Showing posts with label Read in 2022. Show all posts
Showing posts with label Read in 2022. Show all posts

Image: gramedia, edited by me

Judul: The Midnight Library
Penulis: Matt Haig
Penerjemah: Dharmawati
Tebal buku: 368 halaman
Tahun terbit: Juni 2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca di Gramedia Digital

Di antara kehidupan dan kematian terdapat sebuah perpustakaan yang jumlah bukunya tak terhingga. Tiap-tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani sehingga kau bisa melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan-keputusan berbeda... Akankah kau melakukan apa pun secara berbeda jika kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu? Benarkah kehidupan lain akan jauh lebih baik?

Nora Seed harus membuat keputusan. Ia dihadapkan pada kemungkinan bisa mengubah hidupnya, memiliki karier yang berbeda, tidak putus dari mantan kekasih, dan mewujudkan mimpinya sebagai glasiolog. Ia menjelajahi Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa sebenarnya yang menjadikan hidup pantas dijalani. Setelah kehidupan yang diisi berbagai penyesalan dan kegagalan, akankah Nora Seed akhirnya mendapatkan kehidupan yang bisa memberinya kebahagiaan sejati?

***

The Midnight Library adalah buku rekomendasi dari Mbak Dewi untuk #12Challenge. Kemarin sempat mencoba "baca bareng" Kakpin dan Kak Wardah. Untungnya aku tidak mendusta, meski yang paling lama kelarnya.

Nora dan pilihan-pilihan hidup

Di ambang kematian, Nora sampai di Perpustakaan Tengah Malam. Sebuah perpustakaan yang memberikan ketidakterbatasan kemungkinan hidup bagi Nora. Ya, Nora bisa mengambil satu buku di perpustakaan itu dan menjalani hidup-hidup yang berbeda dari kehidupan akarnya. Mrs. Elm menjadi pemandu Nora saat menjalani berbagai kehidupan dari buku-buku di perpustakaan itu. Apakah Nora bisa menemukan kehidupan yang ia inginkan?

Dari awal, vibe buku ini memang cukup depresif. Mau tidak mau, kita akan dibawa hanyut dalam kehidupan penuh penyesalan dari Nora. Mulai dari penyesalan putus dengan Dan (pacarnya), tidak ikut Izzy ke Australia, atau mundur dari The Labyrinth. Jujur, ceritanya cukup berat. Aku betul-betul harus fokus saat membacanya.

Pembahasan soal mental health sebetulnya menjadi pembahasan utama dalam buku ini. Bagaimana seorang Nora memahami penyesalan-penyesalannya dan akhirnya bisa menemukan arti untuk hidup.

Bagus tapi aku agak bosan

Sebetulnya, jenis buku magic realism itu bagus, kok. Apalagi menyangkut isu kesehatan mental. Pesan yang mau disampaikan juga cukup mengena. Permasalahannya, aku merasa agak bosan ketika membaca buku ini. Menurutku, ceritanya lambat sekali. Entahlah. Aku hanya merasa konflik yang ditampilkan tidak sebegitu linearnya. Apalagi, dengan berbagai kehidupan yang harus ia jalani, kisah keseluruhan Nora terasa terputus. 

Kalau ditanya apakah ada lovable character.. aku rasa enggak ada. Aku bisa bilang tema buku ini memangs serius. Jadi, kalau tidak fokus, akan susah untuk bisa memahami keseluruhan ceritanya.

Kesimpulan

The Midnight Library memang bagus, kok. Meskipun agak membosankan, ceritanya cukup kompleks dan ngasih value lebih. Jadi, setelah selesai membaca buku satu ini, mari kita membaca hal-hal yang ringan setelah ini karena terus membaca buku berat malah bikin enggak semangat. 

3.5 dari 5 bintang.

