Showing posts with label Science Fiction. Show all posts
Showing posts with label Science Fiction. Show all posts

Incognito

"Memang menyukai seseorang bisa secepat dan semudah itu? Manusia itu kadang terlalu sering mencari di luar jangkauannya, padahal biasanya apa yang dia cari justru selama ini selalu ada di dekatnya." - Carl.

oleh Windhy Puspitadewi

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul: Incognito
Penulis: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasy, Sciene Fiction, Adventure
Tebal buku: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 29 Mei 2014 (sampul baru)
ISBN: 9786020305233
Baca via Gramedia Digital


Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!
Semua bermula ketika mereka harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang pemuda bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.
Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri.


***

Penjelajahan waktu tentunya bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Kalian setuju, bukan?

Yap, setelah kemarin saya menonton Avengers: Endgame - yang isinya kurang lebih bagaimana cara kita bisa "mencuri" waktu, maka saya pun teringat dengan novel teenlit yang satu ini. Entah mengapa, saya ingin membaca kembali kisah dari Erik, Sisca, dan juga Carl.

Suatu ketika, Erik dan Sisca yang sebenarnya tidak akur, tergabung dalam satu kelompok untuk tugas sejarah, yakni tugas observasi peninggalan bersejarah. Meskipun sering berdebat satu sama lain, Erik dan Sisca tetap sebisa mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

Jadilah kemudian Erik mengajak Sisca ke kawasan Kota Lama Semarang untuk mengambil foto. Nah, ternyata, apa yang mereka temui bukan sekadar tentang observasi peninggalan bersejarah, akan tetapi sosok pemuda yang jelas-jelas bukan orang dari masa yang sama dengan Erik dan Sisca, Yap, Carl, nama pemuda itu, datang dari masa lalu. Atau tepatnya dari tahun 1893 karena Carl menggunakan mesin waktu!

Erik dan Sisca awalnya sempat kebingungan dengan kehadiran Carl, akan tetapi, kemudian mereka malah ikut terjerumus dalam penjelajahan waktu yang dilakukan oleh Carl. Bertemu orang-orang besar pun menjadi salah satu pengalaman yang mereka dapatkan, mulai dengan bertemu Archimedes, Miyamoto Musashi, Tom Sawyer, hingga Charles Darwin.

Penjelajahan waktu tersebut pada akhirnya membawa baik Erik, Sisca, dan Carl menemukan berbagai hal. Mulai dari penjelasan mendasar mengenai berbagai macam ilmu dan tentunya fakta sejarah, hingga peristiwa-peristiwa yang hampir mengancam nyawa mereka. Melalui penjelajahan waktu itu pulalah mereka menemukan arti yang sebenarnya dari persahabatan dan konsep menghargai waktu.

Yang pasti, satu hal yang harus selalu diingat bahwa waktu itu memiliki dimensinya tersendiri. Kemudian, waktu pun juga memiliki efek domino. Sehingga, apa yang berubah dalam satu waktu di masa lalu, maka dapat mempengaruhi masa sekarang, dan juga masa depan.

Incognito. (image: wallpaperaccess / edited by me)
To be honest, dulu ketika awal saya membaca novel ini, saya senang-senang saja membacanya. Bahkan, saya kategorikan sebagai salah satu novel favorit saya karena Incognito berhasil mendobrak tema-tema umum dari novel teenlit. Iya, kebanyakan novel teenlit yang ada ketika itu hanya sekadar membahas romantisme remaja belaka. Sedangkan, novel ini berhasil membuat saya tertarik karena adanya topik penjelajahan waktu yang diangkat.

Bagi saya, mengangkat tema ini bukanlah suatu hal yang mudah. Sang penulis harus mampu menghubungkan serta mencari celah dari berbagai peristiwa supaya adegan-adegan di dalam novel ini menjadi masuk akal. Tentu, hal tersebut membutuhkan riset yang lama dan juga kejelian dalam melihat suatu kronik sejarah. Saya salut dengan usaha Kak Windhy untuk menghadirkan jenis cerita ini dalam Incognito.

Jujur saja, saya merasa bahwa Kak Windhy berhasil mengisi celah yang tepat dari bagian-bagian sejarah yang ia pilih. Sehingga, tidak terkesan dipaksakan. Akan tetapi, mungkin saya sedikit setuju dengan beberapa peresensi yang menyatakan bahwa identitas asli Hans C. Zentgraaf dan juga Fran terlalu obvious. That surprise element couldn't spark that much when I read this book for the second time.

But after all, I still like this novel. Seenggaknya, saya tahu bahwa usaha dari sang penulis untuk menciptakan buku ini tidaklah mudah. Lagipula, bisa dibilang bahwa buku ini termasuk novel fiksi pengetahuan - karena secara tidak langsung saya mempelajari sejarah dari buku ini.

Jadi, empat bintang untuk tokoh Erik yang sengak dan menyebalkan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Inteligensi Embun Pagi

“Seseorang pernah memberitahuku. Di level yang tidak terganggu gugat, the inviolate level, segala sesuatunya tepat waktu.” hlm. 687.

By Dee Lestari
4 of 5 stars

Penerbit                      : Bentang Pustaka
Editor                          : Adham T. Fusama
Tebal halaman           : 710 halaman
Tahun terbit               : Februari 2016, cetakan pertama.
ISBN                           : 9786022911319


Semua bentuk kehidupan di dunia ini pasti bersilangan satu sama lain.

 
Setelah mendapat pentunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi akhirnya semakin jelas. Hidup mereka takkan pernah lagi sama.

REVIEW:
Pada akhirnya, Supenova telah menamatkan perjalanannya. Dee Lestari berhasil merampungkan karya yang telah menghabiskan waktu lima belas tahun lamanya. Berbagai misteri serta keterikatan para tokoh dalam Supernova 1-5 terkuak sedikit demi sedikit. Memunculkan kembali tokoh-tokoh yang sepertinya sudah tidak ‘seharusnya’ muncul kembali.

Akulah awal dan engkaulah akhir Meniadakan kita berdua Adalah satu-satunya cara kita bersama

THE FIRST LINE
Waktu bergulir tergesa hari itu, menyulap senja menjadi malam yang hadir terlampau awal.

The Appearance:
Dari keenam seri Supernova, dapat dikatakan kalau Inteligensi Embun Pagi memang yang paling istimewa. Dengan warna kaver putih, IEP terlihat lebih mencolok dibandingkan tetua-tetuanya dulu yang berwarna hitam. Lambang yang berada di bagian depan, seolah menyiratkan keterikatan yang tak berujung. Melihat dari segi kavernya saja, aku sangat tertarik dan puas. Kemudian, jumlah halaman IEP pun akan membuat seseorang puas membacanya. 710 halaman akan dirasa kurang bagi penggemar setia seri Supernova.

The Summary:
Cerita berawal dari upacara Ayahuasca yang dilakukan oleh Gio. Dari situlah muncul berbagai benang merah di antara Gio, Alfa, Elektra, Bodhi, dan Zarah. Mungkin, tanpa membaca buku kelima, alias Supernova: Gelombang, kurasa tidak akan mudah bagi pembaca untuk memahami IEP secara keseluruhan. Banyak sekali hal yang sudah dijelaskan di buku keenam. Mulai dari munculnya Sarvara, Infiltran, hingga Peretas. Bahkan, di Gelombang pun sudah dijelaskan tentang Asko.

Pada intinya, para peretas saling mencari satu sama lain. Hal ini diperlukan untuk melaksanakan hari pembebasan, duh, aku agak lupa L. Maka, dimulailah pencarian dari masing-masing pihak. Gio yang pada akhirnya bertemu Zarah, dan Alfa yang akhirnya bertemu dengan Bodhi dan Elektra. Pertemuan-pertemuan ini pun dibantu oleh para Infiltran yang ternyata sudah membayangi kehidupan para peretas sebelumnya. Kell (guru tato Bodhi yang waktu itu meninggal), Liong (Biksu yang juga guru Bodhi), dan Pak Kas (orang yang mengajarkan fotografi kepada Zarah). Dengan kolaborasi trio kwek-kwek ini, para peretas akhirnya dapat bersatu.

Akan tetapi, para Sarvara pun tidak tinggal diam. Mereka juga berusaha menggagalkan usaha Infiltran dan Peretas. Ada Simon (aku ingetnya dia yang ngajak Zarah jalan-jalan di London), Bu Sati (guru terapi Elektra), dan Togu (orang yang mau mencelakai Alfa). Tak lupa ada kemunculan Sarvara paling fenomenal, Ishtar.

Selain itu, beberapa tokoh yang sempat muncul dan punya peran yang cukup signifikan. Ada Dimas dan Reuben, Mpret alias Toni (bahkan Mpret sangat berjasa dalam cerita ini), dan juga Ferre (Yeay. Ferre muncul kembali!). Oh iya, so please,  jangan lupakan Bintang Jatuh yang juga muncul di beberapa bagian dan ternyata punya andil yang cukup besar dalam keseluruhan cerita.

