Showing posts with label Indonesian Romance Reading Challenge. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Romance Reading Challenge. Show all posts
Halo!

Apa kabar? Selamat tahun baru, yeay! *Telat bahkan :(

Oke, tanpa perlu lebih banyak berbacot ria, kali ini aku mau membuat rekap dari challenge yang aku ikuti ini. Well, setidaknya, tahun 2016 tidak menjadi tahun yang menyedihkan layaknya tahun 2015. Meskipun tertatih-tatih, aku berhasil menyelesaikan Goodreads Reading Challenge-ku, dan juga Indonesian Reading Romance Challenge 2016 yang diselenggarakan oleh Kak Kiky. Horay.




Di awal aku mengikuti challenge ini, aku memutuskan untuk mengambil tingkat MIDDLE, tapi di pertengahan, aku memutuskan untuk naik level dan mengambil tingkat:

MANIAC

Dan, inilah bacaanku selama satu tahun ini:


Februari

1. Dylan, I Love You - Stephanie Zen
2. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye
3. Critical Eleven - Ika Natassa
4. Simple Lie - Nina Ardianti
5. With You - Christian Simamora dan Orizuka

Maret

6. 2 - Donny Dhirgantoro
7. Nightfall - Robin Wijaya

April

8. Unspeakable Love - Ally Jane dan Kuro Hime

Juni

9. Interlude - Windry Ramadhina
10. Eiffel, Tolong! - Clio Freya
11. The Chronicles of Audy: 4R - Orizuka
12. From Paris to Eternity - Clio Freya
13. The Chronicles of Audy: 21 - Orizuka
14. Traces of Love - Clio Freya
15. Sunset Holiday - Nina Ardianti dan Mahir Pradana
16. Antologi Rasa - Ika Natassa

Juli

17. The Chronicles of Audy: 4/4 - Orizuka
18. Gloomy Gift - Rhein Fathia
19. Evergreen - Prisca Primasari
20. French Pink - Prisca Primasari
21. 1/6 - Flazia
22. Daylight - Robin Wijaya
23. New York After The Rain - Vira Safitri
24. The Truth About Forever - Orizuka

Agustus

25. Pulang - Leila S. Chudori
26. Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa - Prisca Primasari

September

27. The Chronicles of Audy: O2 - Orizuka
28. Penari Kecil - Sari Safitri Mohan
29. Jump - Moemoe Rizal

Oktober

30. Memento - Wulan Dewatra

November 

31. Dilwale - Vivie Hardika

Desember

32. Starlight - Dya Ragil

Yeay, dapat disimpulkan kalau aku berhasil membaca 32 buku! Ulala. Aku bersyukur berhasil menyelesaikan challenge ini. Untuk IRRC 2017, entahlah. Aku masih galau mau melanjutkan atau tidak. But, we'll see right. 

Terima kasih banyak untuk kak Kiky yang sudah menyelenggarakan challenge ini. I had so much fun with this challenge. 

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Halooo!
Sepertinya agak terlambat ya aku memutuskan untuk ikut challenge ini? Tapi, daripada aku bengong dan nggak ada kerjaan serta untuk memotivasi diri untuk membaca lebih banyak, aku memutuskan untuk ikutan Indonesian Romance Reading Challenge. Hoho. Kebetulan, host-nya adalah orang yang aku kenal, enggak deng, aku yang sok kenal. Kak Rizky Mirgawati, pemilik blog Ky's Book Journal.

Untuk tantangan kali ini, aku memutuskan untuk mengambil level middle. Kenapa? Karena aku memutuskan ikut di tengah tahun. Melihat track record-ku selama kuliah yang jarang baca novel *digeplak*, aku ambil level yang sepertinya bisa kuselesaikan. Hehe.



