Showing posts with label Penerbit Spring. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Spring. Show all posts
Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Memangnya, siapa yang menentukan apa itu normal dan tidak?

oleh Becky Albertalli


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Genre: Young Adult
Penulis: Becky Albertalli
Penerjemah: Brigida Ruri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Seplia
Desain Sampul: Marla Putri
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: Desember 2016
Tebal Buku: 324 halaman
ISBN: 978-602-60443-0-3
Gara-gara lupa me-logout akun E-mailnya, Simon tiba-tiba mendapatkan sebuah ancaman. Dia harus membantu Martin, si badut kelas, mendekati sahabatnya, Abby. Jika tidak, fakta bahwa dia gay akan menjadi urusan seluruh sekolah.

Parahnya lagi, identitas Blue, teman yang dia kenal via E-mail akan menjadi taruhannya.
Tiba-tiba saja, kehidupan SMA Simon yang berpusat pada sahabat-sahabat dan keluarganya menjadi kacau balau.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Tidak ada hal yang lebih sulit untuk dilakukan daripada saat kamu dianggap berbeda dan "tidak normal". Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, siapa yang mendefinisikan apa itu normal dan tidak? Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang membuat seorang gay tidak memiliki keberanian untuk coming out. Mengapa? Mereka takut tidak dapat diperlakukan sama dengan yang lain hanya karena memiliki identitas gender yang dianggap "tidak biasa". Padahal, sejauh pemahamanku, seseorang seharusnya bisa mendapatkan haknya. Tidak peduli ia adalah seorang hetero, gay, lesbian, atau lainnya. Toh, pada akhirnya mereka adalah manusia. Manusia yang sama-sama punya hak untuk memperjuangkan hidupnya.

***

Simon Spier. Seorang pelajar di Shady Creek. Mungkin kalian akan melihatnya sebagai seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Dia sering menghabiskan waktunya bermain dengan ketiga sahabatnya, Abby, Leah, dan Nick. Selain itu, dia juga aktif di kelas drama bersama Abby. Hidup Simon biasa-biasa saja. Terlahir sebagai anak tengah dari keluarga yang unik, membuat Simon memiliki kepribadian yang cukup bijaksana--meskipun tidak dapat dikatakan sepenuhnya demikian. Akan tetapi, di balik sikap Simon yang biasa itu, ia menyimpan rahasianya sendiri. Ya, Simon adalah seorang gay. Dan semenjak beberapa bulan yang lalu, ia menjalin korespondensi melalui surel dengan seseorang bernama, Blue. Bagi Simon, Blue telah menjadi sosok yang begitu menarik. Berbagai cerita saling mereka bagikan, dan tentunya, Simon merasa kalau ia mulai menyukai Blue.
Tapi aku capek mencoba terbuka. Semua yang sudah kulakukan adalah menjadi terbuka. Aku mencoba tidak berubah, tapi aku terus berubah, di setiap langkah kecilku. -- Simon, hlm. 62.
Siapa Blue? Simon sendiri pun tidak mengetahuinya. Alamat surel yang didapat oleh Simon pun berasal dari situs Tumblr yang menjadi sumber gosip di Shady Creek. Awalnya, Simon merasa bahwa surel yang ia kirim tidak akan pernah terbalas, nyatanya setelah lama menunggu, Blue membalas dan akhirnya terjalinlah korespondensi tersebut. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah, saat Simon dengan teledornya lupa me-log-out akun surelnya di komputer sekolah. Alhasil. Martin Addison, seseorang yang sering kali dijuluki sebagai badut sekolah, mengambil screenshoot dari percakapan surel antara Simon dan Blue. Sejak saat itu, kehidupan Simon menjadi tidak sama lagi.
Mungkin dia adalah pemerasku. Mungkin dia juga mulai menjadi temanku. Siapa yang tahu kalau yang seperti itu bisa terjadi.--Simon, hlm. 131.
The quote

Well
, secara tegas aku harus bilang bahwa aku samasekali tidak resisten dengan tema yang diambil oleh Becky Albertalli. Bahkan, menurutku, seharusnya buku-buku dengan tema sejenis lebih diperbanyak lagi. But I know, sentimen di negara ini kan cukup kuat. Mungkin, kalau tidak ada label dewasa yang disematkan di sampul belakangnya, buku ini akan dilarang untuk diedarkan. Yeah, you know, those fanatic-religious-groups would be very angry because of this.

