol nih bareng kamu. Ini ada beberapa pertanyaan, nggak banyak koook. Hehehe. Silakan dijawab ya! :D

1. Perkenalan dulu dong, La! Siapakah Lala sebenarnya? Denger-denger, Lala nih termasuk KPopers, ya? Widih. Boleh banget tuh dijelaskan.

Hahahaha. Halooooo. Namaku Lala. Kalo selama ini sih dipanggilnya Ola, cuma aku kurang sreg sama nama itu nggak tahu kenapa, jadinya ketika ada kesempatan kenalan sama orang baru aku gunain nama panggilan baru yaitu Lala

(Jadi, ceritanya rebranding diri nih, La? Hihi)

Aku adalah cewek biasa yang masih berusaha mengejar mimpi. Doakan aku yaa! *ala-ala JKT48* XD Aku tuh anak pertama dari tiga bersaudara yang laki-laki semua, kebayang nggak tuh? Masih pada SMA semua makanya aku harus jadi contoh yang bagus. Alhamdulillah nya, sekarang aku jadi mahasiswa Ilmu Politik di UI. Meski agak kegusur dari pilihan pertama, yaitu Hubungan Internasional, which is jurusan Kak Puji (huft, iri daku!), tapi jurusan aku juga punya ujung yang sama InsyaAllah. (Kemenlu, aamiin.)

(Beban kamu cukup berat ya jadi anak pertama. Semangat! Err.. jurusanku... tak usah dibahas lah *melipir pergi.)

Aku K-Popers sih, tapi nggak yang maniak banget. Dulu kenal K-Pop karena dicekokik temen tentang Super Junior. Dibilang ganteng-ganteng lah, padahal dimataku muka mereka sama semua. Tapi temen aku yang duduknya di belakang aku itu, tiap hari sengaja muterin lagu Suju depan aku, alhasil aku kepo dong. Dan gara-gara dia sampe sekarang aku jadi suka K-Pop. Menurutku K-pop itu musiknya eargasm, terus catchy gitu, sekali denger bisa langsung hapal dan bikin joget. Aku juga multifandom, sih, dulu ELF, terus PinkPanda, dan yang paling-paling sih EXO-L. Soalnya aku paling niat karena sampe nonton konsernya dan beli-beli lightsticknya yang nguras dompet itu. Kalo dulu Suju cuma sempet beli album, sik~ Btw, aku cinta Chanyeol dan Sehun. <3

(Aku setuju yang mukanya sama semua. Aku sampek sekarang nggak bisa membedakan wajah para artis Korea. Heuheu. Apalagi macam SNSD atau Suju gitu. :( Tanpa harapan lah aku bisa bedain mereka).

2. Nah, waktu aku berkunjung ke blog Lala, nama blognya cukup unik nih. Reading Vibes. Ada artinya nggak sih, La? Mau tahu doong.


Blognya Lala. Bisa diakses di sini.
Sumpah, hahaha. Sebenernya waktu cari-cari nama bukan itu yang aku mau, tapi apa gitu aku lupa, cuma tetap ada kata 'vibes'-nya. Eh, ternyata udah ada yang pake. Sedih. Akhirnya setelah mikir keras, ketemulah nama 'Reading Vibes'. Sebenernya aku juga nggak yakin itu padanan kalimatnya benar XD. Kan vibes itu artinya semacam atmosfer, aura, atau energi gitu, kan. Jadi aku berharap, setiap yang berkunjung ke blogku, akan mendapatkan atmosfer dan energi untuk kepengin membaca, apalagi kan aku book-blog yang isinya review buku semua, jadi menurutku itu cocok banget. :)


(Menurutku sih, namanya unik, La. Kayaknya, nyambung-nyambung aja kok itu namanya. Hehe. Boleh-boleh. Namanya unik. Ku suka.)

3. Terus, kayaknya Lala ini pengin banget nih melebarkan karir di dunia perbukuan. Boleh diceritakan La gimana harapan kamu ke depan. Hihihi.

Waduh, kalau itu, siapa sih anak book-blogging yang nggak mau? Apalagi setelah kenal penulis, penerbit, editor, teman-teman yang akan atau bahkan sudah berhasil menerbitkan buku, teman-teman yang jago banget menulis. Meski dari jaman SD sampai sekarang aku sudah hobi nulis dan pengin jadi penulis beneran yang bisa nerbitin buku, tapi keinginan itu makin besar setelah aku masuk ke dunia book-blogging ini dan mengenal orang-orang hebat. Sekalian memperbanyak koneksi dan relasi juga hihi.

