Showing posts with label Fantasi. Show all posts
Showing posts with label Fantasi. Show all posts

Purple Eyes

oleh Prisca Primasari

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Fantasi, Roman
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 9786027432208
Baca via Gramedia Digital

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entah mengapa, saya tiba-tiba saja tertarik untuk membaca Purple Eyes. Mungkin karena Prisca Primasari adalah salah satu penulis yang begitu familiar bagi saya. Lalu, premis yang dijanjikan dalam Purple Eyes cukup membuat saya tergugah. Well, siapa yang tidak penasaran dengan kisah yang melibatkan dua manusia yang berbeda dunia?

Lyre adalah asisten dari Hades. Iya, tidak perlu terkejut. Hades sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani. Jangan membayangkan Hades selalu berupa buruk dan tidak enak dilihat. Hades dalam kisah ini sungguh rupawan dan tidak begitu menakutkan. Memang tugas dari sang Dewa masih tetap sama, memutuskan kematian bagi para manusia, akan tetapi, pada dasarnya, yang memutuskan untuk mati adalah manusia itu sendiri.

Selama hampir 120 tahun, Lyre menjadi asisten Hades yang paling setia. Pekerjaan Lyre adalah mengantar setiap manusia yang berada di ambang kematian untuk menemui Hades. Hades pun memberikan pilihan bagi manusia tersebut untuk tetap hidup atau mati. Kebanyakan, manusia yang sudah berada di hadapan Hades memilih untuk mati.

Terkadang, sangat mebosankan menjalani kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai akhirnya, Hades ditugaskan untuk turun ke bumi karena ada kasus pembunuhan berantai yang dapat dibilang "merepotkan". Di saat-saat seperti inilah, Hades harus bertindak sebagai Dewa Kematian. Hades pun mengajak Lyre untuk turun bersamanya. Selama penyamaran mereka, Lyre memilih menggunakan nama Solveig dan Hades memakai nama Halstein.

Ketika turun ke bumi itulah, Solveig bertemu dengan Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan berantai yang terjadi di Norwegia. Ivarr adalah sosok yang dapat dibilang mati rasa. Tidak air mata maupun emosi yang hadir saat adiknya tiada. Akan tetapi, selama Solveig berada di bumi, Halstein memberikan perintah pada Solveig supaya emosi itu muncul kembali dalam diri Ivarr Maka dari itu, Solveig pun sering menemui Ivarr dan... secara tidak langsung mulai membangkitkan emosi Ivarr yang terkubur dalam. Lalu, apa rencana Halstein yang sesungguhnya? Bagaimana, kalau dalam tugas yang tiba-tiba ini, Solveig jatuh cinta pada Ivarr?

"Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu." -- Ivarr.

Rasanya, sudah lama saya mengalami reading slumps. Ya, kira-kira, beberapa bulan ini saya rasanya tidak mampu membaca bacaan ringan sekalipun. Saya benar-benar tidak mampu. Terdengar berlebihan? Mungkin benar. Yang pasti, saya baru bisa mulai membaca beberapa hari ini. Memilih Purple Eyes sebagai bacaan pertama saya setelah reading slumps yang saya alami memang tidak salah. Saya meyukai kisah manis sederhana yang tidak terlalu muluk. Meskipun sederhana, saya menyukai keistimewaan yang terselip di dalamnya.

Awalnya, saya tidak tahu sama sekali kalau Purple Eyes merupakan novel fantasi. Baiklah. Saya hanya tertarik karena novel ini ditulis oleh Prisca. Selebihnya, saya tidak tahu apapun mengenai novel ini. Barulah ketika saya memilah unduhan-unduhan saya di Gramedia Digital, saya baru menyadari bahwa premis yang ditwarkan oleh novel ini begitu menarik. Seorang asisten Dewa Kematian jatuh cinta kepada manusia biasa. Dua orang yang berbeda dunia, saling jatuh cinta. Mengapa mereka bisa jatuh cinta? Lalu, bagaimana akhir dari kisah mereka?

Sesuai dugaan saya, tulisan dari Prisca begitu manis dan menyentuh. Oh, ya, saya tahu, novel ini lebih pantas apabila disebut dengan novellete. Sama seperti French Pink, premis yang diajukan juga sederhana. Novel yang tak lebih dari 150 halaman ini, cukup membuat saya tersenyum manis saat membacanya. Tidak membosankan. Bahkan, saya dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Halstein kepada Ivarr. Saya cukup menyukai proses jatuh cinta antara Solveig dan Ivarr. Meskipun, harus saya akui, saya merasakan sedikit kekosongan di antara mereka.

Sampul dari novel ini mungkin terlihat sedikit... tidak menarik. Entahlah. Saya merasa sampul dari novel ini kurang hidup. Akan tetapi, mungkin itu hanya preferensi saya. Saya mengharapkan ada ilustrasi yang lebih hidup untuk novel ini. Seingat saya, sampul yang dikeluarkan oleh Penerbit Inari lainnya cukup hidup. Sebagai contoh, Love Theft--yang akan saya ulas di postingan selanjutnya. Alangkah baiknya apabila novel ini cetak ulang, akan ada elemen lain yang ditambahkan pada sampulnya.

Bagi saya, Purple Eyes merupakan novel yang tepat untuk dijadikan bacaan ringan. Setidaknya, ditemani kudapan manis dan teh atau cokelat hangat, membaca novel ini bisa menjadi media untuk bersantai,

4 bintang untuk Ivarr Amundsen yang mengesankan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

The Wrath and the Dawn
Seratus kehidupan untuk satu nyawa yang kau ambil. Satu kehidupan untuk satu fajar. Jika kau gagal satu kali saja, akan kurampas mimpi-mimpimu. Akan kurampas kotamu.
Dan akan kurampas kehidupan-kehidupan ini, seribu kali lipat.

oleh Renee Ahdieh


3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Wrath and the Dawn
Seri: The Wrath and the Dawn #1
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Penata Letak dan Perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Tebal buku: viii+447 halaman
Penerbit: POP,  imprint dari Penerbit KPG
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-6208-74-3

Terinspirasi dari Kisah 1001 Malam

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Dia menikahi perempuan muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba. Ketika sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran bersumpah akan menuntut balas. Gadis enam belas tahun itu mengajukan diri menjadi pengantin Sang Khalif. Shahrzad tak hanya bertekad untuk bertahan hidup, tetapi juga bersumpah akan mengakhiri rezim kejam sang raja bocah.

Malam demi malam, Shahrzad memperdaya Khalid, menceritakan kisah-kisah memikat yang membuatnya terus bertahan, meski tiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya melihat matahari terbit. Tetapi sesuatu yang tak terduga mulai terkuak: ternyata Khalid bukanlah sosok yang Shahrzad bayangkan. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh berdarah dingin. Mata emasnya memancarkan kehangatan. Monster yang ingin dilawan Shahrzad itu tak lebih daripada pemuda dengan jiwa yang tersiksa. Dan Shahrzad mulai jatuh hati kepadanya….

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Terkadang, suatu perbuatan yang begitu hina dan kejam, memiliki pembenaran di baliknya. Mungkin, memang perbuatan tersebut tidak akan pernah dimaafkan. Akan tetapi, di satu sisi, mungkin ada yang memahami mengapa perbuatan tersebut harus dilakukan. Penjelasan paling masuk akal adalah, melakukan perbuatan yang menyakitkan untuk kemudian mencegah satu hal yang lebih buruk terjadi ke lebih banyak orang. Tidak masuk akal? Oh, c'mon! Pada dasarnya hal-hal seperti ini mungkin saja terjadi.

Aku akan hidup untuk menyaksikan matahari terbenam esok. Jangan buat kesalahan. Aku bersumpah akan hidup untuk menyaksikan sebanyak mungkin matahari terbenam.Dan aku akan membunuhmu.Dengan kedua tanganku.

Raja Bocah dan Istrinya
Khalid Ibnu Al-Rashid, adalah Khalif Khorasan yang dapat dikatakan merupakan seorang monster. Tiap hari, ia menikahi gadis yang berbeda untuk keudian, gadis tersebut harus dijerat menggunakan tali sutra saat fajar. Tidak ada yang pernah mengetahui alasan sebenarnya dari tindakan Sang Khalif. Seluruh rakyat di Rey tidak pernah tahu mengapa anak mereka harus menjadi korban dari kekejaman yang dilakukan. 

"Semua hidup kita akan hilang, Sayyidi. Masalahnya adalah kapan. Dan aku hanya menginginkan satu hari lagi." Shahrzad, hlm. 44.

Shahrzad al-Khayzuran merupakan gadis yang menawarkan diri untuk menjadi istri Khalid. Niat awalnya adalah untuk membalas dendam atas kematian sahabatnya, Shiva. Keputusan Shahrzad bukanlah keputusan yang mudah. Ayahnya, Jahandar, sangat tidak rela apabila Shahrzad menjadi istri dari Sang Khalif. Namun, apa mau dikata. Shahrzad adalah seorang perempuan yang keras kepala. Ia bersumpah dan bertekad untuk membalaskan dendam Shiva.

"Katakan kepadaku mengapa kau di sini.""Berjanjilah kau tak akan membunuhku.""Aku tidak bisa melakukan itu.""Kalau begitu tak ada lagi yang bisa kukatakan." Khalid dan Shahrzad, hlm. 80.

Keputusan Shahrzad juga didengar oleh cinta pertama Shahrzad, Tariq Imran al-Ziyad. Mendengar hal tersebut, Tariq bertekad untuk membebaskan Shahrzad. Apapun yang terjadi. Satu-satunya cara yang menurut Tariq berhasil adalah, dengan menggulingkan kekuasaan Khalid. 

Kehidupan Shahrzad yang awalnya tervonis satu malam, berhasil terselamatkan karena kisah-kisah yang diceritakan Shahrzad kepada Sang Khalif. Tanpa sadar, kisah-kisah tersebut pun mulai membuat Shahrzad mendalami siapa Khalid. Meskipun pada akhirnya, banyak sekali rahasia yang disimpan oleh Khalid. Hingga akhirnya, kebenaran dan rahasian pun terungkap. Rahasia yang pada akhirnya membuat Shahrzad mengerti, beban berat yang harus dipikul oleh Khalid. Beban yang melibatkan seluruh rakyat Rey.

"Lakukanlah dengan lebih baik, Shazi. Permaisuriku tak punya keterbatasan. Tak ada batas dalam segala tindakannya. Tunjukkanlah kepada mereka." Khalid, hlm. 222.

Tidak Sekadar Fantasi
Baiklah. Kalau boleh jujur, membaca novel ini merupakan bentuk perwujudan rekomendasi dari yang meminjamkan aku novelnya. *makasih, Uji :D. Iyaah, sayah kemarin malakin novel ke Uji dan Uji ngasih saya duologi ini. Kalau soal penasaran, aku penasaran sih dengan novel ini. Bagaimanapun, nove ini seliweran di timeline aku di tahun kemarin. Bumbu-bumbu kisah seribu satu malam membuatku penasaran pada akhirnya. Tapi, bukan berarti aku punya ekspektasi sepenuhnya terhadap novel ini. Maksudku, yaa, aku nggak mengharapkan fantasi yang banget-banget. Dan ternyata benar. Kisah roman-nya lebih banyak disinggung di sini.

Sumber gambar: Wallco, disunting oleh Puji.
Menurtku, Renee Ahdieh di buku pertama ini lebih menjelaskan bagaimana perkembangan dari hubungan Khalid dan Shahrzad--Ya Tuhan! Ini namanya susah banget untuk dihafal :( Jadi, keseluruhan unsur fantasi dalam kisah ini masih belum terlalu kelihatan. Eh, tapi, bukan berarti aku protes, ya. Bagaimanapun, aku memang pecinta roman. 

Hem, tapi munkin, untuk pembaca yang mengharapkan novel ini penuh dengan buliran-buliran fantasi, jangan terlalu berharap. Heuheu. *ehh, aku nggak bermaksud mendemotivasi kalian untuk membaca novel ini, ya. Karena, menurutku, nggak fantasi-fantasi banget, ah. Roman-nya yang kuat di buku pertama ini. Kalau yang kedua sih, aku belum tahu.

Alurnya yang ...  Mengalir
Selama aku membaca The Wrath and the Dawn, aku merasa kalau alurnya cepat. Ehm, maksudku, tiba-tiba saja sudah dua minggu berlalu. Tiba-tiba saja sudah beberapa hari. Perubahan yang terjadi terlihat tidak terlalu terasa dan penjelasan detail dari suatu kejadian terkadang terlalu detail. Haha. Jadi, aku merasa aneh saja saat membacanya. Jadi berasa ada yang loncat-loncat. Ohh, ya. Meskipun memakai sudut pandang orang ketiga, fokus dari Renee Ahdieh adalah sudut pandang Shahrzad. Jarang sekali Renee menggambarkan dari sudut pandang Khalid. Padahal kan aku kepo juga sama Khalid. Meskipun aku nggak terlalu tertarik juga sama tokoh ini. *digampar.

Selain Khalid, Shahrzad, dan juga Tariq, ada pula tokoh lain seperti Despina--dayang Shahrzad--dan juga Jalal--sepupu Khalid. Aku yakin, di buku kedua pasti kisah dua orang ini akan muncul. Hoho. Oh, iya. Harus kuakui pula kalau kisah di buku pertama ini berakhir menggantung. *Untung Uji minjemin langsung dua buku. Jadi, aku nggak bakal kepo kelanjutannya. 

Kesimpulan
Menurutku, novel ini pas kok untuk dibaca oleh pembaca fantasi  yang menyukai cerita yang ringan. Mungkin akan sedikit membuat penasaran mengenai rahasia yang disimpan oleh Khalid. Hoho. Lalu, sebagai pecinta roman, kalian akan dimanjakan oleh hubungan Khalid-Shahrzad yang pada akhirnya akan membuat kalian trenyuh.

So, three point five stars for The Wrath and the Dawn.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Catatan tipografi:
"...Kedua, Khalid tak boleh tahu kalau aku ikut andil dalam dalam pelanggaran ini." --hlm. 59.
"...Dia pergi saat masih gelap."Tariq memasang anak panah... --hlm. 137.
"Karena kau berbagi ranjang dengan Khalif Khoasan." --hlm. 206.
"...Jadi aku mengatkannya dengan benda, bukan orang." --hlm. 254.
Shamsir-nya terjatuh ke lantai pualam dengan buyi tajam. --hlm, 350.
"...tetapi Anda tidak mengeti." --hlm, 380.
"Kebecian. Prasangka. Ganjara. ..." --hlm. 401.
...saat orang-orang yang ketakutan mulai menjeri dan melarikan diri...--hlm. 422.
"Bawa aku padanya."Tanpa menunggu jawaban, --hlm. 438.

Ps. Tidak semuanya tercatat ya. Puji kan lieur juga nyatetnya. Hehe.
Bliss

Tak ada yang bisa melakukan hal hebat dengan perut kosong. Purdy, hlm. 308.

The Bliss Bakery Trilogy #1
By  Kathryn Littlewood
4 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Diterjemahkan dari Bliss, karya Kathryn Littlewood
Genre                   : Fantasi, Middle-grade
Penerjemah          : Nadia Mirzha
Penyunting           : Lulu Fitri Rahman
Penyelaras aksara : Aini Zahra
Penata aksara        : elcreative
Tebal buku            : 308 halaman
Tahun terbit          : Juni 2016, cetakan ke-14.
Penerbit                : Noura Books
ISBN                    : 978-979-433-690-8
Harga                : Rp34.650,- di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016

Musim panas itu, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep Bliss Cookery Booke. 

Namun, apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen denga beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookies Kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah, bukan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sejak aku membaca The School for Good and Evil dan mendengarkan berbagai pujian dari para kenalanku (Mbak Truly dan Kak Anggun) terhadap novel middle-grade ini, aku jadi tertarik untuk membeli dan membacanya. Apalagi, sejak awal dulu, aku sudah tertarik untuk membeli buku ini. Penampakannya yang menarik serta sinopsisnya yang bikin penasaran, membuatku terus menginginkan buku ini.

Selasa, 26 Januari 2016
Bumi
“Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memperoleh semua jawaban. Masa lalu, hari ini, masa depan.” –Miss selena.

By Tere Liye
5 for 5 stars

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman           : 440 halaman
Tahun terbit               : Januari 2014
ISBN                            : 978-602-03-0112-9


This is not only about fantasy thingy. I found something interesting on it.


Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.


Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku, Raib. Dan aku bisa menghilang.

Buku pertama dari serial ‘BUMI’.

REVIEW:
Pertama kali aku tahu tentang Bumi Series adalah karena ketidaksengajaan. Iya. Aku baru tahu kalau series ini termasuk dalam genre fantasi setelah hampir satu tahun buku ini bertengger di rak toko buku. Heu. Untungnya, ada yang ngasih tahu aku kalau buku ini merupakan buku fantasi. Jujur, novel Tere Liye yang pernah kubaca itu cuma Bidadari-bidadari Surga. Sejak selesai membaca novel itu, aku belum memutuskan untuk membaca karya Tere Liye lainnya. *dan jujur aku langsung merasa berdosa karena itu.

First impression:
Melihat sinopsi di belakang buku, aku suka banget kata-kata “Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.” Aku langsung terketuk dan ingin segera menyelesaikan novel ini. kata-kata aku bisa menghilang membuatku penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Raib. Apalagi namanya unik kan ya? Raib gitu loh.

raib/ra·ib/ v hilang; gaib (kbbi.web.id)

Nah, kan. Cocok banget kan sama kemampuan Ra.

The Appearance:
Melihat tebal buku yang 440 halaman, nggak sampai membuatku mengernyit malas. Font yang digunakan terasa pas. Nggak kecil amit-amit dan nggak sebesar gajah. Aku jadi enjoy bacanya. Untuk covernya sendiri, aku suka. Iya. Kayak menyimpan suatu hal misterius gitu itu tangannya. Heu. Yaa, meskipun aku mengharapkan desain yang lebih unyu dari ini.

The Summary:
Raib, atau yang biasa dipanggil Ra, adalah gadis biasa-biasa saja. Hanya seorang murid kelas sepuluh yang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Akan tetapi, jauh di balik kenormalan Ra, Ra menyimpan misteri yang hanya ia ketahui sendiri. Ia bisa menghilang. Awalnya kupikir dia bisa menghilang itu maksudnya pindah tempat, tapi ternyata Ra bisa membuat dirinya tidak kasat mata.

Semua kisah ini berawal dari masalah yang dihadapi oleh Papa Ra di kantor. Sebuah musibah menimpa pabrik yang dikelola Papa Ra. Hal ini menyebabkan Ra sadar diri dan segera bersiap agar tidak merepotkan Papa Ra. Keterburu-buruan menyebabkan Ra lupa membawa buku PR matematikanya. Padahal, guru matematika Ra, Miss Selena bukanlah guru yang bisa menoleransi segala kesalahan. Jadilah Ra dihukum untuk keluar keluas. Tidak hanya Ra yang mendapat hukuman, salah seorang murid juga dihukum. Dia adalah Ali. Teman yang bagi Ra sangat menyebalkan. Selalu sok tahu dan kepo setengah mati. Kejadian waktu itu membuat segala hal berubah. Petualangan Ra, Ali dan juga Seli—sahabat Ra yang ternyata juga memiliki rahasia—dimulai sejak saat itu.

Sebenarnya, kurang tepat kalau aku bilang mereka bertualang bersama. Lebih tepatnya mereka sedang melarikan diri dari ancaman. Ancamannya apa? Semua ini berhubungan dengan konsep bahwa bumi ini tidaklah sederhana. Dunia ini ternyata bukan hanya satu dunia. Ada empat dunia paralel yang berjalan bersamaan. *dunia paralel mengingatkan aku pada Supernova. Heu.


Membaca keempat dunia yang dipaparkan Tere Liye sama sekali tidak membuatku melipat dahi. Aku mengerti dan tidak merasa kebingungan saat membacanya. In my humble opinion, ternyata novel fantasi kali ini tidak membuat pembacanya bingung setengah mati berkhayal dan berimajinasi. Aku suka. Damn, really love it.

The Point of view, plot, and setting.
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama. Di sini, Ra lah yang menjadi tokoh utama. Melalui Ra, aku bisa memahami segala hal tentang empat dunia. Aku serasa menjadi sosok Ra dalam novel ini. Begitu terhanyut dan menyenangkan. Aku senang sekali bisa menikmati. Aku bahkan beranggapan novel ini telah sedikit membangkitkan kecepatan membacaku.

Alur yang digunakan merupakan alur maju. Sempat di beberapa bagian disinggung kisah-kisah masa lalu. Maupun tentang ingatan Ra di waktu kecil. Jadi, jujur saja alur novel ini mengalir begitu saja seperti air. Nggak bosan sama sekali dan bisa jatuh hati begitu cepat dengan alur ceritanya. Seolah-olah memaksa keseluruhan saraf untuk cepat-cepat menyelesaikan novel ini.

Latar yang digunakan adalah sisi lain dari dunia Tanah. Dunia yang ditinggali oleh Klan Bulan. Sedangkan waktu yang digunakan, tetap di waktu sekarang. Seenggaknya itu yang aku pahami dari setting novel ini. Aku jadi membayangkan alat transportasi yang digambarkan. Kapsul-kapsul itu pasti luar biasa cara buatnya. Hemm. Mungkin kalau beneran ada, kereta cepat Bandung-Jakarta akan langusng dibatalkan proyeknya.

The Opinion
Aku bahagia dan aku mau membaca seri kedua, Bulan.

Aku terpincut saat membaca novel ini. Aku benar-benar terhanyut dan aku tidak menyesal saat membaca novel ini. Bumi merupakan novel fantasi yang tidak membuatku merasa membaca novel fantasi. Aku bisa membayangkan keempat dunia itu lokasinya seperti apa. Untuk kekuatan-kekuatan yang dimiliki Ra maupun Seli, bahkan Ali—di bagian terakhir, memang terkesan seperti kekuatan di serial misteri dua dunia. Tapi, aku tidak terganggu karena penjelasan Tere Liye sangat jelas tentang hal ini. Aku tidak merasa ada yang ganjil. Atau ada? Haha. Sepertinya ada. Tapi aku lupa. Astaga.

Last Impression

“Siapa pun yang memenangkan pertempuran, maka dialah yang menulis catatan sejarah.”

Membaca kalimat ini aku jadi sedikit terusik. Benar sekali perkataan ini. Siapa pun yang memenangkan petempuran, akan mendapatkan kekuasaan yang tak terhingga. Tidak heran bila banyak catatan sejarah yang tidak terungkap. Bahkan cenderung dibelokkan.

Aku belajar satu hal penting dari novel ini. Aku diingatkan bahwa belum tentu sejarah yang ada di dunia ini, tentang apa pun, itu benar. Banyak faktor yang bisa membelokkannya. Layaknya sejarah Klan Bulan yang dituturkan dalam novel ini.

The Conclusion
Highly recommended. Demi apa pun nggak akan nyesel kalau kamu suka sama cerita fantasi yang nggak bikin ngeriputin dahi. J




Night play (permainan malam)

3 of 5 Stars
Penulis : Sherrilyn Kenyon
Penerbit : Dastan Books
ISBN : 9786029267303


Bride McTierney baru saja dicampakkan oleh pacarnya karena ia tidak mau menuruti saran pacarnya itu untuk menurunkan berat badan. Selama ini, Bride tidak pernah merasa percaya diri dengan penampilannya, apalagi ditambah dengan penghinaan semacam itu. Hati dan harga diri Bride semakin terpuruk, sampai Vane melangkah masuk ke kehidupannya.


Vane Kattalakis adalah seorang Were-Hunter yang benar-benar kesepian. Adiknya sedang koma, sementara ayahnya ingin membunuhnya, dan ibunya dengan senang hati menginginkan kematiannya. Selama ini, Vane selalu hidup sendiri dalam pelarian karena diburu oleh kawanannya dan kelompok ibunya. 

Setelah pertemuan pertama mereka, Vane tidak bisa menyangkal ketertarikannya kepada Bride, apalagi setelah mengetahui kalau Bride adalah pasangan yang ditakdirkan untuknya. Sedangkan Bride yang masih rapuh mulai menemukan kepercayaan diri dari cara Vane memperlakukannya. Namun, apakah Bride bersedia menerima Vane apa adanya setelah ia mengetahui jati diri Vane yang sebenarnya? Mengingat selama ini Vane tidak pernah bergaul dengan manusia, apakah ia sanggup meyakinkan Bride untuk menerima cintanya sehingga ia tidak hidup sendirian untuk selamanya?

Review:

Vane tidak terima baik di keluarga ayahnya maupun ibunya. Ia dan adiknya—Fang—malah dijatuhi hukuman mati. Untungnya ia berhasil selamat, tapi adiknya mengalami koma. Waktu ia berjalan-jalan, ia menemukan butik milik Bride dan jujur saja, ia tertarik pada gadis itu sejak ia bertemu dengannya saat Vane menjaga Sunshine—pasangan Talon. Bride pun juga tertarik pada Vane karena ketampanannya. Apalagi dia baru putus dari pacarnya yang suka protes tentang bentuk tubuhnya.

Seri Were Hunter yang aku baca selain cerita Wren. Sebenarnya, aku nggak tahu sih, mungkin karena efek baca Julian di Fantasy Lover, aku nggak tertarik dengan ketampanan Vane. Selalu aku bandingin gitu sama Julian.


Jadi, Vane itu emang Were-Hunter jenis Arkadia—bentuk manusia lebih lama dari bentuk hewan. Ayahnya adalah Katagaria dan ibunya Arkadia—mereka nggak pernah akur. Meskipun mereka pasangan. Hal ini dikarenakan ayah Vane yang memaksa ibu Vane untuk menerimanya.

Selain masalah hukuman mati, Vane punya masalah lain. Dia ditandai sebagai pasangan Bride—yang notabene manusia—setelah berhubungan dengan gadis itu. Vane bingung menjelaskan siapa sebenarnya dirinya. Takut Bride meninggalkan dirinya saat tahu kalau Vane bukanlah manusia.

Saat Bride tahu apa Vane sebenarnya, Bride merasa itu semua mimpi dan tentu aja dia nggak percaya kalau ada hal-hal seperti itu. Untungnya, di sekelilingnya ada Amanda dan Tabitha yang memberikan sedikit pencerahan padanya.

Sebel banget sih sama ibunya Vane, seenaknya aja dia mau ngehancurin hubungan anak-anaknya. Untung Bride selamet.

Efek habis baca Fantasy Lover, jadi aku nggak ngerasa ngefeel banget waktu baca novel ini. So sorry Vane.




Fantasy Lover (Kekasih Impian) 

Penulis : Sherrilyn Kenyon
Penerbit : Dastan Books
ISBN : 9786028723848


Grace Alexander, seorang terapis seks, memiliki trauma masa lalu yang terus menghantuinya sehingga ia selalu berusaha untuk tidak memiliki hubungan khusus dengan laki-laki.

Julian of Macedon, seorang jenderal Sparta, dikutuk menjadi budak cinta yang terkurung di dalam buku selama dua ribu tahun, sampai akhirnya ia dipanggil oleh Grace. Julian yang dikutuk untuk menyenangkan kaum wanita merasa sangat terkejut karena Grace menolaknya. Baru kali ini Julian menemukan wanita yang tidak tertarik padanya secara fisik. Hal itu membuatnya semakin tertantang untuk menaklukkan hati Grace. Di lain pihak, Grace mendapati bahwa dirinya ternyata tidak kebal terhadap pesona Julian, namun Grace menyadari bahwa di balik ketampanannya, Julian adalah jiwa yang tersiksa dengan masa lalu yang kelam seperti dirinya sendiri.

Apakah Julian mampu menyembuhkan luka hati Grace dan membuatnya mampu mencintai lagi? Dan sanggupkah kekuatan cinta Grace membebaskan Julian dari kutukannya? Cinta pasti bisa menyembuhkan hati yang terluka, tapi sanggupkah cinta itu juga menghapus sebuah kutukan yang berusia dua ribu tahun?

Review:

I love Julian!

Yap, Julian of Macedon dikutuk menjadi budak cinta dan terkurung dalam buku selama dua ribu tahun. Saat Grace Alexander memanggilnya, Julian tidak menyangka kalau Grace sama sekali tak berminat menggunakannya. Bahkan, Grace malah mengajari Julian tentang kehidupan di zaman Grace—yang tidak pernah dilakukan pemanggilnya sebelumnya. Julian merasa Grace adalah orang yang berbeda dan ternyata Grace bisa mematahkan kutukan yang diderita Julian.

Nah, ini adalah novel yang tidak menceritakan tentang Dark Hunter. Jadi, nggak bakal ada musuhnya di sini. Di novel ini menceritakan tentang perjalanan Julian sebagai budak cinta. Konfliknya seru sih, dia harus melakukan hubungan intim dengan Grace saat hari terakhir dia ada bersama Grace, tapi karena takut hanya memanfaatkan Grace, Julian mundur di saat terakhir dan kembali ke dalam buku. Untungnya, Aphrodite—Ibu Julian—bersedia mengembalikan Julian. Setelah itu, ternyata Julian harus menghadapi Priapus—kakak sekaligus orang yang telah mengutuknya.

Nggak tahu kenapa, aku suka novel ini. Mungkin karena deskripsi tentang Julian terlihat sangat adorable banget. Terus, aku merasa kalau tokoh Julian looks so hot daripada tokoh lain yang pernah aku baca.

Seharusnya sih, aku baca novel ini dulu, karena memang ini novel permulaannnya. Tapi, yaa aku loncat gitu. Baca yang Dark Hunter series dulu. Somehow aku nggak kecewa kok. Meskipun di sini nggak ada Acheron, Julian mengalahkan auranya. Haha.

Konflik yang ditawarkan nggak biasa. Apalagi kenyataan kalau Julian anaknya Aphrodite dan adik dari Eros. Nggak heran kalau dia terlihat tampan dan keren banget. Semua perempuan pasti bertekuk lutut kalau ada dia.

So, aku suka banget sama tulisannya Sherrilyn Kenyon. Nggak kecewa. Fantasinya dapet banget dan nyambung banget sama mitologi Yunani. Like it.