Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Image: Net

Title: My Heart Puppy
Screenwriter and Director: Jason Kim
Genres: Adventure, Comedy, Romance
Stars: Yoo Yeon-seok, Cha Tae-hyun, Park Ji-hyun, Jung In-sun, Kang Shin-il
Watched on Cinepolis, Depok Town Square


“Puppy” is a film about two men with puppy-like charms and their interactions with an actual dog. A man who is about to get married going through an adventure when he sets off with his friend to drop his dog off at the pet-sitters.


Jadi, alasan aku menonton My Heart Puppy adalah karena pemain utamanya adalah Yoo Yeon-seok dan harga tiketnya di bioskop cuma 20 ribu. Aku enggak tahu juga kenapa harga tiket film ini murah banget. Padahal, aku menontonnya di Cinepolis dan sepertinya tidak sedang ada promo apa-apa. 


The Story


Jadi, cerita My Puppy bermula dari Min Soo (Yoo Yeon-seok) yang ingin menikahi pacarnya, Seong-kyeong (Jung In-sun). Akan tetapi, ternyata ada satu rahasia yang disimpan oleh Seong-kyeong, yakni alerginya terhadap air liur anjing, kalau aku tak salah ingat. 


Hal ini membuat Min Soo mengalami dilema. Semenjak kematian ibunya, Min Soo telah ditemani oleh anjing kesayangannya, seekor golden retriever bernama Rooney. Setelah mendengar fakta soal alergi Seong-kyeong, Min Soo berjanji akan mencari cara supaya Rooney bisa dirawat oleh kerabatnya yang lain.


Nah, di sinilah perjalanan Min Soo mencari pemilik pengganti Rooney dimulai. Dibantu oleh kakak sepupunya, Jin-guk (Cha Tae-hyun), Minsoo berupaya berkeliling untuk mencarikan rumah baru bagi Rooney. Sayangnya, hal ini tidaklah mudah. Belum ada satu orang pun yang menurut Min Soo cocok untuk menjadi pemilik baru Rooney. 


Jin-guk yang berjanji akan membantu Min-soo akhirnya mengusulkan supaya Min-soo bersama mencoba untuk bertemu dengan Ah-min (Kim Yoo-jung). Dari media sosialnya, terlihat kalau Ah-min memiliki ketertarikan untuk membuat shelter untuk anjing-anjing yang ada di sekitarnya. Permasalahannya, tempat Ah-min berada adalah di Pulau Jeju. Maka dari itu, Min-soo dan Jin-guk memulai perjalanan road trip mereka bersama Rooney dan kawan-kawan anjing lainnya--yang mereka temui di tengah jalan.


My opinion


Sepertinya, ini adalah film Korea pertama yang aku tonton di bioskop. Hanya berbekal ketertarikan pada sosok Andrea, aku begitu saja dengan impulsif menonton film satu ini. Menurutku, film ini cocok sekali untuk healing. Cerita seputar hewan peliharaan selalu bisa memberikan kehangatan tersendiri menurutku.


Tentu saja, bagian road trip yang dilakukan oleh Min-soo dan Jin-guk menjadi momen-momen favoritku di film ini. Seru sekali melihat interaksi antar sepupu ini yang komikal dan juga suportif. Awalnya, aku kira film ini akan berakhir sedih--bagaimanapun, biasanya film dengan hewan di dalamnya, kebanyakan tidak berakhir bahagia. Untungnya, hal itu tidak terjadi. Bahkan, Min-soo akhirnya bisa menaydari betapa pentingnya keberadaan Rooney dalam hidupnya.


Lalu, awalnya aku mengira film ini juga akan cukup fokus ke kisah romansa antara Min-soo dan Seong-kyeong. Untungnya, hal itu tidak terjadi. Jadi, film ini memang fokus pada persaudaraan antara Min-soo dan Jin-guk beserta dengan Rooney dan kawan-kawan anjing lainnya.


Harus kuakui, a lot of scenes that made me crack up are when Min-soo and Jin-guk accidentally meet a lot of dogs on the way to Jeju Island. Banyak sekali momen yang membuat kita bakal ketawa karena ketidaktegaan mereka pada anjing-anjing lucu itu. Pokoknya, menurutku film ini cute sekali.


Conclusion


Aku sih, berharapnya bakal ada banyak film semacam My Heart Puppy ini. Betul-betul film yang pas untuk healing. Kita enggak bakal diajak pusing dengan cerita yang rumit. Kita hanya perlu bersiap tertawa dan melihat gemasnya Rooney dan anjing-anjing lainnya.


Jadi, 8.5 dari 10 bintang untuk teman-teman Rooney xD


Sincerely,
Ra



Image: google

Judul: Virgo and the Sparklings
Sutradara: Ody C. Harahap
Penulis: Ellie Goh, Rafki Hidayat, Is Yuniarto
Pemain: Adhisty Zara, Bryan Domani, Mawar Eva de Jongh, Ashira Zamita, Satine Zanita, Rebecca Klopper
Durasi: 1 jam 47 menit
Nonton di Cinepolis, Depok Town Square

Riani seorang remaja yang tidak terlalu normal, berurusan dengan kehidupan remaja sehari-hari yang “normal”, cinta, dan persaingan bersama sahabat dan teman band-nya, Ussy dan Monica. Sambil belajar mengendalikan kekuatan api & sinestesia. Di tengah krisisnya sebagai remaja, ternyata ada bahaya yang sangat besar bagi manusia. Apakah menyelamatkan dunia juga tanggung jawab anak muda? Aduh repotnya!

***

Setelah kemarin aku bisa dikatakan full sembuh dari sakit, akhirnya aku memutuskan untuk nonton film ketiga dari Bumilangit Cinematic Universe. Yap, apalagi kalau bukan Virgo and the Sparklings. Pendapatku? Menawarkan kisah super hero yang lebih relate buat generasi Z sih, kayaknya. Lalu, tentunya jauh lebih ringan dibandingkan dengan dua film BCU lainnya.


Tentang Cerita


Sejak kecil, Riani (Adhisty Zara) memang punya kekuatan super. Ia bisa mengeluarkan api dari tangannya dan ia bisa mengenali warna suara di sekitarnya atau yang bisa disebut sebagai sintesa. Sayangnya, kekuatan Riani untuk mengeluarkan api ini kadang tidak terkontrol. Alhasil, dia sempat menimbulkan kebakaran di sekolahnya berkali-kali. Hal ini jugalah yang membuat dirinya harus berpindah-pindah sekolah.


Kali ini, Riani berpindah ke SMA 3 Bandung. Kedua orang tuanya terus memperingatkan Riani untuk lebih berhati-hati dengan obsesinya terhadap api (?). Nah, di sekolah barunya inilah Riani berhasil menjalani kehidupan SMA-nya dengan cukup normal. Ia bisa nge-band bareng Ussy (Satine Zaneta) dan Monica (Ashira Zamita) yang dimanajeri oleh Sasmi (Rebecca Klopper). Mereka membentuk band rock yang mereka namai The Virgos. Selain itu, Riani juga bertemu cowok yang membuat hatinya berdebar, Leo (Bryan Dormani).


Di tengah kesibukan The Virgos yang sedang mengikuti kompetisi Stardom, tiba-tiba saja kasus kesurupan anak muda meraja lela di seluruh negeri. Anak yang kesurupan ini menjadi pemarah dan bahkan menyerang orang tua mereka. Dari situlah, Riani mengetahui kalau kekuatan apinya bisa menolong para anak yang kesurupan. 


Pendapatku


Tentu saja, Virgo and the Sparklings ini menjadi salah satu film BCU favoritku. Ceritanya ringan tapi relatable banget. Lalu, vibe-nya juga enggak se-dark dan njelimet Gundala ataupun Sri Asih. Kemarin waktu ngobrol sama Sup, yang ngebuat Virgo ini pace-nya jadi cukup cepat adalah gimana Riani enggak sibuk nyari tahu asal kekuatannya. 