2
Jangan meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah!”—hlm. 124.

By Donny Dhirgantoro
2 of 5 stars

Penerbit                      : Grasindo
Tebal halaman           : 176 halaman
Tahun terbit               : Januari 2013, Cetakan kelima.
ISBN                           : 9789790815629


Harus berani bermimpi


Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia, di mana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang “kelebihannya” adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan yang tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalu bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani…

REVIEW:
Membicarakan perwujudan mimpi tidak akan pernah ada habisnya. Sebuah kenyataan yang begitu pahit terkadang memberikan ketidakyakinan bagi seseorang untuk memperjuangkan mimpinya. Tapi tidak bagi Gusni Anisa Puspita. Seorang perempuan Indonesia yang punya sejuta mimpi di bulutangkis. Meskipun ia tahu, impiannya itu akan berat untuk diwujudkan karena keterbatasannya.

“Tantangannya besar sekali, Leh… tapi, kita harus yakin kita bisa, … nggak boleh salahkan keadaan.”—hlm. 32.

THE FIRST LINE
Jakarta, 27 Oktober 1986.

The Appearance:
Dari kavernya, aku sangat tertarik dan suka dengan kavernya. Desainnya sederhana dan pas di mataku. Judulnya pun sangat mengundang rasa penasaran bagi siapa pun yang melihatnya. Hanya tersemat angka 2 sebagai judul. Donny Dhirgantoro berhasil menarik perhatian pembaca dengan kaver yang sederhana itu.

The Summary:
Gusni Annisa Puspita merupakan adik kandung dari pemain bulutangkis ternama di Indonesia, Gita Annisa Srikandi. Semenjak lahir, Gusni diberikan anugerah tubuh yang sangat besar. Bisa dibilang bahwa besar tubuh Gusni di atas rata-rata bayi seusianya. Ternyata, tubuh Gusni yang besar ini menyimpan rahasia. Ada penyakit yang menghantui kesehatan Gusni dan tentunya penyakit ini belum ditemukan obatnya. Sejak tahu akan penyakitnya, Gusni mencoba untuk berjuang melawan penyakitnya dengan segala cara. Salah satunya adalah melalui bulutangkis. Dengan kondisi fisik yang tidak bisa dikatakan baik, Gusni melaju menjadi pemain bulutangkis handal bersama Tim Nasional Indonesia.

“Orang hidup itu harus punya cita-cita… kalau kamu gak punya cita-cita berarti kamu nggak hidup, kamu orang mati namanya…”—hlm. 71.

Selain membahas tentang mimpi Gusni, novel ini juga menceritakan persahabatan Gusni dengan kedua teman besarnya, Ani dan Nuni. Ketiga orang itu berhasil menggambarkan bagaimana seharusnya sahabat sejati itu ada. Lalu, novel ini juga menceritakan tentang kisah cinta antara Gusni dan Harry. Satu-satunya pria yang diizinkan Gusni untuk berada di sampingnya.

“…karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna…”—hlm. 229.

The Opinion
Sebenarnya, aku mendapatkan novel ini dari beli second-hand dari salah satu admin @NovelAddict_ alias Kak Jiha. Jadi, novel ini merupakan bentuk rekomendasi Kak Jiha agar aku pas belinya. Hehe.

Terbawa euforia 5 cm, tentunya aku penasaran dong dengan novel yang satu ini. Hem, tapi aku merasa agak sangsi juga sih. Waktu dulu aku membaca 5 cm, aku banyak protesnya. Haha. Aku berharap sih nggak akan terjadi kembali. Ternyata aku salah. *duh, maafkan aku ya, Mas Donny. Sepertinya aku memang nggak cocok dengan novelnya Mas Donny.