Sincerely, 
Ra

Image: Goodreads, edited by me

Judul: Terpuruk dan Melarat di Paris dan London
Judul asli: Down and Out in Paris and London
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Djokolelono
Tebal buku: 288 halaman
Tahun terbit: 2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Baca di Gramedia Digital

Sebelum menjadi pengarang terkenal lewat buku Animal Farm dan 1984, George Orwell pernah hidup miskin di dua kota besar—Paris dan London. Di Paris, dia menjadi tukang cuci piring, dan di London, sambil mencari pekerjaan, dia banyak bergaul dengan gelandangan dan orang-orang jalanan, dan tinggal di rumah-rumah penampungan. Dengan narasi yang jujur dan seringkali humoris, buku semi autobiografi ini mengisahkan kehidupan Orwell pada masa-masa sulit sebagai orang melarat dan berbagai masalah yang mesti dihadapinya.

Down and Out in Paris and London adalah rekomendasi buku dari Kak Bree untuk 12 challenge yang aku buat di awal tahun. Berhubung aku yakin pembahasan dari DOPL akan serius, sama seperti novel Orwell lainnya, maka aku memutuskan untuk pelan-pelan membacanya di awal tahun ini. Untungnya, buku ini tersedia di Gramedia Digital. Jadi, mudah banget untuk mengaksesnya.

Tokoh Aku dan Kemiskinan

Sebetulnya, aku agak ragu ketika mau membaca DOPL Beberapa tahun lalu, aku mencoba untuk membaca 1984, dan gagal. Aku belum sempat menyelesaikannya. Satu-satunya novel Orwell yang bisa kuselesaikan adalah Animal Farm. Novel alegori politik ini terasa lebih mudah diikuti dibandingkan 1984. Alhasil, aku mencoba membaca DOPL dengan harapan bisa mendapatkan experience yang mirip saat aku membaca Animal Farm.

Akhirnya? Yaa, enggak selancar itu juga sih, bacanya. Tapi, seenggaknya bisa selesai juga meski butuh waktu 1.5 bulan. 

Pada dasarnya, DOPL adalah kisah autobiografi dari Orwell. Tokoh 'aku' adalah Orwell sendiri. Berhubung tidak terlalu banyak kisah autobiografi yang kubaca, ku rasa Orwell mampu menyajikan kisah yang unik melalui DOPL. Kisah yang ia sampaikan tidak terlalu kaku dan memiliki alur cerita yang mengalir.

Sesuai dengan judulnya, maka DOPL berisikan kisah 'aku' saat menghadapi kemiskinan, baik di Paris dan London. 'Aku' adalah seorang berkebangsaan Inggris, yang aku lupa kenapa, terdampar di Paris. Saat berada di Paris, 'aku' tinggal di hotel yang otomatis membuatnya harus membayar sewa setiap seminggu sekali. Sayangnya, ia tidak memiliki pekerjaan. Maka dari itu, perjalanan tokoh 'aku' untuk bertahan hidup, dalam arti mencari uang untuk makan dan sewa tempat tinggal dimulai.

Kalau aku boleh meringkas kehidupan tokoh 'aku' di Paris adalah dengan mencari pekerjaan dengan berjalan kaki berkilo-kilo, menggadaikan pakaian saat sudah tak punya lagi uang untuk membeli roti, dan mendapatkan pekerjaan di restoran sebagai plongeur--yang sesungguhnya sangat menyiksa.

Ketika tokoh 'aku' memutuskan untuk kembali ke Inggris, karena ia merasa hidupnya di Paris hanya dihabiskan untuk bekerja non stop dan istirahat berarti hanyalah tidur. Selain itu, tokoh 'aku' juga dijanjikan pekerjaan yang cukup mapan di London. Bukan sebagai plongeur yang menguras jiwa dan tenaga. 

Sesampainya di London, B, kawan 'aku' yang menjanjikan pekerjaan berkata bahwa 'aku' baru bisa memulai pekerjaannya bulan depan. Otomatis, tokoh 'aku', yang juga masih miskin dan melarat, memulai kehidupannya untuk mencari rumah singgah setiap malam untuk bermalam. Pekerjaan? Tidak ada pekerjaan tetap yang bisa ia lakukan. Alhasil, kehdiupan tokoh 'aku', sama menyedihkannya saat ia tinggal di Paris.

Ketika Kemiskinan Tak Terhindarkan

Aku lupa tepatnya, yang pasti tokoh 'aku' di sini mengajak kita untuk memahami bahwa kemiskinan yang terjadi bisa saja bukan karena kita tidak bekerja keras. Ketika kemiskinan merupakan bagian dari struktur yang lebih besar, sekeras apapun seseorang bekerja, ia tak akan mudah lepas dari kemiskinan. Layaknya lingkaran setan, mau banting tulang 12-15 jam sehari, mencari-cari sumber penghasilan lain, ataupun upaya lainnya, tak akan menolong. Kemiskinan bisa begitu menghantui.

Ada banyak hal yang baru kupahami melalui kisah Orwell ini. Mulai dari pekerjaan di hotel yang punya banyak sekali tingkatan, hingga konsep rumah singgah yang ada di London. To some extent, aku jadi penasaran apakah konsep rumah singgah ini masih ada sampai sekarang? Kalau aku coba searching singkat sih, sepertinya memang masih ada.

Untuk cerita di balik restoran, aku tidak tahu seberapa parah sebetulnya, atau apakah keadaan yang demikian masih ada sampai sekarang. Akan tetapi, bagian itu membuatku memahami betapa tingkatan kelas pekerja terasa begitu nyata.

Ahh, mungkin itu juga ciri khas dari Orwell. Ia selalu menyisipkan konsepsi kelas dalam karya-karyanya. Animal Farm secara jelas menggambarkan kelas-kelas di peternakan binatang, dan di DOPL, Orwell juga menggambarkan hal yang serupa. 

Orwell dan caranya berkisah

Salah satu strong point dari cara Orwell berkisah adalah saat ia menggambarkan apa yang ia amati di sekitarnya. Orwell mampu menggambarkan dengan begitu detail dan seolah mengajak pembaca untuk benar-benar ikut mengamati. Kisah kehidupan sehari-hari telah ia gambarkan dengan runut. Kisahnya saat bekerja di restoran, mencari rumah singgah di London, atau upayanya saat mencari pekerjaan di Paris terasa begitu nyata.

Oh, iya, meskipun aku membaca versi terjemahannya, aku merasa detail-detail tersebut bisa tersampaikan dengan baik. So, kudos to Djokolelono yang menerjemahkan novel ini dengan apik.

Meskipun novel ini tidaklah semudah aku mencerna Animal Farm, DOPL menjadi kisah unik yang layak dibaca, Sebuah autobiografi yang luwes dan menarik untuk diselami lebih lanjut.

Kesimpulan

Kalau kamu mencari kisah autobiografi yang unik dan tidak kaku, maka DOPL bisa menjadi jawaban.

4 out of 5 stars.

Sincerely,
Ra

Image: pinterest, edited by me


Judul: Goodbye, Paris
Penulis: Anstey Harris
Genre: Romance, Contemporary
Penerbit: Touchstone
Jumlah halaman: 288 halaman
Tahun terbit: 2018

Jojo Moyes meets Eleanor Oliphant in Goodbye, Paris, an utterly charming novel that proves that sometimes you have to break your heart to make it whole.

Grace once had the beginnings of a promising musical career, but she hasn’t been able to play her cello publicly since a traumatic event at music college years ago. Since then, she’s built a quiet life for herself in her small English village, repairing instruments and nurturing her long- distance affair with David, the man who has helped her rebuild her life even as she puts her dreams of a family on hold until his children are old enough for him to leave his loveless marriage.

But when David saves the life of a woman in the Paris Metro, his resulting fame shines a light onto the real state of the relationship(s) in his life. Shattered, Grace hits rock bottom and abandons everything that has been important to her, including her dream of entering and winning the world’s most important violin-making competition. Her closest friends—a charming elderly violinist with a secret love affair of his own, and her store clerk, a gifted but angst-ridden teenage girl—step in to help, but will their friendship be enough to help her pick up the pieces?

Filled with lovable, quirky characters, this poignant novel explores the realities of relationships and heartbreak and shows that when it comes to love, there’s more than one way to find happiness.

Pada sesungguhnya, aku hampir menelantarkan novel ini karena aku tidak membaca blurb dengan baik. Kisah perselingkuhan bukanlah kisah yang ingin aku baca sesungguhnya. Akan tetapi, akhirnya aku memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Yaa, tetap tidak bisa menjadi novel favoritku, sih.

Grace dan kisah cintanya

Grace Atherton, seorang pengrajin alat musik yang tinggal di Inggris. Sehari-hari, ia memperbaiki alat musik, khususnya biola, cello, dan kawannya. Istilahnya, tidak ada alat musik serusak apapun yang tidak dapat ia perbaiki. Awalnya, Grace adalah salah seorang murid berbakat di satu sekolah musik. Akan tetapi, konfliknya dengan Nikolai, tutornya saat itu, membuat Grace hancur dan memutuskan untuk menjauh sepenuhnya dari dunia musik pertunjukan.

Mungkin hidup Grace terlihat biasa-biasa saja. Ia punya pacar yang sangat ganteng dan perhatian. Hanya saja, ketika di awal cerita, tersebutlah kalau sosok David Hewitt, penerjemah yang bermukim di Swiss tapi sering berkunjung ke Paris, sudah berkeluarga. Parahnya lagi, suatu kejadian yang sempat viral di internet membuat hubungan pernikahannya semakin berada di ujung tanduk. Sialnya bagi Grace, ia tidak bisa berlaku apa-apa karena semua kendala ada di David. Bagaimanapun, she only an affair partner for David.

Di sisi lain, ada sosok Nadya yang selalu dekat dengan Grace. Ia seorang remaja ceria yang terkadang membantu Grace menjaga toko. Sayangnya, di balik keceriaan itu, Nadya menyimpan berbagai beban yang bahkan Grace pun tak mengetahuinya. Kalau boleh jujur, kisah dalam Goodbye, Paris ini tidak hanya akan berfokus pada kisah Grace-David, tapi juga Nadya dan melalonkoli kehidupan remajanya.

Grace yang naif dan David yang egois

To be very honest, aku masih enggak mengerti kenapa seseorang memutuskan untuk menjadi selingkuhan. Mengapa begitu rela untuk bergantung pada hubungan yang tidak jelas? Yang belum tahu ujungnya kemana. Sebagai seorang perempuan, otomatis Grace tidak punya power untuk membuat David bersama dengan dirinya. Sedangkan, David bisa melakukan apa saja. Ia punya kontrol penuh atas seluruh keputusan yang ia ambil. 

Dan, pada akhirnya, layaknya seluruh kisah perselingkuhan, Grace menjadi sangat naif. Ia memaklumi seluruh kesalahan David dan berpikir kisah mereka lah yang akan berakhir bahagia. Bukan malah akan hancur sedemikian rupa. Di sisi lain, David adalah tipikal laki-laki seenaknya yang merasa bisa punya segalanya. Aku semakin sebal saat tahu David tidak hanya melakukan affair bersama dengan Grace, tapi juga dengan perempuan lainnya. He is indeed an asshole.

Satu hal yang akan selalu kupegang adalah, aku tidak akan mau, dan mudah-mudahan tidak akan pernah terlibat hubungan seperti itu. I won't fancy anything relationship that related to an affair. Never. Untungnya, dalam kisah ini, ada Nadya dan Mr. Williams yang berhasil membuat Grace sadar--meskipun agak terlambat. Yang penting Grace tidak menjadi senaif itu saja.

Dunia musik dan yang kusukai

Meskipun aku sebal dengan kisah utamanya, harus kuakui kalau Goodbye, Paris membuatku mengetahui dunia musik, lebih khusus lagi tentang biola dan cello. Salah satu hal yang menarik adalah, aku baru tahu keberadaan dari kompetisi pembuatan alat musik yang begitu termasyhur di dunia. Sebagai seseorang yang tidak begitu mengenal dunia musik, info ini menjadi suatu hal yang unik bagiku.

Lalu, salah satu hal yang membuatku masih bisa membaca novel ini sampai habis adalah, orang-orang yang berada di sekeliling Grace, khususnya Mr. Williams. Ia adalah sosok yang sangat sweet dan bisa memberikan kebijaksanaan dari sosok kakek berumur 80 tahunan. Mungkin, tanpa Mr. Williams, Grace akan tetap menjadi pathetic-silly-and-naive woman who still has an affair with a married man who is also an asshole. 

Kesimpulan

Jelas. Novel ini tidak akan menjadi novel favoritku. Berkali-kali aku ingin DNF saja saat membacanya. Bisa dilihat dari lamanya aku membaca novel ini, yakni sekitar 3 minggu! Hanya Tuhan yang tahu mengapa aku bisa menyelesaikannya tanpa membanting hape.

2.5 dari 5 bintang. Pengetahuan soal dunia musik dan karakter Mr. Willliams saja yang menolong novel ini di mataku.

Best,
Ra

Judul: Almond
Genre: Young Adult, Korean Literature
Penulis: Sohn Won-pyung
Penerjemah: Suci Aggunisa Pertiwi
Tebal buku: 232 halaman
Penerbit: Grasindo

Novel remaja Korea, lebih kuat dari film dan menegangkan seperti drama!

"Almond" adalah novel yang memberi harapan kepada orang seperti saya yang percaya bahwa hati dapat mengendalikan kepala. Di akhir musim dingin yang panjang, tibalah musim semi. Di musim semi, saat tanaman tumbuh, emosi pun tumbuh. Jika emosi tumbuh, maka dunia pun ikut tumbuh. Selama membaca tulisan ini, hatiku selalu berdebar-debar. Di musim semi yang akan datang, tulisan ini akan menjadi sebuah petasan indah yang akan meledakkan seluruh emosi.

- Novelis Gong Seonok

***

Perasaan. Menjadi suatu hal lumrah yang pasti ada pada diri seseorang. Akan tetapi, hal tersebut tidak ada dalam diri Yoonjae. Sejak lahir, Yoonjae mengidap Alexitimia. Singkatnya, pengidap penyakit ini memiliki amigdala berukuran kecil yang membuat mereka kesulitan mengolah emosi. Maka dari itu, Yoonjae pun hidup dengan tidak pernah "merasa". Tentunya, keadaannya yang unik ini membuat semua orang memandang aneh dirinya. Dia berbeda dari orang kebanyakan dan menjadi tidak normal di mata mereka.

Yoonjae: Kisah Tiga Babak 

Secara garis besar, Almond terdiri dari tiga babak. Pertama, adalah kisah Yoonjae sedari kecil. Bagaimana ibunya yang seorang single mother mengasuh dan merawat Yoonjae. Menyadari bahwa Yoonjae bukanlah anak biasa, ibu Yoonjae pun menerapkan cara mendidik khusus Yoonjae. Bukan berarti itu hal yang mudah. Tak jarang ibu Yoonjae tak bisa menjawab pertanyaan Yoonjae yang cukup mendasar. Ataupun saat Yoonjae terlibat masalah, ibu Yoonjae tahu bahwa anaknya tak akan bisa merespons layaknya anak-anak di sekitarnya.

Selain itu, di babak pertama, Yoonjae juga mengisahkan tentang neneknya yang juga ikut merawatnya. Nenek dan ibunya memang memiliki sifat dan pemikiran yang jauh berbeda. Akan tetapi, pada akhirnya mereka tetap mau menerima Yoonjae dan terus mengajari Yoonjae untuk bisa adapt dengan kehidupan.

Bagian kedua dari Almond mengisahkan bagaimana hubungan antara Yoonjae dan Gon. Keduanya tentu bukanlah sahabat bagai kepompong. Bahkan, mulanya mereka adalah musuh--kalau itu bisa disebut sebagai istilah yang tepat. Melalui Gon, Yoonjae mulai memahami bahwa manusia seperti dirinya juga bisa menjalin hubungan pertemanan.

Bagian terakhir, mengenalkan Yoonjae dengan Dora. Aku pikir, kisah Yoonjae tak akan ada sisi hubungan romantisnya. Ternyata aku salah. Ternyata penulis memberikan flavor ini pada kehidupan Yoonjae. Satu hal yang cukup unexpected buatku. Well, setidaknya, dari bagian ini kita memahami bagaimana Yoonjae bisa merasakan cinta layaknya yang lainnya.

Perasaan dan Norma di Masyarakat

Tentunya, membaca buku ini cukup sulit. Dalam artian, kisah Yoonjae bisa memunculkan rasa iba. Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa merasakan emosi? Bagaimana mereka bisa tidak pernah merasa takut, sedih, bahagia? Apakah tidak terlalu hampa? Akan tetapi, akan lebih tepat kalau disebut mereka tidak tahu rasanya.

Menurutku, penulis berhasil mengangkat tema yang tidak biasa. Setidaknya, aku belum pernah membaca cerita dengan tema serupa. Apalagi mengambil sisi penyakit satu ini. Yang aku cukup surprised, aku pikir judul Almond di sini tidak akan merujuk pada satu hal yang nyata--ibu Yoonjae percaya bahwa memakan almond setiap hari bisa membantu pertumbuhan amigdala Yoonjae. 

Aku cukup menikmati kisah Yoonjae di sini. Kebingungan Yoonjae cukup tergambarkan saat harus menghadapi situasi yang belum pernah ia tahu kemungkinan kejadiannya. Penggunaan sudut pandang orang pertama juga membuat kita bisa lebih bersimpati pada Yoonjae. Setidaknya, itu kesan yang kutangkap di sini.

Lalu, mau tidak mau, novel ini juga akan mengajak kita untuk mempertanyakan apa sih yang sebetulnya disebut dengan normal? Normal dan biasa menjadi kata yang sulit untuk didefinisikan dalam kamus Yoonjae. Akan tetapi, hal tersebut menjadi kontemplasi tersendiri buatku. Yang disebut normal dan biasa adalah apa yang disetujui oleh masyarakat dari dahulu kala. Apa yang menyebabkan itu normal dan biasa? Ya, karena hal tersebut diakui "normal" dan "biasa" oleh masyarakat.

Dengan demikian, standar nilai akan dipegang oleh konsensus yang berada di masyarakat. Ketika ada yang tidak sesuai, ya berarti mereka yang "menyimpang: Melalui novel ini, penulis mengajak kita untuk melihat dari perspektif yang terpinggirkan dari apa yang ada di masyarakat. Kisah Yoonjae pastinya tidak selalu kita temui di masyarakat. Akan tetapi, kemungkinan bahwa orang-orang seperti Yoonjae hadir di masyarakat, sangatlah mungkin.

Kesimpulan

Tak ku sangka aku bisa membuat review yang cukup panjang untuk bacaan kali ini. Apakah ini semangat tahun baru? Mungkin saja demikian. Almond sangatlah tepat bagi kalian yang ingin memahami kisah pencarian identitas diri. Terlihat cukup grande, ya, tema dari novel ini. Tapi memang itulah tujuan yang ingin dicapai dari penulisnya.

4 out of 5 stars.

Best,
Ra