(Setuju banget, La. Aku juga kadang termotivasi *slash* terinspirasi *slash* mupeng gitu jadinya. Hoho.)

Aku sih pengin banget, banget, banget, jadi penulis (atau editor nanti kalau udah lulus). Tapi jeleknya, aku tuh nggak konsisten, kalo nulis naskah suka nggak selesai dan lanjut ke naskah baru. Plus, aku juga susah manage waktu. Giliran ada waktu luang, senengnya aku main hape atau leyeh-leyeh aja atau cuma baca buku dan berandai-andai aku yang nulis buku itu. Sekalinya lagi niat, aku pernah nulis sampai 5 bab baru untuk GWP (belum pernah aku publikasikan), saking semangatnya, sampe nggak masuk kampus seminggu! Btw, itu juga karena kakiku lagi sakit sih.. Jadi kalo jalan nyeri gimana gitu. So, daripada nggak produktif mendingan nulis, kan?

(Nah ini, aku banget. Haha. Aku juga punya timbunan cerita di wattpad dan belom dilanjut sampai sekarang. Hehe. By the way, cepet sembuh ya, La)

4. Nah, Lala kan baru gabung nih di BBI. Bisa diceritain nggak perjuangannya masuk ke BBI gimana? Terus, gimana sih kesan kamu selama bergabung jadi anggota BBI? Apa nih harapan buat Bebi yang mau ultah?

Perjuangannya sih bisa dibilang nggak keras banget, cuma dapet penolakan sekali aja karena waktu itu blog ku cuma belum memenuhi syarat yang harus berusia minimal 6 bulan, ya? Terus tahun ini bulan apa gitu kemaren lupa, BBI buka pendaftaran dadakan lagi ya cuma beberapa hari. Otomatis aku langsung gercep lah, yaw~ Akhirnya berhasil deh mendapatkan nomor ekslusif itu, yeaaay! XD

(Untung ya, La, sekarang sudah bisa gabung. Hohoho.)

Aku sih baru bergabung, ya, tapi selama aku bergabung dan selama aku ngamatin BBI dulu sebelum gabung, BBI itu isinya orang keren semua, suer. Ketika scope pergaulan aku di twitter cuma sebatas following-ku, ternyata ada ratusan atau bahkan ribuan book-blogger lainnya yang super duper jago banget dalam ngereview dan pilihan buku mereka juga keren-keren. Kesan aku terhadap BBI-nya sendiri juga wow banget sih, mampu membuat event yang membuat sebagian besar atau bahkan semua anggotanya tertarik untuk berpartisipasi. Padahal komunitas besar, tapi bisa menghandle segitu banyaknya anggota dengan event-event seru itu. Yang paling aku sukai sebenernya challenge baca, yang bikin kita mau nggak mau produktif baca dong, biar nggak kalah, hihihi~ Terus event tukar kadonya dan perkenalan terhadap member juga juara, supaya member-membernya bisa mengenal satu sama lain dengan lebih akrab. Harapanku untuk BBI, terus berjaya ke depannya, dan semangat buat semua kakak-kakak pengurus divisinya, tugasnya berat semua soalnya. Fighting! Tetap semangat menyebarkan budaya membaca ke seluruh manusia-manusia di Indonesia ini. Dan selalu menjadi komunitas yang bisa bikin anggotanya bangga untuk bisa menjadi salah satu bagian dari BBI, contohnya aku. :)

(Wah, betul banget! Sejak gabung sama BBI aku tiba-tiba aja aku ketemu banyak orang keren dan pastinya down to earth banget. Nggak kenal? Yok kenalan. Hehe. Aku juga bangga bisa jadi anggota komunitas hits ini!)