Image source: google.com, edited by me
Ada beberapa hal yang menurutku cukup ganggu dalam novel ini:
1. Typo dimana-mana. Iya. Banyak banget. Bahkan ada tuh yang EYD-nya tak pas. Huhu. Entah bagaimana ceritanya novel best seller ini banyak banget typo-nya. Mulai dari hal sederhana macam penggunaan ‘di’ sampai ada beberapa percakapan yang tanda petiknya kelupaan. In my opinion, ganggu banget :/
2. Dari awal aku membaca aku langsung ilfeel. Aku nggak tahu sih zaman dulu USG itu udah ada atau enggak. Masalahnya adalah, masak iya salah prediksi bayi kembar? Dan itu hanya gara-gara suara detak jantung? Bukannya mbah-mbah dukun beranak bisa tahu ya di dalem perut seorang ibu hanya ada satu bayi atau dua? Menurutku hal ini agak tidak rasional.
3. Aku kesel banget waktu baca Gita marah-marah ke Gusni. Kesannya aneh banget dia tetiba marah-marah nggak jelas gitu. Terkesan dipaksakan banget scenenya.
4. Proses jatuh cinta Harry dan Gusni kurang dieksplor. Kesannya ujug-ujug suka :/

Terlepas dari beberapa hal tersebut, aku masih bisa melihat usaha Donny untuk menekankan pentingnya bermimpi bagi semua orang. Terlepas dari kekurangan dan keterbatasan yang kita punya, semua orang berhak untuk memiliki mimpi. Aku salut sih dengan usaha Gusni yang mau berusaha untuk hidup.

“Certamen ergo sum. Aku berjuang maka aku ada.”—hlm. 415.

THE LAST LINE
Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa.

The Conclusion
Untuk kamu yang percaya akan kekuatan mimpi, boleh banget baca ini. Terlepas dari banyaknya missing link, bolehlah dibaca. But unfortunately this novel is not my cup of tea.


Simple Lie

“Kalau lo berjalan dan lo menemukan dinding tinggi di hadapan lo dan lo nggak mungkin melewatinya dengan cara memanjat, apalagi menghancurkan, maka pilihlah jalan dengan cara mengitari dinding itu…”—Ilham Fernando Fauzi.

By Nina Ardianti
3 of 5 stars

Penerbit                      : Gagasmedia
Tebal halaman           : 274 halaman
Tahun terbit               : 2007
ISBN                           : 9789797800864


Just a simple lie. “Simple” lie.

source: ninaardianti.com
 a story about a girl who had a perfect life

Cantik, pintar, aktivis, populer, almost perfect di semua bidang, akademis maupun non-akademis. Digilai para cowok dan (diam-diam) dikagumi para cewek. Dan yang makin membuat dia dikagumi adalah karena sikapnya yang low profile, ramah ke semua orang, dan very down to earth.


a perfect mate
“Happy First Anniversary, Re…,” ujar Fedi pelan.
Rere terdiam sesaat. Speechless. Nggak bisa berkata apa-apa. Ia lalu menatap Fedi dengan mata yang berkaca-kaca. How can she forget this day? Fedi ingat. Bahkan melakukan ini semua untuk Rere.

til another unperfect one came into her life
“Emang nggak bisa ganti ban sendiri ya?”
“Ya nggak bisa laaaah…. Gue cuma bisa makenya doang. Urusan bener-benerin mah payah, huehehe....”
“Girls....” Ilham menatap Rere dengan pandangan mencela yang menyebalkan, “Trus apa yang akan lo lakukan seandainya gue nggak muncul dan menyelamatkan lo seperti pangeran di dongeng-dongeng?”

and changed her perfect life
“Gue nggak tau sampai kapan, Re,” jawabnya jujur.
“Tapi, kalau sampai titik di mana gue ngerasa bahwa batas waktu itu akan datang dan lo belum juga bisa memutuskan...”
Rere mengangkat wajahnya balas menatap Ilham yang sedang berbicara.
“... biar gue sendiri yang menentukan pilihan, Re....”

then everything is not as it seems

a novel about love:
find a desired one... without any doubt. 

REVIEW:
Bukannya apa-apa. Aku membaca novel ini sebagai bentuk kerinduan  akan tulisan pertama Nina Ardianti. Tulisan yang membuatku jatuh cinta pada tokoh-tokoh yang disajikan oleh Nina. Inilah pertama kalinya aku mengenal Ilham. Salah satu tokoh yang akan sering bersliweran di novel-novel Nina selanjutnya.

