Imperfect
Ketika karier dan cinta berhadapan dengan jarum timbangan

Sumber: imdb.com
Judul: Imperfect
Sutradara: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Penulis Naskah: Meira Anastasia dan Ernes Prakasa
Pemain: Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandhi, Dion Wiyoko, Shareefa Daanish, Ernest Prakasa
Genre: Comedy, Drama
Durasi: 113 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp40.000,-
Being born fat and has dark skins, it feels like a curse for Rara, especially when she worked at the office that has surrounded by pretty girls. Her boss wants her to lose her weight, but there is a man who loves the way she were.
***

Menikmati film garapan Ernest Prakasa di akhir tahun memang bisa menjadi pilihan. Masih sejalan dengan film-film Ernest sebelumnya seperti Cek Toko Sebelah (2016) dan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018), Imperfect hadir sebagai film drama yang juga berbalut komedi. Secara konten yang ingin diangkat, saya cukup salut dengan usaha Ernest dan Meira. Membahas insecurity yang ternyata dialami oleh semua orang dalam film ini.

Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan

Ibu Siska, Rara, dan Dika. Sumber: hipwee.com
Rara (Jessica Mila) telah terlahir sebagai sosok yang gemuk dan berkulit hitam. Sebagaimana orang Indonesia yang suka nyinyir dan hanya sekadar melihat penampilan, tentu Rara diremehkan. Di rumah, sang mama (Karina Suwandhi), selalu mengingatkan Rara untuk menjaga berat badannya. Lama-kelamaan, Rara menjadi muak dengan seluruh perintah mamanya. 

Sedangkan sang adik, Lulu (Yasmin Napper), memiliki tubuh ideal dan kecantikan sang mama. Otomatis, ia menjadi anak 'kesayangan'. Rara merasa tidak pernah disayang oleh mamanya karena penampilan fisik yang ia miliki. Bagi Rara, ayahnya lah yang selalu mendukung dirinya apa adanya. Sayangnya, sejak ayahnya meninggal, Rara kesulitan menghadapi berbagai cibiran serta tatapan tak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

Untungnya, Rara memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya, Dika (Reza Rahadian). Bekerja sebagai fotografer, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan hati Rara. Ia tak peduli dengan penampilan Rara seperti apa, yang terpenting adalah kebaikan hati Rara. 

Sayangnya, kebahagiaan Rara terusik kala ia menemui masalah di Kantor. Setelah mundurnya Sheila (Cathy Sharon), salah seorang manajer di Malathi, Rara dihadapkan oleh kenyataan yang cukup pahit. Bagi Kelvin (Dion Wiyoko), bos Malathi, Rara lah yang seharusnya menggantikan posisi Sheila. Sayangnya, bagi Kelvin, otak saja tak cukup untuk menjalankan peran sebagai manajer di sebuah lini kosmetik seperti Malathi. Rara juga harus meyakinkan klien maupun investor melalui penampilannya. Dengan demikian, dimulailah upaya Rara untuk menjadi versi '"sempurna" di mata masyarakat. Menjadi cantik dan kurus. Iya, standar kecantikan yang terpatri begitu dalam di masyarakat umum.

Upaya membahas Insecurity dari berbagai sisi

Sumber: Canva & iconfinder.com, edited by me
Kalau boleh jujur, saya belum membaca novel karya Meira Anastasia yang menjadi dasar pembuatan film ini. Akan tetapi, saya merasa tersentil dengan beberapa bagian yang ditampilkan di dalam film. Pernyataan dari Kelvin dalam film ini semakin menegaskan bahwa di dunia yang patriarkis ini, stadar kecantikan seorang perempuan masih menjadi sandungan. Apabila ingin berhasil dalam berkarier, maka kamu harus memenuhi standar penampilan layak versi masyarakat.

Hal ini setidaknya pernah saya rasakan. Saya yang memang pada dasarnya malas dandan dan berpenampilan urakan, dipandang tidak sebaik kawan saya yang berpenampilan rapi dan berdandan. Yaa, akan tetapi kemudian saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa insecure karena hal yang demikian. Bukankah lebih baik mencari lingkup yang bisa menerima saya apa adanya dengan penampilan saya yang urakan? 

