Showing posts with label Resensi Film. Show all posts
Showing posts with label Resensi Film. Show all posts

To All The Boys: P.S. I Still Love You
We promised to not break each other's hearts.


Sumber: News18

Judul: To All The Boys: P.S. I Still Love You
Genre: Drama, Romance
Tanggal rilis: 12 Februari 2020
Durasi: 101 menit
Sutradara: Michael Fimognari
Penlus naskah: Sofia Alvarez, J. Mills Goodloe
Pemain: Lana Condor, Noah Centineo, Jordan Fisher

Lara Jean and Peter have just taken their relationship from pretend to officially official when another recipient of one of her old love letters enters the picture.

***

Pertama, saya harus mengakui kalau saya tidak membaca novel karangan Jenny Han--atau setidaknnya belum. Jadi, saya akan menuliskan resensi film ini berdasarkan pengalaman saya menonton serial Netflix yang satu ini. Sejujurnya, film ini masih manis, kok. Dalam artian, porsi romansanya memang bertebaran, tapi tidak terlalu menganggu. Hanya saja, mungkin saya punya keinginan untuk menggampar Lara Jean.

Lara Jean dan Surat Cintanya


Setelah resmi berpacaran dengan Peter (Noah Centineo), Lara Jean (Lana Condor) mencoba menata kembali kehidupan sekolah menengahnya. Ia begitu bahagia saat betul-betul bisa menjadi pacar Peter. Akan tetapi, ternyata tiba-tiba saja Lara Jean mendapatkan surat balasan dari surat cintanya, yakni dari John Ambrose McLaren (Jordan Fisher).

Hal tersebut tentu membuat kehidupan percintaan Lara Jean dan Peter tak bisa berjalan dengan mulus. Belum lagi, mantan pacar Peter, Genevieve (Emilija Baranac), masih sering mendekati Peter. Pada titik itulah, Lara Jean tahu bahwa hidupnya sedang diuji. Terutama, kehidupan cintanya di sekolah menengah.

Yang saya suka dan tidak suka

Sumber: canva, edited by me

Sebagai sebuah sekuel, saya rasa konflik yang disajikan dalam To All The Boys: P.S. I Still Love You ini sangat sederhana. Bahkan, tak begitu melibatkan naik-turunnya emosi. Film ini berpotensi menjadi sebuah film roman remaja yang bisa dinikmati sambil tersenyum. Di film ini, saya suka karakter Peter yang caring. Setidaknya, ketika Lara Jean dan Peter harus bertengkar, tak ada adegan saling membentak yang memusingkan. Menurut saya, Lara Jean dan Peter berhasil membawa diri dengan baik.

Karakter John Ambrose, yang meskipun banyak yang dikritik karena tidak sesuai dengan penggambaran di novel Jenny Han, malah menurut saya mendapatkan porsi yang pas. Saya suka karakter dia yang perhtian pada Lara Jean dan bagaimana dia menghadapi konflik di depan mata.  Satu lagi karakter kesukaan saya adalah Stormy yang diperankan oleh Holland Taylor. Meskipun sebetulnya dia tak banyak mendapat porsi yang besar, saya tetap suka pembawaan Stormy dalam film ini.

Untuk hal yang tidak saya sukai lebih ke bagaimana Lara Jean menghadapi konflik. Dia terlalu insecure dan tidak mempercayai Peter. Padahal, jelas betul bahwa Peter betul-betul jatuh cinta padanya. Hal inilah yang membuat saya ingin menggampar Lara Jean. Maksud saya, apa sih yang kurang dari seorang Peter yang sangat gentle itu?

Lalu, di adegan paling awal, entah mengapa saya cukup terganggu dengan pilihan baju yang dipakai Lana Jean untuk kencan pertama. Menurut saya, karakter Lara Jean itu seharusnya lebih goody-girld-looking. Akan tetapi hal ini semata-mata hanya preferensi saya saja.

Kesimpulan


Saya sempat memberikan ulasan pendek di channel Telegram saya mengenai film ini.

Peter Kavinsky is very sweet and gentle. Lara Jean, somehow, is so damn annoying.  Smh. John Ambrose is cool. Kitty is funny. Dad is awkward. Stormy is lovable. The soundtrack is good. All of those make me want to read the whole series.

6.8/10 untuk Peter Kavinski dan John Ambrose yang gentle dan care.

Sincerely,
Ra

Sabtu Bersama Bapak
Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Genre: Drama
Tanggal rilis: 19 Mei 2016
Sutradara: Monty Tiwa
Penulis naskah: Adhitya Mulya
Pemain: Abimana Aryasatya, Deva Mahenra, Arifin Putra, Acha Septriasa, Ira Wibowo, Sheila Dara Aisha

It's a story about a young man looking for a love learning, about a man who learned to be a father and a good husband, about a mother who raised them with love and about father who left a message and promised to always be with them.

***

Saya memang tidak membaca novel Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Akan tetapi, saya cukup penasaran dengan film ini karena hype yang muncul beberapa tahun lalu. Saya ingin menekankan bahwa pesan yang disampaikan oleh film ini sudah cukup baik. Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat jalan dari film ini terganggu.

Tentang Sabtu Bersama Bapak


Suatu hari, Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mendapatkan kabar bahwa dirinya menderita kanker. Hal ini membuatnya sadar bahwa waktunya di dunia tidak akan lama lagi. Maka dari itu, Gunawan mempersiapkan segala-galanya sebelum kematian menjemput. Ia merekam sejumlah rekaman yang diinginkannya dilihat oleh kedua anaknya, Cakra (Deva Mahenra) dan juga Satya (Arifin Putra), ketika mereka tumbuh dewasa. Dengan dukungan dari Itje (Ira Wibowo), istri Gunawan, semua pesan yang dibuat Gunawa tersampaikan pada kedua anak tersebut setiap hari Sabtu.

Dari rekaman-rekaman itu, baik Cakra maupun Satya memegang teguh nasehat yang diajarkan oleh Gunawan. Akan tetapi, terkadang mereka terlalu keras pada diri sendiri sehingga Cakra terlalu keras dalam bekerja sampai lupa mencari pasangan, dan Satya terlalu saklek dengan rencana yang ia buat hingga ia harus bertengkar dengan istrinya (Acha Septriasa).

Di sisi lain, Itje mendapatkan kabar bahwa ia menderita kanker. Sama seperti suaminya dulu. Akan tetapi, ia enggan memberitahu keadaannya pada Cakra dan Satya. Kemudian, ketidaksengajaan membuat Cakra dan Satya mengetahui keadaan ibunya. Apa yang akan terjadi kemudian?