So, aku sangat mengapresiasi Penerbit Spring yang mau dan berhasil menerbitkan buku dengan tema berpayungkan LGBT. Mungkin kalian bertanya mengapa aku seperti biasa saja membahas mengenai identitas gender seperti ini. Hem, jujur saja, aku sudah menemui orang-orang dengan identitas gender tersebut di dunia nyata. Aku juga tahu bagaimana kesulitan-kesulitan yang terkadang mendera mereka. Akhirnya, aku pun tidak resisten terhadap mereka. 
Sudah pasti menyebalkan karena heteroseks adalah apa yang dianggap default. Dan juga karena hanya orang-orang yang meragukan identitas mereka--yang tidak cocok dengan identitas standar--saja yang harus memikirkan hal itu.--Blue, hlm. 158.
Baiklah. Mari kita masuk ke pembahasan mengenai Simon. Ahh, harus kuakui, "oknum" yang meminjamiku buku ini pun belum membacanya. Jadi, aku tidak tahu mengapa aku berminat membacanya. Mungkin dari sampulnya? Bisa jadi. Menurutku, sampul dari Simon vs. the Homo Sapiens Agenda ini cukup berwarna dan enak dipandang. Aku suka konsepnya. 

Kemudian, aku juga suka cara bercerita Becky. Ia menggunakan sudut pandang pertama. Sehingga, aku bisa memahami keseluruhan perasaan Simon. Bagaimana galaunya masa remaja, hingga kebimbangan Simon untuk coming out. Sayangnya, aku merasa bosan saat membaca buku ini. Entahlah. Ataukah mungkin karena aku lama tidak membaca buku terjemahan? Aku juga tidak tahu. Yang pasti, aku merasa alur dari buku ini cukup lambat. Satu-satunya hal yang membuatku tetap membaca buku ini adalah identitas Blue yang sebenarnya. Ya. Aku penasaran dengan siapa Blue. Aku sudah memperkirakan kalau akan ada plot twist yang disajikan. Menurutku, upaya Becky untuk itu cukup berhasil.

Bagiku, membaca buku seperti Simon ini membuatku lebih memahami mengenai identitas gender lebih jauh. Aku bisa lebih mengerti mengapa seseorang yang merasa tidak normal, hidupnya menjadi tidak mudah. Ahh, padahal, apa yang dimaksud dengan normal hanyalah konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Oh, aku yakin pasti akan ada orang-orang yang memprotes keseluruhan pendapatku. Yaa, nggak masalah sebenarnya. Toh, pada akhirnya, seseorang punya pemikirannya masing-masing dan juga pembenaran dari pemikirannya tersebut.

Pada intinya, buku ini cukup menarik untuk dibaca.  Akan tetapi, kalau kalian adalah orang-orang bersumbu pendek dan suka menghakimi dari awal, please, go away! Don't try to read this book! 

Pst. Ternyata buku ini akan difilmkan loh. Hem, aku harus berpikir seribu kali sepertinya untuk menonton filmnya. Melihat kebosananku membaca buku ini, agak nggak yakin juga untuk menontonnya. But, we'll see.

Sincerely,

Puji P. Rahayu
An Ember in the Ashes
People could change!

oleh Sabaa Tahir

4 dari 5 bintang
Sumber gambar: Goodreads
Judul: An Amber in the Ashes
Penulis: Sabaa Tahir
Penerjemah: Yudith Listiandri
Pemeriksa Bahasa: Mery Riansyah
Proofreader: Titish A.K.
Design Cover: Aufa Aqil Ghani
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 520 halaman
ISBN: 978-602-74322-8-4
Pinjam di Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia.
Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.
Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias. 
Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.  
Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka. 

***

Aku selalu percaya bahwa lingkungan akan selalu mempengaruhi keadaan diri seseorang. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk penerapan dari komunitarianisme. Akan tetapi, bukan berarti seseorang tidak memiliki keyakinan dari dirinya sendiri. Kalau aku ingat lagi, ada satu kalimat yang diucapkan oleh--oke, aku lupa siapa--entah St. Augustine atau Thomas Hobbes--man is evil. Aku sih pada dasarnya tidak setuju juga dengan pernyataan ini. Bagiku, karakter dari seseorang akan terbentuk kembali oleh lingkungannya--dan juga pandangan hidupnya. Sehingga, seseorang seperti Elias yang ditempa sedemikian rupa dalam lingkungan yang begitu keras, dapat menjadi resisten terhadap 'apa yang seharusnya ia lakukan'.

