Lapangan Golf Maut
"Two People rarely see the same thing." 

Sumber: goodreads.com
Judul: Lapangan Golf Maut
Judul Inggris: The Murder on the Links
Series: Hercule Poirot Mysteries #2
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Suwarni A.S.
Tebal buku: 320 halaman
Tahun terbit: Januari 2018
Tahun terbit pertema: Mei 1923
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Permintaan tolong yang mendesak membawa Poirot ke Prancis. Tapi is terlalu menyelamatkan kliennya. Sang klien ditemukan ditikam di lapangan golf. Tapi kenapa mayat itu mengenakan mantel sang anak? Dan kepada siapa surat cinta di dalam mantel ditujukan? Sebelum Poirot bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mayat kedua yang dibunuh dengan cara serupa ditemukan...
***

The Murder on the Links menjadi buku kedua Agatha Christie yang saya baca dalam rangka proyek "baca ulang novel Agatha Christie dari awal". Jujur, kisah dalam novel ini cukup membuat saya kaget dengan twist di akhir. Di sini, jelas Agatha Christie berupaya memutarbalikkan asumsi dari pembaca.

Perjalanan ke Perancis


Suatu hari, Poirot mendapatkan surat dari Monsieur Paul Renauld. Dalam surat tersebut, jelas bahwa Monsieur Renauld sedang ketakutan. Seolah-olah nyawanya di ujung tanduk. Maka dari itu, Poirot memutuskan untuk pergi ke Perancis bersama dengan Hastings. Sayangnya, kedatangan Poirot terlambat karena Monsieur Renauld telah ditemukan tak bernyawa di tengah lapangan golf tak jauh dari rumahnya.

Berbagai misteri tentu menyelimuti kematian dari Monsieur Renauld. Mulai dari Madam Renauld yang ditemukan terikat pada saat kejadian, jubah yang dikenakan Monsieur Renauld yang menurut Poirot terlalu panjang, hingga surat yang ditemukan Poirot dalam saku mantel Monsieur Renauld. Poirot yakin ada banyak kejanggalan dari bukti-bukti tersebut. Sayangnya, Poirot juga berkali-kali menemukan kegagalan karena asumsi-asumsi yang telah ia bangun runtuh di tengah jalan.

Kurangnya petunjuk dan hadirnya detektif kepolisian Perancis bernama Giraud, membuat langkah Poirot begitu berat. Di sisi lain, Hastings sempat bertemu dengan sosok gadis yang menarik hatinya. Gadis itu tak pernah mau memberitahu identitasnya. Hastings hanya mengenalinya sebagai Cinderella. Pada Cinderella lah, Hastings mulai jatuh cinta. Sayangnya, yang Hastings tak pernah sangka, ada kaitan antara Cinderella dengan matinya Monsieur Renauld.

Kisah yang penuh misteri


Sumber google, edited by me

Jujur, menurut saya, kisah di novel kedua ini jauh lebih kompleks daripada The Mysterious Affair at Styles. Bahkan, bisa dibilang sangat kompleks. Dari awal, saya betul-betul tidak punya bayangan siapakah pelaku yang sebenarnya dari pembunuhan Monsieur Renauld. Bukannya semua orang mencurigakan, malahan menurut saya, tidak ada seorang pun yang mencurigakan. Baik Madam Renauld, Jack Renauld--anak dari Monsieur Renauld, Madam Daubreuil yang mencurigakan, dan lainnya. Meskipun mereka memiliki motif, tapi rasanya belum sekuat itu untuk menjadi tersangka.

Baiklah. Sebagai pencerita, kadang saya memahami perasaan Hastings yang merasa tak dihargai oleh Poirot. Meskipun menurut saya, Sherlock Holmes lebih menyebalkan daripada Poirot. Akan tetapi, kadang kala narasi Hastings ini memang terlalu kemana-mana. Sejujurnya, saya tidak terlalu protes akan kehadiran kisah asmara dari Hastings. Tentu malah bagus karena menunjukkan sisi lain dari Hastings. Tapi, memang peran Hastings belumlah sevokal layaknya Watson. Yaa, memang tidak seharusnya dibandingkan.

Untuk penyelesaian, mungkin memang banyak sekali unsur kebetulan yang muncul. Akan tetapi, saya rasa misteri yang dihadirkan oleh Christie di sini jauh lebih kompleks. Ia betul-betul membuat saya tak percaya bahwa pelakunya adalah orang yang paling tak saya duga. Akan tetapi, memang terasa kurang kuat bukti yang mengarah ke sosok tersebut.

Untuk versi terjemahannya sendiri, saya rasa terjemahan untuk The Murder on the Links sudah bagus. Berbeda dengan novel yang sedang saya baca sekarang--Poirot Investigates. Padahal penerjemahnya sama. Entahlah. Agak sedih juga karena gaya menerjemahkannya terasa begitu berbeda.

Kesimpulan


Sebagai kisah kedua, menurut saya Christie berhasil menjerat pembaca. Mungkin ada banyak pendapat yang berlawanan, tapi saya masih menikmati kisah Poirot di sini.

4 bintang untuk cerita yang begitu kompleks.

Sincerely,
Ra

Misteri di Styles
"Setiap pembunuh mungkin teman baik seseorang." -- Hercule Poirot


Judul: Misteri di Styles
Judul Inggris: The Mysterious Affair at Styles
Series: Hercule Poirot Mysteries #1
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Tebal buku: 272 halaman
Tahun terbit: 16 September 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Siapa yang meracuni Emily Inglethorpe yang kaya, dan bagaimana si pembunuh masuk serta melarikan diri dari kamarnya yang terkunci? Kasus ini diperumit banyaknya orang yang punya motif untuk membunuh korban—mulai dari suami baru korban hingga ke dua anak tirinya, pelayannya yang temperamental, serta gadis cantik yang bekerja di apotek rumah sakit. 

Novel ini menjadi debut yang brilian bagi Detektif Belgia Hercule Poirot dan jadi titik awal Agatha Christie sebagai Ratu Misteri.
*** 

Dari dulu, saya memang berkeinginan untuk membaca semua buku Agatha Christie. Sayangnya, semasa saya masih SMA, di rental novel langganan tidak ada serial yang lengkap. Yaa, harus saya akui saya ini cukup keras kepala. Meskipun buku Agatha Christie bisa dibaca terpisah, rasanya tidak lengkap kalau saya tidak membaca kisah Agatha dari awal. Jadilah kemarin saya tertarik untuk membaca The Mysterious Affair at Styles karena termasuk kisah besar Poirot yang pertama.

Misteri di Styles


Kala itu, Hastings sedang berkunjung ke rumah kawanya di Styles, John Cavendish. Sebagai orang yang sempat terlibat dalam perang, Hastings memang membutuhkan sedikit waktu untuk berlibur. Ternyata, kedatangannya tersebut disabut oleh kematian Emily Inglethorpe yang kaya raya. Iya, Mrs. Inglethorpe adalah ibu tiri John Cavendish.

Banyak orang yang perlu dicurigai dalam kasus tersebut. Mulai dari kakak-beradik Cavendish, John dan Lawrence. Istri John Cavendish, Mary Cavendish yang terkesan selalu menutupi sesuatu. Mr. Inglethorpe, suami Mrs. Inglethorpe yang baru dan diyakini akan mewarisi seluruh harta Mrs. Inglethorpe apabila dia meninggal. Evelyn Howard, pelayan pribadi Mrs. Inglethorpe yang kemudian berhenti bekerja karena sempat bertengkar dengan Mrs. Inglethorpe. Serta, Cynthia Murdoch, seorang apoteker yang dikasihi oleh Mrs. Inglethorpe.

Kasus di Styles ini rumit dan sulit sekali dipecahkan. Tak ada bukti yang betul-betul jelas dalam kasus ini. Untungnya, ada Hercule Poirot yang sempat mendapat perlindungan dari Mrs. Inglethorpe. Maka, manta anggota polisi Belgia itu pun mulai beraksi dengan sel-sel kelabu miliknya. Siapakah dalang dibalik meninggalnya Mrs. Inglethorpe? Apakah dia hanya sekadar mendapat serangan jantung atau meninggal karena diracun?

Sampul yang Menarik


Sumber: pinterest.com, edited by me
Pada dasarnya, saya tidak pernah meyalahkan apabila pihak penerbit berusaha sebisa mungkin untuk menarik minat pembeli. Salah satunya adalah dengan mencetak ulang suatu buku dengan sampul baru. Nah, menurut saya, Gramedia Pustaka Utama cukup cerdas dalam melakukan hal ini. Kalau tidak salah ingat, sudah ada tiga jenis sampul yang dibuat oleh GPU untuk buku-buku Agatha Christie.