The Opinion
Setelah proses pre order yang lumayan bikin heboh sana-sini, akhirnya aku berhasil mendapatkan IEP bertanda-tangan. Yeay! Bangga aja gitu dapet tanda tangannya Mamak Suri. Setelah membaca novel ini, banyak banget teka-teki yang terpecahkan. Pastinya, sewaktu baca Supernova, banyak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Gio, Bodhi, Zarah, Elektra, dan Alfa. Di awal seri sepertinya Mamak Suri hanya berfokus pada kisah hidup per tokoh saja. Baru di Gelombang yang mulai terkuak lebih jelas.

Sebenarnya, aku salut dengan Dee Lestari. Imajinasinya luar biasa. Bisa gitu kepikiran hal kayak gini. Setiap kehidupan pasti bersinggungan dan memang mungkin ada kehidupan yang berjalan paralel. In my opinion, it can be.

Hal yang paling ku suka dari novel ini adalah, hubungan Dimas dan Reuben yang tetep adem ayem. Aku suka pasangan ini. Ohh, aku juga tidak akan melupakan Elektra dan Mpret yang diam-diam bisa romantis juga. Heuheu.

Tapi-tapi… aku merasa di IEP ini masih ada yang kurang. Pst. Ini mengandung spoiler. Yang belom baca langsung skip ke The Last Line ajah.
1. Permata itu siapa? Itu beneran anaknya Gio dan Zarah? Kapan lahirnya coba? Nggak ada keterangannya.
2. Nasib Alfa memang jadi sial begitu, ya? Lha, terus, apa kabar gugusnya ini?
3. Kebangkitan Firas pun tidak ada juntrungannya. Bahkan, dia nggak muncul gitu loh di Sianjur Mula-Mula. Jadi, fungsi kebangkitannya dia apa, dong?

Aku jadi merasa aneh aja kalau IEP tamat tapi masih meninggalkan berbagai teka-teki begini. Sebenarnya, aku tidak terlalu keberatan dengan open ending, tapi ini mah terlalu cliffhanger. Aku nggak bisa terima. Nggak bisa L

THE LAST LINE
Perlahan, cahaya terang menerobos dari sela-sela jemari Kalden Sakya, membaur bersama kilau Sungai Yarlung yang mengular di kejauhan.

The Conclusion
Aku curiga Dee Lestari akan membuat seri lain yang berhubungan dengan Supernova. Hoho.

Menyenangkan dan pastinya sangat mengungkap teka-teki yang tersebar di kelima buku sebelumnya. Sayangnya, memunculkan kembali teka-teki baru L Kan aku jadi dilema bacanya. Huhu.


Akar
“Life is all about how to control our minds, and how to make use of our limited knowledge.”—Star.
Supernova #2
By Dee Lestari
5 of 5 stars

Penerbit                      : Bentang Pustaka
Tebal halaman           : 308 halaman
Tahun terbit               : Desember 2014, Cetakan kelima
ISBN                           : 978-602-291-053-4


Finally, I understand WHY this series is incredible.

Di Bolivia, Gio mendapat kabar bahwa Diva hilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Di Indonesia, perjalanan seorang anak yatim piatu bernama Bodhi dimulai.

Bodhi, yang dibesarkan di wihara oleh Guru Liong, akhirnya meninggalkan tempat ia dibesarkan dan bertualang ke Asia Tenggara. Di Bangkok, ia bertemu dengan pria eksentrik bernama Kell yang mengajarinya seni tato.

Setelah melalui petualangan yang berliku di berbagai negara, Bodhi akhirnya kembali ke Indonesia. Ia dipertemukan dengan tokoh punk karismatik bernama Bong. Sejak itu, Bodhi menjadi bagian dari komunitas punk dengan perannya sebagai seniman tato.

Sebuah surat misterius yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Bodhi kembali membawanya ke gerbang petualangan baru.

REVIEW:
Niatku membaca ulang Akar ini karena aku sadar, aku belum memahami keseluruhan cerita Supernova Series. Banyak hal yang tidak aku ketahui di dalamnya. Mungkin faktor dulu aku menganggap series yang sulit dipahami, sehingga aku sama sekali tidak bisa menikmati proses membacanya. Ternyata, aku salah besar. Aku baru tahu kalau beberapa tokoh di series ini memiliki peran penting di series ke depannya. *Shame on me, right?

“Berhenti mencari maka kamu akan menemukan.”—Kell.


First impression:
Tekad membaca ulang membuatku lebih bersemangat membaca novel ini. Aku penasaran apa hubungan tokoh-tokoh di novel ini dengan novel lanjutannya. Apakah aku terlewat waktu pertama kali membacanya? Yang pasti, aku ingin membaca pelan-pelan sampai aku memahami keseluruhan cerita.

“Tugas saya menabur. Tugasmu berakar.”—Kell.

The Appearance:
Jujur, aku suka kavernya. Simbol tree of life=nya meskipun agak rancu karena berwarna merah, tetap membuat kaver dari novel ini menarik. Apalagi, ada gambar bangunan khas Thailand dan Kamboja yang tersemat bagian bawah. *kayaknya sih dua negara itu. Hehe. Secara keseluruhan, kaver Supernova series memang bikin penasaran. Kebetulan, aku belinya yang versi pocket. Jadi enak lah dibawa kemana-mana. Nggak ngabisin tempat.

“Tidakkah manusia itu lucu, Bodhi? Selama hidup mereka konstan mengeluh dan mengaduh, tapi begitu hidup ingin menarik diri, mereka tidak pernah rela.”—Kell.

The Summary:
Dalam novel ini hanya ada 3 keping. Terdiri dari Keping 35: Kabut Tak Tergenggam, Keping 36: Akar, dan Keping 37:  Selamat Menjadi: S.

Pada keping 35, diceritakan bahwa Diva menghilang. Gio, sebagai orang yang peduli pada Diva, berniat mencari Diva. Sayangnya, tidak ada petunjuk sama sekali akan Diva. Bahkan, banyak yang berkata bahwa sangat tidak mungkin Diva bisa bertahan.

Keping 36 beranjak ke kisah Bodhi dan petualangannya. Bodhi, seorang anak yang tidak tahu dari mana asal-usulnya. Dibesarkan di wihara oleh seorang biksu bernama Guru Liong. Suatu ketika, Guru Liong menyuruh Bodhi untuk pergi dari Wihara. Dari situlah perjalanan Bodhi dimulai. Tanpa sadar, perjalanan membawa Bodhi berkeliling Asia Tenggara. Mulai dari Kamboja, Vietnam, Thailand dan negara lainnya. Di negara-negara itulah Bodhi bertemu dengan Tristan, Star, Epona, dan juga Kell.

Salah satu tokoh paling unik dalam novel ini adalah Kell. Kell adalah sosok yang tidak bisa diperkirakan latar belakangnya. Tidak ada yang tahu bagaimana tubuhnya bisa memiliki 617 tato sekaligus. Kell lah yang menjadi tumpuan Bodhi. Dalam artian, Kell yang mengajari Bodhi bagaimana cara menjadi seorang tattooist. Satu hal yang diinginkan Kell, Kell ingin Bodhi yang memberikannya tato ke 618 di tubuhnya.

Keping 37 menceritakan kehidupan Bodhi setelah berkelana. Bodhi tergabung dengan komunitas yang dipimpin oleh Bong, seorang punk yang sangat dikagumi oleh komunitas tersebut. Di keping inilah, Bodhi menemukan surat yang secara tidak langsung ditujukan pada dirinya.

“Hidup ini relatif. Apa yang kamu pikir salah di sini bisa jadi sahih di tempat lain. Racun bisa jadi obat. Obat bisa jadi racun.”—Tristan.

The Point of view, plot, and setting.
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini berubah-ubah. Untuk keping 35 dan 37, Dee menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sedangkan untuk keping 36, Ia menggunakan sudut pandang orang pertama. Secara keseluruhan, sudut pandang yang berbeda ini tidak terlalu sulit diikuti. Meskipun, ketika masuk ke keping 37, agak kagok karena terbiasa dengan sudut pandang Bodhi.

Alur yang digunakan ternyata flashback. Iya. Aku baru sadar dan baru paham kalau kisah perjalanan Bodhi ini diceritakan kembali oleh Bodhi. Sumpah. Dulu waktu pertama kali aku baca, aku sama sekali nggak paham kalau ada flashback kayak gini.

Setting yang banyak digunakan pertama adalah Jakarta. Kemudian ada juga, Lawang--tempat wihara yang ditinggali Bodhi berada. Selain itu, ada pula Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Kota-kota yang disebutkan banyak. Aku nggak hafal. Yang aku ingat hanya Pailin. Haha.

The Opinion
Aku menyesal dulu tidak membaca series ini dengan baik. Dalam artian, aku nggak sadar kalau ada Ishtar di sini. Astaga. Iya. Ishtar yang muncul di Gelombang, ternyata muncul di Akar. Duh, saya jadi agak malu deh dulu bacanya nggak bener. Hiks. Dan aku baru tahu kalau Kell mati di series ini. Ini menjelaskan mengapa seharusnya aku kaget membaca nama Kell di Supernova selanjutnya. *Aku lupa yang mana.

Dalam Supernova ini, aku jadi sadar kalau seseorang yang punya tekad itu pasti bisa maju. Begitu pula dengan Bodhi. Bodhi, seorang manusia yang tak punya akta kelahiran atau dokumen resmi apapun, melakukan perjalanan melewati berbagai negara hanya demi satu tekad dan keyakinan.

“What do you do for a living?”

“Saya? I don’t know. I just live.” (Epona & Bodhi)

Mungkin, bahasa yang digunakan dalam novel ini memang berat. Bahkan kalau tidak dibaca dengan hati-hati, akan membingungkan. Akan tetapi, aku sadar, setiap novel ini pasti berhubungan. Dengan keyakinan tersebut, aku semangat untuk membaca keseluruhan sambil #MenungguInteligensiEmbunPagi yang akan muncul POnya kurang lebih 3 hari lagi.

Last Impression

Ketidaktahuan kadang lebih baik daripada kesedihan.

Terkadang, manusia tidak tahu tujuan hidupnya apa. Tapi, aku percaya bahwa kita hidup ya untuk hidup. Apa guna kita hidup, itulah yang harus kita cari.

Aku semakin jatuh cinta pada series ini dan berharap bisa menyelesaikan keseluruhan seriesnya. *Yang pasti ikutan PO Inteligensi Embun Pagi.

The Conclusion
Recommended, buat kamu yang ingin mempelajari kehidupan serta tekad dan keyakinan dalam hidupmu sendiri. Untuk kamu yang sedang mencari apa arti kehidupanmu.


 Partikel
Supernova #4
"Tak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan."
By Dee Lestari
4 of 5 Stars

Source: here
Penerbit                 : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman  : 508 halaman
Tahun Terbit         : April, 2012
ISBN                       : 9786020204765


Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.



Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang.

Di konservasi orang utan Tanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.


Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya. 

***

Di seri Supernova kali ini, aku mencoba memahami pemikiran Zarah. Berbagai macam dunia fungi telah membawaku kembali mengingat pelajaran waktu SMA. Meskipun demikian, aku sedikit merasakan kejanggalan di saat ada frasa-frasa alien yang dimasukkan dalam novel ini

Zarah Amala, anak dari seorang ahli mikologi bernama Firas. Firas mendidik Zarah dengan caranya sendiri, hingga perlakuannya itu ditentang oleh keluarganya. Karena tekanan batin dan entah sebab apa, Firas tiba-tiba menghilang. Tak seorang pun bisa menemukannya. Hal inilah yang membawa Zarah menuju pelariannya. Pelarian dari ibunya serta perjalanan mencari ayahnya. Dalam perjalanannya itulah, Zarah bisa pergi ke Tanjung Puting dan berperan sebagai ibu asuh orangutan. Kemampuan fotografinya, membawa Zarah ke London dan menjadi wildlife fotografer. Di sanalah pula ia menemukan cintanya dan juga merasakan pengkhianatan. 

Seri supernova kali ini aku baca sangat cepat. Dibanding dengan tiga seri lainnya, seri kali ini memakan waktu yang cukup cepat. Novel ini mengandung banyak pengetahuan, kita bisa mengetahui tentang dunia fungi. Ceritanya pun bisa membawa kita berfantasi tentang pengalaman Zarah. Aku tertarik dengan kehidupan Zarah yang mandiri.

Tapi, kalau boleh aku bilang, Supernova bukanlah novel yang mudah dicerna. Aku masih belum mengerti mengapa seri Supernova itu berseri. Baiklah, memang ada keterkaitan antara tokoh-tokohnya. Bodhi dan Elektra diceritakan kembali di novel ini. Tapi, bagaimana dengan Diva? Sang Supernova sendiri sepertinya belum ditemukan sejak hilangnya dirinya. Menurutku, benang merah di antara seri Supernova belumlah terlihat jelas. Aku benar-benar tidak paham mengapa seri ini bisa berkelanjutan. Apalagi, berbagai macam hal yang dipaparkan tentunya membuat membaca cukup mengeriutkan dahinya.


Ahh, mungkin aku saja yang tidak bisa menelaah bagaimana maksud cerita novel ini. maafkan daku. Terlepas dari ketidakmengertianku, aku masih tertarik untuk mengikuti cerita Supernova ini. Ada hal-hal menarik yang ingin aku ketahui dengan membaca novel ini.