Showing posts with label Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Show all posts
Showing posts with label Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Show all posts
Aloha! 
Apa kabar semua? Bagaimana kabar kalian setelah hari raya? Semoga semakin berbahagia, ya. Baiklah. Setelah melewati berbagai macam bentuk cobaan--kemageran untuk update, akhirnya aku kembali lagi untuk feature Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Yeay! Dan, siapakah yang akan menjadi tamu aku kali ini? Hem, hem. Yuk, disimak.

#BincangBincangBBILintasGenerasi
Tidak bisa kita pungkiri lagi, kalau sekarang ini lagi zamannya bookstagram. Iya, memposting foto tentang buku. Nggak cuma makanan aja kok yang bisa difoto dengan cantik dan bikin ngiler yang lihat, buku juga bisa. Nah, dalam kesempatan kali ini, aku berhasil ngobrol-ngobrol cantik dengan salah satu bookstagramer yang menurut aku sih, rajin banget postingannya. Setiap hari pasti muncul deh di timeline aku. Hoho. Yap. Dia adalah...

HANA BILQISTHI

Bisa dipanggil Kak Hana :D
Sumber gambar: Instagram Kak Hana @HanaBilqisthi

Nah, mau tahu lebih lanjut soal Kak Hana? Berikut merupakan hasil ngobrol cantikku sama Kak Hana :D
Sebelumnya, aku pengin tahu deh Kak Hana sekarang sedang sibuk apa, sih? Pengin tahu kehidupan kakak yang sebenarnya *halah.
Hana sekarang bekerja sebagai staf pengelola data GCG dan KPKU di Kementerian BUMN. Selain itu, kesibukan Hana paling baca buku, posting foto di Instagram, dan menulis blog.
Sebagai sesama pecinta buku, kakak pasti punya satu atau lebih buku favorit yang membuat kakak jatuh cinta setengah mati sama membaca. Nah, share dong kak buku apakah itu? 
Buku favorit banyak tapi yang membuat jatuh cinta setengah mati sama membaca? Hmmm... Hana bingung jawabnya XD

Hana jawab buku favorit Hana aja ya.. Hehe.
  1. Pangeranku - Helvy Tiana Rosa
  2. Akira Muslim Watashi Wa - Helvy Tiana Rosa
  3. Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu): Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka, dan Bahagia - Yasmin Mogahed
  4. Big Little Lies - Liane Moriarty
  5. Rumah Tangga - Fahd Pahdepie
  6. Lapis-lapis keberkahan - Salim A Fillah
  7. Toto-chan Gadis Cilik di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi
  8. The Secrets of Happy Families: Improve Your Mornings, Rethink Family Dinner, Fight Smarter, Go Out and Play, and Much More - Bruce Feiler
  9. Cahaya Abadi Muhammad SAW -  M. Fethullah Gulen
  10. Harry Potter dan Piala Api (#4) - J.K. Rowling
  11. The Defining Decade: Why Your Twenties Matter--And How to Make the Most of Them Now -Meg Jay
  12. I've Got Your Number - Sophie Kinsellla
  13. Trio Detektif

Dan masih banyak lagi
Kalau semisal kakak masuk ke dalam buku favorit kakak, Kak Hana mau jadi apa? Mengapa?
Hm...
Ai Haibara di Detektif Conan :D tapi agak ngeri juga ya tubuhnya jadi kecil dan terus mengecil XD
Jadi anggota Trio Detektif tapi kalau nambah Hana, judulnya bukan Trio lagi.. Wkwkw
Jadi siswa di Hogwarts :D
Ada banyak :D
Beralih ke dunia blogging. Sejak kapan Kak Hana aktif di dunia blog? 
Hana ngeblog dari tahun 2008 karena terinspirasi Raditya Dika. Pertama kali buat blog namanya Corat-coret Shirin Otaku dan urlnya juga shirinotaku.blogspot.com. Isinya cerpen dan diary, kemudian 3 Mei 2015 lalu namanya berubah lagi jadi The Luckiest dengan url hanabilqisthi.blogspot.com

Kalau jadi blogger buku, mulai Oktober 2015. Hana tertarik jadi blogger buku setelah melihat blog Ayu di Dunia dalam buku, blog Sulis Peri Hutan di Kubikel Romance dan blog Stefanie di The Bookie Looker. Melihat mereka membuat Hana berpikir bahwa menjadi blogger buku menyenangkan dan ternyata memang benar! Hana jadi berkenalan dengan banyak kutu buku lainnya dan kadang-kadang mendapat buku gratis dari penerbit.

Wah, aku lihat Kak Hana juga sudah mulai merambah dunia bookstagram, nih. Adakah tips dan trik untuk bookstagrammer pemula, kak?
Mulai dengan buku, kamera dan peralatan yang kamu punya dan jangan lupa tambahlan hashtag #Bookstagram saat posting foto buku di Instagram dan tag author serta penerbitnya (jika penulis dan penerbitnya memiliki akun instagram juga).  Kenalan lah dengan bookstagram yang lain (like dan comment) dan ikutan challenge bookstagram (bisa cek akun @bookstagramchallenges).

Instagram Kak Hana. Hampir semua postingannya berbau buku looh.
Pengalamanku sih bisa dapat like lebih banyak jika foto buku yang populer/hype, foto tumpukan buku, foto lemari buku dan foto diri sendiri dengan buku. Tips lain bisa baca:

Tips di atas banyak yang agak bertentangan satu sama lain karena yg berhasil buat seseorang belum tentu berhasil bagi orang lain. Jadi saran Hana sih coba semua yang menurutmu nyaman untuk dicoba sambil cari tahu cara apa yang cocok untuk diterapkan dengan kondisi diri sendiri.
Siapa sih bookstagrammer favorit kakak, dan kenapa?
Cait @paperfury, Emily  @emilyjmead, dan Kelly @divabooknerd karena mereka yang membuat Hana berkenalan dengan bookstagram. Setelah kenal bookstagram, ada banyak favorit Hana, salah satunya Celeste @prettygeekery karena foto-fotonya simple dan cantik https://hanabilqisthi.wordpress.com/2017/04/29/celeste-prettygeekery/

Terus, sepertinya aku sering sekali melihat pernak-pernik Harry Potter di akun, kak. Nah, coba Kak Hana promosikan #RaveclawPride kakak di sini. Hoho. *me as Slytherin student want to know. Lol.
Pernak pernik Harry Potter kakak:
  • Mug ravenclaw aja kok beli di tees.co.id/stores/stellaarts
  • Funko Luna Lovegood beli di blibli.com
  • Beberapa bookmark Harry Potter (ini ada yang hasil print sendiri setelah mencari free bookmark di google dan ada juga yang beli)
Terakhir, boleh dong kak sebutin lima fakta unik tentang kakak yang semua orang harus tahu. Hoho..Hana alergi minuman dingin jadi sering pesan minuman hangat
  • Hana alergi minuman dingin jadi sering pesan minuman hangat
  • Hana baca buku apa saja mulai dari komik, novel, non fiction tapi genre favorit itu contemporary romance dan genre yang paling dihindari horor
  • Warna favorit Hana itu pink dan biru
  • Hana menganggap diri Hana gadis paling beruntung
  • Hana itu Citong (cina sepotong). Ayah Hana Tionghoa dan Ibu Hana Sunda. 
***

Nah, demikianlah hasil obrolanku bareng kakak cantik yang satu ini. Intinya sih, kalau memang kalian pengin jadi bookstagramer, coba deh cari-cari referensi dari bookstagramer favorit kalian. Setelah itu, temukan bagaimana sih ciri kalian sendiri. Hoho. *sok bijak. Jangan lupa pula untuk mengikuti aturan dasar dalam menjadi bookstagrammer--aturan dasar apa sih, Puj? Haha. Yaaa, tips yang di-share Kak Hana di atas lah...

Horay! Sudah sampai di penghujung tulisan. Kira-kira, siapa ya yang akan kuajakin ngobrol di kesempatan selanjutnya? Sila ditunggu saja, wankawan :D

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Yang namanya hidup itu, tidak mudah. Kita tidak dapat seenaknya mengubah hidup kita dari A menjadi B. Tidak akan pernah ada yang bisa mengubah diri seseorang tanpa adanya respons dari yang diubah. Lalu, apa hubungan semua kalimat di atas dengan postingan ini? Kuyakinkan kalian semua, tidak ada hubungannya sama sekali. Haha.

Hello, people! 
Apa kabar? Semoga semuanya sedang berbahagia dan baik-baik saja. Sekarang, saatnya Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Sebuah feature yang aku buat untuk mengenal anggota BBI lebih lanjut. Hoho.

Bincang-bincang BBI Lintas Generaasi
Kali ini, aku kembali untuk membahas tentang salah satu anggota BBI yang dikenal sebagai legenda. Woow! Legenda apa, sih? Hem, bermula dari suatu buku yang cukup fenomenal di zamannya--di zaman aku belum masuk BBI dan main Goodreads--lahirlah seorang peresensi yang namanya cukup dikenal di arena per-goodreads-an. Ia berani mengeluarkan seluruh daya dan upayanya untuk membuat tulisan yang sangat komprehensif mengenai buku fenomenal tersebut. Hemm. Yap, dia adalah....

A.S. DEWI

*give applause for her!*

Sebelum aku mulai mengupas diri Mbak Dewi, aku akan menceritakan dulu awal mula aku kenal Mbak Dewi. Jadi, sebagai warga BBI yang masih unyu-unyu, aku benar-benar buta kemana harus berlabuh. Alhasil, saat aku nyemplung di forum, aku menemukan kalau ada grup whatsapp yang menjadi wadah untuk berkomunikasi. Berhubung aku tinggal di Depok, aku pun mencari kawanan warga Jabodetabek dan akhirnya menemukan... Mbak Dewi selaku admin grup whatsapp. Dengan kalimat malu-malu beda tipis sama malu-maluin, aku pun meminta kepada Mbak Dewi untuk dimasukan ke grup Jabo. Hoho. Dan akhirnya, saya resmi jadi warga Jabo yang yaaa rame abis. *barisan yang suka cerewet di grup.

Tidak hanya berkomunikasi lewat Jabo, suatu ketika, aku lupa siapa yang ngajakin, kayaknya sih Mak Ren, untuk main di Telegram. Berhubung aku memang punya Telegram karena tuntutan waktu jadi volunteer antek-antek acaranya Dino Patti Djalal, aku pun ikut terseret dalam grup Telegram bernama GGS. Grup yang akhirnya mengenalkanku lebih jauh kepada orang-orang BBI lainnya, dan salah satunya adalah Mbak Dewi tercintah. Hihi. Pada dasarnya, aku pernah ketemu sama Mbak Dewi sekali di IIBF. Tapi sepertinya karena memang kita berdua introvert, jadi nggak ngobrol lancar. Mafkeun. Mungkin kalau ketemu lagi aku bisa lebih bacot :" Kedip.

Baiklah, sekian basa-basi saya. Mari kita lanjut ke hasil wawancaraku dengan bloger sekaligus ibu dokter ini. Hoho.

Ps. Kalau ada tulisan tebal dan miring di dalam kurung, itu berarti komentar dari saya yaah. Hoho.


***

Aloha, MbakDew! Apa kabar? Hahahaha.

Semoga baik dan sehat selalu. Nah, di kesempatan yang cukup membahagiakan kali ini, aku mau sedikit ngobrol-ngobrol nih bareng Mbak Dewi yang katanya sih, living legend buku perkacrutan di BBI. Hoho. Jadi bikin penasaran deh. Yawes, mbak. Biar cepet, ini daftar pertanyaannya. Silakan dijawab sesuka hati. Mau panjang kali lebar kali tinggi juga nggak papa. Yang penting KUY.

Perkenalan dulu dong, mbak! Siapakah Mbak Dewi sebenarnya? Denger-denger, ngefans banget sama Adam Levine dan JKT48. Bisa dijelaskan?
Aku yang sebenernya? Gadis baik-baik pemilik blog Through Tinted Glass. Halal on the outside, hoe in the inside ðŸ˜‚.
Kamu denger dari mana aku ngefans Adam levine? Kebalik dong ah. Dia yang ngefans aku ðŸ˜Œ Yaaa aku emang suka sih sama suara melengking kejepit pintu ala mas Lipain. Tapi tetap...dia yang ngefans atuh.


(Gubrak. Mbak Dewi so narsis ini, mah. haha. Iyain aja lah. Biar Mbak Dewi senang.)

Kalo JKT48 sih....iyaaaa aku suka ðŸ˜‚
Sebenernya aku duluan suka sister groupnya di jepang yaitu AKB48. Lagunya enak-enak lho, Ji. Banyak yang maknanya dalam.


Tadinya aku gak merhatiin JKT48. Kuanggap versi lokal AKB, apa bagusnya? Bagusan yang asli lah.
Tapi sejak liat usaha keras anak-anak remaja itu, gimana beratnya latihan JKT48 yang tiap hari bisa ampe jam 1-2 malam, tapi mereka tetap berprestasi di sekolah, ya aku salut.
Aku selalu salut sama mereka yang berjuang keras meraih mimpi


(Kalo ini, jujurly, aku baru tahu. Intinya nggak boleh memandang sebelah mata orang lain kan, mbak? Oke, sip. Noted!)


Nah, waktu aku berkunjung ke blog Mbak Dewi, nama blognya cukup unik nih. Through Tinted Glass. Ada artinya nggak mbak? Mau tahu doong.
Blognya Mbak Dewi. Sila diklik kalau mau mengunjungi :D
 Sebenernya itu judul karena keabisan ide sih ðŸ˜‚

Aku pengen nama blog yang gak terlalu berbau 'buku', tapi di satu sisi menunjukkan si empunya emang suka baca. Makanya aku pake kata glass.

Kenapa tinted? Karena aku ndak suka clear glass. Clear glass itu panas, nyerap lebih banyak cahaya dan yang utama : gak ada privasi untuk orang di balik kaca


Tinted itu sejuk, orang di dunia luar ndak bisa melihat ke dalam dan mengetahui siapa yang ada di belakang kaca. Yang mereka liat cuma apa yang tampak di luar.


Blogku juga gitu. Orang-orang liatnya tulisan blog yang terpampang aja. Apa yang ada di baliknya, siapa bloggernya, biarlah menjadi rahasia semesta #halaaaah. Sok rahasia padahal ya nggak ðŸ˜‚

Okeh...jujur ya, Ji. Kenapa aku pake tinted glass itu karena mau ngasi kode kalo semua yang aku tulis ini ditulis pake kacamata yang tinted. Jadi mohon maaf kalo tulisannya kacrut atau reviewnya gak logis. Ya namanya juga ngeliatnya gak jelas karena kacamatanya burem.

(Ya ampun. Tapi masuk akal sih, mbak. Haha. Menarique juga ide-nya Mbak Dew. Hoho.)


Terus, Mbak Dewi sering dinobatkan sebagai Living Legend buku perkacrutan. Boleh banget mbak itu dijelaskan maksudnya apa. Aku sering stalking sih, dan review Mbak Dew bikin ngakak.
Jujurly, aku gak ngerti kenapa dinobatkan kayak gitu. Issue itu, Ji. Kamu jangan termakan issue.
Aku cuma pernah review beberapa buku kacrut kok. Lalu ada yang iseng menyematkan titel itu. Jiaahh x)) 

(((titel)))

(Tapi titelnya membekas, mbaak. Haha. Hem, jadi penasaran. Ada yang nggak setujukah kalau titel itu hanya isu? Hoho.)
Berhubung Bebi mau ulang tahun, apa aja sih pesan dan kesan Mbak Dewi selama bergabung di BBI? Terus, harapan ke depannya buat BBI apa sih, Mbak?
Kesan : BBI itu seru. Aku merasa menemukan keluarga baru di sini, yang sehobi dan bisa paham kegalauanku beli buku dan berburu diskonan.

BBI itu juga unik dan nyaman. Di sini gabungan berbagai orang yang berbeda selera dan pandangan, tapi bisa bergabung. Di BBI, seorang haters Twilight bisa dengan santainya mencela novel tersebut di depan fansnya. Dan sang fans tenang saja karena dia tahu selera gak bisa dipaksakan.


Pesan : Buat yang merasa BBI belum memberi rasa nyaman, seru dan unik seperti yang aku jabarkan di atas : "please give us another chance". Coba bergaul lagi dengan anak-anak BBI yang lain. Siapa tahu dikau ketemu yang sehati.


Harapan : semoga BBI tetap eksis dan anggota-anggotanya makin kompak. Semoga ndak ada yang merasa ada gap antara anggota BBI baru dan lama.

Silakan beri komentar tentang saya ya, Mbak. Tapi pliss banget yang baik-baik aja. Hahaha.
Puji itu...yang aku tahu aktif banget di UKMnya. Aku salut deh sama UKMnya.

Lalu yang aku suka dari Puji, dia gak segan berbaur dengan anak-anak BBI lama.


Banyak member seangkatanmu yang ngerasa 'jiper' sama anggota BBI lama, Ji. Aku pun bingung kenapa.


Kuharap, Puji bisa merangkul teman-teman BBI lebih banyak lagi yaa


(Hem. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Telegram mbak yang soal bisa berbaur. Hehe. Tanpa telegram tercinta, mungkin aku nggak akan sebacot itu. Hoho. Aku juga makasih loh, sama member lama BBI yang menerima aku apa adanya. Meskipun masih baru, aku sudah bisa merasakan definisi BBI yang mbakdew sebutkan di atas. :D Love, BBI.)


***
Nah, demikianlah hasil bincang-bincangku bersama Mbak Dewi yang namanya sudah terkenal seantero jagad raya. Lagi-lagi, gegara berbagai macam tugas akhir dan lainnya, aku terlambat mem-posting tulisan ini. Huhu. Harusnya sebelum BBI ultah :( Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.

Akhirnya ya, angkatan 2013 sudah selesai diwawancara? Untuk berikutnya, siapa ya yang akan jadi korban saya? Hoho. Ada dong tentunya. Si doi sudah menyetujui untuk diwawancarai. Siapa dia? Silakan ditunggu dengan sabar.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca :D

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

Akhirnya, setelah berjuang menyelesaikan berbagai macam tugas--mulai dari policy paper hingga proyek sosial, aku ada kesempatan untuk update salah satu *sort of* feature  yang aku buat. Yap. Apalagi kalau bukan Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Seperti yang telah aku singgung sebelumnya, aku ingin mencoba untuk mengenal anggota BBI secara mendalam. Apalagi, banyak sekali anggota BBI yang belum aku kenal. Jadi, mulailah aku membuat artikel semacam ini karena terinspirasi salah satu tema untuk postingan BBI HUT 6 kemarin. Bedanya, aku mencoba untuk mengenal anggota BBI secara lintas generasi. 

Bincang-bincang BBI Lintas Generasi
Setelah aku kemarin berbincang-bincang *slash* wawancara dengan Lala (angkatan 2017) dan Kak Kiky (angkatan 2015), sekarang aku mau lanjut untuk mengupas kehidupan seseorang dari angkatan 2014. Wah, siapa ya?

Beliau ini, *ecie, beliau* merupakan salah seorang pengguna media sosial yang cukup aktif. Seenggaknya, di timeline twitter saya sih setiap hari ada. Terus, banyak banget loh yang kagum sama dia. Haha. Nggak tahu, ya. Mungkin memang segitu hitz-nya kakak yang satu ini sampai semua orang ngeh dan kenal sama beliau. Apalagi, tulisan di blognya itu kreatif--menurutku, sih. Jadi, terkenang. *halah.

Siapakah dia?

ABDURAAFI ANDRIAN

Orangnya yang ini.
Hasil browsing di LinkedIn
Yap. Kak Raafi adalah seorang bloger buku yang mengelola blog personal dengan nama Ough, My Books! Sekarang ini lagi kerja di Scoop. Dia juga dikenal sebagai founder dari PNFI. Selain itu, Kak Raafi juga pernah menjadi editor maupun proofreader beberapa novel. Wah, hitz sekali, bukan?

Aku pertama kali ketemu Kak Raafi itu waktu di IIBF. Yaa, saya sih sok kenal, ya. *digeplak. Sok-sok langsung nyapa. Kemudian, ketemu lagi waktu pelucuran seri Blue Valley di Falcon Publishing--sebenernya ini ngewakilin BBI, sih. Nah, ini lebih parah lagi sok kenalnya. Harapannya sih, Kak Raafi nggak bosen ngedengerin saya yang nyerocos dari A-Z. Lol.

Baiklah, kini akan kulampirkan hasil wawancara singkatku bersama kakak hitz satu ini.

Ps. Kalau nanti ada tulisan tebal dan miring di dalam kurung, itu berarti komentar penting nggak penting saya, ya. Dibaca aja.

Aloha, Kak Raafi! Apa kabar? Semoga sehat selalu dan berbahagia. Nah, berhubung aku lagi iseng dan pengin tahu anggota BBI lebih lanjut, aku mau buat artikel lintas generasi (Iyep. Biar kuy aja ceritanya). Alasan milih Kak Raafi apa ya? Nggak ada. Hahahaha. Iseng aja *pletak. Nah, pertanyaannya nggak banyak kok. Lima aja. Soalnya masih ada tiga narsum lainnya. Heheh. Ini ya kak pertanyaannya...

Walaupun tidak dipersilakan untuk memberikan kata pengantar alih-alih ditanya kabar yang setiap detik bisa dilakukan, setidaknya aku punya inisiatif untuk memberi kata pengantar. Aku membuatnya agar terlihat sedikit dramatis karena, yah, sudah lumayan lama sejak terakhir kali aku diwawancarai dan akhirnya sekarang aku dikasih kesempatan lagi oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Walaupun pertanyaan yang diberikan oleh Puji masih seputar yang itu-itu saja. Walaupun melakukannya tanpa alasan yang jelas. Tapi lebih baik ada daripada tidak sama sekali. Dan Puji harus membayar rasa sakit hatiku yang mewawancaraiku hanya sebatas iseng. Lihat saja pada jawaban-jawaban yang kuberikan di bawah ini. Jadi, mari kita mulai wawancaranya. (Sebenarnya Puji menamai sesi tanya-jawab ini bincang-bincang dan bukan wawancara, tapi aku tetap memilih istilah wawancara karena terkesan lebih formal.)

(Well, maafkeun aku, sang pewawancara yang tidak mengungkapkan alasan yang tepat. Alasan kenapa milih Kak Raafi? Banyak! Alasan paling sederhana, dari semua angkatan 2014 yang paling kutahu itu Kak Raafi. Jadi, kenapa enggak mencoba mengenal lebih jauh orang yang 'sekadar' kutahu. Selain itu, Kak Raafi orangnya reachable dan mudah dihubungi dan banyak alasan lainnya. Pada intinya, aku pengin mengenal lebih lanjut sosok Kak Raafi itu seperti apa. Kalau untuk masalah pertanyaan, sesungguhnya ini format yang aku buat hampir mirip dengan wawancara yang lainnya. So sorry kalo itu-itu lagi. :( Tapi, terima kasih banyak ya Kak Raaf sudah mau meladeni pertanyan-pertanyan aku :) Semoga bisa mencerahkan semua pihak yang membaca.) *masih merasa bersalah. *mengais-ngais tanah.

Perkenalan dulu dong, Kak! Siapakah Kak Raafi sebenarnya? Denger-denger, kakak mendirikan komunitas PNFI ya? Bisa diceritakan? Yaa, mungkin sekalian promosi.

Jawab: Halo. Perlukan aku jabarkan siapa diriku mengingat banyak orang yang sudah tahu siapa diriku? Sebenarnya ini hanya formalitas kan, Puji? Walaupun begitu, aku tetap akan menjawabnya. Namaku Raafi. Fun fact: dulu aku dipanggil Afi karena nama depanku Abduraafi dan pemisahan suku kata yang diberikan adalah 'Abdura-afi' alih-alih 'Abdu-raafi'. Namun, karena tiba-tiba hadir kontes musik di salah satu stasiun televisi swasta pada tahun 2000-an yang sungguh menjatuhkan reputasi nama Afi, ketika pindah sekolah, kuubah nama panggilanku menjadi Raafi. Tetap saja, sampai sekarang keluarga besar dan teman-teman zaman SD dulu memanggilku Afi. Jadi, panggil aku Raafi atau aku tidak akan bebal padamu saat kamu memanggilku dengan nama selain Raafi, apalagi Afi.

(Oh, begitu. Jadi, kalau semisal dulu tidak ada kontes musik itu, mungkin masih tetep pakai nama Afi ya sekarang?)

Dan, ya, aku sangat bangga dengan komunitas PNFI yang semakin ke sini semakin dikenal orang. Terlihat dari beberapa penerbit mayor Indonesia yang melirik komunitas ini dan melakukan kerja sama promosi novel-novel fantasi mereka. Dan, semenjak membuat akun Instagram-nya, PNFI semakin eksis di kalangan para penggemar novel fantasi Indonesia, seperti namanya. Untuk cerita lengkapnya baca aja obrolanku bersama Bebi di sini. Atau kalau terlalu malas untuk klik tautannya, aku tempel saja ya, soalnya aku juga terlalu malas untuk membuat ulang jawabannya: Tujuannya supaya para penggemar novel fantasi bisa berkumpul bersama, sharing tentang apapun di bawah lingkup novel fantasi. Banyak juga penulis-penulis fantasi amatir yang minta kritik dan sarannya di sana. Pokoknya segala tentang fantasi deh.

(Semoga PNFI semakin berjaya ya, Kak!)

Cukup kan?

Nah, waktu aku berkunjung ke blog kakak, nama blognya bikin aku mengeriut. Ough, My Books! Ada artinya nggak sih, kak? Mau tahu doong. Sama, siapa itu Bibli? Kayaknya doi muncul mulu deh.
Kalau mau tahu blog Kak Raafi, sila dipencet gambarnya :)

Jawab:

Serius? Mengeriut? Dalam KBBI Daring, mengeriut yang memiliki kata dasar keriut berarti tiruan seperti bunyi gesekan pohon bambu yang tertiup angin. Jadi, kamu membaca nama blogku lalu kamu merasa seperti mendengar gesekan pohon bambu yang tertiup angin? Wow. Aku tidak menduga bahwa nama blogku akan sekeren itu! Aku ambil "mengeriut" itu sebagai sebuah pujian, seperti namamu.

(Err..., sepertinya aku sudah mengantuk jadi nulisnya sampai kayak gitu. Maapin. But, thanks God! Artinya positif. *senyum.)

Oke. Sesungguhnya aku harus memikirkan ulang apakah aku mengganti nama blogku atau tetap seperti itu. Aku benar-benar lupa alasanku menggunakan nama "Ough, My Books!". Biar kuberi tahu rahasiaku: aku orangnya impulsif. Dan sisa-sisa memoriku juga memberikan peringatan bahwa nama tersebut diambil secara impulsif karena begitu banyak buku yang kumiliki saat itu. Dan karena aku orangnya terlalu drama untuk kehidupan yang stagnan ini, aku terkejut dengan buku-buku itu dan berkata: Oh, buku-bukuku! Dan karena aku mencintai bahasa Inggris, maka aku ubah kata-kata tersebut menjadi Ough, My Books! Nah, seperti itulah kira-kira yang terjadi pada nama blog ketika pemiliknya adalah orang yang impulsif, senang mendramatisasi, dan menyukai bahasa Inggris. Semoga sudah cukup jelas ya! Karena bila tidak, aku tidak tahu harus bilang apa lagi.

(Well, in my opinion, jadi orang impulsif nggak ada salahnya kok, Kak. Bahkan bisa jadi orang yang anti wacana. Hoho.)

Terus, sepanjang yang kutahu, Kak Raafi sering banget menang lomba resensi dari penerbit tertentu. Ada tips dan triknya nggak kak buat bisa menang? Ajarin aku gitu. Haha. Dan, Kak Raafi kayaknya sudah melebarkan sayap jadi proofreader dan editor di penerbit tertentu. Mau tahu dong kak gimana pengalamannya.

Jawab:

Sungguh ini pertanyaan yang akan membutuhkan seluruh masa karierku untuk menjawabnya. Tapi aku akan coba bersabar dan menjawab satu per satu.

Pertama soal sering banget menang lomba resensi. Masa sih? Ulasan bukuku cuma tiga kali menang Resensi Pilihan Gramedia Pustaka Utama dan cuma itu. Apakah ini pernyataan sarkastis? Atau sebuah bentuk sinisme? Apa pun yang niatmu menyatakan seperti itu, aku benar-benar tidak memiliki tip atau trik khusus dalam setiap penulisan ulasanku. Yang paling penting adalah bagaimana kamu mengambil hal menarik dari buku yang kamu baca dan mengembangkannya dengan bentuk pemikiranmu. Kemudian, tuliskan. Sejujur mungkin. Jangan mengada-ada. Bolehlah bila ditambah kalimat-kalimat dramatis agar tidak begitu kaku. Itu saja.

(Ehm, bukan sarkasme atau sinisme kok, Kak. Tapi aku memang kagum aja.)

Kedua: untuk menjadi editor dan proofreader, mungkin bisa dibilang beruntung. Awal mulanya adalah karena salah satu penerbit mencari editor lepas dalam proyek penerjemahan salah satu naskah fantasi. Penerbit tersebut mencari dengan kualifikasi seorang pembaca dan dari komunitas. Tujuan utamanya adalah agar pembaca tersebut mengetahui bagaimana proses menerbitkan novel terjemahan. Dan aku terpilih dari sekian banyak orang yang melamar (nggak tahu berapa banyak sih). Jadi, aku coba belajar secara autodidak bagaimana cara menyunting naskah yang baik dan ternyata hasil kerjaku dipakai dan berlanjut ke naskah-naskah selanjutnya. Sayangnya, akhir-akhir ini aku sudah tidak mendapat pesanan editing atau proofreading lagi. Aku rindu melakukannya. Adakah penerbit yang mau menggunakan jasaku lagi?

(Semoga bisa dapet tawaran lagi ya, Kak!)

Berhubung Bebi mau ulang tahun, apa aja sih pesan dan kesan Kak Raafi selama bergabung di BBI? Terus, harapan ke depannya buat BBI apa sih, Kak?

Jawab:

Aku selalu heran dengan istilah "pesan dan kesan". Bukannya semua dimulai dari kesan atas apa yang dirasakan terlebih dahulu, baru setelah itu memberi pesan? Jadi, aku akan memberikan kesanku terlebih dahulu. Aku merasa bahwa selama bergabung dengan BBI sampai detik ini, temanku semakin banyak. Karena salah satu alasanku gabung dengan berbagai komunitas di kota yang baru kusinggahi (well, aku akan rantau di Jakarta yang hebring ini) adalah memiliki teman yang menyukai hobi yang sama. Itu yang paling kurasakan. Hal-hal lain adalah bagaimana aku semakin berkembang dalam kepenulisan ulasan bukuku. Komitmen bergabung dengan BBI yang mengharuskan aktif di blog sekurang-kurangnya enam bulan sekali membuatku terus menulis apa saja. Seiring dengan itu, aku sembari mengasah kemampuan menulisku.

Aku berharap BBI kembali eksis. Dan karena aku termasuk Pengurus BBI, aku berharap isu regenerasi pengurus benar-benar terjadi agar BBI tetap kembali aktif dalam melakukan berbagai hal, terutama menyebarkan minat baca di Indonesia.

(Kalau memang akan ada regenerasi pengurus, semoga mekanisme bisa lebih jelas untuk anggota-anggota baru :) Semangat qaqa-qaqa pengurus!)

Silakan beri komentar tentang aku ya, Kak. Tapi pliss banget yang baik-baik aja. Hahaha. Jangan menjatuhkan harga diri saya yang tinggal seiprit ini. Hihihi.

Jawab:

Puji P. Rahayu. Aku sempat bertanya-tanya tentang nama blog Prayrahayu's Book, apakah kamu mendoakan buku-bukumu sendiri? Kita juga sempat hampir dari sore sampai malam jalan berdua, secara harfiah. Dan karena membahas tentang Hubungan Internasional yang merupakan prodi yang kamu ambil, aku jadi tertarik untuk mendalaminya. Walaupun sebenarnya, aku begitu mudah tertarik akan segala hal atau suka ingin tahu. Don't get me wrong, yes? Semoga kita bisa jalan bareng lagi ya! Tapi jangan di Tebet dan jangan makan indomie yang keasinan lagi! Sukses terus untuk karier dan keaktifan blognya! Cepat lulus dan bisa menjelaskan secara gamblang bagaimana penduduk Rohingya seharusnya diperlakukan oleh dunia!

(Wew. Boleh kak jalan bareng lagi. Eh, tapi, makananku sih enak-enak aja. Nggak keasinan juga. Atau kita sebenernya beda selera? Lol. Udaah, mampir ke Depok, sini. Lumayan kok banyak tempat makan unik. Oh ya, soal Rohingya, sepertinya akan masih tetap sulit :( Isu-isu migrasi seperti itu memang belum bisa ditangani oleh ASEAN. Apalagi, ASEAN masih pakai ASEAN-Way yang berpedoman pada norma non-intervention. Bisa baca tulisan Shaun Narine, mitav Acharya, Jorgen Ruland, Edy Prasetyono, dan lainnya. Kedaulatan negara masih di atas kepentingan non tradisional :( Yaa, banyak sekali hambatan dalam penegakan HAM. Nggak cuma soal Rohingya, tapi yang lainnya juga. *halah. Malah berasa kayak kuliah. Aamiin, ya Tuhan! Kuliah tinggal satu tahun lagi! Hore! Makasih doanya, kak.)

***
Nah, demikianlah hasil bincang-bincangku bersama Kak Raafi. Sesungguhnya, artikel ini mau diterbitkan sebelum Bebi ultah :( Tapi akunya nggak sempat melulu. Selain memang nabrak UTS, aku juga lagi banyak kegiatan. Alhasil, baru bisa diposting sekarang.

Sekali lagi, kuucapkan terima kasih banyak untuk Kak Raafi yang bersedia menjawab seluruh pertanyaan saya yang, yaaa, masih itu-itu aja. Mungkin, lain kali kalau ada kesempatan aku nanya pendapat kakak soal suatu isu aja kali, ya? Hoho. Semoga lagi, kalau kita ketemu lagi, kakak nggak bosen dengerin aku yang nyerocos nggak jelas. Semoga tahan ya, Kak! Lalu, kuucapkan sukses selalu buat Kak Raafi dengan semua hal yang sedang dikerjakan. Baik soal kerjaan maupun soal blogging dan lainnya. Selalu semangat ya, Kak!

Ya sudah. Saya pamit undur diri lalu. Untuk postingan selanjutnya, ditunggu ya. Karena ada salah seorang Living Legend di BBI yang berhasil aku korek-korek kehidupannya. Hoho. Siapa dia? Tunggu aja, ya! Akan segera kurilis hasil obrolanku bersama beliau.

Sincerely,
Puji P. Rahayu.


Another day, another post!
Halo! Morning, Sunshine! Err, actually I don't know why I like use that words. Hemm, Ignore it!
Baiklah. Kembali lagi denganku kawan-kawan. Di suatu feature yang ku buat dalam rangka mengenal lebih jauh anggota BBI--komunitas tersayangku sekarang, yakni, BBI Lintas Generasi! Ulala! Berawal dari keinginan untuk mengenal para anggota BBI lebih jauh, akhirnya aku memutuskan untuk membuat feature ini. Setelah kemarin aku berkenalan dengan Lala yang merupakan angkatan 2017, aku beranjak untuk mengenal anggota BBI angkatan 2015. Loh, angkatan 2016-nya nggak ada? Ehm, gimana yaaa. Ada alasannya kok kenapa angkatan 2016 belum aku tayangkan. 


Jadi, untuk angkatan 2015 ini aku melakukan bincang-bincang lucu bersama salah seorang bloger buku yang cukup aktif. Dia sering banget ngadain blogtour dan juga giveaway. Pertama kali kenal sih dari media sosial dan honestly, belum pernah ketemu langsung meskipun berdomisili di daerah yang sama. Siapakah dia? 

RIZKY MIRGAWATI

Atau yang biasa dipanggil Kak Kiky
dari Ky's Book Journal
Berikut merupakan hasil percakapanku bersama Kak Kiky:

Aloha, Kak Kiky! Apa kabar?
Semoga baik dan sehat selalu. Nah, di kesempatan yang cukup membahagiakan kali ini, aku mau sedikit ngobrol-ngobrol nih bareng Kak Kiky yang paling sering muncul di timeline twitter aku. Hoho. Nah, ini ada beberapa pertanyaan nih, Mbak. Nggak banyak kok. Hehehe.

Perkenalan dulu dong, Kak! Siapakah Kak Kiky sebenarnya? Denger-denger, selain jadi blogger, Kak Kiky ini ternyata kerja dan juga jadi Ibu Rumah Tangga. Widih, bagi waktunya gimana tuh, Kaaak? 

Halo, Puji. Kenalkan aku Rizky Mirgawati, biasa dipanggil Kiky. Aku ibu rumah tangga sekaligus pegawai di salah satu instansi pemerintah di Jakarta. Aku juga sekarang merangkap jadi bloger buku kira-kira dua tahun terakhir ini. Bagaimana bagi waktu? Sebenarnya tidak ada yang khusus sih. Yang jelas prioritas utama keluarga. Senin-jumat aku bekerja, kemudian hari-hari diluar kerja aku jadi ibu rumah tangga biasa yang ngurus anak dan suami. Kalau ada waktu luang, aku ngeblog deh.

(Tapi menurutku kakak keren banget. Selalu update setiap hari padahal sibuknya luar biasa. Daebak!)

Nah, waktu aku berkunjung ke blog Kak Kiky, nama blognya berasa personal banget. Ky's Book Journal. Ada artinya nggak sih, Kak? Mau tahu doong.

Ky's Book Journal
Saat awal membuat blog buku, jujur bingung banget mau namain apa. Terus tiba-tiba saja nama Ky's Book Journal muncul. Jadi awal bikin blog buku itu ingin menuliskan review buku-buku yang kubaca, inginnya jadi semacam jurnal pengingat buku-buku yang sudah kubaca saja. Sekaligus berbagi kesan-kesanku tentang buku yang kubaca kepada para pembaca blogku, siapa tahu bisa jadi referensi bacaan.

(Sama, kak! Aku juga bingung dulu mau namain blogku apa :()

Terus, kalau aku lihat nih, Kak Kiky termasuk bloger yang aktif banget. Kayak, tiap hari pasti ada postingan blog tour dan giveaway. Bisa dijelaskan nggak kak gimana cara ngurusnya? Apa sih enak dan nggak enaknya jadi host blogtour gitu?

Awalnya membuat blog buku ini hanya buat pribadi saja, tetapi siapa menyangka jika tawaran untuk mereview atau menjadi host blogtour datang dari penulis/penerbit. Tentunya menjadi bonus luar biasa banget buat aku. Cara bagi waktunya, aku biasanya selama membaca sudah membuat semacam ringkasan cerita di handphoneku. Nanti tinggal dicopy-pastekan saja di blog dan diedit lebih rapi saja sih. Pokoknya aku memanfaatkan waktu saja sebaik mungkin. Tidak mau terlalu ngoyo juga. Sejauh ini sih, enaknya jadi host blog tour jadi punya banyak teman baru, dapat buku gratis yang memang jadi wishlist dan bisa berbagi kebahagiaan juga dengan teman-teman yang lain. Kalau tidak enaknya apa ya? Mungkin hanya kalau waktu membacanya mepet sedangkan aku lagi terkena reading slump bingung juga gimana caranya harus bisa membaca secepat mungkin :D Juga kalau buku yang ditawarkan bukan my cup of tea.

(Well, said. Memang demikianlah suka-duka menjadi host blog tour. Teman-teman yang mau coba jadi hot blog tour, banyak belajar ya ke Kak Kiky. Hoho.)

Berhubung Bebi mau ulang tahun, apa aja sih pesan dan kesan Kak Kiky selama bergabung di BBI? Terus, harapan ke depannya buat BBI apa sih, Kak?

Kesanku selama menjadi member BBI itu bahagia banget menemukan teman-teman yang punya hobi yang sama membaca dan bisa menemukan referensi bacaan-bacaan bagus diluar zona nyaman bacaku. Pesannya adalah semoga BBI makin berkembang dan terus menjadi komunitas membaca yang ramah dan seperti keluarga bagi anggotanya.

(True, that! Aku setuju sama kakak. BBI itu keluarga dunia maya yang asyik. *teteup disebut dimana-mana.)

Silakan beri komentar tentang saya ya, Kak. Tapi pliss banget yang baik-baik aja. Hahaha

Aku mengenal Puji P Rahayu malah bukan karena dia member BBI, tapi karena dia menjadi salah satu kontributor novel Yesterday in Bandung. Novel yang sampai sekarang masih menjadi peringkat teratas postingan terbanyak dibaca di blogku. Aku berharap semoga bisa ketemu dan ngobrol langsung di event perbukuan atau bisa membaca novel debutnya suatu hari nanti. Sukses terus ya, Puji. Aku tunggu novelmu loh :D

(Wah, boleh banget itu kak kita ketemu. Sesama domisili di Depok ini. Hohoho. Dan setiap aku ngobrol ma Kak Kiky, ujung-ujungnya ditagihin :( *melipir pergi *kabur. Heuheu. Terima kasih banyak Kak Kiky atas kesediaannya aku ajak ngobrol-ngobrol. Aku terharu saat kakak menyempatkan membalas surelku di tengah-tengah kerja :" Makasih banyak, Kak Kii).

***

Nah, dari perbincanganku di atas, dapat dilihat kalau menjadi blogger buku itu bisa memberikan keuntungan tersendiri buat kita. Mulai dari punya banyak temen, dapet buku gratis, hingga dipercaya oleh penulis atau penerbit tertentu untuk mempromosikan produk mereka. Menurut Kak Kiky, yang harus kita lakukan dalam menjaga keaktifan kegiatan nge-blog kita adalah, dengan membuat skala prioritas. Dengan demikian, kita nggak akan keteteran dalam mengurus kehidupan dunia nyata dan duni maya.

Yeay! Akhirnya selesai juga postingan BBI Lintas Generasi kali ini. Hemm, kira-kira siapa ya yang akan aku wawancara berikutnya? Tunggu saja postingannya :D

Sincerely,
Puji P. Rahayu
Aloha!

Jadi, dalam rangka menyemarakkan event #BBIHUT6, salah satu tema yang diangkat adalah berkenalan dengan anggota baru. Wow! Tapi, berhubung aku juga angkatan baru, aku pun membuat sebuah feature yang bertajuk Bincang-bincang BBI Lintas Generasi. Maksudnya apa sih, jadi aku akan membuat artikel mengenai anggota BBI dari masa ke masa. Mulai dari anggota baru, yakni angkatan 2017, hingga anggota tua, yakni angkatan 2013. Hihi. Supaya apa, sih? Yaa, supaya hits aja. Enggak lah. Supaya, aku bisa lebih mengenal anggota BBI secara mendalam. Meskipun aku sudah sering melakukan komunikasi secara daring, rasanya kurang pas kalau aku tidak berkenalan lebih lanjut dengan mereka. 

#BBIHUT6
Nah, berikut merupakan korban aku yang pertama yang aku wawancara. Orang yang akan kubedah kali ini berasal dari angkatan muda. Umurnya juga masih muda. Haha. Dia baru masuk di BBI tahun 2017. Siapa sih? Iyaps, dia adalah....

LALA DARI READING VIBES


Setelah beberapa hari yang lalu aku melakukan korespondensi bersama Lala, inilah hasil wawancara singkatku dengan dara kelahiran Jakarta ini.*tapi katanya punya darah Padang, sih. Yuk, disimak!

Disclaimer: Nanti kalau ada tulisan miring di dalam kurung dan tebal, berarti itu komentar dari sayah. Yaa, saya sukanya gitu. Ngomentarin orang. Hihi.

Aloha, Lala!

Makasih ya udah mau jadi korban aku. hahaha. Nah, di kesempatan yang cukup membahagiakan kali ini, aku mau sedikit ngobrol-ngobrol nih bareng kamu. Ini ada beberapa pertanyaan, nggak banyak koook. Hehehe. Silakan dijawab ya! :D

1. Perkenalan dulu dong, La! Siapakah Lala sebenarnya? Denger-denger, Lala nih termasuk KPopers, ya? Widih. Boleh banget tuh dijelaskan.

Hahahaha. Halooooo. Namaku Lala. Kalo selama ini sih dipanggilnya Ola, cuma aku kurang sreg sama nama itu nggak tahu kenapa, jadinya ketika ada kesempatan kenalan sama orang baru aku gunain nama panggilan baru yaitu Lala

(Jadi, ceritanya rebranding diri nih, La? Hihi)

Aku adalah cewek biasa yang masih berusaha mengejar mimpi. Doakan aku yaa! *ala-ala JKT48* XD Aku tuh anak pertama dari tiga bersaudara yang laki-laki semua, kebayang nggak tuh? Masih pada SMA semua makanya aku harus jadi contoh yang bagus. Alhamdulillah nya, sekarang aku jadi mahasiswa Ilmu Politik di UI. Meski agak kegusur dari pilihan pertama, yaitu Hubungan Internasional, which is jurusan Kak Puji (huft, iri daku!), tapi jurusan aku juga punya ujung yang sama InsyaAllah. (Kemenlu, aamiin.)

(Beban kamu cukup berat ya jadi anak pertama. Semangat! Err.. jurusanku... tak usah dibahas lah *melipir pergi.)

Aku K-Popers sih, tapi nggak yang maniak banget. Dulu kenal K-Pop karena dicekokik temen tentang Super Junior. Dibilang ganteng-ganteng lah, padahal dimataku muka mereka sama semua. Tapi temen aku yang duduknya di belakang aku itu, tiap hari sengaja muterin lagu Suju depan aku, alhasil aku kepo dong. Dan gara-gara dia sampe sekarang aku jadi suka K-Pop. Menurutku K-pop itu musiknya eargasm, terus catchy gitu, sekali denger bisa langsung hapal dan bikin joget. Aku juga multifandom, sih, dulu ELF, terus PinkPanda, dan yang paling-paling sih EXO-L. Soalnya aku paling niat karena sampe nonton konsernya dan beli-beli lightsticknya yang nguras dompet itu. Kalo dulu Suju cuma sempet beli album, sik~ Btw, aku cinta Chanyeol dan Sehun. <3

(Aku setuju yang mukanya sama semua. Aku sampek sekarang nggak bisa membedakan wajah para artis Korea. Heuheu. Apalagi macam SNSD atau Suju gitu. :( Tanpa harapan lah aku bisa bedain mereka).

2. Nah, waktu aku berkunjung ke blog Lala, nama blognya cukup unik nih. Reading Vibes. Ada artinya nggak sih, La? Mau tahu doong.


Blognya Lala. Bisa diakses di sini.
Sumpah, hahaha. Sebenernya waktu cari-cari nama bukan itu yang aku mau, tapi apa gitu aku lupa, cuma tetap ada kata 'vibes'-nya. Eh, ternyata udah ada yang pake. Sedih. Akhirnya setelah mikir keras, ketemulah nama 'Reading Vibes'. Sebenernya aku juga nggak yakin itu padanan kalimatnya benar XD. Kan vibes itu artinya semacam atmosfer, aura, atau energi gitu, kan. Jadi aku berharap, setiap yang berkunjung ke blogku, akan mendapatkan atmosfer dan energi untuk kepengin membaca, apalagi kan aku book-blog yang isinya review buku semua, jadi menurutku itu cocok banget. :)


(Menurutku sih, namanya unik, La. Kayaknya, nyambung-nyambung aja kok itu namanya. Hehe. Boleh-boleh. Namanya unik. Ku suka.)

3. Terus, kayaknya Lala ini pengin banget nih melebarkan karir di dunia perbukuan. Boleh diceritakan La gimana harapan kamu ke depan. Hihihi.

Waduh, kalau itu, siapa sih anak book-blogging yang nggak mau? Apalagi setelah kenal penulis, penerbit, editor, teman-teman yang akan atau bahkan sudah berhasil menerbitkan buku, teman-teman yang jago banget menulis. Meski dari jaman SD sampai sekarang aku sudah hobi nulis dan pengin jadi penulis beneran yang bisa nerbitin buku, tapi keinginan itu makin besar setelah aku masuk ke dunia book-blogging ini dan mengenal orang-orang hebat. Sekalian memperbanyak koneksi dan relasi juga hihi.

(Setuju banget, La. Aku juga kadang termotivasi *slash* terinspirasi *slash* mupeng gitu jadinya. Hoho.)

Aku sih pengin banget, banget, banget, jadi penulis (atau editor nanti kalau udah lulus). Tapi jeleknya, aku tuh nggak konsisten, kalo nulis naskah suka nggak selesai dan lanjut ke naskah baru. Plus, aku juga susah manage waktu. Giliran ada waktu luang, senengnya aku main hape atau leyeh-leyeh aja atau cuma baca buku dan berandai-andai aku yang nulis buku itu. Sekalinya lagi niat, aku pernah nulis sampai 5 bab baru untuk GWP (belum pernah aku publikasikan), saking semangatnya, sampe nggak masuk kampus seminggu! Btw, itu juga karena kakiku lagi sakit sih.. Jadi kalo jalan nyeri gimana gitu. So, daripada nggak produktif mendingan nulis, kan?

(Nah ini, aku banget. Haha. Aku juga punya timbunan cerita di wattpad dan belom dilanjut sampai sekarang. Hehe. By the way, cepet sembuh ya, La)

4. Nah, Lala kan baru gabung nih di BBI. Bisa diceritain nggak perjuangannya masuk ke BBI gimana? Terus, gimana sih kesan kamu selama bergabung jadi anggota BBI? Apa nih harapan buat Bebi yang mau ultah?

Perjuangannya sih bisa dibilang nggak keras banget, cuma dapet penolakan sekali aja karena waktu itu blog ku cuma belum memenuhi syarat yang harus berusia minimal 6 bulan, ya? Terus tahun ini bulan apa gitu kemaren lupa, BBI buka pendaftaran dadakan lagi ya cuma beberapa hari. Otomatis aku langsung gercep lah, yaw~ Akhirnya berhasil deh mendapatkan nomor ekslusif itu, yeaaay! XD

(Untung ya, La, sekarang sudah bisa gabung. Hohoho.)

Aku sih baru bergabung, ya, tapi selama aku bergabung dan selama aku ngamatin BBI dulu sebelum gabung, BBI itu isinya orang keren semua, suer. Ketika scope pergaulan aku di twitter cuma sebatas following-ku, ternyata ada ratusan atau bahkan ribuan book-blogger lainnya yang super duper jago banget dalam ngereview dan pilihan buku mereka juga keren-keren. Kesan aku terhadap BBI-nya sendiri juga wow banget sih, mampu membuat event yang membuat sebagian besar atau bahkan semua anggotanya tertarik untuk berpartisipasi. Padahal komunitas besar, tapi bisa menghandle segitu banyaknya anggota dengan event-event seru itu. Yang paling aku sukai sebenernya challenge baca, yang bikin kita mau nggak mau produktif baca dong, biar nggak kalah, hihihi~ Terus event tukar kadonya dan perkenalan terhadap member juga juara, supaya member-membernya bisa mengenal satu sama lain dengan lebih akrab. Harapanku untuk BBI, terus berjaya ke depannya, dan semangat buat semua kakak-kakak pengurus divisinya, tugasnya berat semua soalnya. Fighting! Tetap semangat menyebarkan budaya membaca ke seluruh manusia-manusia di Indonesia ini. Dan selalu menjadi komunitas yang bisa bikin anggotanya bangga untuk bisa menjadi salah satu bagian dari BBI, contohnya aku. :)

(Wah, betul banget! Sejak gabung sama BBI aku tiba-tiba aja aku ketemu banyak orang keren dan pastinya down to earth banget. Nggak kenal? Yok kenalan. Hehe. Aku juga bangga bisa jadi anggota komunitas hits ini!)

5. Silakan beri komentar tentang aku ya, La. Tapi pliss banget yang baik-baik aja. Hahaha.

Ah, nggak mau ah yang baik-baik, hahaha. Nggak, ding. Komentar aku tentang Kak Puji itu.. Bikin iri! Pertama aku tahu Kak Puji karena ngestalk blog-nya dan ternyata anak HI UI. Deg! Langsung deh jiwa-jiwa SKSD-nya muncul kalo ke anak HI. Soalnya anak HI kan eksklusif banget tuh, sedangkan aku anak 'buangan' huhuhu. *masih baper ditolak HI* Yaudah jadinya aku nanya-nanya, deh. Aku salut sih sama Kak Puji. Udah anak HI, semester 6, yah? Terus ikut UKM kampus dan punya jabatannya juga, terus masih bisa ngurus book-blog-nya, nggak kayak aku yang suka kabur karena tugas, udah gitu ternyata pernah nerbitin buku juga! Aaaaaaak! Semakin iri daku, huhuhu. Pokoknya Kak Puji top-lah. Baik banget pula, serius. Kalo nge-typing di twitter rapi banget, bawaan semua penulis kali ya emang begitu, hihihi. Sayangnya belum pernah ketemu secara langsung padahal sekampus :( Semoga segera terealisasi lah wacana itu, hahaha. 

(Huwaduh. Aku jadi tersapu *eh, tersipu-sipu nih bacanya. Hehe. Oiii, kita kan pernah sekelas waktu itu. Hahah. Fix lah. Ayo realisasikan wacana itu!)

Semangat dan sukses terus lah buat Kak Puji!

(Yeay! Makasih Lala atas jawabannya. Sukses juga buat kamu!)

Demikian lah bincang-bincang antara aku dengan Lala. Wah, gila, ya! Kalau menurut Lala nih, ternyata menjadi anggota BBI itu bisa jadi suatu kebanggan tersendiri. Aku juga kok merasa kayak gitu. So, Bebi di umur yang keenam ini harus semakin hits. Hoho. Biar bisa menarik perhatian manusia-manusia se-Indonesia untuk bergabung. 

Baiklah. Selesai sudah untuk sesi angkatan 2017. Angakatan selanjut-selanjutnya siapa, ya? Tunggu aja tanggal mainnya. Hoho. Akan ada kejutan-kejutan lainnya yang akan muncul :) 


Bincang-bincang BBI Lintas Generasi

Sincerely,
Puji P. Rahayu