Showing posts with label Miles Film. Show all posts
Showing posts with label Miles Film. Show all posts

Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu



Athirah
Menceritakan sebuah ketegaran yang dibangun untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan dan juga ibu.

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Penulis Naskah: Salman Aristo, Riri Riza
Perusahaan Produksi: Miles Film
Tanggal Rilis: 29 September 2016
Pemain: Cut Mini, Christoffer Nelwan, Tika Bravani, Jajang C. Noer, Andreuw Parinussa, Arman Dewarti
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Athirah, karya Alberthiene Endah
Ditonton di Kineforum, Dewas Kesenian Jakarta
Harga tiket: Rp20.000,-

Kehidupan Athirah goyah ketika suaminya mengawini perempuan lain. Dalam lingkup budaya yang memungkinkan ini terjadi dan tanpa ruang bagi perempuan untuk bisa menolak, Athirah bergulat melawan perasaannya demi mempertahankan keutuhan keluarganya. Sementara itu, anak laki laki tertuanya, Ucu, tidak tahu pada siapa ia harus berpihak. Ibunya adalah orang yang dicintainya, penuh kesabaran dan kebaikan hati, sementara Bapaknya tetap menjadi sosok yang ia kagumi

***

Baiklah, sebelum saya menjelaskan bagaimana pendapat saya mengenai Athirah, saya akan menceritakan terlebih dahulu awal mula saya bisa menonton film ini. Pada dasarnya, saya tidak memiliki bayangan apa-apa dalam hal menonton biografi ibunda Jusuf Kalla ini. Bermula dari satu ajakan singkat dari teman saya--Nurul--untuk jalan-jalan di malam minggu.

"Puj, ayo ke Bogor!"
Awalnya, saya bingung. Mau kemana kalau ke Bogor? Punya tempat tujuan pun tidak. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk ke Jakarta. Bersama dengan adik kelas Nurul--Adit, kami pun mulai menaiki kereta tanpa arah yang jelas. Pilihan kami untuk menghibur diri ada dua, ke Kineforum atau Teater Salihara. Setelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, akhirnya kami memilih ke Kineforum.

Apa itu Kineforum?

Kineforum merupakan bioskop alternatif yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai ajang menonton, terkadang juga terdapat diskusi lebih lanjut di sana. Setahu saya, terkadang Kineforum menghadirkan orang-orang tertentu dalam diskusi yang diadakan.

KINEFORUM adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program film sekaligus diskusi tentang film. Film-film yang diputar adalah film-film yang bisa menjadi alternatif tontonan bagi publik. Mulai dari film klasik maupun kontemporer, film panjang maupun pendek, film luar maupun dalam negeri, dan juga film-film dari non arus utama. Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.--deskripsi dari situs resmi Kineforum.
Dengan demikian, Kineforum merupakan bioskop yang tidak biasa. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya menonton di Kineforum. Tentunya, saya tidak kecewa dengan pelayanan di sana. Oh, ya. Kalau ingin menonton, tidak perlu reservasi. Langsung saja datang ke Kineforum--letaknya di belakang XXI TIM. Untuk pembelian tiket bisa dilakukan satu jam sebelum film diputar. Pst, segera ya kalau mau dapat tiketnya. Karena hanya ada 35 tempat duduk yang tersedia.

Tentang Athirah

Pada dasarnya, saya belum membaca novel karya Mbak AE ini. Oke, saya tahu kalau beliau ini 'jagonya' membuat biografi. Sebagai contoh adalah Mimpi Sejuta Dolar yang mengisahkan cerita hidup Merry Riana. Memang ada sih keinginan untuk membacanya. Tapi, nanti.

Berhubung saya ini menonton filmnya saja, jadi mungkin bagian visualnya yang akan banyak saya ceritakan. Film dibuka dengan adegan perpindahan Athirah (Cut Mini) bersama suaminya ke Makasar. Suaminya, Puang Aji (Arman Dewarti), merupakan seorang saudagar. Ia melakukan jual beli ke berbagai pembeli di dalam maupun luar kota. Hidup keduanya terlihat baik-baik saja. Mereka telah memiliki tiga anak, salah satunya adalah Ucu (Christoffer Nelwan)--anak laki-laki tertua di keluarga tersebut.

Suatu ketika, Athirah merasa kalau ada yang berubah dari suaminya. Terbukti dari jarangnya lelaki itu di rumah serta perubahan-perubahan minor yang disadari oleh Athirah. Beberapa rumor mengembus dan terdengar telinga Athirah, Puang Aji akan menikah lagi. Dalam kebudayaan Bugis, hal ini bukanlah hal yang tidak biasa, Seseorang memiliki lebih dari satu istri tidak menjadi masalah. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan, tentu saja Athirah merasa tersakiti. Ia terkadang pilu saat menyadari suaminya jarang pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di rumah istri keduanya. 

Untuk mengatasi kesedihannya, Athirah, dibantu oleh ibunya, Mak Kerah (Jajang C. Noer), akhirnya berusaha berbisnis kain tenun. Sedikit demi sedikit, Athirah mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Satu-satunya yang mengetahui usaha Athirah ini adalah Ucu. Sebagai anak pertama, Ucu memang dekat dengan ibunya. Tidak heran bila Athirah mempercayai Ucu akan rahasianya.

Krisis tahun 1960-an membuat perekonomian Indonesia stagnan. Hal ini pun juga memengaruhi kehidupan Athirah dan keluarganya. Perusahaan yang mulai bangkrut, pedagang yang gulung tikar, hingga pengrajin yang berhenti bekerja. Lalu, sampai di situ sajakah perjuangan Athirah dalam menghadapi hidup? 

Sumber gambar: Kapanlagi
***
Menurut saya, cerita yang disajikan dalam thirah begitu sederhana. Cerita mengenai perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi hidup dimadu. Unsur budaya dalam cerita ini begitu kuat. Terlihat dari penggunaan bahasa Makasar untuk keseluruhan film, lagu-lagu yang dinyanyikan, dan juga musik-musik yang diperdengarkan. Bagi saya, lagu dan musiknya bagus. Saya jadi penasaran dengan lagunya. 

Secara visual, pengambilan gambarnya bagus. Saya tidak kecewa saat harus menontonnya dari bangku paling depan. Banyak detail yang dicoba untuk diperlihatkan oleh Riri Riza. Sayangnya, terkadang detail-detail tersebut membuat cerita dari film ini sendiri menjadi terpotong. Seolah-olah, adegan yang disajikan tidak berhubungan satu sama lain. Sayang sekali. 

Untuk pendalaman karakter sendiri, saya cukup trenyuh saat melihat akting dari Cut Mini. Dia benar-benar bisa menjiwai Athirah. Jujur saja, saya suka dengan penampilan Cut Mini. Kemudian, akting dari Jajang C. Noer memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan pengalaman di dunia film yang cukup luar biasa, membuat akting Jajang begitu memukau dan sangat menyenangkan untuk dilihat. Terakhir, ada akting Christoffer Nelwan yang membuat saya sakit perut karena tertawa.

Terlepas dari kekurangannya di sana-sini, menurut saya film ini masihlah layak untuk ditonton. Dan, pada akhirnya membuat saya penasaran dengan novelnya. Mungkin, lain kali saya akn membaca novelnya dan membandingkannya dengan filmnya.

4 bintang untuk karakter Ucu yang lucu.

Sincerely,
Puji P. Rahayu