5. Silakan beri komentar tentang aku ya, La. Tapi pliss banget yang baik-baik aja. Hahaha.

Ah, nggak mau ah yang baik-baik, hahaha. Nggak, ding. Komentar aku tentang Kak Puji itu.. Bikin iri! Pertama aku tahu Kak Puji karena ngestalk blog-nya dan ternyata anak HI UI. Deg! Langsung deh jiwa-jiwa SKSD-nya muncul kalo ke anak HI. Soalnya anak HI kan eksklusif banget tuh, sedangkan aku anak 'buangan' huhuhu. *masih baper ditolak HI* Yaudah jadinya aku nanya-nanya, deh. Aku salut sih sama Kak Puji. Udah anak HI, semester 6, yah? Terus ikut UKM kampus dan punya jabatannya juga, terus masih bisa ngurus book-blog-nya, nggak kayak aku yang suka kabur karena tugas, udah gitu ternyata pernah nerbitin buku juga! Aaaaaaak! Semakin iri daku, huhuhu. Pokoknya Kak Puji top-lah. Baik banget pula, serius. Kalo nge-typing di twitter rapi banget, bawaan semua penulis kali ya emang begitu, hihihi. Sayangnya belum pernah ketemu secara langsung padahal sekampus :( Semoga segera terealisasi lah wacana itu, hahaha. 

(Huwaduh. Aku jadi tersapu *eh, tersipu-sipu nih bacanya. Hehe. Oiii, kita kan pernah sekelas waktu itu. Hahah. Fix lah. Ayo realisasikan wacana itu!)

Semangat dan sukses terus lah buat Kak Puji!

(Yeay! Makasih Lala atas jawabannya. Sukses juga buat kamu!)

Demikian lah bincang-bincang antara aku dengan Lala. Wah, gila, ya! Kalau menurut Lala nih, ternyata menjadi anggota BBI itu bisa jadi suatu kebanggan tersendiri. Aku juga kok merasa kayak gitu. So, Bebi di umur yang keenam ini harus semakin hits. Hoho. Biar bisa menarik perhatian manusia-manusia se-Indonesia untuk bergabung. 

Baiklah. Selesai sudah untuk sesi angkatan 2017. Angakatan selanjut-selanjutnya siapa, ya? Tunggu aja tanggal mainnya. Hoho. Akan ada kejutan-kejutan lainnya yang akan muncul :) 


Bincang-bincang BBI Lintas Generasi

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Wishful Wednesday merupakan meme mingguan yang diselenggarakan oleh Kak Astrid di Perpus Kecil. Dalam meme ini, kita dibebaskan untuk membuat wish buku apa yang kita ingin punya. Boleh buku yang memang akan kita beli atau buku yang menjadi wishlist kita yang sulit didapat.



Halo!
Berhubung hari ini aku tidak ada kuliah--ada seminar sih, tapi sudah selesai--jadi aku memutuskan untuk ikutan Wishful Wednesday! Iyaps. Untuk minggu ini, aku pengin punya An Ember in the Ases karya Sabaa Tahir. Alasannya sih, karena kemarin ada yang merekomendasikan seri ini ke aku setelah aku baca The Lunar Chronicles. Waktu lihat blurb-nya sih memang bikin penasaran.

Sumber gambar: Goodreads

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.
Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.
Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas. 
Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.


Nah, cukup bikin penasaran, kan? Hem semoga di kesempatan ke depan aku bisa mendapatkan novel ini. Kalau kamu, minggu ini pengin novel apa?

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Bagi yang ingin ikut berandai-andai dalam Wishful Wednesday, berikut ketentuannya :
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post Wishful Wednesday di blog Books To Share). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)



Top Ten Tuesday is an original feature/weekly meme created by The Broke and the Bookish. If you want to know more about this feature, you can find the terms and conditions here.




Hello!
Another Tuesday--err, wednesday, has come!

It's time to Top Ten Tuesday! Well, actually, this week's theme is quite thoughtful. Why? Because, since the first time, I am not that really freak into something, but maybe I could figured it out how much I like to be part of some fandom is.

1. Potterhead
Yeah. Of course I belongs to this fandom because I love Harry Potter so much. I followed every social media about it and really want to know everything about this series. Start from Harry Potter till the Fantastic Beast.

2. Sherlockian
I love Doyle's works. Sometime, I can relate what Holmes do when he investigated some cases. I really like the way Doyle write his books. 

3. Conaners
I don't know exactly the name of the Detctive Conan/Case Closed fandom. But, this name usually come up. So, yeah, I would like to admit that I am one of Conaners. Why? Because, I still follow the story even though the manga itself, reach 90 volumes. I still wonder who is the leader of Black Organization.

4. The Lunars
Okay, to be honest, I don't know the name. But, when I search trough internet, I found this term to describe The Lunar Chronicles fandom. Actually, I've just finished read The Lunar Chronicles series. But, I am not that much into this book. In someway, I am falling in love with the way Meyer make this books.

5. The McGallaghans
Yeah, actually this is an Indonesian books fandom. It talked about Fay Adventures Series. I am very glad to join this fandom because I could meet a new people trough this fandom.

6. adDEEction
Another Indonesian author fandom. Yeps. Dee Lestari is one of the best author in Indonesia. Her works are really impressive. I like Supernova a lot.

7. Jingga Matahari Senja
Yeah, another fandom that I joined. It talked about Jingga Series. But, in someway, I like to rethink about quit from this group. Because, I lost my ambience with this group.

8. Nina Ardianti's Addict
I know. Actually there is no an official fandom for this author. But, I really like her book. She is one of my favorite contemporary romance author in Indonesia.

9. Lexsycopath
Yeah, another Indonesian author fandom. This fandom talk about the work of Lexie Xu. I've ever joined it and it's quite fun.

10. The School for Good and Evil
I just like the series and I like to know more about this series--because I haven't read the third book yet.

Fyuh. Finally, this list has over. It's quite hard for me to figure it out, what kind of fandom that I'm part of. I know, most of fandom that I mention above is Indonesian book fandom. But, I think, It could give you more information about Indonesian book fandom.

Sincerely,
Puji P. Rahayu
The Lunar Chronicles #1 Cinder
Mungkin, banyak rahasia yang tersimpan dalam dirinya. Akan tetapi, dia  tidak pernah membohongimu.

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Judul: Cinder
Seri: The Lunar Chronicles #1
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016, cetakan pertama
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 978-602-71505-4-6
Buntelan dari Afifah Tamher dan Mandewi


Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. 

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin membaca seri Lunar Chronicles ini. Selain karena unsur retelling yang disuguhkan, saya tertarik dengan kisah perseteruan antara orang-orang bumi dan bulan. Kalau boleh jujur, seri ini membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Bahkan, saya rela untuk tidak tidur untuk menghabiskan keseluruhan seri.

Linh Cinder adalah cyborg yang terkenal sebagai mekanik ternama di New Beijing. Bersama dengan Iko, sebuah android, Cinder membuka sebuah kios di pasar. Jati dirinya yang memang bukan manusia sepenuhnya, terkadang membuat banyak orang yang memandang jijik pada Cinder. Begitu pula dengan ibu tirinya, Linh Andri, dan putrinya, Pearl. Untungnya, adik Pearl, Peony, masih mau untuk berteman dengan Cinder. Suatu ketika, pangeran mahkota Persemakmuran Timur, Kai, mengunjungi kios Cinder untuk memperbaik android miliknya, Nainsi. Dengan kemampuan cyborg-nya, tidak heran kalau Cinder bisa mengenali Kai dalam samaran. Sejak saat itu, entah mengapa, Kai dan Cinder menjadi sering bertemu, Mulai dari di kios Cinder, laboratorium kerajaan, hingga Kai yang memang mengundang Cinder untuk bertemu. Sampai terakhir, Kai bermaksud mengundang Cinder dalam Festival Pesta Dansa kerajaan.

Di lain sisi, wabah letumosis sedang menyerang dunia. Wabah ini sangatlah berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Kondisi Persemakmuran Timur semakin merosot karena Kaisar Rikan, akhirnya meninggal dunia karena penyakit ini. Otomatis, Kai harus siap menggantikan ayahnya dan menghadapi Ratu Levana--Ratu Bulan yang begitu licik dan tidak memiliki perasaan. Levana berjanji untuk memberikan obat penawar letumosis apabila Kai mau melakukan aliansi perdamaian yang ditawarkan. Aliansi apa yang ditawarkan oleh Levana? Bagaimana Kai menghadapinya? Lalu, apa hubungan semua ini dengan kehidupan Cinder? Buku pertama dari seri The Lunar Chronicles ini akan menjawabnya.

***

The Lunar Chronicles merupakan sebuah seri fiksi-ilmiah yang ditulis oleh Marissa Meyer. Mengambil latar dunia modern, yakni pada Third Era, zaman setelah berakhirnya Peran Dunia IV. Di sini, Meyer mencoba untuk menggambarkan bentuk modern dari dunia. Mulai dari tata pemerintahan dunia yang lebih sederhana, hanya ada enam negara saja, hingga teknologi-teknologi yang berkembang, seperti adanya hover dan portscreen. Meyer berhasil menggambarkan semua itu dengan detail. Kemudian, hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah, retelling dongeng klasik yang tidak biasa. Jujur, saya begitu menyukainya.

Awalnya, saya tidak sebegitu berkekspektasi dengan novel ini. Saya cuma mengharapkan suatu bacaan ringan. Nyatanya, semua itu salah. Saya sangat ketagihan dengan novel ini dan berdoa semoga novel ini tidak cepat tamat, *which is, itu sangat tidak mungkin. Meyer berhasil memorak-porandakan saya dengan cerita yang ia sajikan. Pada akhirnya, saya penasaran bagaimana cara Kai menghadapi Levana, hingga identitas sebenarnya dari Cinder. Saya sampai geleng-geleng kepala saat mennyadari bahwa imajinasi dari Marissa Meyer begitu apik.

Mungkin, ada beberapa hal yang masih belum saya mengerti. Entah karena saya yang terlalu excited sampai tidak memperhatikan detail, saya merasa ada yang salah. Sebenarnya, kekuatan manipulatif yang dimiliki oleh orang-orang Bulan itu berasal dari mana? Bukankah awalnya mereka juga orang Bumi? Saya masih belum tahu jawabannya sampai sekarang.

Pokoknya, bagi siapapun yang menginginkan suatu karya retelling yang tidak biasa, The Lunar Chronicles adalah pilihan yang cerdas. Saya pastikan kalian tidak akan kecewa.

4 bintang untuk Pangeran Kai--sepertinya dia akan menjadi favorit saya sampai akhir seri.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Athirah
Menceritakan sebuah ketegaran yang dibangun untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan dan juga ibu.

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis Naskah: Salman Aristo, Riri Riza
Perusahaan Produksi: Miles Film
Tanggal Rilis: 29 September 2016
Pemain: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Tika Bravani, Jajang C. Noer, Andreuw Parinussa, Arman Dewarti
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Athirah, karya Alberthiene Endah
Ditonton di Kineforum, Dewas Kesenian Jakarta
Harga tiket: Rp20.000,-

Kehidupan Athirah goyah ketika suaminya mengawini perempuan lain. Dalam lingkup budaya yang memungkinkan ini terjadi dan tanpa ruang bagi perempuan untuk bisa menolak, Athirah bergulat melawan perasaannya demi mempertahankan keutuhan keluarganya. Sementara itu, anak laki laki tertuanya, Ucu, tidak tahu pada siapa ia harus berpihak. Ibunya adalah orang yang dicintainya, penuh kesabaran dan kebaikan hati, sementara Bapaknya tetap menjadi sosok yang ia kagumi

***

Baiklah, sebelum saya menjelaskan bagaimana pendapat saya mengenai Athirah, saya akan menceritakan terlebih dahulu awal mula saya bisa menonton film ini. Pada dasarnya, saya tidak memiliki bayangan apa-apa dalam hal menonton biografi ibunda Jusuf Kalla ini. Bermula dari satu ajakan singkat dari teman saya--Nurul--untuk jalan-jalan di malam minggu.

"Puj, ayo ke Bogor!"
Awalnya, saya bingung. Mau kemana kalau ke Bogor? Punya tempat tujuan pun tidak. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk ke Jakarta. Bersama dengan adik kelas Nurul--Adit, kami pun mulai menaiki kereta tanpa arah yang jelas. Pilihan kami untuk menghibur diri ada dua, ke Kineforum atau Teater Salihara. Setelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, akhirnya kami memilih ke Kineforum.

Apa itu Kineforum?

Kineforum merupakan bioskop alternatif yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai ajang menonton, terkadang juga terdapat diskusi lebih lanjut di sana. Setahu saya, terkadang Kineforum menghadirkan orang-orang tertentu dalam diskusi yang diadakan.

KINEFORUM adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program film sekaligus diskusi tentang film. Film-film yang diputar adalah film-film yang bisa menjadi alternatif tontonan bagi publik. Mulai dari film klasik maupun kontemporer, film panjang maupun pendek, film luar maupun dalam negeri, dan juga film-film dari non arus utama. Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.--deskripsi dari situs resmi Kineforum.
Dengan demikian, Kineforum merupakan bioskop yang tidak biasa. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya menonton di Kineforum. Tentunya, saya tidak kecewa dengan pelayanan di sana. Oh, ya. Kalau ingin menonton, tidak perlu reservasi. Langsung saja datang ke Kineforum--letaknya di belakang XXI TIM. Untuk pembelian tiket bisa dilakukan satu jam sebelum film diputar. Pst, segera ya kalau mau dapat tiketnya. Karena hanya ada 35 tempat duduk yang tersedia.

Tentang Athirah

Pada dasarnya, saya belum membaca novel karya Mbak AE ini. Oke, saya tahu kalau beliau ini 'jagonya' membuat biografi. Sebagai contoh adalah Mimpi Sejuta Dolar yang mengisahkan cerita hidup Merry Riana. Memang ada sih keinginan untuk membacanya. Tapi, nanti.

Berhubung saya ini menonton filmnya saja, jadi mungkin bagian visualnya yang akan banyak saya ceritakan. Film dibuka dengan adegan perpindahan Athirah (Cut Mini) bersama suaminya ke Makasar. Suaminya, Puang Aji (Arman Dewarti), merupakan seorang saudagar. Ia melakukan jual beli ke berbagai pembeli di dalam maupun luar kota. Hidup keduanya terlihat baik-baik saja. Mereka telah memiliki tiga anak, salah satunya adalah Ucu (Christoffer Nelwan)--anak laki-laki tertua di keluarga tersebut.

Suatu ketika, Athirah merasa kalau ada yang berubah dari suaminya. Terbukti dari jarangnya lelaki itu di rumah serta perubahan-perubahan minor yang disadari oleh Athirah. Beberapa rumor mengembus dan terdengar telinga Athirah, Puang Aji akan menikah lagi. Dalam kebudayaan Bugis, hal ini bukanlah hal yang tidak biasa, Seseorang memiliki lebih dari satu istri tidak menjadi masalah. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan, tentu saja Athirah merasa tersakiti. Ia terkadang pilu saat menyadari suaminya jarang pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di rumah istri keduanya. 

Untuk mengatasi kesedihannya, Athirah, dibantu oleh ibunya, Mak Kerah (Jajang C. Noer), akhirnya berusaha berbisnis kain tenun. Sedikit demi sedikit, Athirah mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Satu-satunya yang mengetahui usaha Athirah ini adalah Ucu. Sebagai anak pertama, Ucu memang dekat dengan ibunya. Tidak heran bila Athirah mempercayai Ucu akan rahasianya.

Krisis tahun 1960-an membuat perekonomian Indonesia stagnan. Hal ini pun juga memengaruhi kehidupan Athirah dan keluarganya. Perusahaan yang mulai bangkrut, pedagang yang gulung tikar, hingga pengrajin yang berhenti bekerja. Lalu, sampai di situ sajakah perjuangan Athirah dalam menghadapi hidup? 

Sumber gambar: Kapanlagi
***
Menurut saya, cerita yang disajikan dalam thirah begitu sederhana. Cerita mengenai perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi hidup dimadu. Unsur budaya dalam cerita ini begitu kuat. Terlihat dari penggunaan bahasa Makasar untuk keseluruhan film, lagu-lagu yang dinyanyikan, dan juga musik-musik yang diperdengarkan. Bagi saya, lagu dan musiknya bagus. Saya jadi penasaran dengan lagunya. 

Secara visual, pengambilan gambarnya bagus. Saya tidak kecewa saat harus menontonnya dari bangku paling depan. Banyak detail yang dicoba untuk diperlihatkan oleh Riri Riza. Sayangnya, terkadang detail-detail tersebut membuat cerita dari film ini sendiri menjadi terpotong. Seolah-olah, adegan yang disajikan tidak berhubungan satu sama lain. Sayang sekali. 

Untuk pendalaman karakter sendiri, saya cukup trenyuh saat melihat akting dari Cut Mini. Dia benar-benar bisa menjiwai Athirah. Jujur saja, saya suka dengan penampilan Cut Mini. Kemudian, akting dari Jajang C. Noer memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan pengalaman di dunia film yang cukup luar biasa, membuat akting Jajang begitu memukau dan sangat menyenangkan untuk dilihat. Terakhir, ada akting Christoffer Nelwan yang membuat saya sakit perut karena tertawa.

Terlepas dari kekurangannya di sana-sini, menurut saya film ini masihlah layak untuk ditonton. Dan, pada akhirnya membuat saya penasaran dengan novelnya. Mungkin, lain kali saya akn membaca novelnya dan membandingkannya dengan filmnya.

4 bintang untuk karakter Ucu yang lucu.

Sincerely,
Puji P. Rahayu