Akan tetapi, saya cukup salut dengan transformasi Rara, baik secara penampilan dan sifat. Di klimaks cerita pun, akhirnya terungkap bahwa masing-masing tokoh memiliki rasa insecure dalam diri mereka. Mereka merasa banyak sekali hal yang kurang dari diri mereka. Padahal, rasa kurang tersebut tidak akan ada apabila mereka melihat kekurangan yang mereka miliki menjadi suatu kelebihan. Kira-kira, menurut saya, hal inilah yang dicoba untuk digambarkan dalam film Imperfect. Mulai dari Rara yang tidak pede pada penampilannya, Lulu yang selalu memperhatikan komentar para netizen yang julidnya minta ampun, geng anak kosan dengan masalah mereka masing-masing, atau bahkan insecurity dari mama Rara. Semuanya ternyata menyimpan beban masing-masing tanpa pernah membagikannya pada orang lain.

Secara pribadi, sosok Dika di sini kurang-lebih cukup lovable--biasanya saya sudah lelah dengan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Reza. Akan tetapi, di sini saya merasa puas dengan karakter Dika. Tidak terlalu berlebihan dan bisa cukup memorable. Sosok Fey, sahabat Rara, yang diperankan oleh Shareefa Danish juga cukup mencuri perhatian. Saya suka dengan sikap bodo amat yang diperankan oleh Fey. Tak lupa, geng anak kosan juga menambah nilai komedi dalam film ini.

Secara keseluruhan, saya puas dengan menonton film ini. Saya rasa, film-film Indonesia telah mulai bangkit dan tentunya patut ditonton. Akan tetapi, apabila saya diminta membandingkan, tampaknya Milly & Mamet masih menjadi film garapan Ernerst favorit saya. Cek Toko Sebelah dan Imperfect menurut saya memang hadir sebagai suatu film pengingat. Dalam artian, pesan yang ingin disampaikan cukuplah dalam. Bukan sekadar drama dan komedi. Sedangkan, Milly & Mamet lebih merujuk pada sebuah film hiburan ringan yang membuat tertawa.

Kesimpulan

Tentu, saya akan merekomendasikan film ini sebagai pilihan ketika ingin menonton di bioskop. Film ini akan membuatmu tersenyum karena manisnya hubungan Rara dan Dika, tertawa karena tingkah laku geng anak kosan, atau menangis karena emosi yang dirasakan oleh Rara. Jadi, jangan lupa ya untuk tetap mendukung perfilman Indonesia yang tak pernah lelah berbenah diri.

Satu hal yang akan saya selalu ingat dari film ini adalah, menjadi sempurna belum tentu akan membuat dirimu bahagia. Maka dari itu, akan jauh lebih baik apabila kamu menjadi versi terbaik dari dirimu. Tanpa perlu menghakimi orang lain, jadilah seseorang yang menyenangkan dan berkesan.

4 bintang untuk kisah yang sungguh relatable dengan kehidupan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Knives Out
Nothing brings a family together like murder

resensi-film-knives-out
Knives Out (2019). Sumber: IMDb
Judul: Knives Out
Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemain: Daniel Craig, Crish Evan, Ana de Armas
Genre: Comedy, Crime, Drama
Durasi: 130 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp35.000,-

When renowned crime novelist Harlan Thrombey dies just after his 85th birthday, the inquisitive and debonair Detective Benoit Blanc arrives at his estate to investigate. From Harlan's dysfunctional family to his devoted staff, Blanc sifts through a web of red herrings and self-serving lies to uncover the truth behind Thrombey's untimely demise.
***

Bagi saya, menonton film detektif akan menjadi salah satu hal yang menarik. Sebagai pecinta kisah Sherlock Holmes, tentu saya sangat senang ketika mengetahui ada satu film mengenai detektif yang bukan Holmes maupun Poirot. Bukankah mengenal sosok detektif baru di industri ini akan sangat menarik?

