Judul: Monster
Sutradara: Kore-eda Hirokazu
Penulis: Yuji Sakamoto
Genre: Drama, Thriller
Nonton di CGV Depok Mall


A suburban town with a large lake. A single mother who loves her son, a school teacher who cares about her students, and innocent children lead a peaceful life. One day, a fight breaks out at school. It looked like a common fight between children, but their claims differed, and it gradually developed into a big deal involving society and the media. Then one stormy morning, the children suddenly disappear.


***


Akhirnya, kesampaian juga buat nonton Monster. Sebenernya, udah tahu soal film ini dari tahun lalu. Tapi, karena satu dan lain hal, termasuk karena aku sempat sakit cacar, akhirnya baru bisa nonton sekarang. Itupun, kemarin juga impulsif banget nontonnya. Bermula dari perjalanan dari Cibubur ke Depok menggunakan Transjakarta D11--yang omong-omong udah kayak unicorn, saking enggak jelasnya jadwalnya, aku tetiba terpikir waktu sampai Depok, "Kayaknya seru nih, turun di Depok Mall dan nonton." Dengan gerak cepat, akhirnya aku buka TIX.ID, dan untungnya si Monster ini masih ada.


Waktu bilang sama Mbak Indri aku mau nonton, Mbak Indri udah wanti-wanti kalau pace film ini bakal lambat banget. Honestly, aku enggak terlalu cari tahu ini film tentang apa. Yaa biar jadi surprise gitu ceritanya. Jadi, waktu di awal-awal, memang agak bingung alurnya akan ke mana.


The Story


Bermula dari Minato Mugino (Sora Kurokawa) yang sepertinya mengalami masalah di sekolah. Saori Mugino (Sakura Ando), sang ibu, jadi sangat khawatir dengan keadaan Minato. Apalagi, Saori memang membesarkan Minato sendirian pasca mendiang suaminya meninggal dunia. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk memastikan sendiri apa yang sebetulnya terjadi di sekolah. Akan tetapi, ketika ia menghadap  dan ditemui kepala sekolah dan sejumlah guru, Saori menjadi semakin bingung dan kesal karena ia tahu ada yang sedang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah. 


Setelah itu, sudut pandang cerita berganti ke sisi Michitoshi Hori (Eita Nagayama), wali kelas Minato. Nah, dari sinilah baru terungkap sisi lain dari kisah yang terungkap dari sudut pandang Saori sebelumnya. Sudut pandang Hori sensei inilah yang akhirnya membuatku terjaga setelah hampir mengantuk dengan sangat karena awal cerita yang cukup lambat.


Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya multi POV yang disajikan, yakni dari sudut padang Saori, Hiro ssensei, dan Minato sendiri. Ketiga POV ini pada akhirnya saling melengkapi dan memunculkan sejumlah twist yang tidak terduga. Ketika awalnya aku mengira ini adalah soal bully antar siswa saja, ternyata kisah yang diangkat lebih dari itu. Bahkan beyond dari itu. Jadi, aku sangat salut kepada penulis naskah dan sutradara film Monster ini, bisa mengemas cerita yang sedemikian engaging-nya.


Pada dasarnya, melalui multi POV ini, sang sutradara dan penulis naskah ingin menekankan bahwa sosok monster dalam kehidupan kita itu akan berbeda-beda. Bisa jadi bagi Saori, para monster yang mengganggu ketentaraman hidupnya adalah pihak sekolah adalah Hori sensei yang "mencelakai" anaknya. Lalu, bagi Hori sensei, para monster adalah kepala sekolah dan para dewan guru--dan juga Minato. Sedangkan, bagi Minato, siapa sosok monster dalam pandangannya juga pasti berbeda dari ibunya dan Hori sensei.


Maka dari itu, ketika kisah ini mencapai titik akhir, kesimpulannya juga dikembalikan kepada penonton. Apakah Minato dan Hoshikawa berhasil terlahir kembali?


Aku menyadari kalau film ini cukup emosional, tapi aku tak sampai menitikkan air mata karenanya. Aku malah merasa jauh lebih sedih ketika mendengarkan lantunan pinao dari Sakamoto sensei. Iya, film ini merupakan proyek terakhir beliau sebelum meninggal dunia. Aku bisa merasakan kesedihan dan juga emosi yang hendak ia sampaikan lewat gubahan lagunya.


Kesimpulan


Yang pasti, aku puas menonton film ini. Meskipun harus menahan kebosanan karena pace yang sungguh lambat, aku rasa kisah Minato ini sangatlah menarik dan sayang untuk dilewatkan.


Jadi, 4 dari 5 bintang untuk proses acceptance Minato terhadap Hoshikawa.


Best,
P.P. Rahayu

Judul: Pengantin Remaja
Penulis: Ken Terate
Tebal buku: 384 halaman
Tahun terbit: 2022
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki-laki yang ia sayangi. 

“Cinta adalah soal hati, bukan usia.” Bukankah ada lagu yang bilang begitu? 

Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu? Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan. 

Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?

***

Dari dulu, Ken Terate selalu menjadi salah satu penulis favoritku. Ia selalu bisa menyampaikan isu-isu sosial penting tanpa harus begitu menggurui. Bagiku, novel ini mirip sekali dengan novel karya Andina Dwifatma yang berjudul Lebih Senyap dari Bisikan. Mungkin penceritaannya tidak seberat di LSdB, tapi, kisah Pipit-Pongky menjadi suatu ironi yang begitu mengenaskan.

Tentunya, aku menyadari bahwa tidak semua orang punya privilese untuk memahami bahwa pernikahan itu tidak akan mampu menjawab seluruh keruwetan hidup. Menikah dapat menyelesaikan masalah? Mana ada. Yang ada, masalahmu bisa tambah runyam. Apalagi kalau kamu tidak tahu apa tujuanmu menikah dan hanya memiliki pikiran pendek, hidup dengan cinta saja cukup.

Keputusan Pipit untuk menikah muda, bahkan ketika ia belum lulus dari sekolah menengah, tentu saja menghebohkan. Ibuk Pipit tentu saja melarangnya. Sayangnya, Pipit sudah kebanjur keras kepala. Ia hanya mau hidup bersama Pongky. Titik. Nah, enggak tahu aja Pipit kalau menikah tuh bukan cuma urusan dua orang. Ketika menikah, seseorang itu juga akan berurusan dengan keluarga pasangannya. Betapa sialnya Pipit ketika menyadari bahwa keluarga mertuanya sungguh menyebalkan dan membuat dirinya tersiksa.

Belum usai penderitaan Pipit yang harus menerima sikap Pongky yang seenaknya, ancaman kelaparan setiap malam, rasa tak aman karena tak pernah punya uang cukup, dan banyak kesulitan lainnya, Pipit kemudian hamil dan memiliki anak. Duh, cobaan apa lagi, ini?, mungkin demikian batin Pipit.

***

Dari awal, Ken Terate sudah membuat kita benci setengah mati kepada sosok Pongky. Dia ini tuh, sebenar-benarnya cowok <i>red flag</i> nan manipulatif. Kita juga bakalan sebel sama Pipit yang bikin kita gemes banget sama pemikirannya di awal. Tapi <i>again</i>, aku memahami kalau Pipit enggak punya privilese untuk memahami sebesar apa konsekuensi menikah, apalagi di usia masih sangat muda. Sungguh aku berharap waktu itu Ibuk Pipit atau Atin berhasil menyadarkan Pipit. 

Bagiku, karakter yang masih sangat waras di sini adalah Ibuk Pipit dan Atin. Meskipun keduanya juga memang punya kekurangan, tapi kurasa keduanya masih sangat realistis. Mereka mampu mengupayakan hidup mereka sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tentunya, sikap yang berkebalikan dengan Pipit.

Nah, untungnya, sepanjang cerita, sedikit demi sedikit, sikap Pipit berubah. Ia tahu pada akhirnya ia lah yang menanggung konsekuensinya untuk menikah di usia belia. Ia pun mulai bisa mengembangkan diri, meski masih sempat juga tertipu oleh suaminya yang enggak ada bagus-bagusnya itu. Aku sangat menghargai perubahan karakter Pipit di sini. Tentunya, sosok Atin dan Alicia menjadi salah dua kunci bagi Pipit untuk bisa menjadi lebih dewasa.

Menurutku, novel ini memiliki banyak sekali pesan yang ingin disampaikan. Aku berharap, akan lebih banyak lagi orang yang membaca novel ini. Bagaimanapun, pemahaman soal pernikahan memang sepenting itu. Keputusan untuk menikah harus dibarengu dengah pemahaman terkait konsekuensi yang juga akan didapatkan nantinya.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk kisah yang cukup dark ini.

Best,
P.P. Rahayu


Judul: Dona Dona
Seri: Before the Coffee Gets Cold #3
Penulis: 
Toshikazu Kawaguchi
Tebal buku: 264 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita.

Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya.

Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…


***

Suatu hari, Yukari Tokita, manajer kafe Dona Dona yang berada di Hakodate, Hokaido, memutuskan pergi ke Amerika tanpa tahu kapan akan kembali. Kabarnya, Yukari berupaya membuat seorang anak laki-laki yang ingin menemukan ayahnya. Keputusan mendadak Yukari tersebut pada akhirnya membuat Nagare, putra Yukari, rela mengambil alih kafe Dona Dona untuk sementara.

Dengan demikian, Nagare pun terpaksa meninggalkan Funiculi Funicula dan juga terpisah dengan putri semata wayangnya, Miki, yang berada di Tokyo. Kazu dan putrinya, Sachi, juga ikut bersama Nagare ke Hokaido. Di kafe Dona Dona, kita akan banyak bertemu dengan Reiji (pekerja paruh waktu di kafe tersebut), Nanako (teman masa kecil Reiji), dan juga Saki (seorang psikiater yang juga pelanggan reguler di Dona Dona).

Berhubung usia Sachi sudah menginjak tujuh tahun, maka tugas untuk menuangkan kopi yang bisa membawa orang ke masa lalu tetap bisa dilakukan. Nah, ternyata banyak sekali kisah-kisah yang menarik di buku ketiga dari serial ini. Aku rasa, kisah-kisah yang ada semakin solid dan pesan yang disampaikan jauh lebih gamblang daripada dua buku sebelumnya.

Kisah yang paling aku ingat mungkin kisah pertama dan juga terakhir. Kisah pertama menceritakan seorang perempuan muda yang ingin kembali ke masa lalu untuk protes kepada kedua orang tuanya yang meninggal saat ia masih kecil. Ia merasa dirinya telah ditinggalkan sendirian dan dibiarkan menderita sedemikian rupa. Sedangkan, kisah terakhir aku lebih terkesan karena twist yang disajikan di akhir.

Salah satu pesan yang paling aku ingat dari buku ini adalah, bagaimana kehidupan seseorang tidak akan berhenti meski orang yang mereka cintai telah tiada di dunia ini. Bahkan, orang yang masih hidup, harus terus berjuang dan berupaya tetap hidup demi orang yang ia cintai tersebut. Maka dari itu, tulisan Yukari di bagian akhir akan sangat relatable.

"Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan."


Tentu ketika seseorang kehilangan, maka ia berhak berduka dan setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk berdamai dengan kedukaannya. Akan tetapi, bukan berarti hidupnya akan langsung berhenti begitu saja. Setiap orang berhak untuk tetap bahagia setelah merasakan kehilangan.

Selain pesan yang lebih tersurat, aku rasa dalam buku ini, Kawaguchi sensei menuliskan kisah Dona Dona lebih seperti antologi. Maka dari itu, ada sejumlah pengulangan informasi di setiap bab. Lalu, menurutku, gaya bahasa di buku ini juga jauh lebih mengalir dibandingkan dua buku sebelumnya. Sepertinya, sosok Yukari di buku ini menjadi tokoh yang cukup sentral. Sejumlah peristiwa yang terjadi, selalu saja berkelindan dengan hasil campur tangan Yukari.

Jadi, sepertinya di buku keempat nanti, akan lebih banyak dibahas bagaimana awal mula perempuan Keluarga Tokita bisa membawa orang ke masa lalu, dan masa depan. Lalu, mungkin juga akhirnya akan terjawab, apa yang sebetulnya sedang dilakukan Yukari di Amerika sana.


4.5 dari 5 bintang untuk kelakuan Sachi yang menggemaskan.


Salam,
P.P. Rahayu

Title: The Seven Husbands of Evelyn Hugo
Author: Taylor Jenkins Reid
Publisher: Washington Square Press
Date of publication: June 13, 2017
Number of pages: 398 pages
Read on Libby

From the New York Times bestselling author of Daisy Jones & the Six—an entrancing and “wildly addictive journey of a reclusive Hollywood starlet” (PopSugar) as she reflects on her relentless rise to the top and the risks she took, the loves she lost, and the long-held secrets the public could never imagine.

Aging and reclusive Hollywood movie icon Evelyn Hugo is finally ready to tell the truth about her glamorous and scandalous life. But when she chooses unknown magazine reporter Monique Grant for the job, no one is more astounded than Monique herself. Why her? Why now?

Monique is not exactly on top of the world. Her husband has left her, and her professional life is going nowhere. Regardless of why Evelyn has selected her to write her biography, Monique is determined to use this opportunity to jumpstart her career.

Summoned to Evelyn’s luxurious apartment, Monique listens in fascination as the actress tells her story. From making her way to Los Angeles in the 1950s to her decision to leave show business in the ‘80s, and, of course, the seven husbands along the way, Evelyn unspools a tale of ruthless ambition, unexpected friendship, and a great forbidden love. Monique begins to feel a very real connection to the legendary star, but as Evelyn’s story near its conclusion, it becomes clear that her life intersects with Monique’s own in tragic and irreversible ways.

“Heartbreaking, yet beautiful” (Jamie Blynn, Us Weekly), The Seven Husbands of Evelyn Hugo is “Tinseltown drama at its finest” (Redbook): a mesmerizing journey through the splendor of old Hollywood into the harsh realities of the present day as two women struggle with what it means—and what it costs—to face the truth.


***

Well, aku mengetahui novel ini dari Ayas. Waktu itu, Ayas menyarankan aku untuk membaca novel ini untuk 12 Reading Challenge. Honestly, menurutku novel ini menarik banget. Cara Taylor Jenkins menggambarkan Evelyn Hugo itu kerasa nyata banget. Selama membaca novel ini, aku sampai bertanya-tanya, is she really not real? 


The Story


Cerita dibuka dengan keinginan Evelyn Hugo untuk diwawancarai oleh Monique Grant. Awalnya, Monique yang merupakan seorang jurnalis di Vivan, bertanya-tanya mengapa Evelyn meminta dirinya secara khusus untuk mewawancarainya. Ketika ia sampai di rumah Evelyn, Monique baru menyadari bahwa permintaan Evelyn bukan sekadar tentang wawancara satu artikel lalu selesai. Akan tetapi, Evelyn mengharapkan Monique menulis biografi tentang dirinya.


Awalnya, Monique begitu terkejut dengan permintaan Evelyn. Apakah ada alasan khusus bagi Evelyn memilih dirinya? Evelyn, dengan gayanya yang santai dan tenang hanya berkilah bahwa pertanyaan Monique akan terjawab nantinya, saat kisah hidupnya selesai ia tuturkan.


Meskipun sempat ragu, Monique akhirnya menerima tawaran Evelyn. Sejak saat itulah, Monique mulai mempelajari seluruh gelap-terang kehidupan Evelyn. Begitu pula dengan kelindan kisah Evelyn bersama dengan 7 suaminya.


The Opinion


Seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, Taylor Jenkins Reid telah berhasil menggambarkan kehidupan Evelyn Hugo dengan begitu apik. Kita seolah-olah diajak untuk berkenalan dengan sosok yang betul-betul hidup bernama Evelyn Hugo. Seorang aktris ternama di era 60-an di Hollywood. Ia memiliki kharisma yang begitu kuat serta kecantikan yang tak lekang oleh waktu. Evelyn juga dikenal sebagai salah satu icon Hollywood yang selalu membawa impact ke berbagai hal yang ia lalui.


Saat aku membaca novel ini, aku merasa begitu mudah terhanyut dengan kisahnya. Alhasil, aku ingin sekali segera menyelesaikan membacanya. Aku begitu penasaran dengan seluruh kisah suami-suami Evelyn. Apa yang membuat Evelyn akhirnya memutuskan menikah dengan mereka dan apa yang membuat mereka akhirnya berpisah.


Tentunya, salah satu sosok suami Evelyn yang paling berkesan buatku adalah Harry Cameron. Dengan Harry-lah Evelyn akhirnya melahirkan Connor, putrinya yang akhirnya meninggal karena kanker payudara pada umur 41 tahun. Selain itu, pernikahan Evelyn dengan Harry juga membuka jalan bagi Evelyn untuk bisa bersatu dengan cinta sejatinya, Celia St. James.


Conclusion


Pastinya, aku akan merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi siapapun yang menyukai novel berbentuk memoar fiksi. TJR berhasil menghidupkan sosok Evelyn di sini dan kalian tidak akan menyangka bahwa Evelyn hanyalah tokoh fiksi belaka.


4.5 bintang untuk memoar yang apik ini.