Yaa, meskipun in a way, hal itu yang bikin penasaran, ya? Tapi, dengan enggak adanya kisah mencari asal mula kekuatannya, cerita di Virgo flow-nya lebih sat set dan enggak lama. Bisa dibilang, dengan durasi yang hampir 2 jam, Virgo seru banget dinikmati. Enggak bikin bosen.


Alur yang dibangun soal si musuh juga cukup make sense. Meskipun aku malah jadi penasaran, si Carmin (Mawar de Jongh) ini berarti musuhnya terpisah, ya, dengan musuh-musuh lain di BCU? Apa sebenernya dia termasuk tentara-nya Dewi Api? 


Sejumlah cameo yang muncul di Virgo and the Sparklings juga jadi daya tarik tersendiri. Mulai dari si Ridwan Bahri (Lukman Sardi), si anggota DPR yang sudah muncul dari zaman Gundala. Di akhir juga Sancaka (Abimana Aryasatya) bareng Cempaka (Vanesha Prescilla) juga muncul. Nah, ini yang bakal jadi bikin penasaran nantinya. Bakal gimana ya, Avengers versi BCU nantinya? Hero mana aja dan bakal ngelawan siapa aja nanti?


Kesimpulan


Seru! Menurutku Virgo and the Sparklings tuh semacam jadi versi Spider-man versi BCU. Lebih dekat isunya ke anak muda dan jauh lebih sat set ceritanya. Aku beneran menikmati sih, waktu nonton.


Jadi 8 dari 10 bintang deh untuk lagu-lagunya The Virgos yang seru juga didengerinnya.


Sincerely.
Ra

Judul: Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Penulis naskah: Angga Dwimas Sasongko, Mohammad Irfan Ramly
Durasi: 1 jam 46 menit
Pemain: Sheila Dara Aisha, Lutesha, Jerome Kurnia, Ganindra Bimo, Rio Dewanto, Rachel Amanda
Nonton di CGV, Dmall

In London, Aurora finds a soul mate with the same vision as hers, Jem, an up-and-coming artist who is also a senior on campus and an immigrant from Indonesia. Aurora's life is perfect and full of passion until she finds another side of Jem, who makes Aurora give up college and leave her dream. During her difficult time, Aurora is assisted by her two best friends: Honey and Kit, to live together in their apartment. Aurora's preoccupation with surviving and trying to return to her studies by working odd jobs causes her to lose contact with her family. Two months without news make Angkasa and Awan follow Aurora to London. Surprised by Aurora's messy condition, Angkasa and Awan agree to force Aurora to come home.

*** 

Sesungguhnya, Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang ini adalah semacam sekuel dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Mengambil cerita setelah NKCTHI selesai, JyJJLP fokus ke kehidupan Aurora yang merantau di London, Inggris. Apakah berhasil semenyentuh NKCTHI? Baik, mari kita bahas dengan pengetahuan sotoy saya. 

The Story

Aurora (Sheila Dara Aisha) memutuskan untuk lanjut studi seni di Inggris. Di sanalah ia bertemu dengan sosok Jem (Ganindra Bimo), cowok berbakat asal Indonesia yang sekaligus berakhir menjadi kekasihnya.

Hari itu, Jem menampilkan karyanya di salah satu pameran bergengsi di London. Akan tetapi, hasil pameran tersebut sama sekali tak memuaskan baginya. Ia yang emosi, pada akhirnya membuat Aurora terluka. Sejak saat itu, Aurora memutuskan untuk pergi dari kehidupan Jem.

Untungnya, kedua kawan baiknya, Honey (Lutesha) dan Kit (Jerome Kurnia), bersedia menampung Aurora selama kabur dari Jem. Well, sebenarnya, Aurora tak hanya kabur dari Jem, tapi juga dari keluarganya. Sekitar hampir dua bulan, ia tak bisa dihubungi dan berakhir dengan kedatangan Angkasa (Rio Dewanto) dan Awan (Rachel Amanda) ke London. Kedua kakak-adik itu diperintahkan oleh ayah mereka untuk menjemput Aurora.

The Opinion

Sedari awal, aku betul-betul tidak menyukai sosok Jem. Dia ini tipikal cowok egois yang selalu menyalahkan orang lain atas kegagalan yang ia alami. Parahnya, Aurora tak menyadari kalau dirinya terjerat dalam suatu hubungan toksik bersama Jem. Yaa, meskipun Aurora memutuskan kabur, dia tuh masih berempati kepada Jem. Astaga. 

Kalau di NKCTHI alur kilas-balik tidak membuatku bingung, maka di sini terasa banget setiap adegan begitu scattered. Sampai-sampai, kadang aku tak menyadari kapan scene telah berubah dari masa lalu ke masa sekarang. Lalu, ada juga bagian-bagian yang terasa terpotong sedemikian rupa. Alhasil, betul-betul membuatku bingung.

Belum lagi, sejumlah editing yang menonjolkan editing perpotongan cepat hanya membuatku pusing ã… ã…  Sigh. 

Yang aku enggak mengerti, aku masih tidak merasakan pentingnya kemunculan Angkasa dan Awan di sini. Apakah mereka muncul untuk bisa memberikan solusi untuk Aurora? Aku rasa tidak. Bahkan, mereka cuma menambah masalah. Bagiku, keberadaan mereka tidak sesignifikan itu.

Mungkin, yang cukup menolong di film ini adalah keberadaan Honey dan Kit. Keduanya jadi karakter yang paling realistis kalau menurutku. Memberikan perhatian yang cukup sebagai teman, bahkan lebih. Iri banget punya sahabat sebaik mereka.

In a way, kalau dibilang relatable sebagai anak rantau, ya.. ya lumayan lah. Tapi mungkin secara cerita, tidak akan se-relatable NKCTHI. 

Conclusion

Kalau ingin tahu kehidupan Aurora, bisalah menonton JyJJLP ini. Tanpa menonton NKCTHI, mungkin agak susah ya buat jadi lebih mengerti keadaan Aurora. Bagaimanapun, alasan utama sikap Aurora di sepanjang film  ini memang dampak dari apa yang terjadi NKCTHI. Tapi kalau mau ditonton lepasan pun, menurutku enggak masalah.

Well, jadi 6 bintang saja ya untuk film satu ini.

Apakah aku akan menonton Story of Kale yang merupakan spin-off dari universe ini? Well, let's see.

Sincerely, 
Ra
Image: detik

Judul: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Penulis: Marchella F.P., Jenny Jusuf, Mohammad Irfan Ramly
Pemain: Rio Dewanto, Rachel Amanda, Sheila Dara Aisha, Oka Antara, Donny Damara, Susan Bachtiar
Durasi: 121 menit
Nonton di Netflix 

Every family has a secret. Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), and Awan (Rachel Amanda) are siblings who live in happy-looking families. After experiencing her first major failure, Awan meets Kale (Ardhito Pramono), an eccentric guy who gives Awan a new life experience about breaking-up, falling, growing, losing, and all the fear of humans in general. Under parental pressure Awan's attitude changes; this prompts the rebellion of the three siblings that leads to the discovery of secrets and great trauma in their families.

***

Mari kita percaya bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sesungguhnya, pada tahun 2019, aku sudah tertarik untuk menonton NKCTHI. Akan tetapi, entah kenapa semangat menonton itu tetiba surut dan akhirnya terlupa untuk mulai menonton. 

Nah, kemarin, karena aku kepo saja dengan sekuel dari NKCTHI yang sekarang lagi tayang di bioskop, aku memutuskan untuk menonton NKCTHI terlebih dahulu. Sesungguhnya, supaya aku tidak kebingungan bertanya-tanya tokoh yang akan muncul siapa dan bagaimana konfliknya akan berhubungan dengan NKCTHI.

