Showing posts with label Posting Bareng BBI. Show all posts
Showing posts with label Posting Bareng BBI. Show all posts
Satu hari dua postingan bareng BBI? Kenapa enggak?
kalau postingan sebelumnya membahas harapan-harapan di tahun 2017, maka sekarang aku akan berbagi soal 5 buku paling berkesan di tahun 2016! Horay!

Sumber gambar: google, disunting oleh Puji
Kenapa sih aku memilih tema buku paling berkesan? Ya, soalnya gampang, Nggak terlalu banyak mikir buatnya. Hehe. Sebenernya, ini bener-bener buku random banget sih. Soalnya bacaanku nggak semutakhir itu. Hoho.

Aloha!

Apakah ada yang merindukan aku? Nampaknya tidak ada.. Ehm, jadi begini, pada dasarnya aku sedikit sedih karena beberapa bulan ini aku absen untuk ikut Posting Bareng BBI. Alasannya? Puji lagi sibuk. Hihi. Iya, kemarin banyak banget tugas kuliah yang harus diselesaikan. Jadinya sih malah mager buat postingan. Krauk krauk.

Sumber gambar: google, disunting oleh Puji
Aloha! 

Tak terasa satu bulan sudah berlalu dan waktunya posting bareng BBI. Hore! Nah, untuk tema bulan September ini, tema yang diangkat adalah #BBITempatBaca. Wah, menarik banget kan, ya? Pasti seru nih bahas tempat baca yang enak kayak gini. Hoho.

Berhubung aku lagi nggak punya ide yang ciamik dan lagi nggak mau nge-foto kamar kosan sebagai tempat baca, soalnya berantakan dan agak nggak layak posting, aku mau share tempat-tempat yang aku gunakan sebagai tempat baca semasa aku tinggal di Malang. Yap, sekalian promosi lah ya. Hoho.
Disclaimer!
Resensi novel Pulang ini awalnya mau saya tujukan sebagai postingan resensi saja. Akan tetapi, saya memutuskan untuk menggabungnya dengan Posting Bareng BBI. Mengapa? Kemarin saya berniat membuat artikel 'sok-sokan' mengenai latar peristiwa kebanyakan novel fiksi sejarah Indonesia. Namun, apa daya, kepulangan saya dari Riau membuat saya malas tujuh turunan untuk membuatnya. Bahkan, untuk sekadar meriset pun saya tidak berminat. Jadilan, postingan ini yang akan saya setorkan sebagai bentuk keikutertaan saya dalam Posting Bareng BBI. Hehe.


Pulang
"Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh."

By Leila S. Chudori
4.5 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Gambar sampul dan isi : Daniel "Timbul" Cahya Krisna
Tata letak sampul          : Wendie Artswenda
Tata letak isi                 : Wendie Artswenda dan Stefanus Gunawan
Penerbit                        : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit                  : Februari 2016, cetakan ketujuh
Tebal buku                    : viii+461 halaman
ISBN                             : 9789799105158

Paris, Mei 1968. 



Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.


Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.

***

Membaca novel ini, membuat saya memahami satu hal. Terma "pulang" tidak dapat dilakukan oleh setiap orang. "Pulang" sendiri menjadi satu hal yang akan sulit dilakukan bila keadaan tidak memungkinkannya. Adalah Dimas Suryo. Seorang eksil politik Indonesia yang menetap di Paris. Sebagai eksil politik, Dimas harus pintar-pintar untuk mencari tempat tinggal. Kenyataan bahwa ia tidak diterima oleh negerinya sendiri, membuat Dimas secara paksa tidak bisa merasakan "pulang".

Aloha!
Selamat liburan untuk semuanya!

Yeay. Liburan merupakan salah satu momen yang aku tunggu-tunggu  Kenapa? Karena aku bisa baca novel seenak jidat tanpa takut besok harus baca bahan-entah-apa-untuk-kuliah. Mohon maaf, aku sudah lelah dengan David Held, John Galtung, Martha Finnemore, Amitav Acharya, dan kawan-kawan. Aku butuh recharge setelah hampir empat bulan kemarin berhadapan dengan tokoh-tokoh yang sudah aku sebutkan di atas--berhadapan dengan tulisan mereka yang pasti. Haha. Berhubung tema posting bareng BBI ini unik, aku langsung bersemangat untuk ikut meramaikan.

Dan, tema untuk bulan ini adalah #BBIHoliday.

Yeay. Ini adalah postingan pertamaku dalam ajang Posting Bareng BBI. Hehe. Maafkan. Bukannya gimana-gimana. Sebagai anggota baru, aku masih kagok nih dengan semua event yang diadain sama BBI. Masih belajar untuk mengikuti. Dan, ini adalah salah satu usahaku untuk menjadi anggota BBI yang baik. Hihi.

Source: Canva.com, edited by me

Hemm, jadi untuk tema posting bareng bulan Juni ini adalah #BBIBookishConfession. Tentunya, mendengar kata ini itu serasa mau pengakuan dosa. Sebagai tukang baca buku gratisan, aku punya beberapa pengakuan yang semoga tidak dilihat oleh orang-orang yang terlibat dalam pengakuanku.