Yang saya suka dan tidak suka dari Sabtu Bersama Bapak

Sumber: canva, edited by me

Sebagai drama keluarga, saya rasa cerita yang disajikan oleh Adithya Mulya dan Monty Tiwa ini cukup berkesan. Pesanya pun sederha sehingga mudah ditangkap. Kerap kali, kita lupa bahwa kehidupan yang ada di depan kita juga merupakan hal yang penting. Tidak seharusnya kita hanya berpikir jauh ke depan tanpa peduli dengan apa yang terjadi sekarang. 

Para pemain dalam film ini pun cukup menjiwai perannya masing-masing. Setidaknya, Deva Mahenra dan Arifin Putra sebagai kakak-beradik lumayan believable. Sayangnya, saya harus menyetujui apa kata Joko Anwar. Pemain figuran dalam suatu film itu seharusnya juga dipikirkan porsinya. 

Saya cukup terganggu ketika melihat acting dari anak Arifin Putra dan Acha. Maafkan saya, tapi saya rasa acting mereka akan sangat jatuh bila dibandingkan dengan acting Arifin. Setahu saya, para aktor dan aktris cilik banyak yang memiliki kemampuan acting yang luar biasa. Sebagai contoh, Muzakki dalam film Gundala.

Jadi, sungguh sayang saat acting anak-anak ini terlihat sangat tidak natural. Padahal, film ini menekankan tentang keluarga. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Anyway, dulu ketika saya pertama kali melihat poster film ini, saya kira pekerjaan Deva Mahenra adalah guru. Ternyata bukan :3 Salahkan pakaian yang ia pakai dalam poster ini.

Kesimpulan


Secara cerita, saya memang cukup terhibur. Tapi bukan berarti film ini memiliki efek yang begitu wah. Terlepas dari apa yang saya sebutkan sebelumnya, film Sabtu Bersama Bapak ini masih layak ditonton sebagai film drama keluarga.

6.5 untuk kesan pertama Cakra terhadap Ayu :)

Sincerely,
Ra

Dolittle
We've no choice but to embark on this perilous journey.

Sumber: IMDb.com
Judul: Dolittle
Genre: Adventure, Comedy, Family
Sutradara: Stephen Gagan
Penulis Naskah: Stephen Gagan, Dan Gregor, Hugh Lofting, Doug Mand, Thomas Shepherd
Pemain: Robert Downey Jr., Antonio Banderas, Michael Sheen, Jim Broadbent, Jessie Buckley, Harry Collet, dan lainnya.
Durasi: 101 menit
Ditonton di Plaza Araya XXI, Malang

Dr. John Dolittle lives in solitude behind the high walls of his lush manor in 19th-century England. His only companionship comes from an array of exotic animals that he speaks to on a daily basis. But when young Queen Victoria becomes gravely ill, the eccentric doctor and his furry friends embark on an epic adventure to a mythical island to find the cure.
***

Seperti halnya kebiasaan saya saat pulang ke Malang, saya bertemu dengan sahabat saya dan kami memutuskan untuk menonton. Awalnya, saya berniat untuk menonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Visinema Pictures. Akan tetapi, setelah saya melihat jadwal film yang sedang tayang, saya girang bukan kepalang saat tahu Dolittle telah ditayangkan.

Tentang Dolittle

Kalau boleh jujur, saya sama sekali belum pernah menonton film tentang Dr. Dolittle sebelumnya. Jadi, saya tidak punya pandangan akan seperti kehidupan dokter yang eksentrik ini. Saya hanya sekadar tahu kalau Dr. Dolittle tinggal bersama para hewan di rumahnya. Bagaimana kehidupan dan apa pekerjaannya, tidak pernah saya ketahui.

Awalnya, Dr. John Dolittle (Robert Downey Jr.) hidup menyendiri bersama teman hewannya. Setelah istrinya, Lili Dolittle (Kasia Smutniak), menghilang di tengah perjalannya ke Pulau Eden. Akan tetapi, sang Ratu Inggris, Ratu Victoria (Jessie Buckley) yang masih muda jatuh sakit. Hal ini membuat Lady Rose (Carmel Laniado) berupaya untuk meminta bantuan Dolittle. Awalnya, Dolittle enggan untuk membantu sang Ratu Inggris. Akan tetapi, para teman hewannya mendorong Dolittle untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Di sisi lain, Tommy Stubbins (Harry Collett), dibesarkan oleh paman dan bibinya yang merupakan keluarga pemburu. Sayangnya, Stubbins merasa bahwa apa yang dilakukan oleh pamannya adalah benar. Ia merasa bahwa seharusnya hewan-hewan itu dilindungi. Suatu hari, Stubbins tak sengaja menembak seekor tupai. Berhubung ia tak tahu harus berbuat apa, datanglah Poly (suara diisi oleh Emma Thompson), burung kakaktua kawan Dolittle. Poly pun menuntun Stubbins menuju rumah Dolittle.

Kira-kira apakah yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana cara Dolittle menyelamatkan sang Ratu? Apa peran sesungguhnya dari Stubbins?

Cocok untuk anak-anak

Sumber: canva.com, edited by me
Menurut saya, film ini memang sengaja dibuat dengan target pasar anak-anak. Maka tak heran kalau interaksi antar hewan di dalamnya menjadi cukup ditonjolkan. Kalau ditanya, saya pun cukup puas dengan kekocakan para hewan. Mulai dari Chee-Chee (suara diisi oleh Rami Malek), si gorila yang kurang percaya diri, Yoshi (suara diisi oleh John Cena), si burung unta yang tak bisa berenang maupun terbang, dan juga Plimpton (suara diisi oleh Kumail Nanjiani). si beruang kutub yang selalu kedinginan.

Cerita yang disampaikan pun sebetulnya sangat sederhan, yakni bagaimana perjalanan Dolittle untuk mencari buah Eden. Buah yang diyakini bisa menjadi obat penawar sakitnya sang Ratu. Setidaknya, kalau film ini ditonton oleh anak-anak, akan mudah dicerna.

Sepertiga akhir film yang membosankan

Baiklah. Saya memang tidak mengharapkan film ini akan se-grande Iron Man. Akan tetapi, saya rasa sepertiga akhir dari film ini adalah bencana. Dalam artian, entahlah. Banyak sekali plot hole yang terasa di sini. Bahkan, saya berkali-kali berkomentar lirih bersama dengan teman saya, "lho? Cuma gitu, aja?". Menurut saya, penyelesaian konflik dalam film ini tidak tergali.

