Showing posts with label Read a Pile Project 2017. Show all posts
Showing posts with label Read a Pile Project 2017. Show all posts

The Rose and the Dagger
Beberapa rahasia lebih aman berada di belakang kunci.

oleh Renee Ahdieh


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Rose and the Dagger
Seri: The Wrath and the Dawn #2
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult, Romance
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gaby Kusuma
Penata letak dan perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP (Imprint dari KPG)
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: viii+486 halaman
ISBN: 978-602-242-418-03

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.
Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Menjadi seorang pemimpin dalam tatanan struktur monarki bukanlah hal yang mudah. Meskipun takhta dalam sebuah kerajaan berdasarkan keturunan, nyatanya tidak menjamin setiap orang dapat mempercayai kemampuan dan kapabilitas dari pemimpin tersebut. Bayang-bayang pemimpin sebelumnya akan terus membayangi. Menjadi pemimpin Khorasan memang tidak mudah bagi Khalid. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia mendapat kutukan yang tidak bisa ia bagikan pada orang lain, membuat Khalid semakin tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

"Percayalah apa yang kau pilih untuk percayai. Tapi tetap saja, buktinya berdiri di hadapanmu." Shahrzad, hlm. 52
Sepenggal Cerita
Semenjak serangan yang dilancarkan di Rey, Shahrzad tinggal di padang gurun bersama dengan Tariq dan suku Badawi. Di sana pula, Ayah Shahrzad--Jahandar, dirawat. Adik Shahrzad, Irsa, juga tinggal di tempat itu. Di sana pulalah, Shahrzad mulai mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Di lain sisi, Khalid menyadari bahwa peperangan di Khorasan tidak dapat terhindarkan. Perselisihan dengan pamannya--Sultan Parthia, semakin memperumit keadaan. Belum lagi, kutukan yang masih menjadi beban Khalid masih belum dapat disembuhkan.

"Tapi jika kau bertanya kepadaku, cara terbaik untuk terbang adalah dengan memotong tali yang mengikatmu ke tanah..." Shiva, hlm. 68.
"Ketika aku berada di padang gurun, aku bangun setiap hari dan melanjutkan hidupku, tapi itu bukan hidup; aku hanya ada. Aku ingin hidup. Kaulah tempatku hidup." Shahrzad, hlm. 202
Dalam buku kedua ini, cerita mulai fokus pada kutukan Khalid dan juga kemungkinan perang antara Khorasan dan juga Parthia. Kisah romansa dari para tokoh pun mulai terlihat. Antara Khalid-Shahrzad-Tariq, Irsa dan Rahim, hingga Despina dan Jalal. Hemm. Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini pada akhirnya memang novel roman yang terbalut fantasi.

Resensi The Rose and the Dagger oleh Puji P. Rahayu
Sekelumit Pendapat
Entahlah. Setelah aku menyelesaikan membaca novel ini--yang membutuhkan waktu hampir dua minggu lebih, aku merasa kosong. Dalam artian, tidak banyak yang dapat kuingat saat membaca buku bersampul biru ini. Entah karena aku sedang tidak mood membaca atau bagaimana. Yang pasti, aku merasa tidak terlalu sreg saat membacanya.

Oh, bukan berarti aku tak menyukai ceritanya, ya. I means, aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Sejak buku satu pun, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya. Yaa, itu sebenarnya karena banyak banget celah yang ada di buku satu. Jadinya, aku berharap kalau di buku dua akan ada penjelasannya. Nyatanya... aku kurang puas dengan penjelasan di buku dua :( Menurutku banyak missing link dalam ceritanya. Bahkan, aku merasa kalau penyelesaian konfliknya... yaaa... gitu-gitu aja. Kurang seru. *digampar. 

"Ketika kita dihadapkan kepada ketakutan tergelap, tidak bertindak adalah pilihan bagi mereka yang lemah atau putus asa. Selalu ada sesuatu yang dapat dikatakan atau dilakukan. Meskipun kata-kata--"
"Hanyalah goresan di atas kertas." Musa dan Khalid

Kesimpulan
Terlepas dari ketidak-sreg-anku terhadap buku ini, aku masih merasa kalau duologi The Wrath and the Dawn masih worth to read. Disclaimer aja, sih. Jangan terlalu berharap fantasinya akan meluber-luber, ya. Aku masih merasa duologi ini memang banyak romans-nya. Hoho.