Cerita ini bermula dari penyerbuan rumah Laia dan keluarganya. Bagi Laia, apapun yang terjadi, ia harus bisa menyelamatkan kakaknya--Darin--yang ditangkap oleh Mask--prajurit andalan Imperium. Untuk itu, Laia mencoba untuk mencari kawanan Resistence yang sedari dulu menginginkan pemberontakan atas Imperium. Entah dengan keajaiba apa, akhirnya Laia bertemu dengan kelompok Resistence. Satu-satunya cara yang harus dilakukan oleh Laia untuk menyelematkan Darin adalah, dengan menjadi mata-mata Resistence. Maka dari itu, Laia pasrah saat ia harus menjadi budak bagi Komandan Blackliff yang kejam dan tidak berperasaan--Keris Veturia.

Di lain sisi, ada Elias Veturia yang begitu dikagumi di seluruh Blackliff. Ia memiliki kecerdikan serta ketangkasan terbaik di antara murid-murid Blackliff. Statusnya sebagai anak komandan Blackliff, membuat Elias harus sebisa mungkin bersikap layaknya murid Blackliff. Meskipun, pada nyatanya, Elias sama sekali tidak ingin menjadi seperti 'mereka'. Dengan demikian, Elias merencanakan untuk kabur dari Blackliff di hari kelulusannya. Sayangnya, takdir tidak memberikan kehidupan yang mudah bagi Elias. Aughur telah menggariskan takdir Elias dan ketiga murid terbaik Blackliff lainnya.

Sumber gambar: google, disunting oleh saya.
Berawal dari sebuah rekomendasi dari teman, aku pun tertarik untuk membaca novel ini. Ditambah faktor buku ini nyempil di perpustakaan, aku pun langsung mengambil buku ini. Ekspektasi? Aku memang punya ekspektasi tersendiri untuk novel ini. Meskipun, aku agak sedih juga karena merasakan hal-hal yang agak membosankan di awal. Entah mengapa. Akan tetapi, dua sudut pandang yang digunakan, bergantian antara Elias dan Laia, membuatku masih betah untuk membacanya.

Sesungguhnya, aku kasihan sekali dengan Laia. Hidupnya benar-benar menderita sekali. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang budak. Apalagi, ditambah dengan berbagai macam siksaan yang diterima, membuatku trenyuh, in someway. Kehidupan Elias pun terkadang juga membuatku tertarik. Intinya, aku masih suka dengan gaya bercerita dari Sabaa Tahir.  Bahkan, aku jadi penasaran banget A Torch against the Night. Eugh, sungguh pun aku jadi penasaran. Aku penasaran dengan bagaimana Keenan nantinya. Hoho.

Pada intinya, An Ember in the Ashes ini mempunyai sisi yang aku sukai. Regarding the weakness of it, aku masih mau mengikuti An Ember in the Ashes. 

Sincerely,

Puji P. Rahayu

The Lunar Chronicles #2 Scarlet
Dapatkah kau percaya sepenuhnya terhadap orang yang baru kau kenal?

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: Scarlet
Seri: The Lunar Chronicles
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Design cover: @.hanheebin
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 444 halaman
ISBN: 978-602-71505-6-0
Harga: Rp81.500,- di Toko Buku Gunung Agung, Margo City, Depok.


Nenek Scarlet Benoit menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencari sang nenek dan menganggap Michelle Benoit melarikan diri atau bunuh diri. 
Marah dengan perlakuan kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang menghilangnya sang nenek. 
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan neneknya sampai sang nenek harus menghilang?
Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan diseluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernah membaca kisah Si Gadis Berkerudung Merah? Iya, gadis yang menjelahi hutan sendirian untuk bertemu neneknya. Yang pada akhirnya bertemu dengan serigala di tengah jalan. Yap, Scarlet, buku kedua dari seri The Lunar Chronicles ini merupakan sebuah retelling dari dongeng klasik tersebut. Masih ada si gadis berkerudung merah, nenek si gadis, hingga sang serigala. Akan tetapi, dalam hal ini konteksnya jauh berbeda.

Entahlah. Aku lupa sudah menyebutkannya atau belum. Yang pasti, awalnya aku sama sekali tidak memiliki pemikiran akan menikmati seri ini. Maksudku, aku bukanlah pembaca yang mudah tertarik dengan hype sebuah buku. Bisa dilihat kan kalau aku membaca buku ini di tahun 2017 bukannya di tahun 2016. Hal ini cukup menandakan bahwa aku tidak terlalu mengikuti seri ini.

Well, meskipun demikian, menurutku membaca seri The Lunar Chronicles di tahun 2017 bukanlah suatu hal yang salah. Mengapa? Karena, nyatanya aku malah jadi menikmati cerita ini sedemikian rupa. Yep. Aku malah ketagihan dengan kisah Cinder-Kai-Scarlet-Wolf ini. Ups, curhatnya kepanjangan. 

Jadi, seperti yang aku bilang di atas, Scarlet merupakan buku kedua dari seri The Lunar Chronicles. Merupakan sebuah bentuk retelling dari cerita Si Gadis Berkerudung Merah. Hoho. Alkisah, Scarlet Benoit yang tinggal di Rieux, Perancis, bersedih hati karena neneknya, Michelle Benoit menghilang. Scarlet begitu yakin neneknya diculik karena chip identitas milik neneknya dikeluarkan paksa dan ditinggalkan di kamarnya. Bagaimanapun caranya, Scarlet pun berusaha untuk mencari neneknya ke Paris. Dibantu oleh seorang petarung jalanan bernama Wolf, Scarlet pun memahami bahwa penculikan atas neneknya bukan penculikan biasa. Ada hubungan antara orang-orang Bumi dan juga Bulan. Kemudian, meskipun Wolf selalu menemani Scarlet kemana saja, Scarlet merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Wolf. Sesuatu yang nyatanya bisa membuat siapapun tidak akan pernah lagi mempercayai Wolf.

Di lain sisi, Cinder bersama Thorne berusaha untuk bisa kabur dari penjara di New Beijing. Berbekal tangan baru Cinder yang diberi oleh Dokter Erland sebelum kepergiannya ke Afrika. Setelah melalui kejar-kejaran seru dan hampir tertangkap kembali, Cinder dan Thorne berhasil kabur menggunakan pesawat curian milik Thorne, pesawat perang asal Amerika Serikat, Rampion. Untuk sementara, Cinder dan Thorne aman dalam pesawat. Akan tetapi, beban Cinder yang berat--karena Kai akhirnya menerima aliansi pernikahan dari Levana--membuat Cinder mau tak mau harus berusaha sedemikian rupa untuk bisa mengatur strategi untuk dapat mengalahkan Levana. Bagaimanapun, Cinder lah pewaris sah takhta di Bulan karena dia adalah Selene, putri Bulan yang hilang. 

Sumber gambar: google, disunting oleh saya

***

Bagiku, membaca The Lunar Chronicles ini adalah candu. Mengapa aku mengatakan demikian? Karena pada akhirnya aku malah lebih tertarik membacanya ketimbang belajar UTS. Sungguh kebiasaan yang kebablasan. Hoho. Tapi aku nggak menyesal sih saat selesai membacanya. Menurutku, Marissa Meyer telah berhasil dengan baik membuat retelling yang tidak biasa. Ia benar-benar berhasil menciptakan dunia yang begitu kompleks. Adanya orang-orang Bumi dan Bulan membuatku jadi penasaran, bagaimana bisa semua hal itu mungkin terjadi.

Dari segi cerita, Scarlet sendiri memang lebih menantang daripada Cinder. Aroma action dari buku ini lebih kental terasa. Apalagi, ternyata Wolf memang bukan sekadar petarung jalanan. Dia adalah seorang Alpha dalam kawanannya. Tidak heran bila aura Wolf begitu mengintimidasi. Sedangkan, untuk Cinder sendiri, aku suka caranya bekerja sama dengan Thorne. At least, they get along well.

Mungkin, saat membaca Scarlet, kita akan dibuat bingung. Memang, apa hubungan antara Cinder dan Scarlet? Di awal-awal mungkin tidak terlalu terlihat. Akan tetapi, setelah masuk halaman 130-an, jawaban dari benang merah antara Cinder dan Scarlet akan terlihat. Yaa, aku tidak menyangka saja pada akhirnya seri ini begitu complicated. Meyer berhasil mencampur-adukkan dongeng serta kisah yang ia buat sendiri. Tentunya, kisah Cinder ini membuatku terpacu untuk membaca buku lanjutannya secepatnya--which is, sudah kulakukan. Apalagi, selain action yang terlihat, terdapat romansa yang khas dalams setiap kisah. Seperti Cinder-Kai dan Scarlet-Wolf. Untuk saat ini, yang paling sweet adalah Scarlet-Wolf. Akan tetapi, Pangeran Kai tetap menjadi idolaku. Hehe.

Pada intinya, kalau kalian mencari bacaan ringan tapi juga menantang, maka seri The Lunar Chronicles bisa menjadi pilihan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu
The Lunar Chronicles #1 Cinder
Mungkin, banyak rahasia yang tersimpan dalam dirinya. Akan tetapi, dia  tidak pernah membohongimu.