The Story

Bagi Awan (Rachel Amanda), memilih dalam hidupnya merupakan sesuatu yang tak mungkin ia lakukan. Sikap ayahnya, Narendra (Oka Antara dan Donny Damara) yang terlalu protektif, membuat hidup Awan sudah dimudahkan begitu rupa. Sang ayah, selalu menekankan bahwa keselamatan Awan adalah yang utama. 

Hal ini pun akhirnya berdampak kepada dua anak tertuanya. Angkasa (Rio Dewanto) mendapatkan tanggung jawab untuk melindungi adik-adiknya, terutama Awan. Setiap hari, ia harus meluangkan waktunya untuk menjemput sang adik atas perintah ayahnya. 

Ia memang tak mengeluhkan hal itu. Akan tetapi, Lika (Agla Artalidia) yang merupakan pacar Angkasa, menyadari bahwa Angkasa telah terkekang di dalam keluarganya sendiri.

Di sisi lain, ada Aurora (Sheila Dara Aisha), si anak tengah yang telah lama belajar untuk menekan keinginannya sendiri. Ia tahu ia bukanlah prioritas sang Ayah dan ia sudah lelah untuk memperjuangkan untuk bisa diakui di depan mata ayahnya.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah kisah keluarga yang terlihat sempurna dan bahagia. Akan tetapi, di antara upaya untuk tidak bersuara dan menyembunyikan perasaan itu, luka dan sakit hati malah tumbuh subur. Keluarga itu pada sesungguhnya tidak baik-baik saja.

The Opinion

To be honest, NKCTHI memang perlu diapresiasi sebagai salah satu drama keluarga yang cukup realistis. Situasi yang dialami Awan, Angkasa, maupun Aurora, pastinya banyak mengena bagi para penonton. 

Awan yang menjadi prioritas sang ayah, Angkasa yang selalu dibebani tanggung jawab--yang entah apakah bisa ia tanggung atau tidak, dan Aurora yang lebih memilih untuk menutup diri karena merasa terpinggirkan.

Menggunakan alur kilas-balik, untungnya kisah NKCTHI ini tidak membuat pusing. Bahkan, menurutku baik Jenny Jusuf maupun Angga Sasongko berhasil mengolahnya dengan baik.

Yang aku suka adalah pemilik puncak konfliknya. Kala Aurora jarang banget disorot, ternyata klimaks ceritanya akan bermula di Aurora. Ahh, aku enggak bisa bayangin sih, gimana rasanya jadi Aurora. Bagaimanapun ia berusaha, sang Ayah seperti tidak melihat upayanya yang mati-matian itu.

Seengaknya ya, di NKCTHI, masing-masing karakter jadi punya perannya sendiri. Oh, kalau kupikir-pikir, peran Aurora ini mirip sekali dengan peran Sarma di Ngeri-ngeri Sedap. Meskipun terlihat tenang, dia yang paling banyak menyimpan beban. 

Meskipun, di satu titik aku tidak cukup relate dengan kemampuan Narendra dan juga Ajeng menutupi luka mereka. 

Conclusion

Sebagai film drama keluarga, menurutku NKCTHI lumayan berhasil menampilkan konflik yang cukup realistis. Masing-masing anggota keluarga jadi punya masalah masing-masing, dan semuanya bermula dari keengganan untuk mengakui luka dan jujur satu sama lain.

Jadi, 7.5 dari 10 bintang untuk kisah yang berakhir hangat satu ini.

Oh, anyway. Aku juga ikhlas-ikhlas aja sewaktu Awan akhirnya tidak berakhir bersama Kale. Yaa, mungkin peran Kale hanyalah untuk memberikan kebahagiaan bagi Awan untuk sementara. Tidak lebih.

Sincerely,
Ra

Image:Tanakhir Films

Judul: Semesta
Sutradara: Chairun Nissa
Penuliss: Cory Michael Rogers
Produksi: Tanakhir Films
Durasi: 90 menit
Nonton di Kineforum

Melalui lensa keyakinan dan budaya di tujuh provinsi di Indonesia, film dokumenter ini mengikuti individu-individu yang berjuang untuk mengatasi perubahan iklim.

***

Semesta (Islands of Faith) merupakan film dokumenter yang membicarakan perubahan iklim melalui lensa para warga yang telah dari lama berdamai dengan alam. Dalam film ini, terdapat tujuh cerita yang berasal dari tujuh provinsi di Indonesia. Masing-masing cerita menggambarkan bagaimana para masyarakat asli Indonesia, mempunyai caranya masing-masing untuk berdamai dengan alam. 

Karya dari Talamedia

Kalau aku tidak salah ingat, film ini merupakan film pertama yang diproduksi oleh Tanakhir Film (sekarang Talamedia). Nama Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra tersebut sebagai produser film satu ini. Seperti yang telah aku singgung sebelumnya, film ini mengangkat kisah 7 pejuang lingkungan hidup dengan 7 latar belakang dan berasal dari 7 daerah yang berbeda.

Pertama, kita akan diajak untuk menuju Bali. Tjokorda Raka Kerthyasa akan membawa kita memahami bagaimana perayaan Nyepi dilakukan di Bali. Seperti yang kita tahu, banyak sekali tempat suci nan sakral di seluruh Bali. Ketika Nyepi, terdapat tradisi-tradisi khusus yang pada akhirnya ternyata memberikan dampak positif terhadap pengurangan emisi karbon. 

Setelah dari Bali, kita pun akan menyelami kehidupan Agustinus Pius Unam, seorang Kepala Dusun di Sungai Utaik, Kalimantan Barat. Dalam kepercayaan orang Sungai Utik, mereka hanya diperbolehkan untuk menebang tiga pohon saja dalam setahun. Kemudian, mereka juga memiliki aturan-aturan tertentu dalam berburu dan memanfaatkan hutan yang ada di sekitar mereka.

Perjalanan dilanjutkan ke Bea Muring di Nusa Tenggara Timur. Romo Marselus Hasan bersama warga berupaya mendirikan PLTA dengan memanfaatkan sumber air alami. Entah mengapa, aku merasa sedikit familiar dengan kisah ini. Yang pasti, Romo Marselus dan warga berupaya saling membantu untuk membangun kembali PLTA di desa tersebut--yang sempat rusak karena diterjang banjir.

Keempat, kita akan bertemu dengan Mama Almina Kacili, Kepala Kelompok Wanita Gereja Lokal di Kapatcol, Papua Barat. Nah, kisah yang satu ini bagiku menarik karena mereka menjelaskan praktik Sasi yang ada di Indonesia Timur. Secara singkat, Sasi ini merupakan aturan yang diterapkan untuk mengatur wilayah laut supaya tak boleh dijaman selama 8 bulan. Hal ini dilakukan supaya biota laut punya kesempatan untuk beregenerasi.

Kelima, kisah datang dari M. Yusuf di Desa Pameu, Aceh. Ketika hutan mulai rusak karena ulah manusia, sejumlah gajah turun ke desa dan mulai mengusik warga. Akan tetapi, M. Yusuf meyakini bahwa hal tersebut bukanlah salah si Gajah. Apa yang terjadi merupakan ulah dari manusia sendiri. Maka dari itu, Yusuf sebagai imam di desa tersebut memberikan pemahaman kepada warga bahwa menjaga hubungan baik dengan alam sangatlah diperlukan. 

Keenam, perjalanan kawan-kawan Semesta bergeser ke Imogiri, Yogyakarta. Iskandar Waworuntu mendirikan Bumi Langit--sebuah ruang hidup yang menjadi tempat bagi kita untuk dapat menyaksikan dan belajar tentang pentingnya saling menjaga hidup antara manusia dengan alam. 

Terakhir, kita diajak ke Jakarta menuju Kebun Kumara. Soraya Cassandra dan suaminya mendirikan Kebun Kumara untuk memenuhi misi mereka untuk tetap bisa dekat dengan alam meski hidup di perkotaan. Selain mengolah sendiri kebun mereka, Soraya juga nemberikan pelatihan bagi orang-orang yang tertarik dengan isu tersebut.