Sinopsis

Keluarga Thrombey. Sumber: nme.com

Suatu hari, Harlan Thrombey (Christoper Plummer) ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Maka dari itu, sebuah investigasi dilakukan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada penulis novel misteri yang dikagumi di seantero kota

Film dimulai dengan adegan-adegan interogasi yang dilakukan oleh Letnan Elliott (LaKeith Stanfield). Interogasi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga Thrombey yang tersisa, mulai dari Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), putri pertama Harlan; Richard Drysdale (Don Johnson), suami Linda; Walt Thrombey (Michael Shannon), putra ketiga Harlan; Joni Thrombey (Toni Collette, istri putra kedua Harlan; Meg Thrombey (Katherine Langford), putri Joni, hingga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat utama Harlan.

Interogasi ulang tersebut nyatanya sedikit demi sedikit telah mengungkap jalan cerita asli kematian Harlan. Hal inilah yang berupaya diungkap oleh Benoit Blanc (Daniel Craig), detektif swasta yang disewa oleh seseorang yang tak dikenal. Bukan soal uang yang membuat Blanc tertarik mengungkap kasus ini, akan tetapi adanya keanehan-keanehan yang ia temui dari investigasi yang ia lakukan.

Menunggu Twist yang Tak Kunjung Muncul

Sumber: google.com, edited by me.

Tentu, saya sebagai seorang penonton film merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Knives Out adalah sesuatu yang baru. Dalam artian, mencoba untuk mengangkat sosok detektif selain Holmes dan Poirot merupakan hal yang sangat berani. Akan ada banyak orang yang membanding-bandingkan kemampuan Blanc dengan kedua detektif tadi. Meskipun demikian, menurut saya, Benoit Blanc di sini berhasil menciptakan karakternya sendiri. Sebagai seorang detektif, ia cukup menganalisis dari beberapa fakta yang ia temukan. Ia tak perlu show off sepeerti Holmes di tiap aksinya.

Kemudian, para pemainnya sendiri saya akui telah memiliki porsi yang baik. Mereka semua memiliki peran yang signifikan dalam keseluruhan jalan cerita. Bahkan, sosok K. Callan yang memerankan Grannana Wannetta cukup mencuri perhatian. Bahkan, menjadi kunci dari keseluruhan kasus.

Akan tetapi, entah mengapa saya tidak bisa menikmati Knives Out seperti orang-orang lain yang lebih dulu menonton. Saya merasakan adanya kejanggalan yang cukup membuat saya terusik. Sebagai contoh, saya mengharapkan adanya twist di bagian akhir film. Twist yang setidaknya membuat saya jaw dropping. Sayangnya, sama seperti pendapat kenalan saya, I keep waiting for the twist, but there is no any. 

Iya. Bagi saya, twist yang disajikan oleh Rian Johnson tidak cukup membuat saya tercengang-cengang. Bahkan, menurut saya hal tersebut sangat mudah tertebak. Merupakan suatu hal aneh apabila Ransom Drysdale yang diperankan oleh aktor sekelas Chris Evan, tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita ini. Sayangnya, menurut saya, twist ini tidaklah se-grande yang saya harapkan.

Kemudian, satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah teknik kilas balik yang digunakan oleh Rian Johnson. Saya masih setuju, kok, dengan bagaimana diceritakan kemungkinan-kemungkinan motif yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga Thrombey. Akan tetapi, saya merasa bahwa informasi yang digali dari Marta terlalu banyak. Hal inilah yang membuat saya mengharapkan suatu bentuk plot twist maha dahsyat di akhir. Unfortunately, hal tersebut tidak terjadi.

Kesimpulan

Detektif Benoit Blanc. Sumber: cinemablend.com

Banyak yang memberikan penilaian bagus untuk film ini. Bahkan, reviewer favorit saya di YouTube, Cine Crib, memberikan skor hampir sempurna. Akan tetapi, kala ini saya tidak sependapat. Menurut saya, meskipun cerita yang disajikan telah utuh dan bahkan menggunakan teori donat yang unik, plot twist besar di akhir cerita kurang begitu berkesan bagi saya.

Meski demikian, bukan berarti film ini menjadi tidak layak ditonton. Saya masih menyukai sense detektifnya dan juga para pemainnya. Film ini masih mampu membangkitkan kenangan-kenangan saya terhadap kisah-kisah detektif yang selalu menjadi favorit saya. Kemudian, saya juga sangat suka dengan setting rumah Keluarga Thrombey. Rumah itu betul-betul terlihat antik dan menarik.

3 bintang untuk sosok Benoit Blanc dan aksennya yang unik.

Best regards,
Puji P. Rahayu

Rumah Ilalang
Cinta boleh jadi menjadi urusan personal, akan tetapi kematian adalah urusan sosial.

Image: Goodreads
Judul: Rumah Ilalang
Penulis: Stebby Julionatan
Penerbit: Basabasi
Tebal buku: 136 halaman
Tahun terbit: 2019
Buntelan dari penulis

Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena--meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.
Usaha Tania memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi sahabatnya untuk dimakamkan dengan layak, mempertemukannya pada kenyataan yang lain. Tentang latar belakang keluarganya, tentang keluarga Gosvino—pria seminarian yang mati-matian dicintai Tabita, tentang kelamnya rasa iri di antara para waria dan tentang dunia yang semakin tak manusiawi.
Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagi saya, Rumah Ilalang adalah penyegar di tengah peliknya pembahasan isu SARA yang ada di Indonesia.

Kala itu, saya berkesempatan untuk mengulas buku terbaru karya Stebby Julionatan yang diterbitkan oleh Basabasi. Menilik sinopsisnya, tentu saya penasaran akan apa yang ingin diangkat oleh Stebby dalam buku dengan sampul bergambar peti mati itu.

Dia adalah Tabita. Seorang transgender yang begitu teguh memegang prinsipnya. Ketika sang ayah, Hanung Bramantyo, tak dapat menerima keadaan Tabita--yang bernama asli Alang dan diambil dari nama Ilalang, maka Tabita memutuskan untuk pergi dari rumah dan mulai menata kehidupannya dari awal. Beruntung ada Mami Nancy yang membantu Tabita untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan yang baru tersebut itulah, Tabita perlahan mulai memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Mulai dari orientasi seksualnya, identitas gender yang ia ilhami, agama, hingga hal sesuci cinta. 

Tentu tidak mudah bagi seorang Tabita untuk menjalani peran dalam hidupnya. Akan tetapi, yang namanya manusia, pasti pada akhirnya dapat menemui kesulitan. Itulah yang dialami Tabita. Impiannya untuk bisa hidup damai bersama dengan orang yang ia cintai menjadi angin belaka. Sekarang, tubuhnya telah terbujur kaku. Tiada lagi rasa hangat yang menguar darinya. Ia telah berpulang kepada Sang Pencipta.

Bagi Tania, Tabita adalah sahabat terbaiknya. Mendengar kabar bahwa Tabita meninggal dunia merupakan hal yang tak ia sangka. Belum kesedihan tersebut berakhir, Tania harus menghadapi kenyataan bahwa jenazah Tabita menemui masalah ketika akan dikuburkan. Tabita memang menyandang agama Islam. Hal itu jelas tertera di dalam kartu identitasnya. Akan tetapi, beberapa waktu terakhir semasa hidupnya, Tabitha rajin beribadah di gereja. Sayangnya, ia juga tak bisa dimakamkan secara Nasrani karena ia tidak terdaftar sebagai jemaat. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Tania?

***

Mengangkat tema yang sensitif seperti agama dan juga SOGI (Sexual orientation and gender identity) merupakan hal yang cukup jarang dilakukan oleh penulis di Indonesia. Apalagi, dengan semakin maraknya narasi-narasi "kebangsaan" dan "kaum mayoritas" yang selalu menghiasi berbagai kanal media. Rasanya memang tidak mungkin karya seperti Rumah Ilalang dapat betul-betul hadir di hadapan pembaca. Akan tetapi, nyatanya Stebby berhasil mengangkat isu tersebut dan menjadikan Rumah Ilalang sebagai pembelajaran.