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Judul: Cinder
Seri: The Lunar Chronicles #1
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016, cetakan pertama
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 978-602-71505-4-6
Buntelan dari Afifah Tamher dan Mandewi


Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. 

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin membaca seri Lunar Chronicles ini. Selain karena unsur retelling yang disuguhkan, saya tertarik dengan kisah perseteruan antara orang-orang bumi dan bulan. Kalau boleh jujur, seri ini membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Bahkan, saya rela untuk tidak tidur untuk menghabiskan keseluruhan seri.

Linh Cinder adalah cyborg yang terkenal sebagai mekanik ternama di New Beijing. Bersama dengan Iko, sebuah android, Cinder membuka sebuah kios di pasar. Jati dirinya yang memang bukan manusia sepenuhnya, terkadang membuat banyak orang yang memandang jijik pada Cinder. Begitu pula dengan ibu tirinya, Linh Andri, dan putrinya, Pearl. Untungnya, adik Pearl, Peony, masih mau untuk berteman dengan Cinder. Suatu ketika, pangeran mahkota Persemakmuran Timur, Kai, mengunjungi kios Cinder untuk memperbaik android miliknya, Nainsi. Dengan kemampuan cyborg-nya, tidak heran kalau Cinder bisa mengenali Kai dalam samaran. Sejak saat itu, entah mengapa, Kai dan Cinder menjadi sering bertemu, Mulai dari di kios Cinder, laboratorium kerajaan, hingga Kai yang memang mengundang Cinder untuk bertemu. Sampai terakhir, Kai bermaksud mengundang Cinder dalam Festival Pesta Dansa kerajaan.

Di lain sisi, wabah letumosis sedang menyerang dunia. Wabah ini sangatlah berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Kondisi Persemakmuran Timur semakin merosot karena Kaisar Rikan, akhirnya meninggal dunia karena penyakit ini. Otomatis, Kai harus siap menggantikan ayahnya dan menghadapi Ratu Levana--Ratu Bulan yang begitu licik dan tidak memiliki perasaan. Levana berjanji untuk memberikan obat penawar letumosis apabila Kai mau melakukan aliansi perdamaian yang ditawarkan. Aliansi apa yang ditawarkan oleh Levana? Bagaimana Kai menghadapinya? Lalu, apa hubungan semua ini dengan kehidupan Cinder? Buku pertama dari seri The Lunar Chronicles ini akan menjawabnya.

***

The Lunar Chronicles merupakan sebuah seri fiksi-ilmiah yang ditulis oleh Marissa Meyer. Mengambil latar dunia modern, yakni pada Third Era, zaman setelah berakhirnya Peran Dunia IV. Di sini, Meyer mencoba untuk menggambarkan bentuk modern dari dunia. Mulai dari tata pemerintahan dunia yang lebih sederhana, hanya ada enam negara saja, hingga teknologi-teknologi yang berkembang, seperti adanya hover dan portscreen. Meyer berhasil menggambarkan semua itu dengan detail. Kemudian, hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah, retelling dongeng klasik yang tidak biasa. Jujur, saya begitu menyukainya.

Awalnya, saya tidak sebegitu berkekspektasi dengan novel ini. Saya cuma mengharapkan suatu bacaan ringan. Nyatanya, semua itu salah. Saya sangat ketagihan dengan novel ini dan berdoa semoga novel ini tidak cepat tamat, *which is, itu sangat tidak mungkin. Meyer berhasil memorak-porandakan saya dengan cerita yang ia sajikan. Pada akhirnya, saya penasaran bagaimana cara Kai menghadapi Levana, hingga identitas sebenarnya dari Cinder. Saya sampai geleng-geleng kepala saat mennyadari bahwa imajinasi dari Marissa Meyer begitu apik.

Mungkin, ada beberapa hal yang masih belum saya mengerti. Entah karena saya yang terlalu excited sampai tidak memperhatikan detail, saya merasa ada yang salah. Sebenarnya, kekuatan manipulatif yang dimiliki oleh orang-orang Bulan itu berasal dari mana? Bukankah awalnya mereka juga orang Bumi? Saya masih belum tahu jawabannya sampai sekarang.

Pokoknya, bagi siapapun yang menginginkan suatu karya retelling yang tidak biasa, The Lunar Chronicles adalah pilihan yang cerdas. Saya pastikan kalian tidak akan kecewa.

4 bintang untuk Pangeran Kai--sepertinya dia akan menjadi favorit saya sampai akhir seri.

Sincerely,
Puji P. Rahayu