Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts
Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts

Bumi Manusia
Ketika nasionalisme menjadi suatu diskursus yang akan selalu dipertanyakan.

Bumi Manusia. Image: IMDb
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti
Tanggal rilis: 15 Agustus 2019
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer
Produksi Falcon Pictures
Ditonton di Kemang Village XXI

This is a story of Minke and Annelies who weave love in the early 20th century colonial turbulance. Minke is a native youth, purebred Javanese. While Annelies is a mixed-Dutch girl, the daughter of a nyai (mistress), called Ontosoroh. Minke's father, who has just been appointed as regent, is always against Minke's closeness to the Nyai's family, because a Nyai's position at the time is seen to be as low as pet animals. But this one nyai, Nyai Ontosoroh, Annelies' mother, is different. Minke admires all of her thoughts and struggles against the arrogance of colonial hegemony. To Minke, Nyai Ontosoroh is the reflection of modernization, which at the time is just beginning to rise. When the arrogance of colonial law tries to wrench Annelies from Minke's side, Nyai Ontosoroh is also the one who urges Minke to keep going and shout the word, "Fight!"
***

Hari itu, salah seorang kenalan menawarkan satu tiket nonton gratis film Bumi Manusia di Kemang Village. Berhubung kantor tempat saya magang tak jauh dari lokasi tersebut, saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang digadang-gadang menjadi karya terbesar tahun ini.

Bagi para pecinta sastra, rasanya tak akan lengkap bila tak membahas sosok Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah seorang sastrawan yang dicinta sekaligus dibenci. Ia memiliki pemikiran yang tak biasa dan tentunya sanggup menuliskan imaji-imajinya secara apik dalam tetralogi Pulau Buru.

Saya harus mengakui, saya bukanlah orang yang pintar berkontemplasi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman saya, kemampuan saya mengenai hal itu akan berbeda jauh. Ketika saya membaca Bumi Manusia, saya harus terseok-seok memahami apa yang ingin disampaikan Pram. Begini, saya adalah orang yang masih mempertanyakan apa itu bangsa. Iya, what is nation? Pada dasarnya, bangsa Indonesia itu yang mana? Terdiri dari siapa? Atau bahkan, apa itu bangsa Indonesia? Saya bukannya tidak mempercayai nasionalisme--saya sedikit jengah dengan narasi NKRI harga mati atau lainnya, tapi saya percaya bahwa negara ini masih dalam tahap nation-building. Memadukan pemahaman akan bangsa Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dapat dilihat dari kerusuhan yang tercipta baru-baru ini. Bukankah itu juga berujung pada pertanyaan akan diskursus nasionalisme?

Sudah-sudah. Kalau diteruskan, akan menambah panjang ketidakmengertian saya akan diskursus ini sendiri. 

Darsam dan Minke. Image: BookMyShow
Kembali ke film Bumi Manusia. Tentu, bagi para penonton yang sudah membaca karya Pram itu, rasanya tidak mungkin untuk mengadaptasi karya semegah Bumi Manusia ke dalam film. Saya pun cenderung skeptis ketika Iqbaal Ramadhan didaulat menjadi Minke. Begini, bukannya, lagi-lagi, saya merasa bahwa Iqbaal tidak memiliki kapasitas dalam berakting, hanya saja saya merasa akan sulit baginya menghidupkan sosok Minke. Sosok Nyai Ontosoroh pun juga sedikit-banyak saya takutkan perannya--karena saya masih terbayang sosok Happy Salma dalam teater Bunga Penutup Abad yang memainkan sosok perempuan kuat itu.

Akan tetapi, sebagaimana yang seharusnya, saya pun mencoba menonton Bumi Manusia tanpa adanya ekspektasi yang terlalu tinggi. Takut kecewa, itu saja.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas alurnya karena secara apik, nyatanya Salman Aristo, sang penulis naskah, berhasil mencoba merangkum kisah Bumi Manusia menjadi film berdurasi tiga jam. Well, saya akui kok kalau saya merasakan kebosanan di tengah film--dibuktikan dengan saya rela meninggalkan tempat duduk barang sepuluh menit untuk ke toilet. Akan tetapi, apabila memang penonton ingin melihat betapa manisnya hubungan Minke dengan Annelies (Mawar Eva De Jongh), Hanung Bramantyo selaku sutradara berhasil menyajikannya dengan apik. Bahkan menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini--atau begitulah yang disampaikan oleh salah satu resensi yang sempat saya baca sebelumnya.

Annelies dan Minke. Image: The Jakarta Post
Lalu, saya sangat suka dengan Sha Ine Febriyanti yang berhasil menghidupkan Nyai Ontosoroh dengan begitu hebatnya. Mungkin, bagi para pembaca Bumi Manusia, sosok Sha Ine lah yang pantas mendapatkan standing ovation. Bukan Iqbal maupun Mawar. Iya, bagi saya, bukannya kedua pemeran utama itu tak melakukan akting terbaiknya, hanya saja terasa ada yang kurang dari karakter mereka dalam film ini. 

Nyai Ontosoroh. Image: Falcon Pictures.


Kalau ada yang ingin saya keluhkan, maka saya akan menyebutkan CGI dari film ini. Iya, saya tahu pasti tidak mudah memunculkan kembali nuansa zaman dahulu kala di zaman serba modern ini. Akan tetapi, kalau ditonton lebih jauh, CGI tersebut malah cenderung mengganggu. Belum lagi, lokasi danau tempat Minke dan Annelies sering memadu kasih, danaunya terlihat... sungguh tak nyata. Saya jadi tidak bisa mendapatkan feel ketika menontonnya. 

Kemudian, sosok Jean Marais yang seharusnya menjadi salah satu tokoh penting, malah tak nampak signifikansinya. Ia pun muncul hanya untuk menekankan kutipan "adil sejak dalam pikiran". Itu saja. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Lalu, apa kesimpulan saya untuk film epic ini? Saya akui bahwa saya memang sudah seharusnya mengapresiasi upaya para sineas film ketika menghidupkan sosok-sosok dalam kisah gubahan Pram tersebut. Terlepas dari kekurangan yang menyertainya.

Saran saya, tontonlah film ini sebagai bentuk hiburan. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi apabila memang kamu telah membaca novelnya. Bagi yang belum membaca, coba nikmati film panjang berdurasi tiga jam ini dengan bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu


Bumi Manusia

"Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan." - Nyai Ontosoroh.

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul buku: Bumi Manusia
Genre: Fiksi sejarah
Seri: Tetralogi Pulau Buru
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal buku: 535 halaman
Tahun terbit: Oktober 2010, cetakan 16
ISBN: 979-97312-3-2
Pinjam dari Mbak Rina Noviyanti

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
"Kita kalah, Ma," bisikku. 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." 
***

Ada yang pernah berkata pada saya, "seharusnya kamu membaca tetralogi Pram ketika kamu masih kuliah." Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya dan saya memang sedikit menyesal baru bisa membaca salah satu karya luar biasa dari penulis yang satu ini sekarang.

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." - Nyai Ontosoroh.
Bagaimana tidak, kontroversi mengenai buku ini pun diketahui oleh siapa saja. Bagaimana buku ini dilarang diedarkan pada zaman orde baru. Bagaimana kemudian Pram pun ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru.

Adalah Minke, seorang pemuda yang tinggal di Surabaya dan bersekolah di HBS. Ia sangatlah menghargai sastra dan terkadang tulisannya pun dimuat di harian lokal. Setidaknya, dari situlah Ia mendapatkan penghasilan, selain dari upayanya membantu memasarkan lukisan-lukisan yang dibikin oleh Jean Marais, seorang pelukis asal Perancis yang pernah bersekolah di Sorbonne.

"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini." - Jean Marais.
"Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya." - Jean Marais.
Suatu ketika, Minke berkesempatan untuk mampir ke Boerderij Buitenzorg, sebuah perusahaan Belanda yang dikelola oleh seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Semenjak kunjungannya tersebut, pada akhirnya Minke pun terlibat dengan berbagai kisah, mulai dari tinggal di Buitenzorg, hingga menikah dari putri Nyai Ontosoroh, Annelies.

Kalau ditanya apa reaksi saya ketika membaca novel ini, jujur saya bingung mau berkomentar seperti apa. Meskipun terasa sederhana, pada dasarnya kisah dalam novel ini memang terasa sangat penuh dan complicated. Ini bukan sekadar tentang kisah romansa antara Minke dan Annelies, tapi juga bagaimana kehidupan yang dapat terjadi di era penjajahan tersebut.

Era saat terdapat strata sosial yang terbentuk, mulai dari orang kulit putih, orang kulit berwarna, dan juga pribumi--tentu saya masih ingat permasalahan soal penggunaan terminologi pribumi beberapa tahun lalu. Nah, inilah yang kemudian dapat terungkap. Bagaimana seorang Minke memberontak karena status yang ia miliki.

Sedangkan Nyai Ontosoroh.. harus saya akui menjadi tokoh favorit saya dalam novel ini. Seorang perempuan jawa yang mau mendobrak tradisi dan berhasil "memerdekakan" dirinya sendiri. Saya bangga bias menemukan sosok seperti Nyai Ontosoroh.

"Kita kalah, Ma." 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." - Minke dan Nyai Ontosoroh.
Pada dasarnya, saya tahu ada banyak hal yang bias diambil dari novel ini. Mungkin, di kesempatan lain, saya bisa menambahkannya.

Yang pasti, 4 bintang untuk karya pertama Pram ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu