Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts
Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts
Judul: Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Tahun terbit: 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 192 halaman
Baca di Gramedia Digital

Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu lebat, juga tak benar-benar hijau. Hijau yang kering dan lesu, namun justru terlihat ramah dan tak menakutkan untukku.

Perjalanan ke salah satu wilayah terluar Indonesia mengantarkan Matara, gadis berusia dua belas tahun, pada petualangan menakjubkan yang belum pernah ia bayangkan. Dunia yang serbaganjil pun menjadi sebuah kenyataan baru untuknya.

***

Novel karya Okky Madasari selalu menjadi novel yang kusuka. Berbagai bentuk kritik sosial dilontarkan oleh Okky. Kali ini, aku menyelami kisah Matara, kisah petualangan yang ditujukan oleh Okky untuk anak-anak.

Tentang cerita

Matara dan mamanya pergi meninggalkan Jakarta. Hal ini terjadi karena Papa sudah tak lagi bekerja dan pertengkaran selalu menghampiri mama dan papa. 

Mama adalah seorang pencerita. Ia membuat cerita untuk kemudian dituliskan. Bisa dibilang, Mama adalah perempuan yang cukup ensentrik dan tidak konservatif.

Perjalanan ke daerah timur Indonesia mengantarkan Mata ke sebuah petualangan yang sama sekali berbeda dari bayangannya. Ketika terpisah dari mamanya, Mata berkunjung ke tanah Orang Melus, bertemu dengan Ratu Kupu-kupu, dan juga Dewa Buaya. Ditemani Atok, Mata bertualang dan menyadari bahwa banyak hal yang mungkin tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia biasa.

Tentang pendapatku

Dari awal, Okky memang menekankan bahwa kisah Mata adalah sebuah kisah petualangan anak-anak. Apakah ada siratan kritik sosial di dalam kisah Mata ? Tentu saja ada. Meskipun tipis saja. Tidak menjadi bagian utama dari kisah petualangan ini.

Membaca Mata di Tanah Melus memang serasa membaca kisah petualangan anak-anak yang menemukan tempat baru. Mereka menghadapi pengalaman baru sembari bertemu dengan orang-orang dewasa yang terkadang tidak memahami mereka.

Bagiku, membaca novel ini memang menjadi novel penghibur. Masalah yang dibawa tidak terlalu berat. Ini tentang Mata yang mencari mamanya. Mereka tak sengaja terpisah dan berakhir membuat Mata mengalami pengalaman yang tak biasa.

Kesimpulan

Ini kisah sederhana yang bisa dinikmati dalam sekali hidup. Menurutku, cocok lah untuk dijadikan buku bacaan bagi anak-anak. Meskipun, bagi yang tidak lagi anak-anak, kisah Mata juga lumayan menarik untuk diikuti.

Bahkan, aku malah penasaran dengan kisah 
Mata selanjutnya. Apakah berhubungan dengan buku pertama ini? Apakah Mata akan kembali terpisah dari mamanya?

3.5 dari 5 bintang untuk kisah Matara.

Sincerely, 
Ra

Maryam
"Apa yang diharapkan orang yang terbuang pada sebuah kepulangan?"

by Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul: Restu Retnaningtyas
Desain sampul: Marcel A.W.
Tahun terbit: April 2016, cetakan ketiga
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-979-22-8009-8
Pinjam dari Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia


Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

Maryam Hayati


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Selamat datang di Indonesia!

Negara kepulauan yang digadang-gadang menghargai keberagaman suku, ras, dan agama. Negara indah yang dibanggakan karena semangat multikulturalismenya menurun dimana-mana. Negara yang menawarkan kedamaian dan ketenangan bagi siapa saja yang tinggal di sana. Negara yang... pada akhirnya malah mengingkari semua hal yang telah tersebutkan di atas. Negara yang nyatanya tidak benar-benar menghargai perbedaan dan cenderung mendahulukan kepentingan mayoritas. Negara yang pada akhirnya dipertanyakan, apaah benar ada yang namanya "bangsa Indonesia"?

Saya hanyalah seorang pembaca. Pembaca kisah Maryam yang ditulis oleh Okky Madasari. Diceritakan bahwa Maryam memiliki keluarga yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Ia dan keluarganya adalah seorang Ahmadi. Kelompok yang dianggap sesat dan dimusuhi oleh kelompok islam lainnya. Kelompok yang memengaruhi hidup Maryam dari kecil hingga dewasa. Kelompok minoritas yang pada akhirnya tergerus oleh mayoritas. Kelompok yang entah bagaimana kepastian hidupnya.

Dimulai dari kepulangan Maryam ke kampung halamannya, Maryam mencoba untuk menggali masa lalu dan mencari arti penting dari keluarga. Kemudian, meluas pula dengan menemukan cinta kembali. Maryam yang rapuh dan hancur, mencoba untuk kembali membangun hidupnya. Lewat canda, tawa, serta tangis yang dikeluarkan, Maryam akhirnya mengerti, keadilan di negeri ini bukanlah yang benar-benar adil. Hanya kiasan indah yang terus didengungkan oleh para penguasa.

Membaca Maryam, membuat saya diajak untuk melihat dan menelaah lebih dalam, penghargaan perbedaan di Indonesia tidak seindah yang kita bayangkan. Masih ada praktik-praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh mereka, para manusia yang termasuk ke dalam kaum mayoritas. Bukankah, yang sekarang pun demikian? Muncul lagi isu-isu mengenai mayoritas dan minoritas? Siapa yang punya kuasa dan siapa yang dikuasai? Bukankah negeri ini menjadi memilukan?

Sumber gambar: etsy.com
Saya selalu suka dengan cerita-cerita yang ditawarkan oleh Okky Madasari. Ia bisa menjelaskan secara gamblang mengenai realitas sosial yang ada di Indonesia. Ia berani untuk membahas hal-hal yang katanya masih "tabu" dan mengakibatkan ketubiran. Saya sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh Ibu satu anak ini.

Selain itu, Okky berhasil menyelipkan makna di balik apa yang ingin sampaikan. Yang pasti, saya meyakini, Indonesia bukanlah negara yang benar-benar memiliki keindahan. Itu hanyalah asumsi yang terus diagungkan padahal belum tentu benar adanya. Padahal, itu masihlah harapan yang tiap hari makin terkikis dengan berbagai permasalahan kesukuan dan keagamaan yang ada.

Well, I know that this review is not like a good review. It's just my thinking and rant about what happened in Indonesia lately. I am sad when the minority have to accept something that really bad because of the majority said so. It is unfair, isn't it? I don't understand why the multiculturalism that is built from a long time ago, have ruined by the egoistic side of some people.

Empat bintang saya sematkan untuk kisah Maryam. Bukankah, terkadang kita memang bisa menjadi orang yang terbuang?

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Pasung Jiwa
Kita mungkin punya kehendak bebas. Mungkin. Tapi toh pada akhirnya, ada yang membatasi segala kehendak yang kita miliki itu.

oleh Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Desai sampul: Rizky Wicaksono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei, 2013
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-9669-3
Baca via iJakarta


Apakah kehendak bebas benar-benar ada?Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernahkah kalian memikirkan, apakah kehendak bebas itu benar-benar ada? Memang dikatakan kalau Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat karena kita adalah manusia. HAM merupakan satu hal yang universal dan dimiliki oleh setiap orang, dimanapun mereka berbeda. Adanya HAM seolah-olah menjamin bahwa kebebasan seseorang dalam berlaku dan bertindak dapat terjadi. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah setiap keputusan yang kita ambil, tindakan yang kita lakukan, murni pengejawantahan dari kehendak bebas yang kita miliki? Apakah benar, kita ini memiliki kehendak bebas? Bukankah pada akhirnya keseluruhan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan merupakan hasil kontemplasi dari batasan-batasan yang ada dalam masyarakat? Batasan-batasan yang tanpa sadar telah mengekang kehendak bebas kita.

Tak pentinglah bagaimana orang memanggilku. Karena aku tetaplah aku. Tak peduli bagaimana wujudku, aku tetaplah aku. -- hlm. 56 

Sepenggal Cerita
Sasana dan Jaka Wani. Dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Akan tetapi, dapat bertemu dan saling bekerja sama untuk mencapai keinginan terdalam mereka, bebas sebagai seorang manusia.

Bagi Sasana, musik dangsut merupakan bentuk kebebasan yang ia inginkan. Sejak kecil. orang tuanya menginginkan Sasana untuk belajar musik klasik. Kursus piano setiap dua minggu sekali membuat Sasana dapat menghafal berbagai komposisi gubahan Mozart, Bach, dan lainnya. Meskipun terlihat Sasana menguasai semua hal dalam hidupnya--baik dalam bermusik maupun prestasi akademik, Sasana menyadari, jiwanya berontak. Ia tak tahan harus berpura-pura menyukai hal yang tak ia sukai. Suatu ketika, Sasana tak sengaja mendengarkan musik dangdut dari kampung di belakang rumahnya. Sejak saat itu, Sasana menyadari bahwa dirinya ingin bebas. Bebas dari segala tuntutan yang dilayangkan padanya.

Tempat ini akan menyelamatkanku dari ketidakwarasan. Ini tempat pembebasan. Bebas dari ketakutan, bebas dari kesintingan. Saat semua yang sinting adalah normal, saat kewarasan adalah keanehan. Apa yang tak boleh kulakukan di sini? Aku sedang tidak waras.

Jaka Wani atau yang sering dipanggil Cak Jek hanyalah seorang pengamen biasa. Bersama dengan Sasa, Cak Jek berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap musik. Tak ia pedulikan keseluruhan tatanan dan norma dalam masyarakat yang terkadang memandang rendah pekerjaan yang ia geluti. Bagi Cak Jek, musik sudah menjadi darahnya. Darah yang mengalir di tubuhnya tanpa kenal henti.

Pertemuan Jaka Wani dan Sasana layaknya sebuah takdir. Mereka dipertemukan, disatukan oleh satu tujuan, kemudian dipisahkan oleh pasung-pasung kebebasan. Sasana yang harus menghadapi penjara ketidakwarasan dan Jaka Wani yang harus berjuang menjadi mesin di sebuah pabrik. Keduanya menyadari, apa yang mereka alami adalah suatu bentuk penahanan kebebasan yang mereka miliki. Kebebasan yang entah kapan dapat mereka raih. Nyatanya, apa yang ada di masayrakat, telah membatasi kehendak bebas mereka.

"Pikiranku ini sebenarnya bukan punyaku. Ini pikiran banyak orang yang kebetulan saja ada di dalam diriku." Banua, hlm. 137. 
"Jika kebebasan itu ada, aku tak akan pernah ketakutan lagi. Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tidak ada." Sasana, pg. 144 

Secuil Pendapat
Membaca Pasung Jiwa memang tidak semudah yang aku bayangkan. Sejak aku membaca Entrok, aku memang cukup penasaran dengan semua novel karangan Okky Madasari. Aku tertarik dengan cara Okky menyampaikan berbagai bentuk kritik sosial dalam bentuk cerita. Aku puas membaca Entrok karena di sanalah, Okky mengungkapkan pendapatnya akan sejarah hingga feminisme. Dalam Pasung Jiwa, aku seolah-olah diajak untuk menyelami mengenai makna kebebasan--and to some extent tentang kewarasan. Setelah aku membaca novel ini pun, aku semakin sadar, apa yang ada di dunia ini, apa itu baik, buruk, normal, tidak normal, waras, dan tidak waras hanyalah konstruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat. Aturan dan tatanan yang ada, nyatanya semakin membatasi kehendak bebas yang kita miliki.

Resensi Pasung Jiwa oleh Pui P. Rahayu
Mungkin banyak yang merasa aneh saat membaca Pasung Jiwa. Aku akui memang tidak memudah membacanya. Akan tetapi, aku cukup senang membaca novel yang membuatku berpikir lagi akan kehidupan. Dari awal pun, aku sudah skeptis dengan adanya "kenormalan" dan kebalikannya. Bagiku, tetap saja masyarakat yang menentukan apa itu normal dan tidak.

Kesimpulan
Hidup sebagai manusia itu tidak mudah. Menjadi normal mungkin saja telah membuat diri kita menjadi tidak normal. Membuat jiwa kita terpasung sedemikian rupa. Untuk kalian yang ingin menelaah lebih lanjut akan kehidupan, Pasung Jiwa bisa menjadi pilihan untuk dibaca.

"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda."
Seluruh hidupku adalah perangkap.Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku. — Sasana, hlm. 293.
4 bintang untuk Sasana dan juga Jaka Wani.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Entrok
Tentang perempuan, kepercayaan, dan juga politik. Sebuah drama kehidupan yang terjadi di zaman patriarki nan otoriter.

Karya Okky Madasari

5 dari 5 bintang

Judul                           : Entrok: Sebuah Novel
Penulis                         : Okky Madasari
Ilustrasi dan sampul    : Restu Ratnaningtyas
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                 : April, 2010
Tebal buku                  : 288 halaman
ISBN                           : 978-979-22-5589-8
Pinjam di Perpustakaan Pusat, Universitas Indonesia.
Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?
Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.
Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata. 
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entrok dan Sekilas Cerita
Adalah Entrok. Secarik kain yang digunakan untuk menutup dada seorang perempuan. Di zaman sekarang ini, istilah bra atau beha lebih sering digunakan untuk menggantikan entrok. Saat pertama kali saya mendengar judul novel ini, saya mulai bertanya-tanya. Apa itu entrok? Istilah bahasa jawa apa itu? Barulah setelah saya membaca novel ini, saya mengerti apa artinya. Menurut saya, judul dari novel karangan Okky Madasari ini begitu menarik. Satu kata saja. Tapi, sudah membuat penasaran pembaca. Pemilihan judul ini pun ternyata bukan hal yang sembarangan. Entrok sendiri menjadi salah satu elemen vital dalam kehidupan kedua tokoh utama, yakni Marni dan Rahayu.
Bagi Marni, memiliki entrok adalah suatu hal yang sangat mahal. Terlahir dalam keluarga miskin, Marni hanya tahu bahwa saat perempuan bekerja, maka upah yang diberikan oleh pemberi kerja bukan berbentuk uang, melainkan berupa bahan makanan. Betapa tidak adilnya keadaan saat itu. Seiring dengan pertumbuhan tubuhnya yang semakin pesat, Marni menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Dadanya mulai membesar dan terasa tidak enak bila dibiarkan ngglawer-ngglawer. Maka dari itu, menentang perkataan dari Simbok, Marni akhirnya bekerja seperti laki-laki dengan nguli. Dengan pekerjaan itu, akhirnya Marni mendapat uang untuk membeli entrok. Akan tetapi, nyatanya Marni sadar bahwa ia harus berusaha keras untuk keluar dari jaring kemiskinan. Marni pun mulai bakulan dari modal yang ia dapat selama nguli. Sejak saat itulah, perekonomian Marni sedikit demi sedikit mulai naik. Sampai akhirnya, Marni dikenal sebagai juragan yang sukses di Singget. Sayangnya, kebahagiaan Marni tidaklah sempurna. Selain mempunyai suami, Teja, yang malas dan tidak setia, Marni terpaksa harus memiliki hubungan yang jauh dengan anaknya sendiri, Rahayu.
            Bagi Rahayu, ibunya, Marni, adalah sosok pendosa. Setiap hari, Marni memberikan utangan kepada seluruh pedagang yang ada di Pasar Ngraget dan mengambil untung sepuluh persen dari utangan yang diberikan. Kemudian, hampir setiap malam, Marni selalu memberikan sesajen kepada leluhur dan berdoa di bawah pohon. Rahayu merasa kalau ibunya sudah terlalu jauh dengan Gusti Allah. Gunjingan-gunjingan mengenai Marni pun sampai di telinga Rahayu. Maka dari itu, Rahayu semakin enggan untuk berhubungan dengan ibunya. Bahkan, Rahayu lebih memilih untuk memutuskan jalinan komunikasi di antara keduanya. Setelah menikah dengan seseorang yang lebih tua darinya, Amri, Rahayu memutuskan untuk mengikuti Amri dan tidak pernah kembali lagi ke Singget untuk menemui orang tuanya.
Sumber gambar: pinterest, disunting oleh saya,
Rumit, Rumit, dan Rumit: Perbenturan Berbagai Sisi Kehidupan
Bagi saya, Entrok merupakan karya yang sangat rumit. Sebaiknya, pembaca jangan terkecoh dengan sampul bergambar punggung seorang perempuan ini, karena, banyak sekali hal yang diungkap dalam Entrok. Berbagai macam perbenturan disajikan dalam novel bersampul sederhana ini. Mulai dari benturan budaya, agama, hingga politik. Jujur saja, saya merasa terkaget-kaget saat membaca Entrok. Selain ini pertama kalinya saya membaca karya Okky Madasari, Entrok juga—lagi-lagi—memberikan pandangan yang berbeda bagi saya atas sejarah Indonesia. Selama saya membaca Entrok, banyak sekali hal yang dapat dijadikan pelajaran. Bagaimana dulu seorang perempuan dianggap sangat rendah, masih banyak orang yang mempercayai kekuatan dari leluhur, hingga sisi kelam dari negeri ini selama masa pemerintahan Orde Baru.
           Melalui sudut pandang orang pertama, Okky Madasari membuat saya bisa menyelami perasaan Rahayu dan Marni. Meskipun sudut pandang yang digunakan bergantian dari sisi Marni dan Rahayu, alur dari novel ini menurut saya cukup rapi. Yaa, meskipun terkadang saya sempat tak menyadari bagian apa merupakan sudut pandang siapa. Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu menggangu saya.
            Seperti yang sudah saya nyatakan di atas, novel Entrok mengangkat berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1950-1990an. Secara tidak langsung, Entrok mencoba untuk menggambarkan konsep feminisme melalui tindakan Marni. Setidaknya, Marni mencoba membuka mata pembaca bahwa tanpa adanya tindakan, maka nasib seorang perempuan tidak akan kemana-mana. Sehingga, harus ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mendobrak tradisi yang sudah ada.
            Lalu, mengenai agama. Bagi saya, wajar bila ada seseorang yang tidak pernah mengenal agamanya sendiri. Bukankah agama yang diharuskan ditulis di KTP merupakan arahan dari pemerintah? Terlahir sebagai seseorang yang hanya tahu mengenai roh leluhur, tidak heran bila Marni tidak mengenal Gusti Allah. Hal ini pun diakui sendiri oleh Marni,
“Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?”
Tentunya, membaca kutipan tersebut, membuat saya menyadari bahwa bukan salah seseorang apabila ia tidak mengenal Tuhan. Sayangnya, terkadang orang lain yang merasa ‘terikat’ dengan Tuhan, malah mencemooh dan mencela. Menurut saya, dalam hal ini, Okky ingin menekankan bahwa orang Indonesia masihlah orang-orang yang terikat dengan budayanya. Sehingga, masih banyak adat-istiadat yang dilakukan. Jadi, apakah perlu orang-orang ini disalahkan atas keyakinan yang mereka miliki? Baiklah. Saya tidak akan banyak berkomentar.
            Terakhir adalah tentang salah satu aspek yang sangat sensitif menurut saya. Mengenai politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya politik di Indonesia banyak memiliki cacat. Penggambaran masa pemerintahan Orde Baru terasa menggelitik bagi saya. Bagaimana seseorang dianjurkan ‘secara halus’ untuk memilih partai tertentu. Lalu, pemberian semacam insentif ke pihak-pihak yang ‘berkuasa’—hal ini dilakukan oleh Marni bertahun-tahun untuk menghindari huru-hara. Betapa tidak jelasnya perpolitikan pada zaman itu! Setidaknya, dari Entrok saya memahami bahwa ada sisi-sisi kelam dari negeri ini. Hal seperti ini jugalah  yang membuat saya menyukai fiksi sejarah seperti Entrok.

Refleksi untuk Entrok
Secara keseluruhan, saya puas dengan Entrok. Saya cukup mendapatkan pelajaran dari novel setebal 288 halaman ini. Namun demikian, saya cukup menyayangkan elemen dari entrok itu sendiri. Meskipun saya mengatakan bahwa entrok merupakan salah satu hal yang vital dalam kisah Marni dan Rahayu, nyatanya, jiwa dari entrok ini sendiri tidaklah sampai akhir cerita. Tidak ada lagi pembahasan mengenai kata yang menjadi judul ini. Sayang sekali. Mungkin, apabila narasi mengenai entrok ini lebih dijabarkan, maka entrok di sini tidak akan kehilangan nyawanya.
           Terlepas dari kekurangan tersebut, saya masih tetap merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Meskipun sudah terbit lebih dari lima tahun yang lalu, novel ini masihlah relevan karena ada berbagai macam pelajaran yang dapat diambil. Bagi siapapun yang ingin memahami pergolakan sosial dalam masyarakat Indonesia, Entrok dapat menjadi pilihan untuk membuka wawasan Anda. 

Sincerely
Puji P. Rahayu