THE FIRST LINE
Mati gue telat deh nih…

The Appearance:
Melihat penampakan Simple Lie, aku suka dengan penggunaan desain warnanya. Warna merah yang diambil tidak begitu mencolok hingga membuat mataku menyipit. Lalu, desainnya juga minimalis. Membuatku penasaran waktu dulu membaca novel ini. Oh ya, ini bukan pertama kalinya aku membaca Simple Lie. aku melakukan baca ulang karena aku rindu dengan Rere-Fedi-Ilham.

The easiest kind of relationship is with ten thousand people. The hardest one is with one. Correction. The two.

The Summary:
Rere adalah seorang cewek yang bisa dibilang sempurna. Dia pintar, cantik, populer, rendah hati, dan sederet sifat baik melekat pada dirinya. Punya pacar yang sama-sama perfect, Fedi, seharusnya membuat Rere bahagia tujuh turunan dan akan tetap begitu adanya.

Sayangnya, terpilihnya Fedi sebagai PO Festival Jazz membuat hubungan Fedi dan Rere merenggang. Sangat renggang. Berkali-kali mereka sempat bertengkar karena masalah ini. Pada saat itulah, Ilham datang di hari-hari Rere yang muram. Kepribadian Ilham yang cukup berbeda jauh bila dibandingkan dengan Fedi, membuat hati Rere terketuk dan getaran cinta itu datang.

Ya Tuhan! I know it’s not right, but it’s still okay, isn’t it? Hope so.—Rere.

The Point of view, plot, and setting
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini merupakan sudut pandang orang ketiga. Mungkin karena gaya bahasa Nina lebih lepas bila memakai sudut pandang orang pertama, aku masih bisa merasakan ke’kagok’an Nina dalam mengolah cerita ini. Beberapa kali terjadi ketidaksinkronan cerita yang cukup membuatku mengerutkan dahi.

Secara alur, tentunya lebih berfokus pada kisah cinta segi tiga antara Fedi-Rere-Ilham. Benar-benar terfokus pada hal ini. Sesungguhnya, aku salut dengan usaha Nina yang membuatku terkaget-kaget setelah membaca bagian terakhir novel ini. Waktu pertama kali membaca novel ini, aku benar-benar sebal dengan Fedi. Ternyata, pihak bersalahnya bukanlah dia…

Ini bukan tentang siapa yang lebih baik dibandingkan siapa. Tapi, ini masalah perasaan. Kita memang bisa mengontrol perasaan. Tapi, tidak untuk beberapa hal dan beberapa kasus.

“Gue nggak mau berada dalam posisi sebagai pihak yang bersalah. Kalau gue bisa bikin dia ngerasa bersalah, kenapa harus gue yang berada di posisi itu?”—Rere.

Setting dari novel ini kebanyakan mengambil lokasi kampus sebagai main setting. Tentunya, kampus yang dimaksud adalah kampus UI.  Hadeuh. Dulu sebelum aku jadi bagian dari kampus ini, aku sudah sangat menyadari kalau Simple Lie ini memang mengambil setting di UI. Haha. Aku bisa membayangkan keseluruhan detail dari setting yang digambarkan. Selain kampus UI Depok, sering disebut juga lokasi-lokasi di Jakarta, seperti PIM, Tanjung Barat, Lebak Bulus, dan lainnya.

The Opinion
Menarik. Melihat semua kelakuan tokohnya, aku sampai bisa menyimpulkan adanya karma bagi Ilham. Haha. So please. Sila ke website Nina Ardianti dan kalian akan tahu karma seperti apa yang menimpa Ilham.