Jujur, sampul untuk buku yang saya baca ini menarik. Terlihat sederhana dan rapi. Gambarnya pun tidak berlebihan dan tentunya terlihat jauh lebih modern. Saya suka sampul yang sekarang. Bagi para kolektor, pasti akan sulit sekali memutuskan untuk membeli sampul yang mana untuk dikoleksi. Hoho.

Opini Saya


Harus saya akui, mungkin inilah pertama kalinya saya betul-betul tergerak untuk membaca kisah Hercule Poirot dari awal. Mungkin efek dari menonton Knives Out beberapa minggu lalu dan juga Murder on the Orient Express. Alhasil, saya tergugah untuk membaca seluruh kisah Agatha Christie.

Saya memang punya niatan untuk membaca kisah Hercule Poirot dari dulu, akan tetapi memang belum punya kesempatan. Maka dari itu, ketika sekarang saya bisa, mengapa tidak?

Jujur, ketika membaca kisah ini, mau tidak mau saya membandingkan cara kerja Poirot dengan Holmes. Dan, memang cukup terasa perbedaan cara kerja keduanya. Lalu, saya juga merasa bahwa alur yang digunakan oleh Agatha Christie dan Aoyama Gosho--pencipta kisah Detektif Conan, cukup mirip. Setidaknya menurut cara pandang saya.

Menurut saya, Sir Arthur Conan Doyle lebih banyak berfokus pada cerita motif dari pelaku. Hal tersebut sering kali membuat saya seolah "terlepas" dari kasus intinya. Itulah yang sedikit kurang saya suka dalam gaya penceritaan Doyle. Akan tetapi, cara Agatha Christie termasuk cara bercerita yang saya suka. Ia haya berfokus pada bagaimana Poirot mengungkap misteri yang sedang diselidikinya.

Untuk Misteri di Styles ini sendiri, jujur twist yang disajikan cukup membuat saya tidak menyangka. Saya memang mencurigai satu orang dari awal, akan tetapi ternyata kecurigaan saya tersebut tidak terbukti. Yang ada, orang yang dicurigai terang-terangan--yang biasanya bukan berakhir menjadi tersangka, malah menjadi tersangka sebenarnya. Saya salut pada Agatha Christie yang berhasil memutarbalikkan kenyataan di dalam kisah ini.

Oh iya, saya kemarin sempat berpikir peran Hastings itu akan mirip dengan peran Watson dalam Sherlock Holmes. Setidaknya dalam hal menjadi narator seluruh kisah Poirot. Akan tetapi, kawan saya menampik hal tersebut. Ia mengatakan bahwa Hastings tidak selalu ada dalam setiap kisah Poirot. Otomatis, saya jadi penasaran dengan bagaimana kisah Poirot yang lainnya.

Kesimpulan


Sebagai pembuka kisah, saya rasa Misteri di Styles ini patut diapresiasi. Meskipun sejumlah orang menyatakan bahwa kisah ini bukan kasus terbaik dari Poirot, akan tetapi saya rasa Misteri di Styles cukup menarik untuk dibaca.

4 bintang untuk perkenalan awal dengan Hercule Poirot.

Sincerely,
Ra


Escape from Mr. Lemoncello's Library
it'll be like The Hunger Games but with lots of food and no bows or arrows. -- Luigi L. Lemoncello

Sumber: goodreads.com
Judul: Escape from Mr. Lemoncello's Library
Series: Mr. Lemoncello's Library #1
Author: Chris Grabenstein
Number of pages: 293 pages
Date of published: June 25th, 2013
Publisher: Random House Books for Young Readers

Kyle Keeley is the class clown, popular with most kids, (if not the teachers), and an ardent fan of all games: board games, word games, and particularly video games. His hero, Luigi Lemoncello, the most notorious and creative gamemaker in the world, just so happens to be the genius behind the building of the new town library.
Lucky Kyle wins a coveted spot to be one of the first 12 kids in the library for an overnight of fun, food, and lots and lots of games. But when morning comes, the doors remain locked. Kyle and the other winners must solve every clue and every secret puzzle to find the hidden escape route. And the stakes are very high.
In this cross between Charlie and the Chocolate Factory and A Night in the Museum, Agatha Award winner Chris Grabenstein uses rib-tickling humor to create the perfect tale for his quirky characters. Old fans and new readers will become enthralled with the crafty twists and turns of this ultimate library experience.
***

When I was looking for book with the word "library" on its title in Goodreads, I found this interesting book. To be honest, I choose this book because this is another middle grade book. Well, I just don't want to read a heavy topic book. So, here is the story of me while exploring Mr. Lemoncello's library.

The New Library and 12 Fortunate Children 

One day, the new library will be open. No one know what's inside the new library. Only the head librarian and Mr. Luigi Lemoncello who know the whole part of the new library. Yeah, Luigi Lemoncello is a genius. He has invented numerous kind of games, start from board games, word, games, and also video games. Of course, everyone in the city are very excited with the new library, including Kyle.

Kyle Keeley is a gamer. Yeah, he is the biggest fan of game. Actually, the whole Keeley family are very addicted to game. No wonder if Kyle has completed a different kind of games since at the very young age. When he knew that there will be 12 special entrance ticket to spend the night in the new library, Kyle with his full effort try to win the ticket. Long story short, with a little bit drama here and there, finally Kyle succeed to be one of 12 fortunate children who will spend one full night at the new library--before everyone else in town.

So, what will happen inside the library? What Luigi Lemoncello hide from everyone inside the library? Read it to find a new form of experience that will be a mixture of Charlie and Chocolate Factory and A Night in the Museum.

The Paradise for a Bibliophile


Sumber: pinterest.com, edited by me

I have to agree with several reviews about this book, this book is a paradise for a bibliophile. There is no perfect place for a bibliophile than a library. With full of books and another source of reading. I wonder, if this library does exist, it should be very amazing.

To be honest, I am very excited when I read this book. Grabenstein in my opinion is very genius because he can combine about the book and the games. He invite the reader to feel the thrill when Kyle and friends try to figure the way out of the library. I like the story because this is a great children book, or should I say a middle grade one?

Then, the character from this book, even though there are more than 5 characters, I think all of them have their own uniqueness. So, they won't be forgetful. First, there is Kyle the gamer; Akimi, Kyle's bestfriend that ask Kyle to cooperate from the very start; Sierra, the book nerd that never put her book down; Miguel, Kyle's friend who made the neatest essay for the entrance ticket to the library; Haley, the school princess; Andrew, the member of the school library; and Charles, the ambitious boy with a rude attitudes.

All of them have their own portion and it made the story much more interesting. The main story of this book is about how to escape from Mr. Lemoncello's library. There will be a lot of games that will be book related. So, you can say this book have an interesting plot story.

After I read this book and I realized this is the beginning of the series, It made me want to read the other books in the series. Well, let me see when I will read the other books.

4 of 5 stars for the awesome library.

Sincerely,
Ra



Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982
Yang bersalah adalah mereka, bukan kau.

Sumber: goodreads.com
Judul: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-Joo
Penerjemah: lingliana
Tebal buku: 192 halaman
Tanggal terbit: 18 November 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jenis buku: Paperback
Baca via Gramedia Digital

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

***

Satu hal yang saya tahu, Kim Ji-Yeong adalah sebuah kisah tentang kehidupan perempuan di Korea. Ia harus menghadapi berbagai bentuk lapisan patriarki yang tentunya tidak mudah untuk ditembus. Saya tahu kisah ini telah difilmkan dan jujur saja ia mendapatkan hype karenanya. Akan tetapi, saya belum menonton filmnya. Maka dari itu, saya cukup penasaran dengan narasi yang ditawarkan.

Tentang Kim Ji-Yeong

Kim Ji-Yeong adalah seorang perempuan berusia 30 tahunan. Ia adalah seorang istri dan juga ibu. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja saat anaknya lahir. Akan tetapi, lama-kelamaan ia merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia merasa lelah akan tekanan yang ia alami.

Cerita dalam Kim Ji-Yeong ini tidak hanya berada dalam satu bingkai waktu. Setidaknya, ada lima bingkai waktu yang dibahas, masa saat Kim Ji-Yeong kecil dan berada di sekolah dasar, di sekolah menengah, waktu kuliah, dan juga saat ia bekerja. Pengalaman Kim Ji-Yeong tersebut sedikit banyak mengupas bagaimana budaya patriarki yang begitu mengakar di setiap lini kehidupannya.

Budaya Patriarki dan Pemikiran Saya

Apa yang dialami oleh Kim Ji-Yeong saya rasa juga dialami oleh semua perempuan di dunia. Akan selalu ada batasan-batasan tak kasat mata yang menghalangi perempuan untuk berkembang. Bahkan, terkadang seseorang tak sadar bahwa budaya patriarki itu tak seharusnya ada.

Ketika menulis resensi ini, saya jadi teringat akan diskusi saya bersama kenalan saya beberapa waktu lalu.

Berikut sedikit-banyak argumen yang saya paparkan kali itu--yang kemudian dibalas dengan salah satu pernyataan yang membuat saya geleng-geleng kepala.

Pada dasarnya, apa yang ada di masyarakat itu merupakan hasil dari konstruksi sosial. Termasuk juga dengan peran dari jenis kelamin tertentu di masyarakat. Awalnya, banyak yang berpikir bahwa jenis kelamin dan gender itu sama. Hanya berbeda bahasa saja. Padahal, kedua hal tersebut merupakan dua hal yang betul-bertul berbeda.
Jenis kelamin merupakan suatu hal yang berhubungan dengan unsur biologis. Ada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sedangkan, gender diartikan sebagai peran sosial dari jenis kelamin tertentu di masyarakat. Gender merupakan suatu hal yang dikonstruksi secara sosial. Ia tidak semata-mata telah ada dan mengikat diri seseorang.
Dengan demikian, karena peran gender tidak seharusnya mengikat, tidak ada salahnya ketika ada perempuan yang bekerja atau seorang laki-laki butuh untuk menangis. 
Permasalahannya, Indonesia dan bahkan di seluruh tempat di dunia, masih terikat dengan budaya patriarki. Apa yang dilakukan oleh seseorang bergantung pada apa yang dipikir masyarakat harus dilakukan. Perempuan itu seharusnya berada di rumah dan bisa menyenangkan keluarga.
Pada akhirnya, karena pemikiran patriarki yang terus mengakar tadi, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kesuksesan perempuan hanya dilihat dari keberhasilan dirinya membina kehidupan rumah tangga. Tak peduli setinggi apapun gelar pendidikannya, seorang perempuan tidak pernah dianggap berhasil dalam hidupnya apabila ia tidak menikah. 
Sumber: pinterest.com, edited by me
Kira-kira, begitulah argumen saya kala itu. Akan tetapi, lawan bicara saya pun menanggapi dengan pernyataan yang cukup membuat saya miris.
Mengenai sistem patriarki, bisa nggak hal tersebut dikatakan dasar atau standar? Suami bekerja, istri bekerja dan/atau memiliki tanggung jawab di rumah.
Akhirnya, saya pun memberikan argumen lainnya. Pada titik itu saya sadar, tidak semua orang memiliki kesadaran akan isu gender. Dan sepertinya untuk menyadarkan hal tersebut butuh waktu yang tidak sebentar.
Adanya ketimpangan peran gender berasal ketika peran perempuan direduksi sedemikian rupa. Akibatnya, mereka tidak bisa memperjuangkan diri sendiri. Oleh karena itu, munculah feminisme yang mencoba untuk mengangkat derajat perempuan. Apa yang sebetulnya menjadi lawan terbesar dari feminime? Ia adalah patriarki. 
Patriarki dijadikan standar? Ehm, I beg your pardon. Patriarki itu lah yang seharusnya dilawan.

***

Sebetulnya, argumen-argumen saya tak berhenti di situ. Hanya saja, saya rasa dari sedikit percakapan di atas, saya merasa sangat relatable dengan kisah Kim Ji-Yeong. Tagline bahwa "Kim Ji-Yeong adalah kita" saya rasa memang sangat benar adanya. 

Saya tahu kok, tidak mudah mengubah suatu budaya. Akan tetapi, bukan berarti terus menutup mata. Saya akui bahwa tidak semua orang paham atau mau sadar akan isu gender. Terkadang, pemikiran patriarki terus mengakar di dalam diri mereka. Sudah telanjur lama terpupuk dan menganggap bahwa itulah hal yang benar. Bukankah itu merupakan suatu hal yang miris?

Jadi, menurut saya, kisah Kim Ji-Yeong ini betul-betul pas dijadikan sebagai rujukan supaya semua orang setidaknya mulai sadar akan isu gender. Saya salut dengan Cho Nam-Jo yang berupaya untuk mengangkat isu ini. Dengan adanya kontroversi saat diterbitkan. bukankah jelas seolah masyarakat enggan melihat sisi lain dari apa yang selama ini telah mereka sadari?

Entahlah. Mungkin resensi kali ini lebih banyak berisikan pemikiran saya--yang memang tidak runtut. Akan tetapi, siapapun yang sempat mampir ke sini, saya sarankan untuk membaca Kim Ji-Yeong. Oh ya, satu hal, saya suka sekali dengan sampul versi bahasa Indonesia dari Kim Ji-Yeong yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini. Benar-benar simple dan cantik. Bukankah hal ini saja sudah menjadi alasan mengapa kita harus mengambil buku ini dari rak toko buku?

5 dari 5 bintang karena Kim Ji-Yeong adalah kita.

Sincerely, 
Ra


Love & Gelato
Maybe that's the beauty of death, nothing is messy anymore. Everything is sealed up and final. -- Hadley

Love & Gelato. Sumber: Goodreads.com
Title: Love & Gelato
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
Series: Love & Gelato #1
Author: Jenna Evans Welch
Number of pages: 389 pages
Date of published: May 3rd, 2016
Publisher: Simon Pulse

“I made the wrong choice.” 

Lina is spending the summer in Tuscany, but she isn’t in the mood for Italy’s famous sunshine and fairy-tale landscape. She’s only there because it was her mother’s dying wish that she get to know her father. But what kind of father isn’t around for sixteen years? All Lina wants to do is get back home. 

But then she is given a journal that her mom had kept when she lived in Italy. Suddenly Lina’s uncovering a magical world of secret romances, art, and hidden bakeries. A world that inspires Lina, along with the ever-so-charming Ren, to follow in her mother’s footsteps and unearth a secret that has been kept for far too long. It’s a secret that will change everything she knew about her mother, her father—and even herself. 

People come to Italy for love and gelato, someone tells her, but sometimes they discover much more.
*** 

To complete Balabala Reading Challenge 2020, I decided to search a book with ice cream on the cover. After searching on google, my choice landed to Welch's work. I choose this book because this is young adult book and one of my acquaintance in Goodreads made a good review about it. So, why not to give it a try, right?

The Life of Lina


After her mother, Hadley, passed away, Lina went to Italy to live with his father, Howard. But, to be honest, Lina didn't have any idea about his father after all. Her mother never told Lina who her father was until she was dying. Hadley tried to convince Lina that she should goes to Italy and try to stay there for a while with Howard. At the first, Lina refused to do it. But, Hadley being Hadley. She has made Lina promise her to live with Howard for summer.

My mother had kept us apart for sixteen years. Why were we together now?

Living in Italy wasn't something that ever crossed Lina's mind ever. Moreover, live in the middle of cemetery. Well, the fact maybe was hard for Lina. Because, now she is literally live in the middle of cemetery and didn't have any idea what she should do to get socialize. Fortunately, Lina met Lorenzo Ferrara or Ren who actually tried to help Lina adapted in Italy.

Ren was also someone who help Lina to uncover the truth about her mother's life in Italy. This so-called journey was started when Lina got her mother's journal from Sonia--Howard's friend and neighbor. Since Lina was very curious about the fact that her mother has separated her with her own father for more than fifteen years, Lina want to know the exact reason behind of it. Therefore, Lina's journey to find the truth about it is begin.

Image: videoblocks.com, edited by me

Typical Cute Young Adult Book


Considering this is a young adult book, no wonder id the author made this book in the very cute way. After all, this book has aim to entertain the teenager. To be honest, this book is cute and good for light reading. The story is neat and there are a plot twist there even thought I have figured out the twist from the very start.

“I don’t owe you anything. Maybe next time you should have a little more faith in me.” -- Lina.

The love part of this book is typical young adult couple. It's cute, full of lovey dovey, and of course, quite hard to happen in the real life. Nevertheless, I still like Ren as the character. He is gentle and always caring. Even though he is a little bit annoying when he is near Mimi--her ex-girlfriend.

I like the story of Lina and Howard. Their relationship is cute and warm. I wonder if Howard could be a good father after all. Well, at least I am happy with Lina's decision in the end of the story.

Anyway, I just know that this book is a series. So, another book still be related to this book. Hmm, it makes me curious all the way.

Conclusion


For a light reading and cute story, you should try to read Love & Gelato. At least, you will get the explanation about some favorite tourism places in Italy.

3 stars for the Lina and Ren journey to find Gelato.

Sincerely,
Puji P. Rahayu