Showing posts with label Penerbit Haru. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Haru. Show all posts

Giselle
Sungguh, tidak ada orang yang lebih berdosa daripada seorang pemuda manis yang tidak memiliki kesadaran diri.

Giselle. Sumber: goodreads.com
Judul: Giselle
Penulis: Akiyoshi Rikako
Genre: Mystery, Thriller, Horror
Penerjemah: Clara Canceriana
Tahun terbit: Maret 2019
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal buku: 400 halaman

Lima belas tahun yang lalu, prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati dalam usahanya menyerang Kurebayashi Reina, saat balet "Giselle" ditampilkan. "Giselle" pun menjadi judul terlarang dalam Tokyo Grand Ballet. 

Lima belas tahun kemudian, sebagai perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet, "Giselle" diputuskan untuk ditampilkan kembali. 

Akan tetapi, saat mereka mulai mempersiapkan pertunjukkan, arwah Mayumi mulai muncul. Berbagai kecelakaan dan kejadian nahas pun terjadi beruntun.
Sebenarnya mengapa arwah Mayumi kembali? Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun silam?
***

Bagi saya, karya-karya Akiyoshi Rikako memanglah menarik. Novel-novelnya yang pernah saya baca sebelumnya, seperti The Dead Returns dan juga Girls in The Dark, membuat saya selalu tertarik akan kisah yang dituturkan oleh Akiyoshi. Kebetulan, saat kemarin saya sedang dalam perjalanan pulang ke Malang dari Jakarta, saya memutuskan untuk membaca salah satu novel Akiyoshi yang berjudul Giselle.

Giselle dan Tokyo Grand Ballet

Bagi Tokyo Grand Ballet, menampilkan "Giselle" dalam pertunjukan mereka merupakan suatu hal yang tabu. Hal ini berhubungan dengan kejadian lima belas tahun yang lalu, yakni saat prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati. Kejadian tersebut menimbulkan trauma yang cukup besaar, khususnya bagi Kurebayashi Reina yang sebetulnya menjadi orang yang diserang oleh Mayumi. Sejak saat itu, "Giselle" menjadi judul yang terlarang.

Lima belas tahun berlalu. "Giselle" diputuskan akan ditampilkan kembali sebagai bentuk perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet. Sayangnya, ketika penampilan ini mulai disiapkan, banyak kejadian tak biasa yang menimpa para penari. Mulai dari penampakan Himemiya Mayumi di depan Ranmaru--salah satu penari terbaik di Tokyo Grand Ballet, jatuhnya Chouno Mikiya--penata artistik dari Tokyo Grand Ballet, hingga ketakutan berlebihan yang dialami oleh Kurebayashi Reina, sang prima balerina dari Tokyo Grand Ballet sekarang.

Cerita bukan berpusat pada Kurebayashi Reina

Seperti yang saya duga, kisah yang diangkat oleh Akiyoshi Rikako ini akan menyajikan sisi misteri yang tidak biasa. Bagi saya, membaca novel ini akan membuat para pembaca merasa merinding karena misteri yang disajikan. Meskipun pada sinopsis terlihat seperti cerita ini akan berpusat pada Himemiya Mayumi, nyatanya keseluruhan isi cerita berpusat pada sosok Kisaragi Kanon, salah seorang anggota Tokyo Grand Ballet yang cukup muda.

Sumber: google.com, edited by me.
Ia dan ketiga temannya sering disebut sebagai kuartet karena mereka selalu bersama-sama. Ketiga temannya itu adalah Saito Junko, seorang gadis yang tidak mau kalah dan juga cantik; Tachihake Ramaru, satu-satunya penari balet pria di angkatan Kanon; dan Sonomura Yukiko yang begitu cantik layaknya boneka. Hari itu, Kanon sedang memperbaiki pointe shoes miliknya saat Ranmaru mengabari Kanon bahwa peran untuk penampilan khusus ulang tahun Tokyo Grand Ballet telah diumumkan.

Tentu Kanon sangat bersemangat karenanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan dipilih sebagai Myrtha, si ratu para arwah yang kejam dan bahwa judul yang dipilih kali ini adalah "Giselle".

Kejadian tak terduga beserta misteri di dalamnya

Sejak pengumuman itu, ternyata memang banyak kejadian aneh yang terjadi. Puncaknya adalah saat Kurebayashi Reina meninggal mendadak layaknya tokoh yang ia tarikan, Giselle. Saat dilakukan penyelidikan, banyak sekali dugaan-dugaan yang mengarah pada teman-teman Kanon. Apalagi, saat Kanon perhatikan baik-baik, ternyata teman-temannya itu, bisa mendapatkan keuntungan apabila Chouno Mikiya, Kurebayashi Reina, atau Kurebayashi Hisashi--pemimpin Tokyo Grand Ballet sekaligus ayah Reina, terluka atau bahkan meninggal dunia.

Misteri itulah yang dicoba digali dalam cerita ini. Tentu, saya sangat menyukai plot twist yang disajikan oleh Akiyoshi. Saya rasa, Akiyoshi mampu membuat saya tertipu dengan asumsi-asumsi yang dilontarkan oleh Kanon. Saya tidak menyangka akhir dari kisah ini sebegitu manusia-nya. Dalam artian, saya selalu tahu bahwa tidak ada yang namanya hantu atau arwah dalam kisah-kisah Akiyoshi. Yang ada hanyalah bentuk keserakahan manusia yang menggunakan cerita arwah sebagai tameng. Nah, jujur saya tidak menyangka akhir kisahnya akan sebegitu luar biasanya.

Satu hal yang cukup menganggu dari novel ini adalah, alurnya yang cukup lambat. Lalu, berhubung novel ini juga menyelipkan kisah dari pertunjukan balet Giselle, saya merasa kadang ada bagian yang diulang-ulang. Saya sampai malas saat harus membacanya ulang. Akan tetapi, novel dari Akiyoshi Rikako ini menjadi salah satu novel horor yang tetap bisa saya baca dengan tenang. Rasanya sulit apabila tidak menyelesaikan novel ini secara langsung karena saya terus penasaran.

Kesimpulan

Saya akan merekomendasikan novel ini bagi para pecinta misteri. Novelnya yang ringan serta plot twist yang menarik menjadi daya tarik dari Giselle.

4 bintang untuk kisah Giselle yang tragis.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

The Dead Returns
"Aku dibunuh oleh teman sekelasku."

oleh Akiyoshi Rikako

4 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Genre: Thriller
Tebal buku: 252 halaman
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: 1 Agustus 2015
ISBN: 9786027742574
Beli di TB. Gramedia Tunjungan Plaza, Surabaya


Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing. Untungnya aku selamat.
Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja. Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku. 
Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.
Tersangkanya, teman sekelas.Total 35 orang.Salah satunya adalah pembunuhku.


Informasi lengkap dapat dibaca di:

Membaca Girls in the Dark beberapa waktu lalu pada akhirnya membuat saya penasaran dengan The Dead Returns. Apalagi, sinopsis di belakang buku cukup membuat saya tergugah untuk membaca novel dengan kaver anak laki-laki yang memakai seragam sekolah itu. Awal saya membeli novel ini pun dapat dikatakan tidak sengaja. Ketika saya sedang berjalan-jalan di Tunjungan Plaza, saya dan kenalan saya mampir ke Gramedia untuk membunuh waktu. Pada akhirnya, saya pun tertarik untuk mengambil novel ini.

To be honest, saya sudah membaca novel ini sejak satu bulan yang lalu. Akan tetapi, karena berbagai macam hal, akhirnya saya malah tidak sempat menuliskan ulasannya. Hmm. Memang sulit juga ya menjadi seorang bloger aktif *tutup muka. Nah, alhasil, saya harus jujur, bahwa saya bahkan sudah lupa siapa nama tokohnya. Iya. Saya sedemikian lupanya. Jadi, saya pun harus mengais ulasan orang lain untuk mengingatkan saya siapa nama tokoh dalam novel ini.

Koyama Nobuo. Seorang pelajar yang biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin berada di deretan siswa tidak favorit yang suka menyendiri dan dipandang aneh. Suatu malam, Nobuo mendapat ajakan pesan dari seseorang untuk menemui orang tersebut di tebing Miura Kaishoku. Sesaat sudah di tebing tersebut, tiba-tiba saja ada yang mendorong tubuh Nobuo hingga terjatuh. Nobuo merasa ada orang lain pula yang akan menolong dirinya. Ternyata, orang tersebut ikut jatuh. Setelah pengalaman antara hidup dan mati itu, Nobuo pun tersadar. Akan tetapi, sayangnya ia sadar bukan sebagai Koyama Nobuo. Dia telah masuk ke raga Takahashi Shinji, seorang  pelajar yang populer di sekolahnya--dan yaa, saya lupa nama SMA-nya. Heuheu. Seorang anak band yang banyak penggemar dan bahkan punya pacar. Sosok yang jauh berbeda dari sosok Nobuo. Dalam hatinya, Nobuo bertekad untuk mencari siapa pembunuh dirinya. Maka dari itu, Nobuo pun mencoba menyelidiki hal tersebut dengan sosok Takahashi Shinji yang disegani dan disukai semua orang.

Image credit: google, edited by me
Komentara pertama, saya bingung. Iya, saya bingung sebenarnya Koyama Nobuo ini laki-laki atau perempuan, ya? -_- Rasa-rasanya di awal dia digambarkan seperti perempuan. Akan tetapi, di akhir dia terasa sebagai laki-laki. Jadi, intinya saya tidak tahu jenis kelamin dari Koyama Nobuo ini. Atau saya saja yang memang kurang nyambung? Bisa jadi. 

Kedua, saya suka dengan plot twist-nya. Sepertinya ini memang menjadi ciri khas dari Akiyoshi Rikako. Menyelipkan twist yang cukup tidak biasa di akhir. Jujur saja, saya memang tidak bisa menebak siapa pelaku yang sebenarnya. Memang luar biasa sekali kemampuan Akiyoshi memutarbalikkan pemikiran pembaca. Meskipun, hmm, ada beberapa bagian yang rasanya kosong gitu. Atau lagi-lagi, saya yang kurang nyambung?

Ketiga, saya suka dengan tampilannya. Ehh, dalam artian font yang digunakan. Membuat saya tertarik untuk membacanya dan merasa, "yeah, this book is quite fun". Intinya sih, saya suka dengan model dari novel ini. Saya jadi penasaran dengan novel-novel lainnya dari Akiyoshi Rikako--dan Penerbit Haru to some extend.

Oke deh. Pada intinya, kalau kamu ingin membaca novel yang cukup "tidak biasa" dengan berbagai macam bentuk thriller-nya, The Dead Returns bisa menjadi pilihan. Saya yakin, kamu tidak akan menyesal.

4 bintang untuk plot twist yang membuat saya sampai speechless.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Girls in the Dark
Apakah kamu pernah ingin membunuh seseorang?

oleh Akiyoshi Rikako


4 dari  5  bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Genre : Misteri, Young Adult
Bahasa: Indonesia
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree, Arumdyah Tyasayu (‘Hukuman Telak’)
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun terbit : Juli 2016, cetakan kedelepan
Tebal buku : 289 halaman
ISBN : 978-602-7742-31-4
Beli di TM. Bookstore, Depok Town Square, Depok.

Edisi Repackaged (ISBN: 9786027742314)
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?
Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....
Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
BONUS CERPEN: Hukuman Telak

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagiku, membaca novel bergenre horor ataupun thriller merupakan suatu hal yang menantang. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya aku adalah orang yang penakut. Aku masih ingat pernah membaca novel Bangsal 13 dan berakhir tidak bisa tidur. Sungguh. Ada trauma tersendiri saat aku membaca novel bergenre sejenis.

Akan tetapi, suatu ketika, saat aku membaca novel thriller karya Lexie Xu, aku menjadi biasa saja. Setidaknya, aku masih mau membaca novel bergenre ini. Meskipun demikian, aku akan menolak mentah-mentah apabila aku harus menonton filmnya. Aku tidak bisa membayangkan semengerikan apa bentuk visualisasi dari cerita-cerita bergenre demikian.

"Kalau kau benar-benar ingin membalas budi, jangan kepadaku. Tapi lakukan pada orang-orang yang tidak beruntung."

Girls in the Dark sudah sering muncul di timeline media sosialku. Atau di blogroll-ku. Tanpa sadar, aku jadi penasaran dengan cerita ditawarkan. Apalagi, dari banyak resensi yang aku baca, Akiyoshi Rikako menawarkan cerita yang tidak biasa. Banyak twist yang disajikan. Maka dari itu, aku jadi tertarik untuk membaca seri garapan penulis lulusan Waseda University ini.

Cerita dimulai dengan kenyataan bahwa Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi, meninggal dunia. Berbagai spekulasi muncul akan penyebab kematian Itsumi. Banyak yang menganggap bahwa Itsumi mati bunuh diri, ada pula yang menganggap bahwa Itsumi mati dibunuh oleh anggota Klub Sastra lainnya.

"Nitani-san... kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?"

Klub Sastra SMA Putri Santa Maria dapat dibilang merupakan klub paling eksklusif. Seluruh anggota yang tergabung di klub tersebut harus diundang secara pribadi oleh Itsumi. Lalu, yang berhak masuk pun adalah orang-orang yang memiliki keunikan masing-masing. Ada Nitani Mirei, si pintar penerima beasiswa; Kominami Akane, anak pemilik restoran Jepang yang gemar memasak ala barat; Diana Detcheva, seorang murid internasional asal Bulgaria; Koga Sonoko, murid IPA yang bercita-cita menjadi dokter; dan Takaoka Shiyo, penulis novel remaja yang sedang naik daun. Tak lupa pula ada Sumikawa Sayuri yang berkedudukan menjadi Wakil Ketua. Sayuri dan Itsumi sudah bersahabat sejak lama. Tidak heran apabila keduanya mengelola Klub Sastra yang sudah lama ditinggalkan.

Film Girls in the Darks
Setelah kematian Itsumi, anggota Klub Sastra yang tersisa berniat untuk mengadakan pertemuan rutin. Di pertemuan tersebut diadakan pula tradisi Yami Nabe, yakni memasukkan bahan-bahan yang dibawa ke dalam satu kuali besar. Kemudian, dimakan bersama-sama. Di sela-sela Yami Nabe, akan ada pembacaan cerita yang dibuat oleh masing-masing anggota. Dan, tema yang diangkat pada pertemuan ini adalah mengenai kemaitan Shiraisi Itsumi. Permasalahannya, ternyata cerita yang dibawakan oleh masing-masing anggota bertentangan. Siapakah yang benar? Siapa pula yang berbohong? Pada akhirnya, semua anggota saling menuduh satu sama lain sebagi pembunuh Shiraishi Itsumi, gadis cantik idola yang meninggal dunia.

Selesainya aku membaca Girls in the Dark ini, aku merasa terkejut  sedemikian rupa. Menurutku, novel ini merupakan salah satu jenis novel sialan yang berhasil memutarbalikkan fakta. Apa yang ada di awal dan dipercayai, langsung hancur di kesempatan berikutnya. Aku benar-benar salut dengan Akiyoshi yang berhasil menciptakan cerita mengejutkan seperti ini. Apalagi, cara Akiyoshi memaparkan setiap kejadian membuatku benar-benar terkecoh. Aku sampai tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bravo!

Bagiku, novel ini ‘keseraman’nya tidak terlalu terasa. Mungkin karena tidak sebegitu gelapnya misteri yang ada. Apalagi, kebanyakan berfokus pada kematian Itsumi dan bagaimana cara dia meninggal. Bagiku, Gantung karya Nadia Khan lebih membangkitkan adrenalin. Ohh, baiklah. Mungkin ini hanyalah masalah selera. Yang pasti, saat aku membaca Girls in the Dark, aku tidak merasa semerinding itu.

Kemudian, bagiku tampilan dari Girls in the Dark terbitan Penerbit Haru ini enak dibaca. Selain tulisannya yang cukup manusiawi, ilustrasi yang ada di dalam bukuny pun menarik. Ditambah pula dengan sampul yang cantik dan koleksi-able. Aku jadi penasaran dengan novel selanjutnya, yakni The Dead Returns. But seriously, ini mereka nyambung nggak, sih? Atau sebenernya nggak nyambung? Hem, entahlah. Aku juga belum punya seri lanjutannya.

Pada intinya, novel ini bisa dijadikan alternatif apabila kamu mencoba untuk mendalami genre horor atau thriller. Twist yang tidak disangka dan gaya kepenulisan yang mudah dipahami, bisa menjadi salah satu daya tarik dari novel ini.


4 bintang untuk twist yang cukup sialan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu
Gantung
"Hal yang sudah menjadi kebiasaan, lama-lama menjadi kepercayaan."Gibbs, hlm. 72.

By Nadia Khan
3 of 5 stars

Pertama kali diterbitkan pada tahun 2013 oleh Buku Fixi, Malaysia.
Genre            : Thriller, mystery
Penerjemah   : Juwita Purnamasari, Selsa Chintya.
Penyunting    : Cerberus404
Proofreader   : K.P. Januwarsi
Design cover : Chyntia Yanetha
Penerbit         : Penerbit Haru
Tahun terbit   : Juni 2016
Tebal buku     : 320 halaman
ISBN             : 978-602-7742-93-2
Harga             : Rp55.000,- di Booth Penerbit Haru, Indonesia International Book Fair, 2016.

[Novel Dewasa]

Gibbs, Ray, KJ dan Troll adalah empat sahabat di sebuah SMA elite di Malaysia.

Mereka memiliki satu kode etik; tidak ada yang boleh memiliki pacar tetap, karena itu akan menghancurkan persahabatan mereka. Kalau mau bersenang-senang, silakan. Namun gadis itu harus mereka bagi berempat. 

Saat salah satunya melanggar, risiko tindakannya itu sangat fatal, bahkan mematikan...

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Well, sebenarnya aku bukanlah orang yang menyukai hal-hal yang berbau horor. Bahkan, aku paling nggak mau berhubungan dengan hal-hal mistis. Entah ini aku yang lagi sok berani atau bagaimana, akhirnya aku menguatkan hati untuk membeli Gantung. Iya, aku udah bela-belain bacanya waktu siang-siang. Tapi, malah turun hujan dengan kilat yang menyambar-nyambar. Oh, my God! Sungguh pun hal ini membuatku takut sendiri waktu bacanya. Hiks.
The Chronicles of Audy O2
"Kalau dipikir-pikir, kalian ini... mirip oksigen, ya. Selalu ada, tapi baru kerasa penting waktu nggak ada." Romeo, hlm. 283.

By Orizuka
4 of 5 stars

Image source: here
Penyunting                            : Yuli Yono
Cover desainer dan ilustrator : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                          : KP. Januwarsi
Genre                                   : Roman, drama
Penerbit                                : Penerbit Haru
Tahun terbit                           : Juli 2016, cetakan kedua.
Tebal buku                            : 364 halaman
ISBN                                    : 978-602-7742-86-4
Harga                                : Rp63.900,- di TM Bookstore, Depok Town Square.

Hai. Namaku Audy. Umurku masih 22 tahun. Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai cowok yang kusukai memutuskan untuk meneruskan sekolah ke luar negeri. Ketika aku sedang berpikir tentang nasib hubungan kami, dia memintaku menunggu. Namun ternyata, tidak cuma itu. Dia juga memberikan pernyataan yang membuatku ketakutan setengah mati! Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi, masalah baru (lagi-lagi) muncul. Seseorang yang tak pernah kulirik sebelumnya,sekarang meminta perhatianku! Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang sepertinya selalu ribet. Kronik dari seorang Audy.

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Yeay. Akhirnya aku berhasil membeli salah satu novel yang pengin aku baca setelah membaca novel terakhirnya. Yap. The Chronicles of Audy: O2 berada pada list pertama di Wishful Wednesday yang aku buat. Jujur saja, aku senang bisa menyelesaikan kisah 4R1A dengan sukses. Aku sukses dibuat baper dan pengin terus baca kisah Audy sampai akhir oleh Orizuka.
The Chronicles of Audy: 4/4
"Aku cuma nggak peduli tempat kita tinggal. Yang penting aku tahu ke mana harus pulang."

By Orizuka

4 for 5 star

Image source: goodreads.com
Penyunting                                 : Yuli Yono
Desainer dan Ilustrator Sampul  : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                                : KP. Januwarsi
Penerbit                                       : Penerbit Haru
Tahun Terbit                               : April 2016, cetakan ketiga
Jumlah Halaman                         : 314 halaman
ISBN                                           : 9786027742536
Hadiah dari Kak Ren Puspita (Ren's Little Corner)

Hai. Namaku Audy.

Umurku masih 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja,

sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.


Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan. 
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy. 


***

Hore. Pada akhirnya aku bisa melanjutkan membaca seri The Chronicles of Audy. Seri ini merupakan salah satu seri yang aku tunggu-tunggu. Bukan ditunggu terbitnya, sih. Tapi ditunggu datangnya uang untuk membelinya. Ehh, ternyata aku malah beruntung mendapatkan paket buku dari Kak Ren. Makasih ya, Kak :*

The Chronicles of Audy: 21
"Aku cuma ngasih tahu kalau aku suka kamu. Nggak perlu diterima. Nggak perlu ditolak. Cukup untuk kamu ketahui."--Rex Rashad

By Orizuka

4 for 5 stars

Source: goodreads.com
Penyunting                              : Tia Widiana
Kaver Desainer dan Ilustrator : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                              : NyiBlo
Penerbit                                    : Penerbit Haru
Tahun Terbit                             : Mei 2016, cetakan keempat
Jumlah Halaman                       : 308 halaman
Harga                                        : Rp54.000,- di TB. Gramedia Grand Indonesia


Hai. Namaku Audy.

Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.


***

Setelah sempat berhenti menjadi babysitter garis miring pembantu di rumah 4R, akhirnya Audy kembali ke rumah itu. Semakin lama Audy tinggal di rumah itu, semakin dalam juga Audy mengenal keempat bersaudara itu. 

The Chronicles of Audy: 4R
"Rex, kamu..., pernah jatuh cinta? Kalau belum, jangan deh. Karena rasanya..." --Audy Nagisa

By Orizuka

4 for 5 stars
Source: here
Penyunting                              : Tia Widiana
Desainer Kaver dan Ilustrator : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                              : Yuli Yono
Penerbit                                   : Penerbit Haru
Tahun Terbit                            : 2016, cetakan keenam
Jumlah Halaman                      : 320 halaman
ISBN                                        : 9786027742215
Harga                                       : Rp56.000,- di TB. Gramedia Depok.


Hai. Namaku Audy. Umurku 22 tahun.

Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.

Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjanaku. Selangkah lagi!

Tapi kedua orangtuaku rupanya tega merusak momen itu. Jadi sekarang, di sinilah aku berada. Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya: Regan, Romeo, Rex dan Rafael.

Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter, dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu!

Terdengar klise?
Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!
Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet. Kronik dari seorang Audy.



***

The Chronicles of Audy merupakan series novel dari Orizuka yang membuatku penasaran setengah mati. Hypenya yang tinggi, membuatku benar-benar ingin tahu apa saja yang ingin diceritakan Orizuka di series ini. Bermula dari keputusan impulsifku--kalau nggak impulsif biasanya malah nggak bakal beli--akhirnya aku mencomot Audy 4R sebagai bacaanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung membaca novel ini sesampainya aku di kosan.
Aku memang bodoh, kebodohan ternyata menurun secara genetik, jadi kenapa??
Bermula dari kisah Audy, seorang mahasiswi Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, yang terancam menjadi tuna wisma dan tidak bisa melanjutkan kuliah--yang omong-omong tinggal skripsi saja. Semua ini berawal dari usaha orang tuanya untuk mengikuti investasi bodong--what's this? Heu :3. Kerugian yang dialami membuat Audy benar-benar tidak punya uang dan terpaksa harus mencari pekerjaan kalau ia tak ingin kembali ke kampung halamannya,

Bermodalkan skill seadanya, Audy mencari pekerjaan dari koran. Tanpa sadar, matanya tertuju pada satu lowongan pekerjaan untuk menajdi babysitter. Mengetahui lokasi kosannya tak jauh dari rumah si pemasang iklan, Audy pun bertekad harus bisa mendapatkan pekerjaan ini.

Apa yang dihadapi Audy ternyata membuat Audy syok. Rumah yang ia datangi seperti tak terawat. Ilalang setinggi dirinya tumbuh subur di pekarang. Seolah-olah, rumah itu tidak berpenghuni. Akan tetapi, karena terbius oleh pesona sang pemilik rumah. Audy terjebak kontrak dan terpaksa menjadi babysitter garis miring pembantu di rumah itu. Rumah yang memiliki julukan Rumah 4R.
Barulah aku menyadari beberapa hal. Kalau aku adalah objek penipuan dan penindasan dari sosok intelektual nan ganteng bernama Regan.
Di dalam rumah tak terawat itu, tinggal empat saudara yang sudah tidak memiliki orang tua. Anak pertama, Regan, merupakan seorang pengacara. Dengan pesona mautnya, Audy malah terjebak dan mengiyakan saja kontrak yang ditawarkan oleh Regan. Anak kedua, Romeo. Menurut Audy, Romeo merupakan anak yang paling tidak berguna. Setiap hari pekerjaannya hanyalah main game dan bisa dibilang memiliki bakat untuk mempengaruhi tingkah laku adiknya yang paling kecil. Anak ketiga, Rex. Si genius yang sinis dan tidak suka bersosialisasi. Sikapnya begitu dingin dan antipati. Selalu mengomentari semua hal yang dilakukan Audy. Terakhir, Rafael. Anak terakhir yang umurnya belum genap lima tahun tapi sudah memiliki pemikiran jauh lebih dewasa dari seharusnya.
"Mulai sekarang, aku akan nambahin satu lagi tipe cewek ke dalam kamusku.""Oh ya? Aku tipe cewek apa?""Absurd."
Audy yang memang tidak memiliki tempat bernaung, akhirnya tinggal dengan 4R dan berusaha untuk menjadi bagian dari keluarga itu. Sahabatnya, Missy, sempat memprotes keputusan Audy. Tapi, memangnya Audy punya pilihan? Tinggal di rumah itu, nyatanya malah membuat Audy terseret ke permasalahan keluarga 4R. Apakah Audy bisa bertahan? Apalagi, orang tua Audy marah besar saat tahu Audy tinggal bersama empat cowok dalam satu rumah.

Source: here, edited by me
Membaca novel ini membuatku tertawa. Demi apapun. Sebenarnya, di awal aku sempat sebal dengan Audy. Kesannya kok menjatuhkan orang tua banget--tapi aku ikut stres sih kalau dihadapkan di situasi yang demikian. Tapi, setelah terus membaca, yang ada aku malah tertawa sepuas-puasnya dengan tingkah laku Audy dan 4R. Duh. Ada pula yang kayak gini. Kocak banget. Setelah baca novel ini, aku kayak merasa, yeah, family can be found anywhere. Not only your true family that you will have.

Dari segi kaver, aku suka. Konsepnya yang sederhana dan ilustrasi Audynya lucu banget. Cantik dan ciamik lah kavernya. Apalagi, bahannya juga keras--nggak mudah terlipat pastinya. Aku suka dan puas. Font yang digunakan pun lumayan. Meskipun besar-besar, tidak mengurangi kenyamanan saat membaca.

Ahh, berhubung aku punya latar belakang yang sama dengan Audy, aku sedikit heran. Dikatakan kalau Audy harus menyelesaikan mata kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional sebelum bisa mendaftar skripsi. Menurutku ini agak aneh. Karena, kuliah pengantar seharusnya merupakan mata kuliah prasyarat untuk kuliah-kuliah selanjutnya. Contohnya di kampusku, aku harus mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional di semester 2. Bila lulus, baru aku bisa mengambil mata kuliah Teori Hubungan Internasional I di semester 3. Kalau lulus lagi, di semester 4 baru bisa mengambil mata kuliah Teori Hubungan Internasional II. Setelah itu, di semester 5 baru bisa mengambil mata kuliah Metode Penelitian Hubungan Internasional. 

Jadi, menurutku agak tidak logis kalau Audy yang mau skripsi malah baru menyelesaikan kuliah pengantar. Akan lebih logis kalau Audy tidak lulus mata kuliah metode penelitian di tahun ketiga. Tapi mungkin beda universitas beda aturan. Who knows?

Dari semua karakter yang ada, entah kenapa aku suka dengan Rex. Nggak ada alasan khusus sebenarnya. Cuma, cara dia menyayangi Rafael itu bikin hati tersentu :" In my humble opinion.

Selain semua huru-hara soal kuliah Audy, aku merasa puas dengan membaca novel ini. Novel yang manis dengan keluarga yang juga manis.

4 rasa manis untuk keluarga 4R yang bikin tersentuh.