Showing posts with label Prisca Primasari. Show all posts
Showing posts with label Prisca Primasari. Show all posts

Love Theft
"Saya harus pulang. Bukankah itu tujuan kita pergi? Untuk pulang." -- Night.

oleh Prisca Primasari

4 dari 5 bintang

sumber gambar: goodreads.com
Judul: Love Theft
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Roman
Penyunting: Nur Aini, Elly Putri Andini, Adelaine
Penyelaras Akhir: Seplia
Desainer Sampul: Diwasandhi
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: September 2017
Tebal Buku: 406 halaman
ISBN: 978-602-xxxx-20-4
Baca via Gramedia Digital


Frea Rinata memutuskan untuk cuti dari kuliah musik dan mengistirahatkan biola Stadivarius-nya. 
Untunglah dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, melibatkan seorang pemuda yang dipanggil ‘Liquor’, yang dicintai Frea tanpa sadar. Pemuda itu tergabung dalam perkumpulan pencuri, tapi yang dia curi bukan benda-benda biasa. 
Saat Liquor mencuri sebuah kalung mewah milik seorang gadis terkenal, masalah demi masalah pun terjadi. 
Ketika keadaan semakin runyam, apakah Frea masih berpikir bahwa kehidupan keduanya bersama Liquor ini semenarik yang dia pikirkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Rasa-rasanya, saya sudah lama tidak membaca novel karangan Prisca Primasari. Iya, saya memang baru saja membaca Purple Eyes beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, saya merasa sudah lama sekali tidak membaca cerita Prisca versi panjang. Love Theft merupakan novel Prisca yang awalnya diterbitkan secara mandiri dan terdiri dari dua bagian. Baru kemudian, novel ini diterbitkan ulang menjadi satu buku utuh oleh Penerbit Inari.

Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri dengan asal-asalan.
-- Kate DiCamillo dalam Love Theft.
Novel ini menceritakan Frea, seorang mahasiswi sekolah musik yang memutuskan untuk mengambil cuti. Bukan karena apa-apa, hanya saja, Frea merasa kemampuannya di kampus tidak begitu baik. Bahkan, beberapa kali audisi yang ia ikuti, selalu berujung pada kegagalan. Setidanknya, Frea ingin menjauh sebentar dari dunia musik dan lebih tertarik untuk hidup di dunia keduanya. Hidupnya di malah hari yang melibatkan Liquor dan Night.

"Orang nggak bisa selamanya hidup sendirian. Kita selalu butuh tempat untuk bercerita."-- Frea.

Liquor dan Night adalah pencuri yang tergabung dalam organisasi Anthropods. Katanya sih, organisasi tersebut adalah organisasi yang memiliki jiwa Robin Hood. Dalam artian, hasil yang didapatkan dari mencuri akan digunakan untuk beramal. Lalu, mengapa Frea bisa terlibat dalam organisasi tersebut? Karena Anthropods adalah organisasi yang dimiliki oleh paman Frea. Maka dari itu, Frea bisa mengenal Liquor dan Night.

"Saya penjahat. Suatu saat nanti, saya akan jatuh. Saya pasti jatuh. Dan kamu akan pergi. Jadi lebih baik saya menanggungnya sendirian."
--Liquor
Night adalah sosok yang sangat tenang dan juga baik. Mungkin, kalau Night belum menikah, Frea akan menjadikan Night sebagai laki-laki yang ingin ia pacari. Sedangkan Liquor, sikapnya bisa dibilang seratus delapan puluh derajat dari Liquor. Liquor cenderung lebih dingin dan juga tidak mudah digapai. Meskipun demikian, keduanya adalah orang-orang andalan di Anthropods. Hal itulah yang membuat Frea kadang terlibat dalam misi pencurian yang tidak terduga.

"Hidup ini... untuk apa, Frea?"
"Untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Setidaknya menurut saya."
"Kalau kita tidak bisa melakukan dua-duanya?"
"Pasti bisa."
"Kalau tidak bisa?"
"Pasti bisa."
-- Liquor dan Frea.
Suatu ketika, Night memutuskan untuk kembali ke Jepang dan meminta Liquor untuk mengambil pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Awalnya Liquor sempat menolak, akan tetapi akhirnya Liquor menjalankannya. Yakni, mengambil kalung Tiffany & Co milik Coco Kartikaningtyas, seorang perempuan sosialitas yang cukup terkenal. Misi tersebut memang berhasil sih, akan tetapi... ternyata Coco tidak tinggal diam saja. Coco melakukan berbagai macam hal untuk bisa menyudutkan Liquor. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah sebenarnya Coco ini? Yang pasti, apapun itu, hubungan Liquor dan Frea menjadi terancam. 

"Frea."
"Ya?"
"Di sini saja. Jangan pergi."
"Berapa kali saya harus bilang. Saya tidak akan pernah pergi."
-- Liquor dan Frea.

sumber gambar: google.com, disunting oleh saya
Jujur saja, setelah berbagai macam hal yang harus saya kerjakan, membaca novel yang ringan seperti Love Theft ini menajdi hiburan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya cenderung senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hubungan Liquor dan Frea dalam novel ini terasa manis. Awalnya saling menyangkal satu sama lain, tapi toh pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat terpisahkan.

"Halo?"
[Kenapa tidak pernah datang lagi?]
"Saya sibuk, banyak tugas. Sudah sarapan?"
[Belum.]
"Terus kalau saya nggak datang dan beliin sarapan kamu nggak makan, gitu?"
-- Frea dan Liquor
Awalnya, saya sudah sebal setengah mati dengan sikap Coco. Penggambarannya sebagai cewek yang menyebalkan itu mengena sekali. Saya sampai malas ketika membaca percakapan Coco. Dia ini, tipikal cewek yang harus dituruti kemauannya. Tentunya, sangat menyebalkan. Di akhir cerita, saya cukup takjub dengan terbongkarnya identitas Coco yang asli. Saya tidak menyangka akan berujung ke sana.

Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan.
Kalau ditanya, saya menyukai novel ini dari luar dan dalamnya. Sampul dalam novel ini begitu manis dan tentunya, ceritanya pun juga manis. Saya suka dengan interaksia antara Liquor dan Frea di dalamnya. Bagi saya, manisnya mereka ini pas dan tidak berlebihan. Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya, maka saya akan memilih Liquor. Saya tahu kok, pasti ada alasan yang lebih besar ketika Liquor menjadi sosok yang menutup diri dan seolah-olah tidak mau digapai.

"Masa lalu saya... Apa kamu bisa menerimanya?"
"Kamu pikir saya serendah itu, mau meninggalkan kamu cuma karena masa lalu kamu? Kalau kamu memang mencintai saya, percayalah pada saya."
"Jangan tinggalkan saya."
"Berapa kali saya bilang, Saya tidak akan pernah pergi."
--Liquor dan Frea.
Baiklah, pada intinya, novel ini cukup untuk dijadikan bacaan hangat di kala senggang. Tidak perlu banyak emosi yang dikeluarkan yang pasti. Tipikal novel yang manis dan membuatmu lelah.

"Saya nggak bisa masak."
"Saya tahu."
"Kamu bisa?"
Dia menggeleng.
"Tapi waktu Night sakit kapan hari..."
"Cuma bisa memasak bubur. Saya dulu sering membuat bubur sendiri kalau sakit."
-- Frea dan Liquor
4 bintang untuk hubungan Liquor dan Frea.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Purple Eyes

oleh Prisca Primasari

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Fantasi, Roman
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 9786027432208
Baca via Gramedia Digital

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entah mengapa, saya tiba-tiba saja tertarik untuk membaca Purple Eyes. Mungkin karena Prisca Primasari adalah salah satu penulis yang begitu familiar bagi saya. Lalu, premis yang dijanjikan dalam Purple Eyes cukup membuat saya tergugah. Well, siapa yang tidak penasaran dengan kisah yang melibatkan dua manusia yang berbeda dunia?

Lyre adalah asisten dari Hades. Iya, tidak perlu terkejut. Hades sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani. Jangan membayangkan Hades selalu berupa buruk dan tidak enak dilihat. Hades dalam kisah ini sungguh rupawan dan tidak begitu menakutkan. Memang tugas dari sang Dewa masih tetap sama, memutuskan kematian bagi para manusia, akan tetapi, pada dasarnya, yang memutuskan untuk mati adalah manusia itu sendiri.

Selama hampir 120 tahun, Lyre menjadi asisten Hades yang paling setia. Pekerjaan Lyre adalah mengantar setiap manusia yang berada di ambang kematian untuk menemui Hades. Hades pun memberikan pilihan bagi manusia tersebut untuk tetap hidup atau mati. Kebanyakan, manusia yang sudah berada di hadapan Hades memilih untuk mati.

Terkadang, sangat mebosankan menjalani kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai akhirnya, Hades ditugaskan untuk turun ke bumi karena ada kasus pembunuhan berantai yang dapat dibilang "merepotkan". Di saat-saat seperti inilah, Hades harus bertindak sebagai Dewa Kematian. Hades pun mengajak Lyre untuk turun bersamanya. Selama penyamaran mereka, Lyre memilih menggunakan nama Solveig dan Hades memakai nama Halstein.

Ketika turun ke bumi itulah, Solveig bertemu dengan Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan berantai yang terjadi di Norwegia. Ivarr adalah sosok yang dapat dibilang mati rasa. Tidak air mata maupun emosi yang hadir saat adiknya tiada. Akan tetapi, selama Solveig berada di bumi, Halstein memberikan perintah pada Solveig supaya emosi itu muncul kembali dalam diri Ivarr Maka dari itu, Solveig pun sering menemui Ivarr dan... secara tidak langsung mulai membangkitkan emosi Ivarr yang terkubur dalam. Lalu, apa rencana Halstein yang sesungguhnya? Bagaimana, kalau dalam tugas yang tiba-tiba ini, Solveig jatuh cinta pada Ivarr?

"Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu." -- Ivarr.

Rasanya, sudah lama saya mengalami reading slumps. Ya, kira-kira, beberapa bulan ini saya rasanya tidak mampu membaca bacaan ringan sekalipun. Saya benar-benar tidak mampu. Terdengar berlebihan? Mungkin benar. Yang pasti, saya baru bisa mulai membaca beberapa hari ini. Memilih Purple Eyes sebagai bacaan pertama saya setelah reading slumps yang saya alami memang tidak salah. Saya meyukai kisah manis sederhana yang tidak terlalu muluk. Meskipun sederhana, saya menyukai keistimewaan yang terselip di dalamnya.

Awalnya, saya tidak tahu sama sekali kalau Purple Eyes merupakan novel fantasi. Baiklah. Saya hanya tertarik karena novel ini ditulis oleh Prisca. Selebihnya, saya tidak tahu apapun mengenai novel ini. Barulah ketika saya memilah unduhan-unduhan saya di Gramedia Digital, saya baru menyadari bahwa premis yang ditwarkan oleh novel ini begitu menarik. Seorang asisten Dewa Kematian jatuh cinta kepada manusia biasa. Dua orang yang berbeda dunia, saling jatuh cinta. Mengapa mereka bisa jatuh cinta? Lalu, bagaimana akhir dari kisah mereka?

Sesuai dugaan saya, tulisan dari Prisca begitu manis dan menyentuh. Oh, ya, saya tahu, novel ini lebih pantas apabila disebut dengan novellete. Sama seperti French Pink, premis yang diajukan juga sederhana. Novel yang tak lebih dari 150 halaman ini, cukup membuat saya tersenyum manis saat membacanya. Tidak membosankan. Bahkan, saya dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Halstein kepada Ivarr. Saya cukup menyukai proses jatuh cinta antara Solveig dan Ivarr. Meskipun, harus saya akui, saya merasakan sedikit kekosongan di antara mereka.

Sampul dari novel ini mungkin terlihat sedikit... tidak menarik. Entahlah. Saya merasa sampul dari novel ini kurang hidup. Akan tetapi, mungkin itu hanya preferensi saya. Saya mengharapkan ada ilustrasi yang lebih hidup untuk novel ini. Seingat saya, sampul yang dikeluarkan oleh Penerbit Inari lainnya cukup hidup. Sebagai contoh, Love Theft--yang akan saya ulas di postingan selanjutnya. Alangkah baiknya apabila novel ini cetak ulang, akan ada elemen lain yang ditambahkan pada sampulnya.

Bagi saya, Purple Eyes merupakan novel yang tepat untuk dijadikan bacaan ringan. Setidaknya, ditemani kudapan manis dan teh atau cokelat hangat, membaca novel ini bisa menjadi media untuk bersantai,

4 bintang untuk Ivarr Amundsen yang mengesankan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu
Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
"Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri." Zima, hlm. 277.

By Prisca Primasari
3 of 5 stars

Editor               : eNHa
Proofreader      : Gita Romadhona
Penata Letak     : Wahyu Suwarni
Desain Sampul : Dwi Annisa Anindhika
Genre                : Roman
Penerbit            : Gagasmedia
Tahun Terbit     : 2012
Tebal Buku       : viii+292 halaman
ISBN                 : 979-780-589-1
Harga           : Rp19.000,- di TM Bookstore, Depok Town Square.


Vinter

Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih. Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin…. 

Florence



Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia. Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri….


***

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa merupakan salah satu novel yang ingin kubaca dari dulu. Hanya saja, waktu aku masih SMA, aku jarang sekali bisa membeli novel. Mungkin karena aku yang tidak bisa menyisihkan uang dengan baik atau faktor lainnya. Kali ini, Prisca Primasari mengajak pembacanya untuk mengeliling Paris dan Honfleur. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan Prisca yang mengambil latar tempat di luar Indonesia. Mungkin, Prisca memang mengkhususkan diri untuk itu.
French Pink

By Prisca Primasari
3 of 5 stars

Image Source: goodreads,com
Penyunting    : Anin Patrajuangga
Penerbit         : Grasindo
Tahun Terbit  : Oktober 2014
Tebal Buku    : 80 halaman
ISBN             : 9786022516873
Baca via iJakarta


Di Distrik Jiyugaoka yang mungil, cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.


Siapa sebenarnya pria itu? Dan... lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untuk apa juga?

Ck. Sungguh. Pria itu benar-benar merepotkan Hitomi


***
Yeay. Aku kembali membaca karya Prisca Primasari lagi. Hoho. Jadi, sebenarnya novel ini--atau novela sebenarnya julukannya?--lagi-lagi aku temukan di iJak. Sumpah ya, aku kayaknya beneran disumpahin sama orang yang waktu itu presentasi di Pesta Pendidikan, aku jadi keranjingan baca iJak. Haha.

Hitomi, seorang pemilik toko pita di Distrik Jiyugaoka, mengalami depresi dan seakan tidak memiliki semangat hidup. Bahkan, ia memutuskan untuk bunuh diri saja. Suatu hari, di tengah-tengah depresinya itu, Hitome bertemu dengan seorang pria yang cukup aneh. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam. Bahkan, rambutnya pun berwarna hitam kelam. Namanya Hane, yang bisa diartikan sebagai feather atau bulu.

Evergreen
Hidup itu sangat berharga

By Prisca Primasari
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Penyunting                            : Anin Patrajuangga
Penata Isi                              : Lisa Fajar Riana
Desain Sampul dan Ilustrasi : Lisa Fajar Riana
Penerbit                                 : Grasindo
Tahun Terbit                          : 2013
Tebal Buku                            : 203 halaman
ISBN                                     : 9786022510864
Baca via iJakarta

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!


Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?



Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?



***

Halo! Ah, aku senang sekali akhirnya bisa membaca Evergreen. Seingatku, Evergreen merupakan salah satu novel yang masuk rak to-read di akun Goodreadsku. Sebenarnya, aku sudah pernah membaca karya Prisca Primasari sebelumnya. Novel Kak Prisca yang pernah aku baca itu Eclair dan Paris. Jujur saja, aku jadi penasaran sebenarnya, apakah Kak Prisca memang penulis yang memiliki spesialisasi menulis berdasar latar tempat. Ketiga novel yang aku baca ini semuanya mengambil latar tempat di luar negeri. Mulai dari Eclair yang bertempat di Rusia, lalu Paris yang bertempat di Perancis, dan Evergreen yang mengambil tempat di Jepang.