"Jadilah awal dan akhir, Shahrzad al-Khayzuran. Jadilah lebih kuat dari segala sesuatu di sekitarmu." Rajput, hlm. 393
3 bintang untuk kisah 1001 malam yang menawan ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu
An Ember in the Ashes
People could change!

oleh Sabaa Tahir

4 dari 5 bintang
Sumber gambar: Goodreads
Judul: An Amber in the Ashes
Penulis: Sabaa Tahir
Penerjemah: Yudith Listiandri
Pemeriksa Bahasa: Mery Riansyah
Proofreader: Titish A.K.
Design Cover: Aufa Aqil Ghani
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 520 halaman
ISBN: 978-602-74322-8-4
Pinjam di Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia.
Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.
Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias. 
Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.  
Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka. 

***

Aku selalu percaya bahwa lingkungan akan selalu mempengaruhi keadaan diri seseorang. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk penerapan dari komunitarianisme. Akan tetapi, bukan berarti seseorang tidak memiliki keyakinan dari dirinya sendiri. Kalau aku ingat lagi, ada satu kalimat yang diucapkan oleh--oke, aku lupa siapa--entah St. Augustine atau Thomas Hobbes--man is evil. Aku sih pada dasarnya tidak setuju juga dengan pernyataan ini. Bagiku, karakter dari seseorang akan terbentuk kembali oleh lingkungannya--dan juga pandangan hidupnya. Sehingga, seseorang seperti Elias yang ditempa sedemikian rupa dalam lingkungan yang begitu keras, dapat menjadi resisten terhadap 'apa yang seharusnya ia lakukan'.

Cerita ini bermula dari penyerbuan rumah Laia dan keluarganya. Bagi Laia, apapun yang terjadi, ia harus bisa menyelamatkan kakaknya--Darin--yang ditangkap oleh Mask--prajurit andalan Imperium. Untuk itu, Laia mencoba untuk mencari kawanan Resistence yang sedari dulu menginginkan pemberontakan atas Imperium. Entah dengan keajaiba apa, akhirnya Laia bertemu dengan kelompok Resistence. Satu-satunya cara yang harus dilakukan oleh Laia untuk menyelematkan Darin adalah, dengan menjadi mata-mata Resistence. Maka dari itu, Laia pasrah saat ia harus menjadi budak bagi Komandan Blackliff yang kejam dan tidak berperasaan--Keris Veturia.

Di lain sisi, ada Elias Veturia yang begitu dikagumi di seluruh Blackliff. Ia memiliki kecerdikan serta ketangkasan terbaik di antara murid-murid Blackliff. Statusnya sebagai anak komandan Blackliff, membuat Elias harus sebisa mungkin bersikap layaknya murid Blackliff. Meskipun, pada nyatanya, Elias sama sekali tidak ingin menjadi seperti 'mereka'. Dengan demikian, Elias merencanakan untuk kabur dari Blackliff di hari kelulusannya. Sayangnya, takdir tidak memberikan kehidupan yang mudah bagi Elias. Aughur telah menggariskan takdir Elias dan ketiga murid terbaik Blackliff lainnya.

Sumber gambar: google, disunting oleh saya.
Berawal dari sebuah rekomendasi dari teman, aku pun tertarik untuk membaca novel ini. Ditambah faktor buku ini nyempil di perpustakaan, aku pun langsung mengambil buku ini. Ekspektasi? Aku memang punya ekspektasi tersendiri untuk novel ini. Meskipun, aku agak sedih juga karena merasakan hal-hal yang agak membosankan di awal. Entah mengapa. Akan tetapi, dua sudut pandang yang digunakan, bergantian antara Elias dan Laia, membuatku masih betah untuk membacanya.

Sesungguhnya, aku kasihan sekali dengan Laia. Hidupnya benar-benar menderita sekali. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang budak. Apalagi, ditambah dengan berbagai macam siksaan yang diterima, membuatku trenyuh, in someway. Kehidupan Elias pun terkadang juga membuatku tertarik. Intinya, aku masih suka dengan gaya bercerita dari Sabaa Tahir.  Bahkan, aku jadi penasaran banget A Torch against the Night. Eugh, sungguh pun aku jadi penasaran. Aku penasaran dengan bagaimana Keenan nantinya. Hoho.

Pada intinya, An Ember in the Ashes ini mempunyai sisi yang aku sukai. Regarding the weakness of it, aku masih mau mengikuti An Ember in the Ashes. 

Sincerely,

Puji P. Rahayu
Girls in the Dark
Apakah kamu pernah ingin membunuh seseorang?

oleh Akiyoshi Rikako


4 dari  5  bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Genre : Misteri, Young Adult
Bahasa: Indonesia
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree, Arumdyah Tyasayu (‘Hukuman Telak’)
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun terbit : Juli 2016, cetakan kedelepan
Tebal buku : 289 halaman
ISBN : 978-602-7742-31-4
Beli di TM. Bookstore, Depok Town Square, Depok.

Edisi Repackaged (ISBN: 9786027742314)
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?
Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....
Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
BONUS CERPEN: Hukuman Telak

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagiku, membaca novel bergenre horor ataupun thriller merupakan suatu hal yang menantang. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya aku adalah orang yang penakut. Aku masih ingat pernah membaca novel Bangsal 13 dan berakhir tidak bisa tidur. Sungguh. Ada trauma tersendiri saat aku membaca novel bergenre sejenis.

Akan tetapi, suatu ketika, saat aku membaca novel thriller karya Lexie Xu, aku menjadi biasa saja. Setidaknya, aku masih mau membaca novel bergenre ini. Meskipun demikian, aku akan menolak mentah-mentah apabila aku harus menonton filmnya. Aku tidak bisa membayangkan semengerikan apa bentuk visualisasi dari cerita-cerita bergenre demikian.

"Kalau kau benar-benar ingin membalas budi, jangan kepadaku. Tapi lakukan pada orang-orang yang tidak beruntung."

Girls in the Dark sudah sering muncul di timeline media sosialku. Atau di blogroll-ku. Tanpa sadar, aku jadi penasaran dengan cerita ditawarkan. Apalagi, dari banyak resensi yang aku baca, Akiyoshi Rikako menawarkan cerita yang tidak biasa. Banyak twist yang disajikan. Maka dari itu, aku jadi tertarik untuk membaca seri garapan penulis lulusan Waseda University ini.

Cerita dimulai dengan kenyataan bahwa Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi, meninggal dunia. Berbagai spekulasi muncul akan penyebab kematian Itsumi. Banyak yang menganggap bahwa Itsumi mati bunuh diri, ada pula yang menganggap bahwa Itsumi mati dibunuh oleh anggota Klub Sastra lainnya.

"Nitani-san... kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?"

Klub Sastra SMA Putri Santa Maria dapat dibilang merupakan klub paling eksklusif. Seluruh anggota yang tergabung di klub tersebut harus diundang secara pribadi oleh Itsumi. Lalu, yang berhak masuk pun adalah orang-orang yang memiliki keunikan masing-masing. Ada Nitani Mirei, si pintar penerima beasiswa; Kominami Akane, anak pemilik restoran Jepang yang gemar memasak ala barat; Diana Detcheva, seorang murid internasional asal Bulgaria; Koga Sonoko, murid IPA yang bercita-cita menjadi dokter; dan Takaoka Shiyo, penulis novel remaja yang sedang naik daun. Tak lupa pula ada Sumikawa Sayuri yang berkedudukan menjadi Wakil Ketua. Sayuri dan Itsumi sudah bersahabat sejak lama. Tidak heran apabila keduanya mengelola Klub Sastra yang sudah lama ditinggalkan.

Film Girls in the Darks
Setelah kematian Itsumi, anggota Klub Sastra yang tersisa berniat untuk mengadakan pertemuan rutin. Di pertemuan tersebut diadakan pula tradisi Yami Nabe, yakni memasukkan bahan-bahan yang dibawa ke dalam satu kuali besar. Kemudian, dimakan bersama-sama. Di sela-sela Yami Nabe, akan ada pembacaan cerita yang dibuat oleh masing-masing anggota. Dan, tema yang diangkat pada pertemuan ini adalah mengenai kemaitan Shiraisi Itsumi. Permasalahannya, ternyata cerita yang dibawakan oleh masing-masing anggota bertentangan. Siapakah yang benar? Siapa pula yang berbohong? Pada akhirnya, semua anggota saling menuduh satu sama lain sebagi pembunuh Shiraishi Itsumi, gadis cantik idola yang meninggal dunia.

Selesainya aku membaca Girls in the Dark ini, aku merasa terkejut  sedemikian rupa. Menurutku, novel ini merupakan salah satu jenis novel sialan yang berhasil memutarbalikkan fakta. Apa yang ada di awal dan dipercayai, langsung hancur di kesempatan berikutnya. Aku benar-benar salut dengan Akiyoshi yang berhasil menciptakan cerita mengejutkan seperti ini. Apalagi, cara Akiyoshi memaparkan setiap kejadian membuatku benar-benar terkecoh. Aku sampai tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bravo!

Bagiku, novel ini ‘keseraman’nya tidak terlalu terasa. Mungkin karena tidak sebegitu gelapnya misteri yang ada. Apalagi, kebanyakan berfokus pada kematian Itsumi dan bagaimana cara dia meninggal. Bagiku, Gantung karya Nadia Khan lebih membangkitkan adrenalin. Ohh, baiklah. Mungkin ini hanyalah masalah selera. Yang pasti, saat aku membaca Girls in the Dark, aku tidak merasa semerinding itu.