Menarik untuk ditonton

Kalau boleh jujur, pesan yang disampaikan oleh film ini sederhana. Setiap orang memiliki perannya masing-masing ketika berhubungan dengan alam. Akan tetapi, melalui film ini, kita juga diingatkan bahwa alam memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak tradisi yang dilakukan yang terus tergerus karena mereka yang terlalu serakah, bisa jadi oleh perusahaan maupun pemerintah.

Dari ketujuh cerita, cerita yang menarik buatku adalah cerita Nyepi di Bali dan juga tradisi Sasi di Papua. Entah mengapa itu menjadi suatu hal yang baru untuk kupelajari. Secara sinematografi pun, cerita pertama terlihat begitu sinematik dan enak untuk ditonton.

Akan tetapi, sebagai film dokumenter, Semesta tidak bisa dikatakan utuh meskipun memiliki benang merah yang sama. Aku tak tahu apakah memang seperti ini film-film yang dapat dikatakan omnibus. Yang pasti, ini seperti ada 7 film berbeda yang dijahit menjadi satu. Bukan berarti tidak bagus, sih. Hanya saja film menjadi terasa sangat panjang dan patah di setiap transisi.

Kesimpulan

Well, tak bisa bohong kalau Semesta menjadi salah satu film yang menarik untuk ditonton. Film dokumenter memang bisa menjadi salah satu media yang menarik untuk menyalurkan gagasan tertentu. Termasuk konsep perubahan iklim dan bagaimana cara untuk hidup damai dengan alam.

6.5 dari 10 bintang.


Sincerely,
Ra

Title: Fantastic Beasts: The Secret of Dumbledore
Director: David Yates
Writers: J.K. Rowling, Steve Kloves
Cast: Eddie Redmayne, Jude Law, Mads Mikkelsen, Ezra Miller, Alison Sudol, Jessica Williams, Dan Fogler, Callum Turner

Watched at Cinepolis, Depok Town Square

Set several years after the events of its predecessor, the film sees Albus Dumbledore tasking Newt Scamander and his allies with a mission that takes them into the heart of dark wizard Gellert Grindelwald's army.

Well, actually Fantastic Beast franchise is a franchise that I have really waited for. Unfortunately, this sequel is not as interesting as I expected it to be. There are so many factors that made me disappointed.

Newt is still... Newt

Albus Dumbledore, once again, assigned Newt Scamander to fight Grindelwald as he began to lead an army to eliminate muggles. With the help of his partners on this adventure, Theseus Scamander (Newt's brother), Jacob Kowalski, Bunty Broadacre (Newt's assistant), Yusuf  Kama and Lally Hicks (one of the professors from Ilvermorny). 

In the magical words, there is Qilin, a magical creature that can see into one's should as well as the future. This creature also has the ability of precognition, especially when choosing the next leader of the wizarding world. Knowing this, Grindelwald tried his best to kidnap the newborn Qilin and took advantage of it. 

As Dumbledor couldn't battle Grindelwald because of their blood pact, Dumbledore asked Newt to do it. Smh, Dumbledore. Why do you always disturb Newt's calm life?

After that, Newt's and his fellow partner's journey has begun. 

My thoughts

I have so many thoughts when watching this movie. I still love Newt and his characteristics, but I have so many things that I despised from this movie.

First, I know that it's inevitable for replacing Johny Depp for Grindelwald's role, but I think Mads Mikkelsen hasn't given that huge impact like what Depp does in the second movie. I just feel that charismatic but also scary vibe from him is not enough. 

Second, if the title of this movie is Fantastic Beast, I don't think the representation of the beast here is enough. I mean, all right, there is the Qilin who is the main creature in this movie. Then, I also love how Nibbler and Pickett are back... but, I just feel that should be more of them. It should be the main element of this movie, right?

Third, I still don't understand how Dumbledore broke his blood pact with Grindelwald. As I remember from the similar pact that was made between Severus Snape and Narcissa Malfoy, it's not easy to break the pact and Severus should do his vow no matter what. Ehm, or actually the blood pact is different from the unbreakable vow?

Fourth, so political but not enough background. I can understand why Rowling wants to take the story to a bigger level. I mean, she tried to introduce us to the magical world outside the schools. But, I think the background of it is explained vaguely. I still couldn't grasp the structure of the minister of magic from each country. Then, how about the supreme leader that Grindelwald pursued? Is that position could be equal to the general secretary of the United Nations? I just couldn't understand it.

What I like

Even though the experience when watching this movie is not really great, I still love the interaction between Newt and all of the fantastic beasts. I love how Pickett and Nibbler accompany Newt everywhere. Can we just get Pickett and Nibbler in real life?

My favourite scene would be when Newt tried to save Theseus from the prison. The way they have to do the crab dancing to control the Blast-Ended Skrewts is hilarious. I really love that part. 

Then, I love how they picture Lally as a smart female wizard. She is really amazing and killing it. She looks very charming here. Maybe, she could be my favourite character after Newt.

Conclusion

So, that's all for my thoughts. I know that it's mostly about my ranting, but tbh, that's what I feel. I really hope the next movie would be more focused on Newt and his magical creature world. Well, even though it's inevitable to fight Grindelwald too.

One thing for sure, I hope Rowling will still include Pickett and Nibbler in the next movie. 

6 out of 10 stars

Sincerely,
Ra

Image: Anime Trending

Title: Jujutsu Kaise 0: The Movie
Genre: Animation, action, fantasy
Duration: 105 minutes
Release date: 2021
Watched at Cinepolis Depok Town Square

  • Yuta Okkotsu, a high schooler who gains control of an extremely powerful Cursed Spirit and gets enrolled in the Tokyo Prefectural Jujutsu High School by Jujutsu Sorcerers to help him control his power and keep an eye on him.

Tbh, I never watched Jujutsu Kaisen before, but since I am curious, I decided to give it a chance. Well, as someone who never read or watch it, JJK 0 will give you a ground basis to understand the JJK universe. You won't get much confused since JJK 0 is a prequel.

The story

Yuta Okkotsu is cursed, or that's what he thought. A powerful Cursed Spirit, and also his childhood friend, is stuck in his body. To some extent, Rika always helps Yuta on every occasion. When someone bullied him, Rika will appear and protect Yuta at all costs. Sadly, a lot of them will die instantly. 

To avoid more casualties, Yuta shut down his interaction with anyone else. Until... he gets enrolled in The Tokyo Prefectural Jujutsu High School. Thanks to Satoru Gojou, that will remind you of Kakashi from Naruto, Yuta is able to start his training at that school. Aside to control Rika's violent behaviour, he also will learn how to maximize his ability.

What I like...

Tbh, the premise of the story is interesting. It caught my interest instantly. One of my favourite parts is when Yuta is asked to accompany Toge Inumaki to do his duty. Since I have no knowledge about every character, I don't understand why Toge's word is limited. I mean... what on earth he can only say a word about sushi and food? It's like there is no meaningful word coming from his mouth.

So, when I know about Toge's ability, I am awed and understood perfectly about his behaviour.

Other than that, about the battle. I think Yuta's ability is so powerful. He can copy the other's power easily and in a much more powerful way. When he encounters Suguru, his trust towards Rika is undefeatable. Therefore, he finally can save Maki, Toge, and also Panda by himself. 

Another Thought

When the battle broke down, I wish Satoru dan Suguru will duel meet face to face. But, their interaction at the end of the movie is enough. It shows how Satoru and Suguru have a deep connection. Then, I don't know, it just reminds me of the relationship between Dumbledore and Grindelwald in the Harry Potter Universe. It's so random but I think it's kinda similar.

Tbh, after watching the movie, I feel a little bit curious about the rest of the story. So, I decided to buy the manga. You guess what, JJK manga is the most expensive comic book that I ever bought T.T. Sigh. I just can hope the story is amazing as the price is...

Conclusion

If you haven't followed anything about JJK, JJK 0 can be your first choice. It will give you the taste and you won't be that much confusion. But, I do understand that JJK 0 will give a special meaning to the avid fans of JJK. So, whether you are new to this universe, or a fan, you will feel satisfied when watching this movie.

Well, actually it's been a while since I watched an anime movie at the cinema. The last anime movie that I watched must be Detective Conan the movie and it was before the pandemic. So, it's refreshing to watch JJK 0. 

7 out of 10 stars.

Sincerely,
Ra


Image: shutterstock

Judul: Train to Busan
Genre: Action, horror, thriller
Tahun rilis: 2016
Durasi: 118 menit
Sutradara: Yeon Sang-ho
Penulis naskah: Pak Joo-Suk, Yeon Sang-ho
Pemain: Gong Yoo, Jung Yu-mi, Ma Doeng-sok, Kim Su-an
Nonton di Netflix

Sok-woo, a father with not much time for his daughter, Soo-ahn, are boarding the KTX, a fast train that shall bring them from Seoul to Busan. But during their journey, the apocalypse begins, and most of the earth's population become flesh craving zombies. While the KTX is shooting towards Busan, the passenger's fight for their families and lives against the zombies - and each other

Ketika aku sudah selesai menonton film zombie Korea seperti Kingdom, Happiness, dan juga All of Us are Dead, maka aku jadi merasa berdosa belum menonton Train to Busan. Sesungguhnya, alasannya cukup simple. Aku dulu enggak punya keberanian untuk menonton film zombie. Well, film horror dan thriller bukanlah jenis film yang kugemari. Maka dari itu, aku butuh waktu yang cukup panjang untuk memberanikan diri.

Awal mula cerita

Setelah Seok-woo (Gong Yoo) tidak tinggal bersama, Soo-an (Kim Su-an) memang tinggal bersama Seok-woo. Akan tetapi, pada hari ulang tahunnya kali ini, ia ingin bersama dengan ibunya. Di tengah kesibukan pekerjaannya, Seok-woo memutuskan untuk menemani Soo-an dalam perjalanannya menuju Busan menggunakan KTX.

Nyatanya, perjalanan menuju Busan tersebut menjadi perjalanan yang sangat mencekam karena hampir seluruh penumpang telah berubah menjadi zombie.

Tentang kereta penuh zombie

Satu hal yang menarik dari Train to Busan adalah latar ceritanya yang memang berfokus di KTX. Tidak ada latar lain yang sengaja di-explore di sini. Bukannya membuat bosan, malah menurutku hal tersebut jadi menarik.

Lalu, untuk zombie-nya sendiri, jujur aku kurang paham awal mula bagaimana mereka bisa menjadi zombie. Kenapa mbak-mbak yang terinfeksi pertama di kereta itu bisa terinfeksi? Dari mana asal-muasalnya? Jujur, aku bingung sumber zombie-nya dari mana. Apakah aku yang kurang memperhatikan? Anyway, di sini zombie-nya juga agak sedikit disgusting, meskipun tidak separah di All of Us are Dead. 

So far, karakter yang kusukai adalah Sang-hwa (Ma Dong-soek), setidaknya di sini dia berperan sebagai karakter yang paling logis dan rela berkorban. Ia juga berhati besar. Agak sedih juga sih waktu akhirnya dia terinfeksi.

Fokus pada kisah ayah dan anak

Tentu saja salah satu fokus cerita dari Train to Busan adalah bagaima hubungan antara Seok-woo dan putrinya. Dalam cerita ini, sosok Seok-wo yang sangat gila kerja berjuang mati-matian untuk melindungi putrinya selama zombie apocalypse. Berkali-kali momen menegangkan terjadi di sini. Yang paling berkesan menurutku adalah kejadian di Daegu kalau tidak salah, waktu ternyata seluruh tentara yang menjaga wilayah itu sudah menjadi zombia.

Lalu, kalau momen paling bikin hati patah tentu saja saat Seok-woo menyadari bahwa ia harus berpisah dengan Soo-an. Itu beneran cukup heart-breaking untuk ditonton.

Kesimpulan

Sebagai salah satu pioner dari film perzombian Korea, tentu saja Train to Busan punya charm-nya tersendiri. Jujur ceritanya cukup solid. Meskipun kembali llagi, aku belum paham asal-muasal zombie-nya dari mana. Akan tetapi, so far cukup menyenangkan untuk ditonton.

7 dari 10 bintang.

Sincerely, 
Ra
Image: mubi.com

Title: Till We Meet Again
Release date: 10 July 2021
Duration: 128 minutes
Screenwriter and director: Giddens Ko
Genre: Adventure, Comedy, Romance, Fantasy
Casts: Kai Ko, Gingle Wang, Vivian Sung
Watched at Cinepolis

Alam, who is struck dead by lightning, has lost memories of his life. While Alam is working as the god of love, persons with red strings, with his partner Pinky to reincarnate as a human being, Alan runs into Mi, who was his lover during his life and recalls his past. Although Mi cannot see him anymore, Alan couldn’t stop hovering around her, but at the same time, he also realizes that he has to find someone else to bond her red string to protect her in an uncertain danger.

At first, I have no idea where this move comes from. I was under impression that this was a Thai film. Lol. My bad. I didn't even read the blurb before. So, when I saw TWMA, I was perplexed since I didn't recognize the language. 

Alan and his death

One day, Alan died due to being struck by lightning. He has lost his memory and is unsure what to do after he dies. Alan agreed to be the God of Love after much thought in order to be reincarnated as a human. Together with Pinky, her partner, Alan tried his hardest to turn his black beads into white--the conditions if they want to be reincarnated as a human. When he encounters Mi, his girlfriend when he was alive, things start to go wrong. Alan has been doing everything he can to find the perfect partner for Mi. However, no matter how many red strings are linked to Mi, no successful bond can be formed. 

Gui Tou Cheng, on the other hand, a wicked spirit, managed to escape from the underworld. He wishes to take revenge on earth. One by one, he murdered his people. The irony is that Mi, Alan's girlfriend, was formerly of Gui's people in the past life.

A fresh story

To be honest, I don't really remember whether I've ever watched a Taiwanese movie. So, this is a new thing for me. Imho, TWMA gave such a fresh story. You can find a mixture of romance, comedy, and also fantasy here. At first, I got a little confused with the story. I mean, I really have no idea where the story will be going. But, actually, the premise about God of Love who can be reincarnated after they fulfil their duty is interesting. I  would love to know more about that part.

Unfortunately, TWMA is more focused on Alan and Mi's relationship. Not gonna lie, I know that the goal for this movie is to resolve Alan's past story. But, the execution is not really satisfying. I feel that Pinky's existence in this movie is not very meaningful. At first, I really like her character. Her character is quite unique, but then in the middle of the story, she becomes more irrelevant. Too bad.

Then, even though Gui Tou Cheng is the main villain in this story, the story around him is also very blurry. It really confuses me about the backstory for him. I think the writer wanna include everything so, in the end, the story is not very detailed.

For me, it would be better if they can dive more into the underworld scheme. It will be more interesting to see. 

Conclusion

I don't think TMWA is a bad movie. It's very refreshing to watch a Taiwanese movie with so many elements here and there. But, imho, the character development here is not really deep. Therefore, some confusion may appear after watching it.

6 out of 10 stars.

Best,
Ra

Image: Suara

Title: Stand by Me Doraemon 2
Genre: Animation, Comedy, Drama
Directors: Ryuchi Yagi, Takashi Yamazaki
Writers: Fujio F. Fujiko, Takashi Yamazaki
Release date: November 20, 2020

Nobita travels to the future to show his beloved grandma his bride, but adult Nobita has fled his own wedding. Can he ever be a good husband to Shizuka?

***

Setelah di tahun 2021 aku sama sekali tidak menulis di blog, mari kita coba peruntungan kembali di tahun 2022. Jadi, setelah aku iseng scrolling di Netfliz, akhirnya aku memutuskan untuk menonton Stand by Me Doraemon 2. Aku butuh film ringan yang tidak akan membuatku pusing.