Hal yang membuat novel ini menarik adalah eksekusi akhirnya.  Aku benar-benar tidak menyangka bahwa rencana-rencana itu ada dan tersusun rapi. Ahh, aku nggak bisa membayangkan bagaimana perasaankua kalau aku berada di posisi Fedi :”

Mungkin, karena ini adalah karya pertama Nina Ardianti, masih banyak hal yang tidak dikupas secara mendalam oleh Nina. Tapi, melihat perkembangan tulisan Nina ke Restart maupun Fly to The Sky, aku yakin Nina sudah bertransformasi menjadi penulis yang lebih matang.

THE LAST LINE
Jadi tahu siapa yang
[nggak bisa]
tertawa paling akhir?

The Conclusion
Untuk bacaan ringan dan penasaran dengan Ilham Fernando Fauzy, you have to read this.


Critical Eleven
Aku rindu kami yang dulu. Aku rindu merasa bahagia. Aku rindu aku yang dulu.—Anya.

By Ika Natassa
4.5 of 5 stars

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman           : 344 halaman
Tahun terbit               : 2015
ISBN                           : 9786020318929


Takdirlah yang menentukan bagaimana yang akan terjadi pada kehidupan kita.


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.



Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.



Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

REVIEW:
Membaca Critical Eleven ini membuat jantungku kebat-kebit. Dalam artian aku tidak menyangka kalau ceritanya akan sekompleks ini. Perjalanan cinta Ale dan Anya yang sungguh tak biasa berhasil membuatku tertegun dan jujur saja, this is the definition of sweet & hurt novel.

Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain.—hlm. 7.

First impression:
Awal aku mengenal Critical Eleven tentunya dari berbagai review yang banyak sliweran di goodreads. Selain itu, aku juga mengikutin akun Ika Natassa. Jadilah aku tahu kenapa novel ini begitu booming. Tentunya, aku mempunyai ekspektasi yang sangat besar akan novel ini.

Setiap aku pergi ke toko buku, novel ini seakan-akan terus memanggilku. Sayangnya, baru sekarang aku bisa menyambar dan membacanya.

Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi  semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang.—hlm.17.

The Appearance:
Dari segi penampilan, novel ini cukup menarik. Judul yang membuat semua orang penasaran dan desain yang cukup simple. Warna biru kavernya bagus. Aku suka banget. Tebal novelnya masih dalam batas wajar. Tentunya, dengan ekspektasi yang cukup besar, aku tidak keberatan dengan tebal novel ini. Menurutku sudah pas.

When memory plays its role as a master, it limits our choices. It closes doors for us.—hlm. 23.

The Summary:
Cerita dalam novel ini bermula dari pertemuan Ale dan Anya dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Baik Ale dan Anya tertarik satu sama lain. Singkat kata, perkenalan di dalam pesawat itu telah mengubah jalur hati masing-masing. Mempersatukan mereka dalam suatu ikatan pernikahan utuh.

Sayangnya, apa yang dikatakan di berbagai macam novel atau pun film menjadi kenyataan. Tidak selamanya kebahagiaan itu bisa bertahan. Begitu pula dengan kehidupan rumah tangga Ale dan Anya. Kehidupan mereka yang awalnya begitu bahagia, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi senyum maupun tawa di antara keduanya. Kehilangan anak mereka bahkan sebelum anak tersebut lahir telah membuat kehidupan rumah tangga Ale dan Anya terguncang hebat.

Selain kehadiran Ale dan Anya, ada juga beberapa tokoh yang cukup sering muncul. Orang tua Ale, adik-adik Ale, sahabat Anya dan beberapa tokoh sampingan lainnya.

“Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya aja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.”—hlm. 31.

The Point of view, plot, and setting.
Novel ini menurutku cukup unik. Sudut pandang yang digunakan merupakan sudut pandang orang pertama. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya. Sayangnya, pada bagian awal tidak tertulis sudut pandang siapa yang digunakan—pada bab 1. Jadi, agak sedikit sulit untuk menafsirkan siapa yang bicara. Apalagi, bagi yang baru pertama kali membaca.

Plot yang digunakan adalah plot campuran. Berkali-kali alur yang digunakan dalam novel ini terlihat sangat mash up. Dalam satu sudut pandang bisa terdiri dari dua alur, yang sejujurnya, kalau pembaca tidak berhati-hati akan terasa beberapa keganjilan. Loncatan alurnya cukup terasa. Mungkin ini yang menjadi salah satu kekurangan dari novel ini.

Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film.—hlm. 40.

Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sediri.—hlm. 57. 

Latar yang digunakan adalah Jakarta di zaman modern. Haha. Sumpah ya aku nggak kreatif banget mendeskripsikan latarnya -_-“

The Opinion
Menurut pendapatku, cerita yang disajikan cukup tidak biasa. Bahkan, cukup menarik. Aku suka dengan gaya bercerita Ika Natassa. Ringan dan renyah. Tidak membuatku mengerutkan dahi terlalu dalam.

Penggunaan premis critical eleven merupakan ide yang patut diapresiasi. Kok bisa ya kepikiran? Pokoknya, novel ini menarik.

Last Impression
Love does not consist of gazing at each other, but in looking outward together in the same direction.—hlm. 330.
The Conclusion
Kesimpulannya, novel ini recommended buat yang lagi pengen cari novel roman yang membahas pernikahan :”



Dylan, I Love You!
Kalau itu aku nggak takut. Fans memang berarti banget buat aku, tapi kamu lebih dari itu. Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa...”—Dylan.
By Stephanie Zen
4 of 5 stars

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman           : 296 halaman
Tahun terbit               : November 2007
ISBN                           : 9792230653


Dylan and Alice is a very cute couple. Love it.


Source: Goodreads

Kamu berpikir semua cewek blasteran pasti cantik? Oho... salah besar! Lihat deh Alice. Meski blasteran, hidungnya enggak bangir, dia enggak punya tinggi badan 175 cm, dan dia benci banget jadi setengah bule karena sewakt kecil selalu diejek... bule kampung!

Tapi hidup Alice berubah total setelah dia ketemu Dylan Siregar, vokalis band Skillful. Cowok itu benar-benar jenis cowok yang adorable, ganteng, terkenal, keren, tajir, low profile, pokoknya sanggup bikin para makhluk cewek klepek-klepek!



Masalahnya, Alice enggak tahu gimana caranya supaya dekat sama Dylan. Cowok itu kan seleb, sementara dia cuma anak SMA biasa. Alice tambah jengkel karena temannya menyarankan dia untuk enggak mengkhayal terlalu muluk tentang Dylan. Memangnya salah ya, kalau kita berkhayal bisa pacaran sama seleb?
Dan emangnya..... seandainya nih, impian itu tercapai, apa jadi pacar Dylan benar-benar seindah yang Alice bayangkan?

REVIEW:
Berhubung aku pengen baca teenlit, aku memutuskan untuk membaca ulang novel Dylan, I love You! ini. Bukannya apa-apa. Tapi novel buatan Stephanie Zen ini memang membekas di hatiku dan aku suka banget adanya dua sudut pandang yang digunakan. Nggak bikin bingung dan biasanya malah bikin ngakak. Hehe.

First impression:
Dulu sih, aku baca sekuelnya dulu baru novel ini. Iya, dulu aku baca Dear, Dylan! dulu. Karena tertarik dan ngakak baca Dear, Dylan! aku memutuskan untuk mencari novel pertamanya. Alhamdulillan dapet dan aku sama sekali tidak menyesal untuk membacanya. Sekarang, di saat aku membaca ulang seperti ini, aku pun masih terhanyut dengan gaya bahasa Steph.

The Appearance:
Kalau dari segi sampul, aku kurang sreg. Kenapa? Ya, abisnya, itu Alicenya nggak bisa cakepan dikit apa? Item banget kulitnya :( Terus, kombinasi biru-kuningnya agak-agak aneh gitu. Ditambah blink-blink nggak jelas itu. Heuf. Ya sudahlah. Tak apa. Etapi, kenapa Dylannya janggutan dah? Jelek amat. Ish.

The Summary:
Inti cerita dari novel ini adalah seorang anak SMA biasa yang pacaran dengan vokalis band ternama.

Alice, seorang anak SMA yang tiba-tiba saja ditunjuk sebagai vokalis band pengisi acara kelulusan di SMA-nya. Saat ditanya tentang lagu apa yang sebaiknya dibawakan, Alice pun tidak sengaja nyeletuk lagu milik Skillfull, salah satu band di Indonesia yang sedang naik daun. Tanpa sadar, Alice begitu terpesona dengan vokalis Skillfull yang terkenal ganteng se-Indonesia Raya itu. Sejak saat itu, Alice mendeklarasikan dirinya sebagai fans Skillful. Bahkan, ia pun tergabung dengan beberapa grup milis untuk mengetahui perkembangan Skillfull—dan tentu saja tentang Dylan.

Dylan adalah seorang vokalis Band Skillfull. Ia dikagumi dan dicintai berjuta umat di Indonesia. Dengan ketampanannya, banyak orang yang mengidolakannya. Ia adalah mahasiswa fakultas hukum yang sedang cuti. Meskipun begitu, Dylan sempat merasa bahwa kehidupannya sebagai selebritis tidak terlalu mengenakkan. Pacar  pertamanya, Karin, meninggalkannya karena berbagai tekanan yang dialami oleh Karin.

Berawal dari keinginan Alice bertemu Dylan, keseluruhan kisah ini berlangsung. Entah bagaimana, ada saja jalan yang dimiliki Alice untuk bertemu dan pada akhirnya berpacaran dengan Dylan. Acara Pacar Selebriti pun menjadi salah satu gerbang bagi Alice dan Dylan untuk bersama.

Sayangnya, kebersamaan Alice dan Dylan ini tidak semulus jalan tol. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh mereka berdua. Mulai dari fans Dylan yang kecentilan, sampai puncaknya Alice diteror karena menjadi pacar Dylan.

Beberapa tokoh yang cukup signifikan dalam novel ini ada Grace, sahabat Alice yang selalu mengerti keadaan Alice. Tora, abangnya Dylan. Mbak Vita, pacar Tora. Tante Ana, mamanya Dylan dan Tora. Orang tua Alice. Tak lupa beberapa anak milis Skillfull dan Dylanders.

The Point of view, plot, and setting.
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini ada dua. Sudut pandang dari sisi Alice dan juga sudut pandang dari sisi Dylan. Dua-duanya menggunakan sudut pandang orang pertama. Meskipun ada dua sudut pandang seperti ini, sama sekali tidak membuatku bingung atau mengernyitkan dahi. Bahasa yang digunakan kocak abis. Jadinya seru banget bacanya.

Alur yang digunakan adalah alur maju. Nah, di sini jarang banget flashback. Paling-paling cuma sekelebatan ingatan Dylan tentang Karin. Selain itu, semuanya maju.

Setting yang digunakan sekitar tahun 2006 dan di Jakarta. Soalnya sering nyebut daerah PIM dan PS. Hehe. Dan kayak baru sadar gitu, udah 10 tahun yang lalu novel ini ada. Hue.

The Opinion
Pendapatku tentang novel ini adalah, aku suka kisah Teenlit yang tidak terlalu menye-menye. Mengangkat tema selebriti membuat pembaca akan tertarik dan tentunya, hal ini sangat seru. Menurutku, novel ini merupakan salah satu novel teenlit yang eksekusinya rapi. Steph berhasil membuat novel teenlit yang nggak biasa dan sangat enak dinikmati.

Mengulas sisi lain kehidupan selebriti cukup membuatku tertarik. Dan tentunya, aku nggak menyesal membaca novel ini.

Last Impression
Aku jadi pengen baca sekuelnya juga, kan? Heuhue. Tetep ngangenin dan tetep bikin ketawa sendiri pokoknya.

The Conclusion
Recommended, buat kamu yang pengen baca teenlit yang revolusioner (?)