Kemudian, bagiku tampilan dari Girls in the Dark terbitan Penerbit Haru ini enak dibaca. Selain tulisannya yang cukup manusiawi, ilustrasi yang ada di dalam bukuny pun menarik. Ditambah pula dengan sampul yang cantik dan koleksi-able. Aku jadi penasaran dengan novel selanjutnya, yakni The Dead Returns. But seriously, ini mereka nyambung nggak, sih? Atau sebenernya nggak nyambung? Hem, entahlah. Aku juga belum punya seri lanjutannya.

Pada intinya, novel ini bisa dijadikan alternatif apabila kamu mencoba untuk mendalami genre horor atau thriller. Twist yang tidak disangka dan gaya kepenulisan yang mudah dipahami, bisa menjadi salah satu daya tarik dari novel ini.


4 bintang untuk twist yang cukup sialan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu
The Lunar Chronicles #4 Winter
She's so beautiful and admired by her citizen, but, her stepmother hate her because of her beuaty.

by Marissa Meyer

4 out of  5  stars

Image Source: Goodreads
Title: Winter
Series: The Lunar Chronicles
Author: Marissa Meyer
Pages count: 635 pages
Language: English
Genre: Young Adult, Fantasy, Romance
Publisher: Faiwel and Friends
Year of publish: 2015
ISBN: 978-1-250-06875-0

Princess Winter is admired by the Lunar people for her grace and kindness, and despite the scars that mark her face, her beauty is said to be even more breathtaking than that of her stepmother, Queen Levana.
Winter despises her stepmother, and knows Levana won't approve of her feelings for her childhood friend--the handsome palace guard, Jacin. But Winter isn't as weak as Levana believes her to be and she's been undermining her stepmother's wishes for years. Together with the cyborg mechanic, Cinder, and her allies, Winter might even have the power to launch a revolution and win a war that's been raging for far too long.
Can Cinder, Scarlet, Cress, and Winter defeat Levana and find their happily ever afters? Fans will not want to miss this thrilling conclusion to Marissa Meyer's national bestselling Lunar Chronicles series.

More Info:

It's been a while since I was addicted with some series. This series--The Lunar Chronicles--is a definition of an addictive series for me. It was just like marijuana. I just couldn't put it down when I red it. Of course, this is too much. LOL.

Going back to the third book, Cinder and the Rampion Crew had been success to kidnap Kai from the wedding ceremony. Ugh, I didn't know what would happen if Kai and Levana was literally married. It would be a big disaster for the earth. After the explanation of Cinder's Plan to claim her throne, Kai agreed to help. Well, actually, all of them didn't have any choice. That's why, the plan had to be as smooth as they thought. Although, the Rampion Crew was not completed. Sybil Mira had been kidnap Scarlet and it made Wolf unstable. Then, Thorne became blind because of a hard knock in his head. With this condition, Cinder tried as much as possible to be confident and could defeat Levana. 

On the other hand, there was a young princess that lived in Artamesia. She was very beautiful and everyone admit it. Of course because of jelousy, Levana decided to destroy the beauty. There was some scar in the princess' face. Her name was Winter. She was a kind princess. She was very lovely and as a Lunar, Winter tried to not use her ability. Because of that, sometime she became mad. Fortunately, there was Jacin, Winter's guard and childhood friend. Then, they had feeling for each other. Sadly, Levana didn't accept this. Even, she accepted what Thaumaturge Aimery proposal to marry Winter. Ugh, what a bad mother she is!

Image source: pinterest, edited by me
I have to admit that Winter is more thrilling then the other three books. Containing 635 pages, the journey in this fourth book was very long and quite unexpected. Although I could feel the struggle of Cinder to gain trust from the Lunar citizen, I felt that Cinder's way was too much easy. Ahh, I have to admit too that I could feel some missing link in the story. Even though I didn't know what is that. As a retelling Snow White Story, I should appreciate what Meyer's do. It's really amazing to know how Meyer execute her story. It was really amazing. I didn't regret it.

Then, about the cover, I really love it. I have to emphasize it. I really like the design. It was simple but cool. I wonder who is the designer. Although this book is quite thick, I could read it only in two days. LOL. Maybe I could do that because I was very curious with the story! 

Ehm, I have to tell you also, that this book is not only about action or thriller event or what. But, this book is a romance too. You could find the relationship between Winter-Jacin, Scarlet-Wolf, Cress-Thorne, and of course Cinder-Kai. I was a little bit annoyed when Kai finally marry Levana. Ugh, I hate that ceremony. It was disgusting... I wonder, how much old Levana is? Sigh.

After all, this book is still interesting and worth it to read.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

The Lunar Chronicles #3 Cress
Hey, Rapunzel! Could you down your hair for now? I need it!

by Marissa Meyer

3.5 of stars

Image source: Goodreads.
Title: Cress
Series: The Lunar Chronicles
Author: Marissa Meyer
Publisher: Faiwel and Friends Book
Year of publish: 2014
Number of pages: 468
ISBN: 978-1-250-05318-3


In this third book in Marissa Meyer's bestselling Lunar Chronicles series, Cinder and Captain Thorne are fugitives on the run, now with Scarlet and Wolf in tow. Together, they're plotting to overthrow Queen Levana and prevent her army from invading Earth.