Kemudian, saya rasa, unsur adventure di sini kurang menantang. Jujur saja, teman saya sampai mengantuk saat menontonnya. Bisa dibilang, kurang bisa menarik perhatian penonton sepenuhnya ke dalam cerita yang disajikan.

Sungguh suatu hal yang patut disayangkan karena pada dasarnya sejumlah nama besar ikut terlibat dalam film ini. Seperti Tom Holland yang mengisi suara Jip, si anjing; Ralph Fiennes yang mengisi suara Barry, si harimau peliharaan King Rassouli; dan juga Octavia Spencer yang mengisi suara Dab-Dab, si bebek.

Kesimpulan

Kalau sekadar mencari film hiburan keluarga, Dolittle akan betul-betul menghiburmu. Akan tetapi, sebagai penonton dewasa, film ini dapat dibilang kurang memuaskan. Sedih, sih. Tapi mau bagaimana lagi?

6.5 bintang untuk Chee-Chee yang jadi favorit.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Marriage Story
I never really came alive for myself; I was only feeding his aliveness.

Marriage Story. Sumber: IMDb.com
Judul: Marriage Story
Genre: Comedy, Drama, Romace
Sutradara: Noah Baumbach
Penulis naskah: Noah Baumbach
Pemain: Adam Driver, Scarlett Johansson, Laura Dern
Durasi: 137 menit

A stage director and his actor wife struggle through a gruelling, coast-to-coast divorce that pushes them to their personal and creative extremes.
***

Memutuskan untuk menonton Marriage Story merupakan suatu hal yang.. yaa.. bukan depresif, sih. Lebih ke.. menarik untuk ditarik pembelajarannya. Bisa dibilang, Marriage Story berhasil menyajikan kisah drama rumah tangga yang sangat realistis. Tidak seperti film drama lainnya, Marriage Story betul-betul menggambarkan kehidupan rumah tangga yang jauh dari sempurna.

Tentang Marriage Story


Nicole (Scarlett Johannson) merupakan seorang aktris teater. Ia menikah dengan Charlie (Adam Driver) dan dikaruniai seorang anak bernama Henry (Azhy Robertson). Charlie sendiri adalah sutradara teater yang dimainkan oleh Nicole. Setelah menjalani kurang lebih lima tahun pernikahan, akhirnya pada satu titik, Nicole dan Charlie memutuskan untuk berpisah.

Keseluruhan proses perpisahan itulah yang dicoba ditampilkan dalam Marriage Story. Mulai dari ketika Nicole mulai menggunakan jasa Nora Fanshaw (Laura Dern) sebagai pengacaranya, Charlie yang harus bolak-balik New York dan Los Angeles untuk mengurus teaternya dan membagi waktu bersama anaknya, perjuangan masing-masing menghadapi proses perceraian, hingga bentuk kefrustrasian masing-masing.

Yang saya sukai dan tidak sukai dari Marriage Story


Sumber: pinterest.com, edited by me

Sebagai sebuah film drama romans, menurut saya Marriage Story berhasil mengambil sisi lain dari genre itu sendiri. Dikatakan bahwa pada dasarnya, Noah Baumbach mengambil cerita ini dari kisahnya sendiri. Itulah yang menyebabkan film ini terasa sangat personal. Dalam penceritaannya, memang tidak ada suatu konflik yang begitu dahsyat di antara Nicole dan Charlie. Akan tetapi, saya bisa melihat bahwa, pada akhirnya seseorang dapat merasa lelah dan capek dengan keadaan yang mereka miliki.

Akan tetapi, dengan durasi yang menyentuh dua setengah jam, jujur saja alur film ini cukup lambat. Saya memang penasaran dengan akhir cerita, akan tetapi lambatnya alur membuat saya sedikit terganggu. Lalu, apabila disebutkan bahwa film ini memiliki genre komedi, jujur komedi yang ditampilkan hanyalah beberapa kilas saja. Bukanlah unsur yang dominan dalam film ini.

Yang saya pelajari


Film ini seolah menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga itu bukanlah suatu hal yang sempurna. Akan ada banyak celah di dalamnya. Ketika dua orang yang betul-betul sempurna memilih untuk tidak bersatu, ya mungkin hal itulah yang akan terjadi. Tak ada satupun hal yang bisa membuat kedua orang tersebut tetap bersama meskipun masih ada perasaan yang tertinggal apabila memang sudah ada yang terluka.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Charlie bernyanyi. Entah mengapa, saya bisa betul-betul melihat kefrustrasian Charlie. Bagaimana ia telah menghabiskan waktu, tenaga, dan juga materi untuk menjalani proses perceraiannya dengan Nichole. Sedangkan untuk Nichole, saya masih menyukai karakternya, tapi saya menyayangkan porsi dirinya bersama dengan Henry tidak terlalu terekspos.

Terakhir, adalah adegan klimaks yang berhasil memporak-porandakan emosi saya ketika menonton film ini. Di situlah terungkap betapa kedua orang yang dulunya saling mengerti, bisa saling tidak mempercayai pada akhirnya.

Kesimpulan


Saya mengakui bahwa film ini sangatlah realistis. Akan tetapi, entahlah, mungkin karena saya tidak memiliki experience yang sama dengan tokohnya, saya tidak merasakan emosinya yang begitu dalam. Meski demikian, saya menyarankan kalian untuk menonton film ini. Bagaimanapun, kalian harus menyadari bahwa kehidupan rumah tangga bukan hanya soal bagaimana saya dapat berbahagia dengan pasangan saya, tapi bagaimana saya bisa tetap mengaktualisasikan diri ketika saya telah menikah.

7 dari 10 bintang untuk lagu yang dinyanyikan Charlie.

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Howl's Moving Castle
Sorry, I've had enough of running away, Sophie. Now, I've got something I want to protect. It's you. -- Howl.

Sumber: IMDb.com
Judul: Howl's Moving Castle
Judul asli: Hauru No Ugoku Shiro
Durasi: 119 menit
Genre: Animation, Adventure, Family
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis: Hayao Miyazaki, Diana Wynne Jones (novel)

When an unconfident young woman is cursed with an old body by a spiteful witch, her only chance of breaking the spell lies with a self-indulgent yet insecure young wizard and his companions in his legged, walking castle.

***

Howl's Moving Castle merupakan satu dari sekian film keluaran Studio Ghibli. Sejauh yang saya tahu, film ini mungkin tidak seheboh film Ghibli lainnya seperti My Neighbor Totoro dan Spirited Away. Akan tetapi, saya tetap menyukai cerita yang dibawa oleh Diana Wynne Jones yang diadaptasi oleh Hayao Miyazaki ini.

Sekilas Tentang Howl's Moving Castle


Kastil bergerak milik Howl. Sumber: getwallpapers.com

Sophie merupakan seorang perempuan muda yang kurang memiliki kepercayaan diri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembuat topi di salah satu toko topu. Suatu ketika, Sophie hendak pulang ke rumahnya. Akan tetapi, dua orang prajurit mengganggu dirinya. Saat itulah, sesosok pemuda datang menyelamatkan Sophie. Ternyata, pemuda tersebut memiliki kuatan sihir yang tak pernah Sophie duga.

Ketika ia kembali ke toko topinya, datanglah seorang penyihir jahat yang memberikan mantra kepada Sophie. Karena mantra tersebut, Sophie pun menua. Jujur, Sophie tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan wujudnya. Berhubung ia tahu ia tak bisa tinggal di tempat asalnya tanpa ditanyai lebih lanjut, Sophie pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kota.

Di sisi lain, di kota tersebut, ada sebuah gosip yang menyebutkan bahwa di tengah-tengah padang bukit, ada sebuah kastil yang bergerak. Kastil tersebut dimiliki oleh seorang penyihir bernama Howl. Tak ada yang berani untuk mendekati kastil tersebut. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk Sophie. Dibantu oleh Turnip si orang-orangan sawah, akhirnya Sophie masuk ke dalam kastil tersebut dan bertemu dengan Mark dan Calcifer. Sejak saat itu, Sophie mengetahui siapa sebenarnya Howl dan mengapa peperangan yang terjadi di kotanya terus terjadi.

Apakah Sophie akan kembali ke wujud semulanya? Apakah Howl akan membantu Sophie?

Premis yang menjanjikan tapi...


Sumber: wallpaper-mania.com, edited by me
Saya tak memungkiri kalau saya tertarik menonton film ini karena film ini adalah keluaran dari Studio Ghibli. Saya ingin mengetahui lebih lanjut cerita dari Sophie dan Howl. Awalnya, saya menyukai premis yang ditawarkan. Bagaimana Sophie yang berubah menjadi tua dan terus berusaha meskipun fisiknya membatasi ruang geraknya.

Sosok Howl pun menurut saya cukup lovable. Apalagi, memang ada rahasia kelam di balik sosok Howl. Akan tetapi, saya rasa banyak hal yang menjadi pertanyaan ketika penyelesaian dari film ini mulai terungkap.

Saya masih kurang mengerti mengapa tiba-tiba Sophie bisa kembali muda. Tak ada petunjuk apa yang sebetulnya bisa memecahkan mantra yang ditanamkan pada diri Sophie. Kemudian, saya masih tak mengerti mengapa pada akhirnya Madam Sullivan memutuskan untuk menghentikan perang setelah Howl, Sophie, dan yang lain berhasil bertahan. Saya masih tidak mengerti apa korelasinya.

Kemudian, bagi saya, kisah Howl yang bisa berubah menjadi monster juga tidak dijelaskan secara mendetail. Saya tahu sering kali Hayao Mayazaki menggunakan metafora-metafora untuk menyampaikan kritik, tapi, untuk film ini saya rasa.. memang banyak hal yang tidak dijelaskan. Otomatis, membuat saya bertanya-tanya. Atau pada dasarnya saya yang tidak memperhatikan detail dari filmnya?

Kesimpulan


Howl dan Sophie. Sumber: HDWallpaper.nu
Bagi saya, Howl's Moving Castle tetap bisa mengikat penonton. Saya suka karakter-karakter seperti Mark yang menjadikan suasana menjadi lebih ceria. Bahkan, saya menyukai Calcifer, si api yang suka menggerutu itu. Akan tetapi, saya merasa kurang puas dengan penyelesaian konflik yang disajikan.

Meskipun demikian, dari film ini saya belajar bahwa cinta itu memang tidak akan memandang penampilan seseorang. Meskipun kita menjadi menua atau lainnya, apabila kita tetap menjadi versi terbaik dari diri kita, cinta akan tetap ada di sana. Layaknya cinta yang dicurahkan Sophie pada Howl dan sebaliknya.

3 dari 5 bintang untuk Heen, si anjing yang keberatan badan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu


Imperfect
Ketika karier dan cinta berhadapan dengan jarum timbangan

Sumber: imdb.com
Judul: Imperfect
Sutradara: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Penulis Naskah: Meira Anastasia dan Ernes Prakasa
Pemain: Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandhi, Dion Wiyoko, Shareefa Daanish, Ernest Prakasa
Genre: Comedy, Drama
Durasi: 113 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp40.000,-
Being born fat and has dark skins, it feels like a curse for Rara, especially when she worked at the office that has surrounded by pretty girls. Her boss wants her to lose her weight, but there is a man who loves the way she were.
***

Menikmati film garapan Ernest Prakasa di akhir tahun memang bisa menjadi pilihan. Masih sejalan dengan film-film Ernest sebelumnya seperti Cek Toko Sebelah (2016) dan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018), Imperfect hadir sebagai film drama yang juga berbalut komedi. Secara konten yang ingin diangkat, saya cukup salut dengan usaha Ernest dan Meira. Membahas insecurity yang ternyata dialami oleh semua orang dalam film ini.

Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan

Ibu Siska, Rara, dan Dika. Sumber: hipwee.com
Rara (Jessica Mila) telah terlahir sebagai sosok yang gemuk dan berkulit hitam. Sebagaimana orang Indonesia yang suka nyinyir dan hanya sekadar melihat penampilan, tentu Rara diremehkan. Di rumah, sang mama (Karina Suwandhi), selalu mengingatkan Rara untuk menjaga berat badannya. Lama-kelamaan, Rara menjadi muak dengan seluruh perintah mamanya. 

Sedangkan sang adik, Lulu (Yasmin Napper), memiliki tubuh ideal dan kecantikan sang mama. Otomatis, ia menjadi anak 'kesayangan'. Rara merasa tidak pernah disayang oleh mamanya karena penampilan fisik yang ia miliki. Bagi Rara, ayahnya lah yang selalu mendukung dirinya apa adanya. Sayangnya, sejak ayahnya meninggal, Rara kesulitan menghadapi berbagai cibiran serta tatapan tak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

Untungnya, Rara memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya, Dika (Reza Rahadian). Bekerja sebagai fotografer, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan hati Rara. Ia tak peduli dengan penampilan Rara seperti apa, yang terpenting adalah kebaikan hati Rara. 

Sayangnya, kebahagiaan Rara terusik kala ia menemui masalah di Kantor. Setelah mundurnya Sheila (Cathy Sharon), salah seorang manajer di Malathi, Rara dihadapkan oleh kenyataan yang cukup pahit. Bagi Kelvin (Dion Wiyoko), bos Malathi, Rara lah yang seharusnya menggantikan posisi Sheila. Sayangnya, bagi Kelvin, otak saja tak cukup untuk menjalankan peran sebagai manajer di sebuah lini kosmetik seperti Malathi. Rara juga harus meyakinkan klien maupun investor melalui penampilannya. Dengan demikian, dimulailah upaya Rara untuk menjadi versi '"sempurna" di mata masyarakat. Menjadi cantik dan kurus. Iya, standar kecantikan yang terpatri begitu dalam di masyarakat umum.

Upaya membahas Insecurity dari berbagai sisi

Sumber: Canva & iconfinder.com, edited by me
Kalau boleh jujur, saya belum membaca novel karya Meira Anastasia yang menjadi dasar pembuatan film ini. Akan tetapi, saya merasa tersentil dengan beberapa bagian yang ditampilkan di dalam film. Pernyataan dari Kelvin dalam film ini semakin menegaskan bahwa di dunia yang patriarkis ini, stadar kecantikan seorang perempuan masih menjadi sandungan. Apabila ingin berhasil dalam berkarier, maka kamu harus memenuhi standar penampilan layak versi masyarakat.

Hal ini setidaknya pernah saya rasakan. Saya yang memang pada dasarnya malas dandan dan berpenampilan urakan, dipandang tidak sebaik kawan saya yang berpenampilan rapi dan berdandan. Yaa, akan tetapi kemudian saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa insecure karena hal yang demikian. Bukankah lebih baik mencari lingkup yang bisa menerima saya apa adanya dengan penampilan saya yang urakan? 

Akan tetapi, saya cukup salut dengan transformasi Rara, baik secara penampilan dan sifat. Di klimaks cerita pun, akhirnya terungkap bahwa masing-masing tokoh memiliki rasa insecure dalam diri mereka. Mereka merasa banyak sekali hal yang kurang dari diri mereka. Padahal, rasa kurang tersebut tidak akan ada apabila mereka melihat kekurangan yang mereka miliki menjadi suatu kelebihan. Kira-kira, menurut saya, hal inilah yang dicoba untuk digambarkan dalam film Imperfect. Mulai dari Rara yang tidak pede pada penampilannya, Lulu yang selalu memperhatikan komentar para netizen yang julidnya minta ampun, geng anak kosan dengan masalah mereka masing-masing, atau bahkan insecurity dari mama Rara. Semuanya ternyata menyimpan beban masing-masing tanpa pernah membagikannya pada orang lain.

Secara pribadi, sosok Dika di sini kurang-lebih cukup lovable--biasanya saya sudah lelah dengan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Reza. Akan tetapi, di sini saya merasa puas dengan karakter Dika. Tidak terlalu berlebihan dan bisa cukup memorable. Sosok Fey, sahabat Rara, yang diperankan oleh Shareefa Danish juga cukup mencuri perhatian. Saya suka dengan sikap bodo amat yang diperankan oleh Fey. Tak lupa, geng anak kosan juga menambah nilai komedi dalam film ini.

Secara keseluruhan, saya puas dengan menonton film ini. Saya rasa, film-film Indonesia telah mulai bangkit dan tentunya patut ditonton. Akan tetapi, apabila saya diminta membandingkan, tampaknya Milly & Mamet masih menjadi film garapan Ernerst favorit saya. Cek Toko Sebelah dan Imperfect menurut saya memang hadir sebagai suatu film pengingat. Dalam artian, pesan yang ingin disampaikan cukuplah dalam. Bukan sekadar drama dan komedi. Sedangkan, Milly & Mamet lebih merujuk pada sebuah film hiburan ringan yang membuat tertawa.

Kesimpulan

Tentu, saya akan merekomendasikan film ini sebagai pilihan ketika ingin menonton di bioskop. Film ini akan membuatmu tersenyum karena manisnya hubungan Rara dan Dika, tertawa karena tingkah laku geng anak kosan, atau menangis karena emosi yang dirasakan oleh Rara. Jadi, jangan lupa ya untuk tetap mendukung perfilman Indonesia yang tak pernah lelah berbenah diri.

Satu hal yang akan saya selalu ingat dari film ini adalah, menjadi sempurna belum tentu akan membuat dirimu bahagia. Maka dari itu, akan jauh lebih baik apabila kamu menjadi versi terbaik dari dirimu. Tanpa perlu menghakimi orang lain, jadilah seseorang yang menyenangkan dan berkesan.

4 bintang untuk kisah yang sungguh relatable dengan kehidupan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu


Knives Out
Nothing brings a family together like murder

resensi-film-knives-out
Knives Out (2019). Sumber: IMDb
Judul: Knives Out
Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemain: Daniel Craig, Crish Evan, Ana de Armas
Genre: Comedy, Crime, Drama
Durasi: 130 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp35.000,-

When renowned crime novelist Harlan Thrombey dies just after his 85th birthday, the inquisitive and debonair Detective Benoit Blanc arrives at his estate to investigate. From Harlan's dysfunctional family to his devoted staff, Blanc sifts through a web of red herrings and self-serving lies to uncover the truth behind Thrombey's untimely demise.
***

Bagi saya, menonton film detektif akan menjadi salah satu hal yang menarik. Sebagai pecinta kisah Sherlock Holmes, tentu saya sangat senang ketika mengetahui ada satu film mengenai detektif yang bukan Holmes maupun Poirot. Bukankah mengenal sosok detektif baru di industri ini akan sangat menarik?

Sinopsis

Keluarga Thrombey. Sumber: nme.com

Suatu hari, Harlan Thrombey (Christoper Plummer) ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Maka dari itu, sebuah investigasi dilakukan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada penulis novel misteri yang dikagumi di seantero kota

Film dimulai dengan adegan-adegan interogasi yang dilakukan oleh Letnan Elliott (LaKeith Stanfield). Interogasi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga Thrombey yang tersisa, mulai dari Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), putri pertama Harlan; Richard Drysdale (Don Johnson), suami Linda; Walt Thrombey (Michael Shannon), putra ketiga Harlan; Joni Thrombey (Toni Collette, istri putra kedua Harlan; Meg Thrombey (Katherine Langford), putri Joni, hingga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat utama Harlan.

Interogasi ulang tersebut nyatanya sedikit demi sedikit telah mengungkap jalan cerita asli kematian Harlan. Hal inilah yang berupaya diungkap oleh Benoit Blanc (Daniel Craig), detektif swasta yang disewa oleh seseorang yang tak dikenal. Bukan soal uang yang membuat Blanc tertarik mengungkap kasus ini, akan tetapi adanya keanehan-keanehan yang ia temui dari investigasi yang ia lakukan.

Menunggu Twist yang Tak Kunjung Muncul

Sumber: google.com, edited by me.

Tentu, saya sebagai seorang penonton film merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Knives Out adalah sesuatu yang baru. Dalam artian, mencoba untuk mengangkat sosok detektif selain Holmes dan Poirot merupakan hal yang sangat berani. Akan ada banyak orang yang membanding-bandingkan kemampuan Blanc dengan kedua detektif tadi. Meskipun demikian, menurut saya, Benoit Blanc di sini berhasil menciptakan karakternya sendiri. Sebagai seorang detektif, ia cukup menganalisis dari beberapa fakta yang ia temukan. Ia tak perlu show off sepeerti Holmes di tiap aksinya.

Kemudian, para pemainnya sendiri saya akui telah memiliki porsi yang baik. Mereka semua memiliki peran yang signifikan dalam keseluruhan jalan cerita. Bahkan, sosok K. Callan yang memerankan Grannana Wannetta cukup mencuri perhatian. Bahkan, menjadi kunci dari keseluruhan kasus.

Akan tetapi, entah mengapa saya tidak bisa menikmati Knives Out seperti orang-orang lain yang lebih dulu menonton. Saya merasakan adanya kejanggalan yang cukup membuat saya terusik. Sebagai contoh, saya mengharapkan adanya twist di bagian akhir film. Twist yang setidaknya membuat saya jaw dropping. Sayangnya, sama seperti pendapat kenalan saya, I keep waiting for the twist, but there is no any. 

Iya. Bagi saya, twist yang disajikan oleh Rian Johnson tidak cukup membuat saya tercengang-cengang. Bahkan, menurut saya hal tersebut sangat mudah tertebak. Merupakan suatu hal aneh apabila Ransom Drysdale yang diperankan oleh aktor sekelas Chris Evan, tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita ini. Sayangnya, menurut saya, twist ini tidaklah se-grande yang saya harapkan.

Kemudian, satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah teknik kilas balik yang digunakan oleh Rian Johnson. Saya masih setuju, kok, dengan bagaimana diceritakan kemungkinan-kemungkinan motif yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga Thrombey. Akan tetapi, saya merasa bahwa informasi yang digali dari Marta terlalu banyak. Hal inilah yang membuat saya mengharapkan suatu bentuk plot twist maha dahsyat di akhir. Unfortunately, hal tersebut tidak terjadi.

Kesimpulan

Detektif Benoit Blanc. Sumber: cinemablend.com

Banyak yang memberikan penilaian bagus untuk film ini. Bahkan, reviewer favorit saya di YouTube, Cine Crib, memberikan skor hampir sempurna. Akan tetapi, kala ini saya tidak sependapat. Menurut saya, meskipun cerita yang disajikan telah utuh dan bahkan menggunakan teori donat yang unik, plot twist besar di akhir cerita kurang begitu berkesan bagi saya.

Meski demikian, bukan berarti film ini menjadi tidak layak ditonton. Saya masih menyukai sense detektifnya dan juga para pemainnya. Film ini masih mampu membangkitkan kenangan-kenangan saya terhadap kisah-kisah detektif yang selalu menjadi favorit saya. Kemudian, saya juga sangat suka dengan setting rumah Keluarga Thrombey. Rumah itu betul-betul terlihat antik dan menarik.

3 bintang untuk sosok Benoit Blanc dan aksennya yang unik.

Best regards,
Puji P. Rahayu

Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu



Athirah
Menceritakan sebuah ketegaran yang dibangun untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan dan juga ibu.

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis Naskah: Salman Aristo, Riri Riza
Perusahaan Produksi: Miles Film
Tanggal Rilis: 29 September 2016
Pemain: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Tika Bravani, Jajang C. Noer, Andreuw Parinussa, Arman Dewarti
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Athirah, karya Alberthiene Endah
Ditonton di Kineforum, Dewas Kesenian Jakarta
Harga tiket: Rp20.000,-

Kehidupan Athirah goyah ketika suaminya mengawini perempuan lain. Dalam lingkup budaya yang memungkinkan ini terjadi dan tanpa ruang bagi perempuan untuk bisa menolak, Athirah bergulat melawan perasaannya demi mempertahankan keutuhan keluarganya. Sementara itu, anak laki laki tertuanya, Ucu, tidak tahu pada siapa ia harus berpihak. Ibunya adalah orang yang dicintainya, penuh kesabaran dan kebaikan hati, sementara Bapaknya tetap menjadi sosok yang ia kagumi

***

Baiklah, sebelum saya menjelaskan bagaimana pendapat saya mengenai Athirah, saya akan menceritakan terlebih dahulu awal mula saya bisa menonton film ini. Pada dasarnya, saya tidak memiliki bayangan apa-apa dalam hal menonton biografi ibunda Jusuf Kalla ini. Bermula dari satu ajakan singkat dari teman saya--Nurul--untuk jalan-jalan di malam minggu.

"Puj, ayo ke Bogor!"
Awalnya, saya bingung. Mau kemana kalau ke Bogor? Punya tempat tujuan pun tidak. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk ke Jakarta. Bersama dengan adik kelas Nurul--Adit, kami pun mulai menaiki kereta tanpa arah yang jelas. Pilihan kami untuk menghibur diri ada dua, ke Kineforum atau Teater Salihara. Setelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, akhirnya kami memilih ke Kineforum.

Apa itu Kineforum?

Kineforum merupakan bioskop alternatif yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai ajang menonton, terkadang juga terdapat diskusi lebih lanjut di sana. Setahu saya, terkadang Kineforum menghadirkan orang-orang tertentu dalam diskusi yang diadakan.

KINEFORUM adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program film sekaligus diskusi tentang film. Film-film yang diputar adalah film-film yang bisa menjadi alternatif tontonan bagi publik. Mulai dari film klasik maupun kontemporer, film panjang maupun pendek, film luar maupun dalam negeri, dan juga film-film dari non arus utama. Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.--deskripsi dari situs resmi Kineforum.
Dengan demikian, Kineforum merupakan bioskop yang tidak biasa. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya menonton di Kineforum. Tentunya, saya tidak kecewa dengan pelayanan di sana. Oh, ya. Kalau ingin menonton, tidak perlu reservasi. Langsung saja datang ke Kineforum--letaknya di belakang XXI TIM. Untuk pembelian tiket bisa dilakukan satu jam sebelum film diputar. Pst, segera ya kalau mau dapat tiketnya. Karena hanya ada 35 tempat duduk yang tersedia.

Tentang Athirah

Pada dasarnya, saya belum membaca novel karya Mbak AE ini. Oke, saya tahu kalau beliau ini 'jagonya' membuat biografi. Sebagai contoh adalah Mimpi Sejuta Dolar yang mengisahkan cerita hidup Merry Riana. Memang ada sih keinginan untuk membacanya. Tapi, nanti.

Berhubung saya ini menonton filmnya saja, jadi mungkin bagian visualnya yang akan banyak saya ceritakan. Film dibuka dengan adegan perpindahan Athirah (Cut Mini) bersama suaminya ke Makasar. Suaminya, Puang Aji (Arman Dewarti), merupakan seorang saudagar. Ia melakukan jual beli ke berbagai pembeli di dalam maupun luar kota. Hidup keduanya terlihat baik-baik saja. Mereka telah memiliki tiga anak, salah satunya adalah Ucu (Christoffer Nelwan)--anak laki-laki tertua di keluarga tersebut.

Suatu ketika, Athirah merasa kalau ada yang berubah dari suaminya. Terbukti dari jarangnya lelaki itu di rumah serta perubahan-perubahan minor yang disadari oleh Athirah. Beberapa rumor mengembus dan terdengar telinga Athirah, Puang Aji akan menikah lagi. Dalam kebudayaan Bugis, hal ini bukanlah hal yang tidak biasa, Seseorang memiliki lebih dari satu istri tidak menjadi masalah. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan, tentu saja Athirah merasa tersakiti. Ia terkadang pilu saat menyadari suaminya jarang pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di rumah istri keduanya. 

Untuk mengatasi kesedihannya, Athirah, dibantu oleh ibunya, Mak Kerah (Jajang C. Noer), akhirnya berusaha berbisnis kain tenun. Sedikit demi sedikit, Athirah mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Satu-satunya yang mengetahui usaha Athirah ini adalah Ucu. Sebagai anak pertama, Ucu memang dekat dengan ibunya. Tidak heran bila Athirah mempercayai Ucu akan rahasianya.

Krisis tahun 1960-an membuat perekonomian Indonesia stagnan. Hal ini pun juga memengaruhi kehidupan Athirah dan keluarganya. Perusahaan yang mulai bangkrut, pedagang yang gulung tikar, hingga pengrajin yang berhenti bekerja. Lalu, sampai di situ sajakah perjuangan Athirah dalam menghadapi hidup? 

Sumber gambar: Kapanlagi
***
Menurut saya, cerita yang disajikan dalam thirah begitu sederhana. Cerita mengenai perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi hidup dimadu. Unsur budaya dalam cerita ini begitu kuat. Terlihat dari penggunaan bahasa Makasar untuk keseluruhan film, lagu-lagu yang dinyanyikan, dan juga musik-musik yang diperdengarkan. Bagi saya, lagu dan musiknya bagus. Saya jadi penasaran dengan lagunya. 

Secara visual, pengambilan gambarnya bagus. Saya tidak kecewa saat harus menontonnya dari bangku paling depan. Banyak detail yang dicoba untuk diperlihatkan oleh Riri Riza. Sayangnya, terkadang detail-detail tersebut membuat cerita dari film ini sendiri menjadi terpotong. Seolah-olah, adegan yang disajikan tidak berhubungan satu sama lain. Sayang sekali. 

Untuk pendalaman karakter sendiri, saya cukup trenyuh saat melihat akting dari Cut Mini. Dia benar-benar bisa menjiwai Athirah. Jujur saja, saya suka dengan penampilan Cut Mini. Kemudian, akting dari Jajang C. Noer memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan pengalaman di dunia film yang cukup luar biasa, membuat akting Jajang begitu memukau dan sangat menyenangkan untuk dilihat. Terakhir, ada akting Christoffer Nelwan yang membuat saya sakit perut karena tertawa.

Terlepas dari kekurangannya di sana-sini, menurut saya film ini masihlah layak untuk ditonton. Dan, pada akhirnya membuat saya penasaran dengan novelnya. Mungkin, lain kali saya akn membaca novelnya dan membandingkannya dengan filmnya.

4 bintang untuk karakter Ucu yang lucu.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Kimi no Na wa
Terkadang, ada satu titik saat manusia tidak tahu-menahu saat ia bermain dengan waktu.

Sumber: imdb.com
Judul Inggris: Your Name
Sutradara: Makoto Shinkai
Produser Noritaka Kawaguchi, Genki Kawamura
Penulis Naskah: Makoto Shinkai
Pemain: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa, Etsuko Ichira, Ryo Narita, Aoi Yuki, Nobunaga Shimazaki, Kaito Ishikawa, Kanon Tani
Musik: RadWimps
Studio: CoMix Wave Films
Distributor: Toho
Durasi: 107 menit
Telah diterbitkan menjadi novel di tahun yang sama

Mitsuha is the daughter of the mayor of a small mountain town. She's a straightforward high school girl who lives with her sister and her grandmother and has no qualms about letting it be known that she's uninterested in Shinto rituals or helping her father's electoral campaign. Instead she dreams of leaving the boring town and trying her luck in Tokyo. 
Taki is a high school boy in Tokyo who works part-time in an Italian restaurant and aspires to become an architect or an artist. Every night he has  a strange dream where he becomes... a high school girl in a small mountain town.

***

Bagiku, menonton film anime menjadi salah satu hal yang sangat kusukai. Sejujurnya, aku tidak dapat menamai diriku sebagai pecinta anime. Toh, anime yang aku tonton hanya terbetas di Detektif Conan dan kawan-kawannya. Jadi, referensiku mengenai karya buatan Negeri Sakura ini masihlah sangat sedikit.

Bermula dari suatu obrolan di grup whatsapp BBI Jabodetabek, tersebutlah judul anime yang baru tayang, yakni Kimi no Na wa, atau dalam bahasa inggrisnya bisa disebut sebagai Your Name. Sebenarnya, aku tak memiliki pretensi apa-apa terhadap anime ini. Bahkan, setelah obrolan tersebut, aku tidak kepikiran untuk mencari filmnya dan mengunduhnya. Kemudian, beberapa hari yang lalu, saat aku didera kebosanan dan menginginkan menonton film, maka meluncurlah aku ke suatu situs pengunduhan gratis untuk mencari film yang sekiranya bisa kutonton. Nah, pada saat mencari film berdasarkan rating, ternyata Kimi No Nawa ini mendapat rating yang tinggi. Kalau tidak salah ingat, rating film ini mencapai 8.6/10 versi iMDB. Wow! Siapa yang tak tertarik dengan film ini kalau demikian?

Taki dan Mitsuha. Sumber: Frobes
Mitsuha Miyamizu adalah seorang gadis SMA biasa yang tinggal di suatu kota bernama Itomori. Semenjak ibunya meninggal, Mitsuha dan adiknya, Yotsuha, tinggal bersama neneknya yang mengikuti ajaran Shinto begitu kuat. Dimulai dari kebiasaannya untuk menenun benang, hingga tarian yang ditujukan sebagai cara pembuatan kuchikamikaze. Ayah Mitsuha saat itu sedang menjadi walikota dan berkeingan untuk mencalonkan diri lagi. Dengan hidup yang begitu membosankan, pada akhirnya Mitsuha ingin untuk tinggal di Tokyo saja sebagai seorang pemuda tampan.

Di sisi lain, ada Taki Tachibana. Seorang pemuda yang memiliki umur yang sama dengan Mitsuha. Ia tinggal bersama dengan ayahnya di pusat kota Tokyo. Taki sendiri bekerja paruh waktu di sebuah restoran Italia. Di sanalah ia tertarik dengan rekan kerjanya, Miki Okudera. Akan tetapi, terkadang, Taki merasa kalau ada yang lain dalam dirinya. Ia merasa pernah mengalami kehidupan sebagai seorang gadis di sebuah kota di pegunungan Hida.

Sebuah kenyataan menghantam Mitsuha dan Taki. Entah dengan cara apa, mereka berdua dapat bertukar tubuh. Sehingga, terkadang saat mereka bangun, Mitsuha berada pada tubuh Taki dan Taki berada pada tubuh Mitsuha. Hal ini terjadi secara acak dan tidak dapat diprediksi. Untuk memperingatkan diri masing-masing, Mitsuha dan Taki pun membuat catatan di gawai masing-masing. Sebagai contoh, janji kencan yang dirancang oleh Mitsuha untuk Taki. Hal ini terus berlanjut sampai Mitsuha mengatakan kalau hari itu adalah hari saat sebuah komet melintas di kotanya. Sejak saat itu, Taki tidak dapat menghubungi Mitsuha. 

Bertemu di batas waktu. Sumber: Alphacodes
Karena begitu penasaran dan ingin bertemu dengan Mitsuha, akhirnya Taki dibantu oleh Okudera dan temannya--Tsukasa, mencari keberadaan dari tempat tinggal Mitsuha. Berbekal sebuah sketsa pemandangan yang dibuat oleh Taki, mereka bertiga pun berkelana di prefektur Hida untuk mencari kota tempat tinggal Mitsuha. Pada awalnya, Taki sudah akan putus asa, karena seolah-olah Mitsuha adalah karakter fiksi yang ada di bayangannya. Namun kemudian, harapan muncul saat salah seorang pelayan restoran mengenali sketsa Taki. Akan tetapi, satu kenyataan lagi-lagi menghantam Taki. Ternyata, sketsa tersebut adalah sketsa dari Kota Itomori--kota yang hilang karena jatuhnya komet di kota tersebut tiga tahun yang lalu. Jadi, siapa sebenarnya Mitsuha Miyamizu? Apakah semua kejadian yang dialami oleh Taki hanyalah mimpi semata?

Harus aku akui, Kimi no Na wa adalah jenis anime yang membuatku terkaget-kaget dengan twistnya. Makoto Shinkai ternyata adalah salah satu sutradara terkenal di Jepang. Beberapa filmnya sebelum Kimo no Na wa pun menuai sukses yang luar biasa. Jadi, tidak heran bila Kimi no Na wa ini menjadi salah satu film tersukses yang dibuat oleh Shinkai.

Dari segi cerita, aku tak perlu meragukan lagi. Ceritanya benar-benar mind blowing dan sangat mencengangkan. Bagiku, cerita dalam Kimi no Na wa ini bukanlah cerita yang biasa. Shinkai mencoba untuk menggabungkan antara dimensi ruang dan waktu. Saat aku menontonnya pun, aku selalu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mitsuha dan Taki akan benar-benar bertemu? Perkembangan karakter Taki dan Mitsuha pun sangat mengesankan. Menurutku, perasaan yang muncul di antara mereka terbangun secara alami. Sehingga, terkesan tidak dipaksakan. Kemudian, satu hal yang kusukai dari film ini adalah, tidak ada pemaksaan akan waktu. Menurutku, cerita yang bermain-main dengan waktu pastilah sangat sulit untuk dibuat. Sang pengarang harus dapat menyambungkan fragmen-fragmen waktu menjadi masuk akal. Hal ini tentunya menjadi tantangan sendiri untuk Shinkai.

Sumber gambar: maxres, edited by me
Kemudian, dari segi gambar pun, aku juga tidak kecewa. Dalam beberapa hal, terlihat jelas kalau gambar dari Kimi no Na wa terlihat sangat nyata. Sebagai contoh adalah penggambaran gawai yang dipakai oleh masing-masing karakter. Menurutku, hal yang senyata itu sangat keren saat ditayangkan dalam bentuk anime. Soundtrack lagunya pun juga bagus-bagus. Jadi, aku sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Hoho.

8 dari 10 bintang untuk kerumitan waktu yang tercipta.

Sincerely,

Puji P. Rahayu