Showing posts with label Read in 2023. Show all posts
Showing posts with label Read in 2023. Show all posts

Title: The Seven Husbands of Evelyn Hugo
Author: Taylor Jenkins Reid
Publisher: Washington Square Press
Date of publication: June 13, 2017
Number of pages: 398 pages
Read on Libby

From the New York Times bestselling author of Daisy Jones & the Six—an entrancing and “wildly addictive journey of a reclusive Hollywood starlet” (PopSugar) as she reflects on her relentless rise to the top and the risks she took, the loves she lost, and the long-held secrets the public could never imagine.

Aging and reclusive Hollywood movie icon Evelyn Hugo is finally ready to tell the truth about her glamorous and scandalous life. But when she chooses unknown magazine reporter Monique Grant for the job, no one is more astounded than Monique herself. Why her? Why now?

Monique is not exactly on top of the world. Her husband has left her, and her professional life is going nowhere. Regardless of why Evelyn has selected her to write her biography, Monique is determined to use this opportunity to jumpstart her career.

Summoned to Evelyn’s luxurious apartment, Monique listens in fascination as the actress tells her story. From making her way to Los Angeles in the 1950s to her decision to leave show business in the ‘80s, and, of course, the seven husbands along the way, Evelyn unspools a tale of ruthless ambition, unexpected friendship, and a great forbidden love. Monique begins to feel a very real connection to the legendary star, but as Evelyn’s story near its conclusion, it becomes clear that her life intersects with Monique’s own in tragic and irreversible ways.

“Heartbreaking, yet beautiful” (Jamie Blynn, Us Weekly), The Seven Husbands of Evelyn Hugo is “Tinseltown drama at its finest” (Redbook): a mesmerizing journey through the splendor of old Hollywood into the harsh realities of the present day as two women struggle with what it means—and what it costs—to face the truth.


***

Well, aku mengetahui novel ini dari Ayas. Waktu itu, Ayas menyarankan aku untuk membaca novel ini untuk 12 Reading Challenge. Honestly, menurutku novel ini menarik banget. Cara Taylor Jenkins menggambarkan Evelyn Hugo itu kerasa nyata banget. Selama membaca novel ini, aku sampai bertanya-tanya, is she really not real? 


The Story


Cerita dibuka dengan keinginan Evelyn Hugo untuk diwawancarai oleh Monique Grant. Awalnya, Monique yang merupakan seorang jurnalis di Vivan, bertanya-tanya mengapa Evelyn meminta dirinya secara khusus untuk mewawancarainya. Ketika ia sampai di rumah Evelyn, Monique baru menyadari bahwa permintaan Evelyn bukan sekadar tentang wawancara satu artikel lalu selesai. Akan tetapi, Evelyn mengharapkan Monique menulis biografi tentang dirinya.


Awalnya, Monique begitu terkejut dengan permintaan Evelyn. Apakah ada alasan khusus bagi Evelyn memilih dirinya? Evelyn, dengan gayanya yang santai dan tenang hanya berkilah bahwa pertanyaan Monique akan terjawab nantinya, saat kisah hidupnya selesai ia tuturkan.


Meskipun sempat ragu, Monique akhirnya menerima tawaran Evelyn. Sejak saat itulah, Monique mulai mempelajari seluruh gelap-terang kehidupan Evelyn. Begitu pula dengan kelindan kisah Evelyn bersama dengan 7 suaminya.


The Opinion


Seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, Taylor Jenkins Reid telah berhasil menggambarkan kehidupan Evelyn Hugo dengan begitu apik. Kita seolah-olah diajak untuk berkenalan dengan sosok yang betul-betul hidup bernama Evelyn Hugo. Seorang aktris ternama di era 60-an di Hollywood. Ia memiliki kharisma yang begitu kuat serta kecantikan yang tak lekang oleh waktu. Evelyn juga dikenal sebagai salah satu icon Hollywood yang selalu membawa impact ke berbagai hal yang ia lalui.


Saat aku membaca novel ini, aku merasa begitu mudah terhanyut dengan kisahnya. Alhasil, aku ingin sekali segera menyelesaikan membacanya. Aku begitu penasaran dengan seluruh kisah suami-suami Evelyn. Apa yang membuat Evelyn akhirnya memutuskan menikah dengan mereka dan apa yang membuat mereka akhirnya berpisah.


Tentunya, salah satu sosok suami Evelyn yang paling berkesan buatku adalah Harry Cameron. Dengan Harry-lah Evelyn akhirnya melahirkan Connor, putrinya yang akhirnya meninggal karena kanker payudara pada umur 41 tahun. Selain itu, pernikahan Evelyn dengan Harry juga membuka jalan bagi Evelyn untuk bisa bersatu dengan cinta sejatinya, Celia St. James.


Conclusion


Pastinya, aku akan merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi siapapun yang menyukai novel berbentuk memoar fiksi. TJR berhasil menghidupkan sosok Evelyn di sini dan kalian tidak akan menyangka bahwa Evelyn hanyalah tokoh fiksi belaka.


4.5 bintang untuk memoar yang apik ini.


Sincerely,
Ra

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Tebal buku: 272 halaman
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca di Gramedia Digital

ka·tar·sis: n (Psi) cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf dng membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. 

Seluruh keluarganya tewas dalam pembunuhan sadis, sementara Tara ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kotak perkakas kayu. Dengan bantuan Alfons, psikiaternya, polisi berusaha menemukan sang pembunuh lewat Tara yang mengalami trauma berat. Teka-teki pembunuhan ini makin membingungkan setelah muncul Ello, pria teman masa kecil Tara. Kematian demi kematian meninggalkan makin banyak tanda tanya. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

***

Pertama kali tahu soal Katarsis waktu tanya Kakpin soal rekomendasi novel Indonesia dengan unreliable narrator. Waktu itu, aku dikasih pilihan antara Boneka Sandya dan Katarsis--dan aku memilih Boneka Sandya. Baru sekarang aku berkesempatan untuk membaca Katarsis.

The Story

Tara Johandi ditemukan terikat di dalam sebuah peti. Sedangkan, ayah dan tantenya ditemukan tak bernyawa di rumah itu. Dalam keadaan seperti itu, tentu kesaksian dari Tara sangatlah penting. Sayangnya, Tara sama sekali enggan untuk membuka mulut. Hanya Alfons lah satu-satunya sosok yang bisa mendekati Tara dan membuat gadis itu terbuka padanya.

Akan tetapi, nyatanya kita tidak diajak untuk menyelami masa kini dari Tara saja dalam kisah ini. Kita akan diajak memahami kehidupan Tara semasa kecil, dan bagaimana banyak hal gelap yang menyelimuti hidup Tara. 

Ketika keadaan di masa kini menjadi lebih baik untuk Tara, tiba-tiba saja muncul sosok bermama Ello yang mencoba untuk mendekati Tara. Pertemuan itu membuat Tara takjub, karena ia tak pernah bertemu sosok seperti Ello sebelumnya. Sosok yang mampu mengimbangi segala hal yang disembunyikan Tara dari orang lain.

The Opinion

Awalnya, kisah ini menarik. Banyak hal yang langsung memancing rasa penasaran. Seperti, apa yang sesungguhnya membuat Tara sedemikian benci dengan kedua orang tuanya—selain fakta bahwa ia tak menyukai nama yang diberikan orang tuanya. Adakah trauma masa kecil yang disimpan oleh Tara sampai ia merasa bahwa lebih baik orang yang tak ia sukai enyah begitu saja dari dunia. 

Menurutku, motif satu ini tidak begitu tergali dalam kisah Tara. Meskipun penulis mencoba untuk memperlihatkan bagaimana hidup terasa begitu tidak adik bagi Tara, tapi aku sama sekali tak bisa memahami sikap Tara yang demikian. Apakah alasan bahwa dia psikopat iti cukup? Aku rasa harus ada motif mendalam untuk hal ini.

Lalu, aku merasa aneh kala terjadi pergantian sudut pandang antara Tara dan Ello. Yang membuat hal ini menyebalkan adalah, tidak jelasnya POV siapa yang digunakan. Alhasil, kerap kali aku harus menebak-nebak siapa yang sedang berbicara. Apalagi, gaya penceritaan dari sisi Tara dan Ello tidak dibedakan. Hmmm, jadinya malah cuma bikin bingung dan agak membosankan.

Satu lagi yang cukup kupertanyakan, alasan Ello dan ayahnya melakukan pembunuhan berantai itu. Sekali lagi, apakah simply karena keduanya psikopat? Aku masih belum juga memahami motif keduanya.

Terakhir, meskipun aku banyak mengeluh saat membaca novel ini, kisah yang Anastasia ini cukup menarik. Seingatku, pada tahun 2013, masih jarang penulis Indonesia yang mengambil genre thriller. Otomatis, pasti kisah Tara ini menjadi sesuatu hal yang baru kala itu.

Conclusion

Katarsis baru saja diangkat menjadi web series. Aku tak tahu apakah aku akan mencoba untuk menontonnya atau tidak. Mengingat kisahnya cukup gore. 

Untuk sekarang, 3 dari 5 bintang untuk Katarsis.

Sincerely,
Ra


Title: Beyond The Wand: The Magic and Mayhem of Growing Up a Wizard
Author: Tom Felton
Date of publication: 18th October 2022
Number of pages: 305 pages
Publisher: Grand Central Publishing
Read on Libby


From the magical moments on set as Draco Malfoy to the challenges of growing up in the spotlight, get a backstage pass into Tom Felton’s life on and off the big screen.   Tom Felton’s adolescence was anything but ordinary. His early rise to fame in beloved films like The Borrowers catapulted him into the limelight, but nothing could prepare him for what was to come after he landed the iconic role of the Draco Malfoy, the bleached blonde villain of the Harry Potter movies. For the next ten years, he was at the center of a huge pop culture phenomenon and yet, in between filming, he would go back to being a normal teenager trying to fit into a normal school. 
 
Speaking with great candor and his signature humor, Tom shares his experience growing up as part of the wizarding world while also trying to navigate the muggle world. He tells stories from his early days in the business like his first acting gig where he was mistaken for fellow blonde child actor Macaulay Culkin and his Harry Potter audition where, in a very Draco-like move, he fudged how well he knew the books the series was based on (not at all). He reflects on his experiences working with cinematic greats such as Alan Rickman, Sir Michael Gambon, Dame Maggie Smith, and Ralph Fiennes (including that awkward Voldemort hug). And, perhaps most poignantly, he discusses the lasting relationships he made over that decade of filming, including with Emma Watson, who started out as a pesky nine-year-old whom he mocked for not knowing what a boom mic was but who soon grew into one of his dearest friends. Then, of course, there are the highs and lows of fame and navigating life after such a momentous and life-changing experience.
 
Tom Felton’s Beyond the Wand is an entertaining, funny, and poignant must-read for any Harry Potter fan. Prepare to meet a real-life wizard.


***


Harry Potter has always been my favorite series all time. I love how every character from the book has alive. Which character that I love the most? Of course, it would be Draco Malfoy who is portrayed by Tom Felton. So, when by chance I found this book on Libby, I immediately borrow and read it. This memoir of Tom Felton is incredibly interesting. We can learn about the life of Tom Felton as a human, not just about his celeb life--or his wizarding life. 


The Story and Opinion


In this book, Tom invited us to get to know about his life, even before he was cast as the iconic Slytherin student, Draco Malfoy in the Harry Potter franchise. Just like the title, he told us not only about the magic of growing up as a child actor from the very start but also about the mayhem that he had to face. Of course, it's not easy walking in the park to deal with the fame and all, but Tom, with the support from his family and close friend.


Tom Felton, in the beginning, didn't realize that the audition that he took part, in could change his life entirely. Even though Tom still can feel life as a normal boy at his age, he also sometimes felt a dilemma about which one of his real world. Going to school and trying to get a good mark or acting in front of the cameras with the other actor and actresses. Harry Potter did make a huge influence on his life for Tom.


Through Tom's story, we will get to know about how the movie is set, and the interactions between the actor and actresses--either on set or not. Of course, one of the very interesting things is the truth about the relationship between him and Emma Watson and how is his interaction with the Malfoy family. 


Aside from the life of Draco Malfoy, Tom also conveyed the story when he was done filming the entire series. Even though you got all of it, as for the fame and money, Tom realizes that the movie industry and environment won't be easily accepted him on the next project. He learned that he has to go audition all over again to get a part of some projects. It's of course exhausting and sometimes those experiences made him so frustrated. Thankfully, his hard work is really paid off. He could land on some big project with his own capability. In my opinion, Tom Felton is one of Harry Potter's actors that could get a steady project since Harry Potter has ended. 


What I didn't expect the most is the part when Tom admit that he also struggle with his mental health. Some frustration made him have to go to rehab. I believe it won't be easy for him to open up about this. But, he is brave enough to share this story with us.


Conclusion


There are so many things that I like about this book. Tom's playful story and the real struggle of his life as a child who grew up in a wizard world. I love how Tom is capable to convey his story in a simple yet touching way. He is really a great storyteller in my opinion. I think this is the first time I didn't feel that much bored when reading a memoir. 


So, of course, 5 out of 5 stars for this book.


Sincerely,
Ra

Title: Five Feet Apart
Author: Rachael Lippincott
Number of pages: 288 pages
Date of published: November 2018
Publisher: Simon & Schuster Book
Listened on Libby

In fact, I've known about this book for years. If I'm not mistaken, I've added it to my Goodreads to-read list. Years passed, and I never got around to reading it. Until a few days ago, when I discovered this book on Libby. To be honest, I got it as an audiobook. So, while doing my chores, I listened to this book.

The Story

When the blurb stated that this book is similar to "The Fault in Our Stars," I became aware of it. The two main characters are both sick and battling for their lives. Worse, Will and Stella both had cystic fibrosis (CF), an inherited life-threatening disorder which impacts the lungs and digestive system.

Stella and Will were hospitalized the majority of the time due to their condition. They couldn't live their lives normally as a young teenager. They had to put up with a boring white wall and the medicine smell all the time. 

Stella happened to run into Will in the hospital one day. They initially despised each other. They both dislike the other person's attitude. They finally get along after Will started getting to know Stella through her journey video and Stella realized another side of Will. They then become closer as lovers. The problem is that they should keep their five feet apart if they don't want to endanger each other's lives. 

Yeah. That is the unfortunate situation for a CF patient; they cannot touch each other because it can instantly damage their lung. But well, Stella and Will have given their all to life, as CF-ers and as lovers, despite their limitations.

The Opinion

What I like best about this book is how easy it is to understand the plot. Furthermore, because I listened to it as an audiobook, I had no trouble understanding the story. So, yay for me! I hope my listening skills have improved.

Rachael Lippincott, like John Green, then chose to make this story as real as possible. There were no miracles that occurred there. Despite the fact that the ending of this story was not as sad as the ending of the Hazel-Augustus' story.

I thought I would despise Stella at first. I mean, she was just too stubborn at times. But the more I listened to the story, the more I liked this girl. She is a lively person and can encourage Will to keep fighting as a CF-ers.

Then I was also impressed by Will's ability to make Stella being better. He genuinely cared about her, despite his inability to approach her. Another aspect of him that moved me was when he decided to persuade Stella to have the surgery. He also chose the best option he could find to makes Stella's life longer.

Conclusion

After all, I like the story. Since the author made this book as real as possible, I understand why most of the time the setting is only on the hospital. Going out from hospital for CF-ers was most likely difficult. The small reckelesness of it could make the patient die.

Another things that I noticed in this book is about how to deal with the grief. For Stella, losing Anna and Poe broke her so much. But, with Will, Stella realized that she should keep going to try to live. 

So, 4 out of 5 stars for this amazing story. 

Sincerely,
Ra


Judul: Second Chance Summer (Kesempatan Kedua)
Penuli: Morgan matson
Penerjemah: Cindy Kristanto
Tebal buku: 456 halaman
Tahun terbit: 8 May 2012 (pertama terbit)
Baca di Gramedi Digital


Karena memiliki kakak-adik yang hebat, Taylor Edwards tidak pernah merasa dirinya luar biasa. Orang mengenalnya cuma karena ia selalu kabur saat menghadapi masalah berat. Lalu ayahnya mendapat kabar sangat buruk, sehingga keluarga mereka memutuskan untuk berlibur bersama di rumah musim panas.

Taylor terakhir ke tempat itu ketika berusia dua belas tahun, dan sama sekali tidak berniat kembali ke sana. Di rumah dekat danau tersebut, ia harus menghadapi orang-orang yang dikiranya sudah ia lupakan, misalnya Lucy, mantan teman baiknya, dan Henry Crosby, pacar pertama, yang sekarang ternyata jadi jauh lebih imut. Maka tiba-tiba Taylor dikepung berbagai kenangan yang ingin dilupakannya—namun kali ini ia tak bisa kabur.

Seiring hari-hari di pantai dan malam-malam memandangi bintang, Taylor lalu sadar bahwa ia mendapat kesempatan kedua—bersama para sahabat, keluarga, bahkan mungkin cinta.

Namun ia tahu bahwa begitu musim panas berlalu, tak mungkin ia bisa mendapatkan kembali apa yang hilang.

 

***


Well, sebenarnya Second Chance Summer ini merupakan rekomendasi dari Mbak Lila untuk 12 Reading Challenge tahun ini. Jujur, aku belum pernah membaca karya Morgan Matson sebelumnya. Jadi, aku tidak memiliki ekspektasi apa-apa saat membacanya. Sayangnya, aku butuh waktu cukup lama untuk membaca buku ini. Mungkin satu bulan lebih? Entahlah. Ada beberapa hal yang membuatku bosan saat awal-awal membacanya.


The Story


Bagi Taylor, liburan musim panas kali ini akan berbeda dari liburan musim panas sebelum-sebelumnya. Tepat waktu ia berulang tahun, sebuah fakta tak terduga disampaikan oleh kedua orang tuanya. Dad mengidap kanker dan divonis hanya punya waktu empat bulan sebelum semuanya berakhir. Baik Taylor, Warren (sang kakak), dan Gelsey (sang adik), fakta itu bukanlah sesuatu hal yang mudah mereka terima. Bagaimana mungkin Dad yang terlihat baik-baik saja, tiba-tiba saja mengidap penyakit yang begitu mematikan?


Dulu, liburan musim panas jadi salah satu liburan yang Taylor nantikan. Setidaknya, ia bisa bertemu dengan Lucy, kawan baiknya yang selalu menemaninya saat tinggal di rumah danau itu. Lalu, ada juga Henry Crosby, cowok yang menjadi pacar pertamanya saat berusia dua belas tahun. Sayangnya, suatu kejadian membuat hubungan Taylor dengan Lucy maupun Henry menjadi tak baik-baik saja. Bahkan, bisa dibilang sangat buruk. Well, Taylor adalah karakter yang begitu mudah lari dari suatu hal sulit yang seharusnya ia hadapi. Tak peduli bahwa keputusannya tersebut malah menyakiti orang-orang yang sebetulnya menyayangi dirinya. 


Kali ini, mau tak mau Taylor harus berdamai dengan apa yang terjadi saat liburan musim panas lima tahun lalu. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa umur Dad tak lama lagi, dan tentu saja soal hubungannya dengan Lucy dan juga Henry.


The Thought


Jadi, sebagai novel young adult, enggak ada yang salah, kok, dengan novel ini. In a way, mungkin kita bisa sedikit relate dengan Taylor yang selalu memilih jalan mudah saat menghadapi masalah, yakni kabur. Ia selalu tak siap menghadapi masalah yang ia rasa tak sanggup ia hadapi. Meskipun sebetulnya, ia sama sekali belum mencoba untuk mengambil risiko yang ada. 


Meskipun kita bisa sedikit relate dengan karakteristik Taylor itu, harus kuakui, aku cukup sebal karena ternyata, kepengucatan Taylor ini terkadang sangat tidak masuk akal. Ia memilih untuk menghindar daripada jujur pada diri sendiri. Ia juga malah menyusahkan orang lain karena sikapnya itu. Rasanya ingin aku lempar kepalanya karena itu.


Yang membuat novel ini menarik, kita memang diajak untuk menyelami kisah Taylor lebih dalam. Kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada liburan musim panas masa lalu. Apa yang membuat Lucy bersikap begitu dingin pada Taylor? Mengapa interaksi antara Henry dan Talor begitu awkward? dan seterusnya. 


Pada akhirnya, meskipun di awal sudah jelas tujuan dari liburan musim panas Keluarga Edwards ini, kita seolah dibuat lupa oleh tujuan awal itu. Yaa, di sini kita lebih diajak memahami bagaimana Taylor akhirnya belajar menghadapi masalah dan mencoba untuk menyelesaikan hal-hal yang belum selesai lima tahun lalu. Bukannya aku merasa itu jelek, ya. Tapi saat membacanya, aku seperti baru tersadar, "Oh, iya! Bagaimana dengan kabar Dad di tengah Taylor sedang menjalin kembali hubungannya dengan Lucy dan Henry?"


Lalu, apakah aku kaget dengan akhir cerita ini? Jujur, tidak. Aku sudah punya feeling kalau tidak akan ada sudden miracle yang terjadi untuk Dad. Untungnya, penceritaan saat momen itu terjadi, digambarkan cukup realistis oleh Morgan Matson. Meskipun aku tidak sampai menangis saat membacanya, tapi aku cukup bisa merasakan kehilangan dari diri Taylor.


Yang aku suka dari buku ini adalah, bagaiman Taylor mengingatkan kita, bahkan dalam lingkup sekecil keluarga, terkadang kita tidaklah mengenal satu sama lain. Momen-momen saat Taylor dan ayahnya pergi sarapan lalu dilanjutkan dengan melempar pertanyaan ke masing-masing, menjadi menarik untuk disimak. Dari situ, meskipun dalam waktu yang begitu sempit, Taylor mencoba untuk mempelajari hal tentang Dad sebanyak-banyaknya.


Meskipun pada akhirnya ada perkembangan dari karakter Taylor, aku tetap saja sebal dengannya. Kenapa, sih, Henry mau saja balikan sama Taylor? Dengan segala hal yang menyebalkan di diri Taylor, menurutku Henry deserves someone better. 


Conclusion


Awalnya aku skeptis sih, memang, dengan ceritanya. Tapi ternyata, setelah kubaca pelan-pelan, banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah Taylor dan keluarganya. Aku malah jadi penasaran dengan karya lainnya dari Morgan Matson. So, next time?


3.5 bintang untuk sampul yang menarik.


Sincerely, 
Ra

Judul: Map of the Soul: 7 Persona, Shadow & Ego dalam Dunia BTS
Penulis: Murray B. Stein, Steven Buser, Leonard Cruz
Tebak buku: 208 halaman
Penerbit: Penerbit Spring
Beli di official store Penerbit Haru

Kita semua pasti membutuhkan peta saat mengunjungi sebuah tempat baru. Carl Jung, seorang psikolog besar abad ke-20, membuat konsep peta jiwa yang telah membantu banyak orang bahkan hingga saat ini. Kita, yang hidup pada abad ke-21 ini, berada dalam kehidupan modern yang kompleks. Karena itu, kita perlu membekali diri dengan peta ini agar bisa menemukan arah perjalanan hidup kita. Dalam buku ini, Murray Stein, seorang analis psikologi, bersama Steven Buser, dan Leonard Cruz, menjelaskan konsep peta jiwa BTS melalui psikoanalisis Jungian berdasarkan album bestseller mereka, Map of the Soul: 7, dan keterkaitannya dengan masalah kehidupan.

***

Hmm,
jadi aku bisa mulai dari mana, ya? Tentu saja, sebagai ARMY, aku mengetahui kalau serial album Map of the Soul yang dirilis oleh BTS didasarkan dari Map of the Soul Theory. Teori psikologis ini dikembangkan oleh seorang psikiatris dan psikoanalis asal Swiss, Carl Jung. 

Dalam perkembangannya, pemikiran Jung dikenalkan kembali oleh Murray B. Stein, seorang profesor psikiatri yang berbasis di Swiss juga. Bukunya yang berjudul Jung's Map of the Soul: An Introduction dirujuk oleh BTS dan labelnya kala itu. Hal inilah yang menjadi cikal bakal munculnya buku yang kubaca ini.

The Thought

Well, pada dasarnya, aku bukanlah penggemar buku non-fiksi. Sedikit sekali bacaan non fiksi yang pernah kubaca selain untuk tugas kuliah. Kebetulan, aku menemukan buku MOTS 7 ini di akun Penerbit Haru. Jadilah secara impulsif aku membelinya.

Nah, dalam buku satu ini, Murray B. Stein mencoba menginterpretasikan bagaimana lagu-lagu yang ada di album Map of the Soul: 7 dapat dianalisis melalui teori peta jalan. Ini menjadi salah satu bagian utama buku ini. 

Di sini, pembaca seakan diajak untuk memahami arti dari masing-masing lagu dari sisi makna yang ditonjolkan. Apakah mengenai persona dari sang idola, bayangan yang terus membayangi, atau malah ego yang hadir sedemikian rupa. Yang pasti diingat, setiap lagu dalam album MOTS 7 telah disusun sedemikian rupa untuk bisa menyampaikan secara utuh.

Selain pembahasan dari masing-masing lagu, Stein dan dua penulis lainnya, Steven Buser dan Leonard Cruz, juga memberikan pemaparan lebih dalam dari masing-masing elemen dalam teori peta jalan. Apalagi kalau bukan persona, bayangan, dan juga ego.

My Opinion

Secara keseluruhan, tentunya buku ini memberikan pemahaman lebih jauh bagiku soal makna dari Map of the Soul. Tentu saja, pesan yang disampaikan dalam album MOTS terasa lebih mendalam karena menyangkut apa yang ada dalam diri kita. Pesan yang disampaikan mungkin tidak akan segamblang Love Yoursel--setidaknya ini menurutku.

Selama membaca buku ini, ada tiga hal yang masih melekat dalam pikiranku.

Pertama, bagaimana seseorang pada dasarnya memiliki tiga nama, yakni nama aslinya secara formal, nama yang digunakan oleh orang-orang terdekat (baik teman maupun keluarga), serta nama yang bahkan kita tidak tahu kalau ia ada. Nama tersembunyi ini adalah nama yang sudah ada bahkan sebelum orang tua atau masyarakat memberi kita nama. 

Pertanyaanya, apakah memungkinkan seseorang menemukan nama ketiganya itu? Yang kupahami, nama itu bisa kita temukan saat kita sudah melewati proses individuasi. Apakah mudah? Yaa, tentu tidak. Mungkin sampai nanti, kita tidak akan pernah tahu nama ketiga kita yang sebenarnya.

Kedua, pemahaman mendalam soal bayangan yang ada di diri kita. Tentu aku menyadari bahwa setiap orang pasti punya sisi gelap dari persona yang kita tunjukkan ke orang lain. Nah, yang harus digarisbawahi, tak seharusnya kita menafikan keberadaan bayangan kita. Semakin kita abaikan, maka bayangan itu akan berakhir memakan diri kita secara perlahan.

Selain itu, hal yang menarik buatku adalah tentang cara kita bisa mengenali bayangan kita. Stein menjelaskan salah satu caranya adalah melalui mimpi. Terkadang, wujud kita dalam mimpi, atau keadaan yang terjadi di mimpi kita, bisa jadi merupakan representasi dari bayangan yang kita miliki. Menarik, bukan?

Terakhir, bagaimana suatu identitas kolektif dapat terbentuk dalam diri masing-masing anggota BTS. Ini begitu menarik karena semakin mengukuhkan ikatan yang tercipta di antara 7 member. Bagaimana mereka saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.

Kemudian, intensnya interaksi yang tercipta dj antara masing-masing member, memungkinkan terbentuknya identitas kolektif mereka sebagai BTS. 

Conclusion

Seperti yang sempat aku singgung, buku ini menarik sekali untuk dipahami lebih lanjut. Apalagi, kalau kamu adalah ARMY yang ingin mendalami lebih jauh soal peta jalan.

Sayangnya, bagi orang-orang sepertiku yang belum pernah membaca teori peta jalan secara langsung, aku agak merasa lost di awal. Meskipun Stein telah memberikan penjelasan, bagiku konsep antara persona, bayangan dan ego dalam teori peta jiwa cukup sulit untuk dicerna.

Meskipun demikian, aku cukup enjoy saat membaca buku ini.

Jadi, 4 dari 5 bintang untuk sampul bukunya yang membuatku langsung jatuh hati.

Sincerely,
Ra
Judul: Kumpulan Dongeng untuk Penulis
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penulis: Lawrence Schimel
Tebal buku: 38 halaman
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Marjin Kiri

Serigala jahat menawarkan kontrak penerbitan yang tampak menggiurkan kepada Kerudung Merah yang lugu; Sinderela kabur meninggalkan si editor dalam acara pembacaan sebelum memperkenalkan diri; itik buruk rupa merasa berbeda dari saudara-saudaranya karena dia suka membaca…

Lewat pelesetan dongeng-dongeng klasik, Lawrence Schimel mengajak pembaca berkelana mengarungi serba-serbi dunia penulisan dan penerbitan, lalu bertanya: adakah akhir yang bahagia di dunia perbukuan?

***

Sepertinya, ini buku tertipis yang pernah aku baca. Selain fakta dia hanya terdiri dari 38 halaman, sepertinya ukuran tulisan di buku ini memakak font 14 atau bahkan 16. Jadi, buku ini memang kerasa singkat banget.

The Story and Opinion

Sesuai dengan judulnya, Kumpulan Dongeng untuk Penulis ini merupakan kumpulan kisah dongen yang diceritakan kembalu dengan unsur kepenulisan. Iya, kalian enggak salah membaca. Lawrence Schimel mencoba untuk memberikan serba-serbi dunia kepenulisan dan penerbitan dalam setiap dongeng.

Jadi, jangan heran kalau bertemu dengan Sinderella yang membuat sang pangeran penasaran karena tulisannya atau Si Gadis Berkerudung Merah yang ditipu oleh serigala untuk bisa menerbitkan kumpulan cerita yang ia buat.

Sejujurnya, aku suka dengan idenya. Mempertemukan kisah dongeng dan problematika dunia kepenulisan itu unik. Mungkin, buku ini bakalan kerasa relate buat kawan-kawan penulis. 

Di buku ini, Schimel mengajak kita memahami permasalahan yang ditemui oleh seorang penulis dari awal. Mulai dari mencari ide, mengembangkan cerita, hingga upaya untuk menerbitkan karya yang enggak mudah.

Aku jadi penasaran. Kira-kira apakah ada yang tertarik membuat versi Indonesia-nya, ya?

Conclusion

Berhubung seluruh kisah ini masih memiliki napas yang sama, aku cukup enjoy membacanya. Meskipun aku berharap kalah ceritanya akan jauh lebih panjang, ya. Ini terlalu singkat!

Yaa, setidaknya retelling dongeng satu ini cukup unik dan fresh.

3 dari 5 bintang untuk sampul buku yang cakep.

Sincerely, 
Ra
Judul: Angsa Liar
Judul lain: The Wild Geese, Gan
Penulis: Mori Ogai
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Moooi Pustaka
Tebal buku: 156 halaman
Pinjam dari Supri

“Walaupun aku bersikap malu-malu di depan tuanku, sebenarnya aku berani mengatakan apa saja asal kau mau. Tapi kenapa aku tidak bisa menyapa Pak Okada?”

Otama memperoleh harapan hidup yang baik saat berencana menikah dengan seorang polisi, yang ternyata sudah beristri dan kemudian membuangnya. Ibarat keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau., Otama lepas dari si polisi untuk menjadi gundik seorang rentenir.

Satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki hanyalah fantasi tentang seorang mahasiswa tampan bernama Okada, yang sering lewat di depan rumahnya, dan tampaknya juga megagumi Otama dari jauh.

***

Wah, sepertinya ini salah satu novel klasik tertua yang pernah aku baca. Angsa Liar, atau judul aslinya The Wild Geese merupakan salah satu karya terkenal dari Mori Ogai. Bisa dibilang, ini adalah karya klasik Jepang yang ditulis untuk memahami perubahan sosial dan modernisasi pada tahun 1880-an di Tokyo.

The Story

Angsa Liar diceritakan oleh si tokoh aku yang merupakan tetangga dari Okada, seorang mahasiswa kedokteran yang terpelajar. Dari sudut pandang tokoh aku yang serba tahu, kita diajak untuk memahami kelindan kehidupan Okada dengan sosok Otome. Siapakah Otome?

Membicarakan Otome tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sosok Suezo. Suezo dikenal sebagai rentenir yang suka meminjamkan uang kepada para mahasiswa pada zamannya. Dulu dia meminjamkan uang seadanya kepada para mahasiswa tersebut. Hingga pada akhirnya dia berhasil merintis bisnisnya sendiri dan menjadi sukses.

Sayangnya, kehidupannya yang terlihat lengkap itu, tidak membuat Suezo puas. Ia merasa ada yang kurang. Maka dari itu, Suezo berupaya memenuhi obsesinya untuk bisa memiliki sesosok gadis yang terkenal kecantikannya kala itu, Otome.

Otome sendiri merupakan anak satu-satunya dari Pak Tua. Dalam kehidupannya, Otome dan Pak Tua selalu ada untuk sama lain. Sejumlah keputusan hidup yang diambil Otome selalu mempertimbangkan keadaan Pak Tua. Maka, ketika Suezo bermaksud menjadikan diringa seroang gundik, maka Otama mensyaratkan supaya Suezo juga memberikan kenyamanan bagi Pak Tua. Mau tidak mau, Suezo pun harus menuruti kemauan Otama.

Kehidupan Otama sebagai gundik pun berjalan. Awalnya, ia tidak merasa ada hal luar biasa dalam hidupnya. Hingga akhirnya Otama mengetahui kebenaran akan identitas Suezo. Sejak saat itu, Otama merasa perlu mencari sosok yang bisa melepaskan diringa dari keadaan yang sekarang. Pada akhirnya, ia menemukan harapan itu dari sosok Okada yang terkadang berjalan di depan rumahnya.

My Opinion

Terkadang, menurutku kisah klasik itu bisa saja sederhana. Sama seperti kisah di Angsa Liar ini. Menurutku, meskipun sosok Otama menjadi sentral dan Okada merupakan tokoh yang dikenalkan pertama kali, aku malah merasa Suezo lah yang menjadi tokoh utama di sini. Ia yang malah mendapatkan spotlight di keseluruhan cerita.

Lalu, sebagai bukan pembaca karya Jepang, aku jadi sedikit belajar soal keadaan sosial di tahun 1880-an dari novel ini. Waktu aku mencari info soal novel ini, aku baru tahu kalau salah satu unsur dari novel ini menceritakan tentang perubahan di antara masa Edo dan Meiji. Jujur, aku sama sekali tidak familiar dengan periodesasi di Jepang. Mungkin aku harus banyak membaca novel-novel Jepang untuk memahaminya.

Bagiku, membaca novel dengan sudut pandang tokoh aku yang serba tahu ini menjadi unik. Aku enggak terlalu ingat, sih, apakah aku pernah membaca novel dengan sudut pandang serupa sebelumnya.

Terakhir, aku sangat memahami bagaimana kisah di Angsa Liar ini tidak menampilkan akhir bahagia untuk Otama dan Okada. Bagaimanapun, inti dari novel ini bukanlah romansa yang tercipta dari kedua tokoh tersebut. Tapi, lebih ke kenyataan yang terjadi untuk seorang perempuan muda--yang tak punya kuasa--pada zaman itu yang mungkin saja dijadikan gundik. Sedangkan, sosok pemuda di zaman itu sudah bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan, bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan karirnya luar negeri. Betapa ironis ya, kenyataan yang terjadi.

Conclusion

Membaca Angsa Liar menjadi salah satu pengalaman unik buatku. Bahkan, aku jaxi penasaran dengan periodesasi Jepang lebih lanjut. Yaa, meskipun membaca novel klasik bukanlah hal favoritku, sepertinya aku bisa mempertimbangkan hal ini lebih jauh.

Nah, demikianlah pendapatku soal novel pendek satu ini. 

3 dari 5 bintang dariku untuk si angsa liar yang dimunculkan di akhir.

Sincerely,
Ra