Menggunakan alur flashback, Stebby mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan Tabitha. Namun demikian, Stebby tak hanya berfokus pada sudut pandang Tabita saja. Ia juga mengambil cerita dari sudut pandang Tania, Mami Nancy, orang tua Tabita, bahkan dari sudut pandang Gosvino, pria yang dikasihi oleh Tabita.

Memang penggunaan banyak sudut pandang ini membuat cerita sulit terfokus. Akan tetapi, dengan demikian, pembaca akan lebih memahami emosi dari masing-masing tokoh. Sekilas, saya melihat profil Stebby yang dulunya juga pernah menuliskan kumpulan puisi. Tak heran apabila bahasa yang ia gunakan cukup puitis dan juga mendayu. Bukanlah suatu masalah besar karena hal tersebut malah membuat cerita ini menarik dengan sendirinya.

Meskipun tipis, saya cukup menikmati kala membaca Rumah Ilalang ini. Ceirtanya mengalir tanpa bermaksud menggurui. Saya cukup salut dengan cara Stebby mengeksekusi akhir kisah Tabita. Ada sedikit plot twist yang tidak saya tebak ketika saya membacanya.

Saya tidak tahu apakah buku ini menjadi suatu hal yang kontroversial atau tidak--bagaimanapun isu yang diangkat lumayan sensitif bagi kaum yang merasa bahwa diri mereka benar itu. Akan tetapi, untuk pembaca yang gemar mendalami isu-isu ini, saya sarankan untuk sejenak membuka lembar demi lembar kisah Tabita ini. Saya rasa, sebagai sebuah perenungan, Rumah Ilalang telah berhasil menjalankan perannya.

Kalau untuk segi penyuntingan, nampaknya telah dibahas lebih lanjut oleh peresensi lain. Ya, saya juga setuju dengan beberapa pendapat mereka. But, I believe, Stebby can do more than this. Semoga ke depannya menjadi lebih baik :)

3 bintang untuk ketabahan Tabita dan juga Tania.

Kindly note:
I've got this book directly from the author, but unfortunately, I didn't realized that my landlady has received this book from more or less one month ago. After, Mas Dion reminded me to review this book, I tried to check it in the lobby of my rent room. Then, I found this book under other's package. So, I apologize for the delay review.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Review GoMassage ala saya. Ya, supaya kalian tahu kalau ini tidak dusta.

Dulu, setiap libur semester, saya selalu menyempatkan untuk pijat di tukang pijat langganan yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Oh ya, sekadar informasi, saya memang warga asli ibukota. Jadi, masa-masa ketika pulang ke kampung halaman itu menyenangkan. Bahkan, menjadi satu hal yang saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi hilang. Bukannya apa-apa. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya tidak punya kebebasan selayaknya ketika saya masih berkuliah untuk pulang ke rumah. Jadilah saya lama sekali tidak merasakan dipijat lagi. Sungguh hal yang membuat saya cukup rindu rumah.

Masih saya ingat kala itu saya memang sering kali pulang malam. Sampai di indekos pukul 11 saja sudah merupakan keajaiban--yaa, untungnya RUU KUHP belum disahkan. Bisa-bisa saya dihukum karena ngelayap di waktu selarut itu. Intinya, waktu itu pola hidup saya memang enggak sehat. Pulang malam, begadang untuk mempersiapkan bahan kerjaan untuk esok harinya, makan tidak teratur, dan tidak rajin pula berolahraga. Alhasil, saya pun ambruk. Iya. Saya jatuh sakit. Rasa-rasanya saya tak sanggup untuk sekadar bangun. Akan tetapi, setelah saya periksa, tidak ada hal serius yang menimpa saya. Hanya saja saya memang kecapekan.

Setelah saya lumayan pulih, saya jadi teringat, kira-kira, apakah ada alternatif untuk membuat tubuh saya menjadi lebih segar? Hmm. Akhirnya saya teringat kalau GoLife menyediakan layanan untuk pijat alias GoMassage. Jujur, saya enggak pernah punya bayangan apakah saya akan puas dengan layanan ini. Akhirnya, setelah saya mencoba bertanya pada kakak saya, serta mencari review GoMassage di mesin pencarian, saya pun menabahkan hati untuk mencoba memesan layanan ini.

Review-GoMassage
Image: Canva, edited by me.
Well, saya enggak akan memungkiri kalau saya sedikit harap-harap cemas waktu memesan. Takutnya saya kecewa nantinya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya ada mitra GoMassage yang menerima pesanan saya. Kemudian, kami berkomunikasi secara singkat sembari saya memberikan arahan kepada Mbak Mitra--mari kita sebut demikian untuk menjaga privasi mbaknya. Eheheh.

Sebelum menuju indekos saya, Mbak Mitra sempat menanyakan kepada saya, apa saya punya preferensi untuk lulur yang akan ia gunakan nantinya. Oh, iya, sekadar info, saya waktu itu memesan paket Full Body Massage & Scrub. Jadi, Mbak Mitra menanyakan preferensi saya. Jujur, saya enggak punya preferensi. Jadi, saya manut apa kata Mbak Mitra.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Mbak Mitra sampai ke Indekos saya. Dia pun menjelaskan secara singkat mekanisme kerja yang akan ia lakukan. Full Body Massage akan memakan waktu kurang lebih 60 menit, dan proses scrub akan memakan waktu selama 30 menit. Oh iya, kalian bisa memilih dengan bebas lho durasi yang kalian mau untuk setiap layanan yang kalian pesan. Jadi, layanan GoLife ini akan menyesuaikan dengan kenyamanan kalian.

Akhirnya, proses massage dan scrub pun dilakukan. Sembari mengobrol, saya merasakan nyamannya pijatan dari Mbak Mitra. Hmm. Seenggaknya, dengan ada layanan ini, saya enggak perlu lagi bingung mencari tukang pijat. Apalagi, saya juga bisa mendapat layanan scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang mungkin sudah menumpuk. Alhasil, setelah selesai proses massage dan scrub, badan saya terasa lebih ringan dan lemas. Belum lagi, saya merasa kotoran-kotoran yang ada di kulit saya telah terangkat. Pokoknya, saya merasa lebih nyaman.

Jadi, intinya, mengapa sih saya ingin menobatkan layanan GoMassage sebagai layanan asyik yang enggak dusta. Berikut beberapa alasannya.

1. Menyesuaikan keinginan pelanggan

Pada dasarnya, layanan GoMassage ini beragam. Enggak cuma full body massage (ini masuknya di Body Rejuvenation), tapi juga ada Reflexology, Beauty Massage, Service at Event, dan juga Mom & Kids Massage. Intinya sih, banyak pilihannya. Durasi dari layanan ini juga bisa disesuaikan dengan selera. Mau cuma 90 menit, atau bahkan 120 menit, disilakan.

Pilihan layanan GoMassage. Image: Tangkapan layar ponsel saya.


2. Bisa dipanggil kapan saja


Sering pulang malam dari kantor dan di hari Sabtu-Minggu banyak acara, tenang saja. Layanan GoMassage akan menyediakan layanan kapan saja. Jadi, kamu bisa memesan layanan ini di waktu senggang kamu.

3. Harga yang terjangkau

Oh, ayolah. Semua juga pasti mencari kriteria yang satu ini dari suatu layanan jasa. Saya juga termasuk di antaranya. Nah, beruntungnya, banyak lho voucher yang ditawarkan oleh GoLife untuk menikmati layanan GoMassage ini. Jadi, dijamin deh harganya terjangkau.

Nah, kalau ditanya, apakah saya akan melakukan pemesanan layanan ini kembali? Tentu, apalagi kalau tubuh saya rasanya sudah mau rontok. Saya butuh pijatan dari terapis handal dari GoMassage.

Sekian dari saya untuk review kali ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu