Showing posts with label Nina Ardianti. Show all posts
Showing posts with label Nina Ardianti. Show all posts
Fly to the Sky

"But, if this guy, or whoever he was, he is, or he will be, can't handle you at your worst, they sure as hell don't deserve you at your best. Enough said." -- Ihsan
Sumber: goodreads.com

Judul: Fly to the Sky
Penulis: Nina Ardianti dan Moemoe Rizal
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2012
Tebal buku: 360 halaman

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku. Begitu pula mungkin denganmu, tak tebersit namaku dalam hari-harimu, dulu. Tetapi, siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di kelingkingmu.

Saat pertama kali bertemumu, tak ada yang asing. Kau seperti
dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku. Namun, tak ada dari kita yang menyadarinya. Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang. Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu. Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita berjumpa lagi?

Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku? Jadi, aku percaya kau akan menemukanku. Menggenapkan rindu yang separuh.

***

Rasanya, sudah lama sekali saya tidak membaca kisah romans Indonesia. Beberapa hari ini, saya sempat mengalami reading slump. Alhasil, bacaan saya mandeg dan belum saya lanjutkan kembali. 

Akan tetapi, tiba-tiba saja kemarin saya ingin sekadar refreshing. Jadi, saya pun mengambil salah satu novel favorit saya ini untuk saya baca kembali. Hasilnya? Meskipun sudah delapan tahun berlalu, Fly to the Sky masih menjadi kisah manis yang penuh drama.

Edyta dan Andrian 

Edyta Adriannisa Fauzi menyamakan dirinya dengan Midas. Bedanya, segala hal yang disentuh oleh Midas akan berubah menjadi emas, sedangkan apa yang disetuh oleh Edyta akan berubah menjadi bencana.

Selama 26 tahun hidupnya, Edyta terbiasa untuk dibantu oleh semua orang dekatnya. Mulai dari dua abangnya, Ferro dan Ilham (yang anyway, Ilham ini punya kisah sendiri di Simple Lie, Meet Cute, dan Stuck), Ihsan (tetangga dan juga teman dekat Ilham), mami dan papinya, atau sahabat sejatinya, Syiana.

Pada saat seperti ini, Edyta mengalami quarter life crisis yang cukup lumayan. Karir yang stagnan dan juga masalah percintaan yang sepertinya belum ada ujungnya. Maka ketika ia bertemu Andrian, seorang stranger yang rela kena omelannya serta membantu dirinya tanpa diminta, Edyta merasa Andrian bisa jadi jawaban dari seluruh masalah percintaannya.

Di sisi lain, Andrian adalah seorang pilot yang serba perfeksionis. Memiliki Obsessive Compulsive Disorder (OCD) bisa membuat Andrian begitu tertata dan let's say sangat metodis. Pertama kali bertemu Edyta, Andrian tahu kalau cewek di depannya itu tidak akan masuk ke dalam check list perempuan idaman yang ia buat. 

Setelah bertemu dengan Edyta, ia bertemu dengan Mawar, pramugari baru di Indonesia Airbridge. Sejak awal, Andrian tahu kalau Mawar akan memenuhi checklist yang ia miliki. Sayangnya, lama-kelamaan Andrian merasa hubungannya dengan Mawar begitu hambar. Mungkin pernyataan bahwa kutub magnet yang sama tidak akan pernah bersatu betul-betul menggambarkan hubungan di antara keduanya.

Pada akhirnya, setelah mengalami kejadian menghebohkan yang membuatnya mengakhiri hubungannya dengan Mawar, Andrian menyadari bahwa Edyta lah sosok yang bisa melengkapi dirinya.

Kisah yang tetap manis 

Image: google.com, edited by me

Pada dasarnya, novel ini merupakan bagian dari proyek Gagas Duet. Kali ini, Nina Ardianti dipasangkan dengan Moemoe Rizal. Kombinasi yang cukup unik sebetulnya karena menurut saya, gaya penulisan Nina sangatlah ceplas-ceplos dan penuh drama. Sedangkan, gaya penulisan Moemoe cenderung sangat teknikal.

Diceritakan dari dua sudut pandang yang berbeda, jujur saya lebih suka kisah Edyta. Entahlah. Bagi saya, kisah Andrian begitu kaku. Saya tahu sih kalau karakter Andrian sendiri memang kaku dan juga serius, tapi saya jadi merasa agak bosan membacanya. Untungnya, di cerita Andrian ada sosok Leila yang penuh drama. Jadi, setidaknya saya masih bisa tersenyum saat membaca kisahnya.

Meskipun novel ini penuh dengan serendipty, saya rasa jalan ceritanya cukup segar kala itu. Jadi saya sangat menikmati kisah yang manis ini. Memang sih, novel ini menggambarkan kejadian yang sudah pasti tidak akan terjadi di unia nyata, tapi saya somehow masih bisa relate dengan perasaan Edyta atau bahkan Andrian.

Kesimpulan

Ternyata, novel ini termasuk novel yang tidak akan pernah membuat saya bosan. Saya suka karakter dan juga ceritanya. Sepertinya, saya harus rajin untuk cek akun Wattpad Nina untuk baca kisah Ilham ataupun adiknya Ferdian--yang sialnya saya lupa namanya siapa.

4 dari 5 bintang untuk kisah yang tetap manis meski delapan tahun telah berlalu.

Sincerely,

Ra

Sunset Holiday
"Kalau memang aku hanyalah sepotong puzzle dalam hidup Ibi dan sebaliknya, it's better that we make the best out of our limited tine together." --Audy.

By Nina Ardianti dan Mahir Pradana

5 for 5 stars

Source: here
Penyunting              : Alit Tisna Palupi
Penyelaras Aksara   : Widyawati Oktavia dan Idha Umamah
Penata Letak            : Gita Romadhona
Desainer Sampul   : Dwi Anisa Anindhika dan Agung Nugroho
Ilustrator Isi             : Gama Marhaendra
Penerbit                   : Gagasmedia
Tahun Terbit            : Cetakan pertama, tahun 2015.
Tebal Halaman        : 470 halaman
ISBN                       : 9787808181


“We are all strangers until we meet.”



Jatuh cinta dan bertemu denganmu tidak ada dalam rencana perjalananku. Namun, di perjalanan sejauh ini, kamulah hal terbaik yang terjadi kepadaku. Aku menebak-nebak di mana akhir senyum manismu yang menghangatkan.

Hal paling menyakitkan dari jatuh cinta adalah kehilangan setelah memilikinya. Karena itulah, aku tidak berani berharap banyak. Kita hanyalah dua orang asing di tempat asing. Akan lebih banyak risikonya jika aku memutuskan untuk jatuh cinta.

Jika aku tidak akan menjadi bagian dalam sisa perjalanan hidupmu, bisakah kamu mengingatku sebagai bagian terbaiknya? Aku tidak berani menanyakannya karena diam-diam kutahu tujuan terakhir kita ternyata tak sama.

Kita kemudian bukan lagi dua orang asing di negeri asing. Namun, mengapa sakit ketika mengingat ternyata rasa ini terasa lebih asing daripada sebelumnya?

***

Audy dan Ibi bertemu di Paris, kota yang menyimpan banyak pesona cinta. Karena impulsif, Ibi mengikuti Audy melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah di Praha, Roma, atau Venezia, mungkin di sanalah cinta menyapa. Namun, apakah kebersamaan singkat itu berarti banyak jika sejak awal tujuan akhir mereka ternyata tak sama?


Simple Lie

“Kalau lo berjalan dan lo menemukan dinding tinggi di hadapan lo dan lo nggak mungkin melewatinya dengan cara memanjat, apalagi menghancurkan, maka pilihlah jalan dengan cara mengitari dinding itu…”—Ilham Fernando Fauzi.

By Nina Ardianti
3 of 5 stars

Penerbit                      : Gagasmedia
Tebal halaman           : 274 halaman
Tahun terbit               : 2007
ISBN                           : 9789797800864


Just a simple lie. “Simple” lie.

source: ninaardianti.com
 a story about a girl who had a perfect life

Cantik, pintar, aktivis, populer, almost perfect di semua bidang, akademis maupun non-akademis. Digilai para cowok dan (diam-diam) dikagumi para cewek. Dan yang makin membuat dia dikagumi adalah karena sikapnya yang low profile, ramah ke semua orang, dan very down to earth.


a perfect mate
“Happy First Anniversary, Re…,” ujar Fedi pelan.
Rere terdiam sesaat. Speechless. Nggak bisa berkata apa-apa. Ia lalu menatap Fedi dengan mata yang berkaca-kaca. How can she forget this day? Fedi ingat. Bahkan melakukan ini semua untuk Rere.

til another unperfect one came into her life
“Emang nggak bisa ganti ban sendiri ya?”
“Ya nggak bisa laaaah…. Gue cuma bisa makenya doang. Urusan bener-benerin mah payah, huehehe....”
“Girls....” Ilham menatap Rere dengan pandangan mencela yang menyebalkan, “Trus apa yang akan lo lakukan seandainya gue nggak muncul dan menyelamatkan lo seperti pangeran di dongeng-dongeng?”

and changed her perfect life
“Gue nggak tau sampai kapan, Re,” jawabnya jujur.
“Tapi, kalau sampai titik di mana gue ngerasa bahwa batas waktu itu akan datang dan lo belum juga bisa memutuskan...”
Rere mengangkat wajahnya balas menatap Ilham yang sedang berbicara.
“... biar gue sendiri yang menentukan pilihan, Re....”

then everything is not as it seems

a novel about love:
find a desired one... without any doubt. 

REVIEW:
Bukannya apa-apa. Aku membaca novel ini sebagai bentuk kerinduan  akan tulisan pertama Nina Ardianti. Tulisan yang membuatku jatuh cinta pada tokoh-tokoh yang disajikan oleh Nina. Inilah pertama kalinya aku mengenal Ilham. Salah satu tokoh yang akan sering bersliweran di novel-novel Nina selanjutnya.

THE FIRST LINE
Mati gue telat deh nih…

The Appearance:
Melihat penampakan Simple Lie, aku suka dengan penggunaan desain warnanya. Warna merah yang diambil tidak begitu mencolok hingga membuat mataku menyipit. Lalu, desainnya juga minimalis. Membuatku penasaran waktu dulu membaca novel ini. Oh ya, ini bukan pertama kalinya aku membaca Simple Lie. aku melakukan baca ulang karena aku rindu dengan Rere-Fedi-Ilham.

The easiest kind of relationship is with ten thousand people. The hardest one is with one. Correction. The two.

The Summary:
Rere adalah seorang cewek yang bisa dibilang sempurna. Dia pintar, cantik, populer, rendah hati, dan sederet sifat baik melekat pada dirinya. Punya pacar yang sama-sama perfect, Fedi, seharusnya membuat Rere bahagia tujuh turunan dan akan tetap begitu adanya.

Sayangnya, terpilihnya Fedi sebagai PO Festival Jazz membuat hubungan Fedi dan Rere merenggang. Sangat renggang. Berkali-kali mereka sempat bertengkar karena masalah ini. Pada saat itulah, Ilham datang di hari-hari Rere yang muram. Kepribadian Ilham yang cukup berbeda jauh bila dibandingkan dengan Fedi, membuat hati Rere terketuk dan getaran cinta itu datang.

Ya Tuhan! I know it’s not right, but it’s still okay, isn’t it? Hope so.—Rere.

The Point of view, plot, and setting
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini merupakan sudut pandang orang ketiga. Mungkin karena gaya bahasa Nina lebih lepas bila memakai sudut pandang orang pertama, aku masih bisa merasakan ke’kagok’an Nina dalam mengolah cerita ini. Beberapa kali terjadi ketidaksinkronan cerita yang cukup membuatku mengerutkan dahi.

Secara alur, tentunya lebih berfokus pada kisah cinta segi tiga antara Fedi-Rere-Ilham. Benar-benar terfokus pada hal ini. Sesungguhnya, aku salut dengan usaha Nina yang membuatku terkaget-kaget setelah membaca bagian terakhir novel ini. Waktu pertama kali membaca novel ini, aku benar-benar sebal dengan Fedi. Ternyata, pihak bersalahnya bukanlah dia…

Ini bukan tentang siapa yang lebih baik dibandingkan siapa. Tapi, ini masalah perasaan. Kita memang bisa mengontrol perasaan. Tapi, tidak untuk beberapa hal dan beberapa kasus.

“Gue nggak mau berada dalam posisi sebagai pihak yang bersalah. Kalau gue bisa bikin dia ngerasa bersalah, kenapa harus gue yang berada di posisi itu?”—Rere.

Setting dari novel ini kebanyakan mengambil lokasi kampus sebagai main setting. Tentunya, kampus yang dimaksud adalah kampus UI.  Hadeuh. Dulu sebelum aku jadi bagian dari kampus ini, aku sudah sangat menyadari kalau Simple Lie ini memang mengambil setting di UI. Haha. Aku bisa membayangkan keseluruhan detail dari setting yang digambarkan. Selain kampus UI Depok, sering disebut juga lokasi-lokasi di Jakarta, seperti PIM, Tanjung Barat, Lebak Bulus, dan lainnya.

The Opinion
Menarik. Melihat semua kelakuan tokohnya, aku sampai bisa menyimpulkan adanya karma bagi Ilham. Haha. So please. Sila ke website Nina Ardianti dan kalian akan tahu karma seperti apa yang menimpa Ilham.


Hal yang membuat novel ini menarik adalah eksekusi akhirnya.  Aku benar-benar tidak menyangka bahwa rencana-rencana itu ada dan tersusun rapi. Ahh, aku nggak bisa membayangkan bagaimana perasaankua kalau aku berada di posisi Fedi :”

Mungkin, karena ini adalah karya pertama Nina Ardianti, masih banyak hal yang tidak dikupas secara mendalam oleh Nina. Tapi, melihat perkembangan tulisan Nina ke Restart maupun Fly to The Sky, aku yakin Nina sudah bertransformasi menjadi penulis yang lebih matang.

THE LAST LINE
Jadi tahu siapa yang
[nggak bisa]
tertawa paling akhir?

The Conclusion
Untuk bacaan ringan dan penasaran dengan Ilham Fernando Fauzy, you have to read this.