Showing posts with label Indonesian Romance Reading Challenge 2017. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Romance Reading Challenge 2017. Show all posts

Maryam
"Apa yang diharapkan orang yang terbuang pada sebuah kepulangan?"

by Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul: Restu Retnaningtyas
Desain sampul: Marcel A.W.
Tahun terbit: April 2016, cetakan ketiga
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-979-22-8009-8
Pinjam dari Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia


Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

Maryam Hayati


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Selamat datang di Indonesia!

Negara kepulauan yang digadang-gadang menghargai keberagaman suku, ras, dan agama. Negara indah yang dibanggakan karena semangat multikulturalismenya menurun dimana-mana. Negara yang menawarkan kedamaian dan ketenangan bagi siapa saja yang tinggal di sana. Negara yang... pada akhirnya malah mengingkari semua hal yang telah tersebutkan di atas. Negara yang nyatanya tidak benar-benar menghargai perbedaan dan cenderung mendahulukan kepentingan mayoritas. Negara yang pada akhirnya dipertanyakan, apaah benar ada yang namanya "bangsa Indonesia"?

Saya hanyalah seorang pembaca. Pembaca kisah Maryam yang ditulis oleh Okky Madasari. Diceritakan bahwa Maryam memiliki keluarga yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Ia dan keluarganya adalah seorang Ahmadi. Kelompok yang dianggap sesat dan dimusuhi oleh kelompok islam lainnya. Kelompok yang memengaruhi hidup Maryam dari kecil hingga dewasa. Kelompok minoritas yang pada akhirnya tergerus oleh mayoritas. Kelompok yang entah bagaimana kepastian hidupnya.

Dimulai dari kepulangan Maryam ke kampung halamannya, Maryam mencoba untuk menggali masa lalu dan mencari arti penting dari keluarga. Kemudian, meluas pula dengan menemukan cinta kembali. Maryam yang rapuh dan hancur, mencoba untuk kembali membangun hidupnya. Lewat canda, tawa, serta tangis yang dikeluarkan, Maryam akhirnya mengerti, keadilan di negeri ini bukanlah yang benar-benar adil. Hanya kiasan indah yang terus didengungkan oleh para penguasa.

Membaca Maryam, membuat saya diajak untuk melihat dan menelaah lebih dalam, penghargaan perbedaan di Indonesia tidak seindah yang kita bayangkan. Masih ada praktik-praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh mereka, para manusia yang termasuk ke dalam kaum mayoritas. Bukankah, yang sekarang pun demikian? Muncul lagi isu-isu mengenai mayoritas dan minoritas? Siapa yang punya kuasa dan siapa yang dikuasai? Bukankah negeri ini menjadi memilukan?

Sumber gambar: etsy.com
Saya selalu suka dengan cerita-cerita yang ditawarkan oleh Okky Madasari. Ia bisa menjelaskan secara gamblang mengenai realitas sosial yang ada di Indonesia. Ia berani untuk membahas hal-hal yang katanya masih "tabu" dan mengakibatkan ketubiran. Saya sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh Ibu satu anak ini.

Selain itu, Okky berhasil menyelipkan makna di balik apa yang ingin sampaikan. Yang pasti, saya meyakini, Indonesia bukanlah negara yang benar-benar memiliki keindahan. Itu hanyalah asumsi yang terus diagungkan padahal belum tentu benar adanya. Padahal, itu masihlah harapan yang tiap hari makin terkikis dengan berbagai permasalahan kesukuan dan keagamaan yang ada.

Well, I know that this review is not like a good review. It's just my thinking and rant about what happened in Indonesia lately. I am sad when the minority have to accept something that really bad because of the majority said so. It is unfair, isn't it? I don't understand why the multiculturalism that is built from a long time ago, have ruined by the egoistic side of some people.

Empat bintang saya sematkan untuk kisah Maryam. Bukankah, terkadang kita memang bisa menjadi orang yang terbuang?

Sincerely,
Puji P. Rahayu
Angel's Heart
"Jangan jadi orang terkenal kalau tidak sanggup menghadapi risikonya!"

by Luna Torashyngu

4 of 5 stars

sumber gambar: Goodreads.com
Judul: Angel's Heart
Penulis: Luna Torashyngu
Genre: Teen fiction, romance
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April 2013 (cetakan pertama tahun 2007)
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9789792294927
Baca via Scoop


"Jangan jadi orang terkenal kalau tidak sanggup menghadapi risikonya.”

Ungkapan ini pas banget untuk Angel. Di saat kariernya sebagai penyanyi remaja mulai naik dan dia punya banyak fans, masalah mulai mendatanginya. Mulai dari kerepotannya mengatur waktu antara sekolah dan profesinya sebagai penyanyi, disirikin cewek lain yang merasa kalah populer, dimusuhin teman-teman satu sekolah gara-gara batal tampil di pensi sekolah, sampai kerepotan menghadapi wartawan gosip yang mencari tahu tentang kehidupan pribadi dan masa lalu keluarganya. Semua itu bikin dia stres!

Tapi masalah Angel yang terbesar adalah masalah “hati”. Dia penasaran banget sama Rivi, cowok misterius di sekolah yang gayanya kayak preman terminal tapi ternyata pintar main biola. Cowok itu kadang-kadang bersikap baik dan penuh perhatian pada Angel, tapi nggak jarang juga bikin Angel bete dan kesal setengah mati!

Info lebih lanjut:

Selalu ada alasan di balik mengapa aku kembali membaca teenlit. Apalagi, ini jatuhnya re-read. Aku punya alasan, karena aku merindukan novel ini. Kalau tidak salah ingat, Angel's Heart merupakan salah satu novel yang membuatku mulai menyukai membaca novel. Angel's Heart juga merupakan novel yang pertama kali membuatku menangis. Iya, aku merasa kok, in some way, aku receh banget karena bisa menangis karena novel teenlit.

Angel adalah penyanyi yang sedang naik daun. Albumnya terjual dengan sangat laris dan dia pun menjadi populer di kalangan para anak muda. Ia punya sahabat yang selalu mendukungnya, Vera. Akan tetapi, yang namanya selebriti, tidak mungkin hidupnya akan mudah. Berbagai macam rintangan dihadapi oleh Angel. Mulai dari percek-cokan dia dengan salah seorang penyanyi senior, ketidakhadiran Angel dalam acara pensi sekolah, hingga gosip mengenai masa lalu Angel. Yang pasti, hidup jadi orang terkenal itu nggak selamanya menyenangkan.

Nah, belum lagi, Angel pun juga harus terlibat dengan masalah percintaan remaja. Mulai dari Decky, teman Angel yang berusaha banget supaya bisa jalan sama Angel, hingga Rivi, cowok misterius yang bisa membuat Angel terbius karena permainan biolanya. Pokoknya, hidup Angel semakin penuh warna, deh. Mulai dari senang, hingga susah. 

sumber gambar: pinterest, disunting oleh saya
Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini tidaklah sesempurna novel Luna Torashyngu lainnya. Akan tetapi, aku jatuh cinta banget sama Angel's Heart. Aku juga heran kenapa aku masih bisa nangis waktu baca novel ini :( It was really silly. Mungkin, akunya aja yang memang lagi sensitif. Jadi, gampang banget nangis. Aku suka cara Luna mengaitkan berbagai peristiwa yang dialami oleh para tokohnya. Meskipun terkesan ada yang mengada-ada, I don't mind. Aku mencoba memaklumi :" Yaa, ini subjektif sebenarnya. Bagaimanapun, novel ini adalah novel yang sangat berkesan bagiku. 

Oh, ya. Selain itu, menurutku pesan yang ingin disampaikan pun cukup jelas. Bagaimanapun hidup kita nantinya, yang pasti, kejujuran dan juga usaha untuk meraih mimpi itu penting. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan hal tersebut.

Baiklah, sepertinya singkat saja untuk resensiku kali ini.

4 bintang untuk nyanyian Sang Bidadari.
Sincerely,
Puji P. Rahayu

Dear, Me
Perjuangkan mimpimu selagi bisa

oleh  Ariestanabirah


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads
Judul: Dear, Me
Penulis: Ariestanabirah
Genre: Young Adult
Penerbit: PING (Laksana Gorup)
Penyunting: Diara Oso
Penyelaras Akhir: RN
Tata Sampul: Amalina
Tata Isi: Violetta
Pracetak: Endang
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-407-154-7
Buntelan dari penulis

Hidup menjomblo di usia yang semestinya sudah punya gandengan (minimal banget), dipecat dari perusahaan setelah 9 tahun mengabdi, ditambah krisis keuangan dan percaya diri. 
Zia berada di titik kritis dalam hidupnya. 
Di saat terpuruk, Zia teringat pada impiannya semasa SMA juga... cinta pertamanya. Apa kabarnya dia?
Ia menulis surat, lalu mengirimkan surat itu untuk dirinya di lima belas tahun lalu. Sebuah perbuatan iseng nan konyol. 
Tapi, siapa tahu kejaiban apa yang menantinya?

***

Dalam hidup, seseorang tidak akan pernah lepas dari penyesalan. Kita pasti, di saat tertentu, berharap bahwa kita tidak melakukan satu kesalahan di masa lalu, agar kemudian kita tidak menyesal di masa sekarang. Aku pun demikian. Aku pernah berpikir, "Why I did that? Why? I shouldn't did that thing." Aku pernah mengalami masa-masa seperti itu. Masa saat aku menyesali masa lalu. Masa saat aku menginginkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya apa yang telah kulakukan. Sayangnya, hal tersebut menjadi tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin kan kita kembali ke masa lalu?

The Story

Bagi Zia Abila, kehidupannya sekarang benar-benar berantakan. Belum memiliki pasangan di usia yang matang, pekerjaan yang ia jalani tidak sesuai dengan passio-nya sebagai komikus--dan pada akhirnya dipecat, hingga tidak memiliki sahabat yang bisa menerima keluh-kesahnya. Zia menyesal banyak hal yang tidak ia lakukan dengan benar di masa lalu. Maka dari itu, Zia mencoba untuk mengirimkan surat untuk dirinya di masa lalu. Ia mencoba memperingatkan dirinya di masa lalu akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Mungkin bagi kalian terdengar tidak mungkin hal tersebut terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau surat Zia di masa sekarang, benar-benar bisa dikirim untuk Zia di masa lalu? Akankah kehidupan Zia menjadi lebih baik?

Mengambil latar waktu tahun 2000-an, Kak Bilah mencoba untuk mengajak kita menyelami kehidupan masa SMA Zia. Masa-masa saat kita harus memilih kita mau menjadi apa. Masa-masa penentuan kalau buatku. Kita mau memilih jurusn kuliah apa, apakah kita mau mengikuti apa kata orang tua, atau kita ingin memperjuangkan passion kita sendiri? Menurutku, masa SMA adalah masa-masa kritis bagi remaja untuk menentukan jati diri mereka--eugh, lebih parah waktu kuliah, sih. But I know the feeling. 

Sepintas, kita akan benar-benar diajak untuk mendalami lagi mimpi serta passion kita. Intinya sih, membuka mata kita, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang bersentuhan dengan seni, belum tentu tidak ada harganya. Kalian pasti pernah mendengar kan, sentimen bahwa menjadi pekerja seni tidak ada harganya? Aku sendiri pun sering mendengarnya. Maka dari itu, dalam Dear, Me, Kak Bilah mencoba memberikan pandangan baru mengenai pekerjaan yang berhubungan seni, yakni komikus. Yap, si tokoh utama, Zia, bermimpi menjadi komikus. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak menyetujui rencana Zia. Dengan adanya surat dari masa depan, Zia pun akhirnya mencoba memperjuangkan mimpinya. Meskipun ia tidak tahu apakah orang tuanya benar-benar dapat mengabulkan permintaannya atau tidak.

Selain tentang mimpi, tentunya cerita tentang Zia tidak akan lengkap, tanpa adanya cerita mengenai persahabatan dan juga cinta. Surat dari masa depan menyebutkan bahwa sahabat terbaik Zia, Nana, akan meninggal karena Zia tidak memperhatikan sahabatnya tersebut. Apakah Zia berhasil menyelematkan Nana dari entah apa yang menimpanya? Selain itu, diam-diam, Zia juga berusaha mendapatkan hati dari pangeran pujaannya, Addis. Cowok yang terkenal penyendiri, bahkan dianggap aneh ini, nyatanya bisa menarik hati Zia. Akan tetapi, apakah mungkin Zia dapat mengungkapkan perasaannya kepada Addis supaya ia tidak menyesal di masa depan?

The Opinion
Membaca Dear, Me ini bisa dilakukan saat kamu ingin bernostalgia dengan zaman SMA. Kisah kehidupan SMA begitu melekat dalam novel ini. Mulai dari printilan upacara, kerja kelompok, hingga lomba bulan bahasa. Intinya sih, memang mengisahkan masa-masa SMA banget. Sejak pertama kali membaca tulisan Kak Bilah--sejak baca draft awal Yesterday in Bandung, aku suka dengan cara Kak Bilah bercerita. 

Eits, aku belum cerita ya. Jadi begini. Puji dan Kak Bilah pernah bekerja sama dalam satu novel keroyokan berjudul Yesterday in Bandung--eaa, shameless promotion. Di sinilah, aku pertama kali kenal Kak Bilah dan tahu gaya menulisnya. Aku suka karena gaya bercerita Kak Bilah itu menurut aku ringan. Mudah dimengerti. Mungkin terkesan formal, but I don't mind. Aku tetep suka.

Membaca Dear, Me membuatku refleksi kembali. Apakah benar jalanku yang kutempuh sekarang? Apakah nanti masa depanku akan baik-baik saja? Menggunakan sudut pandang orang pertama, membuatku bisa menyelami karakter Zia. Bagaimana Zia menyikapi hidup pada akhirnya. Kemudian, aku suka banget sama sampulnya. Cantik. Menarik pula untuk dipandang. 

Cerita yang disajikan menurut aku cukup menarik. Event though, in some part, I couldn't relate with some points--regarding my own sentiment, I still could enjoy the story. Intinya sih, kamu nggak akan menyesal kok untuk membaca novel ini. Menyenangkan dan ringan. Memberikan gambaran mengenai usaha meraih mimpi dan juga passion.

Disunting oleh Puji
The Conclusion
Untuk kalian yang menyukai cerita sarat akan refleksi diri, kalian bisa membaca Dear, Me. Bagiku, membaca novel-novel seperti Dear, Me ini dapat menyentil kesadaran kita. Tentang segala hal yang terjadi di sekitar kita.

3 bintang untuk mimpi Zia menjadi komikus.

UPDATE

Halo, teman-teman! 
Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveway novel Dear, Me. Setelah menimbang dan juga menganalisis, akhirnya, pemenang giveway ini pun terpilih. Siapa dia? Selamat kepada...

Monica Indah
@MonicaIndah5

Yeay! Nanti akan kuhubungi lewat DM, ya. Selamat sekali lagi. Untuk yang lain, semoga beruntung di lain kesempatan. 

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Imaji Terindah
Apakah kemudian seorang laki-laki tidak boleh menangis?

oleh Sitta Karina

3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads.
Judul: Imaji Terindah
Genre: Roman
Penulis: Sitta Karina
Seri: Hanafiah #1.5
Penyunting: Siti Nur Andini
Penata Letak: Rizal Rabas
Desainer Sampul: Sitta Karina
Foto Sampul Muka: Andra Alodita
Tahun Terbit: Desember 2016, Cetakan 1
Penerbit: Literati, imprint dari Penerbit Lentera Hati
Tebal Buku:290 halaman
ISBN: 978-602-8740-60-9
Buntelan dari  penulis, Sitta Karina.


“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”
Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.
Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.
Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Suatu ketika, seorang teman pernah bertanya padaku, "Puj, menurutmu, apakah seorang cowok itu nggak boleh baper?". Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu, temanku yang lain langsung menyambar, "Kalau Puji sih anaknya HAM banget. Jadi, pasti menurut dia nggak apa-apa kalau cowok baper." Aku tersenyum singkat kala itu. Ya, memang. Aku adalah orang yang berusaha sebisa mungkin menghargai perasaan orang lain. Kalau ada yang mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh terbawa perasaan dan mudah emosi. Padahal, menurutku itu adalah sifat alamiah manusia, regarding seseorang itu perempuan maupun laki-laki. Setidaknya, dalam Imaji Terindah, ada satu poin mengenai hal ini yang disinggung. Intinya adalah, seorang laki-laki pun, berhak untuk menangis. Bagaimanapun, itu bukanlah suatu kelemahan yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. Akan tetapi, itu adalah satu-satunya cara saat seseorang tidak sanggup lagi menerima kenyataan dalam hidup.

Sekilas Kisah
Bagi Christopher Hanafiah, cinta bukanlah satu hal yang ada di pikirannya selama ini. Mengambil prinsip hidup sepupunya, Reno Hanafiah, Chris menjadi seorang womanizer--atau setidaknya berkeinganan demikian. Suatu ketika, rumah Chris kedatangan tamu dari Jepang, yakni Keluarga Kaminari. Terlahir di keluarga yang kaya raya seperti Hanafiah tidak membuat Chris dapat menikmati keseluruhan tetek-bengek jamuan makan bersama rekan bisnis keluarganya. Terlihat jelas kebosanan Chris dalam jamuan makan bersama Keluarga Kaminari. Sampai pada akhirnya, Kei Kaminari menyentil Chris dengan cukup kuat. Semua ini berawal dari ucapan Kei, "Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati." 
"Kita masih muda; banyak hal--dan kejutan--bisa terjadi.""Kejutan nggak selalu menyenangkan.""Tergantung bagaimana kita meresponsnya." -- Chris dan Aki, hlm. 54.
"Sayangnya, tidak demikian bagi kamu. Entah kenapa... kamu menjauh. Kamu ngobrol sama Alde dan lainnya, tapi selalu menghindari aku. Pacar bisa kayak gitu. Tapi, kita sahabat. Dan sahabat selalu bicara dari hati ke hati, bukan kabur melulu, apalagi pas ada masalah." -- Aki, hlm. 124. 
Sebagai seseorang yang tidak pernah memikirkan cinta, Chris pun mencari target untuk memulai permainan dan memastikan dirinya tidak seperti yang Kei katakan. Target tersebut akhirnya jatuh pada Kianti Srihadi atau yang biasa dipanggil Aki--seorang murid baru pindahan dari Jepang. Aki adalah sosok ceria yang aktif dalam cheers. Sejak pertama, Chris sudah tertarik pada Aki. Akan tetapi, setelah berbagai kejadian yang menimpa keduanya, Chris menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan perasaannya. Lama-lama, ia menyadari bahwa ia tidak akan sanggup kalau sampai kehilangan Aki. 

Aku dan Hanafiah
Kalau boleh aku jujur, ini adalah pertama kalinya aku membaca seri Keluarga Hanafiah. Harus kuakui bahwa, seri Keluarga Hanafiah ini sepertinya dapat menjadi sei favoritku. Eugh, bagaimanapun roman menye-menye seperti ini akan tetap menjadi favoritku. Aku jatuh cinta dengan cara Sitta Karina menceritakan Hanafiah. Penggambaran mengenai kekayaan mereka menurutku tidak terlalu tersebar kemana-mana. Meskipun, merek-merek branded masih banyak disebut. But, it's okay. Aku masih mampu menikmatinya.

Oh ya, sepertinya aku harus meminta maaf dulu pada Kak Sitta. Mengapa? Karena, aku baru bisa membaca dan meresensi Imaji Terindah sekarang. Seharusnya, Imaji Terindah sudah bisa kubaca sejak Februari lalu. Akan tetapi, karena adanya suatu kesalahpahaman, akhirnya novel ini tertahan di Malang, sedangkan aku ada di Depok :o Yaa, but I assume that, it's totally my fault. 

Tampilan yang Cantik
Dari penampilannya sendiri, aku suka konsep sampulnya. Sederhana dan juga, apa ya? Collect-able? Iya, sort of kayak gitu. Menurutku, sampul dari Imaji Terindah ini begitu cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Tidak terlalu ramai tapi eye-catching. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup kusayangkan. Entah mengapa, aku merasa margin yang digunakan terlalu lebar. Sehingga, novel ini terasa cepat habis untuk dibaca. Meskipun demikian, secara pilihan font aku suka. 


Opini Pribadi
Ahh, rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca novel roman Indonesia. Entahlah. Akhir-akhir ini aku kebanyakan membca novel terjemahan maupun Inggris. Mungkin aku sedang tidak berminat saja waktu kemarin. Nah, akhirnya, sampailah aku untuk membaca Imaji Terindah. Bagiku, Imaji Terindah adalah kisah unyu-unyu yang menyenangkan. Awalnya, aku tidak menyangka kalau Imaji Terindah lebih ke Young Adult. Kupikir, tema yang dibawa adalah mengenai pekerja kantoran, layaknya novel-novel roman sejenis. Tapi, bukan berarti aku protes ya mengenai ini. Toh, aku masih menikmati keseluruhan cerita.
"Terima kasih, ya, Chris. Kamu benar-benar nggak pergi. Kamu bahkan tetap bercanda dan semangat, menginspirasi aku untuk melakukan yang sama. Secara nggak langsung, kamu kayak ngingetin aku, bahwa hidup itu dibawa gampang, tapi jangan ngegampangin hidup. You know, I like that!" -- Aki, hlm. 130.
 "Kalo elo punya niat baik dan ingin melakukan sesuatu yang baik, lakukan. Nggak perlu umbar dengan kata-kata. Perbuatan sudah cukup jadi bukti yang jelas," -- Niki, hlm. 142.
Namun demikian, bukan berarti aku tidak merasa ada yang aneh dalam cerita ini. Aku merasa, proses kedekatan antara Chris dan Akit terlalu cepat. Entahlah. Aku merasa kedua orang ini terlalu cepat percaya dan luluh. Lalu, aku baru tahu kalau dalam seri Hanafiah, akan ada orang-orang yang punya kemampuan tertentu. Jujur saja, itu sedikit membuatku merasa aneh. Well, sedikit ya. Lagi-lagi, bukannya aku protes.

Oh ya, selain Imaji Terindah, dalam novel ini terdapat dua cerita pendek lagi, yakni Sakura Emas dan juga Air Mata Pedang. Berhubung aku belum membaca seri Hanafiah, aku tidak tahu kedua cerita ini pada akhirnya akan mengarah kemana. Akan tetapi, di satu sisi, cerita pendek ini berhasil membangkitkan kekepoanku terhadap seri Hanafiah.
"People are always curious about other people's business. Especially about Prince Christopher's."-- Aki, hlm. 157.
"Friends... don't kiss."
"Who said we're just friends? Kita lebih dari itu, Ki." -- Aki dan Chris, hlm. 193.
Selain itu, mungkin banyak yang akan protes terhadap akhir dari kisah Chris dan Aki. Aku pun, mungkin demikian. Meskipun aku tidak sampai sakit hati karena akhirnya begitu, aku cukup tergugah untuk mbrebes mili. Rasanya seperti tidak rela akhir kisah manis Chris dan Aki harus seperti itu.
"Apa, sih, yang ingin elo kasih liat ke Kianti? You can't protect her forever, Chris. Orang pesakitan kayak dia--she doesn't even have forever!"
"She is my forever!" -- Laila dan Chris, hlm. 196.
 "Orang yang tidak menyerah terhadap persahabatan yang sudah porak-poranda, apalagi namanya kalau bukan pahlawan terhadap persahabatan itu sendiri?" -- Aki, hlm. 241-242.
Kesimpulan
Sebagai pecinta roman, aku akan merekomendasikan novel ini sebagai pilihan untuk mengisi waktu luang. Mungkin akan terasa seperti cerita cinta remaja yang menye-menye. Akan tetapi, aku melihat ada sisi lain yang dicoba ditunjukan oleh Sitta Karina. Pada intinya, novel ini masih worth it to read, kok.
"Build a friendship before marrying someone. Then, marry your best friend." -- Chris, hlm. 246-247.
3.5 bintang untuk Chris dan Aki.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

L
Mungkin, sebuah karma lah yang menimpa kehidupan Ava Torino. Who knows?

Karya Kristy Nelwan
4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul buku: L
Penulis: Kristy Nelwan
Editor: A. Ariobimo Nusantara
Asisten editor: Veronica B. Vonny
Penata isi: Gun
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: April 2012, cetakan keempat
Tebal buku: VIII+344 halaman
ISBN: 978-979-025-417-6
Pinjam di iPekanbaru dan iJakarta
Ava Torino, twentysomethinggirl, yang bekerja sebagai produser di sebuah stasiun televisi lokal di Bandung, agak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Ava not really into romantic or love things. Ia menganggap pacaran adalah sesuatu yang seharusnya fun. Dan, biar semakin fun, ia nekad meneruskan ide gilanya semasa kuliah dulu: berganti-ganti pacar, sampai ke 26 alfabet tergenapi sebagai huruf awal nama-nama sang pacar.
Dengan ke-adventurous-annya, tidak sulit bagi Ava untuk memenuhi rencana gilanya itu. Namun, tanpa disangka, cowok yang paling sulit ditemukan justru yang namanya berawal huruf L. Maka, cara berpikirnya yang logis memutuskan, siapa pun dia, si L akan menjadi the Last Love nya. Sayang, Ava tidak menyadari betapa rahasia semesta ini terlalu besar untuk ditaklukkan oleh logika pikirannya.... hingga terjadilah peristiwa itu.... 

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pada dasarnya, saat aku mencomot novel ini di aplikasi iPekanbaru, aku tidak berkekspektasi apa-apa. Aku hanya sekadar ingin membaca bacaan ringan. Mulai dari blurb yang cukup catchy, akhirnya aku memutuskan untuk membaca L. Karena aku belum pernah membaca karya Kristy Nelwan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk searching dulu di Goodreads, dan betapa kagetnya aku saat menyadari bahwa novel ini dipandang out of the box. Mengetahui fakta tersebut, aku pun bersemangat untuk membaca novel ini.

Bergonta-ganti pasangan? Itulah yang dilakukan oleh seorang Ava Torino. Trauma akan pacar-pacarnya dahulu kala, Ava pun bertekad gonta-ganti pacar hingga nama pacarnya sampai 26 alfabet. Absurd? Sangat. Bahkan, menurutku hal ini sama sekali nggak masuk akal. Ada gitu orang se'kurang-kerjaan' kayak Ava?

Tanpa pretensi apa-apa, aku mulai menggeser layar ponselku. Diawali dari adegan pemutusan pacar Ava yang ke sekian, novel ini disajikan dengan bahasa yang ringan. Tidak terlalu sulit untuk dipahami maksudnya. Bahkan, menurtku, sangat enak dibaca. Ada selipan-selipan humor yang disisipkan oleh Kristy.

Merujuk pada obsesi Ava, maka kita akan berpikir bahwa Ava akan kesulitan menemukan pacar dengan nama berawalan Q atau X. Nyatanya, Ava malah kesulitan mendapatkan pacar dengan naa berawalan L. Pada saat berlibur ke Yogyakarta, Ava bertemu dengan seorang cowok. Secara tipe, cowok itu tipe dia banget. Sayangnya, cowok itu bernama Rei. Tentunya, nama cowok ini membuat semangat Ava padam. Akan tetapi, di malam yang sama, Ava bertemu dengan kenalan teman Ava. Seseorang yang ternyatan bernama depan L. Ludi.
"'L' kan huruf sakral, bisa berarti Last atau Love." - Ava. hlm. 32.
Dengan ditemukannya si L ini, Ava berniat untuk bertobat. Ia ingin menyerahkan cinta dan hidupnya pada Ludi. Ternyata, hal ini mendapat sambutan positif dari Ludi. Hubungan antara Ava dan Ludi terus berlanjut. Bahkan, bisa mencapai satu tahun lebih. Maka dari itu, Ava berani untuk mengambil keputusan lebih jauh dan menerima lamaran dari Ludi.

Sumber gambar: Google, disunting oleh Puji.
Di tengah semarak kebahagiaan persiapan pernikahan, Ava malah mendapatkan masalah. Stasiun televisi tempatnya berkerja tidak memberikan insentif yang sebanding dengan kerja kerasnya. Apalagi, kontrak karyawan pun tidak segera diturunkan oleh pihak pimpinan perusahaan. Setelah satu insiden menimpa sahabat Ava, Ava akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Hal ini didukung oleh Ludi yang sedari dulu khawatir dengan pekerjaan Ava. Kemudian, Ava mencoba melamar pekerjaan di Jakarta dan betapa kagetnya ia saat bertemu lagi dengan Rei. Karena tidak  mengenal siapapun di kantor barunya, akhirnya, Ava dan Rei menjadi akrab. Bahkan, Rei banyak mengubah kehidupan Ava dengan tindakan-tindakannya. Sampai satu titik, Ava menyadari ada perasaan yang berbeda dalam diri Ava terhadap Rei. Akan tetapi, rahasia kelam Rei, serta perjanjian Ava pada dirinya sendiri, membuat kisah mereka menjadi rumit dan menyedihkan.

Rasanya, sudah lama sekali aku tidak menangis karena membaca novel. Dan, aku cukup amazed saat L karya Kristy Nelwan ini berhasil membuatku tersedu-sedu. Padahal, aku sudah menyadari kalau skenario terburuk akan terjadi sejak awal membaca cerita ini, tapi aku masih saja tetap menangis. Rupanya, Kristy Nelwan berhasil mengaduk emosiku dengan gayanya bercerita,

Meskipun memang sulit untuk menghakimi apa yang dilakukan oleh Ava, tapi setidaknya aku mengerti perasaannya. Perasaan kepada orang yang ia tahu tidak akan bisa selamanya dengannya. Aku pun juga menyadari ada yang tidak beres dalam sikap Ludi. Meskipun aku masih bertanya-tanya apa yang berbeda.
"Hidup itu emang nggak gampang, tapi juga nggak perlu diperumit. Kita harus jaga konstanitasnya, menjaga kesadaran kita tetap ada dalam kadar yang tepat." hlm. 290.
Dua hal yang kudapat dari novel ini sebenarnya. Yang pertama adalah mengenai rokok. Sebenarnya, aku pun juga hidup di sekitar orang-orang yang suka merokok. Asap-asap bernikotin itu sudah sering menyerang paru-paruku. Mungkin, dengan aku membaca novel ini, aku harus mulai berhati-hati terhadap asap rokok; dan yang kedua adalah mengenai toleransi beragama. Di novel ini, Rei mengajak kita untuk melihat lebih jauh mengenai perbedaan agama. Aku suka dengan cara pandang Rei yang menyatakan bahwa "Aku ibadah bukan karena takut, tapi karena aku ingin berkomunikasi dengan Tuhan." Betapa hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Menurutku, novel ini patut untuk dibaca. Sebagai bacaan ringan dan juga pengingat untuk kehidupan kita masing-masing. Bagiku, novel ini sangat berkesan karena berhasil membuatku menangis sedemikian rupa,

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Entrok
Tentang perempuan, kepercayaan, dan juga politik. Sebuah drama kehidupan yang terjadi di zaman patriarki nan otoriter.

Karya Okky Madasari

5 dari 5 bintang

Judul                           : Entrok: Sebuah Novel
Penulis                         : Okky Madasari
Ilustrasi dan sampul    : Restu Ratnaningtyas
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                 : April, 2010
Tebal buku                  : 288 halaman
ISBN                           : 978-979-22-5589-8
Pinjam di Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia.
Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?
Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.
Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata. 
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entrok dan Sekilas Cerita
Adalah Entrok. Secarik kain yang digunakan untuk menutup dada seorang perempuan. Di zaman sekarang ini, istilah bra atau beha lebih sering digunakan untuk menggantikan entrok. Saat pertama kali saya mendengar judul novel ini, saya mulai bertanya-tanya. Apa itu entrok? Istilah bahasa jawa apa itu? Barulah setelah saya membaca novel ini, saya mengerti apa artinya. Menurut saya, judul dari novel karangan Okky Madasari ini begitu menarik. Satu kata saja. Tapi, sudah membuat penasaran pembaca. Pemilihan judul ini pun ternyata bukan hal yang sembarangan. Entrok sendiri menjadi salah satu elemen vital dalam kehidupan kedua tokoh utama, yakni Marni dan Rahayu.
Bagi Marni, memiliki entrok adalah suatu hal yang sangat mahal. Terlahir dalam keluarga miskin, Marni hanya tahu bahwa saat perempuan bekerja, maka upah yang diberikan oleh pemberi kerja bukan berbentuk uang, melainkan berupa bahan makanan. Betapa tidak adilnya keadaan saat itu. Seiring dengan pertumbuhan tubuhnya yang semakin pesat, Marni menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Dadanya mulai membesar dan terasa tidak enak bila dibiarkan ngglawer-ngglawer. Maka dari itu, menentang perkataan dari Simbok, Marni akhirnya bekerja seperti laki-laki dengan nguli. Dengan pekerjaan itu, akhirnya Marni mendapat uang untuk membeli entrok. Akan tetapi, nyatanya Marni sadar bahwa ia harus berusaha keras untuk keluar dari jaring kemiskinan. Marni pun mulai bakulan dari modal yang ia dapat selama nguli. Sejak saat itulah, perekonomian Marni sedikit demi sedikit mulai naik. Sampai akhirnya, Marni dikenal sebagai juragan yang sukses di Singget. Sayangnya, kebahagiaan Marni tidaklah sempurna. Selain mempunyai suami, Teja, yang malas dan tidak setia, Marni terpaksa harus memiliki hubungan yang jauh dengan anaknya sendiri, Rahayu.
            Bagi Rahayu, ibunya, Marni, adalah sosok pendosa. Setiap hari, Marni memberikan utangan kepada seluruh pedagang yang ada di Pasar Ngraget dan mengambil untung sepuluh persen dari utangan yang diberikan. Kemudian, hampir setiap malam, Marni selalu memberikan sesajen kepada leluhur dan berdoa di bawah pohon. Rahayu merasa kalau ibunya sudah terlalu jauh dengan Gusti Allah. Gunjingan-gunjingan mengenai Marni pun sampai di telinga Rahayu. Maka dari itu, Rahayu semakin enggan untuk berhubungan dengan ibunya. Bahkan, Rahayu lebih memilih untuk memutuskan jalinan komunikasi di antara keduanya. Setelah menikah dengan seseorang yang lebih tua darinya, Amri, Rahayu memutuskan untuk mengikuti Amri dan tidak pernah kembali lagi ke Singget untuk menemui orang tuanya.
Sumber gambar: pinterest, disunting oleh saya,
Rumit, Rumit, dan Rumit: Perbenturan Berbagai Sisi Kehidupan
Bagi saya, Entrok merupakan karya yang sangat rumit. Sebaiknya, pembaca jangan terkecoh dengan sampul bergambar punggung seorang perempuan ini, karena, banyak sekali hal yang diungkap dalam Entrok. Berbagai macam perbenturan disajikan dalam novel bersampul sederhana ini. Mulai dari benturan budaya, agama, hingga politik. Jujur saja, saya merasa terkaget-kaget saat membaca Entrok. Selain ini pertama kalinya saya membaca karya Okky Madasari, Entrok juga—lagi-lagi—memberikan pandangan yang berbeda bagi saya atas sejarah Indonesia. Selama saya membaca Entrok, banyak sekali hal yang dapat dijadikan pelajaran. Bagaimana dulu seorang perempuan dianggap sangat rendah, masih banyak orang yang mempercayai kekuatan dari leluhur, hingga sisi kelam dari negeri ini selama masa pemerintahan Orde Baru.
           Melalui sudut pandang orang pertama, Okky Madasari membuat saya bisa menyelami perasaan Rahayu dan Marni. Meskipun sudut pandang yang digunakan bergantian dari sisi Marni dan Rahayu, alur dari novel ini menurut saya cukup rapi. Yaa, meskipun terkadang saya sempat tak menyadari bagian apa merupakan sudut pandang siapa. Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu menggangu saya.
            Seperti yang sudah saya nyatakan di atas, novel Entrok mengangkat berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1950-1990an. Secara tidak langsung, Entrok mencoba untuk menggambarkan konsep feminisme melalui tindakan Marni. Setidaknya, Marni mencoba membuka mata pembaca bahwa tanpa adanya tindakan, maka nasib seorang perempuan tidak akan kemana-mana. Sehingga, harus ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mendobrak tradisi yang sudah ada.
            Lalu, mengenai agama. Bagi saya, wajar bila ada seseorang yang tidak pernah mengenal agamanya sendiri. Bukankah agama yang diharuskan ditulis di KTP merupakan arahan dari pemerintah? Terlahir sebagai seseorang yang hanya tahu mengenai roh leluhur, tidak heran bila Marni tidak mengenal Gusti Allah. Hal ini pun diakui sendiri oleh Marni,
“Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?”
Tentunya, membaca kutipan tersebut, membuat saya menyadari bahwa bukan salah seseorang apabila ia tidak mengenal Tuhan. Sayangnya, terkadang orang lain yang merasa ‘terikat’ dengan Tuhan, malah mencemooh dan mencela. Menurut saya, dalam hal ini, Okky ingin menekankan bahwa orang Indonesia masihlah orang-orang yang terikat dengan budayanya. Sehingga, masih banyak adat-istiadat yang dilakukan. Jadi, apakah perlu orang-orang ini disalahkan atas keyakinan yang mereka miliki? Baiklah. Saya tidak akan banyak berkomentar.
            Terakhir adalah tentang salah satu aspek yang sangat sensitif menurut saya. Mengenai politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya politik di Indonesia banyak memiliki cacat. Penggambaran masa pemerintahan Orde Baru terasa menggelitik bagi saya. Bagaimana seseorang dianjurkan ‘secara halus’ untuk memilih partai tertentu. Lalu, pemberian semacam insentif ke pihak-pihak yang ‘berkuasa’—hal ini dilakukan oleh Marni bertahun-tahun untuk menghindari huru-hara. Betapa tidak jelasnya perpolitikan pada zaman itu! Setidaknya, dari Entrok saya memahami bahwa ada sisi-sisi kelam dari negeri ini. Hal seperti ini jugalah  yang membuat saya menyukai fiksi sejarah seperti Entrok.

Refleksi untuk Entrok
Secara keseluruhan, saya puas dengan Entrok. Saya cukup mendapatkan pelajaran dari novel setebal 288 halaman ini. Namun demikian, saya cukup menyayangkan elemen dari entrok itu sendiri. Meskipun saya mengatakan bahwa entrok merupakan salah satu hal yang vital dalam kisah Marni dan Rahayu, nyatanya, jiwa dari entrok ini sendiri tidaklah sampai akhir cerita. Tidak ada lagi pembahasan mengenai kata yang menjadi judul ini. Sayang sekali. Mungkin, apabila narasi mengenai entrok ini lebih dijabarkan, maka entrok di sini tidak akan kehilangan nyawanya.
           Terlepas dari kekurangan tersebut, saya masih tetap merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Meskipun sudah terbit lebih dari lima tahun yang lalu, novel ini masihlah relevan karena ada berbagai macam pelajaran yang dapat diambil. Bagi siapapun yang ingin memahami pergolakan sosial dalam masyarakat Indonesia, Entrok dapat menjadi pilihan untuk membuka wawasan Anda. 

Sincerely
Puji P. Rahayu
The Proposal of Love

Sebuah kisah klise yang direplikasi ulang dengan bumbu-bumbu politik

karya  Mayya Adnan

 2 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Waktu baca: 15-18 Februari 2017
Penulis: Mayya Adnan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal buku: 344 halaman
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-02-4525-6

Aira Maharani seorang gadis manis dan cerdas yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Konsultan Politik yang bertugas untuk mendampingi Vivian Mahesa selama jelang Pemilukada dihadapkan dengan tugas baru yang menjengkelkan. 

Dan itu berhubungan dengan Raditya Mahesa putra bungsu dari Reynaldi dan Vivian Mahesa, Raditya yang tampan, CEO Mahesa grup, playboy dan gemar bersenang-senang sering membuat keluarganya pusing bukan main. Selain itu apa tugas baru Aira?

Editor's Note
Ceritanya sangat aktual dan pas dengan konteks kekinian... pemilu, pemilukada... ditambah dengan roman yang mengduk-aduk emosi.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Pertemuan karena sebuah tabrakan? Well, terdengar teenlit sekali, ya? Tapi itulah adegan awal dari The Proposal of Love. The Proposal of Love merupakan novel debut dari Mayya Adnan. Sesungguhnya, aku sudah pernah membaca tulisan Mayya di wattpad. Dan jujur, aku suka dengan cara Mayya bercerita di wattpad. Jadi, aku berharap mendapatkan hal yang sama di novel ini.
Finding You Among the Stars

Siapkah kamu menerima pengganti orang yang telah hilang darimu?

karya  Eka Annisa

 2 dari 5 bintang


Waktu baca: 27 Januari 2017
Penulis: Eka Annisa
Penyunting: M. Aditiyo Haryadi
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 212 halaman
ISBN: 978-602-03-2754-9
Gramedia Writing Project

Bagi Nadhira, Reo adalah bintang yang selalu menerangi hidupnya. Saat cowok itu meninggal, hidup Nadhira menjadi gelap. Dia menjadi lebih tertutup dan enggan bersosialisasi. 

Sampai akhirnya Nadhira bertemu Haykel si mahasiswa menyebalkan di salah satu perpustakaan Jakarta. Herannya, cowok itu mengingatkan Nadhira pada Reo karena sama-sama menyukai alam semesta. Kemiripan itulah yang membuat hati Nadhira pelan-pelan terbuka.

Kedekatan Nadhira dan Haykel membuat Edgar—sahabat Reo—kesal. Bagaimanapun, Edgar lebih dulu menyukai Nadhira. Bahkan cowok itu rela melakukan apa pun demi Nadhira. Kegigihan Edgar pun membuat perasaan Nadhira goyah. 

Selain itu, Nadhira juga dihadapkan pada kenyataan menyakitkan tentang asal-usul Haykel, kehidupan Edgar, bahkan misteri kematian Reo


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Saat aku membaca Finding You Among The Stars, aku sama sekali tidak memiliki ekspektasi apa-apa. Ohh, baiklah. Aku sedikit berharap kalau novel ini setidak-tidaknya mirip dengan Starlight karya Dya Ragil. Tapi sayangnya, aku tidak menemukan hal yang sama dalam FYATS.