Sincerely,
Ra

Image: Prime

Title: Tale of the Nine-Tailed 1938
Director: Kang Shin-Hyo
Writer: Han Woo-ri
Number of episodes: 12 episodes
Release date: May 6-June 11 2023


Four months after Lee Rang's death, Lee Yeon receives the power of the nine-tailed fox again, on the condition that Lee Rang be reincarnated. An uninvited guest slips in during the lunar eclipse and steals the guardian stone created by the King of the Dead to protect the boundary between the Worlds of the Living and Dead, then disappears "into the cabinet"


***


Yeay, after Alchemy of Souls, I think Tale of the Nine-Tailed is the next series that I really adore. Well, I should admit that the first season is full of a romantic side between Lee Yeon (Lee Dong-Wook) and Nam Ji-a (Jo Bo-Ah). But, this second season, is more about the brothership between Yeon and Rang (Kim Beom) and the friendship between Yeon, Hong-joo (Kim So-Yeon) and Mu-young (Ryoo Kyung-Soo).


The Story


Because of an unexpected case, Lee Yeon should travel back in time to the year 1938. There, Yeon meets Ryu Hong-Joo, Yeon's long best friend. Well, just like Yeon, Hong-joo was once a guardian spirit of a mountain in the West. Now, in 1938, Hong-Joo is the owner of Myeoyangak--the best high-end restaurant in the capital city of Gyeongseong. 


Another unexpected thing is, Lee Yeon also meets his younger brother, Lee Rang. What's happened in the present makes Lee Yeon try his best to cherish every moment with Rang. He wants to be the best hyung for him. Yeah, it's like paying the price for everything that he couldn't do at the present time.


Meanwhile, there is Cheon Mu-Young, another friend of Lee Yeon and Hong-Joo. He used to be a guardian spirit of a mountain in the east. Sadly, a hurtful event made Mu-Young despise Lee Yeon so much. This incident also made Mu-Young try to seek revenge on Lee Yeon.


Aside from the conflict between Yeon and his two best friends, we also meet another conflict about the independence movement from the Japanese colonization. There were Sunwoo Eun-Ho (Kim Yong-Jin), Snail Bride (Kim Soo-Jin), and grandfather from Afterlife Immigration Office, Hyun Ui-Ong (Ahn Kil-Kang). Therefore, these 12 episodes are really compact and interesting. I really love this season a lot.


The Opinion


So, this season has made me smile a lot. Since we lost Lee Rang in the first season, the second season showed the brotherhood between Lee Yeon and Lee Rang. Of course, with everything that happened, Lee Yeon wants to take advantage of the remaining time that he has with Lee Rang. He knows that Rang won't be coming back at the present time, but in those short moments, Lee Yeon wants to make up for everything. I really love when Lee Yeon without any hesitation always said, "Don't mess with my dongsaeng!", "If something happened to my dongsaeng, you will pay the price." and else.


I couldn't help but smile when Lee Yeon always takes care of Rang, even though Rang sometimes feels annoyed by it. Ahh, I love their bond has become deeper from several events that happened in 1938.


Then, in my opinion, this opinion is war more comedic than the first season. The first episode made me laugh so hard, moreover when Lee Yeon meet Hong-Joo again for the first time. Their battle scene is really hilarious. As the drama progress, a lot of comedic scenes have been executed well in this drama. Good job, PD-nim!


In some interviews, Dong-wook and Beom said that this series will unleash more of the urban legend, including the legend from outside Korea. Well, compared to the first season, this season has brought more urban legends and ghosts from all over Korea. Sadly, as someone who couldn't watch a horror movie, I definitely muted the sound from episode 6 when watched it. I couldn't stand the horror vibe, let alone from the Korean movie--I have a big trauma about watching a Korean horror movie.

 

Anyway, I almost forget that indeed there is a romantic story here. In this season, we gotta meet with the cute story between Lee Rang and the mermaid lady, Jang Yeo-Hee (Woo Hyun-Jin). Their story is not too much but still cute. I laughed so hard when Yeon said something like, "How dare you bring seafood to our family line." That's so funny. Thankfully, Yeon is very supportive of Rang's relationship. At first, Rang maybe looks so cold, but he becomes warmer once Yeo-hee is always on his side when he needs the most. Aww, melting. 


Conclusion


Very well, I know that there will be a next instalment for this series. I mean, how about that origin mountain spirit that has been awakened? Also, the hint at the end of the episodes when Yeon come back to the Joseon dynasty. So, I am more than excited to wait for the next season to come. Ahh, seriously. I love this series so much. I love how Dong-wook and Beom can make the brotherhood between Yeon and Rang felt so real. 


8.5 out of 10 stars from me.


Sincerely, 
Ra