Tentang Nobita

Pada sesungguhnya, Stand by Me Doraemon 2 ini sedikit memiliki koneksi dengan film pertamanya yang dirilis pada tahun 2014. Nah, ini jadi permasalahan karena aku sudah lupa sebagian besar jalan ceritanya. Jadi, ada beberapa scene yang aku tidak menangkap maksudnya. Tapi, kalau pun mau menonton film ini secara stand alone juga enggak masalah, sih.

Premis dari film ini sebetulnya juga sama seperti sebelumnya. Nobita di masa sekarang melakukan perjalanan waktu untuk memperbaiki kesalahan ataupun ketidakberesan hidupnya, baik di masa depan maupun masa sekarang. Nobita di masa depan ternyata masih mempunya rasa insecure tinggi. Hal ini membuatnya lari dari acara pernikahannya sendiri. Padahal, Nobita dari masa sekarang berjanji untuk memperlihatkan pada neneknya di masa lalu mengenai calon pengantinnya. Alhasil, Nobita dari masa sekarang berupaya sekuat tenaga untuk memperbaiki masalah dari Nobita di masa depan. Tentunya, dengan bantuan dari Doraemon yang selalu mendampingi Nobita.

Nobita yang Tak Pernah Berubah

Well, pada dasarnya, Nobita dalam segala macam seri maupun film, tidak akan pernah berubah. Ia akan selalu merasa insecure, self-centered, dan betul-betul bergantung pada orang lain, khususnya Doraemon. Aku sih berharapnya Nobita dewasa memang jadi lebih dewasa. Sayangnya, di film ini tidak terlihat demikian--kelihatan sih sebentar di scene terakhir. Tapi, kan... tetap tidak menunjukkan kedewasaan dari Nobita secara keseluruhan. 

Kalau dipikir lagi.. ya memang begitulah karakter dari Nobita. Kalau Nobita tidak berlaku demikian, maka tidak akan ada Doraemon yang saving his ass. 

Bagiku, film ini menjadi film hiburan semata. Sejalan dengan tujuan awalku, aku sedang tidak ingin menonton film yang berat. Jadi, membuka tahun 2022 dengan menonton film animasi ini cukup relaxing. Aku tetap suka dengan visual effect di film ini. 

Oh, iya. Salah satu hal yang baru aku tahu dari Doraemon Universe adalah nama Christiane Goda. Aku baru tahu kalau itu nama pena Jaiko! Astaga. Kuakui aku memang tidak mengikuti manga Doraemon.. jadi aku betul-betul tidak tahu siapa itu Christiane Goda. Bahkan, aku baru tahu kalau nama asli Gian adalah Takeshi Goda. Smh. 

Kesimpulan

Menurutku, kalau nanti ada Stand by Me Doraemon 3, premisnya tidak akan jauh-jauh dari Nobita di masa depan yang menghilang di saat-saat genting. Alasan utamanya pasti soal dia yang merasa insecure. But, let's see. Siapa tahu aku salah.

Hmm. Aku jadi penasaran, kalau untuk Stand be Me, apakah film ini akan menjadi reguler seperti Detctive Conan? Atau ini special occassion saja? Mungkin nanti aku harus cari tahu soal ini.

6.5 out of 10 for Doraemon's time machine.

Ps. Konsep waktu di Stand by Me ini menurutku yang paling tak terbaca. Apakah betul-betul enggak ada konsekuensi dari bertemunya dua orang yang sama dari dimensi waktu yang berbeda?

Best,
Ra

Source: Netflix.com

Title: Enola Holmes
Genre: Adventure, Crime, Drama
Director: Harry Bradbeer
Writer: Nancy Springer (novel), Jack Thorne (screenplay)
Stars: Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Sam Claflin, Helena Bonham Carter, Louis Partridge, etc.
Date of released: Septermber 23rd, 2020
Duration: 150 minutes

When Enola Holmes-Sherlock's teen sister-discovers her mother missing, she sets off to find her, becoming a super-sleuth in her own right as she outwits her famous brother and unravels a dangerous conspiracy around a mysterious young Lord.

One day, Ceilla told me about this movie. As a fans of Sherlock Holmes and also many detective stories, I am very excited. Therefore, when this movie has released on Netflix, I tried to watch it immediately. Well, I could say that I like most of it.

The missing mother

Enola Holmes (Millie Bobby Brown) woke up to find her mother (Helena Bonham Carter) has disappeared. She has no idea where her mother gone or why. Technically, Enola still a minor, therefore, both of his brother come to "educate" her being a young lady. Well, the one who enforce that idea is only Mycroft (Sam Claflin). At the other hand, Sherlock (Henry Cavill) seems to understand more about Enola's personality.

Mycroft wish Enola could enter a woman education, but she refuses and decided to run away. In the middle of it, she finally met Tewkesbury (Louis Partridge), a viscount who decided to run away from his house. Since then, Enola's adventure became more complicated and not only about her missing mother.

Thumbs up for Enola

Source: variety.com

Well, it's been a while for me to watch detective movie. So, Enola has given me a refreshing looks and story. To be honest, I love how Millie Bobby Brown taking her role as Enola. As you can see, somehow her character at Stranger Things is very strong. But, in this movie, we can see Millie as Enola, not as Eleven. 

Then, I should admit that the story of this movie maybe not that much complicated like Sherlock series. I believe it is caused by the target audience for this movie is a teenager. After all, I still can enjoy this movie.

Another things that I have to underline about this movie is, don't try to compare Sherlock's original character here because you won't find it. In my opinion, for Sherlockian, maybe Sherlock's character here is very different. Therefore, maybe some people won't satisfy with his character. This statement also applied for Mycroft too.

Other than that, I have to praise Helena Bonham Carter too here. As long as I remember, Helena is a great actress. She can take so many different roles and she killed it. Even though in this movie her appearance not that really much, I can see how's her character is very fresh from another character that she ever played.

Conclusion

After watching this movie, I realized that the story is based on novel. So, I assumed there will be more sequel for this movie and I couldn't wait for it. I wonder what's exactly Enola do after deciding to live by herself in London and how she can deal with his two older brother. It would be very interesting.

8 out of 10 for Elona's wittiness.

P.s. I just know that Millie is also the produce of this movie. So, claps for her for being such a talented young woman.

Regards,

Ra


Sumber: imdb.com, edited by me

Title: SKY Castle
Genre: Drama, mystery
Number of episodes: 20
Director: Jo Hyun-tak
Stars: Yum Jung-ah, Lee Tae-ran, Yun Se-ah, Oh Na-ra, Kim Seo-hyeong
Available on Netflix

A satirical drama that closely looks at the materialistic desires of the upper-class parents in South Korea and how they ruthlessly secure the successes of their families at the cost of destroying others' lives.

To be honest, it's been a while since the last time I watched a Korean drama. After I finished watching Lucifer until the latest season, I decided to try to watch SKY Castle.

As we know, SKY in South Korea, especially the term SKY University represents the Top 3 University there, namely Seoul National University, Korea University, and Yonsei University. Actually, this drama is addressing issues that related to the education system in South Korea.

The story

SKY Castle itself is a luxurious resident area where wealthy doctors and professor live. The wives are determined to make their husband more successful and to raise their children to be the top student. Being accepted to top universities is the parents dream. No wonder if the spend billions of won to hire tutor and pay for academy.

Han Seo Jin (Yum Jung-ah) will do anything to guarantee her daughter, Kang Ye-seo (Kim Hye-Yoon) being the SNU Med School's student. So, when Young-jae (Song Geon-hee) got accepted at SNU Med School, Seo Jin tried so hard to get Young-jae's portfolio. Unfortunately, Myung-joo (Kim Jung-nan), Young-jae's mother refused to give any clue about it. But, she recommended Seo Jin to get a special tutor for Ye-seo, which is Kim Joo-young (Kim Seo-hyung). 


Sumber: imdb.com

At first, Seo Jin felt that the path for Ye-seo to get accepted as SNU Med School's student is very bright. But, after the death of Myung-joo and a lot of incidents happened, Seo Jin is starting to hesitate with the decision that she made. 

The mystery

One thing that I like from Korean drama is the mystery in every story. SKY Castle is not only about the ambition to be the top student, but also about criticize the education system in general. Well, I don't really have idea regarding this matter in Indonesia. I mean, I don't know if such a coordinator is exist in Indonesia--but maybe it does. So, going through the story about how every mother in SKY Castle try their best for their children is kinda open my eyes. 

To be fair, many people will do everything--even though in such a bad way, to get what they want. You could see all of the manipulative action throughout the entire episode of SKY Castle.

Well, I think I have to praise Jo Hyun-tak as the director of this drama. He is able to make such a cliffhanger ending for every episode. It made me want to watch in until the end in one go.

The opinion

For me, this drama has the similar vibe with Pinocchio. So, I really love this drama so much. As a satirical drama, this drama is very stand out and no wonder ever got the highest rating in Korea. 

Every parents that really praised the academic position and status, I think they have to watch this drama. There is no point to push your children that much. You should try your possible best effort to make them happy, not suffer.

9.3 out of 10 for the story.

Sincerely,

Ra
Ghost Writer
Ketika kisah keluarga yang emosional dibalut apik dengan unsur horor dan komedi

Sumber: imdb.com
Judul: Ghost Writer
Genre: Comedy, drama, horror
Tanggal rilis: 4 Juni 2019
Durasi: 97 menit
Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Pemain: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Deva Mahenra, Asmara Abigail

An old diary containing dark secrets found by Naya, a novelist who has out of ideas for 3 years. This book is a good material for her latest novel, but something unexpected starts to happen.
***

Film Ghost Writer termasuk salah satu film horor yang dapat saya tonton. Yaa, saya mengakui kok saya bukan pecinta film horor. Jadi, please, jangan suruh saya menonton Pengabdi Setan atau Sebelum Iblis Menjemput. Saya pasti tidak bisa menontonnya.

Ghost Writer secara harfiah

Cerita bermula dari Naya (Tatjana Saphira) bersama adiknya, Darto (Endy Arfian), berpindah ke rumah kontrakan baru. Rumah itu adalah milik Pak Harja (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Dayu Wijanto). Pekerjaan Naya sebagai penulis tidak sepenuhnya bisa berjalan lancar. Maka dari itu, meskipun rumah besar itu telrihat menakutkan, Naya tetap memilih untuk mengotrak di rumah tersebut.

Keadaan finansial Naya memang tidak dapat dikatakan baik. Di tengah upayanya menghadapi tekanan dari editornya, Alvin (Ernest Prakasa), Naya harus memutar otak supaya tetap bisa membiayai sekolah Darto. Di sisi lain, Naya tak ingin merepotkan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra).

Tak disangka-sangka, sebuah titik terang hadir saat Naya menemukan sebuah diari tua di rumah kontrakannya. Dari situlah ide menulisnya muncul. Permasalahannya, Galih (Ge Pamungkas), pemilik diari tersebut yang sekarang telah menjadi hantu, tak menyetujui tindakan Naya. Berbagai argumen dilontarkan keduanya sampai pada akhirnya Galih pun setuju. Bahkan, ia pun betul-betul berperan sebagai ghost writer dalam arti harfiah. Akan tetapi, lagi-lagi permasalahan tidak berhenti begitu saja. Sosok Bening (Asmara Abigail), adik dari Galih yang juga telah menjadi hantu, menentang apa yang dilakukan oleh Naya dan Galih.

Premis yang biasa tapi cukup mengena

Picture edited by me
Bagi saya, film yang satu ini memang lebih kuat dominasi dramanya. Jadi, jangan harap ada adegan yang menyeramkan dalam film ini. Saya suka denan premis yang ditawarkan. Setidaknya, film ini sudah jelas punya awalan hingga penutup yang baik. Jadi, sudah jelas akhir dari konfliknya seperti apa.

Untuk adegan-adegannya, saya suka dengan campuran komedi di dalam film ini. Malah, unsur itulah yang membuat film ini menjadi kuat. Meskipun kadang ada bagian yang kurang dalam hal make up--iyaa, itu bedaknya Ge Pamungkas terlihat berbeda antara muka dengan leher. 

Akan tetapi, satu hal yang tidak saya sangka, saya menangis di akhir film ini. Saya merasa tersentuh atas emosi yang muncul antara Galih dan juga Bening. Sepertinya, film tentang keluarga bisa membuat saya mbrebes mili dengan tak terduga.

Penutup

Saya tidak menyesal menonton film ini. Bahkan, menurut saya film ini termasuk film Indonesia yang layak tonton. Sama seperti Sunyi, film horor yang diadaptasi dari Whispering Corridor. Setidaknya, kita masih bisa berharap bahwa film Indonesia akan terus meningkat kualitasnya, bukan?

6.5 dari 10 bintang untuk penampakan Galih.

Sincerely,
Ra

Bumi Manusia
Ketika nasionalisme menjadi suatu diskursus yang akan selalu dipertanyakan.

Bumi Manusia. Image: IMDb
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti
Tanggal rilis: 15 Agustus 2019
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer
Produksi Falcon Pictures
Ditonton di Kemang Village XXI

This is a story of Minke and Annelies who weave love in the early 20th century colonial turbulance. Minke is a native youth, purebred Javanese. While Annelies is a mixed-Dutch girl, the daughter of a nyai (mistress), called Ontosoroh. Minke's father, who has just been appointed as regent, is always against Minke's closeness to the Nyai's family, because a Nyai's position at the time is seen to be as low as pet animals. But this one nyai, Nyai Ontosoroh, Annelies' mother, is different. Minke admires all of her thoughts and struggles against the arrogance of colonial hegemony. To Minke, Nyai Ontosoroh is the reflection of modernization, which at the time is just beginning to rise. When the arrogance of colonial law tries to wrench Annelies from Minke's side, Nyai Ontosoroh is also the one who urges Minke to keep going and shout the word, "Fight!"
***

Hari itu, salah seorang kenalan menawarkan satu tiket nonton gratis film Bumi Manusia di Kemang Village. Berhubung kantor tempat saya magang tak jauh dari lokasi tersebut, saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang digadang-gadang menjadi karya terbesar tahun ini.

Bagi para pecinta sastra, rasanya tak akan lengkap bila tak membahas sosok Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah seorang sastrawan yang dicinta sekaligus dibenci. Ia memiliki pemikiran yang tak biasa dan tentunya sanggup menuliskan imaji-imajinya secara apik dalam tetralogi Pulau Buru.

Saya harus mengakui, saya bukanlah orang yang pintar berkontemplasi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman saya, kemampuan saya mengenai hal itu akan berbeda jauh. Ketika saya membaca Bumi Manusia, saya harus terseok-seok memahami apa yang ingin disampaikan Pram. Begini, saya adalah orang yang masih mempertanyakan apa itu bangsa. Iya, what is nation? Pada dasarnya, bangsa Indonesia itu yang mana? Terdiri dari siapa? Atau bahkan, apa itu bangsa Indonesia? Saya bukannya tidak mempercayai nasionalisme--saya sedikit jengah dengan narasi NKRI harga mati atau lainnya, tapi saya percaya bahwa negara ini masih dalam tahap nation-building. Memadukan pemahaman akan bangsa Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dapat dilihat dari kerusuhan yang tercipta baru-baru ini. Bukankah itu juga berujung pada pertanyaan akan diskursus nasionalisme?

Sudah-sudah. Kalau diteruskan, akan menambah panjang ketidakmengertian saya akan diskursus ini sendiri. 