Their best hope lies with Cress, a girl trapped on a satellite since childhood who's only ever had her netscreens as company. All that screen time has made Cress an excellent hacker. Unfortunately, she's being forced to work for Queen Levana, and she's just received orders to track down Cinder and her handsome accomplice.

When a daring rescue of Cress goes awry, the group is splintered. Cress finally has her freedom, but it comes at a higher price than she'd ever expected. Meanwhile, Queen Levana will let nothing prevent her marriage to Emperor Kai, especially the cyborg mechanic. Cress, Scarlet, and Cinder may not have signed up to save the world, but they may be the only hope the world has.


More info:

Cress is the third book of The Lunar Chronicles written by Marissa Meyer. If Cinder is a retelling of Cinderella and Scarlet is The Red Riding Hood, Cress itself is a retelling of Rapunzel. Yeah, if you know the story about Rapunzel, you would remember a girl with a long-blonde-hair. She was living in some tower that have no neither windows nor stairs. She lived alone and no one know her existence. Only her 'aunt' who always came to her. Who is her parents? She didn't know too.

Well, in my opinion, there is no much differentiation between Rapunzel and Cress. You just have to change the tower into satellite. Then, the ability of painting changed into hacking. Wow! No one would expect that Rapunzel in the third era is a hacker and abandoned in a space satellite. Her name is Cress. Since she is child, she had been separated from her parents because she is a shell. For Lunars, shell is very dangerous. Moreover, the parents of Queen Levana--the Lunars Queen--has been killed by a shell. But, because of her ability, Cress could gain some trust from Thaumaturge Mira. After that, Thaumaturge Mira took Cress into a space satellite and give her many missions to keep Lunars sovereignty.

Starting from some communication that has been made between Cress and Cinder, finally Cinder took a decision to safe Cress. Although there are some reluctance from the Rampion Crew, but in the end, they accept what Cinder's want. After they prepared the plan, Cinder told Cress and made sure that she had to be ready. The thing that was never expected is the appearing of Sybil Mira in Cress' satellite. So, what would happen, then? Is Cress would be safe? Please read this book to find out.

Image Source: Claire Keane, edited by me
For me, this book is a little bit slow if I compare it to the other two. Why I said like that? Because, in this book there were three scenes that would be appear, first, the Rampion crew condition; second, the journey of Thorne and Cress in Dessert; and three, the preparation of Kai Wedding with Levana--well, poor Kai! Okay, actually I would not complain about the way Meyer show the character's condition, but, I think that there are some parts that really slow, very slow indeed. Sigh. I try to enjoy it as much as possible, but I still could feel it.

But, although I said that this book has a slow plot, I think I should appreciate the way Meyer made the plot. It's very unexpected. Well, I have to admit that the last part of this book is not in my prediction. Great for that! Thanks for the plot 'twist'! Ehm, okay. It's not necessarily twist, but somehow I couldn't predict it. 

Then, from the story itself, I really like it. How Cress, Thorne, Scarlet, Wolf, Cinder, and, even, Kai, interact. In someway, I find their oh-so-sweet moment. It made me giggle when I read it. One thing that you should know is, I red this book in the middle of my mid test. Why? Because I am really curious with the story. I am really eager to kill Levana because of her greediness. She is a bad queen after all. I hate her so much. I just couldn't keep my self to calm when Kai proposed her. Eugh! I hate this moment. But, I think I know what Kai felt. He has so many burden to make his citizen's happy and prosper. Ehm, but again, I have to agree with Cinder, marrying Levana is not the best solution at all. She would kill Kai after she gain the status of east commonwealth's empress. I am really agree. 

Well, then, even there are so many hatred appeared because of Levana, I have to be happy because of Cress and Thorne relationship is really cute.  Their journey in the dessert is quite exhausting but make them close to each other. Yeay!

By the way, I still love the cover. It's simple but collect-able. Lol. Okay then, if you want to read some Young Adult novel with unordinary retelling story, The Lunar Chronicles could be best for you. Don't forget to read the first and the second book. I am ensure you that you will not regret it.

Bye in another review.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu

The Lunar Chronicles #2 Scarlet
Dapatkah kau percaya sepenuhnya terhadap orang yang baru kau kenal?

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: Scarlet
Seri: The Lunar Chronicles
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Design cover: @.hanheebin
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Februari 2016
Tebal buku: 444 halaman
ISBN: 978-602-71505-6-0
Harga: Rp81.500,- di Toko Buku Gunung Agung, Margo City, Depok.


Nenek Scarlet Benoit menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencari sang nenek dan menganggap Michelle Benoit melarikan diri atau bunuh diri. 
Marah dengan perlakuan kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang menghilangnya sang nenek. 
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan neneknya sampai sang nenek harus menghilang?
Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan diseluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernah membaca kisah Si Gadis Berkerudung Merah? Iya, gadis yang menjelahi hutan sendirian untuk bertemu neneknya. Yang pada akhirnya bertemu dengan serigala di tengah jalan. Yap, Scarlet, buku kedua dari seri The Lunar Chronicles ini merupakan sebuah retelling dari dongeng klasik tersebut. Masih ada si gadis berkerudung merah, nenek si gadis, hingga sang serigala. Akan tetapi, dalam hal ini konteksnya jauh berbeda.

Entahlah. Aku lupa sudah menyebutkannya atau belum. Yang pasti, awalnya aku sama sekali tidak memiliki pemikiran akan menikmati seri ini. Maksudku, aku bukanlah pembaca yang mudah tertarik dengan hype sebuah buku. Bisa dilihat kan kalau aku membaca buku ini di tahun 2017 bukannya di tahun 2016. Hal ini cukup menandakan bahwa aku tidak terlalu mengikuti seri ini.

Well, meskipun demikian, menurutku membaca seri The Lunar Chronicles di tahun 2017 bukanlah suatu hal yang salah. Mengapa? Karena, nyatanya aku malah jadi menikmati cerita ini sedemikian rupa. Yep. Aku malah ketagihan dengan kisah Cinder-Kai-Scarlet-Wolf ini. Ups, curhatnya kepanjangan. 

Jadi, seperti yang aku bilang di atas, Scarlet merupakan buku kedua dari seri The Lunar Chronicles. Merupakan sebuah bentuk retelling dari cerita Si Gadis Berkerudung Merah. Hoho. Alkisah, Scarlet Benoit yang tinggal di Rieux, Perancis, bersedih hati karena neneknya, Michelle Benoit menghilang. Scarlet begitu yakin neneknya diculik karena chip identitas milik neneknya dikeluarkan paksa dan ditinggalkan di kamarnya. Bagaimanapun caranya, Scarlet pun berusaha untuk mencari neneknya ke Paris. Dibantu oleh seorang petarung jalanan bernama Wolf, Scarlet pun memahami bahwa penculikan atas neneknya bukan penculikan biasa. Ada hubungan antara orang-orang Bumi dan juga Bulan. Kemudian, meskipun Wolf selalu menemani Scarlet kemana saja, Scarlet merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Wolf. Sesuatu yang nyatanya bisa membuat siapapun tidak akan pernah lagi mempercayai Wolf.

Di lain sisi, Cinder bersama Thorne berusaha untuk bisa kabur dari penjara di New Beijing. Berbekal tangan baru Cinder yang diberi oleh Dokter Erland sebelum kepergiannya ke Afrika. Setelah melalui kejar-kejaran seru dan hampir tertangkap kembali, Cinder dan Thorne berhasil kabur menggunakan pesawat curian milik Thorne, pesawat perang asal Amerika Serikat, Rampion. Untuk sementara, Cinder dan Thorne aman dalam pesawat. Akan tetapi, beban Cinder yang berat--karena Kai akhirnya menerima aliansi pernikahan dari Levana--membuat Cinder mau tak mau harus berusaha sedemikian rupa untuk bisa mengatur strategi untuk dapat mengalahkan Levana. Bagaimanapun, Cinder lah pewaris sah takhta di Bulan karena dia adalah Selene, putri Bulan yang hilang. 

Sumber gambar: google, disunting oleh saya

***

Bagiku, membaca The Lunar Chronicles ini adalah candu. Mengapa aku mengatakan demikian? Karena pada akhirnya aku malah lebih tertarik membacanya ketimbang belajar UTS. Sungguh kebiasaan yang kebablasan. Hoho. Tapi aku nggak menyesal sih saat selesai membacanya. Menurutku, Marissa Meyer telah berhasil dengan baik membuat retelling yang tidak biasa. Ia benar-benar berhasil menciptakan dunia yang begitu kompleks. Adanya orang-orang Bumi dan Bulan membuatku jadi penasaran, bagaimana bisa semua hal itu mungkin terjadi.

Dari segi cerita, Scarlet sendiri memang lebih menantang daripada Cinder. Aroma action dari buku ini lebih kental terasa. Apalagi, ternyata Wolf memang bukan sekadar petarung jalanan. Dia adalah seorang Alpha dalam kawanannya. Tidak heran bila aura Wolf begitu mengintimidasi. Sedangkan, untuk Cinder sendiri, aku suka caranya bekerja sama dengan Thorne. At least, they get along well.

Mungkin, saat membaca Scarlet, kita akan dibuat bingung. Memang, apa hubungan antara Cinder dan Scarlet? Di awal-awal mungkin tidak terlalu terlihat. Akan tetapi, setelah masuk halaman 130-an, jawaban dari benang merah antara Cinder dan Scarlet akan terlihat. Yaa, aku tidak menyangka saja pada akhirnya seri ini begitu complicated. Meyer berhasil mencampur-adukkan dongeng serta kisah yang ia buat sendiri. Tentunya, kisah Cinder ini membuatku terpacu untuk membaca buku lanjutannya secepatnya--which is, sudah kulakukan. Apalagi, selain action yang terlihat, terdapat romansa yang khas dalams setiap kisah. Seperti Cinder-Kai dan Scarlet-Wolf. Untuk saat ini, yang paling sweet adalah Scarlet-Wolf. Akan tetapi, Pangeran Kai tetap menjadi idolaku. Hehe.

Pada intinya, kalau kalian mencari bacaan ringan tapi juga menantang, maka seri The Lunar Chronicles bisa menjadi pilihan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu
The Lunar Chronicles #1 Cinder
Mungkin, banyak rahasia yang tersimpan dalam dirinya. Akan tetapi, dia  tidak pernah membohongimu.

by Marissa Meyer

4 dari 5 bintang

Sumber: Goodreads
Judul: Cinder
Seri: The Lunar Chronicles #1
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016, cetakan pertama
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 978-602-71505-4-6
Buntelan dari Afifah Tamher dan Mandewi


Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. 

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin membaca seri Lunar Chronicles ini. Selain karena unsur retelling yang disuguhkan, saya tertarik dengan kisah perseteruan antara orang-orang bumi dan bulan. Kalau boleh jujur, seri ini membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Bahkan, saya rela untuk tidak tidur untuk menghabiskan keseluruhan seri.

Linh Cinder adalah cyborg yang terkenal sebagai mekanik ternama di New Beijing. Bersama dengan Iko, sebuah android, Cinder membuka sebuah kios di pasar. Jati dirinya yang memang bukan manusia sepenuhnya, terkadang membuat banyak orang yang memandang jijik pada Cinder. Begitu pula dengan ibu tirinya, Linh Andri, dan putrinya, Pearl. Untungnya, adik Pearl, Peony, masih mau untuk berteman dengan Cinder. Suatu ketika, pangeran mahkota Persemakmuran Timur, Kai, mengunjungi kios Cinder untuk memperbaik android miliknya, Nainsi. Dengan kemampuan cyborg-nya, tidak heran kalau Cinder bisa mengenali Kai dalam samaran. Sejak saat itu, entah mengapa, Kai dan Cinder menjadi sering bertemu, Mulai dari di kios Cinder, laboratorium kerajaan, hingga Kai yang memang mengundang Cinder untuk bertemu. Sampai terakhir, Kai bermaksud mengundang Cinder dalam Festival Pesta Dansa kerajaan.

Di lain sisi, wabah letumosis sedang menyerang dunia. Wabah ini sangatlah berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Kondisi Persemakmuran Timur semakin merosot karena Kaisar Rikan, akhirnya meninggal dunia karena penyakit ini. Otomatis, Kai harus siap menggantikan ayahnya dan menghadapi Ratu Levana--Ratu Bulan yang begitu licik dan tidak memiliki perasaan. Levana berjanji untuk memberikan obat penawar letumosis apabila Kai mau melakukan aliansi perdamaian yang ditawarkan. Aliansi apa yang ditawarkan oleh Levana? Bagaimana Kai menghadapinya? Lalu, apa hubungan semua ini dengan kehidupan Cinder? Buku pertama dari seri The Lunar Chronicles ini akan menjawabnya.

***

The Lunar Chronicles merupakan sebuah seri fiksi-ilmiah yang ditulis oleh Marissa Meyer. Mengambil latar dunia modern, yakni pada Third Era, zaman setelah berakhirnya Peran Dunia IV. Di sini, Meyer mencoba untuk menggambarkan bentuk modern dari dunia. Mulai dari tata pemerintahan dunia yang lebih sederhana, hanya ada enam negara saja, hingga teknologi-teknologi yang berkembang, seperti adanya hover dan portscreen. Meyer berhasil menggambarkan semua itu dengan detail. Kemudian, hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah, retelling dongeng klasik yang tidak biasa. Jujur, saya begitu menyukainya.

Awalnya, saya tidak sebegitu berkekspektasi dengan novel ini. Saya cuma mengharapkan suatu bacaan ringan. Nyatanya, semua itu salah. Saya sangat ketagihan dengan novel ini dan berdoa semoga novel ini tidak cepat tamat, *which is, itu sangat tidak mungkin. Meyer berhasil memorak-porandakan saya dengan cerita yang ia sajikan. Pada akhirnya, saya penasaran bagaimana cara Kai menghadapi Levana, hingga identitas sebenarnya dari Cinder. Saya sampai geleng-geleng kepala saat mennyadari bahwa imajinasi dari Marissa Meyer begitu apik.

Mungkin, ada beberapa hal yang masih belum saya mengerti. Entah karena saya yang terlalu excited sampai tidak memperhatikan detail, saya merasa ada yang salah. Sebenarnya, kekuatan manipulatif yang dimiliki oleh orang-orang Bulan itu berasal dari mana? Bukankah awalnya mereka juga orang Bumi? Saya masih belum tahu jawabannya sampai sekarang.

Pokoknya, bagi siapapun yang menginginkan suatu karya retelling yang tidak biasa, The Lunar Chronicles adalah pilihan yang cerdas. Saya pastikan kalian tidak akan kecewa.

4 bintang untuk Pangeran Kai--sepertinya dia akan menjadi favorit saya sampai akhir seri.

Sincerely,
Puji P. Rahayu
Cemara's Family#1
Somehow, tears doesn't mean sad. It could be grateful.


by Arswendo Atmowiloto

5 of 5 stars

Source: goodreads
Author: Arswendo Atmowiloto
Translator: Dharmawati
Number of pages: 290 pages
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Year of Publish: November, 16th, 2015
ISBN: 97860220320113
Read via iJakarta

In the fast-paced world where conscience is often swallowed by the daily struggles to survive, one little family maintains their true principle that honesty is the best policy. Though stricken with poverty, Cemara's family continues to live with gratefulness, kindness, and resilience. Cemara, the main character of this heartwarming novel, is a bright and lovely little girl who's still in kindergarten. She lives with Abah, the breadwinner of the family, who works as a pedicab driver and a handyman whenever he's needed. To support him, Emak, the mother, makes sweet grain snacks and asks her daughters to sell them around their village. Euis, the fi rstborn daughter, is on the 6th grade and has experienced the family's wealthy state in the past, before poverty strikes them. While the youngest daughter is Agil, a sweet girl who puts a smile in everyone's face. Cemara's Family is an evocative novel about the values of family as a pillar of strength. Cemara's sweet little stories show us that tears can actually be a symbol of happiness and that there is always hope even in the time of hardship.
More Informations:

Well, I think this book is a contradictory from Crazy Rich Asians. If Crazy Rich Asians discussed about the rich family in Singapore, with their luxurious facilities, this book, Cemara's Family is about an ordinary family who really struggle to get money.

Actually, I red this novel because I really miss the serial TV. I tried to search this serial on net, but nothing could be found. So sad. I think that the serial TV is worth to watch. Then, when I searched on iJakarta, I accidentally found this book. Without thinking twice, I borrow this book. Ehm, maybe, if I could red the original one it could be great, but I just could find the English version. I didn't really mind about that because this book is amazing and make me touched. 

Like what has been told from the description, this book is about Cemara's Family, an ordinary and poor family that live in Indihiang, Tasikmalaya. This family consist of Abah, Ema, Euis, Ara, and Agil. They lived in a small house in the middle of village. Everyday, Abah, Ema, and Euis tried so hard to earn money. Abah with his ability became pedicab driver. He is the most repected one in family. No one could disobey his words. Ema is someone who took care all of domestic things, starts from cooking, washing, and make opak--a traditional food that made from floor--for sale. Even though she is the quite one, actually she never complain about her condition. Euis, the elder child, besides going to school, she sell opak too in bus station. She did that to help her family. Ara, the middle child. She just enter the kindergarten. With her ability, she could enter singing competition and became a quiet smart girl, The last is Agil, the youngest children. She always impersonate Ara and make the other laugh with her attitude.

For this family, money is something that hard to earn. Not every things could they get. They have to save some money to get something that they want, but in the end, that saving money used for another else needs. I don't know why, but in the middle of reading this book, I felt pity of their condition. But, I really appreciate their belief that honesty is everything. They do everything with sincere and honesty. No wonder if God always beside them. I know that there are so many bad things happened in their life, starts from the lost money, the lost things, till someone accused them for being liar or other. Instead of angry, Abah always told his family that they have to be patient and still honest for everything.

Edited by me
My favorite character on this book is Abah. He is really sincere and honest. He would try to make his family happy, event though there is many money that they could afford in one day. But, he still remind his family to always grateful to the God. Many moral values that I could get from this novel and I really satisfied by Atmowilotos's writing.

If you want to know about the meaning of life and honesty, you should read this book.

5 stars for this family.

Sincerely,
Puji P. Rahayu