Darsam dan Minke. Image: BookMyShow
Kembali ke film Bumi Manusia. Tentu, bagi para penonton yang sudah membaca karya Pram itu, rasanya tidak mungkin untuk mengadaptasi karya semegah Bumi Manusia ke dalam film. Saya pun cenderung skeptis ketika Iqbaal Ramadhan didaulat menjadi Minke. Begini, bukannya, lagi-lagi, saya merasa bahwa Iqbaal tidak memiliki kapasitas dalam berakting, hanya saja saya merasa akan sulit baginya menghidupkan sosok Minke. Sosok Nyai Ontosoroh pun juga sedikit-banyak saya takutkan perannya--karena saya masih terbayang sosok Happy Salma dalam teater Bunga Penutup Abad yang memainkan sosok perempuan kuat itu.

Akan tetapi, sebagaimana yang seharusnya, saya pun mencoba menonton Bumi Manusia tanpa adanya ekspektasi yang terlalu tinggi. Takut kecewa, itu saja.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas alurnya karena secara apik, nyatanya Salman Aristo, sang penulis naskah, berhasil mencoba merangkum kisah Bumi Manusia menjadi film berdurasi tiga jam. Well, saya akui kok kalau saya merasakan kebosanan di tengah film--dibuktikan dengan saya rela meninggalkan tempat duduk barang sepuluh menit untuk ke toilet. Akan tetapi, apabila memang penonton ingin melihat betapa manisnya hubungan Minke dengan Annelies (Mawar Eva De Jongh), Hanung Bramantyo selaku sutradara berhasil menyajikannya dengan apik. Bahkan menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini--atau begitulah yang disampaikan oleh salah satu resensi yang sempat saya baca sebelumnya.

Annelies dan Minke. Image: The Jakarta Post
Lalu, saya sangat suka dengan Sha Ine Febriyanti yang berhasil menghidupkan Nyai Ontosoroh dengan begitu hebatnya. Mungkin, bagi para pembaca Bumi Manusia, sosok Sha Ine lah yang pantas mendapatkan standing ovation. Bukan Iqbal maupun Mawar. Iya, bagi saya, bukannya kedua pemeran utama itu tak melakukan akting terbaiknya, hanya saja terasa ada yang kurang dari karakter mereka dalam film ini. 

Nyai Ontosoroh. Image: Falcon Pictures.


Kalau ada yang ingin saya keluhkan, maka saya akan menyebutkan CGI dari film ini. Iya, saya tahu pasti tidak mudah memunculkan kembali nuansa zaman dahulu kala di zaman serba modern ini. Akan tetapi, kalau ditonton lebih jauh, CGI tersebut malah cenderung mengganggu. Belum lagi, lokasi danau tempat Minke dan Annelies sering memadu kasih, danaunya terlihat... sungguh tak nyata. Saya jadi tidak bisa mendapatkan feel ketika menontonnya. 

Kemudian, sosok Jean Marais yang seharusnya menjadi salah satu tokoh penting, malah tak nampak signifikansinya. Ia pun muncul hanya untuk menekankan kutipan "adil sejak dalam pikiran". Itu saja. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Lalu, apa kesimpulan saya untuk film epic ini? Saya akui bahwa saya memang sudah seharusnya mengapresiasi upaya para sineas film ketika menghidupkan sosok-sosok dalam kisah gubahan Pram tersebut. Terlepas dari kekurangan yang menyertainya.

Saran saya, tontonlah film ini sebagai bentuk hiburan. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi apabila memang kamu telah membaca novelnya. Bagi yang belum membaca, coba nikmati film panjang berdurasi tiga jam ini dengan bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu


Avengers: Endgame

"If I tell you what happens, it won't happen." - Dr. Strange.

Image: People
Title: Avengers: Endgame
Genre: Fantasy, Science-fiction
Series: Marvel Cinematic Universe
Director: Anthony and Joe Russo
Screenplay: Christoper Marcus and Stephen McFeely
Stars: Robert Downey, Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Brie Larson, Danai Gurira, and others.
Ticket: IDR 45.000.00 at Cinemaxx Depok Town Square

Based on The Avengers by Stan Lee and Jack Kirby.


After the devastating events of Avengers: Infinity War (2018), the universe is in ruins. With the help of remaining allies, the Avengers assemble once more in order to undo Thanos' actions and restore order to the universe.


***

Marvel Cinematic Universe is one of the longest super hero series that does exist in Hollywood. Even though those series is very popular and most of my friends are following this series, I ain't part of them. I am not a big fan of super hero movie, to be honest. I don't really interest with this kind of genre.

Then, one day, one of my friend invite me to watch this movie along with our others friend. She invited me to watch Avengers: Endgame - the latest movie from MCU. At first, I feel a little bit hesitate to watch, but since I have a spare time and need some refreshment, I decided to agree and help her to order the tickets. 

Actually, from all off 22 movies, I only - literally watch - two of them, which are Dr. Strange and Black Panther. So, honestly, I don't have any idea how to interpret Avengers: Endgame because I didn't follow the previous movies - that exactly related to this movie, such as Avenger: Infinity War.

When the movie begin, I have to admit that I am clueless. I don't know how the story goes on and who is the important character there. But, seems like Marvel still can captivate me because, as the movie goes on, I started to understand the whole story. Even though I still raised my eyebrow sometimes - because I didn't recognized the character - but after all, I can enjoy the movie.

The story begins with the remaining Avenger - Bruce Banners (Mark Ruffalo), Steven Rogers (Chris Evans), Rocket (voiced by Bradley Cooper), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanov (Scarlet Johansson), and James Rhodes  (Don Cheadle) - went to where Thanos living in seclusion. They intend to retake the infinity stone to reverse what Thanos did. Unfortunately, Thanos has been destroyed all of the stone to prevent further use. After that, Thor couldn't manage his anger and suddenly beheaded Thanos.

Five years later, some miracle happen. Scott Lang (Paul Rudd) has succeeded escapes from the quantum realm. Then, Lang got an idea to travel back in time and stopping Thanos in the past. Even though there is some reluctance from Tony Stark (Robert Downey Jr.) to build the time machine, but after he talked with his wife, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow), he finally agree to help build the time machine. 

All of the Avengers agree to take the infinity stone in the past and try to undo what Thanos did in the future. Banners, Rogers, Lang, and Stark went to New York City in 2012. They intended to take the Time Stone, Mind Stone, and also the Space Stone. Then, Rocket and Thor travel to Asgard in 2013. They tried to retrieve the Reality stone from Jane Foster. Nebula and Rhodes travel to Morag in 2014. They tried to steal the Power Stone before Peter Quill can. Last, Barton and Romanoff went to Vormir and tried to get to Soul Stone.

Avengers: Endgame. (image: Visual Cocain, edited by me)
Well, just like another movie, their first step was going really smooth. But, until Nebula (Karen Gillan) got some connection with her past self. This connection at the end, make Thanos knows about what the future would be and the temptation from the Avengers to undo his action in the future. In the result, the future Nebula is trapped in the past and the past Nebula disguise as her future self and try to broke the Avenger's plan.

To be honest, I like the way Marvel execute this movie. With the more or less three hours duration, I think this movie is kind of worth it. I could feel the thrilling scene, the funny part - especially about Thor, and also their frustration when everything couldn't goes pretty well. I like the movie as a whole - and make me curious about the previous movie.

But, maybe, about the time travel itself, I still couldn't understand, how can the future and the past Nebula could meet? I think, it's just impossible. Even though there's some explanations that will be another different concept of time, still, I think the past could affecting the present, and then the future. So, most likely it would be possible if the past Nebula can meet the Future Nebula.

Then, although I didn't following the movies from the very start, it still feel very heart-breaking when Tony Stark couldn't make it until the end. He deserves all of the greatness after all. Well, he is someone who will care other first rather than himself. 

So, if anyone ask me, do you now interest to watch the other MCU movies? I would like to say, "Yes, I do!". Maybe it's so damn too late to watch it, but I think it doesn't mater after all.

How about you, guys? Are you the MCU fans? Well, maybe we can discuss about this universe together.

Sincerely,

Puji P. Rahayu